Cerita Tentang Teman Saya, ROEDYANTO



Rudy. Udah gitu aja? Belakangan baru saya tahu, nama lengkapnya ya Roedyanto. Ya sebenarnya sih, Rudyanto. Udah. Simple. Gampang diingat. Dan se-simple pemikirannya. Dalam hal bermain musik. Main musik buat nyenengin pikiran, hati dan hidupnya. Dan, dia akan sukacita gede-gedean kalau ternyata, juga bisa nyenengn orang yang denger musik yang dimaininnya.
Well, Roedy ini temen baru saya. Saya baru mengenalnya sejak zaman masih ada Sere’s Studio. Itu adalah sebuah studio latihan band, di kawasan Tanah Kusir. Waktu itu, jadi salah satu studio yang paling populer buat anak-anak band. Di Sere’s Studio, dengan ada Sere’s Band. Di Light Music Contest.
Nah, kalau udah denger Light Music Contest, kebayang dong, tahun berapa? Sekitar 30-an tahun lalu. Katanya, temen baru? Iya dong, baru memang kok. Suwerrrr! Asli, temen baru. Baru ditulis, dibikinin profil, menginspirasi saya, untuk menambah semacam direktori para musisi Indonesia. Itu penting,sob. Musiknya kita dengerin terus, dari dulu sampai sekarang. Band-nya kita kenal banget. Masak pemain-pemainnya ga boleh kita kenal lebih dekat? Pamali, sob.
Suaminya bumali? Bukan bro en sis. Pamali itu maksudnya, ya ga afdol lah. Kita tahu Emerald Band. Yang juara di Light Music Contest 1986 dan, juara lagi di Band Explosion. Itu sama eventnya, cuma emang ganti nama. Juara di Jakarta lantas Indonesia. Nomer wahid! Lalu di 1988, juara di Jakarta, juara di Indonesia. Kagak berhenti sampai di situ, mereka juara juga di tingkat Asia-Oceania, di Hongkong. Lalu juara lagi juga, salah satu Outstanding Winner, Band Explosion tingkat dunia, dibikinnya di Tokyo, Jepang.
Emerald masih ada kok sampai sekarang, dengan namanya menjadi, Emerald-BEX. Sayangnya, saya lagi fokus untuk bercerita mengenai seorang Roedyanto. Yang ddalah bassis, dan juga pendiri dari Emerald itu. Emerald nya, nanti aja kita bahas belakangan. Saya pengen juga bisa menulis sejarah mereka sih.Sudah masuk dalam perencanaan jangkapanjang. Sepanjang apaan dulu? Sudahlah, nanti saja. Sabar menanti. Seperti toko kelontong ya?
Rudy, bassis muda. Lahir di Jakarta, sehari sebelum 25 Februari 1963. Lebih tepatnya adalah, tiga hari setelah 22 Februari. Paham ya? Dan silahkan pahami, dia bermain bass dulu di band sekolahan SMAnya, di kawasan Bulungan. Lalu mulai menjadi serius, dengan masuk Rahwana Band, dimana dalam Rahwana ia bertemu...Gatotkaca? Hush, bukaaaaan! Rudy bertemulah dengan Morgan Sigarlaki, gitaris.
Dan saat ia dan Morgan bertemu kakak beradik, Inang Noorsaid dan Iwang Noorsaid, di tahun 1986, maka jadilah Emerald itu. Saya lantas tahu juga, Rudy membangun kelompok total-disco, Stars Show Band. Grup itu ia bikin dengan Dewa Budjana, Oas Simanjuntak, Cendi Luntungan, Tigor Panjaitan. Ada juga dengan penyanyinya, Helmie, Grace Violetta dan Titi DJ lhooow! Belakangan, seorang cewek cantik dari Jerman ikut gabung juga dalam grup itu, Sophia Latjuba!
Rudy seneng jojing ya? Itu kurang jelas banget. Tapi memang dia yang berinisiatif membangun Stars Show Band, karena dirasakan musik disko itu asyik dan enak untuk dimainin. Selain itu, dilihat bahwa musik disko makin banyak yang suka waktu itu. Itu tahun 1986 sebenarnya sih. Abis itu, Rudy, diajak mendukung Jimmy Manoppo, untuk tampil di acara-acara musik di TVRI. Jimmy Manoppo Band, saat itu, salah satu langganan band pengiring di pelbagai acara musik di TVRI.

Tapi sebelum Emerald sebenarnya, lalu lanjut beberapa tahun kemudian, Rudy juga kerap diajak mendukung Jopie Item Combo, untuk berkeliaran di kafe atau pub ibukota. Main di kafe atau bar atau pub, juga dijalaninya sekian lama sebetulnya. Ia kerapkali tampil sebagai pemain pengganti, bila kebetulan musisi atau bassis yang harus bermain di satu tempat itu, tengah berhalangan.
Lantas temen baik saya yang beristrikan, Ken Angela Prahamme Koeswoyo itu, menapak lebih tinggi. Eh lebih tinggi apa lebih jauh? Maksudnya melanjutkan terus karirnya sebagai pemusik. Di 1988, ia menjadi produser untuk debut album Sophia Latjuba. Judul album, Lihat Saja Nanti. Saya lho masak yang memotret buat cover albumnya! Ha ha ha ha. Diteruskan dengan album kedua, Senyum Yang Hilang, dua tahun kemudian.Rudy juga menangani lagi musik untuk single Sophia Latjuba, ‘Semoga Kau Tahu’.
Sebagai produser rekaman, Rudy menangani banyak album, setelah mengemas musik untuk dua album pertamanya Sophia Latjuba. Antara lain, ia menjadi produser untuk album Jeffrey Waworuntu, Desy Ratnasari, Nia Zulkarnaen, Iwan Zen, Guess Band, dan lainnya. Selain tentunya ya menggarap tekun dan serius album-album dari Emerald seperti Cemas (1987), Karapan Sapi (1989), Baralek Gadang (1991), Marunda (1994). Sampai dengan, Beda, yang dirilis dua tahun silam.
Ia juga tercatat menjadi produser sekaligus player untuk Accoustic Duo – Seven Hits of Emerald, bersama Morgan Sigarlaki. Ada pula, R2, proyek musik bersuasana disko dengan penyanyi, Syaharani. Lalu lanjut dengan Unstigma, album Pacar Merantau, yang dirilis tahun 2013. Ia juga sempat merilis solo albumnya sendiri, di tahun 2013.
Di tahun silam, ia menjadi produser untuk album You Don’t Know Me dari seorang musisi dan penyanyi cantik belia, Vickay. Dimana Rudy, juga menjadi leader dan konseptor untuk show dari Vickay, dimana tahun silam Vickay dan Rudy tampil berkeliling berbagai festival jazz di beberapa kota. Namun sayangnya, tak memperoleh tempat di Java Jazz Festival 2016 kemarin ini.

Kemudian ia ikut menangani album lagu anak-anak Nusantara, yang diambil dari Festival Lagu Anak Nusantara. Dimana pada festival itu, lagu karya Rudy, ’Tamasya Keluar Kota’ terpilih menjadi pemenang pertama. Festivalnya sendiri dilaksanakan pada tahun 2012, dan tiga tahun kemudian album rekamannya dirilis.
Kepedulian Rudy terhadap lagu anak-anak, karena menginginkan adanya lagu anak-anak yang sesuai dengan umur mereka, cukup intens dan serius. Ia pernah menjadi produser untuk album seorang penyanyi anak-anak, Icha di pertengahan 2000-an silam. Saat ini juga, ia tengah berupaya merampungkan album lagu anak-anak khusus, dimana lagu-lagu yang dibawakan adalah karya mendiang, Tony Koeswoyo. Tony Koeswoyo tak lain adalah mertua dari Rudy.
Lagu-lagu karya almarhum Tony Koeswoyo itu, pernah dibawakan Koes Plus dalam album Pop Anak-Anak, beredar pertengahan 1970-an. Rudy mengemas ulang lagi karya-karya mertuanya itu dan lantas, nah ini serunya, ia memilih sendiri penyanyi anak-anak yang akan membawakannya. Penyanyi anak yang natural, tidak dari ajang penyanyi cilik berbakat dan tentunya, bukan penyanyi anak yang “semi-pro”. Maksudnya, memang belum pernah rekaman, apalagi pernah bikin album.
Jarang banget lagu anak-anak yang memang lirik dan musiknya, untuk konsumsi anak-anak. Daripada anak-anak sekarang, ya yang sekitar usia di bawah 11 atau 12 tahun gitu, mendengarkan lagu-lagu pop yang dewasa. Ia berkeyakinan, pasar lagu anak itu tetap potensial, dan lama tak digarap dengan serius. “Pengennya kan, anak-anak itu, tumbuh dengan lagu-lagu yang sesuai dengan bahasa, pola pikir dan keseharian anak-anak itu. Setuju ga?
Saya mengangguk setuju Saya terpana juga, walau dalam hati, teman baik saya ini ternyata berbudi luhur. Paska album dari Tasya, yang sekarang sudah tidak anak-anak lagi dong, yang musiknya oleh Dian HP itu. Memang sih, bisa dibilang, minim buangets album yang cocok untuk dikonsumsi kuping, pikiran, dan jiwa anak-anak ya? Ga jelas kenapa, padahal kan selalu saja, anak-anak mah banyak aja dimana-mana....
Etapi gini ya bro Rudy, kok pilih bass sih? Saya pikir, sebetulnya cocoknya main biola atau perkusi gitu. Rudy terbelalak heran, ah serius? Iya, saya serius. Saya serius untuk tidak serius sih, begitu maksudnya.Rudy tertawa lebar. Ia jawab begini, ini saya coba jawab serius deh, “Karena saya suka tuh dengan rhythm funk yang terus menerus, yang dalam musik yang melatari sebuah lagu. Termasuk juga di era rock, jaman Deep Purple misalnya, atau juga Queen. Posisi bassis itu bukan yang lebih solis tapi lebih tanggung jawab pada perkara rhythm ya.”
Ia lantas mengaku, bassis yang menginspirasinya banget, terutama yang membuat dia jadi bassis adalah John Deacon-nya Queen dan Glenn Hughes nya Deep Purple. Dua nama itu, bassis yang pas dan ideal sebagai penanggung jawab rhythm. “Itu gw sering lihat video-video mereka, jaman gw mau SMP gitu deh.”
Tapi setelah itu, ia memilih nama Marcus Miller, sebagai bassis idolanya yang paling doi suka banget. Funky, rhythmic yang kuat. Asyik denger main bassnya dan juga nontonnya. Oom Marcus, tambah Rudy, tegas dan kuat ya, sound dan skillnya itu. Dan bener-bener bernuansa 80-an. “Saya suka nuansa musik 80-an. Makanya saya sekarang juga seneng dengerin Daft Punk misalnya. Disco, funk nya ada tapi suasana musiknya itu 80an banget kan. Tapi tetap modern, jadi pas aja untuk didengerin sekarang.”
Ia adalah putra dari Jahjo Wasito, sang ayah dan Saharaniah, ibu. Rudy ingat, ia pertama kali belajar gitar dulu di Yayasan Musik Indonesia. Guru gitarnya yang pertama kali itu adalah Danny Tumiwa. Dari situ, ia kenal musik dan pelan-pelan jadi makin suka.  Eh kalau grup band favorit, ada ga ya, bro?
Ia langsung menyebut Uzeb, Casiopea dan Yellow Jackets. “Itu tiga grup udah dari dulu saya suka. Dengerin terus. Seneng dengerinnya, nambah inspirasi dan nambah motivasi juga lho. Musiknya tuh enerjik dan dinamis. Walau instrumental, tapi kesan saya sih, relatif mudah dicerna lebih banyak orang sebenarnya..”
Makanya, Emerald BEX jadi terkesan deket banget musiknya dengan Casiopea? Rudy tertawa lebar lagi, ah kok ya bisa tau sih? Casiopea memang mereka di Emerald sukai banget bareng-bareng. “Kita ambil suasananya, ya sebenarnya sadar dan tidak jadinya kan? Itu di awal-awal. Belakangan sih, musik Emerald lebih lebar lagi. Apalagi setelah jadi Emerald BEX, kita kayaknya sudah tak lagi dekat dengan Casiopea deh...”
Elo pernah mikirin, akan berhenti sebagai musisi kapan ya? Di teras studionya di selatan Jakarta, di bilangan Senopati, Rudy jawab, “Ga sih. Ga atau belum kepikiran ke situ. Kan musik hidup gw nih dari dulu sampai ya, sampai gw bosan. Kapan bosennya? Ya kalau bosen, anak istri, ga makan dong?” Dinikmati sajalah, jalani terus, karena musik itu jalan hidup dan jiwanya. Yoi ga, bray?
Rudy, sekian lama perjalanan musiknya. Kalau buat saya sih, karakternya jelas, dan makin tegas saja. Skill juga bagus. Karena ia tuh tetap mendengar banyak musik lain sebagai referensi. Ia juga di studionya terus aktif berkarya. Sesekali, bahkan sampai saat ini, ia masih tetap kerap membantu band-band lain. Kalau waktunya pas kosong, ia selalu enggan menolak, kalau ada teman-teman yang membutuhkan dukungannya sebagai bassis.
Ada rencana apaan lagi nanti, dalam waktu dekat? Ya album anak-anak lagu almarhum Tony Koeswoyo itu, mungkin juga kepengen coba mengumpulkan materi lagu untuk album berikutnya Emerald BEX. Dengan Vickay juga rencana tetap jalan lebih serius dan mau rekaman lagi. Selain itu, ya tetap bergaul lah, bassis yang doglovers ini lantas tersenyum.
Rudy, yang juga sempat lumayan sibuk di scoring film televisi dan sinetron ini lantas bilang, bassis muda sekarang banyak dan bagus-bagus. Selera bagus, gaulnya bagus. Pesan buat mereka sih, ya main terus ajalah. “Bassis-bassis muda itu terus konsisten aja sebagai musisi. Jangan untuk fashionnya saja, tapi harus untuk passion juga. Jangan cepat merasa jago deh, bahaya kalau sudah begitu.”
Apa lagi bro, eh sekarang doski yang nanya ke saya. “Harusnya mah cukup ya ga sih? Situ bukannya agak tahu banyak juga soal saya, katanya temen lama? Kalau ga tahu banyak, bukan temen lama dong namanya. Ya udah,minum aja yiuks.... Mau apaan nih?” Bir aja deh bray, tenggorokan gw kering nih, becanda sama elo..... /*





Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...