Monday, May 28, 2018

Senangnya dan Nyamannya Nonton Chaseiro, Dunia di Batas Senja

Candra Darusman


Aswin Sastrowardoyo

Edi Hudioro

Karena atas dasar menghormati para “kakak-kakak” nan baik hati, peramah dan tidaklah sombong. Maka sayapun bergegas untuk dapat sampai di acara, dengan tidak terlambat. Padahal perjalanan di hari itu nayamul bray. Alias, lumayan. Lumayan jauhlah. Bondowoso ke Jember. Jember ke Surabaya. Surabaya ke Jakarta. Dengan pesawat terbang tentu saja.
Dan dari yang namanya bandara Soekarno Hatta, lalu mampir di rumah untuk menaruh koper kecil. Lantas langsung menuju auditorium TVRI di Senayan. Syukurlah, sampai di sana, syuting live belumlah dimulai. Masih suasana ramah tamah di lobi auditorium.
Keenam kakak-kakakku yang punya pesta, masih bersiap-siap untuk syuting. Syuting hari itu memang rada spesial. Tema utama, Dunia di Batas Senja. Masuk dalam program saban Minggu malam miliknya TVRI, Memori Melodi. Program istimewa itu, dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun yang ke 40 dari Chaseiro.
Betul sekali bapak dan ibu, Chaseiro lah yang punya gawe. Candra Darusman, Aswin Sastrowardoyo, Edi Hudioro, Irwan Indrakesuma, Rizali Indrakesuma dan Omen Norman Sonisontani. Merekalah yang tengah bersukacita, sang pemilik acara.
Irwan Indrakesuma, di belakangnya ada Candra Darusman

Izali Indrakesuma

Omen Norman Sonisontani
Minus Helmie Indrakesuma tentunya. Yang telah pergi meninggalkan semua ke keabadiannya, pada 10 Februari 2013. So, Chaseiro tersisa 6 orang saja, pada saat ini. Tetapi mereka sejatinya tetap eksis dan hadir.
Kembali ke TVRI. Jam 19.30-an saya bergerak masuk ke dalam auditorium, supaya memperoleh tempat duduk yang memadai, enak menonton, mendengar sekalian memotret. Acara syutingnya sendiri dijadwalkan mulai 20.00 wib. Karena ini memang tayangan langsung, live program. 10 menit sebelum pukul 20.00, semua tamu undangan berduyun-duyun masuk dan memenuhi seluruh tempat duduk yang tersedia.
Sekeliling saya, dan istri saya di sisi kanan, adalah sebaya. Maksudnya sebayanya Chaseiro lho. Jangan salah mangarti lei... Di antaranya ada para “dharma wanita” Chaseiro selengkapnya. Sahabat-sahabat lain, ada musisi juga. Termasuk eh ada Rezky Ichwan, film-scorer dan jingle-maker yang sebenarnya pernah mengisi album pertama Chaseiro, dengan memainkan klarinet.


Dan pas jam 20.00 memang langsunglah Chaseiro tampil. Suasana campur aduk. Sukacita, gembira ria, ikutan menyanyi juga. Sing along-lah pastinya. Kata hostnya, Hilbram Dunar dan Bunga Harum Dhani, rasa-rasanya semua penonton tidak ada yang tak ikut menyanyi.
Ya gimana juga sih ya. Lagu-lagu Chaseiro kan memang mewarnai banget kehidupan kawula muda di era akhir 1970 hingga 1980-an. Entah masa sekolah, ataupun kuliah. Menemani jalan-jalan, plesiran, hang-out. Pacaran, pastinya. Pedekate ke cewek idaman. Dan ya sebangsanya.
Chaseiro untuk acara live itu didukung grup pengiring. Semuanya musisi muda. mereka menamakan diri, Rishanda and the Rising. Dipimpin Rishanda Singgih, bassis yang juga produser atau music director muda.
Ga ada “perubahan” yang menyolok pada musik Chaseiro di acara tersebut. Konsep dasar bisa dibilang tak berubah banyak. Sehingga alunan nada, bebunyian yang ditangkap telinga penonton, baik di dalam auditorium maupun yang menyaksikan di rumah, relatif tetap akrablah.
Maksudnya akrab bagi, terkhusus, penggemar Chaseiro dari masa-masa “perjuangan” mereka sebagai kelompok vokal. Nah acara kemarin diadakan pas 6 Mei, karena hari itu menjadi hari titik awal mereka. Dimana pada 6 Mei itu, mereka meraih predikat juara pertama, kompetisi Vocal Group yang diadakan oleh Radio Amigos di tahun 1978.
Karena itulah, merekapun mengundang anggota dewan juri pada kontes 40 tahun silam. Ada Marusya Nainggolan dan juga wakil dari almarhum Adji Bandi. Keduanya saat acara kompetisi menjadi juri bersama Jopie Item, alm. Yohannes Purba dan wartawan Billy Aktuil.
Ku lama menanti dalam sebuah laguku, Rasanya memberi bahagia kita semua.
Itulah lagu pembuka mereka, ‘Kulama Menanti’, dari album Bila yang dirilis 38 tahun yang silam! Oho, masya Allah itu kan album Chaseiro yang saya belinya di toko Aquarius, Aldiron Plaza lho. Dan sekarang mah udah raib. Pergi juga album pertama mereka, Pemuda dari koleksi saya. Entah kemana sih.....
Setelah lagu, ‘Bagaimanakh’, yang diambil dari album yang dirilis 2001, Persembahan. Disusul, ‘Sapa Pra Bencana’ yang memiliki lirik unik itu. kemudian dipanggil naik Donny Hardono. Nama senior ini adalah salah satu tokoh penata suara kawakan.


