Antara Scott Henderson, Steve Morse dan seorang Andre Dinuth



Nama gitaris ini, Andre Dinuth. Ia kelahiran Jakarta, pada 3 Agustus 1982.  Putra kedua dari 2 bersaudara, dari pasangan Brigjen TNI (Purn) Alex Dinuth dan Askarningsih Kartono. Kakaknya, Berlianti Safira Dinuth.
Cerita mulanya ya seperti anak-anak pada umumnya. Bersekolahlah ia, mulai dari TK, SD, SMP. Semuanya di sekolah sama, semua di St. Fransiskus, di daerah Kampung Ambon. Baru SMA berpindahlah dia ke di Don Bosco II, walau masih di daerah berdekatan, ya sekitaran itu juga, wilayah Pulomas.
Apakah saat bersekolah seorang Andre Dinuth, rajin belajar, rajin menabung, tak pernah tak masuk sekolah selain kalau sakit? Mohon maaf, saya tak sempat menanyakan hal itu. Bisa jadi ia rajin belajar, rajin membaca buku, rajin menulis. Sekali lagi saya tegaskan ya, bisa jadi. Artinya, ya kira-kira aja ndirilaaaah....

Jadi cerita mulai dari mana ya baiknya? Gini deh, waktu kecil pengen jadi pilot. Begitu cerita masa kecilnya. Sampai koleksi model pesawat, ia tuh bahkan sampai belajar basic tehnik pesawat gitu. Juga suka dengan komputer, pernah sampai kursus di sebuah lembaga pendidikan komputer terkemuka dulu.
Nah soal ke-pesawat-an itu, mungkin karena ia suka ikut ayahnya ke bandara Halim Perdanakusuma, Ia senang betul. Kayak lihat-lihat pesawat Hercules. Kemudian sampai nonton Air Show tahun 1996, dengan antusias banget.
Oh berarti sempat dulu tuh mau jadi pilot ya, kalau begitu ceritanya kan? Lagi-lagi, saya hanya bisa katakan, bisa jadi. Maaf, saya tak menanyakan hal itu. Point utamanya sih, dulu waktu kecil sukanya apaan bro?
Lalu ada sepupunya. Sepupunya tuh lagi asyik main-mainin gitarnya, waktu sang sepupu lagi main ke rumah Andre. Sepupunya sih masih belajar juga sebenarnya. Tapi dia kok jadi pengen main gitar?
Lantas dia tertarik untuk mau belajar juga. Doski beli deh gitar akustik, merk Osmond. Lalu beli buku chord dasar di toko buku Gramedia. Dan dia kemudian diajarin pertamakali oleh supir dinas ayahnya, kayak kunci-kunci gitu. G, C, D walau masih terbata-bata. Tapi dia sudah menikmati. Mulai nemuin keasyikan bergitar.
Kemudian iapun masuk sekolah musik, Chic’s di awal 1997. Ia mendapat gurunya, Ridho Hafiedz.. Lalu tamat SMA, ia melanjutkan langsung ke Universitas Pelita Harapan, mengambil jurusan Musik.

Iapun belajar dengan Ridho, sampai lebih dari 3 tahun. Yang paling dia inget dari Ridho adalah Ridho kasih ke dia 2 lick gitar dasar,”Jangan lupa selalu latihan dua lick ini setiap saat elo ambil gitar buat warm-up”. Itu alternate lick. Simple sebenarnya,lanjutnya, tapi modal dasar yang bagus banget. Ia selalu ingat dan...lakukan itu!
Ridho lah yang bisa dibilang, gitaris favorit pertama dia. Karena dia merasa, stylenya itu sama, jadi cocok. Sama-sama suka blues dan rock. Lalu lihat Donny Suhendra, pertama kali di Jamz Cafe. Waktu itu Jamz masih ada, bandnya waktu itu Pentatones, main di lantai bawah. Di atasnya ada Nera, dimana Donny Suhendra main. Ia menonton dan lantas mulai jadi suka dengan fusion.
Dari awalnya blues rock based guitarist, ia kemudian pelan-pelan mulai mendalami juga fusion. Gitaris selanjutnya yang dikaguminya adalah Tohpati Ario. Ia belajar banyak soal ketekunan dalam berlatih instrumen, gitar dalam hal ini. Akurasi ryhtm dan temponya terjaga.
Makin getol dong jadinya sama fusion kan? Soalnya kan ketemunya dari Donny Suhendra eh abis itu Tohpati Ario. Tapi ia kasih catatan juga, terutama soal Tohpati Ario, dimana membuatnya jadi belajar juga mentransisikan antara bermain pop sebagai session player, juga arranger. Tapi juga di lain waktu, main musik gayanya sendiri.


Kemudian bro, kalau omongin gitaris luar, gimana? Favorit utamamu? Ia langsung menyebut, Scott Henderson. Selain itu juga nama lainnya adalah Steve Morse, Steve Lukather dan Pat Metheny. Itu 4 gitaris yang top-one buatnya. Semuanya memberi pengaruh pada permainan gitarnya.
Lalu ia menjelaskan dengan lebih detil. Mulai dari seorang, Scott Henderson yang buatnya, dia suka banget karena , “I can relate as my background as a blues rock first, learn the way he use pentatonic scales. And then, mutated it into scales that were outside the usual pentatonic.” Juga mengenai phrasingnya.

Dia suka Steve Morse karena penggunaan chromatic scales-nya. Juga soal alternate picking dimana dia memfusikan phrasing bluegrass ke dalam idiom rock.. Ya unik dan beda lagi kan? Sementara Steve Lukather, nah karena Lukather ini menarik untuk all his session works, juga soundnya..
Nah kalau Pat Metheny lain lagi nih. Ia menikmatinya dan lantas mengambil pelajaran dari soal komposisinya. Itu juga memberi pengaruh kuat buatnya, terutama saat ia menulis lagu. Pat Metheny juga dikaguminya untuk sisi aransemen closes voicing-nya, dan oh ya komposisi akustiknya.


Dia lalu ingat konser Toto di 2004 dan konser Tribal Tech di tahun 2012. Keduanya dia tonton di Jakarta. Dan ia ingat banget. Terkesan soalnya! Yang membuatnya terkesan pada kedua konser itu adalah, musicianship-nya.
Bagaimana they all interlocks together, mungkin karena mereka semua sering man bareng ya. Jadi udah saling mengunci dan paham rhythm-nya, tahu porsi masing-masing dan saling support.
Kita obrolin berikutnya, soal album rekaman deh ya. Soal album yang disukai, ada beberapa. Tapi dia bilang, dia harus sebut, What If dari Dixie Dregs. “Gw beli waktu masih SMA, di toko kaset Aquarius tuh. Suka karena komposisinya. Ada satu lagu, ’Nights meet Light’. Juga  ‘Ice Cakes’. Suka banget, karena kompisisinya itu terasa Steve Morse memfusikan classical dan fusion, juga mengenai bagaimana dinamisnya lagu itu”, terangnya dengan lancarnya.
Betewe, sejauh ini Andre Dinuth sudah menghasilkan 2 album rekaman lho. Selftitled album, Andre Dinuth, yang dirilis tahun 2014. Here With You, 2016. Album pertamanya itu dikerjakannya dari bulan Oktober 2015 sampai Februari 2016, itu dikerjakan di sela-sela persiapan Glenn Fredly 20 tahun. 



Kalau tak salah, juga saat itu, ia sedang aktif juga ya bermain bareng para gitaris lain. Sebut saja, Aria Baron, Eros Chandra, Dewa Budjana, Baim, Tohpati Ario. Tau dong grup para gitaris itu apaan? Yes, Six Strings! Yang ternyata sudah tak didukungnya lagi itu saat ini.
Bisa jadi, karena kesibukannya juga terbilang tinggi. Ia kan tercatat, mendukung beberapa band pengiring penyanyi-penyanyi solo, baik sebagai musisi tetap atau additional. Salah satu di antaranya adalah, Rio Febrian.
Ada sih faktor kesulitannya, kalau soal pengerjaan albumnya. Ya biasalah, pasti ada dong. Kasih tantangan kan? Tapi sebenarnya sih. relatif ya. Tapi kalau disebut sulit, tingkat kesulitannya berlebih gitu ya, lebih pada album keduanya.

Karena saat pengerjaan album itu, ibunya yang tercinta terkena serangan stroke. Lalu kemudian ibunya meninggal dunia. Terus terang, itu suasana yang sangat berat. Dan tentu saja menyebabkan konsentrasi terpecah. Maka proses pengerjaan album tersebut mau ga mau jadi tersendat-sendat.
Dan kemudian, album berikutnya, sudah dipersiapkan? Oh iya nih. Sekarang dia mengaku lagi mulai persiapan bikin album ketiga. Sejauh ini sih sudah terkumpul 5 lagu. “Aku pengennya, kalau bisa ya di penghujung tahun 2017 ini juga bisa diselesaikan produksi rekamannya. Doain aja ya...”, begitulah harapannya.


Sekarang soal gear-nya. Atawa “peralatan tempur”nya nih. Weapon elo sebagai gitaris apa aja? Yoih dong, maksudnya gitar andalannya apa aja gitu. Ok, dia pilih  lebih sering pakai Tom Anderson sekarang ini. Untuk pelbagai acara ya.
Terutama banget yang tipe, Blue Anderson Tele Model. Lanjutnya, “Lalu aku memilih hanya pakai Fractal Audio AX9 direct to mixer. Soundnya buatku, great. Dan terpenting sih, friendly cost dan airline friendly. Jadi kan, gampang dibawa-bawa kemana-mana gitu, itu harus diperhitungkan lho.”
Andre Dinuth punya keinginan atawa angan-angan, yah pastinya asyik  bisa main bareng dengan idola-idolanya, musisi luar yang telah disebut di atas itu. “Main di panggung, juga rekaman tentu. Itu aja cita-citaku di musik yang belum kesampaian, ga tau deh kesampaian atau ga ya, hehehehe...”
Eh eh tau ga teman-teman, Ande Dinuth ini punya hobi lain lho, ya so pasti di luar musik. Sekarang ini dia megakunya, sangat suka fotografi! Lagi demen-demennya nih, ucapya sambil senyam-senyum.
Walah, jadi kompetiter dah ini mah... Hehehehe. Ia berkata begini, “Aku akan sangat excited kalau main di luar kota, datangnya sehari sebelum show. Kan jadi ada waktu cukup untuk jalan-jalan keliling. Bisa diisi hunting photo dong? So, ga pernah lupa bawa kamera sekarang...”

Kalau doi serius jadi fotografer, alamak kenapa sih musisi dan penyanyi jadi pada doyan jadi fotografer juga? Ini masalah seriuuuussss. Hahahaha. Saingan bertambah moloooo jadinya. Aha! Mendingan sih kita hunting bareng aja ya, bro Andre?
Well, begitulah seorang gitaris session-player yang seringkali bila di panggung selalu saja ya, diperkenalkan sebagai gitaris yang...jomblo! Emang masih jomblo, bro? Udahlah, silahkan tanya aja sendiri ke dia deh. Boleh tanya kan ya bro? Jawabnya sambil cengengesan, “Maaf, aku permisi dulu, ini udah musti naik panggung....” /*







Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...