Sunday, February 7, 2016

Stanley Clarke and George Duke, Cerita Pop Tentang Orang Jazz



George Duke, lahir 12 Januari 1946. Ia meninggal dunia, karena lymphocytic leukemia kronis, pada 5 Agustus 2013. 5 bulan sebelumnya, pada awal Maret, George Duke tampil untuk terakhir kalinya di ajang Java Jazz Festival 2013. Ia pada kesempatan itu, berhasil memboyong sahabat dekatnya, bassis kesohor, Stanley Clarke, untuk tampil meramaikan festival jazz kebanggaan Indonesia tersebut.
Stanley Clarke, kelahiran 30 Juni 1951. Tak pelak memang, rekaman duonya dengan kibordis legendaris, George Duke, telah makin mempopulerkan lebih tinggi lagi namanya. Bassis, dengan double bass dan electric bass ini, mulai dikenal ketika bermain bersama kelompok Return to Forever. Sebuah kelompok yang bisa disebut salah satu grup musik jazz rock terdepan, dan menginspirasi banyak grup band sejenis, terutama di era 1970-an. RTF ini dikomandoi kibordis Chick Corea, dengan gitaris Al Di Meola, drummer Lenny White.
Mendiang George Duke sendiri, dikenal namanya lewat album bertitel The Jean Luc Ponty Experience with the George Duke Trio yang dirilis pada 1969. Album ketiga yang didukung George Duke tersebut, disebut pula sebagai earliest fusion-jazz album. Pada era jelang akhir 1960-an itu, Duke tercatat mengawali karir musiknya antara lain bermain dalam Don Ellis Orchestra, Cannonball Aderley Band, selain dengan Frank Zappa. Sepanjang hidupnya, ia telah merilis hampir 40 buah album solo, atau album yang menonjolkan sosoknya, baik sebagai pianis/kibordis, sekaligus vokalis.

Jumlah album tersebut di atas, di luar berbagai kolaborasinya dengan bermacam musisi. Seperti antara lain Frank Zappa, yang antara lain ia ikut mendukung dalam 18 album, mulai 1970. Lalu juga dengan Al Jarreau, Billy Cobham, Alphonse Mouzon, Airto Moreira, Flora Purim, Deniece Williams, Dianne Reeves. Termasuk mendukung album Off the Wall-nya Michael Jackson.  Selain itu dengan Miles Davis, John Scofield, Joe Sample, Phil Collins sampai Teena Marie, dan lainnya.
Dan begitulah perjalanan mereka masing-masing. Kali ini NewsMusik ingin menceritakan mengenai persahabatan keduanya, yang diceritakan oleh Stanley Calrke. Diawali dengan pertemuan keduanya di Finlandia,pada 1971. Keduanya tampil, dengan masing-masing grup band-nya, dalam Pori Jazz Festival. Clarke dengan Chick Corea, sementara Duke dengan Cannonball Adderley.
Pertemuan tak sengaja, di koridor hotel tempat mereka bersama menginap, dan menurut Clarke mereka berdua sebenarnya sebelumnya telah saling mengetahui. Tapi belum pernah bertemu sekalipun. Dan keduanya lalu bertemu untukjammin’, pada sebuah late-night jam setelah festival tersebut. Setelah berpisah, keduanya janjian untuk akan saling kontak.
Ya, cerita Clarke, ia langsung menghubungi Duke setelah kembali di Amerika Serikat. Ia meminta Duke ikut bermain dalam albumnya, Journey to Love. Duke setuju, iapun ikut mendukung album solo Clarke ketiga, yang dirilis 1975 itu bersama antara lain Jeff Beck, Steve Gadd, John McLaughlin, Chick Corea.

Sementara itu, Duke juga mengajak Clarke gantian ikut mendukung solo albumnya. Sejak itu, mereka bersepakat untuk akan sering saling mendukung album satu sama lain, barter saja tanpa fee.
Sebuah kesepakatan yang sangat menyenangkan, mengawali persahabatan keduanya, yang memang terus berlangsung setelah itu. Yang menarik, mereka sempat selama 10 tahun berturutan, selalu hang-out bareng merayakan malam pergantian tahun dengan membawa istri masing-masing. Dan tradisi itu terus berlangsung, saat memang mereka memiliki waktu.
Kami berdua, lanjut Clarke, tinggal berdekatan di Los Angeles. Tinggal di area yang sama, sehingga memudahkan mereka berdua untuk saling mengunjungi, atau jalan keluar malam bersama. Menurut Clarke, Duke memiliki studio yang megah dan lengkap. Ia sebenarnya begitu sibuk sebagai produser, untuk berbagai nama beken, dengan bermacam-macam warna musik.
“Saya mengagumi banget musikalitas dan personality George Duke”, ungkap Clarke. Ia sangat baik dalam bermacam musik, ya jazz, RnB, soul, funk, pop, rock, jelas Clarke mengenai Duke. Dan George Duke itu menghormati semua musisi dan musikyang mereka pilih dan mainkan atau nyanyikan, so mereka semua juga memberi respek yang sama baiknya terhadapnya, jelas Clarke.
Stanley Clarke melanjutkan lagi, George Duke itu tak hanya sebagai semacam produser-nya produser tapi juga kibordis handal, selain tentu saja juga penulis lagu. “Saya ga menyadarinya, sampai akhirnya belakangan banyak sekali lagu yang ia buat atau ia produce, ternyata menjadi hits. Talentanya luar biasa.”
Ia bahkan berhasil menangani music scoring untuk film. Sebut saja, antara lain ada The Five Heartbeats, The Apostle and Spaceballs. Ia juga menulis lagu untuk film Footloose dan oh ya yang dengan saya dalam, Poetic Justice. Ia juga menjadi music director untuk acara besar macam Soul Train Music Awards, selama 11 tahun! Selain itu juga, Nelson Mandela : An International Tribute for a Free South Africa.
Kami berdua, terang Clarke, mempunyai kepedulian sama untuk memberikan pendidikan musik yang baik dan benar, bagi para generasi muda. Dari sisi itu, George Duke juga adalah salah satu pengajar musik yang adalah profesor musik, yang memang mampu mengajar dengan baik. Ia menyediakan dirinya, untuk bersedia melakukan jammin’ dengan siswa-siswa penerima Stanley Clarke’s Scholarship Awards, yang diadakan rutin setahun sekali.


Ada salah satu cerita lucu, yang tak akan bisa dilupakan oleh Stanley Clarke terhadap sahabatnya itu. Waktu itu, cerita Clarke, terkait Helloween. “Jadi kami suka banget apa ya ngelucu satu sama lain deh, yang bikin kami berdua tertawa. Keluarnya sih spontan aja,” ucap Clarke. Nah pada satu show, di Royal Oak Theatre, Detroit. Waktu itu,’Sweet Baby’ sedang ngetop-ngetopnya. George Duke itu kolektor topeng, ini banyakorang yang ga tau, kata Stanley Clarke.
Macam-macam topeng, dari yang model African art sampai topeng muka para superhero. Karena acara itu bertema Helloween, mereka berdua sepakat tampil ke atas panggung memakai panggung. “Pikir kami, wah ini pasti seru dan penonton pasti kaget dan senang nih. Kejutan yang bakal menghebohkan.” Kenyataannya, ketika mereka muncul di panggung, semua penonton terdiam. Bener-benar diam saja, tak ada reaksi apapun! Waduh, mereka ga ada respon apapun, boro-boro tertawa gimana gitu. Kami berdua yang kaget banget jadinya! Hahahaha....
Pada 2005 dan 2012, kita bermain bersama lagi, menjalankan Bring It! Tour. Jadi, kami yang adalah musisi yang termasuk generasi awal pada sejarah fusion jazz era 1970-an, memainkan musik yang berlandaskan pada apa yang kami mainkan dulu itu pada 40-an tahun kemudian! Dan itulah, saat-saat terakhir, kami bermain bersama. Tur berlanjut hingga 2013, yang antara lain tampil di Java Jazz Festival tersebut.
Mereka berdua memang tak bisa dilepaskan dariproyek kolaborasi duo mereka, Clarke/Duke Project. Dimana akhirnya mereka sepakat bermain bareng dalam 1 album rekaman, yang dirilis pada 1981. Clarke/Duke Project Vol.1, begitu judulnya. Memang diteruskan berikutnya, pada 1983 dan 1990.