Yang mana, nyaris bisa dibilang sepanjang umur Chaseiro, Donny Hardono selalu mendukungnya langsung sebagai sound engineer. Bahkan serunya, Donny Hardono terlibat taksemata hanya di pementasan, juga termasuk di pengerjaan album rekaman.
Menurut  Donny, ia terlibat dengan Chaseiro saat mereka merekam di Celebrity studio, di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Saat itu Chaseiro menjalani rekaman untuk penampilan di TVRI secara tapping, karena masa itu belum dikenal penampilan secara live atau langsung.
Saya bahagia dan tak menyangka bisa terlibat dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke 40 Chaseiro, ucap Otti Djamalus. Dan sejatinya, tante Otti, sayapun tak menyangka dan juga bahagia, tante Otti membawakan dengan manisnya, ‘Untukmu’. Secara itu, salah satu lagu yang nancep juga di hati dan benak saya.
Otti, the singing pianist nan cantik itu, ditemani sang suami Yance Manusama sebagai bassis. Lalu drummer muda, Dezca Anugrah Samudra. Dan dipermanis, dalam bunyian yang sebenarnya memang deh, dengan harmonika oleh musisi belia, Rega Dauna.
Otti Djamalus Trio, didukung pula oleh perkusionis senior yang juga dokter ahli jantung, Iwang Gumiwang. Dan setelah Untukmu, Otti membawakan lagu ceria, ‘Tempat Berpijak’. Enak deh lagunya. Iya kan ya, mbak Otti? Mbak atau tante sih, enaknya manggilnya....
Semua anugerah yang maha kuasa adanya, tutur Candra Darusman. Saat Hilbram Dunar menanyakan kenapa aransemen Chaseiro bisa begitu jazzynya? Betul juga sih, mungkin karena pengaruh referensi mereka pastinya. Apa yang terjadi di dunia musik pada 40-an tahun lalu itu. Chaseiro memang terkesan cukup jazz(y).
Well, ada Manhattan Transfer misalnya. Rare Silk juga , bisa juga termasuk Sergio Mendes. Tentu saja, mereka mendengar dan meresapi. Yang sadar atau tidak, menjadi semacam inspirasi bermusik mereka. Teristimewa soal penampilan sebagai kelompok vokal.
Setelah master of ceremony kawakan, Koes Hendratmo dipanggil naik pentas untuk memberi komentarnya, giliran berikut adalah Elfa’s Singers. Kelompok vokal 80-an, yang dibentuk oleh almarhum Elfa Secioria dan lahir setelah Chaseiro, membawakan, ‘Pagi Hari’ dan ‘Ceria’.
Elfa’s Singer tampil dengan formasi hanya Uci Nurul dan Lita Zein. Mereka tampil bersama Gabriel Heryanto. Elfa’s Singers turun panggung, naik lagi Chaseiro dengan salah satu lagu mereka yang paling ngegoyang. Maksudnya emang ngajak goyang be’englah. ‘Rio de Janeiro’, yang adalah karya Guruh Soekarno Putra.
Glenn Fredly

Elfa's Singers with Gabriel Heryanto

Otti Djamalus
Ada nama Glenn Fredly, sebagai bintang tamu spesial. Tugasnya lumayan berat, membawakan ‘Shy’. Ini lagu yang sudah menyatu banget dengan Helmie Indrakesuma, yang menjadi vokal utama lagu tersebut. Lagu itu, terus terang saja, “lagu Helmie banget”.
Candra mengatakan, mereka merasa lagu itu hanya Helmie seorang yang bisa menyanyikan dengan sebaik itu. Susah nyari penyanyi yang bisa menyanyikan sebaik almarhum Helmie. Akhirnya, mereka ketemu dan mendapatkan penyanyi lainnya. Ya Glenn Fredly itulah.
Dan Glenn, “lulus”lah. Lagu melo-dramatic itu bisa dimasukki vokal falsetto Glenn, en sukses bikin mata berkaca-kaca para penonton. Terutama sahabat-sahabat dan kerabat Chaseiro, yang mengenal betul seorang Helmie. Apalagi sepanjang lagu, di giant screen, ditayangkan foto-foto diri mendiang Helmie Indrakesuma.
Stay save and peaceful there, bro Helmie! Kemudian lagu instrumental, ‘Gemilang’. Karya Candra itu dibawakan dengan menampilkan bintang tamu tak kalah spesial, Ananda SutrisnoMates” serta gitaris, Tohpati Ario.




Mates memang yang memainkan bass pada lagu itu, yang ada di album perdana mereka, Pemuda. Setelah sekitar 40 tahun, merekapun bisa bermain kembali, ucap Candra.
Tohpati kemudian masih bermain dalam lagu, ‘Dunia di Batas Senja’, yang kali ini diaransemen dengan nuansa latin jazz kental. Chaseiro tampil lagi, lalu lagu ini selain mengetengahkan akustik gitar dari Tohpati, juga flute oleh Edi Hudioro. Eh juga, permainan piano Candra Darusman deh!
Setelah itu ada guru besar design grafis Institut Tehnologi Bandung, Iman Sujudi. Kaitannya, Iman Sujudi adalah sahabat dekat Chaseiro sejak dulu, dan dialah yang membuat design logo Chaseiro. Yang terus dipakai sampai sekarang.
Mereka sama-sama masih mahasiswa, kebetulan Iman Sujudi memang senang menggambar. Dialah yang dimintai tolong, dan logo itu dibuatnya untuk dipakai seterusnya. Logo tersebut, ceritanya, dibuatnya selama 5 hari. Dan begitu disodori, hanya satu logo, langsung disetujui!
Berikutnya ada si cantik. Andien Aisyah. Dengan manisnya, Andien membawakan, ‘Pengungkapan’. Ga sempat latihan sebenarnya, kata Andien setelah tampil. Karena ia juga punya banyak jadwal lainnya. Etapi, selamat kok. Aan terkendalilah, dan sing penting, penonton puas!
Andien Aisyah


Dr. Iwang Gumiwang

Kira-kira seperti itulah jalannya pementasan Dunia di Batas Senja tempo hari itu. Saya yakin, bahwasanya sebagian besar penonton terpuaskan dahaganya. Penampilan keseluruhan dari kakak-kakak “Nchas”, panggilan ikrib dari Chaseiro, juga para bintang tamu. Plus, jangan dilupain, grup band pengiringnya, rasanya mendekati kesempurnaan yang hakiki.
Maksudnya sih, semua seolah terbang ke masa lalu. Masa-masa dimana lagu-lagu yang disajikan sedang mengalami masa-masa jayanya. Dan Chaseiro akan menggelar lagi, “sekuel” ke 2 dari konser tersebut, pas Sumpah Pemuda, di 28 Oktober mendatang.
Konser mendatang makanya diberi sub-title nan gagah dan ciamik, 40 Tahun Chaseiro dan 90 Tahun Sumpah Pemuda. Cocok dan pas. Lantaran kan lagu “pualing juara” milik mereka adalah, ‘Pemuda’. Lagu tersebut, menjadi lagu penutup kemarin itu.
Di sisi lain, sebagian besar lagu-lagu karya Chaseiro banyak mnyodorkan tema-tema kritik sosial selain cinta tanah air dan persatuan. Tema yang masih relevan tentunya saat ini, dimana sikon yang ada, kesannya makin lama kok cinta anah air, persatuan dan kesatuan malah menjadi “barang mahal”.
Chaseiro menghadirkan lagi lagu-lagu bagusnya, yang tentunya kita harapkan, mengingatkan akan keindahan dan keunikannya persatuan dan kesatuan. Seperti juga, indah dan uniknya toleransi dan saling menghargai satu sama lain.
Rizali Indrakesuma yang kemarin dapat kesempatan memberi sedikit speech, layaklah sebagai orang paling senior dan mantan pejabat tinggi departemen luar negeri mengatakan, semoga mereka punya waktu untuk latihan. Dan, punya nafas. Amin, amin, kakak-Brother. Semoga segala sesutunya dilancarkanNya.



Karena sejatinya, Chaseiro tetaplah spesial di khasanah musik Indonesia. Konsep pementasan kemarin, semoga juga nanti di konser 28 Oktober, kayaknya menyenangkan dan sudah terbilang sempurna untuk penampilan kembali mereka.
Karena menyajikan sesuatu berbau nostalgia, sejatinya sih susah-susah gampang. Apalagi kalau diberi sisipan misilain, bagaimana penonton muda atawa milenial bisa tergerak untuk ikut menonton.
Teringat konser dari Candra Darusman, mengedepankan hits dari Candra di era 1980-an beberapa waktu lalu. Upayanya bagus. Cuma realisasinya memang, apa ya, gimana deh... Saya menyebutnya, harusnya bisa lebih baik lagi. Lebih baik dalam penyajian selengkapnya sebagai sebuah tontonan. Termasuk dalam pilihan bintang-bintang tamu penyanyinya.
Eh iya, pada Juli mendatang akan ada konser Candra Darusman lagi, yang kali ini diadakan oleh XI Creative. Semoga saja hasil akhirnya lebih baik dari konser lagu-lagu hits-nya kakak Candra di sebelumnya itu. Harus bisa lebih baik dong, kan promotornya lebih profesional dengan jam terbang lumayan, dalam menghasilkan tontonan-tontonan musik terbaik?
Rasanya, hanya waktu jualah yang memisahkan kita. Terima kasih Chaseiro sudah menyamankan hati dan menentramkan jiwa. Panjanglah umurnya. Mana bisa saya, dan istri saya lupakan kakak-kakak Chaseiro lah. Ada sejarah manis tersendiri kami berdua dengan Chaseiro kan... Sejarah apaan? Aduh masak sih harus diceritain lagi?/*


 










Saturday, May 19, 2018

Saya Menonton Jazz Macam-macam di 3 Kota, di 3 Pulau

Erucakra & Planet 9 di Medan Master Jazz


Emerald BEX di Makassar Jazz Reunion

Becca and de de Tuan's di Jazz Republik Kopi, Bondowoso
Memang menyenangkan, bisa berkesempatan mengunjungi beberapa kota lain, di Nusantara ini. Jalan-jalan, menikmati kuliner. Sekaligus, nonton jazz bagus. Ah, nikmat mana lagi yang kau dustakan....
Sungguh menikmati waktu perjalanan yang terasa istimewa. Pada beberapa waktu lalu, saya bisa mengunjungi kota Medan di akhir pekan pertama. Seminggu kemudian mengunjungi kota Makassar. Dan persis seminggu setelah itu, diundang untuk mengunjungi kota Bondowoso.
Di ketiga kota, lain pulau itu, terhidanglah aneka menu jazz yang memiliki kenikmatannya masing-masing. Saya merasakannya, sungguh menikmatinya. Dan menganggap, apa yang saya tonton dan dengar, adalah semacam bebunyian dan tontonan penyegar jiwa. Bikin awet muda?





 
Awet muda, ketika melihat dan menikmati kelompok musik bernama Planet 9.Ini di kota Medan. Kunjungan pertama. Acaranya adalah, Medan Master Jazz. Adalah grup musik Planet 9 yang ditonjolkan secara khusus pada acara yang digelar di JW Marriot ballroom, di tengah kota Medan itu.
Planet 9 adalah eksplorasi dan eksperimentasi bermusik yang baru dari sahabat baik saya, gitaris terkemuka kota Medan, Erucakra Mahameru. Dikarenakan ia memiliki segudang ide bermusik, ia memerlukan kelompok yang berbeda. Tidak dengan grup musik sebelumnya, yang telah lumayan dikenal luas, C-Man.
Apakah ia memang memerlukan sebuah ajang baru lainnya, tak cukup hanya dengan North Sumatra Jazz Festival yang telah digulirkan sejak 2011 itu? Bisa ya, bisa tidak. Pandangan memang bisa berbeda, begitupun halnya pendapat. Tapi terpenting, bagaimanakah Medan Master Jazz kelak akan lebih membuat semacam...men-Jazz-kan Medan dan Sumatera Utara dan me-Medan dan Sumatera Utara-kan jazz. Kira-kira seperti itulah.
Sebagai sahabat baik, saya pastinya mendukung sepenuhnya. Karena saya tahu persis, betapa bergeloranya semangat berkreatifitas dari suami Arsyadona Mahameru dan ayah dari 2 anak ini. Erucakra, memerlukan sarana pelampiasan bermusiknya.



Kalau boleh menitip saran, bagaimana kelak baik NSJF dan MMJ, memiliki karakteristik tersendiri. Masing-masing akan memiliki warna “festival jazz” yang berbeda. Semisal, yang satu nanti “lebih ngejazz”. Yang satunya, mungkin “lebih ngepop”? Kenapa tidak bisa?
Kelak kedua acara itu, akan menjadi agenda tahunan yang menyehatkan, sekaligus memelihara atensi publik Medan dan Sumatera bagian Utara akan musik jazz. Tentu saja,nantinya akan menjadi agenda promosi wisata yang menyegarkan, menjadi alternatif yang unik dan menarik, buat kota Medan. Betul kan?
Karena kalau kedua event, yang bisa dibilang berskala besar dan menasional buat kota Medan itu, ternyata bentuknya dilihat sama saja. Akan datang pertanyaan, mengapa membuang enerji membuat dua acara? Lebih bijaksana, satu tetapi lebih diperkuat, dan akan lebih fokus.
Pada kesempatan pertama, di Kamis 19 April lalu, MMJ menampilkan 3 grup band yang dipilih dari ajang pencarian bakat. Kali ini menitik beratkan pada anak-anak muda, yang memberanikan diri mengemas aransemen musik jazz. Dan tiga terbaiknya, menjadi grup pembuka Medan Master Jazz pertama.
Kemudian penonton, yang memenuhi areal sejuk ballroom hotel terkemuka di Medan itu, disuguhi penampilan dari The Proessor USU Band. Para profesor dari Universtas Sumatera Utara, yang suka musik dan masih punya waktu untuk menyalurkan hobi bermusiknya.
Barulah kemudian Erucakra Mahameru & Planet 9. Erucakra mengajak para musisi muda seperti Dolly Lasido (drummer), Irvan Alamsyah (trumpetis). Kemudian ada Israq Gunawan (bassist), Mikha Siburian (kibordis). Lalu Ari Ridwan (perkusionis, beatbox) dan vokalis cewek, Mimi Lonika.. Erucakra tetap bermain gitar dan menjadi vokalis.










Setelah dihibur dengan penampilan apik Erucakra dan Planet 9, artinya grup ini punya prospek bagus lho, penonton disuguhi solo performance dari penyanyi legendaris, Daniel Sahuleka.
Solo beneran, tulen! Hanya bergitar dan dilengkapi perangkat sequencer. Ia tampil membawakan sekitar  lagu. Tetapi penonton memang menanti-nanti dengan amat sangat, ‘You Make My World So Colorful dan tentunya, ‘Dont Sleep Away This Night’ 2 lagu yang menjulangkan namanya di era 190-AN. Dan nyatanya tetap membekas hingga kini.
Setelah Daniel Sahuleka mencoba menaklukkan penonton dengan suara dan gitar tunggalnya, MMJ ditutup penampilan Sandhy Sondoro. Sandhy yang sukses di Jerman itu, menjadi sebuah penutup yang pas. Segar, menghibur dengan nyaris sempurna, menyenangkan semua hati penonton. Tak pelak lagi, Sandhy memang “memenuhi kewajiban” yang diembannya, menjadi penutup mini-festival Medan Master Jazz dengan “baik dan benar”.
Meninggalkan Medan. Pada Jumat malam 27 April, giliran kota Ujung Pandang. Kota yang kini kembali ke nama asalnya, Makassar itu ada sahabat baik saya juga. Penggila jazz yang juga praktisi pertambangan terkemuka, Hendra Sinadia. Ia berinisiatif meramaikan suasana jazz Makassar dengan acara Makassar Jazz ReunionAcara tersebut digelar di Liquid Cafe, Hotel Clarion. Ini clubs lumayan besar dan mewah sebenarnya....




Penonton juga lumayan jumlahnya. Sebagian ternyata adalah tamu-tamu reuni Universitas Hasanudin Makassar, yang kebetulan sedang berkumpul di acara kampus almamaternya.
Dengan dibuka penampilan beberapa grup band jazzy lokal, Makassar Jazz Reunion ditutup penampilan dua grup utama. Yang pertama, Phinisi Band. Ini grup fusion terkemuka Makassar, yang sudah dikenal sejak era awal 2000-an, bahkan pernah sempat tampil di Java Jazz Festival segala.
Grup ini memang sebuah jazzy-entertainer band yang lumayan baik. Mereka juga berkolaborasi dengan vokalis jazzy dan pengajar vokal asal ibukota, Restu Fortuna namanya. Restu lebih menghangatkan suasana lagi malam itu, dengan lagu-lagu jazzy dari Al Jarreau misalnya, selain membawakan hits dari Dian Pratama Poetra sampai mendiang, Utha Likumahuwa.
Hendra bersama tim penyelenggara, nampaknya pas juga "menyasar" kalangan penonton kali ini. Soalnya terbukti, penonton terlihat antusias menyambut lagu-lagu yang dibawakan Restu Fortuna dan Phinisi Band. Sing along, itu so pasti....




Dan sebagai hidangan paling utama, kelihatannya paling ditunggu-tunggu penonton di malam itu adalah penampilan dari Emerald-BEX. Tetap dengan formasi yang bertahan dan kian solid dimana ada Morgan Sigarlaki (gitaris), Roedyanto Wasito (bassist), Iwang Noorsaid (kibordis) serta “adik mereka, Yandi Andaputra (drummer).
Kali ini, secara khusus mereka mengajak penyanyi belia rupawan, Chintana Jo. Yoi, Chinta adalah putri sulung dari mendiang Ricky Jo  Dimana seperti diketahui kan, Ricky Johannes adalah vokalis pertama Emerald (sebelum kemudian mereka bereuni dan memakai nama Emerald-BEX).
Ada suasana "baru", pada saat mereka ditemani Chintana. Dua nama muda, Chinta dan drummer Yandi Andaputra, membuat musik mereka lebih terkesan modern. Harusnya, lewat figur-figur yang "milenial" begitu, musik Emerald-BEX jadinya lebih terkesan kekinian.
Oh ya, Emerald-BEX juga menyelipkan penampilan kibordis muda rupawan lainnya. Secara umur, juga terhitung "lebih segar". Saskia Ong namanya. Saskia berduet dengan Chintana, untuk 1 lagu, sebuah ballad manis, 'Satu Lagi'
Sementara secara keseluruhan, Emerald BEX harus diakui, salah satu grup fusion tahun 80-an yang tetap eksis. Musik mereka selintas, lebih "easy going", relatif lebih light. Etapi, bukan berarti poppish. Ga kesitu arahnya. Lebih tepatnya, lebih nyaman dan nyenengin untuk disimak dan dinikmati. You know what I mean....
Ga banyak rasanya grup musik fusion, yang memainkan musik seperti mereka. Apalagi kalau ngomongin mereka secara grup yang sudah beredar sejak 30-an tahun silam. Dimana enerji mereka terasa tak menyurut, semangat masih menyala.
Kalau saya yang menilai Emerald BEX, ya secara menonton, berteman bahkan jalan tour kemana-mana, sudah saya alami dan lakukan dengan mereka sejak 30-an tahun silam. Lebih objektif dong harusnya. Lebih bisa dipercaya? Hehehe. Yang pasti, mereka musisi bagus dan baik hati....






Lalu ketika melihat Chinta tampil, apalagi dengan  lagu yang semuanya adalah lagu karya Emerald (BEX) yang dinyanyikan dan dipopulerkan mendiang ayahnya, saya yang menontonnya terharu.
Teringat, semasa hidupnya dulu, beberapa kali Ricky Jo bercerita mengenai putri sulungnya yang mulai menyanyi. Sebagai ayah, ia seolah mencoba bersikap biasa dan tidak berharap lebih. Namun begitu, ia sulit membunyikan rasa bangga dan gembiranya, anaknya mengikuti jejaknya. Walau ia juga menyiratkan, ia tak memaksa sang putri harus menjadi penyanyi seperti dirinya.
Well, bro RJ, Chintana menyanyi untuk penonton dan untuk dirimu. Rasanya dirimu bro, menonton dan tersenyum bangga. Bangga karena anakmu “beneran” mengikuti jejak ayahnya, menyanyikan lagu-lagumu pula. Bersama grup band yang dirimu juga sukai banget dan banggain!
Selepas acara Makassar Jazz Reunion, Hendra Sinadia kepada Restu Fortuna dan saya mengatakan keinginannya untuk melanjutkan kiprah jazznya lagi di Makassar. Kamipun bersepakat, mencoba mewujudkan rencana sebuah event skala festival lainnya, di sekitar bulan September 2018 nanti. Dan, silahkan menunggu dengan sabar ya....
Skalanya agak lebih besar. Dimana ide dari Hendra adalah, outdoor, mengambil tempat yang lebih eksotis. Kalau memungkinkan, di salah satu heritage kota Makassar. Wah, hayoooolah. Mohon didoakan saja ya, teman-teman....



Dan kemudian ke Bondowoso. Dengan pesawat berbadan lebar Boeing 737-300 saya menuju kota Surabaya di pagi hari. Transit di Surabaya, untuk melanjutkan perjalanan ke kota Jember dengan pesawat kecil, berbaling-baling jenis ATR 72-600. Hanyalah 40 menit dari Surabaya ke Jember.
Dari Jember saya, yang berangkat dalam rombongan rame-rame bersama para musisi dan penyanyi pengisi acara, dijemput oleh penyelenggara. Maka kamipun ke Bondowoso, melalui jelan darat dengan waktu tempuh sekitar 1 jam lebih sedikit.
Menariknya, ternyata perhelatan bertajuk Jazz Republik Kopi di kota Bondowoso tersebut, diadakan sendiri oleh Bank Jatim. Tanpa menggunakan tenaga event organizer profesional, Bank Jatim sendiri juga yang menjadi pelaksana. Mengerahkan tak kurang dari 70-an karyawannya.
Nah perihal saya bisa terlibat di ajang di Bondowoso tersebut, ini karena jasa baik sahabat saya, Ryan Luqman. Lewat Ryan lah, salah satu anggota tim dari Bank Jatim diperkenalkan kepada saya. Keinginannya, minta bantuan mengusulkan lalu “mendatangkan” pengisi acara utama dari festival tersebut.
Acara Jazz Republik Kopi (JRK) itu sudah diadakan, sebagai agenda tetap tahunan, sejak 2016. Maka dalam waktu hanyalah sekitar 1 bulan saja, acara itu dipersiapkan. Saya dan Reza, yang menjadi talent coordinator acara tersebut dan tentu saja ia adalah pegawai Bank Jatim, berdiskusi intens untuk “menjaring” talent yang sesuai sebagai pengisi acara.
Sempat disebut, bahkan dikontak juga,tak kurang dari 15-an nama. Akhirnya deal dengan pilihan Rebecca Reijman. Kebetulan,Rebecca tengah menyiapkan konsep single terbaru, bersama band tetapnya. Grup bandnya bernama Becca and de Tuan’s. Berisikan para musisi muda. Bertalentalah.







Belakangan lantas disertakan pula nama Abdul & the Coffee Theory. Sesuai dong dengan nama acaranya kan? Pengisi acara mini-festival itu, ditambah grup band lokal, 360 Band, sebagai band pembuka. Dengan host atau master of ceremony, didatangkan pula dari ibukota, Danny. Danny dipasangkan dengan host setempat, Bagong.
Panggung ditempatkan di areal pusat kota, tepatnya di ujung jalan Letnan Karsono. Persis di depan Bank Jatim perwakilan Bondowoso. Areal festival itu diramaikan deretan tenda-tenda untuk pameran, yang sebagian besar menyajikan produk khas Bondowoso. Dan tentu saja, terutama produk kopinya.
Adalah Bupati Bondowoso saat ini, yang kini di tahun terakhir periode kedua memimpin Bondowoso, Drs. H. Amin Said Husni, yang memotori Bondowoso sebagai kota penghasil kopi. Bahkan kabarnya, saat ini menjadi salah satu sentra penghasil kopi bermutu terbaik Nusantara.



Sang bupati juga yang menyukai jazz dan menginginkan Bondowoso bisa memiliki satu acara jazz, berformat festival. Keinginan sang bupati itulah yang lalu diwujudkan oleh Bank Jatim.
Bersyukurlah udara relatif cerah, maka acara festival kecil tersebut berlangsung tanpa hambatan berarti. Becca and de Tuan’s yang terdiri dari Elfir Safir (gitaris), Arif Julyandra (bassist), DovibisabunyiMartindas (flutist, saxophonist). Kemudian drummer, Tommy Vernando, serta juga DonyDon JoeJoesran (kibordist).menjadi bintang utama yang hadir pertama.
Mereka memainkan pula single terbaru mereka, ‘Lov3’. Ada 8 lagu yang mereka mainkan, rata-rata adalah karya sendiri. Musiknya memang lebih terkesan jazzy, easy listening, cozy. Enak-enak empuk, segerlah. Musiknya santai gitu suasananya, tapi memang terasa Rebecca kini mengarahkan diri lebih cenderung ke bentuk jazz/jazzy.
Saya menyebutnya, warna musik yang modern, fresh, energic and jazz! Saya kemudian lebih suka mengatakan, well good and fresh music from nice musicians. Ya musicians also their vocalist, ofcourse dong ah.
Setelah Becca and her best-friends of music itu, ada acara talkshow dimana kedua host mengajak bupati, Amin Said Husni dan Rebecca Reijman berbincang-bincang sejenak. Terutama memperbicangkan soal kopi, potensi kopi Bondowoso di industri nasional. Bahkan di dunia internasional.
Sempat diselipkan duo dadakan, duet spontanitas antara Rebecca Reijman dan Amin Said Husni. Mereka berdua menyanyikan, standard ‘My Way’, yang kabarnya adalah lagu jazz favorit sang bupati.



Penutup adalah tentunya, penampilan Abdul & the Coffee Theory. Grup ini mengetengahkan penyanyi, yang juga penulis lagu dan produser, Tengku Muhamad Abdulah Amin Ashari. Ia didukung grup bandnya, yang ada 2 musisi yang saya kenal baik. Dezca Anugerah Samudra (drummer) dan Andre KussoyCoople” (bassist).
Ribuan penonton yang berbondong-bondong menyaksikan acara, kelihatannya lumayan terhibur. Sebagian besar bertahan hingga jelang acara ini berakhir, saat jarum jam menunjukkan hampir 23.30 waktu Bondowoso.
Selain Bapak Bupati, yang lalu digelari pula sebagai “Presiden Republik Kopi” itu, ikut menyaksikan seluruh Forum Pimpinan Daerah se-Bondowoso sebagai tamu undangan utama. Ikut hadir pula, Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Syamsul Widodo.
Jadi begitulah rangkaian perjalanan saya di tiga akhir pekan, secara beruntun, di April sampai Mei 2018 silam. Semuanya menarik, dengan ceritanya masing-masing. Karena kan, tim penyelenggaranya juga berbeda-beda. Dengan karakter khas masing-masing pula. Dan konsep dasarnya juga berbeda-beda sih.
Bahwasanya jazz bisa berbunyi dipelbagai daerah, itu tetap menjadi satu titik unik dan menarik. Walaupun, memang kemudian waktu juga yang kelak membuktikan, akankah agenda-agenda tetap tahunan itu bisa bertahan panjang. Alias, seberapa banyak “simpanan” stamina mereka. Stamina, atau “semangat”?
Semangat memang menentukan. Dan lagi-lagi saya memang menemui, pilihan pada jazz itu ya tetap saja istimewa. Tidak terlalu jelas betul sebenarnya, apakah publik di kota tersebut, memang banyak yang menyukai jazz?
Dan, ini nih yang penting, apakah penyelenggara ataupun pelaksana acara-acara berbentuk “festival jazz” itu memang memahami dan mengerti akan jazz? Ah, ini mah topik yang susah untuk “selesai” diperbincangkan. Diskusinya ga kelar-kelar....
Sudah beberapa kali saya tuliskan. Dan tetap terus menggelitik saya, untuk lagi dan lagi menuliskannya.... Ya tak lebih dari sekedar untuk menyolek, mengingatkan. Segitu dulu deh. Agar kelak di kemudian hari, memang akan dapat tersaji hidangan-hidangan jazz, yang bertolak dari pemahaman dan wawasan terhadap jazz yang....yah sebut saja, “mendekati sempurna”lah.
Kesempurnaan itu, meskipun sampai taraf “mendekati”, secara keseluruhan. Bagiamana pilihan pengisi acaranya, bagaimana sebetulnya tema acara yang disepakati sebagai konsepnya. Tak kalah penting, bagaimana menyajikannya. Ya iya dong, soal tata cahaya dan tata suara itu penting, yang berkaitan dengan cara menghidankannya ke publik. Eits, janganlah dilupain dong!
Selalu saja menarik, bisa berjalan-jalan dan apalagi dengan sekalian menonton jazz. Kan kalau untuk saya, menonton, berarti juga mendengarkan. Ditambah, bisa memotret! Menyenangkan dan menyegarkan jiwa lhoooo. Eh memangnya beneran, bikin awet muda?






Jazz memang selalu menyegarkan dan menyenangkan hati. Walau saya juga sejatinya, bisa menikmati pula tontonan musik lainnya. Rock lah misalnya. Cuma kan masalahnya, tergantung nih ada undangannya atau tidak? Hahahaha..... Ujung-ujungnya undangan ya?
Sampai bertemu lagi, di acara-acara musik berikutnya. Tentunya, dengan cerita-cerita saya yang lainnya.
Well folks, Jazz as Always.... /*