Thursday, February 4, 2016

Ezra Simanjuntak: Dengan Heavy Metal dari Honolulu, Melalui La Bamba!



Saya terus terang, belum terlalu lama mengenal sosok pria gondrong ikal banget, tongkrongan nan metal sejati. Tapi supel, relatif santun, optimistik. Friendly and humble. Wawasan juga eh ga sebatas rock atau metal. Bahkan lumayan luas, tak melulu hanya di musik. Dia mengaku juga senang melukis, mendesain...
Ini baca cerita dikit tentang masa kecilnya....
Gw itu sebetulnya kutu buku & scientific minded. Di umur 3 tahunan gw udah bisa baca koran. Sampai sekarang gw udah baca 2000an lebih buku. Ya sekitar 60-80an buku setiap tahun dr sejak dulu. Darah seni gw dan Eddy itu mungkin dari nyokap yang waktu masih high school jago menggambar katanya. Tapi sampai sekarang gw belum pernah liat beliau melukis.
Sebetulnya gw itu pelukis. Mulai otodidak dari umur 4 tahun. Pas umur 11-an gw udah dianggap ‘child prodigy’ sama guru-guru gw karena kemampuan gw melukis, dinilai setara dengan professional comic artist Marvel atau DC comics lho, hehehe.. Ditawarkanlah untuk publish graphic novel yang gw tulis dan gambar sendiri di usia 14 tahun. Tapi tak pernah gw terusin setelah 24 halaman, ga pede.
Nyokap marah besar tuh ke gw gara2 itu. Sampai sekarang masih bete kalo inget itu hehehe… Soalnya kalo ampe jadi saat itu gw pasti masuk Guiness Book Of World Record sebagai creator, writer & artist termuda yang menerbitkan graphic novel. Wah, tapi bro, mungkin ga jadi gitaris dong?
So ceritanya, dia memang sebetulnya rada telat mengenal musik. Sebagai kutu buku, ia menggemari banget hal di luar musik. Lihat ini, dia mengajukan beberapa aplikasi di universitas yaitu soal Physics, Bio chemistry & Architecture. Dari umur 10 tahun dia udah banyak baca tentang Fisika seperti Theory Of Relativity Einstein, String Theory dan banyak lg. Sampai sekarang dia masih hobby dan ngikutin perkembangan Theoretical Physics.
Dia masuk University of Hawaii, karena ia memang kelahiran Hawaii. Jd pengen balik ke asal deh ceritanya. Pas udah mulai kuliah dan mulai main gitar dia kok ngerasa ga nyaman di situ. Walaupun dia merasa emang juga nerd tp nerd-nerd lain yang ngambil bidang itu beda banget tampilannya. Soalnya kan doski ini udah gondrong, nyeleneh, sering pake jeans robek, sendal dan kacamata hitam dalam kelas. Bawa gitar jg melulu. Nggak nyambung sama mereka. Doi merasa sering diremehkan.
Seru kan kalo liat perjalanan hidupnya, terutama di awalnya itu? Lebih seru lagi kalau tahu, pemuda metal bernama lengkap, Ezra Luhut Simanjuntak ini berkenalan dengan gitar. Dari sisi seni sih dia berangkat dari melukis. Dia memang ga ada background music sama sekali. Di keluarga besarnya juga nggak ada. Entah kenapa ngeliat temen-temen bersenang-senang genjrang-genjreng bikin dia lantas pengen belajar main gitar. So pasti dong, temen-temennya anggap udah telat banget mulainya karena kok baru pas kuliah. Ya iseng doang sih. Nama temannya yang pertama kali ngajarin dia chords gitar itu Ishak, dia sekarang kerja di Dubai.
Ishak itu juga awal-awalnya bikin dia jadi tertarik ke rock. Lagu pertama yang kayak nantangin banget doski untuk niat kulik ampe bisa waktu itu sih ‘La Bamba’ versi Los Lobos....hehehe. Riff gitar dan solonya itu loh keren banget,  tapi chordnya cuma  C F G  ngulang2!




Shawn Mahtani, orang Hongkong yang keturunan India asli, yang pertama ngenalin Ezra ke blues dan ngajarin scale blues pentatonic. Dia ngenalin ke biangnya heavy metal kayak Led Zeppelin, Ozzy and Black Sabbath. Shawn temennya di Honolulu, waktu dia baru masuk Universitas, di apartemennya waktu itu. Tapi Shawn itu sebetulnya otodidak, dan kurang paham juga untuk ngajarin. dia cuma bisa nunjukkin 2 posisi scale blues doang.
Cuma dari Shawn lah Ezra pertama kali ngeliat improvisasi spontan blues. Doi langsung terpesona.. Itu adalah salah satu momen awal yang penting, karena dari situlah doi jadi semakin suka dengan musik dan bermain gitar. Dia juga yang lantas membuatnya berani manggung, dengan sebuah big band, ya dia juga main. Entah kenapa Ezra sih mengaku tidak nervous, padahal pegang pick gitar aja belum bisa. Main di depan ratusan orang, malah Shawn yang grogi. Eh Ezra malah jadi ketagihan lho, pengen manggung lagi...
Berikutnya, akhirnya ia lantas mengambil kursus gitar lebih serius. Bertemulah ia dengan Frank Paulino, ini muridnya Marty Friedman-nya Megadeth. Frank saat itu udah 3 kali menang sebagai best guitarist di Hawaii, salah satunya itu termasuk mengalahkan Marty di final festival gitar tahunan!
Yang paling penting dia ngebuka wawasan musiknya, memastikannya disiplin dalam menerapkan good practice habits. Jadi nggak punya kebiasan-kebiasaan jelek seperti banyak gitaris pada saat awal mulai main gitar. Itu yang sering bikin jadi sulit berkembang, dan bikin jadi lama semuanya. Dia juga menanamkan pentingnya punya ciri dan karakter sendiri karena di Amerika itu, penggemarnya kan sangat kritis. Gw hanya sempat belajar 2,5 bulan lah kira-kira dengan dia, begitu pengakuan Ezra.
Ezra yang putra dari pasangan Prof.Dr. Mangantar Simanjuntak dan Siti Hasnah. Berdarah Jerman dan Batak dari bokap dan Jawa, Betawi, Cina dari nyokapnya. Lahir tanggal 26 September di Honolulu, Hawaii. Tahun disembunyikan, biarlah tertera saja di kantor kelurahan.... Ia anak pertama dari 3 bersaudara. Adiknya yang bungsu, Namara Verdi atau Eddy, gitaris juga. Pulang ke Indonesia dari 2002, gitaris juga dan kini bermain bersamanya di Zi Factor, grup bandnya. Adiknya yang satu lainnya, Moana Oka, kini berkarir non musik di Australia.
Kedua ortu-nya itu dosen. Bokap di bidang Psychoneuro Linguistics & nyokap di bidang Library Science. Keduanya menulis buku-buku text di bidangnya yg masih dipakai di beberapa universitas di Malaysia, Brunei & Japan. Mereka ketemu di University Of Hawaii Manoa di Honolulu karena keduanya dapat beasiswa ke East West Center yg letaknya di dalam University Of Hawaii. Menikahnya ya di sana.
Lalu soal balik ke Indonesia. Nggak sengaja sebetulnya. Dia ga begitu tahu tentang Indonesia karena ortu males nyeritain, kelihatannya mereka  anti regim Soekarno dan Suharto. Makanya baru mau pindah balik ke Indonesia tahun 2000 dari tahun 1965 lho!. Yang Ezra sendiri baca tentang Indonesia di sana sih nggak ada yg bagus2 hahahaha... Kecuali sumber daya alamnya ya.
Dia mulai lebih sering mudik ke tanah air, sejak 1993. Mulailah kenal dengan beberapa musisi di sini. Termasuk dengan anak-anak di Potlot. Tapi di saat sama, ia juga punya kesibukan dengan karir musiknya, antara lain mulai menjajal menembus US, via Los Angeles. Tapi di 1995, Pay, yang masih di Slank waku itu bilang, ““Loe itu lebih dibutuhkan negara loe sendiri dibanding sama Amerika ‘zra”....
Itulah titik terpenting, dimana akhinya Ezra putuskan pulang dan berkarir musik di tanah airnya sendiri saja. Apalagi setelah, upayanya dengan musik dan grup bandnya di Los Angeles, kepetok masalah dan jadi susah untuk meneruskan usaha mereka untuk menembus pasar internasonal yang total.




Cerita panjangnya, dia sampaikan ke saya lewat cerita langsung. Selain itu, ia pernah menuliskannya sendiri. Yoih, doski ngetik panjang lebar perjalaan bermusiknya, kirim ke saya. Waktu itu saya memang pengen menulis profile panjang tentang dia, di media saya yang doeloe itu. Ceritanya bagus, berisi dan panjang banget. Wuidih, saat itu saya bilang, ini udah bisa jadi buku nih....
Ceritanya kemana-mana. Memang berisi. Rasanya berguna juga untuk di share ke publik. Ezra harus mulai serius berpikir, membuat buku. Karena, ia juga bisa menulis dengan relatif baik. Ada bakat terselubung sebagai penulis kelihatannya. Eh ini serius lho. Saya bilang langsung ke Ezra, yang bersangkutan hanya tertawa lebar. Masak sih, bang? Seriously, u must try, bro!
Ok then, makdarit, saya langsung memasukkan list tamu saya untuk meramaikan video interview saya. Seperti juga responnya waktu saya bilang, mau menulis panjang tentang dia, jawaban doski itu cepat dan antusias! Dan datanglah ia ke studio, bawa gitar. Langsung saat itu saya bilang,bisa-bisa kita take ini pada beberapa hari bro. Cerita-ceritamu banyak sekali, ga bakal bisa keluar semua, kalau take shooting nya hanya sebatas 2-3 jam!
Saat ini, ia lumayan sibuk. Dengan Zi Factor nya. Dengan keluarganya juga. Dan juga menjadi motor dari program-program rock di beberapa kafe. Dia menggerakkan semangat lewat sel-sel “kecil” kafe ke kafe. Ikut menghidupkan, menggairahkan lagi scene rock, atau metal, di tanah air. Semangat dan pergerakannya ini, yang makin membuat saya respek dan yakin, Ezra harus jadi tamu saya ih.
Silahkan saja mendengarkan, menikmati, obrolan saya di video interview dengannya. Sekali lagi, kayaknya belumlah tuntas-tas, padahal kita sudah ngobrol ngalor ngidul lebih dari 2 jam lho! Bisa jadi, kapan tempo, kita sambung lagi. Terutama juga dengan grupnya, Zi Factor. We’ll see, bro...
Terimakasih, sudah meluangkan waktu untuk datang dan menjadi tamu saya. Sukses selalu dengan segala aktifitasmu, brother Ezra! Sampai bertemu lagi. Sehats lah selalu....
*DM




Check out the video on Youtube


No comments: