Showing posts with label Liputan. Show all posts
Showing posts with label Liputan. Show all posts

Tuesday, April 2, 2019

12 Tahun Setelah Chrisye Pergi....


Ia telah pergi, kembali ke sang pencipta nan agung, 30 Maret 2007. Usianya masih terbilang relatif muda, waktu ia pergi keabadiannya, 57 tahun. Begitu cepatnya ia pergi. Tetapi ia meninggalkan warisan setumpuk lagu-lagu hits, yang akan dikenang sepanjang masa.
Lagu-lagunya terus mengisi hari-hari kehidupan begitu banyak orang. Suaranya tetap saja berkumandang dimana-mana, sampai hari ini, dua belas tahun setelah kepergiannya. Dan Chrismansyah Rahadi, yang begitu populernya dengan nama pendek, Chrisye, akhirnya menjadi seorang penyanyi pria yang bisa disebut yang tersukses selama ini.
Ia punya lagu yang pas, musik yang apik. Dan lebih daripada itu, ia memiliki suara yang sangat khas. Dimana suara yang berciri khas itulah, yang sulit di”tiru” oleh penyanyi-penyanyi pria lainnya. Itu salah satu kendala paling penting, bahwasanya kalau menyanyikan lagu Chrisye, jangan coba-coba meniru persis suara Chrisye.
Semaksimal mungkin berdaya upaya, tetapi hasil akhirnya, biasanya sih, bukan melenakan pendengar atau penonton, malah...mengganggu kenikmatan! Bisa terasa macam, ini kok gatel kuping kita ya? Itu salah satu keunggulan utama sosok seorang Chrisye.
Dan karena itulah, lantas muncul sebuah komunitas kecil.  Yang terdiri dari para “Chrisye lovers”. Yang bukan semata-mata pencinta saja, tetapi lebih sebagai sekumpulan orang, dari pelbagai profesinya, yang menaruh respek dan apresiasi tinggi atas Chrisye dan lagu-lagunya. Juga memberi hormat pada perjalanan hidup sang legenda itu.
Komunitas Kangen Chrisye namanya. Dan saya juga ada lho di dalamnya. Dan saban setahun sekali, K2C ini punya gawean. Sebenarnya lebih berupa arena silaturahmi saja, gathering lah bahasa kerennya. Cuma bukan sekedar kumpul-kumpul.
Silaturahmi lalu, merilis buku. Sudah ada beberapa buku dirilis sejauh ini. Yang dicetak dan disebarluaskan bukan untuk komersial. Lebih sebagai mengingat, melestarikan, memelihara terus kenangan-kenangan dengan sosok almarhum, suara dan tentu saja, dengan lagu dan musiknya yang terasa abadi dan tak lekang dimakan zaman itu.
Buku-buku tersebut adalah Chrisye, Kesan di Mata Media, Sahabat dan Fans (rilis 2012). Kemudian 10 Tahun Setelah Chrisye Pergi (Ekspresi Kangen Penggemar) (2017). Ketiga, 11 Tahun Kangen Chrisye (Kumpulan Tulisan Jurnalis Tentang Chrisye, dirilis tahun 2018).
Adalah seorang Ferry Mursyidan Baldan, yang sejatinya politikus,yang memberi perhatian ekstra pada almarhum Chrisye. Tak menampik kalau disebut ia pencinta Chrisye, yang sudah dekat sejak Chrisye masih ada.
Karena kedekatannya tersebutlah, timbul respek tingginya. Dan saat Chrisye, Ferry merasa sangat kehilangan. Seperti juga yang dirasakan oleh jutaan penggemar Chrisye lainnya. Dan lantas membuatnya berinisiatif  mengajak sahabat-sahabatnya, yang dikenalnya baik dan sama-sama menyukai Chrisye, untuk membentuk sebuah komunitas.
Pada 2018 lalu, Ferry Mursyidan Baldan dan Yanti Chrisye
Ferry kemudian giat juga mengumpulkan pelbagai pernak-pernik tentang Chrisye. Di waktu mendatang, ia berencana untuk bisa mendirikan sebuah museum kecil, yang berisikan berbagai memorabilia terkait Chrisye. Nantinya, itu akan menjadi hotspot-nya penggemar Chrisye secara keseluruhan.
K2C dibentuk sejak 30 Maret 2012, dan selain Ferry Mursyidan Baldan sebagai penggagas dan pendiri sekaligus ketua, K2C terdiri dari beberapa penulis musik atau wartawan. Juga fotografer dan termasuk pula profesional di bidang show management. Maka tak heran, selalu ada event kecil di setiap 30 Maret.
Wadah ini adalah murni non profit dan tak boleh menjadi alat politik, begitu digariskan oleh Ferry Mursyidan Baldan. Ini murni berbuat untuk dan atas nama Chrisye, dan tentu saja sepengetahuan dan diijinkan pihak keluarga Chrisye, demikian dijelaskan Ferry lagi.
Kegiatan yang kecil dan sederhana, menjadi agenda tetap K2C, setiap tanggal kepergian almarhum dan pada tiap 1 September, hari kelahirannya. Acaranya bisa berupa berziarah bersama ke makam almarhum lalu dilanjutkan pengajian bersama anak yatim, selepas Maghrib.
Bisa juga berlanjut dengan, bersama-sama mendengarkan lagu-lagu Chrisye, bisa lewat CD. Atau merikues band di kafe, menyanyikan lagu-lagu sang legenda itu, bila memang memilih nongkrong dan ngopi bareng di kafe, tambah Ferry.
Khusus memperingati kepergian Chrisye di tahun 2019 ini, diadakan pementasan Legend of Love, Tribute to Chrisye di panggung Pasar Seni Jaya Ancol. Bekerjasama dengan Pasar Seni Ancol dan  Jakarta Melayu Festival.
Jadinya adalah sebuah upaya memberikan warna lain pada sajian lagu-lagu memorable dari Chrisye. Yaitu upaya mencoba memberi sentuhan khas musik Melayu. Sebuah gagasan yang unik.
Walau pada implementasinya, bukanlah hal mudah. Mengingat sebagian besar lagu-lagu yang dipopulerkan Chrisye itu, baukanlah musik yang “mudah”. Apalagi lagu-lagu itu sudah amat lekat dengan musiknya. Mencoba membungkusnya dengan musik yang berbeda, selain tidak mudah juga rada beresiko sebenarnya.

Acara kemarin itu menampilkan banyak penyanyi yang menjadi langganan pengisi acara Jakarta Melayu Festival.seperti Nong Niken, Darmansyah, Alfin Habib, Tom Salimin dan Takaeda, serta Eri Susan, Shena Malsiana.
Selain itu, dimeriahkan pula oleh penyanyi populer yang telah lumayan dikenal, Bonita. Putri entertainer kawakan Koes Hendratmo itu, seperti diselipkan  untuk memberikan tambahan warna yang spesifik pada sajian musik malam itu. Muncul juga violis, Henri Lamiri, yang mendukung grup band Seroja, sebagai pengiring.
Dalam kesempatan malam itu, diserahkan juga tanda mata berupa sebuah lukisan, karya seniman Pasar Seni Ancol, pelukis Prawoto. Lukisan wajah Chrisye itu diserahkan oleh pihak Pasar Seni Ancol, dan diterimakan oleh saya, sebagai wakil dari K2C dan keluarga almarhum Chrisye.Kemarin, Yanti Chrisye, istri almarhum, tak dapat hadir..



Chrisye memang sejatinya tak pernah hilang. Segenap kegiatan yang dilakukan K2C, adalah bukti bahwasanya kepedulian, penghargaan dan kecintaan terhadap almarhum tak pernah habis.
Buat Ferry pribadi, semua lagu Chrisye mempunyai keindahan dan kelembutan. Mendengarkan lagu-lagu Chrisye tak pernah bosan, karena selalu menimbulkan rasa bahagia.
Pada waktu selanjutnya, diharapkan memang lagu-lagu dan musik-musik indah yang diedarkan pada masa-masa lalu, tetap akan dapat terdengar sepanjang masa. Selain didengar dan dinikmati, tentunya juga dapat memberi apresiasi yang tinggi pada penyanyi-penyanyinya. Termasuk juga penulis lagu dan para pemusiknya.
Lagu-lagu itu menjadi bagian penting dalam sejarah kehidupan begitu banyak orang. Tak hanya Chrisye memang, ada nama-nama lain yang mewarnai masa-masa muda banyak sekali orang. Sekaligus menjadi inspirasi dasar bagi perjalanan musik Indonesia,  memberi pengaruh positif bagi karya-karya musisi generasi berikut, pada masa-masa mendatang. /*




Thursday, February 14, 2019

Konser Nostalgia Lagi! Mungkin Memang Menguntungkan...



Konser apik dan keren itu bertajuk resminya, Tembang Persada Sang Tritunggal - Erros, Chrisye dan Yockie. Untuk kesekian kalinya, lagu-lagu yang pastinya pernah menemani akrab para penggemar musik di era 190-an, dihidangkan lagi. Dan lagi-lagi, walau terdapat kata-kata, "Sang Tritunggal", tapi kenyataannya lebih banyak dihidangkan karya-karya hits yang disenandungkan alm. Chrisye. Yang tidak melibatkan Erros Djarot maupun Yockie Suryo Prayogo.

Tapi memang itulah “kesaktian” seorang Chrisye. Salah satu penyanyi pria tersukses dalam sejarah musik Indonesia. Tambah sakti karena, sulit untuk dicari “tandingan”nya. Dan rasanya gegara pertimbangan komersial saja, maka hits Chrisye lebih diandalkan. Sah-saha saja sih. Ya, kita mau tak mau, harus memakluminya.
Ah sudahlah, yang penting dari sekitar 20-an repertoar yang disajikan dengan menarik itu, dibumbui atawa dipermanis tampilan multimedia nan apik, toh banyak lagu-lagu yang sebenarnya sudah jarang dibawakan di atas panggung. Nah itu dia!




Adalah BETIGA sebagai promotor "baru", yang menyajikan konsep konser ini pada 1 Februari silam. Bertempat di gedung konser baru, Jakarta Concert Hall di iNews Tower, 14th floor, Kebon Sirih - Jakarta Pusat. Musik ditangani oleh kibordis sejuta band, Krisna Prameswara.
Didukung oleh Subekti Sudiro (bass), Jeane "Alsa" Phialsa (drums), Marthin Sihaan (kibor) dan gitarisnya, Noldy Benyamin. Didukung backing vocals oleh Melita, Didi Priyadi dan Ria Septiani. Sempat juga beberapa lagu melibatkan blowers atau horn section yang terdiri dari Dede (trombon), Rici (trumpet) dan saxophone oleh Horas.

Dan BETIGA lantas memboyong konsep konser ini ke Surabaya. Disajikan sebagai eh eh eh...menu hiburan spesial menemani .... Valentine Night di Grand City Hall. Wuih keren amat. Beruntunglah ya publik Surabaya.... Di Jakarta kemarin tampil Bonita, Barsena, Harvey Malaiholo, Marcell Siahaan dan Wizzy. Campuran penyanyi senior, berjam terbang tinggi serta talenta-talenta baru. Catatan paling menarik adalah, seluruh penyanyi telah berusaha memberi "apresiasi", semacam reinterpretasi pada lagu-lagu emas yang mereka bawakan.

Sementara untuk Surabaya pada 14 Februari, nama Barsena digantikan kelompok vokal enerjik, Trisouls. Keduanya talenta-talenta berbakat, yang mungkin saja bakal lebih sukses lagi di masa mendatang....





Sisi menarik konsep pergelaran ini, memang kudu diakui pada soal kesempatan reinterpretasi itu. So terasa ada "kebaruan", seger. Lebih dari sekedar ...mengajak penonton bernostalgia, terbang dengan kenangan masa remajanya dulu, mengingat-ingat masa-masa indah nan romantis dan ceria.
Itu yang sedikit membedakan konser ini dengan konser-konser sejenis, yang belakangan lumayan banyak hadir.... Jualan nostalgia ternyata aih memang...lumayan menguntungkan kali ya? Mengingat masa lalu, mengenangnya itu ternyata masih dibutuhkan sebagai hiburan...pelepas lelahlah. Setuju ya?

Tak heranlah, lantas bermunculan konsep-konsep semacam, tentu dibarengi munculnya promotor-promotor baru. Sampai-sampai ada juga promotor relatif baru, lantas kelihatan "keasyikan" dan makin asyik tambah pede buat menghasilkan konser-konser begitu...Oho!
Jadi "mainan" baru yang lucu juga ya?? Ti ati jangan kelewat asyik, terutama kelewat pede.. Suka bikin, "lupa diri". Hehehehe. Lupa diri, nanti lupa rumah, lupa kerjaan asli, lupa temen segala pulak. Berabe cuuyyy!







Tinggal bagaimana secara lebih hati-hati mengemasnya saja. Sebagai sebuah kemasan selengkapnya. Ya musik, ya penyanyi dan tak lupa juga pada sisi bagaimana membungkusnya. Menyajikan dengan bungkusan lengkap, multimedia, lighting termasuk sound.
Kenyataannya kan, ga banyak atau tidak semua konser-konser "beraroma nostalgia nan kuat" begini, sukses dalam aspek-aspek sajian "selengkapnya" itu. Konser ErrosChrisyeYockie, yang di Jakarta kemarin, lumayan apik dan menyenangkan terutama dalam musik dan bungkusannya terutama tampilan multimedianya.
Pentinglah, gimana packagingnya. Biar kepuasan penonton menjadi sempurna. Kuping menyantap dengan enak, mata menangkapnya dengan asyik dan hati juga gembira ria. Kalau komplit, kan penonton bisa pulang dengan sukacita, tidurnya nyenyak nanti.Bangun pagi lebih segerrrr.
Rata-rata belumlah mencapai tingkat kesempurnaan nan hakiki. Taela! Maksudnya, gimana ya, belum ada yang maksimal banget. Ga papa, belajar deh. Berproses juga adanya. Asal yang penting jangan terlalu percaya diri kelebihan. Udah terlalu, tambah...kelebihan.




Eh kembali ke Tembang Persada Sang Tritunggal ya... Untuk penyanyi, para senior sukses menaklukkan lagu-lagu yang mereka bawakan. Sementara ada yang "junior" terkesan rada-rada gugup atau nervous atau..."tidak leluasa dan lepas" membawakan lagu-lagunya. Biasalah itu, kan berproses juga adanya ya....
Gimana ga gugup, kalau lantas mengetahui on the spot, lha penontonnya pada hafal mati lagu-lagu yang mereka bawain. Celaka betul, kalau sampai ga hafal lirik. Apa kata dunia.....
Luckily, saved by the screen. Kayak teleprompter, ditaruh di sisi depan stage. Tentu saja, menghadap ke dalam dong. Tapi masalahnya, kalau keseringan lihat screen, fokus jadi terpecah kan? Bisa kelihatan bahwa nyanyinya lantas kurang lepas. Ga rileks lagi. Bahaya kan?
Saya ingat betul, almarhum Yockie Suryo Prayogo sangat mengkritisi hal itu. Tak pernah bosan mas Yockie meminta penyanyi-penyanyi dalam konsernya, untuk dapat menghafal lirik lagu yang akan dibawakan.
Tapi kan terpenting, semua penonton sih kayaknya ya, sukacita deeeh. Nyanyi bareng, goyang-goyang bareng, ketawa, tepuk tangan. Ceria sekali! Dan memang kasusnya terihat tuh, pada beberapa lagu penonton lebih hafal lirik, daripada penyanyi di atas panggung!
Point positif, yang perlu diberi acungan jempol pada konser yang digelar oleh BETIGA kemarin itu, ada sisipan lagu, ‘Musik Saya Adalah Saya’. Karya cipta Yockie Suryo Prayogo, yang ada di album bertajuk sama. Dirilis 1979 lengkap dengan konser megahnya, memakai orkestrasi, yang dikomandoi Idris Sardi! Dan lagu itu berdurasi lumayan panjang, lebih dari 10 menit.
Lagu dan musik yang sangat...Yockie banget! Gagah, keren, rada kompleks. Eh bisa juga disebut, cukup njelimet. Dan, aha...sisi arogannya Yockie menyembul juga. Nah Krisna Prameswara yang mengajukan usul, untuk memainkan lagu itu secara instrumental. BETIGA setuju!
Kemudian tampilan lagu, yang bisa dibilang paling keras atau paling ngerock malam itu, dibungkus dengan ide “keren”. Yang punya ide, Wira Hardiprakoso,salah satu dari BETIGA itu. Ia kepengen menampilkan quotes ataupun testimonial orang-orang musik, di layar sepanjang lagu itu dimainkan Krisna dan kawan-kawan.
Ide dilontarkan ke saya. Kami diskusikan.Awalnya Wira punya ide, meminta testimonial dari hanya 3 atau 4 orang saja.Saya jawab, kurang ah. Tambah lagi, kembangin deh. “Nanti gw bantuin bro, kontak beberapa teman, yang pasti bisa memberikan quotes keren untuk lagu tersebut”, saya merespon ide Wira.





Jadinya memang, ada testimoni dari Djaduk Ferianto, Adib Hidayat, Glenn Fredly, Addie MS, Mondo Gascaro, Frans Sartono, Once Mekel, Rian Dmasiv dan Dewa Budjana. Eh masih ditambah saya. Wira meminta, saya juga kasih testimoni. Dikejar-kejar lho. Ya sutralah....
Ndilala, astaga ternyata testimonial goresan eh ketikan saya itu yang paling panjang! Masya Allah. Jadi ga enak hati kan? Kata Wira, ga papa bro. Dan seneng aja sih, bisa bantuin. Itu lebih sebagai respek dan apresiasi saya terhadap almarhum Yockie tentunya. Pastinya, begitu juga dengan teman-teman yang sudah mengirimkan testimoninya, lewat texting message di Whats App itu.
Sayangnya, karena satu dan lain hal. Ah sudah, sebut saja, dikarenakan kesibukan-kesibukan kita sajalah, yang lantas membuat saya tak dapat ikut menonton di Surabaya. Tapi saya yakin aja, bahwa konser itu akan sukses. Bahkan bisa jadi, lebih sukses dari yang di Jakarta.
Selanjutnya, untuk Wira bersama dengan Novi “Opi” Madjedi dan “ibu-boss”, Nonnie Qosasih selamat ya untuk konsernya itu. Ditunggu konser-konser berikutnya, dengan konsep-konsep yang tak kalah serunya. Tetap semangat, brothers and sista!
Salam!!  /*