Kali ini adalah cuplikan ceria mendiang George Duke mengenai album duo-nya dengan sahabatnya itu. Sebenarnya rencana itu sering mereka obrolin bareng, tapi baru kejadian di tahun itu, setelah Epic Records mengijinkan mereka untuk merealisasikan rencana tersebut. Maunya,menurut George Duke, adalah rekaman dengan sebuah trio yang powerful.
Kami berdua setuju, album ini titik fokusnya pada kami berdua, terang Duke. Bukan pada orkestrasinya, bukan juga background vocals-nya. Datangnya sepenuhnya dari kami berdua dan kami berdua yang melakukan eksekusinya. Semuanya datang dan diolah oleh kami berdua, jelas Duke lagi. Dan kami pengen membuat sesuatu yang berbeda, yang bisa jadi mungkin malah diluar ekspektasi record-company.
Kami berpikir, kayaknya Epic mengira kami akan menghasilkan album fusion jazz. Tapi ah itu kan sudah di eksplor habis oleh Stanley Clarke jamannya dia dengan RTF? Kejutan terbesar persembahan kami berdua untuk Epic adalah ya apalagi kalau bukan, single kami, ‘Sweet Baby’ itu. Waduh, waktu proses rekaman lagu itu, kami itu diarahkan oleh departemen RnB, yang kasih masukan, musiknya kok terlalu “putih”. Mereka susah nanti menjualnya.
Sementara departemen pop berpendapat, kami ini black musicians dengan menghasilkan white record. Akan menyulitkan mereka untuk menembus radio-radio kalau begitu. So, kami berdua mendatangi saja yang lebih independen,minta mereka gimana ya untuk menjual album ini. Eh begitu sukses, album ini mau diambil CBS dan keluarnya CBS menunjukkan seolah-olah kami bekerjasama dengan mereka, untuk menghasilkan album ini.

Well, ‘Sweet Baby’ ditulisnya saat ia di Berkeley,California, pada suatu sore. Menurut Duke,ia menulisnya cepat,begitu selesai, ia memanggil Stanley Clarke. Clarke tidur di kamar di sebelahnya. Ia meminta Clarke mendengar sebuah lagu pop miliknya yang baru dibuatnya. “Saya pikir, dia bisa ga suka nih. Nge-pop soalnya. Eh ternyata sebaliknya. Dan besoknya, kami masuk studio dan mengerjakan bareng musiknya,” cerita George Duke.
Ternyata waooow, ia surprise bahwa lagu itu menembus Top-10 chart. George Duke mengaku, ini sebuah lompatan besar bagi karir musiknya. Mereka sepakat mengajak John Robinson sebagai drummer. Sebelumnya ia banyak dengan Rufus, dan menurut Duke dan Clarke, Robinson is perfect!
Karena album itu,merekapun sibuk dengan tur. Keduanya jadi berjauhan, untuk saat itu, dengan grup mereka masing-masing. Mau ga mau, mereka memang harus berkonsentrasi dengan proyek mereka itu. Tapi, lanjut Duke, yang paling mengejutkan dan mengharukan adalah Quincy Jones khusus menghubunginya via telephone. “Q mengucapkan selamat ketika lagu itu masuk Top-10. Job welldone!”. George Duke selalu mengingat ucapan selamat dari Q itu.


Well,jangan tanya kenapa kok mereka banyak menonjolkan vokal pada album proyek mereka berdua itu. “Karena kenyataannya, musik instrumental itu masih sulit diterima banyak radio, yang lebih memberi tempat untuk musik lebih pop, dengan vokal,” jelasnya. Sebenarnya, mereka ingin membuat lagu instrumental, tapi memanfaatkan vokal lebih sebagai kendaraan untuk memudahkan komunikasi dengan pendengar.
Lewat album itu, Duke lantas bisa membuat video.Bahkan dibuatkan tiga versi. Tapi saat itu kami berdua sempat kesal juga karena, MTV sempat menolak memutar video kami, karena kami adalah black-artists! Kalau saja mereka masih begitu pada saat ini, mereka bisa di demo tuh.
Begitulah cerita persahabatan mereka berdua, dan sembari mengenang George Duke yang multi talenta itu. Kehilangan yang besar, ketika George Duke pergi keabadiannya. Stanley Clarke mengatakan,  He was a healer and a lover of people. George Duke left a gigantic footprint on the planet. I was very fortunate to know him and share tremendous experiences with this enlightened man.
Satu hal yang senantiasa sangat diingatnya selalu dan dirindukannya adalah, mengontak George Duke via telephone lalu menyapanya, “Yo Big Daddy”, itu adalah panggilan manis buatnya dari para sahabat dekatnya, saat meneleponnya / dionM








No comments: