Showing posts with label Lain-lain. Show all posts
Showing posts with label Lain-lain. Show all posts
Sunday, February 7, 2016
Hallloooo..... lahoooooO
Hallloooo..... Lahooooo....
Balik nge-BLOG lagi deh.
Dasarnya kan jelas, Ga Ada Akar ya Rotanpun Jadi.
Daripada daripada, kan Mendingan mendingan.
Kayak begiulah ceritanya. Karena tak kunjung jua "datang" website yang dijanjikeun, dengan permasalahan ribet di seputarannya. Gw pilih untuk ok ya wis, lupain. Ga usah repot-repotlah. Ga akan ada juntrungannya. Ujungnya bisa-bisa tak menentu.
Gw selalu inget kok, ketika kita berbuat baik. Ya memang sudah "tugas dari sono". Berbuat baik aja. Ga usah pikirin. Juga sama sekali bukan supaya dicatet dan diinget-inget orang lain. Berbuat baik selalu, dimanapun, tanpa pedulikan orang sadari, ketahui dan rasakan. Caepk kagak, kalau ga dianggep baik?
Yang nyatet "orang lain" ajalah. Yang jauh-jauh lebih penting dan berharga. Daripada bersikeras, nujukkin kebaikan-kebaikan, tar-tarnya juga mutung lagi, ga ngerti juga.
Ini enaknya nge-blog. Bisa ngomong apapun dan gimanapun. Rumah ya rumah gw sendiri, gw mau ngapain juga terseraaaaaaaahhh! Ha ha ha ha ha ha.
Yiuks ah, ngopi-ngopi. Beli pisang goreng. Nikmatin sambil "ngalor-ngidul" begini di dunia maya, atau di blog.
Salam Perdamaian, saudara-saudara!
Saturday, February 6, 2016
Testimonial from Best Friends
Thanks for this all-Comments and
Advice, from My Best-Friends!
Well,
silahkan ikuti di bawah ini,beberapa komen atawa testimonial, yang ada juga
saran-saran. Datang dari temen-temen baik saya, temen-temen lama. Teman-teman
yang punya aktifitas masing-masing yang terus dijalani dengan penuh semangat.
Trims,
mereka punya waktu untuk sedikit memberikan pendapat terhadap program video
interview saya, DIONMOMONGANShow.
Saya
kumpulin saja dalam satu posting ini. Sebenarnya sih, paling ideal, kalau saja
ada website saya tersendiri. Quotes or Comments ini, saya upload satu demi satu
ya. Cuma kan, persoalannya sekarang,
website tersebut belum juga muncul-muncul. Tunggu punya tunggu, tak ada
kelanjutannya.
Gimana
dong jadinya? Saya pikir-pikir, ya daripada daripada kan
mendingan-mendingan....
Tak
mengapalah. Maka, kan katanya, “Tak ada akar, rotanpun berguna”. Jadi beginilah
jadinya.....
Terima
kasih banyak juga untuk perhatiannya!
Yang Terus Bergerak....
Memahami betapa pentingnya teman adalah sangat mudah.
Mengenal Dion dari seorang teman, merupakan salah satu simpul penting bagi
kehidupan saya. Ketika itu di penghujung tahun 2005, dan Jakarta World Music
Festival menjadi salah satu momen awal bagi kami untuk saling mengenal.
Darinya, saya banyak belajar mengenai industri musik dan pertunjukan, secara
teknis maupun non teknis.
Sebagai seorang guru, dia selalu memiliki cara unik untuk mencerahkan. Sebagai seorang teman, dia juga selalu meluangkan waktu bagi yang membutuhkan bantuannya. Karakteristik yang lentur dan multi talenta adalah konsep unik yang saya adopsi dan tanamkan dalam etos kerja sehari-hari. Tidak sedikit pertunjukan yang sudah kami lewati, sudah banyak pertemuan yang kami hadiri, dan tidak terhitung juga konsep demi konsep yang kami selami bersama.
Terus bergerak, adalah salah satu karakter yang saya pelajari dari kesehariannya. Karena itulah inti dari kehidupan, untuk tetap menjaga keseimbangan dengan terus bergerak. Terus berkembang merupakan sifat lain yang saya adopsi, banyak impian yang akan tercapai hanya jika kita mengembangkan diri. Dan masih banyak lagi hal penting, yang saya ketahui berkat dia.
Hingga suatu hari saya menyaksikan Dion Momongan Show, dengan kagum saya menyimpulkan ini adalah bagian proses pengembangan dirinya. Tampaknya seluruh media yang ada sudah menjadi bagian dari rekam jejaknya. Dari program pertunjukan, cetak (majalah), radio, dan talkshow ini, mungkin di masa mendatang dia akan berkembang lagi menyesuaikan kemajuan teknologi yang ada. Mungkin bisa jadi media berbasis aplikasi, hanya dialah yang tahu.
Dion Momongan Show,
Suka tidak suka, setiap orang memiliki kisah lama dan latar yang berbeda, namun tak luput dari hak untuk berubah dan memilih jalan hidup masing-masing.
Menyaksikan Dion Momongan Show mengingatkan akan fakta bahwa momentum penting dalam kehidupan seseorang seringkali menimbulkan argumentasi bagi pihak yang bisa menerima maupun sebaliknya. Namun di satu sisi itulah indahnya perbedaan dalam berpendapat. Mengetahui kisah para tamu acaranya menjadi suatu pengalaman inspiratif bagaimana mereka melewati masa-masa itu.
Jika menarik bersifat relatif, menyenangkan adalah sebuah opini untuk program ini. Karena setiap episodenya dikupas secara personal dan mendalam, namun tetap dikemas ringan dan santai. Banyak impian dan harapan yang terungkap di balik setiap kejadian. Tapi satu hal yang pasti, kita membutuhkan lebih banyak lagi program talkshow seperti ini.
*Riva Pratama
Edukatif,
Informatif yang gak pernah ada....
DIONMOMONGANShow
@ iCanStudioLive menurut ue adalah suatu program talkshow berbeda. Terasa
edukatif, informatif, yang gak pernah ada yang kayak gini selama ini.
Membahas
serius tapi santai soal musik, dan apa saja sehingga kita jadi lebih tahu
perjalanan bermusik seseorang.
Saling
menyambung pada masanya, membuat kita jadi bisa nyengir sendiri.
Sukses
terus!
*Kadri Mohamad
Bro Dion Momongan di
Mata Saya
Sepanjang karir
jurnalistik saya, yang bermula di awal 90-an,
saya mengenal Gideon Momongan atau biasa saya panggil dengan Bro
Dion. Kami kerap bertemu di lapangan,
dalam berbagai liputan pertunjukan
musik. Saat itu, saya hanya reporter baru di Majalah Vista,
sementara ia sudah ternama sebagai
fotografer dari Majalah Pertiwi.
Perjalanan nasib
kemudian membawa saya bergabung satu atap dengan Bro Dion dalam majalah
NewsMusik yang dikomando Mas Bens Leo (1999-2004). Saat itu, saya menemukan
kepandaian Bro Dion makin berkembang. Ia ternyata telah melebarkan sayap juga
menjadi penulis musik.
Di luar itu, dengan
gerakan “gerilya”, Bro Dion juga mulai
dikenal menjadi kreator panggung untuk sejumlah panggung jazz, antara lain untuk dua nama musisi yang sangat dekat
dengannya : Budjana dan Bintang
Indrianto. Ia saya lihat membuat konsep
---meski untuk skala penonton ratusan orang--- yang dikemas dengan cara “berbeda”.
Ia juga ikut menemukan sponsor bahkan menyutradarai panggungnya.
Sebagai penulis (dan juga tetap) fotografer, hubungan
perkawanannya dengan banyak musisi Indonesia baik dari genre pop, jazz, rock,
reggae (minus dangdut) era 1970 – 2000 terjalin bagus. Ia bisa menjaga jarak, saat berperan sebagai
teman, namun tetap kritis sebagai jurnalis.
Memiliki kedekatan
pertemanan dengan banyak nama tenar, membuat Bro Dion sebetulnya sangat banyak
tahu kehidupan pribadi orang-orang di likungannya, termasuk segala rahasia
kehidupan pribadi mereka yang tersembunyi dari incaran pers.
Namun, meski memiliki
pengetahuan lengkap dan akurat, Bro Dion
tidak pernah terseret arus masuk ke
arena penulisan gosip dan menyebarkan data yang diketahuinya. Padahal, era
tulisan gosip sudah marak sebelum tahun 2000
di mulai.
Pandai menjaga diri dan tak pandai bergosip untuk
dipublikasikan ini pula yang membuat hubungannya dengan banyak musisi terhitung
langgeng. Seingat saya, tak ada aib pribadi orang tenar yang dikenalnya secara
terang-terangan ditebarnya dalam tulisan.
Bro Dion yang hari ini saya kenal, telah
berkembang lebih pesat. Ia terus menulis, dengan pola tulisan
berbuih-buih dan panjang. Ia juga “cerewet” di twitter.
Via twiiter pula,
pendukung fanatik Jokowi ini, banyak
menyuarakan kritik pribadi pada lembaga
pemerintah maupun perorangan. Twet itu dikemas dengan bahasa bersayap, yang
buat orang lain mungkin masih menerka-nerka arah tujuannya, namun buat saya
sangat terang dan terbaca.
Bro
Dion juga masih tetap memotret dengan konsep foto yang bercerita. Ia juga terus menjadi kreator di balik beberapa
panggung pertunjukan musik.
Yang menarik, di tengah masa ini, ia sempat menjadi penyiar radio Lite FM untuk
sebuah program talk show.Kini,Bro Dion malah berkembang memiliki program
televisi yang ditayangkan via YouTube.
Well, hidup memang
terus berputar dan berkembang, Bro
Dion menjalaninya dengan sempurna,
lengkap dengan jatuh bangunnya. Salut
Bro...! Di tunggu langkah langkah
cemerlang selanjutnya.
*Nini Sunny
Chemistry-nya
terbangun dengan baik
Menonton Dion Momongan Show itu seperti sedang
bercengkerama dengan kawan dekat. Hangat, karib, tanpa jarak, mengalir. Kita
bak merasa sedang berada di ruangan yang sama dengan Dion dengan para
narasumbernya.
Menonton Dion Momongan Show tidak seperti menonton talk
show di televisi nasional yang kerap kali skenarionya amat terasa diatur
ketat yang berujung pada kesan kaku—bahkan ketawa sang pembawa acara bersama
audiensnya pun kadang terasa kurang ikhlas.
Kian menarik adalah ketika pilihan para nara sumbernya
yang bisa dibilang relatif “murtad” terhadap selera mainstream.
Sepertinya Dion memang sengaja memilih orang-orang yang diwawancarainya adalah
sohib-sohibnya sendiri. Ini justru permulaan yang bagus sebab chemistry-nya
terbangun dengan baik. Pembicaraan jadi berlangsung dinamis dan lepas, layaknya
sahabat satu ngobrol dengan sahabat lainnya. Kita, penonton, bagai dituntun
dengan baik, tanpa paksaan, dalam mengenal sosok the singing lawyer macam
Kadri, misalnya. Siapa sih Kadri? Kok dia penting diketahui keberadaannya? …Oh,
oke oke, setuju, setuju.
Bonus lain: estetika videografi juga terjaga.
Pengambilan gambar serta hasilnya tersimak tetap artistik.
Walau begitu, ada satu masukan yang saya pikir
penting: suara para narasumber yang di beberapa kesempatan kurang terdengar
jelas. Barangkali perlu dicantolin corong suara khusus bagi masing-masing
narasumbe agar kedekatan kian ramah terbangun.
Salut yang tinggi. Mari bersulang!
*Rudolf Dethu
Ini semua adalah sumber 'archive' database yang
sangat berharga ...
Talkshow seperti bang Dion ini harus ada. Udah kelamaan nunggu sih
sebetulnya. Setelah 17 tahun lebih gw tinggal di Indonesia & berharap,
tetap aja liputan yang beneran informatif & mendalam dari pelaku industri
musik jarang ada. Nggak ada media yang jelas konsisten menyajikan itu. Kalo pun
ada di majalah tertentu tetap aja masih terbatas. Itu pun gw lebih sering nggak
puas dengan apa yang disajikan.
Pada umumnya gw merasa konten media hiburan di sini terlalu dangkal.
Mau itu karena masyarakat Indonesia kononnya memang dangkal, cuma suka yang
ringan ringan aja dan males membaca atau memang para pelaku media juga kurang
berbobot. Ini bisa diperdebatkan tapi yang lebih dibutuhkan adalah solusi
solusi nya.
Soalnya pangsa pasar itu nggak bisa juga di sama ratakan dan terlalu
disederhanakan. Pun orang kita emang rata ratanya pada males membaca dan nggak
tertarik dengan yang mendalam, lha lalu bagaimana dengan mereka yang suka
membaca atau butuh informasi yang lebih mendalam? Bagaimana dengan mereka yang
butuh konten yang lebih berkualitas?
Harus diingat bahwa dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta orang,
jumlah minoritas yang hanya sekedar 1% itu tetap 2,5 juta orang loh.. Bukan
sedikit. Ini penyakit paling besar di Indonesia dalam bisnis apapun, termasuk
di dalamnya adalah, musik. Kebutuhan niche
market (ceruk pangsa pasar) nggak digubris dan kurang dipedulikan oleh pelaku
bisnis padahal niche market itu sebetulnya sangat signifikan. Rock dan metal
adalah salah satu contoh dimana para musisi & komunitas akhirnya mengambil
tindakan sendiri dan menggerakkan motor industri musik ini secara independant.
Faktanya adalah ternyata banyak sekali yang sangat suka dengan musik
keras ini yang di mata industri mainstream
konon nggak jelas pangsa pasarnya, sulit ditembus atau kecil. Itu adalah alasan
yang mereka sering argumentasikan ke gw sedangkan mereka sendiri nggak pernah
benar benar mencoba. Sekiranya pun mencoba terlalu banyak yang diutak atik
sehingga produknya bukan lagi untuk niche market yang dituju melainkan tetap
dipaksakan ke masyarakat awam mayoritas. Alhasil hampir semuanya gagal. Mereka
bahkan nggak pernah melakukan market
research untuk mendukung klaim mereka tsb dan ironisnya lebih sering juga
gagal di pangsa pasar awam, tapi berani mengatas namakan selera semua orang.
Sebuah 'business opportunity
& creative loss" yang luar biasa besarnya mengingat sekiranya
hanya 1 juta orang saja yang suka itu kan tetap mewakili daya beli pasar yang
tidak kecil. Belum lagi musisi/anak band yang potensi nya nggak tersalurkan
gara gara paradigma konyol tsb. Di media hiburan juga begini. Kalo katalisator
nya nggak berfungsi, gimana kita mau maju?
Nah informasi, pengalaman, sejarah, penjelasan, cara pandang, ide ide
beserta kisah kisah yang mendalam dari para narasumber pelaku musik, punya
peran yang sangat besar dalam perkembangan industri, kualitas musisi, kualitas
hasil kreatif maupun arah industri itu sendiri. Di luar negeri banyak musisi,
penulis lagu, produser dll yang
akhirnya berhasil bahkan menjadi inovator di industri itu berangkatnya bukan
hanya dari mendengar dan mengulik musik yang jadi inspirasi mereka, tapi juga
dari membaca dan mengerti cara fikir, pengalaman maupun sejarah idola idola mereka.
Menjadi bagian kritis yang membentuk perkembangan mereka. Dari situ
lah mereka berdiri dan akhirnya bisa menghasilkan karya karya keren bahkan yang
brilian dan bisa merubah industri. Bukan dari gosip di infotainmen atau cerita
dangkal seupil yang ada di media media sini. Namun siapa yang mau menjadi
bagian dari solusi ini? Disini lah peran seorang bang Dion en team nya iCan
Studio Live sangat dibutuhkan. Mirip seperti di skena metal, ketika media
mainstream nggak menanggapi kebutuhan tsb, talkshow bang Dion Momongan hadir
untuk mengisi kekosongan ini.
Sekiranya orang kita memang males membaca ya mereka tinggal nonton
aja. Nggak ribet dan berat kan. Media informatif seperti ini bisa ditonton siapa saja yang tertarik
dengan format tanya jawab dan ngobrol yang nyantai dan lepas. Nara sumbernya
pun dari berbagai lapisan pelaku industri yang dipandu Bang Dion dengan asik
sambil memancing pembicaraan yang mendalam dan padat.
Tapi bagi mereka yang punya kepentingan, misalnya musisi pemula atau
yang sedang merintis karir, pelajaran, informasi atau inspirasi yang mereka
dapatkan pastinya sangat berharga dan membantu. Mereka belum tentu bisa ketemu
langsung dengan para nara sumber yang tampil.
Dari membaca belum tentu semua yang diucapkan akan ditulis dan
diterbitkan. Suasana nyantai nya pun membuat mereka bisa bicara apa adanya.
Lebih candid dan jujur. Kadang dengan
cerita dan informasi yang belum diketahui publik sebelumnya. Ini semua adalah
sumber 'archive' database yang sangat berharga apalagi dari sisi sejarah musik yang
nggak tertulis. Ditengah kondisi Indonesia seperti ini talkshow seperti bang
Dion harus didukung terus supaya bisa berkembang.
*Ezra Simanjuntak
Tuesday, June 17, 2008
Terima Kasih......
Berjuang itu, bisa berbagai macam. Baik tempatnya, bagaimananya, caranya....
Dan berjuang bisa juga malah jauh dari rumah. Dan bisa berarti kita berangkat berjuang sendirian, berdua, serombongan, se-tim kecil. Lalu?
Yang pasti setelah menjalani serangkaian persiapan, dalam kurun waktu setidaknya 6-7 bulan lamanya. Tentu saja seperti menuju Bandung, tapi memilih lewat Puncak. Penuh kelok-kelokan, sesekali jalan lurus, tapi naik turun. Capek, tinggal minggir makan di restoran, makan di warung. Sekedar pilih nyeruput kopi, makan jagung bakar. Jalan lagi, dan "ajojing" kekiri-kenan lagi....Terus deh, yang penting sampai....Bandung.
Memang seperti itulah yang terjadi. Tapi teramat sangat biasa bagi kehidupan ini, bukan? Amat sangat jarang, semua mulus, licin, mengkilap. Jalan, terus, lurus dan....sukses!
Maunya sih gitu, mauku juga tentu saja. Tapi yang pasti kita kudu membekali diri dulu dengan Positive-Feelings dan...keyakinan. Sabar juga? Buatku, sabar tiada bataslah. Itu mah standar.
Sabar...positif feelings...yakin. Dan kalau harus masuk jalan off-road gitu, berbecek-becek, bergelombang besar biar kata pake ban pacul sekalipun. Ah jalanin saja.
Soalnya gini, pikir punya pikir, siapa seh yang nge-set, tiba-tiba kita bisa di sini. Kenapa kita bisa dapatkan ini. Kenapa kita terpilih dan memilih ini dan itu. Semuanya sudah ada yang mengatur kan....Dan tentu saja, mengatur dengan baik. Terbaik malah buat kita!
Memang pada mulanya aku iseng saja, minta nih..."Aku melamar ya, jadi apa kek. Pokoknya aku bantuin. Aku bisa di show director. Aku coba bantuin juga di Talent Coordination. Aku bisa juga bantuin dimana kek, promosi..." Itu ucapanku waktu habisnya acara di tahun kemarin.
Dan semua teman-teman mengangguk setuju, tertawa lebar. Boleh-boleh, ucap mereka semua. Menyambut baik. Tambahku, kalau perlu aku kasih CV deh sekalian.... Mereka tertawa lebih lebar lagi, Huahahahaha.... Saling menepuk bahu. Lalu jabat tangan.
Pulang ke Jakarta, balik ke rumah!
Dan ternyata aku dalam perjalanan dapat menghimpun tim, "kecil" dulu. Lalu bertambah satu, bertambah eh aku ajak lagi satu. Begitulah. Yang satu mengajak yang satu, dua. Tim makin lengkap. Malah "mengincar", bantu pada Marcomm sepenuhnya, bantu pada sponsorship sepenuhnya. Teman-teman di sana, tersenyum. Ok2. Tapi ini apanya yang dijual?
Lebih bagus Green-nya yang dijual. Bukan hanya jazz! Jazz gimana sih, masak Pekanbaru ada Jazz-Jazzan segala..... Orang-orang di Jakarta mah gak bakalan ada yang nyambut. Halah!
Yayayaya, singkat cerita. 4 Juni aku berdua, menanti pesawat yang akan menerbangkanku dengan temanku ke Pekanbaru. Perjalanan sekian waktu akhirnya akan sampai pada ujung terakhir, ya apalagi kalau bukan pelaksanaan acara?
Aku waktu itu berpikir, ya beginilah hidup, beginilah dunia. Mencoba meraih semua, tapi kita tentu punya tketerbatasan. Misal pada pengendalian emosi. Alhasil, semua memang sudah berlalu. Yang pasti, aku tinggallah berdua. Ngapain kita di sana, tanya temanku?
Aku hanya senyum, kita lihat saja ya nanti...Tergantung merekalah, mau minta kita ngapain? Ada gak yang kita kerjain, tanya temanku lagi. Aku masih senyum....Well, aku masih nyaman dengan pertanyaan temanku yang ini. Masih teringat, ada temanku yang satu, memilih solidaritas. Melihat persoalan dengan sudut pandangnya sendiri. Dan menyatakan walk-out, dan aku terhenyak saja. Sama terhenyaknya dengan teman lain, aku hanya melihat kamu saja nih. Dan alhasil?
Sudahlah, itu sangat biasa. Namanya juga manusia. Aku berusaha mengerti, bahwa "You can't always get what you want"...seperti kata Jagger kan? Tapi toh, aku juga tidaklah berarti langsung mati, tanpa mereka? Seperti juga mereka, tanpa aku, apa langsung berarti mati? Ya gak lah....!!!
Peace, Love and Respect sajalah! That's what Friends are For. Kata temen dulu ya, itu artinya, Itulah gunanya berteman berempat. Halah!
Tapi sampailah di Pekanbaru. Hari pertama kita sibuk saja cari teman-teman "penyelenggara". Lucu memang, aku malah seperti harus "meminta-minta" kerjaan! Hahahahaha. Padahal aku udah ada di sana tuh.... Eh ini beneran. Asli!
Nggak tahu juga, tapi aku pikir memang ini lucu ya. Bagaimana mungkin sebuah acara relatif besar begitu, yang handle hanya "secuil" orang. Keputusan juga boleh dibilang dipegang hanya pada 1 orang, mana lagi 1 orang ini sulitnya minta ampun untuk dikontak sebelum ini. Alasannya, dana belum ada, jadi dana beli pulsa belum ada.
Dan tambahan lagi nih, 1 orang itu....Ikut main juga, menjadi pemain di acara itu juga! Astaga?! Bingung? Ini kejadian langka tentu saja!
Dan apa ya, pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya pas di Hari-H siang harinya, barulah ada kepastian beneran, aku (akhirnya....!) jadi Show-Director. Dikasih aja kondisi 3 panggung, aku cek dan aku urut2 dada.....Walah, walah, p[anggung model beginian mah gak bakalan kepake di Jakarta! Hahahahaha....
Lalu lebih urut dada begitu tau, aku gak punya stage crew hanya ada masing2 panggung dapat 1 orang stage manager. Dan 1 orang, yaitu temenku yang dari Jakarta, yang bantu handle sebagai "apa aja elo bantu"!
Gak ada sama sekali tenaga lain. Ada temen2 artis tanya kayak, gimana counter jualan CD, walah susahnya minta ampun. Gak ada yang tau! Apalagi permintaan, kurang ini itu di stage. Nggak ada yang bisa jawab, gimana gimananya.... Aku hanya geleng2 kepala dan yah...ah ya sudah yakin ajalah.
Aku lalu bilang, aku sebetulnya minta beberapa spec lighting di stage untuk bantu, aku coba kasih tau konsepku. Ini minimalis ya, tapi ya gitu ada yang aku minta ini, pasti bagus. Lebih nyamanlah..... Aku geleng-geleng kepala, garuk-garuk kepala, elus-elus dada (lagi!). Katanya, stok lampu-lampu ya hanya ada segitu!!! Udah abis. Astaga.... Alhasil, aku hanya bisa ketawa ngakak. Gila dah.
Tapi well, apa mau dikata, toh semua talent sudah datang lho. Sudah di Pekanbaru. Tamu-tamu wartawanpun, dari Jakarta, juga sudah hadir semua lengkap. So means, the show must go on. Aku selalu bilang, The JAZZ Must Go On!!!
Dan begitulah....thank GOD. Jalan sih. Ada mundur-mundur dikit, disesuaikan dengan "tabiat dan kebiasaan" publik setempat (aku yang rubah skedul, aku lagi-lagi geleng2 kepala, yang buat padahal notabene asli orang sana sendiri. Kok bisa gak ya...Dibikin jadwal mulai jam 5 sore....????)
Aku tau keputusan2ku seketika itu, waduh....semua pakai doa dulu. Karena aku kawatir, ini bakalan tidak "nyaman" bagi teman2 band dan penyanyi. Yang jelas, jadwal molor. Dan durasi aku potong, supaya gak terlalu malam selesdainya.
Karena asal tahu saja, bahkan band Australia, main di ujung hari pertama itu, sudah wanta-wanti tidak mau main kalau mereka baru mulai jam 12 malam. Kawatir duluan, gak ada yang nonton!! Bayangin, dari Australia, katanya namanya besar. Dan "kebetulan" ini asli pilihan penyelenggara yang "harus banget" masuk..... (Steve Hunter Trio, mereka dibayar oleh pihak Chevron Oil)....
Di hari kedua juga begitu. Juga ada, band main tiba-tiba harus berhenti (beneran tiba-tiba lagi main...!) karena ada Adzan Isya. Maklum main di open air, kiri-kanan banyak mesjid, pasti terdengar adzan-nya dan "hukum"nya, harus berhenti suara apapun saat Adzan berkumandang....Mau gak mau, dan pastilah temen2 musisi terkaget-kaget (mohon maklum, mohon maaf ya....)
Ada juga sahabatku Indro Hardjodikoro, sedang seru-serunya mau improvisasi solo. Tiba-tiba mati. Yang mati, sound di stage itu! Ternyata, ada kabel induk (snake-cable?) kesenggol orang. Memang berantakan pada wiringnya (tak hanya stage yang walah, walah. Sound juga sama persis kondisinya. Walau hasil akhir, terbilang lumayanlah). Hahahaha...So sorry brother (menurut sang ketua pelaksana, Indro adalah teman baiknya dan sudah telpon2an sebelum acara. Ketika Indro sampai dan ketemu aku, dia langsung tanya, eh yang namanya Ryan itu yang mana? Oh yang bass itu....???? Emang elo gak tau, 'ndro? Indro ngegeleng....)
Belum lagi, tiba-tiba saja ya terkaget-kagetlah bahwa rundown bisa berubah di hari kedua. Ini menjadi kebingungan luar biasa, suasana memang luar biasa "kacau" juga. Karena ada teman2 talent yang "gak bisa terima", kenapa berubah..... Aku jelas di tengah, dan aku coba memahami kenapa tiba-tiba rundown dirubah tanpa sepengetahuanku?
Tapi yah begitulah, akhirnya bisa berjalan, lancar juga, sampai selesai dengan lumayan baik. Ada hujan, 2 jam lamanya, tapi penonton tetap stay dengan "tenang". Aduh!
Aduh, duh!!! Alhamdulillah? Ya tetap harus ada rasa bersyukur. Begitu acara selesai, aku hanya senyum saja, "perjuangan" sekian bulan selesai sudah.
Aku menemukan banyak hal unik, lucu, seru, indah, ngagetin, nyebelin selama ini. Semuanya unik dan lucu. Maksudku, ya teman2 sekeliling yang "mengurusi" acara ini. Baik temen2ku di Jakarta, apalagi teman2 di Pekanbaru sana.
Ruar biasa!!!! Sungguh luar biasa kalau acara ini toh bisa berhasil jalan, dengan begitu banyak keterbatasan. Lihat panggung, lihat suasana areal. Lihat lighting. Bahkan lihat buku-program (booklet acara) dengan isi yang "membingungkan", kabarnya dituliskan oleh anak muda yang "diandalkan" penasehat acara ini....
Yayayaya, nobody's perfect. Aku lebih melihatnya begini, nilah bukti kita tidak bisa sendiri. Tak bisa nge-jago sendirian. Nggak bisa single fighter. Semua bisa bekerjasama sesuai dengan kemampuan bidang yang dikuasainya, saling mengisi, saling menutupi, saling mendukung.
Susah sekali untyuk memahami, Nobody's perfect...Tapi it means also....ya diri kita sendiri! Masak kita hanya bisa melempar kesalahan pada orang lain? Diri kita sendiri?
Geliga Band salah satu ikon jazz melayu, tokoh utama Malacca Strait Jazz. Yayasan Riau Jazz Turbulence adalah organizer penyelenggaranya. Rian bassistnya Geliga itu adalah Ketua Pelaksana yang sibuk terus2an, bahkan hingga saat Geliga itu mau main (alhasil, lagu dengan Andien hanya bisa 2 saja dari harusnya 3 karena tidak ada waktu berlatih. Geliga pun tampil terasa benar, "harusnya bisa lebih baik dan lebih rapi dan itu pasti akan lebih enak dilihat dan didengarnya"). Eri Bob yang adalah leader, tokoh utama yang juga pemain piano/keyboard dan komposer Geliga adalah menjadi ketua penyelenggara. Orangnya ini begitu tenang, santai dan nyaris tanpa ekspresi, bahkan "terlalu tenang". Dan tokoh utama yang paling penting, budayawan terkemuka dan paling disegani di Riau saat ini, Yusmar Yusuf. Dia adalah tokoh pencetus ide MSJ, pencetus ide tema-tema, bahkan pencetus ide berdirinya Geliga dan Yayasan itu. Beliau ini adalah Penasehat.
Tentu saja terima kasih dan begitulah makanya aku bilang ke para Talent, "Terima Kasih dan Mohon Maaf, Mohon Maklum".....Yah, aku juga bingung sebenarnya, gimana ya?
Tapi ok semua sudah berlangsung, sudah berakhir. Pihak teman-teman Riau hingga saat ini masih teramat sibuk mengurus dana-dana yang tercerai berai yang belum terkumpul baik dari Riaupulp, dari Pemda Riau. Dana yang tidak begitu "ideal" dalam jumlahnya sebenarnya. Mana lagi, baru bisa selesai memang setelah event selesai. Selesai dalam arti.... "dibayarkan" kepada pihak penyelenggara. Tak heran, harus akrobat juga teman2 di sana rasanya.
Keterabatasan dana juga rasanya yang membuat teman2 di Pekanbaru luar biasa nekad, menghandle dan tetap menjalankan acara ini dengan teramat sedikit tenaga. Benar2 seefektif dan seefisien mungkin rasanya. Walau yang membuat aku terkaget-kaget, berkali-kali geleng2 kepala, garuk2 rambut, urut dada, elus dada (urut pa elus? Eh dadanya siapa? Hahahahaha, ya dadaku sendirilah....)
Well, next time better. Tahun mendatang semoga masih diperkenankanNYA, semoga segala sesuatu menjadi lebih baik, lebih lancar ya. Lebih rapi, lebih terkoordinasi, lebih teratur.
Akhir kata, Terima Kasih Ya ALLAH-ku, atas adanya pengalaman ini.......
Dan berjuang bisa juga malah jauh dari rumah. Dan bisa berarti kita berangkat berjuang sendirian, berdua, serombongan, se-tim kecil. Lalu?
Yang pasti setelah menjalani serangkaian persiapan, dalam kurun waktu setidaknya 6-7 bulan lamanya. Tentu saja seperti menuju Bandung, tapi memilih lewat Puncak. Penuh kelok-kelokan, sesekali jalan lurus, tapi naik turun. Capek, tinggal minggir makan di restoran, makan di warung. Sekedar pilih nyeruput kopi, makan jagung bakar. Jalan lagi, dan "ajojing" kekiri-kenan lagi....Terus deh, yang penting sampai....Bandung.
Memang seperti itulah yang terjadi. Tapi teramat sangat biasa bagi kehidupan ini, bukan? Amat sangat jarang, semua mulus, licin, mengkilap. Jalan, terus, lurus dan....sukses!
Maunya sih gitu, mauku juga tentu saja. Tapi yang pasti kita kudu membekali diri dulu dengan Positive-Feelings dan...keyakinan. Sabar juga? Buatku, sabar tiada bataslah. Itu mah standar.
Sabar...positif feelings...yakin. Dan kalau harus masuk jalan off-road gitu, berbecek-becek, bergelombang besar biar kata pake ban pacul sekalipun. Ah jalanin saja.
Soalnya gini, pikir punya pikir, siapa seh yang nge-set, tiba-tiba kita bisa di sini. Kenapa kita bisa dapatkan ini. Kenapa kita terpilih dan memilih ini dan itu. Semuanya sudah ada yang mengatur kan....Dan tentu saja, mengatur dengan baik. Terbaik malah buat kita!
Memang pada mulanya aku iseng saja, minta nih..."Aku melamar ya, jadi apa kek. Pokoknya aku bantuin. Aku bisa di show director. Aku coba bantuin juga di Talent Coordination. Aku bisa juga bantuin dimana kek, promosi..." Itu ucapanku waktu habisnya acara di tahun kemarin.
Dan semua teman-teman mengangguk setuju, tertawa lebar. Boleh-boleh, ucap mereka semua. Menyambut baik. Tambahku, kalau perlu aku kasih CV deh sekalian.... Mereka tertawa lebih lebar lagi, Huahahahaha.... Saling menepuk bahu. Lalu jabat tangan.
Pulang ke Jakarta, balik ke rumah!
Dan ternyata aku dalam perjalanan dapat menghimpun tim, "kecil" dulu. Lalu bertambah satu, bertambah eh aku ajak lagi satu. Begitulah. Yang satu mengajak yang satu, dua. Tim makin lengkap. Malah "mengincar", bantu pada Marcomm sepenuhnya, bantu pada sponsorship sepenuhnya. Teman-teman di sana, tersenyum. Ok2. Tapi ini apanya yang dijual?
Lebih bagus Green-nya yang dijual. Bukan hanya jazz! Jazz gimana sih, masak Pekanbaru ada Jazz-Jazzan segala..... Orang-orang di Jakarta mah gak bakalan ada yang nyambut. Halah!
Yayayaya, singkat cerita. 4 Juni aku berdua, menanti pesawat yang akan menerbangkanku dengan temanku ke Pekanbaru. Perjalanan sekian waktu akhirnya akan sampai pada ujung terakhir, ya apalagi kalau bukan pelaksanaan acara?
Aku waktu itu berpikir, ya beginilah hidup, beginilah dunia. Mencoba meraih semua, tapi kita tentu punya tketerbatasan. Misal pada pengendalian emosi. Alhasil, semua memang sudah berlalu. Yang pasti, aku tinggallah berdua. Ngapain kita di sana, tanya temanku?
Aku hanya senyum, kita lihat saja ya nanti...Tergantung merekalah, mau minta kita ngapain? Ada gak yang kita kerjain, tanya temanku lagi. Aku masih senyum....Well, aku masih nyaman dengan pertanyaan temanku yang ini. Masih teringat, ada temanku yang satu, memilih solidaritas. Melihat persoalan dengan sudut pandangnya sendiri. Dan menyatakan walk-out, dan aku terhenyak saja. Sama terhenyaknya dengan teman lain, aku hanya melihat kamu saja nih. Dan alhasil?
Sudahlah, itu sangat biasa. Namanya juga manusia. Aku berusaha mengerti, bahwa "You can't always get what you want"...seperti kata Jagger kan? Tapi toh, aku juga tidaklah berarti langsung mati, tanpa mereka? Seperti juga mereka, tanpa aku, apa langsung berarti mati? Ya gak lah....!!!
Peace, Love and Respect sajalah! That's what Friends are For. Kata temen dulu ya, itu artinya, Itulah gunanya berteman berempat. Halah!
Tapi sampailah di Pekanbaru. Hari pertama kita sibuk saja cari teman-teman "penyelenggara". Lucu memang, aku malah seperti harus "meminta-minta" kerjaan! Hahahahaha. Padahal aku udah ada di sana tuh.... Eh ini beneran. Asli!
Nggak tahu juga, tapi aku pikir memang ini lucu ya. Bagaimana mungkin sebuah acara relatif besar begitu, yang handle hanya "secuil" orang. Keputusan juga boleh dibilang dipegang hanya pada 1 orang, mana lagi 1 orang ini sulitnya minta ampun untuk dikontak sebelum ini. Alasannya, dana belum ada, jadi dana beli pulsa belum ada.
Dan tambahan lagi nih, 1 orang itu....Ikut main juga, menjadi pemain di acara itu juga! Astaga?! Bingung? Ini kejadian langka tentu saja!
Dan apa ya, pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya pas di Hari-H siang harinya, barulah ada kepastian beneran, aku (akhirnya....!) jadi Show-Director. Dikasih aja kondisi 3 panggung, aku cek dan aku urut2 dada.....Walah, walah, p[anggung model beginian mah gak bakalan kepake di Jakarta! Hahahahaha....
Lalu lebih urut dada begitu tau, aku gak punya stage crew hanya ada masing2 panggung dapat 1 orang stage manager. Dan 1 orang, yaitu temenku yang dari Jakarta, yang bantu handle sebagai "apa aja elo bantu"!
Gak ada sama sekali tenaga lain. Ada temen2 artis tanya kayak, gimana counter jualan CD, walah susahnya minta ampun. Gak ada yang tau! Apalagi permintaan, kurang ini itu di stage. Nggak ada yang bisa jawab, gimana gimananya.... Aku hanya geleng2 kepala dan yah...ah ya sudah yakin ajalah.
Aku lalu bilang, aku sebetulnya minta beberapa spec lighting di stage untuk bantu, aku coba kasih tau konsepku. Ini minimalis ya, tapi ya gitu ada yang aku minta ini, pasti bagus. Lebih nyamanlah..... Aku geleng-geleng kepala, garuk-garuk kepala, elus-elus dada (lagi!). Katanya, stok lampu-lampu ya hanya ada segitu!!! Udah abis. Astaga.... Alhasil, aku hanya bisa ketawa ngakak. Gila dah.
Tapi well, apa mau dikata, toh semua talent sudah datang lho. Sudah di Pekanbaru. Tamu-tamu wartawanpun, dari Jakarta, juga sudah hadir semua lengkap. So means, the show must go on. Aku selalu bilang, The JAZZ Must Go On!!!
Dan begitulah....thank GOD. Jalan sih. Ada mundur-mundur dikit, disesuaikan dengan "tabiat dan kebiasaan" publik setempat (aku yang rubah skedul, aku lagi-lagi geleng2 kepala, yang buat padahal notabene asli orang sana sendiri. Kok bisa gak ya...Dibikin jadwal mulai jam 5 sore....????)
Aku tau keputusan2ku seketika itu, waduh....semua pakai doa dulu. Karena aku kawatir, ini bakalan tidak "nyaman" bagi teman2 band dan penyanyi. Yang jelas, jadwal molor. Dan durasi aku potong, supaya gak terlalu malam selesdainya.
Karena asal tahu saja, bahkan band Australia, main di ujung hari pertama itu, sudah wanta-wanti tidak mau main kalau mereka baru mulai jam 12 malam. Kawatir duluan, gak ada yang nonton!! Bayangin, dari Australia, katanya namanya besar. Dan "kebetulan" ini asli pilihan penyelenggara yang "harus banget" masuk..... (Steve Hunter Trio, mereka dibayar oleh pihak Chevron Oil)....
Di hari kedua juga begitu. Juga ada, band main tiba-tiba harus berhenti (beneran tiba-tiba lagi main...!) karena ada Adzan Isya. Maklum main di open air, kiri-kanan banyak mesjid, pasti terdengar adzan-nya dan "hukum"nya, harus berhenti suara apapun saat Adzan berkumandang....Mau gak mau, dan pastilah temen2 musisi terkaget-kaget (mohon maklum, mohon maaf ya....)
Ada juga sahabatku Indro Hardjodikoro, sedang seru-serunya mau improvisasi solo. Tiba-tiba mati. Yang mati, sound di stage itu! Ternyata, ada kabel induk (snake-cable?) kesenggol orang. Memang berantakan pada wiringnya (tak hanya stage yang walah, walah. Sound juga sama persis kondisinya. Walau hasil akhir, terbilang lumayanlah). Hahahaha...So sorry brother (menurut sang ketua pelaksana, Indro adalah teman baiknya dan sudah telpon2an sebelum acara. Ketika Indro sampai dan ketemu aku, dia langsung tanya, eh yang namanya Ryan itu yang mana? Oh yang bass itu....???? Emang elo gak tau, 'ndro? Indro ngegeleng....)
Belum lagi, tiba-tiba saja ya terkaget-kagetlah bahwa rundown bisa berubah di hari kedua. Ini menjadi kebingungan luar biasa, suasana memang luar biasa "kacau" juga. Karena ada teman2 talent yang "gak bisa terima", kenapa berubah..... Aku jelas di tengah, dan aku coba memahami kenapa tiba-tiba rundown dirubah tanpa sepengetahuanku?
Tapi yah begitulah, akhirnya bisa berjalan, lancar juga, sampai selesai dengan lumayan baik. Ada hujan, 2 jam lamanya, tapi penonton tetap stay dengan "tenang". Aduh!
Aduh, duh!!! Alhamdulillah? Ya tetap harus ada rasa bersyukur. Begitu acara selesai, aku hanya senyum saja, "perjuangan" sekian bulan selesai sudah.
Aku menemukan banyak hal unik, lucu, seru, indah, ngagetin, nyebelin selama ini. Semuanya unik dan lucu. Maksudku, ya teman2 sekeliling yang "mengurusi" acara ini. Baik temen2ku di Jakarta, apalagi teman2 di Pekanbaru sana.
Ruar biasa!!!! Sungguh luar biasa kalau acara ini toh bisa berhasil jalan, dengan begitu banyak keterbatasan. Lihat panggung, lihat suasana areal. Lihat lighting. Bahkan lihat buku-program (booklet acara) dengan isi yang "membingungkan", kabarnya dituliskan oleh anak muda yang "diandalkan" penasehat acara ini....
Yayayaya, nobody's perfect. Aku lebih melihatnya begini, nilah bukti kita tidak bisa sendiri. Tak bisa nge-jago sendirian. Nggak bisa single fighter. Semua bisa bekerjasama sesuai dengan kemampuan bidang yang dikuasainya, saling mengisi, saling menutupi, saling mendukung.
Susah sekali untyuk memahami, Nobody's perfect...Tapi it means also....ya diri kita sendiri! Masak kita hanya bisa melempar kesalahan pada orang lain? Diri kita sendiri?
Geliga Band salah satu ikon jazz melayu, tokoh utama Malacca Strait Jazz. Yayasan Riau Jazz Turbulence adalah organizer penyelenggaranya. Rian bassistnya Geliga itu adalah Ketua Pelaksana yang sibuk terus2an, bahkan hingga saat Geliga itu mau main (alhasil, lagu dengan Andien hanya bisa 2 saja dari harusnya 3 karena tidak ada waktu berlatih. Geliga pun tampil terasa benar, "harusnya bisa lebih baik dan lebih rapi dan itu pasti akan lebih enak dilihat dan didengarnya"). Eri Bob yang adalah leader, tokoh utama yang juga pemain piano/keyboard dan komposer Geliga adalah menjadi ketua penyelenggara. Orangnya ini begitu tenang, santai dan nyaris tanpa ekspresi, bahkan "terlalu tenang". Dan tokoh utama yang paling penting, budayawan terkemuka dan paling disegani di Riau saat ini, Yusmar Yusuf. Dia adalah tokoh pencetus ide MSJ, pencetus ide tema-tema, bahkan pencetus ide berdirinya Geliga dan Yayasan itu. Beliau ini adalah Penasehat.
Tentu saja terima kasih dan begitulah makanya aku bilang ke para Talent, "Terima Kasih dan Mohon Maaf, Mohon Maklum".....Yah, aku juga bingung sebenarnya, gimana ya?
Tapi ok semua sudah berlangsung, sudah berakhir. Pihak teman-teman Riau hingga saat ini masih teramat sibuk mengurus dana-dana yang tercerai berai yang belum terkumpul baik dari Riaupulp, dari Pemda Riau. Dana yang tidak begitu "ideal" dalam jumlahnya sebenarnya. Mana lagi, baru bisa selesai memang setelah event selesai. Selesai dalam arti.... "dibayarkan" kepada pihak penyelenggara. Tak heran, harus akrobat juga teman2 di sana rasanya.
Keterabatasan dana juga rasanya yang membuat teman2 di Pekanbaru luar biasa nekad, menghandle dan tetap menjalankan acara ini dengan teramat sedikit tenaga. Benar2 seefektif dan seefisien mungkin rasanya. Walau yang membuat aku terkaget-kaget, berkali-kali geleng2 kepala, garuk2 rambut, urut dada, elus dada (urut pa elus? Eh dadanya siapa? Hahahahaha, ya dadaku sendirilah....)
Well, next time better. Tahun mendatang semoga masih diperkenankanNYA, semoga segala sesuatu menjadi lebih baik, lebih lancar ya. Lebih rapi, lebih terkoordinasi, lebih teratur.
Akhir kata, Terima Kasih Ya ALLAH-ku, atas adanya pengalaman ini.......
Thursday, May 29, 2008
Doa
Aku telah BerDOA begitu banyak
Yang aku sendiri telah menjadi DOA
Siapa saja yang melihatku
Menginginkan sebuah DOA dariku.....
(Jalaluddin Rumi)
Berhentilah berbicara,
karena kata-kata sulitmu.
Setiap orang,
akan curiga kepadamu
(Jalaluddin Rumi)
Yang aku sendiri telah menjadi DOA
Siapa saja yang melihatku
Menginginkan sebuah DOA dariku.....
(Jalaluddin Rumi)
Berhentilah berbicara,
karena kata-kata sulitmu.
Setiap orang,
akan curiga kepadamu
(Jalaluddin Rumi)
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
(repost) Ryan Ekky Pradipta bercerita, “Lagu itu harusnya beat nya lebih cepat sedikit. Lalu dimulai dengan suara ketukan drum. Disa...
-
1980-an katanya adalah era dimana musik industri lebih menguasai pasar. Sementara 1970-an adalah era idealisme terpacu, termotivasi u...
-
Tulisan ini saya tulis sejak 2005, eh bahkan sebelumnya. Ada beberapa bagian, penelusuran akan jazz di Indonesia. Ini adalah bagian awal. B...
