Reunian di JAZZ-REUNION, Edisi ke-31

Menonton. Menikmati jazz. Sambil duduk, kongkow boleh dengan teman atau teman-teman. Sendirianpun nikmat. Dengan kopi dan snacks. Atau bir. Segar. Jazz musiknya, soundnya biasanya memang harus lebih detil. Jazz kalau didengar dengan kwalitas suara “nanggung”, akan terasa  seolah makan makanan tak bergaram. Kira-kira begitu.
Dan tak terasa juga, bahwa program jazz itu sudah masuk ke kali 31. Walau saya merasa, kayaknya harusnya sudah lebih dari itu? Tapi sudahlah. Saya rasa, akhirnya program itu, telah menjadi program yang ikut menggairahkan dunia musik jazz Jakarta. Mungkin juga tanah air.
Walau namanya agak “unik”, Jazz Reunion. Konotasinya kan, harus ada “Reunian” ya ga? Grup band tertentu. Misal, Krakatau yang melakukan reuni atau kembali bersatu, yang format fusion nya itu. Harusnya main di situ dong? He he he he. Sapa tau, satu ketika, reuni dari Karimata, juga dilakukan di situ? Reunian Black Fantasy kali ya? Spirit-nya Eramono dengan Yongkie Ramelan, Tito Soemarsono, siapa tau? Reunian dari nah, Gold Guys mungkin?

Ah konsepnya “kegedean” kali ya? Karena kata Totong Wicaksono, yang mengelola tempat itu, ia dan Syarief RS sebagai pemilik, menginginkan penontonnyapun bisa reunian. Suasana reuni-reuniannya bisa lebih luas dan lebar, tak melulu grup band pengisi acara.
Tapi Totong Wicaksono sendiri, juga menggunakan tempat itu, untuk mengumpulkan kembali grup bandnya, Canizzaro. Dengan Deri Iskandar kibordis. Dan Ilyas Muhadji bass. Drummernya bergantian. Kemarin kata Totong, drummernya ya kali ini temennya Ilyas tuh, ga ada drummer yang available untuk malam ini....
Tapi Totong, Ilyas dan Deri tak memakai nama Canizzaro, hanya di awal dulu. Kini mereka sepakat menggunakan saja nama, Jazz Reunian Community (JRC) Band. Sederhana begitu saja. Tapi pada akhirnya memang, suasana reuni-an band tak bisa dielakkan. Karena toh, biar bagaimanapun, di situ ada daya tariknya juga? Setuju?
Seperti juga, tampilnya para penyanyi 70, 80-an. Sebut saja yang tampil malam itu ada bintang utama, Rien Jamain. Penyanyi yang dijadikan sebagai pembawa acara, Cici Sumiati. Muncul juga Emil S. Praja. Lantas ada juga Vonny Sumlang. Mampir juga penyanyi lain, Restu Fortuna. Pernah juga tampil menyanyi, Fariz RM, Ermy Kulit (eh kak Ermy, pernah ga sih?), Margie Segers, Jackie Bahasoean, Aska Daulika.
Bagus juga ya, kapan-kapan bisa memanggil Jopie Latul, atau siapa lagi? Hemi Pesolima, Henry Manuputty. Jadinya, para penyanyi itu melakukan reunian dengan....penggemarnya. Dengan penontonnya. Dengan suasana kafe atau clubs, ataupun pub, yang dulu adalah tempat mereka biasa secara reguler tampil.
Maka, itu jadi nilai tambah dari program jazz reunian di Reunion-Cafe, saban sebulan sekali. Menu reunian, atau “back to stage” seperti itu, rasanya, belum ditampilkan tempat yang lain. Asyikjuga. Tapi memang pilihan tak banyak alias terbatas juga. Pada akhirnya, yang saya lihat, dalam perjalanannya acara ini, jadi arena untuk tampilnya grup-grup jazz lain.

Termasuk yang muda-muda. Bagus dong, sehingga yang muda-muda dapat kesempatan lebih banyak untuk tampil. Kayak kemarin itu, ada Ricad Hutapea dengan kwartet-nya. Anak-anak muda semua. Jelas bertalenta. Ricad, adalah saxophonis muda yang makin dikenal luas saat ini. Ricad memakai kesempatan manggungnya, dengan menceritakan sendiri perjalanan bermusiknya, seperti albumnya yang akan diedarkan segera.
Selain itu ada Kadek Rihardhika. Ia tampil dengan trio-nya, bersama Adi Darmawan dan Eddy “belatung” Syakroni. Siapa Kadek? Gitaris berdarah Bali, yang sejatinya telah berkeliaran di pentas-pentas jazz dan pop sejak sekitar 1980-an. Bukan nama baru, sesungguhnya. Apalagi ia main dengan bassis dan drummer yang berjam terbang tinggi pula.
Ricad dan Kadek, memainkan karya sendiri. Orisinal. Ricad, telah menyiapkan album. Kadek baru bersiap masuk studio rekaman. Ketika mereka tampil, informasi terbilang minim, mengenai siapa mereka. Paling bagus, ada informasi sekilas tentang siapa mereka. Chit-chat sedikit dengan merka, tak ada salahnya.
Biar mereka makin dikenal. Sehingga musisi seperti mereka, memperoleh benefit lain. Bahwa mereka bisa tampil, untuk lebih dikenal oleh lebih banyak orang. Wajar saja kan, kalau mereka memperoleh kesempatan itu? Tak hanya sekedar kesempatan tampil 15 menit, 30 meit atau lebih.
Informasi yang kalau bisa diberikan, sebelum merekamain, rasanya bakal membuat penonton yang belum mengenal mereka, menjadi mulai mengenal mereka. Semoga, setelah tahu sedikit tentang mereka, penonton berkenan untuk mendengar musik mereka. Syukur-syukur bisa menikmatinya. Dan, suka! 

Saya pikir, program seperti Jazz Reunion, ada baiknya memang memberi peluang para performers, bisa dikenal luas. At least oleh audience yang ada di tempat, atau saat acara berlangsung. Hal paling mendasar bahwa, program-program begituan, biasanya mayoritas penontonnya bukanlah jazz-fans beneran.
Yoih deh, kan pasti banyak yang datang, ga suka jazz sebenarnya. Datang karena diundang teman, datang iseng karena tempatnya dekat dari rumahnya. Hayo, alasan apa lagi? Ada sih, mungkin ya, mau datang karena pengen menonton lagi Rien Jamain. Tapi seberapa banyak? Atau mau menonton dan senang-senang dengan musik rame, Latin-Jazz bernuansa montuno dari Rio Moreno? Rio Moreno tampil di ujung acara, saat hampir setengah penonton, sudah memilih pulang, kemarin malam itu.

Saya senang dengan cara seorang teman saya, Ezra Simanjuntak,mempromosikan program rutin Mingguan-nya. Rock Campus namanya. Dari promosi, vie e-flyers, ia sudah menuliskan, apa en siapa tiap performers yang akan tampil. Lumayan informasinya. Bagus jadi semacam, “perkenalan” pertama.
Ketika acara, ia menjadi host atawa MC. Ia menjelaskan, tak terlalu panjang sih, tapi cukup berfaedahlah buat penonton. Penonton di venue, lantas jadi mulai mengenal siapa performers yang akan tampil. So, lihat sisi positifnya ya? Positiflah untuk penonton, juga untuk yang akan tampil, tentunya.

Pada akhirnya, suasanalah yang akan membuat sebuah program itu, akan menarik atau tidak. Bukan melulu, penampilan band ke band, satu penyanyi ke penyanyi lain. Tidak hanya kejadian, suasana show-nya saja. Saya juga teringat akan alm. Ireng Maulana dulu, saat Sunday Jazz Club-nya misalnya, lumayan rajin juga menjelaskan secara santai, siapa yang akan tampil. Bahkan juga bila yang akan tampil, musisi senior sekalipun.
Alhasil, kenikmatan jadi bakal lebih lengkaplah gitu. Menghibur dan juga “memperkenalkan”. Ataupun, memberikan tambahaan wawasan dan pengetahuan. Hiburan lengkaplah. Udah kayak televisi aja, hiburan lengkap? Televisi kan ga doyan jazz? He he he, jadi ya bedalah, sob.
Karena sudah 31 kali juga digelar, tentu saja, asyik banget kalau ada perbaikan di sana-sini. Biar lebih bagus dan lebih ya, asyik-syiiik. Perbaiki juga soal lighting, aha saya cerewet juga soal satu ini. Kalau lighting, hanya “yang penting lebih terang dan ga gelap”, sayang aja euy. Selalu kudu inget, kalau lighting panggung keren, di foto juga jadi keren. Nah kalau disebar-sebarin, dan orang-orang bisa lihat di socmed, pasti jadi salah satu promosi bagus juga. Yang belum pernah datang, akan tergoda untuk datang, kayaknya acara ini seru nih. Panggungnya aja enak dilihat....

Sound baik, lighting bagus, apalagi ditambah makanan dan minuman yang juga nikmat. Ah, suasana jazz nya sempurna betul. Bahkan lebih dari sekedar suasana nostalgia-nostalgiaan, atau tak hanya reuni-reunian gitu.
Udah ah. Sedikit saran-saran boleh ya? Didoakan, Jazz Reunion berusia panjang, punya stamina yang tak terbatas. Bisa jadi salah satu hot-spot jazz ibukota yang penting dan jangan dilewatin begitu aja, terutama buat penggemar jazz. Etapi, buat yang ga terlalu suka jazz pun tak apa kok, malah bisa jadi bakal mulai suka jazz. /*


Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...