Tuesday, August 9, 2016

Iwang Noosaid, Katanya "Paling Ajaib" dari The Kids...

Usia 2-3 tahun, sudah mulai terbiasa dengar suara alat-alat musik, saat kakak-kakaknya latihan band. Umur 4-5 tahun, mulai belajar memencet-mencet tuts. Yang dipegangnya pertama organ Farfisa nan legend itu. Dan beberapa tahun berikutnya, ia mulai menekuni piano klasik. Guru-gurunya antara lain, Romy Katindiq dan Nick Mamahit.
Gile, ga kira-kira gurunya? Dua nama yang lumayan menonjol sebagai pianis jazz di tahun 1970-an. Katindiq sendiri adalah pianis Filipina sebenarnya, yang bermain di sini. Nick Mamahit, seperti yang kita ketahui, adalah salah satu nama legenda jazz Indonesia everlasting.
Sebenarnya, iapun juga digembleng keluarga. Tentu dengan arahan abahnya, alm. Said Kelana, salah satu tokoh musik penting Indonesia. Dan beserta kakak-kakaknya sekalian. Karena kakak-kakaknya sudah malang melintang di dunia musik, keliling Nusantara bahkan melanglang buana, dengan bendera, The Kids. Salah satu band keluarga paling termahsyur dan melegenda. Semua anak-anaknya, Anak Ajaib lah!
Ia lantas mulai diajak main oleh kakak-kakaknya, Idham, Iromy dan Inang, keluarga Noorsaid, tentu. Dan pakai bendera The Kids Brother, saat dua kakak perempuannya, Lidya dan Imaniar, mulai mencoba bersolo karir dan memisahkan dari band keluarganya.
Band keluarga itu, sempat dijalankan terus, dengan nama “baru” lainnya, The Big Kids. Intinya tetaplah putra-putra dari Said Kelana. Mereka sempat bermain secara reguler di beberapa kafe di Jakarta, dengan didukung musisi lain.Termasuk juga, menyertakan vokalis lain. Karena baik Lidya maupun Imaniar, makin sibuk dengan proyek musik masing-masing, termasuk sempat membuat proyek duo. 
Begitulah masa kecil dari Irwan Noorsaid atau lebih dikenal sebagai Iwang Noorsaid. Si bungsu, suka dibilang "anak paling ajaib", yang kini melesat menjadi kibordis sekaligus aranjer dan produser. Namanya segera melangit, ketika ia ikut membentuk Emerald Band. Kwartetnya bersama Roedyanto (bass), Morgan Sigarlaki (gitar) dan Inang Noorsaid (drums) menjadi kampuin pada ajang bergengsi, Light Music Contest 1986.
Apalagi setelah Emerald, dengan drummer Cendi Luntungan menggantikan Inang, kembali mengikuti LMC 1988 yang berganti nama menjadi, Band Explosion. Grup ini menjadi nomer wahid tingkat nasional dengan gelar Best Players untuk drums dan keyboard. Lalu maju ke tingkat Asia Ocenia, menjadi juara lagi dengan gelar Best Players untuk bass dan kibor.
Masuk ke tingkat dunia, digelar di Tokyo, Jepang pada 1989. Emerald meraih Silver Grand Prize atau juara III dengan merenggut juga Best Players untuk Iwang dan Cendi. Sebuah pencapaian maksimal dan membanggakan tentu. Dan saat itulah, Iwang makin diperhitungkan sebagai salah satu kibordis muda potensial.
Emerald lantas masuk dapur rekaman, dengan. Dan album-album mereka, terbilang lumayan bagus dalam peredarannya. Terutama album kedua, Karapan Sapi, album dimana almarhum Ricky Johanes mulai terlibat. Album tersebut terjual lebih dari 100.000 keping kaset.
Sebagai catatan saja, pada debut album Cemas, dirilis 1988, Emerald mengajak serta beberapa nama sebagai penyanyi tamu.Yaitu, Utha Likumahuwa, Jen Retno Aryani serta new comer, Diah Prawita. Diah ini adalah teman satu SMA dengan Iwang.
Akhir 1980-an, Iwang sempat pula diajak mendukung kelompok Dimensi. Ia bermain bersama Donny Suhendra, Yuke Sumeru, Rudy Subekti. Dengan vokalisnya, Amiroez. Dimensi pernah merilis single, ‘Pasti’, karya Donny & Prass. Masuk di album produksi Team Records, 10 Bintang Nusantara.
Beberapa tahun kemudian, ia juga sempat memperkuat formasi Funk Section, setelah meninggalnya Christ Kayhatu. Ia juga sempat membentuk trio KITA, bersama Inang Noorsaid dan Yuke Sumeru, pada awal 1990-an. Trio ini sempat meramaikan Jakjazz di Ancol, di tahun 1991.
KITA ini lantas menjadi band, dengan perubahan formasi. Dimana Cendi Luntungan menggantikan Inang. Bintang Indrianto masuk menggantkan Yuke Sumeru. Serta didukung gitaris, kakak iparnya Iwang sendiri, Yongki Ramelan. Grup ini sempat memperoleh kesempatan tampil di North Sea Jazz Festival, Den Haag, Belanda. Sepulang dari Belanda, Kita juga membuat mini album, diedarkan secara indie.
Eh iya, asal tau aja ya, Iwang juga pernah merilis solo album. Diedarkan di 1993, oleh Granada Records. Dalam album bertitel Sekilas itu, Iwang abis-abisan bermain keyboard dan synthesizer serta...menyanyi! Walau, vokalis utama di album itu sebenarnya, Hari “Babe” Pramuryadi.
Saat ini, Iwang makin “menjadi-jadi”. Ia bahkan kerapkali wara-wiri ke negeri jiran. Ia juga menangani rekaman-rekaman artis penyanyi dan grup band Malaysia. Hal itu, sudah dilakukannya sejak beberapa tahun silam. Ia bahkan pernah beberapa waktu tinggal di Kuala Lumpur, nyaris pindah rumah, begitu katanya.
Sementara itu, kalau di sini, ia selain tetap menangani rekaman banyak penyanyi, juga terlibat dalam berbagai proyek musik. Antara lain, mendukung pentas Iwan Fals. Serta juga ikut dalam proyek musik bersama Iwan Fals dan Gilang Ramadhan.
Dengan Iwan Fals, Iwang sebenarnya telah memulai kerjasamanya dalam album Hijau, sekitar 1993. Dalam album itu, ikut mendukung para musisi antara lain Cok Rampal, Gilang Ramadhan, Heirry Buchaeri, Jerry Soedianto, Bagoes AA, Arie Ayunir dan Jalu Pratidina.
Oh ya, ada beberapa kelompok musik lain yang sempat dibentuknya. Misal di akhir 1990-an ada Kalahari. Kemudian di pertengahan 2000-an, ia mendirikan Story Teller bersama kibordis lain, Krisna Siregar. Grup ini didukung pula oleh Inang Noorsiad serta bassis, Donny Sundjoyo.
Sejak lima tahun-an silam, ia bersama Roedyanto dan Morgan, kembali “menghidupkan” kelompok Emerald. Dengan nama baru, Emerald-BEX. Kelompok ini muncul lagi, namun mencoba untuk memainkan hanya lagu-lagu instrumental, tidak lagi melibatkan vokalis. Mereka menyodorkan konsep fusion beraroma 80-an tapi dengan sentuhan sound masa kini, dan memilih lagu-lagu yang relatif penuh semangat dan dinamis.
Dan konsep itu, menempatkan Iwang sebagai salah satu figur penting. Terutama dalam hal menghasilkan karya lagu. Baik Roedy dan Morgan menyadari betul akan kemampuan “adik” mereka satu itu. Yoih, beneran bingits. Iwang itu anggota termuda Emerald BEX. Lihat aja ya, waktu Emerald di 1986, Iwang itu masih SMU lho! Yoih, Iwang lahir di Jakarta, 26 Juli 1967.
Oh jadinya, Iwang paling muda? Bentar yeee, kalau gitu di 1986 itu, Morgan dan Roedy pastinya udah lulus SMA dong? Sudah lulus kuliah kali ya? Kalau misalnya, ternyata Morgan dan Roedy waktu itu sudah menjadi guru SMA? Misal lho, misalnya ya....
Ga lah! Udah ah terlalu jauh jadinya. Soal seberapa banyaknya umur kan, biarlah hanya KTP mereka dan istri mereka masing-masinglah yang tahu. Sepakat ya? Eh Sepakat itu dulu nama salah satu rumah makan Padang ngetop juga di kawasan pasar Blok M. Memang Emerald senang makan masakan Padang?
Ok soal Emerald-BEX. Sampai saat ini mereka masih lanjut terus. Tak terlalu lancar, maklum para personilnya sibuk semua, dengan proyek musik mereka masing-masing. Oh iya, Emerald BEX juga didukung drummer muda, Yandi Andaputra sih. Bukan lagi Iwang yang termuda jadinya.

Iya gitulah, termasuk Iwang yang kesibukannya lumayan menggunung. Belum lama ini ia baru menuntaskan proyek rekaman dari kelompok vokal 90-an yang melakukan reuni, lalu lanjut masuk rekaman, Lingua. Dimana dalam musik untuk kelompok vokal itu, Iwang menggaet juga harpist jelita, Maya Hasan.
Lingua itu, di bulan kemarin sudah merilis single, yang langsung dirilis dengan klipnya. Sementara albumnya sendiri, menurut Iwang, rencananya akan diedarkan pada sekitar September 2016 ini.
Selain itu, Iwang juga punya trio lain. Dengan bassis, Zulkarnaen Joel dan Inang Noorsaid, abangnya sendiri. Selain proyek-proyek musik “lepasan” lain. Eh iya kabarnya sih, trionya itu juga sudah masuk studio rekaman. Tapi tersendat, harus tunggu jadwal kosong juragannya. Sape juragannye? Ya, Waing eh Iwang itu....
Beberapa bulan silam, ga ada kabar apapun sebelumnya. Tak ada tertiup gosip apaan gitu. Tau-taunya lihat di social media, eala Iwang sudah melancong sampai Eropa! Ia bahkan tampil melakukan resital piano solo di sana. Ya ampuuuuuunnnn.... Sibuknyo.
Jadi inget juga, dulu tuh ya, jaman Emerald. Iwang ini “kecil” lah. Yoih kan dia paling muda? Paling bandel tapinya. Gimana ga bandelnya, hahahaha....semua orang dipanggilnya nama doang! Kagak peduli, musisi senior kek, udah tua-an kek. Atau sampai musisi yang kayaknya pantesnya itu temen bapaknya.
Soal itu, untungnya tak terlalu dipermasalahkan para musisi, atawa penyanyi. Mereka tetap respect. Karena Iwang sebenarnya ya hormat dengan para senior, cuma emang gimana ya, usil aje die memilih manggil nama doang, zonder pakai embel-embel, “kak”, “mas”, “oom” atau “tante”! Hihihihi... Iya kayak dikasih kerjaan gitu, ya Iwang cukup bertanggung jawab. Beres-beres aja....
Orangnya dari dulu asyik. Saya ngeliatnya dia rada hyper-active kalau di musik. Ga bisa diem. Pikirannya itu seringkali pasti larinya ke musik, saat ia lagi nongkrong atau kongkow-kongkow. Kepalanya kayaknya penuh sama musik, tapi kelihatannya ya penuh tapi ga pernah sampai kepenuhan! Apaan resepnya,’wang?
Doski juga pernah lumayan iseng. Ini “keisengan”nya yang lain. Tetiba bisa request setumpuk keyboard en synthesizers. Doi kepengen main, dikelilingin perangkat tempurnya nan lengkap. Bisa ada 6 sampai 7 set lho! Aje gile!
Apalagi kalau urusan kerjasama dengan Donny Hardono dan DSS-nya.Iwang yang paham betul bahwa DSS punya segudang peralatan kibor dan synthesizer itu, ya bisa “semena-mena” mintanya. Dan DSS senang-senang saja memenuhinya. Pernah kejadian begitu, pada beberapa konser, terutama penampilannya dengan Emerald-BEX.
Uniknya nih, satu ketika, ini terjadi di Medan. Pas acara saya, North Sumatra Jazz Festival pertama kali di 2011. Ternyata repot betul kalau semua permintaan Iwang diturutin. Berat diongkos bagasinya. Saat itu kebetulan DSS juga support backlines yang penting-penting, terutama keyboard dan synthesizer. Maklumlah, ada Iwang dengan Emerald-BEX dan Yovie Widianto yang main dengan kelompok fusion nya.
Dan Iwang, bisa tampil, teteup terhitung maksimal. Yaaa...Iwang bangetlah, hanya dengan 4 keyboard dan synthesizer. Lalu ke Solo di Solo City Jazz, eh kebetulan juga acara saya. Iwang kembali tampil “terbatas”. Di Solo, ya ga bisa minta macem-macem, ga ada yang nyediain. Jadi dia main hanya dengan 1 keyboard sebagai electric pianonya dan 1 synthesizer. Aman aja siiiih....
Di Medan, saya undang lagi main di festival sama, 2 tahun kemudian. Iwang membawa sendiri satu keyboardnya, dia baru beli. Ia minta kalau boleh ditambah satu unit lagi, dari supplier di Medan. Ia tampil berkolaborasi dengan Erucakra Mahameru dan Dion Idol waktu itu. Tuh, asyik asyik aje...No problemo. Malah kali ini eh, dia bisa mainin hanya kyboard bawannya sendiri itu!
Jadinya, diturutin “ke-gokil-an”nya ya bagus banget sih. Tapi kalaupun ternyata ga bisa, bukan masalah juga. Ga berarti mainnya Iwang jadi ga asyik. Saya pikir sih, Iwang itu mampu menaklukkan peralatan tempur papan-papan kunci sesuai keinginannya. Menaklukkannya dengan sangat baik. Jadi tak tergantung, harus banyak dan lengkap.
Memang kalau lengkap, dimana ia kayak dikelilingin “pagar” papan-papan kunci itu, ia terlihat lebih atraktif. Namun dengan peralatan “minimal”, bukan berarti ia tak jadi atraktif.
Kelebihannya dia itu kan, jari-jari kanan dan kirinya semua “hidup” banget. Powernya rata, kesepuluh jarinya, bisa melakukan running dengan sama baiknya. Itu bukti, ia pemain piano dan kibor yang lengkap. Catatan saya mah, ga banyak kibordis di sini, yang kesepuluh jarinya dari kedua tangannya, bisa keduanya sama-sama hidup, dengan “merata”, kayak Iwang.
Eits, mudah-mudahan doski ga “melayang-layang tinggi banget” baca pujian saya ini. Hahahaha. Teteup low profile ya, ‘wang. Itu kan juga kelebihanmu. Bisa masuk kemana-mana, diterima dimana-mana. Di semua aliran musik.
Lha iya, Iwang, bersama Inang abangnya, sempat juga sesaat ditarik masuk formasi God Bless segala! Belum lagi, ia juga menangani musik konser untuk tema world musik sampai musik klasik! Alamak!
Semua aliran musik, bahkan sampai gospel. Saya ingat nih, intermezzo, di akhir 1980-an dia pernah menjadi arranger alias producer album Jazz in Sunday yang featuring Embong Rahardjo. Itu album gospel, semua lagu yang dimainkan secara instrumental, adalah lagu-lagu rohani Kristiani. Ia menangani musiknya dengan sangat baik.

Di seputaran tahun itu, Iwang memang mulai mendapatkan job sebagai arranger atau produser untuk berbagai album rekaman maupun single. Ia sempat menangani musik untuk
Lalu apalagi nih, yang dikerjakan seorang Iwang Noorsaid? Masih segudang kayaknya sih. Ia juga masih “berhutang” jadwal untuk melakukan tur kecil di AS. Belum lagi berbagai proyek musik dan album rekaman.
Selain iu juga musik untuk film. Saat ini, dia lagi mengerjakan musik untuk film yang berjudu 8 Hari dan film Gunung Kawi. Oh ya, tahun kemarin, Iwang juga menggarap musik untuk film sejarah, Jendral Soedirman.
Kapan tidurnya, bro? Jangan keasyikan kerja, jaga baik-baik dengan tekanan darahmu. Soalnya, tiga-empat tahun belakangan ini, Iwang suka terganggu aja kesehatannya. Mungkin gegara, selalu begadangan kali? Dia kayaknya emang juga manusia “jam kecil”. Baru bisa merem, beberapa jam setelah lewat tengah malam.... Oh!/ *





No comments: