Musik dan Pergerakan. Membuat Tambahan Warna Pada Musik Indonesia


Lebih tepatnya lagi, memberi enerji baru. Tak hanya sebatas memberi tambahan warna pada musik Indonesia. Bahwasanya, beraneka macam musik, sejatinya harus diberi ruang gerak yang sama. Sehingga khalayak leluasa, mendengarkan bebunyian musik yang memberinya semangat, menyenangkan hati dan telinganya…
Seperti meminum vitamin, penambah darah dan tenaga. Ketika mendengarkan album yang bertajuk gagah, Indonesia Maharddhika ini. Dan memang ini bukan semata-mata sebuah album musik, dengan apapun musik di dalamnya. Ini lebih sebagai sebuah gerakan.
Gerakan untuk memberi “suplemen” semangat kebangsaan. Dalam mana kita mengisi hal-hal yang bermanfaat bagi sekeliling, bagi bangsa dan negara kita, dalam konteks kemerdekaan. Kan pas masih dalam bulan Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta, yang tahun ini menginjak usia 69 tahun!
Tak tahu, kebetulan atau tidak. Saat persiapan, dari pagi hari hingga jelang pentas digelar. Di luar gedung, yang berada di dalam mall nan megah di tengah ibukota itu, terjadi situasi panas dan makin panas. Berujung pada bentrokan antara aparat dengan kaum demonstran, pada sore harinya.
Bentrokan antara para pendukung dan simpatisan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa, mantan capres dan cawapres, dengan aparat keamanan gabungan, di sekitar gedung Mahkamah Konstitusi. Hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari Galeri Indonesia, di dalam Grand Indonesia. Tempat dimana perayaan pelepasan album Indonesia Maharddhika diadakan, pada Kamis malam kemarin.
Menurut ketiga penggerak dan penggagasnya, HendronotoNinotSoesabdo, Yeni Fatmawati dan Kadri Mohamad St.Bandaro, Indonesia Maharddhika adalah sebuah momentum untuk menunjukkan musik memberi inspirasi bagi kebangsaan kita. Bagaimana musik, tak sekedar bunyi yang kita nikmati dan dengar, begitu kata Hendronoto.
Iya, bagaimana kalau musik dibuat untuk menggugah rasa cinta tanah air dan kepedulian terhadap negeri kita sendiri, tambah Yeni Fatmawati. Kepengen musik hadir bukan semata-mata sebagai hiburan saja, tapi menginspirasi kita untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal bermanfaat bagi kehidupan secara keseluruhan, tambah Kadri Mohamad.


Dan proses dalam menghasilkan album rekaman ini, ternyata telah menorehkan sebuah cerita perjalanan lumayan panjang. Hampir 2 tahun untuk menyelesaikan sebuah album dengan 10 tracks di dalamnya. Apalagi dalam menyelesaikan sebuah track yang bisa dibilang lagu bersejarah dan paling fenomenal dalam album ini. Lagu tersebut adalah, ‘Indonesia Maharddhika’. Karya emas, sebuah epic, dari Guruh Soekarnoputra dan Roni Harahap, dibawakan Guruh Gypsi, grup mereka dulu, pada 1976.
Lagu yang bisa disebut adalah salah satu ikon terpenting pergerakan sub-genre music, Progressive-Rock itu, dibesut dan dibedah musiknya lagi oleh Iwan Hasan. Sang tokoh utama prog-rock Indonesia yang bernama harum di publik penggila prog-rock internasional itu, mengemas musik lagu itu menjadi baru dan memberi kemegahan yang berbeda dan modern.
Iwan Hasan menyertakan banyak nama, dalam hasil olah musiknya terhadap lagu nan bersejarah itu. Hasil akhirnya, ada musisi seperti Indra Lesmana dan bahkan Rick Wakeman, mengisi musik album itu. Keenan Nasution, salah satu anggota Guruh Gypsi, ikut mengisi vokal. Lalu melibatkan seniman tradisi, yang juga mengisi lagu tersebut dalam versi tahun 1976, I Gusti Kompiang Raka dan Saraswati-nya.
Dan banyak nama lainnya seperti drummer muda, Dimas Pradipta. Trumpetist muda, Indra Dauna. Bassis Adi Darmawan. Hingga vokalis seperti Marcell dan voices oleh Ubiet. Serta soprano, Siti Chairani Proehoeman. Beserta sentuhan string dari G String Quartet.
Dalam kesempatan perayaan peresmian peluncuran album tersebut, dihadirkan showcase dari 4 grup band yang mengisi album. Dimulai dari The Miracle dengan ‘Free Your Mind’, lalu The Kadri Jimmo yang membawakan, ‘Srikandi’. Lalu tampil juga Van Java dengan ‘Prophecy of Jayabaya’. Ditutup oleh Imanissimo yang didukung vokalis Andy /rif dan Kadri Mohamad dengan lagu, ‘Simponi Indonesia-Rock Opera Adegan I (Krisis Budaya)’.
Selain pentas showcase keempat band itu, diselingi pula dengan talkshow. Hadir ketiga executive producer album ini, yaitu dari YenNinots-Journey yaitu Hendronoto Ninot Soesabdo, Yeni Fatmawati, Kadri Mohamad beserta Roni Harahap dan Lilo “KLa” Romulo. Lilo adalah co-producer album ini.
Ikut maju ke depan, pada kesempatan berikutnya adalah, Fadhil Indra dan Hayunaji mewakili kelompok Atmosfera dan Discus, yang mengisi album ini. Juga memberi komentar khusus, Yovie Widianto dan Once Mekel. Selain presentasi singkat dari Ayip Budiman, sebagai art director yang menangani sampul album ini.
Acara tersebut dihadiri sekitar 150 undangan, yang terdiri dari wartawan dari berbagai media cetak, online dan televisi. Selain itu juga sebagian undangan lain seperti Fahmi Idris, Doddy Sukasah, Erros Djarot. Termasuk pula para penggemar musik prog-rock, tentunya.


Yang menarik, Fahmi Idris ada diantara nama yang bersedia menjadi bagian dari crowd-fund album ini. Begitulah, ketiga lawyer dengan nama YenNitots-Journey itu, memang menjaring dana sebagai bentuk kepedulian, dari berbagai kalangan. Lintas usia, jabatan, bahkan lintas partai! Maka ada nama lain seperti Tantowi Yahya, Wimar Witoelar, Hotman Paris Hutapea, Pramono Anung bahkan hingga, Fadli Zon!
Album Indonesia Maharddhika diedarkan oleh Demajors dan memuat selengkapnya, ‘Haruskah Aku Berlari’ dibawakan oleh Cockpit, ‘’Free Your Mind’ (The Miracle), ‘Srikandi’ (The Kadri Jimmo, feat.Once dan Addie MS with City of Prague Philharmonic Orchesta), ‘The Machine’ (Discus), ‘Prophecy of Jayabaya’ (Van Java), pada CD – 1.
Lalu di CD – 2 ada, ‘Simponi Indonesia, Rock Opera Adegan I (Krisis Budaya)’ oleh Imanissimo feat. Andy /rif dan Kadri Mohamad, ‘Jakarta (Jet Black City)’ oleh Vantasma, ‘Ragu/Sibincar Layo’ (Atmosfera) dan lagu ‘Indonesia Maharddhika’ (karya Guruh Soekarnoputra dan Roni Harahap) oleh Iwan Hasan.
Semoga saja, Indonesia Maharddhika memberi arti lebih pada peranserta positif musik Indonesia, dalam mengisi kemerdekaan bangsa dan negara kita ini. Dan tentu saja semua juga berharap, semoga album fenomenal bernuansa kental prog-rock ini juga ikut menginspirasi negeri ini menjadi lebih baik, dengan presiden dan wakil presiden terpilihnya yang baru, Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
Merdeka itu Babak Baru untuk Maju..... Merdeka itu Hangat Bersahabat !(Indonesia Maharddhika) */


            

Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...