Showing posts with label DIONMOMONGANShow. Show all posts
Showing posts with label DIONMOMONGANShow. Show all posts

Saturday, February 6, 2016

Testimonial from Best Friends

Thanks for this all-Comments and Advice, from My Best-Friends!


Well, silahkan ikuti di bawah ini,beberapa komen atawa testimonial, yang ada juga saran-saran. Datang dari temen-temen baik saya, temen-temen lama. Teman-teman yang punya aktifitas masing-masing yang terus dijalani dengan penuh semangat.
Trims, mereka punya waktu untuk sedikit memberikan pendapat terhadap program video interview saya, DIONMOMONGANShow.

Saya kumpulin saja dalam satu posting ini. Sebenarnya sih, paling ideal, kalau saja ada website saya tersendiri. Quotes or Comments ini, saya upload satu demi satu ya.  Cuma kan, persoalannya sekarang, website tersebut belum juga muncul-muncul. Tunggu punya tunggu, tak ada kelanjutannya.
Gimana dong jadinya? Saya pikir-pikir, ya daripada daripada kan mendingan-mendingan....
Tak mengapalah. Maka, kan katanya, “Tak ada akar, rotanpun berguna”. Jadi beginilah jadinya.....

Terima kasih banyak juga untuk perhatiannya!





Yang Terus Bergerak....


Memahami betapa pentingnya teman adalah sangat mudah. Mengenal Dion dari seorang teman, merupakan salah satu simpul penting bagi kehidupan saya. Ketika itu di penghujung tahun 2005, dan Jakarta World Music Festival menjadi salah satu momen awal bagi kami untuk saling mengenal. Darinya, saya banyak belajar mengenai industri musik dan pertunjukan, secara teknis maupun non teknis.

Sebagai seorang guru, dia selalu memiliki cara unik untuk mencerahkan. Sebagai seorang teman, dia juga selalu meluangkan waktu bagi yang membutuhkan bantuannya. Karakteristik yang lentur dan multi talenta adalah konsep unik yang saya adopsi dan tanamkan dalam etos kerja sehari-hari. Tidak sedikit pertunjukan yang sudah kami lewati, sudah banyak pertemuan yang kami hadiri, dan tidak terhitung juga konsep demi konsep yang kami selami bersama.

Terus bergerak, adalah salah satu karakter yang saya pelajari dari kesehariannya. Karena itulah inti dari kehidupan, untuk tetap menjaga keseimbangan dengan terus bergerak. Terus berkembang merupakan sifat lain yang saya adopsi, banyak impian yang akan tercapai hanya jika kita mengembangkan diri. Dan masih banyak lagi hal penting, yang saya ketahui berkat dia.

Hingga suatu hari saya menyaksikan Dion Momongan Show, dengan kagum saya menyimpulkan ini adalah bagian proses pengembangan dirinya. Tampaknya seluruh media yang ada sudah menjadi bagian dari rekam jejaknya. Dari program pertunjukan, cetak (majalah), radio, dan talkshow ini, mungkin di masa mendatang dia akan berkembang lagi menyesuaikan kemajuan teknologi yang ada. Mungkin bisa jadi media berbasis aplikasi, hanya dialah yang tahu.

Dion Momongan Show,

Suka tidak suka, setiap orang memiliki kisah lama dan latar yang berbeda, namun tak luput dari hak untuk berubah dan memilih jalan hidup masing-masing.

Menyaksikan Dion Momongan Show mengingatkan akan fakta bahwa momentum penting dalam kehidupan seseorang seringkali menimbulkan argumentasi bagi pihak yang bisa menerima maupun sebaliknya. Namun di satu sisi itulah indahnya perbedaan dalam berpendapat. Mengetahui kisah para tamu acaranya menjadi suatu pengalaman inspiratif bagaimana mereka melewati masa-masa itu.

Jika menarik bersifat relatif, menyenangkan adalah sebuah opini untuk program ini. Karena setiap episodenya dikupas secara personal dan mendalam, namun tetap dikemas ringan dan santai. Banyak impian dan harapan yang terungkap di balik setiap kejadian. Tapi satu hal yang pasti, kita membutuhkan lebih banyak lagi program talkshow seperti ini.

*Riva Pratama












Edukatif, Informatif yang gak pernah ada....

DIONMOMONGANShow @ iCanStudioLive menurut ue adalah suatu program talkshow berbeda. Terasa edukatif, informatif, yang gak pernah ada yang kayak gini selama ini.
Membahas serius tapi santai soal musik, dan apa saja sehingga kita jadi lebih tahu perjalanan bermusik seseorang.
Saling menyambung pada masanya, membuat kita jadi bisa nyengir sendiri.
Sukses terus!

*Kadri Mohamad







Bro Dion Momongan di Mata Saya

Sepanjang karir jurnalistik saya, yang bermula di awal 90-an,  saya mengenal Gideon Momongan atau biasa saya panggil dengan Bro Dion.  Kami kerap bertemu di lapangan, dalam berbagai liputan  pertunjukan musik.  Saat itu,  saya hanya reporter baru di Majalah Vista, sementara ia  sudah ternama sebagai fotografer dari Majalah Pertiwi.
Perjalanan nasib kemudian membawa saya bergabung satu atap dengan Bro Dion dalam majalah NewsMusik yang dikomando Mas Bens Leo (1999-2004). Saat itu, saya menemukan kepandaian Bro Dion makin berkembang. Ia ternyata telah melebarkan sayap juga menjadi penulis musik. 
Di luar itu, dengan gerakan “gerilya”,  Bro Dion juga mulai dikenal menjadi kreator panggung untuk sejumlah panggung jazz, antara lain  untuk dua nama musisi yang sangat dekat dengannya :  Budjana dan Bintang Indrianto.  Ia saya lihat membuat konsep ---meski untuk skala penonton ratusan orang--- yang dikemas dengan cara  “berbeda”.  Ia juga ikut menemukan sponsor bahkan menyutradarai panggungnya.
Sebagai  penulis (dan juga tetap) fotografer, hubungan perkawanannya dengan banyak musisi Indonesia baik dari genre pop, jazz, rock, reggae  (minus dangdut)  era 1970 – 2000 terjalin bagus. Ia  bisa menjaga jarak, saat berperan sebagai teman,  namun tetap kritis sebagai jurnalis.
Memiliki kedekatan pertemanan dengan banyak nama tenar, membuat Bro Dion sebetulnya sangat banyak tahu kehidupan pribadi orang-orang di likungannya, termasuk segala rahasia kehidupan pribadi mereka yang tersembunyi dari incaran pers. 
Namun, meski memiliki pengetahuan  lengkap dan akurat, Bro Dion tidak  pernah terseret arus masuk ke arena penulisan gosip dan menyebarkan data yang diketahuinya. Padahal, era tulisan gosip  sudah marak sebelum  tahun 2000  di mulai.
Pandai menjaga  diri dan tak pandai bergosip untuk dipublikasikan ini pula yang membuat hubungannya dengan banyak musisi terhitung langgeng. Seingat saya, tak ada aib pribadi orang tenar yang dikenalnya secara terang-terangan ditebarnya dalam tulisan.
Bro Dion  yang hari ini saya kenal, telah berkembang  lebih pesat. Ia  terus menulis, dengan pola tulisan berbuih-buih dan  panjang.  Ia juga “cerewet” di twitter.
Via twiiter pula, pendukung fanatik Jokowi  ini, banyak menyuarakan kritik  pribadi pada lembaga pemerintah maupun perorangan. Twet itu dikemas dengan bahasa bersayap, yang buat orang lain mungkin masih menerka-nerka arah tujuannya, namun buat saya sangat terang dan terbaca.
Bro Dion juga masih tetap memotret dengan konsep foto yang bercerita. Ia  juga terus menjadi kreator di balik beberapa panggung pertunjukan musik.
Yang   menarik, di tengah masa ini, ia  sempat menjadi penyiar radio Lite FM untuk sebuah program talk show.Kini,Bro Dion malah berkembang memiliki program televisi yang ditayangkan via YouTube.
Well, hidup memang terus berputar dan  berkembang, Bro Dion  menjalaninya dengan sempurna, lengkap dengan jatuh bangunnya.  Salut Bro...! Di tunggu langkah langkah   cemerlang selanjutnya. 
*Nini Sunny






Chemistry-nya terbangun dengan baik


Menonton Dion Momongan Show itu seperti sedang bercengkerama dengan kawan dekat. Hangat, karib, tanpa jarak, mengalir. Kita bak merasa sedang berada di ruangan yang sama dengan Dion dengan para narasumbernya. 

Menonton Dion Momongan Show tidak seperti menonton talk show di televisi nasional yang kerap kali skenarionya amat terasa diatur ketat yang berujung pada kesan kaku—bahkan ketawa sang pembawa acara bersama audiensnya pun kadang terasa kurang ikhlas.

Kian menarik adalah ketika pilihan para nara sumbernya yang bisa dibilang relatif “murtad” terhadap selera mainstream. Sepertinya Dion memang sengaja memilih orang-orang yang diwawancarainya adalah sohib-sohibnya sendiri. Ini justru permulaan yang bagus sebab chemistry-nya terbangun dengan baik. Pembicaraan jadi berlangsung dinamis dan lepas, layaknya sahabat satu ngobrol dengan sahabat lainnya. Kita, penonton, bagai dituntun dengan baik, tanpa paksaan, dalam mengenal sosok the singing lawyer macam Kadri, misalnya. Siapa sih Kadri? Kok dia penting diketahui keberadaannya? …Oh, oke oke, setuju, setuju.

Bonus lain: estetika videografi juga terjaga. Pengambilan gambar serta hasilnya tersimak tetap artistik. 

Walau begitu, ada satu masukan yang saya pikir penting: suara para narasumber yang di beberapa kesempatan kurang terdengar jelas. Barangkali perlu dicantolin corong suara khusus bagi masing-masing narasumbe agar kedekatan kian ramah terbangun.

Salut yang tinggi. Mari bersulang!

*Rudolf Dethu











Ini semua adalah sumber 'archive' database yang sangat berharga ...


Talkshow seperti bang Dion ini harus ada. Udah kelamaan nunggu sih sebetulnya. Setelah 17 tahun lebih gw tinggal di Indonesia & berharap, tetap aja liputan yang beneran informatif & mendalam dari pelaku industri musik jarang ada. Nggak ada media yang jelas konsisten menyajikan itu. Kalo pun ada di majalah tertentu tetap aja masih terbatas. Itu pun gw lebih sering nggak puas dengan apa yang disajikan.
Pada umumnya gw merasa konten media hiburan di sini terlalu dangkal. Mau itu karena masyarakat Indonesia kononnya memang dangkal, cuma suka yang ringan ringan aja dan males membaca atau memang para pelaku media juga kurang berbobot. Ini bisa diperdebatkan tapi yang lebih dibutuhkan adalah solusi solusi nya.
Soalnya pangsa pasar itu nggak bisa juga di sama ratakan dan terlalu disederhanakan. Pun orang kita emang rata ratanya pada males membaca dan nggak tertarik dengan yang mendalam, lha lalu bagaimana dengan mereka yang suka membaca atau butuh informasi yang lebih mendalam? Bagaimana dengan mereka yang butuh konten yang lebih berkualitas?

Harus diingat bahwa dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta orang, jumlah minoritas yang hanya sekedar 1% itu tetap 2,5 juta orang loh.. Bukan sedikit. Ini penyakit paling besar di Indonesia dalam bisnis apapun, termasuk di dalamnya adalah, musik. Kebutuhan niche market (ceruk pangsa pasar) nggak digubris dan kurang dipedulikan oleh pelaku bisnis padahal niche market itu sebetulnya sangat signifikan. Rock dan metal adalah salah satu contoh dimana para musisi & komunitas akhirnya mengambil tindakan sendiri dan menggerakkan motor industri musik ini secara independant.

Faktanya adalah ternyata banyak sekali yang sangat suka dengan musik keras ini yang di mata industri mainstream konon nggak jelas pangsa pasarnya, sulit ditembus atau kecil. Itu adalah alasan yang mereka sering argumentasikan ke gw sedangkan mereka sendiri nggak pernah benar benar mencoba. Sekiranya pun mencoba terlalu banyak yang diutak atik sehingga produknya bukan lagi untuk niche market yang dituju melainkan tetap dipaksakan ke masyarakat awam mayoritas. Alhasil hampir semuanya gagal. Mereka bahkan nggak pernah melakukan market research untuk mendukung klaim mereka tsb dan ironisnya lebih sering juga gagal di pangsa pasar awam, tapi berani mengatas namakan selera semua orang.
Sebuah 'business opportunity & creative loss" yang luar biasa besarnya mengingat sekiranya hanya 1 juta orang saja yang suka itu kan tetap mewakili daya beli pasar yang tidak kecil. Belum lagi musisi/anak band yang potensi nya nggak tersalurkan gara gara paradigma konyol tsb. Di media hiburan juga begini. Kalo katalisator nya nggak berfungsi, gimana kita mau maju?

Nah informasi, pengalaman, sejarah, penjelasan, cara pandang, ide ide beserta kisah kisah yang mendalam dari para narasumber pelaku musik, punya peran yang sangat besar dalam perkembangan industri, kualitas musisi, kualitas hasil kreatif maupun arah industri itu sendiri. Di luar negeri banyak musisi, penulis lagu, produser dll yang akhirnya berhasil bahkan menjadi inovator di industri itu berangkatnya bukan hanya dari mendengar dan mengulik musik yang jadi inspirasi mereka, tapi juga dari membaca dan mengerti cara fikir, pengalaman maupun sejarah idola idola mereka.

Menjadi bagian kritis yang membentuk perkembangan mereka. Dari situ lah mereka berdiri dan akhirnya bisa menghasilkan karya karya keren bahkan yang brilian dan bisa merubah industri. Bukan dari gosip di infotainmen atau cerita dangkal seupil yang ada di media media sini. Namun siapa yang mau menjadi bagian dari solusi ini? Disini lah peran seorang bang Dion en team nya iCan Studio Live sangat dibutuhkan. Mirip seperti di skena metal, ketika media mainstream nggak menanggapi kebutuhan tsb, talkshow bang Dion Momongan hadir untuk mengisi kekosongan ini.
Sekiranya orang kita memang males membaca ya mereka tinggal nonton aja. Nggak ribet dan berat kan. Media informatif seperti  ini bisa ditonton siapa saja yang tertarik dengan format tanya jawab dan ngobrol yang nyantai dan lepas. Nara sumbernya pun dari berbagai lapisan pelaku industri yang dipandu Bang Dion dengan asik sambil memancing pembicaraan yang mendalam dan padat. 

Tapi bagi mereka yang punya kepentingan, misalnya musisi pemula atau yang sedang merintis karir, pelajaran, informasi atau inspirasi yang mereka dapatkan pastinya sangat berharga dan membantu. Mereka belum tentu bisa ketemu langsung dengan para nara sumber yang tampil.
Dari membaca belum tentu semua yang diucapkan akan ditulis dan diterbitkan. Suasana nyantai nya pun membuat mereka bisa bicara apa adanya. Lebih candid dan jujur. Kadang dengan cerita dan informasi yang belum diketahui publik sebelumnya. Ini semua adalah sumber 'archive' database yang sangat berharga apalagi dari sisi sejarah musik yang nggak tertulis. Ditengah kondisi Indonesia seperti ini talkshow seperti bang Dion harus didukung terus supaya bisa berkembang.

*Ezra Simanjuntak












Thursday, February 4, 2016

LIGRO: Merilis Kamus



Seberapa gilanya kah mereka bertiga? Masak gila, kayaknya kehidupan sehari-hari mereka terlihat lurus-lurus saja. Mungkin dalam bermusik? Tapi hanya bertiga lho. Kenapa hanya bertiga? Tapi di situlah, yang bikin saya aja kesengsem berats dengan bebunyian musik mereka.
Bertiga itu, yang penting, bunyi barengnya enak. Sehati dan satu visi. Saling menghargai. Saling menghormati. Dan ketiganya saling dapat memberi apresiasi satu sama lain. Kalau buat saya sih, menyangkut mereka bertiga, mereka satu sama lain tuh nge-klik, dalam melakukan transfer enerji. Spiritual?
Spritual banget sih ga lah. Walau bassisnya banyak sekali yang mengira seorang pandita atau pendeta. Atau, jago kungfu? Gitarisnya kalem, “daddish”, rokok tak terputus. Drummer, supel mudah bergaul dan hangat menyambut sapaan orang. Lha, mana kegilaannya?
Ya memang, mereka ga gila banget. Tidak juga gila beneran. Walau nama mereka Orgil. Eh, dieja balik. Jadinya, Ligro. Bagus juga ya sebagai nama band. Yang pasti, orang lantas akan tanya, penasaranlah ceritanya, artinya apa sih? Ternyata nama pemberian salah satu musisi sahabat mereka itu, artinya ya kalau dibalik itu tadi, orgil alias orang gila!
Dan syukurlah tidak gila. Walau kalau musiknya bisa membuat gila pendengar atau penontonnya? Nah pengalaman saya pribadi begini. Waktu dengar demo rekaman dari, Agam Hamzah, gitaris bersama Adi Darmawan, bassis. Demo rekaman itu, masih bersama drummer lain. Kebetulan pemilik studio, dimana mereka merekam hasil workshop mereka bertiga, saat itu. Di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan. Saya cuma geleng-geleng kepala dan memang sempat bilang, “Ah gila!”
Sort of expression, karena terperanjat kali ya? Atau terkejutlah. Ini musiknya nyetrum amat sih. Ada bekas-bekas warna 80-an, fusion dengan jazz rock, tight, spiritful, powerful. Ga sampai Full-AC and Reclyning Seats sih. Bukan bis malem kaleeeee. Itulah pertemuan saya di rumah sekaligus studio rekaman drummer, Gilang Ramadhan.
Di situ, yang saya ingat, sempatlah membahas musik mereka. Asli jack, menggoda betul saya untuk mendiskusikan musik mereka.Kasarnya sih gini, eh musik elo itu maunya kemana? Merekaantusias membalasnya. Makdarit, timbul diskusi yang sehat dan segar. Untuk saya, memperluas wawasan dan pengetahuan saya.
Yak, waktu itu belum bernama. Baru sebatas proyek musik yang direncanakan akan diseriusin. Just trio saja. Apa ya namanya, Gilang Ramadhan Trio, kalau tak salah. Saya pernah mengajak mereka perform di sebuah festival jazz kecil yang saya bikin di venue yang saat itu kebetulan ikut saya kelola, di bilangan Bintaro juga. Itu awal 2000.
Dalam perjalanannya, Adi dan Agam lantas terasa saling terikat batin mereka. Susah dilepaskan. Tak bisa ke lain hati. Aha! Cuma persoalannya, Gilang Ramadhan juga sibuk betul, job musik lainnya bejibun mek. So,Adi dan Agam meneruskan perjalanan konsep bermusik trio mereka. Gilang lantas memberi restu. Maka berdua, sempat menjajal bermain dengan beberapa drummer, bergantianlah.
Sampai pada akhirnya, di tahun 2004, mereka bertemu dengan Gusti Hendy. Drummer enerjik yang relatif muda itu, saat itu adalah session drummer. Band tetapnya antara lain, Big City Blues. Belum masuk formasi grup pop rock ternama, GIGI. Hendy senang diajak main bareng, antusias. Segimana antusiasnya, gimana pula proses kenalan mereka, silahkanlah tonton dan dengar obrolan saya dengan mereka di video.
Oh ya, yang rada bikin terkaget-kaget juga, eh lucunya mereka juga baru menyadarinya. Ada beberapa kali, saya memanggungkan mereka. Memberi mereka kesempatan main, di beberapa acara, yang saya ikut tangani. Baik dengan drummer lain, semisal ada Sandy Winarta. Sampai dengan era dengan Hendy.
Ya soalnya, mereka bisa bikin saya macam orgasme saja. Walah! Puas gitu lho. Puas tapi jadi serta merta tak puas. Coba bayangin, 2, 3 lalu 5, 6 lagu mereka. Menonton, menikmati, terpesona. Terbawa suasana. Semangat mereka tuh menular ke saya yang menyaksikan mereka dengan antusiasme tinggi. Eh lagi enak-enaknya menikmati, ok sekian dan terimakasih sampai bertemu lagi dengan kami....   Ealaaaa, udah lagu terakhir aja!
Mereka sudah merilis 3 album. Semua kamus  Kamus bahasa Ligro ke Indonesia? Soalnya judulnya, Dictionary. Ya Part 1, 2 and 3. Mulai dari 2009. Terbaru adalah Dictionary 3 di tahun 2015 ini, 3 tahun setelah Part 2 nya dirilis. Malah sekarang sudah dirilis dan disebarluaskan oleh label indie internasional, MoonJune Records. Musik jazz rock powerful mereka, konon kabarnya mampu menyengat kuping penggemar musik jazz rock, termasuk progressive fusion internasional.
Mendengarkan musik mereka, lewat cd misalnya. Apalagi menyaksikan aksi panggung mereka secara langsung, seperti kita dialiri suplemen penambah darah dan tenaga. Multi vitamin. Less sugar. Sehat dan segar jadinya. Lebih dari secangkir kopi pahit. Membuat kita, eh saya sih sebenarnya, jadi terjaga dan bersemangat menatap hidup. Taela!
Tapi saya yakin, tidak sebatas saya doang kok, yang merasa bahwa musik Ligro membuat saya terjaga, dan seolah bernafas dengan lega dan optimisme melihat hari depan. Pasti ada banyak dan makin banyak orang lain, para penggemar musik, yang merasakan hal yang sama. Mereka itu tak hanya akrobatik dalam keketatan rhythm musik mereka, dengan membunyikan musik mereka menderu-deru. Bagus untuk penyemangat bila mau terjun ke medan laga dong?
Mereka meyakini, bahwa mereka memang sadar musik mereka adalah musik panggung. Enerji mereka juga pecah saat main di panggung. Ribet dan njelimet  ga? Saran saya sih, kalau misal lagi stres berat, mungkin rada berat mencerna musik mereka. Eh tapi bisa jadi, justru bagi sebagian orang, musik mereka justru obat untuk menekan stres? Ah, terserah anda sajalah.
Buat Agam, yang diiyakan oleh Adi, kalau mereka bisa lebih sering tampil di atas panggung, pada acara-acara yang tepat. Saat itulah mereka berpotensi meraih penggemar lebih banyak lagi. Ga usah terlalu muluk, banyak main di luar negeri alias go internasional. Karena pasar musik di tanah air sendiri juga relatif besar dan “menyenangkan”. Dikenal dan memiliki fans di negeri sendiri, pasti juga menggembirakan dan menyemangati mereka bermusik.
Hendy juga menyetujui akan pendapat kedua kakaknya itu. Dengan banyak tampil di tanah air, mereka juga bisa sekalian jualan album mereka secara langsung. Direct selling yang kayaknya potensial. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampauilah. Tak perlu sampai 4, apalagi 5 pulau....
Musik berat atau rumit, sangat subjektif sifatnya. Cuma memang musik seramai, seriuh, se-bertenaga a la Ligro, ga begitu banyak terdengar di tanah air. Kurun waktu lama, untuk mendengar lagi bentuk olahan musik berdasar pada apa yang disebut jazz rock ini. Powerful fusion jazz mereka, dengan kekentalan suasana rock, menghadirkan atmosfir penuh semangat yang terasa jadi unik dan menarik.
Pada video obrolan dengan mereka, sempat pula mereka menyelipkan permainan powerful music mereka itu. Ya, kalau belum mengenal mereka, silahkan nikmati sebagai perkenalan terawal. Jangan kaget, kalau ada yang langsung keplek-keplek, kepincut dan...nempel di hati dan otak.

Well begitulah kelompok tiga-kepala yang penuh vitalitas dan enerji itu. Saya tentu saja mengucapkan terimakasih dan penghargaan tinggi, atas kesediaan mereka menjadi tamu di program video interview saya. Selanjutnya, good luck, dude! Semoga makin sukses dan tambah sukses lagi!
*/DM



 Check out the video on Youtube






Arry Syaff, Tony Wenas, Kadri Mohamad: Enerji 1980-an yang Terjaga Dengan Baik



1980-an katanya adalah era dimana musik industri lebih menguasai pasar. Sementara 1970-an adalah era idealisme terpacu, termotivasi untuk lahir terus menerus dari mana-mana. Era industri, bahwa unsur musik itu bunyiannya harus mempunyai porsi kompromistis, dengan selera lebih banyak orang. Sementara era idealisme itu, bebas menjejejali publik dengan aneka macam kreatifitas musik, berangkat dari apa yang murni ingin dimainkan para grup band, penyanyi atau musisi.
Di tanah air juga terasa adanya pengaruh dari pandangan kritikus musik barat. Jadi di 1980-an, memang kaum industrialis musik mulai punya suara yang lebih, mereka mulai merasa dapat lebih mengenal selera pasar. Itu untuk materi album rekaman ya. Kalau di panggung, suasana agak berbeda.
Banyak bermunculan grup-grup musik, termasuk penyanyi dan musisinya, yang sangat berkiblat dengan barat. Muncullah satu demi satu grup band,yang seolah menjadi foto-copy an dengan sadar, grup-grup tenar luar negeri. Misal Solid 80 yang menjadi Queen-nya Indonesia. Cockpit, yang memilih Genesis menjadi kiblat utama. Ada lainnya, Makara misalnya. Yang agak lebih bebas, tapi membatasi diri pada aroma kental bener art rock, yang belakangan lebih dikenal sebagai progressive rock
Selain nama di atas, ada banyak lainnya. Bharata Band harus disebut. Second Smile, Jet Liar, Power Metal, Seedz, Punk Modern Band, Cikini Stone Complex, Mat Bitel ataupun termasuk Acid Speed Band. Itu hanya sebagian kecil kelompok rock era 1980-an di sekitar ibukota dan Bandung, yang muncul sebagai “plagiator” kelompok rock luar negeri.
Bahkan termasuk God Bless, grup yang sebenarnya sudah muncul dan tampil garang di sebelum pertengahan 70-an. God Bless saja, masuk di 1980-an, era mereka seperti lahir kembali, sempat menjadi band pembawa lagu-lagu hits yang rock, dari kelompok rock ternama barat. Trend itu juga menjangkiti sikon rock di kota-kota lainnya.
Pada era itulah muncullah Tony Wenas misalnya. Lewat grup sekolahannya, SMA, dimana tampil dengan tiga keyboardist sekaligus! Dari grup SMA Kanisus, kampiun di sebuah festival rock antar SMA se Jakarta di awal 1980-an, Tony lalu membentuk Solid 80 bersama teman-temannya sekampus di Universitas Indonesia. Seorang Kadri Mohamad juga begitu adanya. Ia lantas lebih dikenal sebagai tandemnya, jadi berduet sebagai frontline dari grup rck, Makara.
Sebelumnya Kadri, seperti juga Tony Wenas, sempat mengenyam permainan musik lain. Jazz rock misalnya. Lalu seorang Arry Syarif, dia ilang, dia penonton dan fansnya Solid 80 dan Makara sebenarnya. Oh era Arry agak sedikit “lebih mudaan”. Tapi Arry sudah bermusik juga, sebagai vokalis tentunya, memainkan juga musik rock.
Pada perjalanan kemudian, Tony terbilang yang paling aktif. Luar biasa aktif malah. Banyak grup band didukungnya, ataupun dibentuknya. Antara lain,saat Fariz RM mengajaknya masuk formasi Symphony. Lalu membentuk Shagy, NoDaddy’s Gank kemudian apa lagi ya, Nuclear Band. Belum lagi, proyek solonya. Kadri, sempat cabut, hilang dari tanah air. Ia melanjutkan studi kuliah hukumnya di negeri Paman Sam.
Arry Syaff sempat menjadi vokalis dari grup bentukannya gitaris, Aria Baron. Lalu Arry lantas menjadi dikenal luas ketika menjadi vokalis Cockpit Band.Ia mengisi posisi vokal, yang sebelumnya diisi Freddy Tamaela. Freddy sayang,meninggal dunia pada 1990.
Peran mereka yang menurut saya menrik itu, yang membuat saya mengundang mereka menjadi tamu saya. Paling menarik adalah, mereka bertiga berangkat dari sekolahan, SMA.Kemudian kuliah. Semua sambil tetapterus bermusik. Dan hingga sekarang nih, ketiganya tetap bermusik terus.Padahal mereka juga punya karir penting lain. Ketiga sarjana hukum ini, karirnya masing-masing. Lalu, mana yang mereka pilih?
Ketiganya hanya tertawa lebar. Pilih mana Ton, jadi kibordis dan penyanyi macam-macam musik 80-an atau berkarir sebagai salah satu petinggi penting di perusahaan terkemuka, Riau Andalan Pulp & Paper, di Pekanbaru? Edan pertanyaan itu. Pusinglah kepala Tony untuk mejawab secara jelas dan pasti. Atau begitupun halnya dengan Kadri Mohamad. Pilih mana, jadi lawyer dengan firma hukumnya sendiri, atau menyanyi? Pertanyaan yang lantas jadi kayak, aduh standar amat sih...
Sama juga dengan apa yang dijalani seorang Arry Syarif saat ini. Ya lawyer ya penyanyi. Ketiganya sukup sibuk di karirnya, di kantornya masing-masing. Tapi toh, hingga saat ini, semuanya bisa menjalankan dua dunianya dengan relatif baik.
Tony, malah ikut mendukung event organizer, atau sering bertindak pula sebagai promotor musik. Menggelar acara-acara konser rock di kafe-kafe. Kadri, menjadi produser atau produser eksekutif beberapa album rekaman, selain memiliki grup band sendiri yang tengah berjalan saat ini.
Sementara Arry, ya setali tiga uang. Tidaklah beda jauh. Konsultan, advisor setelah sebelumnya sempat mengecap karir di sebuah stasiun televisi swasta nasional. Perjalanannya menjadi penasehat hukum, barengan dengan karir musiknya. Ia antara lain juga sempat berkongsi dengan gitaris dan produser sekalian penulis lagu, Viky Sianipar, dalam memproduksi beberapa album rekaman. Selain itu, mendukung pula, beberapa pementasan rock, terutama di kafe-kafe.
Kagak ade matinye dah! Mana ada capeknya mereka bertiga. Tapi kan jadi penasaran pengen tahu dong. Gimana bagi waktunya? Apa sih pendapat mereka terhadap kenyataan, mereka hidup macam di dua dunia sekian waktu?
Boleh ga nanya, prospek penegakan hukum di Indonesia kita, paska pilpres yang terpanas, tahun silam? Ah sudahlah, jangan kelewat berat pertanyaannya. Kan presiden terpilih nya sudah ada, dan tengah bekerja keras dengan didukung kabinet pilihannya? Lebih asyik masyuk, kalau ngobrol seru, soal musik ya?
Mereka bertiga datang memenuhi undangan saya, dengan semangat betul. Datang masing-masing, di waktu yang telah disepakati kita bareng. Dan spontan juga, ketiganya “iseng” bermusik bareng. Tony nyanyi dan main piano. Kadri dan Arry menimpali suara Tony. Koor spontan mereka, kalau saja dikasih waktu luang lebih lebar, bisa-bisa kayak udah muter dan dengerin cd kompilasi 80’s Rock Hits!
Keceriaan sambil mengingat-ingat masa lalu, menjadi suasana yang sungguh meramaikan obrolan kita bertiga itu. Mereka udah kemana-mana lho. Dan obrolan itu, seperti juga memutar ulang, film-film bertema musik yang populer di era 1980-an. Atawa, seperti membuka lagi album-album foto lawas, majalah-majalah musik masa lalu.
Dan saya ingat juga, waktu Tony menang dengan grup SMA Kanisius nya, sayaada di antara penonton final festival itu di Balai Sidang Senayan! Ya, time flies, peoples! Tapi mereka toh tetap saja eksis. Tetap berdiri cukup tegak, di dunia musik. Ada banyak cerita lain, semua beraroma nostalgia. Silahkan simak dan tonton aja video obrolannya.
Dan last but not least, trims bro karena sudah menyediakan waktu untuk menjadi tamu program video interview saya. Sukses selalu semua, di dunianya masing-masing!
*/DM



Check out the video on Youtube

Didit Saad dan Aray Daulay: Persahabatan 90-an



Keduanya memang lengket betul sebagai sahabat. Sahabat sejatikah? Mungkin begitulah model kesejatian persahabatan. Ahmad Farid, kelahiran Jakarta 11 Maret 1073. Pas harinya supersemar dong? Kemudian Aray Daulay, kelahiran Jakarta pada 4 November. Dengan tahunnya? Ia pernah jawab sambil tertawa, “Kasih tau ga yaaa...”
Mereka berteman sejak sekitar pertengahan 1990-an. Mulai dengan Plastik. Ini sebuah kelompok rock, ada yang menyebutnya rock n roll, ada yang menyebutnya alternative rock. Apapunlah. Dalam obrolan dalam video, malah Ahmad Farid bilang, dia sebenarnya ga kepikiran bikin band. Lho? Ya nonton dan dengerin aja deh.
Adalah gang Potlot, yang kesohor sebagai markas besarnya Slank itu, dengan Pulau Biru-nya, yang menjadi titik terawal perkenalan mereka berdua. Keduanya memang bisa dibilang, terhitung generasi terawal kaum musik dalam “Ring-1” nya Slank.
Oh ya, Ahmad Farid itu, nama dalam KTP-nya Didit Saad. Kalau Aray, ya begitulah nama KTP-nya. Nah, kembali ke Plastik. Seperti yang telah diketahui, Plastik dikenal sempat merilis album Plastik (selftitled) di tahun 1995. Disusul Insting Psiko dan Harmoni, pada 2 tahun kemudian. Lantas Dengarkan Pada Saat Tenang, diedarkan pada 1999. Selepas itu, mereka .... klaar! Selesai! Selamanya?
Plastik dulu adalah Didiet Saad (gitar), Aray Daulay (gitar), Alex Du (bass), Iman (drums). Vokalisnya, Ipang Lazuardi. Agaknya kurang begitu jelas banget, apakah Plastik memang selesai dan tamat sampai situ saja. Soalnya gini, kalau ditanyain ke Didit dan Aray, juga Ipang, mereka hanya tersenyum lebar. Pokoknya, sulit didapat jawaban konkritlah gitu. Setelah Plastik itu berhenti, mereka tercerai berai.
Didit misalnya sibuk dengan Potret selain solo album Melly Goeslaw. Ia juga sempat memproduseri solo albumnya Ipang Lazuardi. Selanjutnya, ia juga menjadi produser, sekaligus gitaris dan membantu penulisan lagu, dalam album-album rekamannya Syaharani. Selain itu, di pertengahan 2000-an, ia sempat bergabung dengan kelompok eVo.
Menurut keduanya, mereka memang sibuk masing-masing, pada beberapa saat jadi jarang bertemu. Tapi pershabatan tetap saja. Aray mengatakan, kontak-kontak via telephone tetap terjadi, atau saling berkunjung. Cuma memang, belum lagi ketemu di sebuah proyek rekaman bareng. Aray sendiri, sempat pula ikut membentuk Steven & The Coconut Trees.
Ya begitulah.ada waktu, dimana berkumpul, kerja bareng. Tapi ada waktu, berjalan sendiri-sendiri. Tapi saya melihatnya, mereka secara batin itu, seperti terikat satu sama lain. Sulit dipisahkan keduanya. Apalagi, mereka berdua tinggalnya masih di satu lokasi, cukup berdekatan, di kawasan Bintaro.
Karena itulah, saya yang memang berasa kenal dekat dengan mereka berdua, akhirnya mengundang mereka menjadi tamu saya di program video interview ini. Soalnya juga, kita bertiga belakangan sering berkunjung, ngumpul. Kebetulan memang rumah saya dengan Aray dan Didit, tidaklah terlalu berjauhan. Sama-sama anggota Robin (Rombongan Bintaro)!
Mereka berdua, karena namanya teman dekat, ya begitu saya undang jawabannya siap dan ok, ga lama keluar dari mereka berdua. Dan jadilah, Aray Daulay serta Didit Saad menjadi tamu pertama, atau terawal dari program video interview saya, yang bertajuk, DIONMOMONGAN Show ini. Wah seneng banget tentunya, ketika mereka berdua bersedia menjadi tamu perdana saya. Lebih girang hati ini, ketika mereka memang datang, barengan semobil, pas di hari yang dijanjikan. Thanks a lot, brothers!

Ok, balik ke mereka berdua. Persahabatannya maksudnya. Akhirnya, mereka berkumpul lagi. Adalah album Ray D’Sky yang mempersatukan lagi mereka berdua. Juga ikut didukung Ipang Lazuardi, sebagai bintang tamu vokal.
Ray D’Sky, sebetulnya album project milik Aray. Didit membantu penuh baik sebagai produser, gitaris sampai juru rekamnya. Lalu ketika Ray D’Sky tengah memasuki tahap produksi rekaman album keduanya, Dreaming Dreams, saya “tak sengaja” memergoki mereka berdua tuh, lagi mulai ngumpulin materi untuk album band. Bandnya kali ini, kembali melibatkan Ipang Lazuardi, sebagai vokalis penuh. Lho, Plastik mau reunian nih? Ya elaaaa, mereka berdua, lagi-lagi senyam-senyum lebar doang. Tunggu tanggal mainnya aja, begitu sedikit jawaban mereka. Hadeuh!
Dreaming Dreams dirilis 2012, itu menyusul debut Ray D’Sky, Released by Reality yang diedarkan tahun 2009. Dan akhirnya, setahun kemudian jawabannya adalah Big Deal! Ini debut album kelompok rock baru mereka bertiga, memang ya bukan reunian Plastik. Tapi mereka mendirikan grup baru, Daddy’s And The Hot Tea, begitulah benderanya.
Dalam grup “bapak-bapak yang doyan teh panas” ini, mereka bertiga didukung Morris Orah, drummer yang di “impor” dari Bali. Sementara bassisnya, dibantu Achmad Octaviansyah atau dikenal sebagai, Vian. Lihat aja,makin lengket deh, Didit sama Aray.
Dan tahun kemarin, 2014, Aray melepas lagi solo album lainnya, On The Move. Ini hasil pengembaraan Aray beberapa bulan, ketika ia menemui anak dan istrinya di sebuah kota kecil, di bagian barat Australia. Lagi-lagi, so pasti ada Didit di situ, sebut ajalah ia jadi seksi repot. Ya, seperti peran Didit di Ray D’Sky. Secara musik, konten On The Move memang beda dari Ray D’Sky. Sedikit ada bebauan Daddy’s And the Hot Tea. Tapi yang ini, lebih terasa akustik, selain bluesy dan folk. Malah rada jazzy juga.
Selanjutnya, apa lagi, bro? Mungkin ada baiknya, kita tunggu saja. Keduanya tuh sama-sama lumayan aktif dalam berkreasi musik, selalu saja intens ngumpulin materi-materi lagu. Sementara itu, Didit juga masih sibuk sebagai produser sekaligus juru rekam, dia memproduksi banyak album rekaman. Sebagian besar adalah nama-nama muda yang relatif baru. Selain tetap mendukung Syaharani, dengan grupnya saat ini, ESQIEF.
Aray, belakangan aktif terus, tampil dalam show ke show. Benderanya memang Aray Daulay, berangkat dari album On The Move itu. Iya, kali ini ia hanya memasang namanya saja, sebagai nama grupnya. Ia tetap dibantu Didit tentunya, selain drummer kembali lagi, Morris Orah. Sementara bassis, didukung oleh Rival “Pallo” Himran.
Khittahnya memang kayaknya mereka berdua, terus jalan bareng. Sempat pisah, tapi pisah hanya di proyek musik bareng. Tapi toh, mereka kembali bersekutu lagi. Sebagian besar juga didukung pula oleh, Ipang Lazuardi.
Boleh berharap, akan ada karya-karya bagus model Ray D’Sky atau Daddy’s and the Hot Tea, akan kembali lahir dari persahabatn mereka berdua ini. Rasanya sih, bukan harapan yang terlalu muluk. Gelagatnya, memang mereka kayak saling memotivasi satu sama lain gitu. Didit memompa terus semangat Aray. Begitupun Aray terus aktif meniupkan semangat berkarya Didit.
Asyik banget! Jangan bosen berkarya bareng bro. So, nikmati obrolan saya dengan mereka berdua selengkapnya. Cerita-cerita mereka berdua tuh, seru-seru. Bisa jadi, banyak cerita dari mereka, kayaknya sih belum pernah muncul di tulisan wawancara mereka berdua, di media-media lain. Percayalah.
Ah sekali lagi, terima kasih banyak sahabatku, sudah mau menjadi tamu saya. Sebenarnya, kalian berdua itu yang saling memotivasi, juga diem-diem ikut memotivasi saya. Yoi bro, lihat aja ya, program video ini kan akhirnya kejadian juga.....
*/DM




Check out the video on Youtube


Dua Generasi: Andre Dinuth dan Jubng Kristianto




Yang satu adalah, kelahiran Semarang, pada 9 April 1966. Kemudian satunya lagi, kelahiran Jakarta pada 3 Agustus 1982. Kenapa sih saya undang mereka? Tapi ah terima kasih, puji syukur, mereka berdua pas ada waktu luang, bisa mampir di iCanStudioLive. Bisa jaditamu saya. Seneng bangets jack!
Ok, pertimbangan utama saya undang mereka. Ya, tentunya, pas dong! Di lihat dari perjalanan karir musik mereka. Dan feeling saya, kayaknya asyik aja deh, kalau mereka barengan. Padahal, saya juga ga yakin betul, mereka pernah main bareng ga sih? Model kolaborasi-kolaborasian misalnya....
Ternyata, ya belum pernah! Kenal udah lama, tapi ketemuan begini, bisa ngobrol dengan dekat, dan di depan elo, baru kali ini. Begitu ucap mereka bareng! Oho. Lucu jugak! Kenapa bisa belum pernah main bareng?
Mereka cuma bilang, makanya bikinin dong acara, yang kita bisa main bareng. Eits....! Jubing Kristianto, yang kelahiran Semarang itu. Dia memulainya memang dari kota kelahirannya, lalu hijrah ke ibukota. Saya mengenalnya, lumayan lama. Sejak dia lagi sibuk-sibuknya jadi wartawan. Tentu saja, ketemu di lapangan, lagi liputan acara apa gitu. Detilnya mah lupa. Udah lama soalnya.
Kemudian Andre yang Dinuth.Dia biasa dipanggil Dinuth, bukan Andre. Kalau Dinuth, saya ketemu di kafe, lagi main tentunya. Ya main musik. Masak lagi ngelawak? Doi bukan standup comedian. Dia gabung di grup musik tertentu gitulah.
Dan saya merasa, sepakterjang mereka itu, gimana ya, penuh semangat dan...jelas! Maksudnya ada komitmen tersendiri, pada musik, dari mereka berdua masing-masing. Alhasil, mereka tetap eksis. Makin dikenal malah namanya. Walau, ini menariknya, pilihan pijakan musik mereka berdua itu satu sama lain, relatif berbeda.
Dinuth pilih performance dengan band. Base on trio, lalu biasanya mengajak perkusi, termasuk memainkan alat musik tifa. Dinuth punya grup sendiri juga saat ini. Antara lain dia kerap didukung, Adhitya Pratama, bass. Perkusi dimainkan George Tanasale, ini putra mendiang bassis funk en fusion kawakan 70-80an, Wempy Tanasale.
Untuk musiknya, Jubing pilih warna folk. Pokoknya sekitar itulah. Semacam ballad, boleh disebut begitu. Dia banyak performance sendiri.Yes, solo guitar, akustik, sendokir gitu. Dan minimalisnya itu, seger banget untuk dikonsumsi telinga... Cepat akrab buat kuping lebih banyak orang. Penguasaan gitarnya tentunya sangat baik, sehingga bebunyian yang dihasilkan petikanjari jemarinya, serta kocokan tangannya pada gitarnya itu, sedap banget!
Musik kan bunyiannya bisa datang dari mana saja. Kesederhanaan seorang Jubing, ternyata dapat melenakan kuping, hati, otak sampai sekujur tubuh, orang-orang yang mendengar dan menontonnya! Eh ini beneran. Dalam kesederhanaan musiknya Jubing, ada ketenangan dan....apa lagi? Kenyamananlah. Obat stres. Melenturkan otot-otot yang kaku juga.
Dinuth beda. Ia trampil memainkan nada-nada yang lebih ramai. Kan format band. Jadi lebih meriah. Tapi tetap nyaman juga didengerin. Ia pilih model fusion gitulah, gitarnya tentu menonjol di depan. Meracik banyak bunyian musik, lewat piranti guitar-effectnya. Dengan gitarnya yang cem-macemlah. Doi masih muda gitu, kolektor gitar juga. Yang koleksinya, kerap dibawanya main, bergantian.
Dinuth di tahun kemarin, baru merilis debut albumnya, berjudul namanya sendiri, selftitled album. Sebuah karya musik yang lantas didokumentasikan di digital dan juga CD. Ia tentunya terinspirasi Dewa Budjana dan Tohpati, yang mana adalah sahabat se-bandnya. Iya, Dinuth juga gabung dengan Six Strings.
Dalam kelompok itu ada juga Baim tdc, Aria Baron dan Eros Chandra-nya Sheila on 7. Six Strings di tahun kemarin, juga merilis album perdana. Judulnya, I Got Your Back. Dalam grup para ksatria bergitar itu, Dinuth adalah yang termuda.
Selama ini, Dinuth juga dikenal sebagai gitaris session untuk banyak proyek solo, baik rekaman maupun panggung, penyanyi ternama. Dari Glenn Fredly, Afgan, Rossa, Rio Febrian, Marcell dan lainnya. Sampaiorkestra, antara lain adalah, Erwin Gutawa Orchestra.
Jubing, banyak kali melakukan kolaborasi. Bahkan dengan seniman dari bidang budaya lain, misalnya dengan WS. Rendra dan pelukis, Susilowati Natakusumah. Ataupun dengan gitaris lain, dengan grup ataupun penyanyi. Ia juga terbilang rajin, ikut tampil dalam acara para gitaris, selain mengadakan workshop atau klinik gitar.
Becak Fantasy adalah judul debut albumnya, dirilis 2007. Ini sebuah album fenomenal. Yang bahkan masih dicari sampai hari ini. Bukan album langsung laris terjual, tapi masa edarnya kayak...tak terhingga! Disusul album kedua, setahun kemudian, Hujan Fantasy. Berikutnya adalah, albumnya bertitle Delman Fantasy, diedarkan pada 2009.
Ia memainkan kembali, tentu dengan aransemen untuk solo gitarnya, banyak lagu-lagu populer. Terutama lagu anak-anak seperti ‘Becak’ nya Bu Kasur, yang masuk di album pertama. atau ‘Hujan’ yang dari Bu Sud. Lalu ‘Delman, karya Bu Kasur. Selain lagu-lagu populer luar dan dalam negeri lainnya, termasuk lagu-lagu daerah.
Album Kaki Langit, dirilisnya di 2011, yang mengedepankan, ‘Rek Ayo Rek’ yang dipopulerkan Favourites Group, karya Is Haryanto.Atau, ‘Blackbird’-nya The Beatles, yang ditulis John Lennon dan Paul Mc Cartney. Selain itu, pada semua albumnya, Jubing juga menyelipkan karya-karya lagunya sendiri.
Album yang dihasilkan Jubing Kristianto akhirnya terkesan padat dan benr-benar untuk semua umur. Tak heran, penonton konsernya juga banyak yang keluarga. Karena seluruh anggota keluarga, dapat mengecap dan menikmati sajian lagu instrumental yang dimainkan Jubing. Ga banyak lho, album seperti itu di sini.
So, kalau melihat catatan perjalanan mereka, kan jelas ya, kenapa saya menginginkan mereka menjadi tamu saya. Akan ada banyak informasi, pengalaman yang dibagi, yang berguna untuk publik kebanyakan. Malah tak sebatas bagi para gitaris atau yang tengah mencoba menjadi gitaris. Dapat wawasan tentang gitar, tentang bagaimana memperlakukan gitar dan melihat musik, dari kedua instrumentalis atau gitaris yang beda generasi ini.
Maka tontonlah, nikmati sajaobrolan saya dengan mereka dan semoga saja memang bermanfaat.....
*/DM



 Check out the video on Youtube

Ezra Simanjuntak: Dengan Heavy Metal dari Honolulu, Melalui La Bamba!



Saya terus terang, belum terlalu lama mengenal sosok pria gondrong ikal banget, tongkrongan nan metal sejati. Tapi supel, relatif santun, optimistik. Friendly and humble. Wawasan juga eh ga sebatas rock atau metal. Bahkan lumayan luas, tak melulu hanya di musik. Dia mengaku juga senang melukis, mendesain...
Ini baca cerita dikit tentang masa kecilnya....
Gw itu sebetulnya kutu buku & scientific minded. Di umur 3 tahunan gw udah bisa baca koran. Sampai sekarang gw udah baca 2000an lebih buku. Ya sekitar 60-80an buku setiap tahun dr sejak dulu. Darah seni gw dan Eddy itu mungkin dari nyokap yang waktu masih high school jago menggambar katanya. Tapi sampai sekarang gw belum pernah liat beliau melukis.
Sebetulnya gw itu pelukis. Mulai otodidak dari umur 4 tahun. Pas umur 11-an gw udah dianggap ‘child prodigy’ sama guru-guru gw karena kemampuan gw melukis, dinilai setara dengan professional comic artist Marvel atau DC comics lho, hehehe.. Ditawarkanlah untuk publish graphic novel yang gw tulis dan gambar sendiri di usia 14 tahun. Tapi tak pernah gw terusin setelah 24 halaman, ga pede.
Nyokap marah besar tuh ke gw gara2 itu. Sampai sekarang masih bete kalo inget itu hehehe… Soalnya kalo ampe jadi saat itu gw pasti masuk Guiness Book Of World Record sebagai creator, writer & artist termuda yang menerbitkan graphic novel. Wah, tapi bro, mungkin ga jadi gitaris dong?
So ceritanya, dia memang sebetulnya rada telat mengenal musik. Sebagai kutu buku, ia menggemari banget hal di luar musik. Lihat ini, dia mengajukan beberapa aplikasi di universitas yaitu soal Physics, Bio chemistry & Architecture. Dari umur 10 tahun dia udah banyak baca tentang Fisika seperti Theory Of Relativity Einstein, String Theory dan banyak lg. Sampai sekarang dia masih hobby dan ngikutin perkembangan Theoretical Physics.
Dia masuk University of Hawaii, karena ia memang kelahiran Hawaii. Jd pengen balik ke asal deh ceritanya. Pas udah mulai kuliah dan mulai main gitar dia kok ngerasa ga nyaman di situ. Walaupun dia merasa emang juga nerd tp nerd-nerd lain yang ngambil bidang itu beda banget tampilannya. Soalnya kan doski ini udah gondrong, nyeleneh, sering pake jeans robek, sendal dan kacamata hitam dalam kelas. Bawa gitar jg melulu. Nggak nyambung sama mereka. Doi merasa sering diremehkan.
Seru kan kalo liat perjalanan hidupnya, terutama di awalnya itu? Lebih seru lagi kalau tahu, pemuda metal bernama lengkap, Ezra Luhut Simanjuntak ini berkenalan dengan gitar. Dari sisi seni sih dia berangkat dari melukis. Dia memang ga ada background music sama sekali. Di keluarga besarnya juga nggak ada. Entah kenapa ngeliat temen-temen bersenang-senang genjrang-genjreng bikin dia lantas pengen belajar main gitar. So pasti dong, temen-temennya anggap udah telat banget mulainya karena kok baru pas kuliah. Ya iseng doang sih. Nama temannya yang pertama kali ngajarin dia chords gitar itu Ishak, dia sekarang kerja di Dubai.
Ishak itu juga awal-awalnya bikin dia jadi tertarik ke rock. Lagu pertama yang kayak nantangin banget doski untuk niat kulik ampe bisa waktu itu sih ‘La Bamba’ versi Los Lobos....hehehe. Riff gitar dan solonya itu loh keren banget,  tapi chordnya cuma  C F G  ngulang2!




Shawn Mahtani, orang Hongkong yang keturunan India asli, yang pertama ngenalin Ezra ke blues dan ngajarin scale blues pentatonic. Dia ngenalin ke biangnya heavy metal kayak Led Zeppelin, Ozzy and Black Sabbath. Shawn temennya di Honolulu, waktu dia baru masuk Universitas, di apartemennya waktu itu. Tapi Shawn itu sebetulnya otodidak, dan kurang paham juga untuk ngajarin. dia cuma bisa nunjukkin 2 posisi scale blues doang.
Cuma dari Shawn lah Ezra pertama kali ngeliat improvisasi spontan blues. Doi langsung terpesona.. Itu adalah salah satu momen awal yang penting, karena dari situlah doi jadi semakin suka dengan musik dan bermain gitar. Dia juga yang lantas membuatnya berani manggung, dengan sebuah big band, ya dia juga main. Entah kenapa Ezra sih mengaku tidak nervous, padahal pegang pick gitar aja belum bisa. Main di depan ratusan orang, malah Shawn yang grogi. Eh Ezra malah jadi ketagihan lho, pengen manggung lagi...
Berikutnya, akhirnya ia lantas mengambil kursus gitar lebih serius. Bertemulah ia dengan Frank Paulino, ini muridnya Marty Friedman-nya Megadeth. Frank saat itu udah 3 kali menang sebagai best guitarist di Hawaii, salah satunya itu termasuk mengalahkan Marty di final festival gitar tahunan!
Yang paling penting dia ngebuka wawasan musiknya, memastikannya disiplin dalam menerapkan good practice habits. Jadi nggak punya kebiasan-kebiasaan jelek seperti banyak gitaris pada saat awal mulai main gitar. Itu yang sering bikin jadi sulit berkembang, dan bikin jadi lama semuanya. Dia juga menanamkan pentingnya punya ciri dan karakter sendiri karena di Amerika itu, penggemarnya kan sangat kritis. Gw hanya sempat belajar 2,5 bulan lah kira-kira dengan dia, begitu pengakuan Ezra.
Ezra yang putra dari pasangan Prof.Dr. Mangantar Simanjuntak dan Siti Hasnah. Berdarah Jerman dan Batak dari bokap dan Jawa, Betawi, Cina dari nyokapnya. Lahir tanggal 26 September di Honolulu, Hawaii. Tahun disembunyikan, biarlah tertera saja di kantor kelurahan.... Ia anak pertama dari 3 bersaudara. Adiknya yang bungsu, Namara Verdi atau Eddy, gitaris juga. Pulang ke Indonesia dari 2002, gitaris juga dan kini bermain bersamanya di Zi Factor, grup bandnya. Adiknya yang satu lainnya, Moana Oka, kini berkarir non musik di Australia.
Kedua ortu-nya itu dosen. Bokap di bidang Psychoneuro Linguistics & nyokap di bidang Library Science. Keduanya menulis buku-buku text di bidangnya yg masih dipakai di beberapa universitas di Malaysia, Brunei & Japan. Mereka ketemu di University Of Hawaii Manoa di Honolulu karena keduanya dapat beasiswa ke East West Center yg letaknya di dalam University Of Hawaii. Menikahnya ya di sana.
Lalu soal balik ke Indonesia. Nggak sengaja sebetulnya. Dia ga begitu tahu tentang Indonesia karena ortu males nyeritain, kelihatannya mereka  anti regim Soekarno dan Suharto. Makanya baru mau pindah balik ke Indonesia tahun 2000 dari tahun 1965 lho!. Yang Ezra sendiri baca tentang Indonesia di sana sih nggak ada yg bagus2 hahahaha... Kecuali sumber daya alamnya ya.
Dia mulai lebih sering mudik ke tanah air, sejak 1993. Mulailah kenal dengan beberapa musisi di sini. Termasuk dengan anak-anak di Potlot. Tapi di saat sama, ia juga punya kesibukan dengan karir musiknya, antara lain mulai menjajal menembus US, via Los Angeles. Tapi di 1995, Pay, yang masih di Slank waku itu bilang, ““Loe itu lebih dibutuhkan negara loe sendiri dibanding sama Amerika ‘zra”....
Itulah titik terpenting, dimana akhinya Ezra putuskan pulang dan berkarir musik di tanah airnya sendiri saja. Apalagi setelah, upayanya dengan musik dan grup bandnya di Los Angeles, kepetok masalah dan jadi susah untuk meneruskan usaha mereka untuk menembus pasar internasonal yang total.




Cerita panjangnya, dia sampaikan ke saya lewat cerita langsung. Selain itu, ia pernah menuliskannya sendiri. Yoih, doski ngetik panjang lebar perjalaan bermusiknya, kirim ke saya. Waktu itu saya memang pengen menulis profile panjang tentang dia, di media saya yang doeloe itu. Ceritanya bagus, berisi dan panjang banget. Wuidih, saat itu saya bilang, ini udah bisa jadi buku nih....
Ceritanya kemana-mana. Memang berisi. Rasanya berguna juga untuk di share ke publik. Ezra harus mulai serius berpikir, membuat buku. Karena, ia juga bisa menulis dengan relatif baik. Ada bakat terselubung sebagai penulis kelihatannya. Eh ini serius lho. Saya bilang langsung ke Ezra, yang bersangkutan hanya tertawa lebar. Masak sih, bang? Seriously, u must try, bro!
Ok then, makdarit, saya langsung memasukkan list tamu saya untuk meramaikan video interview saya. Seperti juga responnya waktu saya bilang, mau menulis panjang tentang dia, jawaban doski itu cepat dan antusias! Dan datanglah ia ke studio, bawa gitar. Langsung saat itu saya bilang,bisa-bisa kita take ini pada beberapa hari bro. Cerita-ceritamu banyak sekali, ga bakal bisa keluar semua, kalau take shooting nya hanya sebatas 2-3 jam!
Saat ini, ia lumayan sibuk. Dengan Zi Factor nya. Dengan keluarganya juga. Dan juga menjadi motor dari program-program rock di beberapa kafe. Dia menggerakkan semangat lewat sel-sel “kecil” kafe ke kafe. Ikut menghidupkan, menggairahkan lagi scene rock, atau metal, di tanah air. Semangat dan pergerakannya ini, yang makin membuat saya respek dan yakin, Ezra harus jadi tamu saya ih.
Silahkan saja mendengarkan, menikmati, obrolan saya di video interview dengannya. Sekali lagi, kayaknya belumlah tuntas-tas, padahal kita sudah ngobrol ngalor ngidul lebih dari 2 jam lho! Bisa jadi, kapan tempo, kita sambung lagi. Terutama juga dengan grupnya, Zi Factor. We’ll see, bro...
Terimakasih, sudah meluangkan waktu untuk datang dan menjadi tamu saya. Sukses selalu dengan segala aktifitasmu, brother Ezra! Sampai bertemu lagi. Sehats lah selalu....
*DM




Check out the video on Youtube