Wednesday, June 21, 2017

Emerald BEX, dari 11 Juli 1986 sampai Sekarang


11 Juli bisa jadi penuh arti buat grup satu ini. Grup yang, standar grup-grup band Indonesia dah. Ada naik turunnya, nongol lalu, “menyelam”, lalu nongol lagi ke permukaan lantas...sesaat “menyelam” lagi.
Kan kalau menyelam kelamaan, itu berabe coy! Biar kata pake tabung oksigen sekalipun. So, kudu ada nongol-nongolnya dong, bergantian dengan menyelamnya. Ini tentang diver atau tentang grup band? Atau, jangan-jangan grup band yang anggotanya para penyelam?
Jangan-jangan samakan, dia dengan yang lain....  Lebih tepatnya, mereka dengan yang lain. Hahahaha. Kenapa jadi lagu dangdut jadi contoh. Ini kan bukan grup dangdut? Ini grup jazz lho, fusion. Ngepop juga sih, terutama untuk rekaman. Ah itu mah bukan sesuatu yang ajaiblah. Hareeee geneeee, masak jadi problem yang begituan?
Jazz dari dulu, kalau di sini kan, memang kudu pinter-pinter bersiasat. Kompromistis, begitu istilah kerennya. Tanpa kompromi, artinya ya jangan mimpi dapat label rekaman, yang mau menerima grup atawa penyanyi itu jadi artisnya. Catet nih, maksudnya label-label besar atawa major label ya.
Nanti deh, kita obrolin soal komproma-kompromi itu. Kita omongin dulu soal band yang lagi pengen saya tulis ini. Saya tuh begitu banyak cerita mestinya, tentang mereka. Hal tersebut dikarenakan, sudah sejak awal banget mereka, ya saya sudah kenal baik. Bahkan sebelum grup band ini dibentuk.
Iwang, Roedy, Ricky Jo, Surabaya 1988

Ki-Ka : Dewa Budjana, Iwang, Djoko Badjang, Morgan, Cendi, Ricky Jo, Iromy Noorsaid, Roedy. Jakarta Fair, Monas, 1989
Jalan bareng, minum bareng, ngop bareng sampai tidur bareng segala! Oooops! Tidur ya sama-sama tidurlah, tapi dengan pendampingnya masing-masing dong. Hush, jangan piktor jack. Jangan menduga negatif. Pendampingnya ya temen-temen sepermainan juga adanyalah.
Emerald BEX. Saya jadi bingung, mau menulis mereka bagusnya mulai dari mana? Saya lantas pikir, eh saya tuh belum pernah bahkan menulis mereka ini lengkap lho. Oh pernah sih, tapi itu di awal banget. Yoih, edan bro itu saya tulis mereka jaman Emerald 1986 dan di 1988. And, that’s it! Alamak! Lengkap-lengkap amat juga kagak tuh...
Akhirnya tergerak juga untuk menulis. Mumpung banyak juga foto-foto mereka, tentu saja hasil jeprat-jepret saya sendiri. Menulis bukan melulu menjabarkan data, namun lebih sebagai informasi yang mudah-mudahan mendekati  “sempurna”. Pointnya, menulis untuk bisa dibaca orang atawa publik.
Bukan untuk saya saja. Berbagi dengan masyarakat luas. Dimana saya rasa, ada banyak kok fans mereka. Mereka pastinya pengen bisa membaca dengan “baik dan benar”, dengan nyaman. Dapat info lumayan lengkap tentang idola-idola mereka.
Cieeeeee idola nih yeeeee. Cieeeeee.... Hehehehe. Iya, waktu mereka muncul pertama, sebagai band, mereka memang lantas langsung jadi idola baru. Paling tidak jadi kayak panutan, band asyik en keren tuh kudu kayak merekalah. Contoh band yang keren itu kek gimana.
Ok jadi gini, Emerald dibentuk karena kepengen ikut kompetisi band paling bergengsi  di era 1980-an, Light Music Contest. Kontes band tersebut,diadakan oleh distributor alat musik Yamaha. Diadakan mulai 1983. Emerald tampil di tahun 1986.
Catatan saja, menyoal LMC itu. Ini kompetisi sangat bergengsi, sampai-sampai di saat itu, kalau tidak jadi juara LMC kayaknya “ga jago” atau “ga disegani” gitu. Dan kalau omongin sejarah musik jazz (teristimewa fusion) Indonesia era 1980-an, bakal tak akan lengkap, kalau tak memasukkan keseruan LMC tersebut.
Saya merasa sangat bersyukur berkesempatan menonton sejak 1984, dimana Squirrel Band dari Surabaya, yang didukung Dewa Budjana, Arie Ayunir jadi juaranya. Ada Iwan Malik juga di grup tersebut. LMC sendiri digelar sejak 1983, dimana juaranya adalah EMS dari Bandung tuh.
Lalu di 1985, yang juaranya adalah Krakatau formasi perdana mereka. Nah, serunya tuh, sebelum LMC biasanya banyak yang menduga-duga siapa yang akan menjadi juara. Seringkali, sebulan-dua bulan sebelumnya, sudah beredar gosip-gosip bahwa, musisi itu dan musisi itu bakalan ikut nanti.
Banyak band-band yang memang dibentuk khusus buat LMC. Awalnya jadi memang model jammin’. Tapi mereka latihan serius. Karena jadi juara LMC itu...oho, “sesuatu” banget deh.
Jadi, dari yang namanya LMC itu muncul band-band dan musisi-musisi yang lantas dikenal luas, di waktu-waktu kemudian. Mulai dari namanya Erwin Gutawa, almarhum Uce Haryono, alm. Dadi Sufiyadi, sampai Yuke Sumeru. Termasuk pula Aryono Huboyo Djati dengan Warimoo-nya bersama kibordis cewek, Yani Danuwijaya dan Esterlita dan Ferdy Maulvi, kakak dari Edwin Saladin.
Masih ada juga Black Fantasy, Spirit Band, Mahesh dan Suresh dengan Gold Fingers-nya. Ada Sapta Bhama dengan Diddi Agephe, Kadri Mohamad dan Adi Prasodjo.. Lantas Candika, Milky Way, Soundsation. Kemudian datang dari Bandung ada Miracles, Coop’s Rhythm Section dengan Ruth Sahanaya. Night Revellers, Trie Utami Soedjono. DAC Band dari Semarang dan lainnya.
Emerald dengan Dewa Budjana, JAZZ-SPOT,1988

Ricky Jo, Band Explosion Surabaya, 1988

Emerald, feat. Iromy Noorsaid. Klaten, 1989
Nah ya kemudian Emerald. Kata Roedy, yang pengen banget mencoba LMC sebenarnya Iwang Noorsaid, yang masih abege dah waktu itu. Dia masih SMA, bersekolah di SMUN 68 Salemba waktu itu. Tapi memang LMC lah yang membuat Emerald lantas terbentuk menjadi band.
Diawali dengan Roedyanto Wasito sempat main dengan The Big Kids di Pizzaria, Hilton. Saat itu, Roedy diajak untuk menggantikan Idham Noorsaid yang berhalangan. Di situlah Roedy dan Iwang serta Inang Noorsaid, kakak dari Iwang, ngobrolin soal band untuk LMC itu.
Rencana membentuk band tersebut, didukung sepenuhnya oleh abah Said Kelana. Seniman musik kawakan itu adalah, ayah dari Iwang dan Inang. Said Kelana –lah juga ayah dan yang dengan totalitas luar biasa menjadikan The Kids sebagai band anak-anak yang sangat populer di 1970-an.
Sekedar mengingatkan nih, The Kids itu kan band keluarga dengan Idham Noorsaid, Iromy Noorsaid. Lalu Lidya Noorsaid dan Imaniar. Sementara di tahun 1970-an itu, dua terbungsu, Inang dan Iwang belum ikut tampil dengan kakak-kakaknya itu. Nama The Kids lantas menjadi The Big Kids, saat Inang dan Iwang ikut bergabung.
Jadi mereka bertiga sudah sepakat, tinggal cari gitaris. Eh secara tak sengaja, di jalan Sabang, lagi makan malam gitu mereka berjumpa Morgan Sigarlaki. Morgan diajak untuk ikutan, dan nyong Kawanua itupun langsung setuju. So, brangkaaaaats lah!
Mereka berempat mulai latihan, beberapa kali gitulah di studio keluarga, di dalam kediaman keluarga Noorsaid. Yaitu di daerah Batu Raja, Jakarta Pusat. Dengan disupervisi langsung oleh abah Said Kelana,tentunya.

Cendi dan Iwang, Emerald di Semarang, 1989
Menurut mereka, tanggal berdirinya mereka itu adalah 11 Juli 1986. Dan ‘11 Juli’ itu dijadiin lagu. Lagu itu termasuk salah satu lagu pertama yang mereka bikin bareng. Lagu lainnya adalah, ‘Meet at Peacock’. Peacock itu adalah tempat biasa untuk hangout selepas disco-time atau main malam di kafe-kafe. Peacock adalah sebuah restaurant-lounge di areal lobby Jakarta Hilton Hotel.
Pada jaman itu, Peacock “bersaing” dengan Ramayana Terrace di Hotel Indonesia, serta lobby resto di Hotel Borobudur, sebagai meeting point para hangouters selepas lelah berdisko, atau nongkrong di bar dan kafe mendengarkan live music.
Ya capek goyang di Tanamur, Oriental Discotheque, Le Mirage sampai Ozone Disctotheque. Atau dari Green Pub, Captain’s Bar, Swingin’ Pub, Federal Pub, Palm Beach atau Tavern. Sebagian ga langsung pulang, tujuannya makan lagi. Yang didatangin ya ketiga tempat itulah. Termasuk anak-anak Emerald.
Kedua lagu itulah yang dimainkan mereka pada LMC 1986. Dan mereka jadi juara! Iwang dan Inang jadi best players! Juara keduanya adalah Kahitna. Ada juga Spirit Band yang ikut serta waktu itu, selain DAC, Canizzaro dan Modulus. Serta  6 atau 7 band finalis lainnya.
Event LMC nasional tersebut digelar pada 8 Agustus 1986, di Bali Room Hotel Indonesia. Mereka memang tampil memukau.. Sehingga dewan juri yang diketuai Watanabe, dari pihak Yamaha Musik, sebagai penyelenggara, memilih mereka sebagai juara pertama.


Begitulah awal perjalanan mereka. Dengan predikat peraih grand-prize winner LMC, Emerald lalu langsung muncul ke pentas-pentas musik. Merekapun kemudian dibikinin konser tunggal oleh Yamaha Musik, yang mensponsori mereka selama setahun  Konser diadakan di ballroom Pasaraya Sarinah Jaya, Blok M,  Auditorium itu ada di lantai 7, di gedung pusat perbelanjaan mewah tersebut.
Setelah mereka menjuarai LMC, saya seringkali bertemu mereka. Jalan bareng. Eh emang beneran, sampai tidur bareng, ya di kamar masing-masinglah. Kami tuh waktu itu juga mengerjakan project band lain, band disko, Stars Show Band. Roedyanto Wasito, menjadi salah satu motor utamanya. Bersama Cendi Luntungan dan Dewa Budjana.
Nah pada perjalanan kemudian, mereka berempat mulai main kemana-mana  Merekapun mencari vokalis. Tapi terlebih dahulu, mereka harus mencoba, artinya harus ada proses pendekatan, untuk kecocokkan. Didapatlah seorang vokalis perempuan, masih muda banget, dia adalah teman Iwang di SMAN 68. Dyah Parwita namanya.
Namun pada waktu berikut, Isnan Noorsaid, yang biasa dipanggil Inang, ternyata ditarik masuk formasi Wongemas. Grup ini awalnya adalah Gold Guy’s Band, ini nama terdepan pada masa itu sebagai entertainer-band. Mereka biasa membawakan lagu-lagu bertemakan jazzy tunes, itu istilah “baru”, sebagai nama lain dari “jazz pop”.
Gold Guys itu memang grup kafe terpopuler di masa itu. Mereka bermain saban malam, kecuali Jumat malam di Green Pub, kafe berinterior a la Mexico, di kawasan gedung Djakarta Theatre. Catatan saja, kepopuleran Gold Guys memberi inspirasi bagi kemunculan grup-grup entertainer yang membawakan lagu-lagu jazzy.Tak hanya di Jakarta, tapi juga di Bandung dan Surabaya.
Wongemas dipersiapkan untuk mengikuti North Sea Jazz Festival di Den Haag, di tahun 1987. Seperti diketahui sejak 1985, ada wakil kelompok jazz Indonesia yang diberi kesempatan tampil memeriahkan festival jazz terbesar di dunia itu.



Inang Nooraid
Kalau ingat ya, di 1985, berangkatlah Karimata dan Bhaskara. Kemudian di 1986 ada Bhaskara’86. Nah di 1987 itu, rencananya Wongemas yang dapat tiket. Inang pun memilih konsentrasi di Wongemas, jadi mengundurkan diri dari Emerald.
Inang keluar, Emerald jadi vakum sesaat. Lalu ketemulah dengan drummer stylish, Cendirandus Luntungan, biasa dipanggil Cendi. Malah suka dipanggil pula sebagai CenLung! Lho, bintang kungfu dong? Cendi sejak lama sudah berteman baik dengan Emerald. Eh emang pendekar kungfu juga?
Kan seperti seperti cerita saya di atas, Roedy dan Cendi adalah motor utama kelompok total disko, Stars Show Band. Cendi masuk. Kemudian mereka mengikuti lagi LMC 1988. Tapi namanya sudah berganti menjadi Band Explosion. Pamor kontes band itu belumlah surut pada masa itu.
Apalagi ada iming-iming bahwa juara pertama Band Explosion, akan mendapat kesempatan mengikuti tingkat internasional di Hongkong dan, kalau lolos, maju ke final round tingkat dunia di Tokyo, Jepang.
Emerald dengan formasi Iwang, Roedy, Morgan dan Cendi langsung sukses menjuarai BEX (begitu singkatannya) Indonesia. Dengan Iwang dan Cendi juga terpilih sebagai the best instrumentalist atau best player.
Mereka maju ke tingkat Asia-Oceania, dimana acara finalnya diadakan di Hongkong. Emerald menjadi juara, dengan Roedy dan Cendi menjadi the best player. Yang menarik, cerita mereka, saat membawakan lagu ‘Karapan Sapi’ sebagai komposisi sendiri, mereka diminta harus menari juga!

Merekapun berlatih menari juga akhirnya. Dan usaha itu ternyata kan tidaklah sia-sia. Mereka merebut tiket untuk ikut tingkat dunia di Jepang. Tapi acara final di Tokyo awalnya direncanakan pada November 1988. Namun saat itu Kaisar Hirohito, pemimpin utama dan paling dihormati masyarakat Jepang tengah mengalami sakit.
Maka seluruh Jepang masuk “masa tenang”, demi menghormati sang kaisar yang tengah sakit itu. Akibatnya BEX tingkat dunia dimundurkan jadwalnya.
Final Band Explosion tingkat dunia, akhirnya diselenggarakan pada 12 Februari 1989, dengan diikuti oleh 21 band dari 12 negara. Termasuk Emerald, satu-satunya wakil terpilih dari Indonesia. Dari kompetisi tingkat dunia tersebut, Emerald terpilih sebagai peraih silver grand prize, sebagai juara ketiga.
Perlu diketahui, dua grup band pemenang pada saat itu memakai vokalis. Yaitu grup band asal Australia, Janz, sebagai pemenang pertama, grand prize winner. Lalu Giraffe yang datang dari Amerika Serikat, menjadi juara kedua atau peraih first silver grand prize. Nah Emerald itu tidak didukung vokalis, alias memainkan instrumental saja.
Emerald waktu itu kembali memainkan lagu andalan mereka,  Lagu itu sebenarnya adalah karya dari abah Said Kelana. Berwarna etnik, ada suasana Maduranya. Menggambarkan suasana keramaian acara pacu sapi atau karapan sapi di Madura yang tersohor itu. ‘Karapan Sapi’, begitu judulnya.
Emerald pada waktu kemudian lantas dikenal sebagai sebuah grup fusion “elektronik”, dengan bertumpu pada peralatan keyboard dan synthesizer, yang sering menyelipkan unsur-unsur etnik Nusantara. Tapi mereka tidak menyertakan instrumen etnik asli. Semua unsur sound dari peralatan tradisi Nusantara, dibunyikan oleh perangkat digital sampling, sebagai bagian penting peralatan synthesizer yang dimainkan Iwang.
Pemicunya memang lagu Karapan Sapi itu. Kalau didengarkan, lagu tersebut menjadi unik dan khas, karena bahkan ada selipan sound lenguhan sapi, lewat permainan gitar Morgan di dalam lagu.
Pulang dengan prestasi internasional di Jepang, Emerald langsung kebagian order manggung dimana-mana. Di saat itulah, saya makin sering bertemu mereka. Malah seringkali saya diajak mereka turut serta, untuk menyertai mereka tampil di berbagai kota. Dari Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Semarang sampai Klaten.
Oh ya, waktu dari 1985-1990an itu, saya kerapkali diajak serta beberapa kelompok jazz untuk menyaksikan penampilan mereka di berbagai kota. Selain Emerald, yang sering mengajak saya, juga Krakatau. Maka dari itulah, saya terbilang memang bersahabat sangat baik dengan para personil kedua grup band tersebut. Ya gitu deh, sering jalan kemana-mana kan?
Kedua grup itulah, di masa itu yang terbilang alumnus LMC paling sukses. Kahitna juga salah satu alumnus LMC yang lantas sukses, tapi di era 1990. Malah pada akhirnya, justru Kahitna terbilang paling sukses, bahkan terus bertahan hingga sekarang.
Kenapa Kahitna disebut yang tersukses? Ukurannya sih tepatnya gini ya, Kahitna kemudian dengan mengambil warna lebih pop, punya hits lebih banyak dari Krakatau maupun Emerald.
Emerald langsung di 1988 juga, masuk dapur rekaman. Mereka memasaklah lagu-lagu. Hasilnya adalah album perdana berjudul Cemas, dirilis tahun itu juga, oleh Granada Records. Menampilkan lagu-lagu seperti, ‘Cemas’ (Dodo Zakaria dan Tarto Saputra), ‘Gaya Disko’ dengan Utha Likumahuwa, ‘Ngeceng’ karya Junaedi Salat dengan vokalisnya, Jen Retno Ariyani.
Jen Retno juga menyanyikan lagu, ’Percaya’, ‘Letih’ dan ‘Mesra’ pada album ini. Sementara vokalis lain, yang sebenarnya di-plot sebagai lead vocalist Emerald. Ya siapa lagi kalau bukan, Dyah Parwita. Dyah, malah “hanya” kebagian 2 lagu, ‘Malam Itu Dingin’ dan ‘Melangkah’.
Dalam album yang menelurkan hits, ‘Cemas’ dan ‘Ngeceng’ itu memang terasa betul Emerald sadar untuk kompromistis. Termasuk menerima untuk membawakan lagu bukan karya mereka sendiri. Dan hanya bisa menyelipkan dua lagu saja, yang instrumental dengan gaya bermusik mereka, ‘Embun Pagi’ dan ‘Bilyard’.



Menyoal warna musik, ada sedikit pergeseran dari formasi Emerald 1986 ke 1988. Pada formasi 1986, mereka terasa lebih dekat dengan warna macam electronic fusion a la Casiopea. Pada formasi 1988, kehadiran Cendi memberi pelebaran warna. Walau tetap kental corak (jazz) fusion-nya.
Seperti juga Krakatau, saat 1985 mereka jadi juara banyak orang menganggap merekalah “Casiopea Indonesia”.Walau mereka waktu menjadi juara, membawakan lagu dari fusion band asal Kanada, Uzeb, ‘Pork Chop’. Harap dimaklumi, waktu itu, Casiopea, superfusion band dari Jepang itu, tengah populer banget di publik muda penggemar jazz fusion di sini.
Bagaimana tidak populer, karena ketika nama mereka sedang menaik tinggi dan makin banyak yang suka, mereka berhasil didatangkan ke Jakarta. Casiopea lalu menggelar konsernya di 1984. Mereka dua kali tampil yaitu di Balai Sidang Senayan dan Hotel Sahid Jaya. Kedua konser tersebut relatif penuh penontonnya.
Saat Krakatau kemudian berganti formasi, dimana Budhy Haryono digantikan Gilang Ramadhan serta Indra Lesmana juga ikut bergabung, musik mereka lantas lantas makin berbeda. Tak lagi ke “Casiopea-Casiopea” an.
Sedikit intermezzo, so di 1980-an hingga masuk awal era 1990-an, memang musik jazz fusion bisa dibilang salah satu trend yang berkembang cukup baik. Teristimewa di kalangan muda. Saat itulah, Krakatau dianggap lantas bercorak seperti Chick Corea, yang saat itu dikenal dengan grupnya, Electric Band.
Kemudian Karimata dianggap sebagai “pengikut” warnanya Mezzoforte, sebuah jazz funk band asal Islandia yang lumayan populer pula di sini saat itu. Lalu ada lainnya, Bhaskara. Kalau Bhaskara dianggap “lebih dekat” dengan warna GRP, ini sebenarnya label rekaman jazz fusion.
GRP di saat itu jadi lumayan populer pula lewat hasil rekaman live GRP All Stars, yang beredar dalam format laser-disc saat itu. Ada nama-nama seperti Lee Ritenour, Ernie Watts, Abraham Laboriel, Steve Gadd, Larry Williams, Dave Valentine, Ivan Lynch sampai Dianne Schuur.
Saya yakin, penikmat musik-musik bercorak jazz 1980-an pasti akrab juga dengan GRP All Stars. Soalnya tuh, menonton rekaman live GRP tersebut, menjadi keharusan yang pamali kalau sampai terlewat. Belum menonton rekaman itu? Pasti kurang gaul.....
Emerald ya terus dianggap condong ke Casiopea. Merekapun pernah dalam beberapa shownya, menyelipkan lagu Casiopea ke dalam setlist mereka. Apakah mereka memang suka Casiopea? Mereka waktu itu bilang, ya mereka mendengarkan Casiopea dan karena sering mendengarkan rekaman Casiopea, ada pasti pengaruhnya ke dalam musik mereka.
Sebut saja, “suasana” Casiopea sih ada. Tapi tak berarti plek-sek sama. Apalagi ketika kemudian Cendi pamit mundur, karena kesibukannya mendukung banyak grup musik lain. Maklumlah, drummer yang punya gaya khas, baik dalam permainan drumsnya maupun kostumnya itu, termasuk drummer laris.
Masuklah Yayang Yuni Zairin, sebagai pengganti Cendi. Yayang ini adalah teman lama Roedyanto. Sebelum membentuk Emerald, Roedy masuk dalam formasi Sere’s, Rahwana dan beberapa band lain. Dalam Rahwana juga Sere’s, ia bermain dengan Yayang, juga Morgan Sigarlaki.
Kalau untuk saya, pergantian formasi Emerald itu seperti menegaskan bentuk mereka. Fusion band yang dasarnya adalah para musisi yang dikenal sebagai rhythm section handal. Jam terbang tinggi, sebagai para session players, untuk cafe atau bar dan grup-grup pengiring.
Itu pula kekuatan utama mereka bahkan di 1986, saat mereka muncul pertama kali. Kemampuan Roedy dan Morgan sebagai musisi yang cukup dikenal sebagai session player sebelumnya, menjadi hal yang diperhitungkan para peserta LMC di tahun tersebut. Apalagi dengan kehadiran kakak beradik, Inang dan Iwang.
Inang dan Iwang saat itu memang sudah menjadi perbincangan juga, jadi gosiplah. Bahwa keduanya tuh masih muda banget tapi dahsyat mainnya. Kenyataannya kan memang, ya mereka sukses saat itu.
Balik deui ke tahun 1988-an itu. Di tahun itu sebetulnya sudah masuk juga nama Ricky Johannes sebagai vokalis mereka. Mulai ikut tampil bersama mereka. Tapi belum mendukung album perdana berjudul Cemas itu. Ricky mendekati Emerald, melamar main ke mereka, dan lantas meninggalkan grupnya saat itu, Mahameru.
Dan dengan Ricky Johannes, yang kemudian dikenal sebagai Ricky Jo, Emerald menghasilkan album kedua.  Album tersebut dirilis tahun 1990 oleh Graphic Records dan Art Records. Ricky Jo menyanyikan secara apik, .’Pasti Dapat’, ‘Kini’, ‘Cerita Kita’ dan Canda Ria’.
Sementara ada lagu-lagu lainnya yaitu, ‘The Job’, ‘Seventh Sky’. Lalu ‘Kecapi’, ‘Ronggeng’, ‘Altimeter’. Serta lagu “paling bertuah” mereka, yang adalah “sumbangan” abah Said Kelana itu, yang dijadikan judul album, ‘Karapan Sapi’. Selepas merilis album ini, Iwang dikarenakan job menyerbu terus, terpaksa mundur. Apalagi ia mulai sibuk pula dengan menangani musik untuk Iwan Fals saat itu.



Iwang mundur, masuklah Edwin Saladin. Nama ini, sebelumnya dikenal sebagai motor utama kelompok yang juga alumni LMC, Modulus Band. Modulus nya tak aktif lagi, maka Edwin ditarik masuk. Edwin diajak Roedy, karena juga pernah bermain bersama, saat masih di SMA.
Edwin, seperti juga Yayang, kalau soal jam terbang sebagai session players mah “sebelas-duabelas” dengan Roedy dan Morgan. Sampai hari saja, kibordis dan drummer itu,kerapkali membantu banyak band pengiring, bigband sampai orkestra.
Dan dengan formasi yang jadi lima orang itu, Emerald menghasilkan album berikut, Baralek Gadang. Album tersebut dirilis tahun 1991, sebagai album ketiga. ‘Hanya Angan’, ‘Baralek Gadang’, ‘Gantolle’. Kemudian, ‘Gayamu’ dan ‘Satu Lagi’. Memang hanya enam lagu saja. Ada guest player khusus,  Dian HP ikut mendukung album, memainkan piano untuk lagu,’Satu Lagi’.
Tiga tahun selepas merilis mini album Baralek Gadang, Emerald melepas, Marunda, dirilis 1994. Dengan lagu, ‘Sudah Cukup Lama’, ‘Teman Biasa’, ‘February 14th’, ‘Marunda’. Kemudian ada lagu, ‘Ternyata’, ‘Hasrat’, ‘Edwina’, ‘Sambali’.
Sejauh itu, Emerald perlu dicatat sebagai satu-satunya kelompok jazz(y) 1980-an yang tetap eksis dan terus produktif. Grup-grup lain, yang pernah menghasilkan rekaman juga, di era 1980-an, terutama dari 1985-an sampai akhir 1980-an, semua terhenti.
Setahun sebelum merilis Marunda, Emerald memperoleh undangan untuk ke Jepang lagi. Kali ini untuk ikut tampil di Sumitomo Music Festival. Cerita Roedy, kabarnya waktu Emerald tampil di final BEX, ada boss dari Sumitomo menonton dan terpesona. Maka ketika mereka, Sumitomo mau bikin acara, Emerald pun diundang.
Acara itu bukan festival kompetitif. Statusnya mereka undangan, dengan bayaran sangat bagus, terang Roedy. Tapi kemudian di akhir acara itu, Ricky Jo eh dipilih sebagai vokalis terbaik. Dan Emerald diberi penghargaan sebagai Outstanding Performers kedua, setelah sebuah band pop Jepang.
Kalau menyoal angka penjualan album, mungkin saja Emerald belumlah sesukses Krakatau atau Karimata. Walau bukan berarti, album-album mereka tak berbunyi sama sekali di pasaran, terutama album pertama dan kedua.
Uniknya, album ketiga dan keempat, menjadi album penting yang diburu para kolektor justru pada waktu kemudian. Sekitar hampir 10-an tahun kemudianlah, album-album Emerald dalam format kaset dicari-cari para kolektor.
Selepas album Marunda, perjalanan mereka menjadi slowdown. Bukan berhenti total. Tapi biasa deh, dikarenakan semua personil makin sibuk dengan proyek musik masing-masing, maka Emerald lantas melambat jalannya.
Kesemua personil menjadi session players yang terbilang laris, sebagian di antaranya juga menjadi produser ataupun arranger untuk rekaman. Ricky Jo mulai sibuk dengan grup lain, salah satunya adalah trionya bersama Fariz RM dan Dandung Sadewa, Rikardo Batista namanya. Selain itu juga Ricky menghasilkan solo album.

Bernard Ricky Johannes, begitu nama lengkapnya. Pemuda yang menyebut N. Simanungkalit sebagai guru vokal utamanya itu, juga dikenal sebagai penggila sepakbola. Tak heran, saat ditanya itu Rikardo Batista apaan sih artinya? Ricky bilang, kan waktu itu demam sepakbola, World Cup. Itu terinspirasi dari nama-nama pemain sepakbola, terutama dari Argentina...
Di awal 1980-an, Ricky memulai karir menyanyinya dengan mengikuti berbagai lomba menyanyi. Antara lain Pop Singers serta Bintang Radio dan Televisi RRI/TVRI. Ia meraih prestasi sebagai Juara II Pop Singers se Jakarta, tahun 1980.
Ia juga meraih predikat Juara I dan Penampilan Terbaik Bintang Radio dan Televisi, tingkat DKI Jaya. Serta juara ketiga, dengan predikat Penampilan Terbaik pula, untuk tingkat nasional, di tahun 1983.
Saya sendiri mengenal Ricky Jo, sekitar 1986-an, saat ia masuk formasi Splash Band. Eh iya, kenalan sih sudah sebelumnya tapi lantas menjadi akrab saat ia menjadi vokalis Splash Band. Ia berduet dengan Nya’ Ina Raseuki, yang lebih dikenal sebagai Ubiet, di grup yang dibentuk oleh Diddi Agephe tersebut.
Permisi nyelip lagi ya... Di Splash itulah, saya selain menjadi akrab dengan Ricky, juga mulai mengenal gitaris muda, masih SMA saat itu, Tohpati Ario Hutomo. Salah satu grup terawal Tohpati, yang biasa dipanggil Bontot itu, memang Splash. Splash sendiri dibentuk Diddi bersama Dian Hadipranowo (Dian HP), yang waktu itu berstatus sebagai istri dari Diddi.
Masih soal Ricky, ia merilis solo album berjudul Ricky Johannes di tahun 1993. Dalam album yang diproduksi JFS Records, milik pencipta lagu kondang, James F. Sundah tersebut, ada beberapa lagu karya Fariz RM yang dibawakan Ricky.
Melewati pertengahan 1990-an, Ricky mulai memiliki kesibukan lain sebagai penyiar radio. Itu adalah stepping stone-nya, untuk lantas menjadi presenter di televisi. Karirnya di layar kaca sebagai presenter, dimulai sebagai pembawa acara beberapa acara kuis di stasiun RCTI.
Kemudian Ricky lantas menjadi presenter acara olahraga, dimana ia dikenal dengan salamnya, “Salam Olahraga”. Di awal dekade kedua 2000-an, saya sempat diminta membantunya untuk mempromosikan solo albumnya, RJ. Oh ya, ia mencoba tampil dengan “nama baru”, RJ itu, mulai dari solo album tersebut.
Setelah itu,saya malah lantas menjadi bintang tamu tetap program siarannya di Lite FM 105,8. Dimana dimulai dari menjadi narasumber, yang diwawancarai di 2010, eh lantas saya menjadi partnernya. Kami sempat siaran bertiga bersama penyiar cewek cantik, Cindy Purple.
Program saya di radio tersebut terus berlanjut, sementara Ricky keburu mundur karena kesibukannya di dunia televisi dan olahraga. Saya hanya sekitar 3 bulan siaran bareng Ricky. Tapi dengan Ricky lah, saya memang lantas punya program khusus di radio itu dan berlangsung sampai 5 tahun.
Kami juga pernah menjadi duo host di beberapa acara musik. Salah satunya itu, masih terkait dengan radio Lite FM 105,8. Dan memang saat menerima kabar duka, Ricky berpulang mendadak karena terkena serangan jantung di 22 Maret 2013, jelas saya kaget.
Ricky saya kenal aktif berolahraga, terutama sepakbola dan belakangan futsal. Tak heran iapun juga terpilih sebagai wakil ketua Badan Futsal Nasional di dalam PSSI. Toh ia ternyata akhirnya pergi juga. Kaget dan juga sedih sih, Ricky sama seperti semua Emerald, itu terbilang sahabat dekat banget. Banyak sekali cerita tentang mereka....
Kembali lagi ke Emerald. Mereka sempat vakum beberapa saat. Terakhir itu, Emerald dengan formasi terakhirnya, tentu bersama Ricky, sempat tampil di Java Jazz Festival 2007. Sambutan penonton antusias betul saat itu. Setelah itu, mereka “hilang” beberapa tahun.
Di 2010, saya dikabari oleh Roedy dan Morgan, bahwa Iwang mengajak mereka main bareng lagi. Mereka tak terpikir untuk menghidupkan lagi Emerald di waktu itu. Akhirnya, merekapun kumpul lagi. Awalnya kepikiran bisa reunian formasi BEX, dengan Cendi sekalian.
Sayang Cendi terlalu sibuk. Akhirnya diajak lagi Inang Noorsaid. Terjadilah reunian Emerald formasi pertama itu. Tapi mereka memilih nama BEX Tokyo Reunion. Saya sempat membawa mereka tampil di New Friday Jazz Night, di Pasar Seni Ancol. Waktu itu, saya membantu Donny Hardono dengan DSS Production-nya, menjalankan lagi program live di kawasan Ancol yang sempat dikenal luas publik Jakarta di era 1980-an itu.
Dari Pasar Seni Ancol, mereka tampil di Bentara Budaya Jakarta. Setelah itu, mereka kemudian mengalami pergantian formasi. Inang keluar. Roedy, Iwang dan Morgan lalu mencari penggantinya. Terbersitlah ide untuk lebih memilih drummer muda yang fresh. Tapi dengan syarat harus tahu lagu-lagu Emerald, syukur-syukur kalau suka dan sudah bisa memainkan.


Nah di saat itulah, mereka memutuskan memakai saja nama Emerald BEX. Ini untuk membedakan dengan Emerald (biasa). Karena kan biar bagaimana mereka tak menyertakan Ricky Jo saat itu. Karena juga,konsep Emerald BEX memang hanya akan membawakan lagu-lagu instrumental, pada awalnya.
Didapatlah drummer muda, Exel Mangare. Dia tahu sebagian lagu Emerald, dan dicobalah main. Dengan Exel, saya sempat membawa mereka sampai Medan, ikut memeriahkan North Sumatra Jazz Festival di tahun 2011. Formasi bersama Exel juga, dibawa lagi ke New Friday Jazz Night di Pasar Seni Ancol, tahun yang sama.
Sayangnya Exel yang waktu itu masih bersekolah SMA, ternyata berkeinginan kuat melanjutkan studi di Amerika Serikat. Ia kepengen memperdalam ilmu nge-drumsnya.  Maka mau tak mau, perjalanannya bareng Emerald harus terhenti.
Emerald BEX sibuk mencari pengganti Exel. Didapatlah Yandi Andaputra, masih muda juga. Dan setelah beberapa kali main, dirasakan ada kecocokan. Cuma di waktu itu sempat Morgan, Roedy dan Iwang memilih untuk bersikap bahwa drummer adalah additional player saja. Karena melihat cukup sulit untuk bisa mendapatkan drummer yang “setia setiap saat”.
Jadi mereka bebas, bisa mengajak drummer siapa saja. Asalkan drummer tersebut mau membawakan lagu-lagu mereka, syukurlah kalau sudah tahu sebelumnya. Oh ya syarat lain, harus anak muda banget, ya seusia Exel dan Yandi. Biar bisa mentransfer enerjilah ya untuk oom-oomnya?



Morgan dan Roedy saya bilang begitu, di waktu itu, hanya tertawa lebar. Bukan oom dong, sergah mereka kompak. Kakak-kakaklah. Dan masih disepakati bahwa mereka mencoba tetap tanpa vokalis dulu.
Walau merekapun toh sempat menyertakan bintang tamu vokalis, membawakan 1-2 lagu. Mereka pernah mengajak Teddy Adhitya, khususnya satu ketika di Pasar Seni Ancol. Pernah juga dengan salah seorang putri dari Lidya Noorsaid, kakaknya Iwang itu yang menikah dengan gitaris, Yongkie Ramelan.
Di 2010, eh ini hampir terlewat nih. Emerald pernah juga merilis album The Best of nya. Kumpulan hits mereka, dari keempat album mereka di tahun 1990-an itu. Tanggapan publik kabarnya lumayan. Kangen juga rupanya. Seneng juga sahabat-sahabat saya ternyata ngangenin... Hihihihi.
Lagi-lagi eh iya, saat launching mereka untuk album tersebut, saya diminta menjadi moderator. Dalam acara ngobrol kita, isinya lebih banyak becandaan dan mengingat-ingat masa lalu, jaman keemasan dulu... Seru juga sih.
Sampailah pada tahun 2015, dimana Emerald BEX lalu menyelesaikan dan langsung merilis album baru. Berjudul Beda. Berisikan 12 tracks, dimana ada tracks dengan vokal. Lagu ‘Cemas’ dibawakan oleh Chintana Jo, putri sulung Ricky Jo.
Lagu itu diambil dari album perdana, Cemas, yang saat itu dibawakan Utha Likumahuwa. Khusus untuk dinyanyikan kembali oleh Chintana, lirik lagu ditulis ulang dan diaransemen baru lagi. Lalu lagu, ‘Hanya Angan’ yang dibawakan kembali, tentu dengan olahan aransemen berbeda, kembali menampilkan Chintana sebagai vokalis.
Mengenai Chintana Jo nih, putri sulung mendiang Ricky. Ia memang terlihat senang, ketika dulu bercerita putri sulungnya mulai menyanyi. Kelihatannya ada bakatnya bisa mengikuti papanya nih, kata almarhum di masa hidupnya.
Yang saya ingat, Ricky pernah berpesan, agar Chinta bisa menjadi penyanyi yang baik dan benar. Kalau memang Chinta pengen menjadi penyanyi profesional, ia senang dan pasti mendukungnya penuh. Akankah Chintana bakal mengikuti jejak sang ayah? Waktu akan membuktikan.


Dalam album tersebut ada lagu-lagu lain seperti, ‘Meet at Peacock’, ‘Journey to Sabang Street’. Itu lagu-lagu yang punya cerita tersendiri, seringkai dibawain mereka di panggung, tapi belum pernah masuk di album sebelumnya.
Meet at Peacock, kan udah saya ceritain di atas. Journey to Sabang Street terinspirasi dari pertemuan Iwang, Iang dan Roedy bertemu Morgan, yang pada momen itu mereka bertiga mengajak Morgan untuk bergabung dalam Emerald.
Memang mereka ketemu Morgan di kawasan tempat makan malam, jalan Sabang, Jakarta Pusat. Tempat makan itu, serupa dengan kawasan warung-warung makan bertenda di Blok M, yang dikenal dengan sebutan, Pasar Kaget.
Lalu ‘Billiard’ yang diambil dari debut album mereka juga. Nah ini billiard, cerita tentang kegemaran mereka main bola sodok itu. Mereka getol banget waktu itu. Bisa masuk hampir tengah malam dan baru keluar gedung, saat matahari pagi sudah menyinari bumi! Oho!
Lalu ada lagu, ‘11 Juli’. Juga ada lagu baru,’Natsepa’, ‘Jakarta’, ‘Mendaki Langit’, ‘Kan Kupetik Bintang Untukmu’. Mendaki Langit dan Kupetik Bintang, dimainkan awalnya di Pasar Seni Ancol, dan terasa ngerock banget. Iwang bermain “semena-mena” di kedua lagu yang bernafas pop rock tersebut.
Lagu ‘Altimeter’, ‘Ronggeng’ yang pernah masuk dalam album Karapan Sapi, dibawakan lagi. Tetap dengan penggarapan aransemen baru. Jadi memang album tersebut, lebih ditujukan sebagai semacam bukti mereka masih eksis. Juga kreatif.
 

Sekaligus menunjukkan rasa perhatian dan terimakasih mereka terhadap para penggemar setia mereka. Sudah puluhan tahun dijalani, para penggemar fanatik terus menyukai mereka. So sweet kaaaaaan? Harus diganjar dengan album baru.
Album itu juga memberi penegasan bahwa mereka tetap berusaha bertahan, untuk lebih mengandalkan lagu-lagu instrumental. Tetap setia pada corak fusionnya. Lagu-lagu dengan syair, lebih sebagai pelengkap. Bukan semata-mata bonus track sih. Karena keberadaan lagu-lagu dengan vokal tetap penting.
Karena mau tak mau, harus diakui bahwasanya Emerald dulunya, sebagai cikalbakal-nya Emerald BEX punya banyak hits juga dengan vokal. Lagu-lagu tersebut lumayan populer dan terus disukai bahkan hingga hari ini.
Hal tersebut membuat mereka meneruskan perjalanan dengan sekalian mencari vokalis. Mereka belum bisa memastikan, akankah ada vokalis tetap, sebagai pengganti almarhum Ricky Jo. Karena, menurut Roedy dan Iwang, Ricky Jo susah tergantikan.



Sejak tahun silam, mereka “menemukan” Dudy Oris. Nama ini adalah mantan vokalis dari grup pop, Yovie NUNO. Sejauh ini terlihat ada kecocokkan antara Dudy dan Emerald BEX. Dudy juga mengakui adalah fansnya Ricky Jo dan Emerald. Semua lagu Emerald yang dibawakan almarhum Ricky, disukai oleh Dudy.
Dudy saat ini tak tergabung dalam sebuah gruppun. Ia berjalan secara solo saja. Akankah memang nanti Dudy asli jadi vokalis atau frontline andalan Emerald BEX? Kita serahkan saja pada semesta raya ya? Kan kalau jodoh, tak akan lari kemana...
Jadi ya gimana dong? Emerald BEX akankah memakai vokalis tetap seperti Emerald? Tapi sejatinya, nah ini sebenarnya harus dipertimbangkan juga, biar gimana Emerald BEX juga dikenal luas karena lagu-lagu fusion-nya yang instrumental.
Mereka dianggap tetap sebagai band “lawas” yang tetap disegani. Tetap jadi salah satu ikon jazz(y) 1980-an yang tetap bertahan hingga sekarang. Dan untuk jenis musik yang mereka mainkan selama ini, mereka bolehlah disebut, seng ada lawan! Tepatnya, ga ada yang bisa “mendekati” mereka, kalau soal memainkan jenis musik fusion seperti itu, yang memang sih mengingatkan kita akan musiknya Casiopea.




Waktu selama ini telah membuktikan, yang rada dekat dengan musiknya Casiopea, memang hanya mereka. Sampai hari inipun, Casiopea tetap banyak fansnya di sini. Makanya sampai mereka sudah 5 kali menggelar konsernya di Indonesia sini. 4 konsernya di Jakarta, pertama di 1984, lalu di Jakjazz tahun 1991 dan 1993. Terakhir di 2015 lalu, “kebetulan” bisa saya tonton.
Sejauh mana Emerald BEX akan kuat bertahan? Sampai mana stamina mereka untuk terus eksis? Biar gimana tergantung juga, sampai sebagaimana para penggemar mereka menginginkan untuk mereka bertahan.
Selain itu,ini yang tak kalah pentingnya, bagaimana pula mereka lantas bisa memperlebar ataupun memperluas cakupan wilayah usia penggemarnya. Ada updating pada fansnya, itu rasanya akan memberi support ekstra untuk dapat memperpanjang “nafas” mereka.
Ya iya, kalau penggemar musik fusion yang muda-muda, bisa menerima dan menyukai musik mereka, itu modal bagus be’eng untuk keberlangsungan eksitensi mereka. Mereka sih tetap kreatif kok, semangat masih lumayan membara. Cuma kan, kalau ga ada penontonnya, waktu mereka manggung? Celaka 12 namanya!
Syukur sih, tak sampai seekstrim itu. Buktinya, mereka tetap tampil di berbagai acara, di pelbagai konser dan festival. Yang diadakan di berbagai kota. Penonton tetap terbilang antusias menyambut penampilan mereka di panggung. Ga sedikit memang, fans-fans relatif fanatik sejak lama yang kangen dengan mereka...
Walau kadang mereka juga punya problem internal. Biasa dah, apalagi kalau bukan kesibukan masing-masing personil. Roedy saat ini terbilang sebagai produser ataupun music director rekaman berbagai album yang lumayan laris.
Morgan aktif di musik-musik gospel, melayani Tuhan. Iwang, nah ini nih. Seringkali tetiba terbang, ga kira-kira jack, keliling Eropa segala. Untuk main, resital piano, solo! Terakhir,Iwang juga ikut jadi “seksi sibuk” pentas Kibordis untuk Bangsa, dengan penampilan 100 Kibordis yang menjadi rekor dunia itu.
Bahkan juga drummer. Ada beberapa kali dengan sangat terpaksalah, Emerald BEX harus mengajak drummer lain karena Yandi sudah keburu diikat kontrak dengan band lain. Drummer yang menggantikan Yandi adalah Muhammad Iqbal. Dan Iqbal ini adalah teman duet Yandi di grup mereka, Duadrum.



Jadi memang, “kakak-kakak”nya sudah sepakat menjadikan “adik” mereka, Yandi sebagai drummer tetap. Cuma sedikit jadi problem, Yandi juga drummer muda yang lagi laris-larisnya pula. Tapi baiknya, adalah ya way-out...
Ah akhirnya bisa juga ya, menulis mereka, para sahabat baik saya sejak lama ini. Menulisnya juga lumejen neh. Mudah-mudahan lengkap dan....memuaskan para pembaca, terutama para fans-fans fanatik mereka.
Akhirul kata, well dudes, keep on goin’. Keep your music play! Biar bagaimanapun mereka adalah band bagus, yang tetap dan terus bagus dari 1980-an. Dan musiknya tetap bisa menyegarkan sekaligus menyejukkan hati dan pikiran, para penikmat musik, segala usia, sampai hari ini. Malah, kayaknya sih....everlasting!
Sehatslah selalu ya, brothers! Tuhan memberkati langkah-langkah kaki dan kreatifitas kalian..../*