Gw Seneng Main Musik,Bukan Hanya Seneng Main Drums!


- Repost -

Gw kan pernah lima tahun ga di Indonesia ya, karena studi di Kuala Lumpur dan Boston, so gw ga terlalu tau lagi band-band di sini. Jadi satu ketika, gw diminta membantu ADA Band, saat itu Rama Moektio drummer mereka harus absen beberapa bulan gitulah. Main di acara PL Fair. Well, gw tau kok ADA Band, paling ga ya gw tau siapa mereka. Tapi gw ga tau seberapa populernya mereka. Gw ga jelas, kalau soal itu...
Sampailah pada hari itu, gw juga datang agak telat, waktunya sudah mepet. Aransemen yang sudah disiapin itu, pas lagu pembuka yang lagu pertama, drums main duluan. Jadi gw langsung naik, duduk di belakang set drums, gelap gulita, kan siap main. Begitu main, right I hit my drums, lalu spot ke gw, dan saat itu gw liat begitu banyak penonton berdiri dan berteriak-teriak! Ribuan penonton itu jelas nungguin ADA Band. Gw kaget banget! Gw jadi salah tingkah, bingung juga harus gimana...
Gw baru tau,memang ADA Band salah satu yang paling ditunggu penonton di acara itu. Gw belum pernah main dengan band setenar itu, waktu itu, gw kan sebelumnya main di clubs-clubs kecil dengan audience yang ga terlalu antusias dan ekspresif.
So at that moment gw bener-bener tegang dan rasanya bener-bener terintimidasi oleh penonton yang se antusias itu. Tapi untungnya gw bisa calm myself down sepanjang show, endingnya siiiih baik-baik aja, tapi itu pengalaman pertama gw maen dengan band "mainstream" dengan penonton segitu banyak.
Itu salah satu pengalaman uniknya, waktu show di sini. Menurutnya,kalau pengalaman yang lucu-lucu dan unik sebenarnya banyak banget, “Nanti deh ya, gw inget-inget lagi dan gw ceritain menyusul, bro,” Ia pun tertawa lebar. Dia emang drummer. Di kalangan musisi, dia dikenal sebagai drummer yang katanya, dapet banget kalau untuk funk dan groovy gitu. Sebagai rhythm section, dia salah satu drummer yang “paling aman”.
Sejauh ini memang, ia lebih sering main dengan bermacam-macam band. NewsMusik saja menjumpainya bermain dengan Andien misalnya, lalu Glenn Fedly. Selain itu, tampil juga mendukung band pengiring di Urban Crossover. Sebelumnya ia juga menjai drummer dengan Oni Krisnerwinto Orkestra, salah satunya adalah acara pergelaran musikal kolosal Diana, dalam rangka HUT Kompas, 4 tahun silam.
Ia juga tercatat, mendukung kelompok Parkdrive. Ia juga menjadi drummer yang “harus ada” untuk grup funk-nya Yance Manusama, Funky Thumb. Sebelumnya juga bermain dengan Tao Kombo Collective Messkeepers. Selain itu, selain show, ia juga mendukung banyak rekaman. Termasuk album dari RAN Hari Baru. Atau album OST Cinta Silver, Lovevolution, DVD Bakucakar Live at Lokananta, semuanya itu dengan Glenn Fredly. Dan banyak lainnya.
Ia adalah putra ketiga dari 3 bersaudara, dari ayah Frans Soenito dan ibu, Indira Soenito. Lahir di Jakarta pada 14 Desember 1979. Suami dari Diah Ayu Soenito, dengan putranya diberi nama Sabian Nenggala Soenito. Namanya sendiri, Rayendra Soenito.
Menurutnya, guru musik pertamanya adalah ayahnya sendiri. Ayahnya itu bisa dibilang profesional pada bidangnya, tapi penggemar musik. Ayahnya mengajarkannya bermain gitar dan bass, lalu selanjutnya juga mengajarkannya bermain dalam sebuah band.
Ia lalu mengambil kursus musik lebih serius di sekolah musik Farabi, mulai 1997 sampai 1999. Dari situ, ia cabut ke Kuala Lumpur, masuk International College of Music, selama 2 tahun dari 1999. Dari Malaysia, ia kemudian meneruskan ke Berklee College of Music, di Boston, dari 2001 sampai 2004, dengan majornya, Performance.
Drummer favenya sih banyak, tapi dia menyebut beberapa album penting, yang disukai dan memberi banyak inspirasi dalam bermusiknya. Antara lain ada album Mike Stern, Voices. Lalu Uber Jam nya John Scofield, Scenes from My Life dari Richard Bona. Ia juga suka, Club Nocturne-nya Yellow Jackets, Mercury Falling nya Sting. Cewbeagappic dari Beady Belle, Tanto Tempo dari Bebel Gilberto. Serta juga, Pandawa Lima-nya Dewa.
Menurut Rayendra, sekarang ini dia rada susah dapat waktu latihan sendiri, jadi random saja. Ga ada waktu latihan yang rutin lagi. Cuma waktu dia dulu sekolah, dia membiasakan diri latihan bisa sampai 4-6 jam. Latihan terbaik, pesannya, fokuskan pada kelemahan kita untuk dibenahi.
Rayendra memberi advis pada para drummer muda, bukalah telinga untuk dengerin musik apa aja. Juga, buka telinga untuk dengerin instrumen lain, selain drums, jadi bukan instrumen kita sendiri. Karena instrumen lain itu memberi inspirasi untuk permainan kita. Bukalah mata untuk melihat teman bermain musik kita.
Intinya adalah, pada saat kita sedang bermain dalam band itu, kita harus peduli dengan what's going on with the music bukan cuma peduli dengan permainan kita. Karena permainan kita itu cuma sebagian kecil dari musik yg lagi kita mainkan.
“Gw sekarang juga tertarik dengan music production, jadi kadang gw juga berperan sebagai produser musik atau mixing engineer. Karena intinya itu, gw bukan seneng main drums, tapi seneng main musik. Kebetulan memang yang paling gw kuasai itu drums. Kerjaan jadi lebih luas, membuat susah kalau jenuh di musik. Well, at least so far so good,” terangnya lancar.
Ia menambahkan, ”Jadi saran gue kalo mau serius di musik, kita jangan cuma ambil satu bagian di musik, kita bisa jadi instrumentalis, music producer, engineer, music educator, composer, arranger atau apapun yg paling menarik buat diri kita. Dengan begitu pengetahuan musik kita jadi luas, dan itu pasti berpengaruh terhadap permainan kita juga.”
Saat ini dia mendapat endorsement equipment dari Sakae drums dan JH audio ear monitor.
“Drum yang gw pake sekarang Sakae almighty dan Sakae trilogy, cymbals yang gue pake banyak dan macem-macem sih, ada Zildjian, Sabian, Anatolian, Stagg.”
Kalau untuk kebutuhan di dalam studio, saat ini gw prefer memakai pro tools, digital performer, Focal solo studio monitor, RME fireface 800 ad/da converter dan Phoenix Audio summing mixer. Sebagian waktu gw habis di studio juga saat ini. Eh tapi gigs untuk ngeband kan tetap aja banyak, bro? Dibilang begitu, ia tertawa lebar dan menganggukkan kepala beberapa kali.
Eh gw inget, ada satu pengalaman lucu lainnya. Rayendra lalu bercerita dengan senyum-senyum lagi, dapat gigs di lounge Gran Melia. Kostum sangat rapi. Main dengan para senior, kayak Jeffrey Tahalele, Glenn Dauna, Arief Setiadi dan lainnya. “Gw hari itu lagi latihan sebelumnya dengan grupnya Glenn. Gw lupa sebenarnya harus main di Gran Melia itu. Baru keinget mendadak, di tengah latihan. Lalu gw terpaksa dengan ga enak hati, pamit karena harus main, jadi ninggalin latihan.”
Lanjutnya lagi, wah waktu udah mepet banget, apesnya dia tuh lupa bawa sepatu! “Biasanya gw selalu bawa sepatu kok, udah sediain. Tapi saat itu ga ada. Waduh, gw udah telat sampai di situ, perasaan bersalahnya gede banget deh. Lebih ngerasa salah, gw main bersandal! Mereka semua rapi gitu kan?”
Itulah tandanya, Rayendra emang padat betul jadwalnya, hehehehe. Tapi, emang tuh bro, jangan pernah lupa selain bawa sticks drums juga....sepatu! / dionM





Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...