Thursday, June 9, 2022

Fotografer Doeloe dan Sekarang. Dari Reunian Fotografer 80-90an...

 



Serunya reunian kan, ya begitu deh. Berbagi cerita-cerita zaman doeloe. Diselipin sedikit ngomongin orang-orang, terutama yang ga datang ke reunian. Sambil berbagi tips mengenai….eits bukan soal memotret yang “baik dan benar” lagi! Tapi soal….hidup sehat! Hehehehe….hidup sehat jauh lebih penting dibahaslah, hareee geneeee bro! Kan umur rata-rata udah cukup banyak!

Yes, ini menyenggol soal reuni sekaligus Halal bi Halal FOTOGRAFER lintas zaman, lintas era, lintas generasi. Walau mayoritas sih dekade 80an. Fotografer dari cem-macemlah, media ada, commercial ada, lomba-lomba foto juga ada. Baik itu hobbyist, yang lantas lumayan serius. Selain yang emang serius jadi professional photographer, padahal awalnya juga kali aja hobi alias motret iseng-iseng.

Nongol di saat masyarakat lebih kenal sebagai "Tukang Potret". Kayak kurang gitu ya apresiasi atawa penghargaannya? Hehehe…. Baru belakangan jadi, Fotografer dengan "tingkat apresiasi" meningkat. Publik pelan-pelan jadi tahu, jadi fotografer ternyata “kudu serius” ya? Perabotannya itu lho, kalo lengkap kan lebih dari sekedar lumayan nilainyalah.

Bahkan bisa lebih dari harga sepeda motor terbaru. Sampai bisa seharga kira-kira mobil yang punya cc sampai 1300-1600lah. Iya beneran, emang serius kan? Dan kudu ditambah dengan kemampuan atawa skill juga. Kalau sampai masuk sekolah foto (kursus fotografi), kan jadinya tambah biayanya lagi dong.




Intermezzo dikit. Nyelip bentaran, boleh ya? Gini, kebetulan memang gwpun menjadi fotografer. Entah terpaksa, kepepet. Atau, ya ada titisan bakat dari bokap yang hobby memotret. Jadi mulai dari menjelang pertengahan 1980-an , mulai memotret dengan “lebih serius”, ketika menjadi wartawan untuk majalah musik & film, VISTA.

Kan di era itu, kebanyakan memang penulis biasa memotret juga. “Paket hemat”. Satu orang bisa nulis dan motret, jadi kalau ada undangan kemana-mana kan hanya seorang doang. Terutama keluar kota, apalagi keluar negeri.

Artinya saat itu, gw lebih sebagai macam journalistic-photographer gitu. Ya mulai “nyoba-nyoba”lah, karena tuntutan pekerjaan kan, motret panggung juga. Karena gw ditaruh di reportase musik. Baru di sekitar mendekati 90-an, beranjak lebih serius lagi. Jadi photographer yang mengerjakan pemotretan studio, learning-by-doing menggunakan kamera medium format (Mamiya, Hasselblad. Eh sampai Sinar), tentu juga pencahayaan. Karena waktu itu masuk menjadi fotografer majalah Wanita, Pertiwi.

Mulai saat itu juga, menjadi commercial photographer, alias memotret untuk iklan. Kebanyakan dari advertising-agency ordernya. Kemudian keterusan deh. Masuk ke 2000-an, eh masuk majalah musik, NewsMusik. Fokusnya jadi pindah dah, mau ga mau. Lebih banyak memotret panggung. Apalagi, mulai saat itu juga mulai sering menangani show dan stage management acara-acara konser. Sampai menjadi festival director segala untuk beberapa festival jazz, seperti di Pekanbaru, Solo, Medan. Nah, saat itu pasti bawa kameralah. Motret-motret juga dong. Begitulah intermezzo nyempil tentang gw….. Ok, sila dilanjut!





Ok, kita bicara hal apresiasi atau “penghargaan”. Nah apresiasi meningkat, lantas meningkat pula pendapatan secara signifikan. Muncul kemudian fotografer-fotografer profesional, yang real pro. Bersanding dengan fotografer-fotografer media. Yang kemudian timbul "persaingan", karena fotografer-fotografer media juga "tergoda" dong untuk terima job a.k.a order pemotretan di luar aktifitas di media nya masing-masing.

Entah itu foto pernikahan, untuk brosur, kalender. Termasuk Industri. Atau yang lebih serius ada misalnya foto “pemetaan” dari udara (jaman sekarang sih maap aja udah kalah dengan drone sih). Yang untuk company profile sebuah perusahaan misalnya. Sampai juga cover kaset.

Persaingan rada "serius" juga, iya sempet, apalagi kalau bukan soal rate fee. Walau, mau ga mau kudu dimaklumi. Rate bisa tergantung kebutuhan di saat itu, keperluan si fotografer itu sendiri dong. Baik eh lagi perlu tambahan untuk beli motor baru, motor lama udah ngerongrong. Atau perlu nambahin untuk uang muka kredit mobil misalnya ya. Atau, perlu beli kulkas. Mungkin juga untuk biaya masuk sekolah anak.

Eh bentar, perkara “argometer” perlahan emang terasa meningkat. Seiring naiknya apresiasi dan "penghargaan"! Etapi, kesininya, lucu nih. Kok berasa rada stagnan"? Aneh tapi nyata. Yoi, itu ajaib dah. Ga sedikit fotografer mengalami, lha job yang datang sekarang kok nilainya sama dengan job sekitar 20 - bahkan 30 tahun lalu. Palingan beda-beda tipis.

Apa artinya, apresiasi publik menurun terhadap fotografi? Atau, karena sudah terlampau banyak fotografer, datang dari segala penjuru, dari segala sudut kota dan negara. Tua muda, besar kecil. Lho, jadi fotografer itu ternyata…gampang?

Emang gimana ya, memotret itu ternyata gampang? Gampil tapi padahal Gear fotografer zaman 80, (tapi terutama) 90an sampai 2000 walah, suka bikin elus dada (iyalaaaah, dada sendiri! Masak dadanya siapa? Dadanya model? Hush!). Nah ada juga, "sultan-sultan" zaman itu ikut-ikutan meramaikan dunia persilatan eh fotografi. Kantong tebel, borong alat2 premium, ya lantas jadi fotograferlah!








Oh ya, bergeser soal perabotan kamera nih. Tentu saja, zaman dulu itu kan zaman analog. Yang dianggap lebih punya "romantika". Cuci cetak C41 misal. Film positif. Kameranya bisa 135 atau 120. Proses film BW ke color atau film positive/slide ke print color. Proses cuci cetak manual dengan dark-room sendiri.

Ga bisa dilupain dong, situasi nunggu harap-harap cemas. Dari isi 36 (u 135) jadinya berape yeee? Ga jarang juga terjadi hal lebih seru, filmnya ga ngegulung! Atau kameranya kosong, kelupaan isi film. Ada kasus juga, lha abis jeprat-jepret rol-rol filmnya raib! Pernah, pernah kejadian apes kayak gitu!

Intinya, memotret itu di jaman analog, perlu juga hati-hati. Lebih cermat, lebih detil dalam persiapannya. Kalau ceroboh, tergesa-gesa. Atau, lebih karena terlalu bersemangat, kelewat lebih dah enerjinya kali. Buset, malah gagal! Berabe kan?

Istilah-istilah jenis fotografi dulu belum terlalu familiar sih, foto makanan, panggung, pariwisata de el el. Termasuk foto mode/fashion photography, atau foto2 barang or product/still life. Maklumlah, fotografi belumlah seberapa popular di zaman itu.

Nah kemarin di kedai kopi berhalaman lumayan luas, Kafe Unit 203/XLunar di Kemang Utara milik Firdaus Fadlil kumpullah fotografers yang lumayan "khatam" dg analog fotografi (lalu berlanjut so pasti ke digital. Mau kagak mau dah…).

Bermaaf2-maafan, walau sebagian besar kyknya sih sejatinya udah lama banget ga ketemuan kok. Lantas berbagi cerita, pengalaman seru, kocak, horor sampai badung dan binal hahahahaeeee.

Hadir juga, "para sahabat baik"nya Fotografer. Berkenan hadir menyediakan waktu videografer/klipper handaaallll (awalnya kan dikenal begitu yeeee browcyiiiin...) Oleg Sanchabakhtiar . Lalu penyanyi Isa Raja dan juga eh gitaris, Dewa Budjana .

Ada juga model-model dengan kostum a la carnival, yang dikoordinir fotografer, Hendra Lesmana bekerjasama dengan Hendra Richard Lubis . Yes, ada 2 Hendra lhooow! Spesial banget kan….

Soal model-model itu, ya itung-itung, "hiburan" mata dan feels para tetamu yang adalah para fotografer berpengalaman segudang itu. Ga segudang kali, bisa-bisa 2 atau 3 bahkan mungkin sampai 4 gudang, kalo bicara soal pengalaman.

Ealaaaa bentar dulu deh, zaman 30-40 tahunan itu ga boleh dilupain pemunculan fotografer-fotografer yang menggemari ikut lomba-lomba atau kompetisi foto. Termasuk lomba foto spontan (uhuuuy??), rally foto sampai yang bergengsi macem Salon Foto.

Sebagian lomba-lomba itu berhadiah uang (dan barang, terutama kamera atau kupon cuci cetak gratis) yang ditawarkan lumejen cuy. Lihat ya, dari yang “ecek-ecek” 1-2,5 juta misal, lalu 5-6 juta. Nyang lebih serius itu sampai ada 10 juta. Bahkan lebih lho! (Salon Foto itu mengiming-imingi hadiah uang termasuk yang pualing menggiurkan, sangat menggoda hati).

Yaaaa, kayak gitu deh situasi kondisi dunia jeprat-jepret tahun 80 ke 90an. Tentu saja belom ada hape, dengan kamera-kamera yang kian canggih. Beda banget so pasti dengan era sekarang, bisa dibilang era 2000an ke sini atau terutama 2010an ke sonoan.

Dimana publikpun mulai lebih memahami, mengenal yang namanya street photography, stage photography. 2 jenis fotografi yang bisa disebutlah, paling banyak peminatnya. Selain itu juga termasuk "studio-works" (biasanya kamera 120 tentu kalau sekarang yang digital dong. Tetap perlu dilengkapi polaroid, light meter. Tentu dgn lighting), yang memperoleh penanganan post-production macam digital image.

Banyak lagi deh “cabang-cabang” atau sebut saja jenis fotografi yang lebih focusing. Kayak baby-photography, flower-photography. Oh ya termasuk fotografi bawah air, alias memotret para penyelam dengan keindahan dalam lautan. Ya so pasti, fotografernya juga kudu jadi diver dong.

Era sekarang, seorang fotografer tak cukup hanya lihai memotret. Pandai mengatur komposisi, pencahayaan misalnya. Tapi ada tuntutan untuk perlu mengenal, kalau bisa ya gape juga, untuk melakukan retouch secara digital hasil fotonya. Mengenal dan menguasai berbagai aplikasi atau software editing foto.

Plus, menghadapi klien atau pemberi job yang sebagian sudah merasa pinter-pinter juga lho. Jadi pandai, karena rajin googling dan browsing. Punya taste juga. Dan lantas merasa “bisa” membuat karya foto-foto yang “lebih baik”. Walau dananya sih sebenarnya ga seberapa juga ya alias “penuh perhitungan”…. Hahahaha.

Nah fenomena alam di era kemarin-kemarin itu, soal deretan “crazy rich so-called sultan” di era seputaran 80-90an nampaknya tetap terjadi terus sampai saat ini. Tidak sedikit fotografer “baru, muda en tajir”, ikutan bersaing. Modal utama memang perabotan lengkapnya, dengan peralatan kamera-kamera digital “kelas atas”, dilengkapi lensa-lensa nan canggih dan premium. Ngeri yeee? Ngeri-ngeri sedap gimanalah….

Well, itulah keseruan dunia potrat-memotret. Dengan para fotografer atawa tukang foto a.k.a para mat kodaknya. Kenapa juga jadi Kodak, padahal kan ada Fuji, Sakura, Agfa, Konica sampai Ilford? Hehehehe. Macam batere aja, orang kan banyak yang menyebut Eveready aja, padahal itu mah merk pan?

Dalam acara silaturahmi kemarin mungkin ada kali ya sekitar 60 mungkin 70an fotografer yang pernah ngerasain romantika memotret di 30, 40an tahun silam itu ngumpul dah! Aaaah, yang penting semua sehat walafiat. Alhamdulillah bisa bertemu dan bersenda gurau lagi. Dan, kapan ketemuan seru begitu lagi, sambil serius obrolin soal hak cipta misalnya?

Bisa juga, ngebahas, lha milenial sekarang kok mau main analog lagi? Pada niat mencoba cuci cetak sendiri, di kamar gelap pribadi. Kok pada nyari kamera digital pocket lagi sih? /*

Foto-foto dari WAG - Food & Stage Photography, Tyas Yahya, Dudut Suhendra Putra, Bobby Poerwana dan lainnya.






No comments: