Monday, April 11, 2016

ARIEF SETIADI, Saxophonist yang Bijaksana


Elo ada duit, nteu? Nih gw ada,....diapun lantas memberikan dua ribu rupiah. Bulan depannya, saya gantian tanya, ada duit ga? Sayapun memberikan dia dua ribu rupiah... Kadang nanyanya, ada ongkos pulang ga? Maka yang dikasih juga hanya seribu atau dua ribu doang. Pernah dia ngasih ke saya lima ribu, katanya, nih elo bengong aja pasti lagi ga punya duit, gw kasih elo nih....
Itu becandaan khas saya dengan pemain tiup legendaris satu ini. Dulu “jagoan” Bandung. Sapa tak kenal Arief... Jesus panggilannya. Karena menurut banyak musisi Bandung, Arief dulu itu memang kayak Jesus, mana gondrong lagi....
Husein Arief Setiadi, begitu nama lengkapnya. Gampang aja, ada nama Husein, karena rumahnya dulu dekat dengan lapangan terbang, Husein Sastranegara, di Bandung. Anak bungsu dari 5 bersaudara, putra dari pasangan Soekotjo dan Siti Widamar Koentowiyatie. Yang jadi musisi, kayaknya hanya dia seorang. Apalagi yang jadi profesional, terus dan sampai sekarang. Sampai kapan, kangBro? Gila nanyanya elo, eh masak begitu jawabannya.
Tanya dong, guru gw pertama siapa? Ok kang, siapa Imam Prass? Oh itu pianis juga, dia tuh murid pianoku pertama. Gitu ceritanya. Lalu nyambung lagi, nah ini bener nanya begini.... Jadi Imam itu, belajar piano, tapi dia juga bawa flute. Dia bisa flute juga, lalu saya bilang aja, eh itu apaan? Bisa? Kalau bisa ajarin dong. Dari situlah, ia mengenal dan langsung belajar flute.
Arief Bijaksana, begitu Indra Lesmana pernah memperkenalkannya di atas panggung. Waktu dia main dengan Indra Lesmana Reborn. Dan kalau sekarang, dia salah satu pemain tiup paling senior yang masih bertahan. Terus eksis. Senang bersepeda sehat, tapi sudah ditinggalkan. Senang dengan mobil-mobil Jerman. Dia punya VW kodok, itu dibeli ayahnya dulu, beli baru banget di 1967. Sekarang jadi kendaraan setianya.
Mau dijual ga, kodoknya, kangBro? Sambil ketawa dia becanda, elo punya duit berapa? Ga bakalan cukup duit elo, ini mahal banget. Tangan pertama. “Saya mah ga pernah kepikiran mau jual kodok ini. Mungkin ya,mungkin kalau saya udah gila, ga keinget apa-apaan, mungkin aja saya jual. Tapi begitu inget, begitu sadar lagi, pasti saya minta balik...!” Kita ketawa seru.
Terlalu bersejarah ini VW Kodok, jelasnya lebih lanjut. Bayangin aja, tangan pertama dari bokap lalu aku terusin memakainya,merawatnya total lah. Sampai satu ketika, gw bisa bawa ke panggung segala! Nah ni dieee, kita berdua tertawa lebar. Iya, VW Kodok Arief memang pernah jadi background stage acara saya di Graha Bhakti Budaya TIM.
Itu kegilaan elo dan Bintang kan, ia mengingatkan. Iya, jadi memang VW naik panggung, itu sih karena idenya Bintang Indrianto. Kan Arief main dengan Phylosophy ABG, ya dengan Bintang dan Gerry Herb. Ada band lain waktu itu sih, semua format tri.Nikita Dompas Trio, Donny Suhendra Trio dan Indro Hardjodikoro Trio. Edun lah...
Balik deui ke akang Jesus eh akang Arief. Kemarin ini, dia sakit. Ga jelas apaan, tapi dia kayak terkena sakit di paru-paru. Dia harus berobat dengan intens. Dia ga pernah bilang, sakit apa. Tapi yang jelas, berat badan memang menurun rada drastis. Ya kan kelihatan dari mukanya saja, makin...tiris gitu. Hidup sehatlah, kangBro.

Pemain saxophone kayak dia, dengan level usia dia, jangan-jangan tinggal Arief Setiadi seorang. Seniorennya, macam Maryono, Udin Zach dan Embong Rahardjo. Ketiganya sudah pulang duluan ke rumahNYA. Arief juga mengaku bingung, kenapa ya para musisi senior itu cepat bener pergi.
Padahal mereka penting dan berarti bagi musik Indonesia, begitu ucap Arief. Iya,saya setuju, kang. Mereka penting, tak hanya sebatas jazz. Lihat saja, rekaman musik, terutama pop atau jazz-pop di era 1980-1990an. bisa dibilang semua pengisian instrumen tiup untuk saxophone dan flute. Kalau tidak Embong ya Udin Zach. Semua pementasan jazz, pasti ada Maryono, selain Embong dan Udin Zach juga.
Dan menggantikan mereka, susah. Menurut Arief,”Dari ketiga musisi tiup itu, mereka emang pemain tiup bagus. Semua idola saya, karena mainnya berkarakter banget. Saya senang lihat mereka main. Inspiratif gitu. Saya mah masih jauh dari mereka...”
Susah ga sih menjadi pemain tiup? “Susah? Ga juga. Kalau hanya menebak atau mengira-ngira, ya susah. Sekedar bisa main, meniup gitu, mungkin sih ga susah. Sedikit lebih susah kalau mau serius, jadi musisi bermain alat tiup dengan benar.”
Lalu ia mengatakan lagi,”Kalau mau main tiup dengan benar, terutama saxophone ya, perhatikan aja bener-bener soal menghasilkan suara yang enak dulu. Sound production. Itu paling dasar deh. Mau pakai sopran, alto atau tenor dan bariton sekalipun. Ya berikutnya, memang soal alat penting juga. Saxophone itu ada berbagai jenis, ada yang untuk main-main saja, ada yang menengah, ada yang untuk profesional.”
Dia lantas menunjukkan contoh, sekarang banyak saxophone yang bagus, keren, mengkilat. “Ya bagus, lebih menarik. Biar saja, bagus untuk bikin orang jadi suka kan? Untuk bikin orang jadi pengen belajar. Nanti kalau mau serius, baru cari yang memang untuk beneran, untuk profesional. Persoalannya, peralatan kayak saxophone yang bagus itu memang sih ga murah...”

Menyangkut Arief, memang ya uniknya begitu. Pemain piano sebetulnya. Ia pernah belajar piano klasik, beberapa waktu. Semua anak belajar musik, begitu ceritanya. Ga heran sih, ayahnya itu memang pemain biola dan ibunya sempat menyanyi. Tapi dari piano lalu pindah ke flute, dan saxophone. “Pernah dikasih sebuah saxophone sama keluarga saya, jadi makin seneng maininnya. Sekarang sih udah ga ada saxophone itu,”ceritanya.
Ia saya temui pertama kali di Bumi Sangkuriang. Waktu ia masih menjadi pianis Wachdach, itu lho grup legendaris Bandung. Kalau di Jakarta pernah ada Gold Guys di Green Pub, nah di Bandung itu Wachdach. Arief “Jesus” adalah pianisnya. Saya mah cuma nonton aja. Lihat, sambil nongkrong dengan teman-teman.
Jadi, di Wachdach juga, kemudian Arief pindah instrumen, ya ke tiup. Flute dulu, baru saxophone. Dari Wachdach, grup berikutnya adalah Straight Ahead. Dan kemudian, penggemar Scott Hamilton dan Oscar Petterson ini, baru saya ketemu lagi di...studionya Bintang Indrianto. Waktu itu mereka rekaman Jazzy Duet.
Dari situlah, persahabatan begitu lengketnya dengan Bintang Indrianto dimulai. Ya, sampai ini harilah. Rekaman Jazzy Duet, lantas Jazzy Sax, sebagai solo album pertamanya. Ia mengisi banyak rekaman lain, yang diproduseri Bintang. Namanya juga, bassis paling aktif en paling kreatif. Soal itu, Arief juga langsung bilang, Bintang mah susah dicari tandingannya soal aktif, kreatif.
Idenya banyak banget. Dan suka ngagetin dan mendadak, juga unsur spontannya gede. “Asyik dan seru kalau dengan Bintang. Baik soal ide, juga mainnya. Kalau soal main, ga pernah sama mainin satu lagu itu...,” Arief terkekeh-kekeh.
Salah satu kegilaan Bintang adalah membentuk Phylosophy ABG Trio. Namanya itu, sekian waktu Bintang aja ga ketemu. Mungkin lebih tepatnya,kurang begitu peduli. Yang penting memang musiknya. Cerita Arief, saking free-nya musiknya itu, sampai rekaman aja di stasiun! Dilihatin orag, ah udah hajar aja, musisi kan kita.... Hahahaha, musisi niii yeeee.
Dan kerjaan rada iseng itu, rekaman di stasiun, eh beneran masuk album. Itu album pertama ABG Trio, yang bertajuk Phylosophy. Dimana cover depannya adalah...VW kodok 1967 milik Arief! Masih ada yang lebih seru, Trio itu mau main di Salihara, dalam waktu sangat cepat, Bintang minta Arief dan Gerry Herb untuk bikin solo album! Buat apaan?
Ya, buat dijual waktu di Salihara itu. Jadilah album paling unik. Yaitu ketiga personil Trio itu, masing-masing ada album solo. Isinya? Ya saxophone saja, drums saja dan bass saja. “Bintang bikin dengan cepet banget. Gendeng sih, tapi asyik banget kan? Mana pernah kebayang, bikin solo album asli saxophone aja?” Arief lagi-lagi senyum lebar.
Saya juga baru inget ide gokil itu. Bintang tetiba saja punya ide itu. Rekaman dibuat sangat cepat, langsung di duplikasi. Jadilah album. Ya memang ada 3 album. Saya inget, Bintang pernah bilang,”Nanti kita lihat saja, siapa yang paling laku albumnya, berarti dia paling banyak fansnya...” Hahahaha. Ada-ada saja.
Arief juga pernah mengembara di Australia, ngendon beberapa tahun di Sydney. Ia sempatkan belajar dengan gurunya, Dan Burrows. Iya, jadi ceritanya dia kursus dengan gurunya itu. “Lha sering ketemu, malah diajak main bareng. Ya gitu deh, saya mah seneng-seneng aja.”
Pulang dari negeri Kangguru itu, Arief balik jadi musisi lagi. Nah ia makin sering di Jakarta jadinya, malah pindah menetap di Depok. Bandung dia tinggalin. Sampai di 1996 dan 1997, dia sempat tampil di North Sea Jazz Festival, Den Haag.
Dia inget, dia tampil di Belanda antara lain dengan Oele Pattislanno, Yance Manusama, grupnya namanya Mahadewa. Penyanyinya itu, Warren Wiebe, yang ditemenin kibornya. “Saya lupa nama kibordisnya. Tapi saya inget-inget, waktu itu drummernya Inang Noorsaid, kalau ga salah. Ada juga Eka Bhakti ikut main.”
Catatan saja, Warren Wiebe itu penyanyi yang diajak kerja bareng David Foster. Lagu,’This Must Be Love’ dari album River of Love, dinyanyikan oleh Wiebe bersama Jeff Pesceto. Dalam album yang dirilis oleh Atlantic di  penghujung tahun 1990 itu, Wiebe juga menyanyikan lagu lain seperti,’Living for a Moment’ dan ‘Is There a Chance’. Salah satu album David Foster yang cukup populer di sini.
Nah tragisnya, setahun setelah mereka main di North Sea itu, jadi di 1998, Wiebe ditemukan meninggal pada 25 Oktober. Ia meninggal karena bunuh diri, dengan menembak pakai pistol. Menurut kabar, ia diduga stress berat saat itu.
Kembali kita menjumpai akang yang bijaksana dan jago maen alat tiup ini. Padahal dia sebenarnya,bisa dibilang, multi-instrumentalist euy.Semua alat juga bisa. Bahkan...tak ada akar, kayupun berguna.Eh, ga kebalik? Ah gini yang penting, tak ada saxophone, tas plastik kresek juga bisa dipakai.
Buat bawa barang belanjaan, ya kan? Ga lagi gratis lho, sekarang. Bukan itu.Tas plastik kresek itu bisa jadi...alat musik! Di tangan Arief, tas plastik begituan bisa diberdayagunakan dengan maksimal. Dasar orangnya kreatif dan kritis! He he he.
Emang bisa dipakai dong, jadi kayak alat perkusi,begitu ungkapnya. Ketika dia bunyikan, mirip suara shaker. Atau juga, cabassa ya? Dia mengaku, dia melihat musisi di Australia memakai alat musik plastik kresek gitu. “Udah lama lupa euy. Eh baru keinget lagi. Jadi sering sengaja nyiapin tas plastik begitu, masukkin kantong celana,” lanjut Arief lagi.
Saat ini, Arief masih terus main dengan rutin. Sesekali, masih bermain dengan Indra Lesmana Reborn, dengan catatan kalau memang diajak, begitu jelasnya. Tapi grup tetapnya memang Phylosophy ABG. Selain itu dengan Nial Djoeliarso.
Masih ada juga, grup akustikan gitu. Dimana Arief bermain dengan Oele Pattiselanno dan Jeffrey Tahalele. Awalnya, formasi lengkap dengan drummer Jacky Pattiselanno dan pianis Glenn Dauna juga. Tapi saat bung Jacky sakit, akhirnya diteruskan dalam format trio saja.
Ia juga masih mengajar. Di sekolah musiknya Otti Djamalus dan Yance Manusama, di kawasan Radio Dalam. Menurutnya, selalu ada saja anak-anak yang kepengen mencoba belajar saxophone. Sebagian sih ada yang terus dan jadi musisi tiup beneran. Walau ada juga yang kelihatannya, hanya pengen tahu saja. Tapi bagusnya, lanjut Arief, sebagian besar anak-anak muridnya sekarang sudah mempunyai saxophone sendiri. Modal mereka lumyan kan?
Selain itu, ia sesekali kerap mengajarkan secara private untuk orang-orang tua. Ya ada juga yang kayak pejabatlah, petinggi gitu. Yang kepengen bisa main saxophone. Banyak yang serius lho, jelasnya.
Menurut Arief, ia sendiri melihat, tetap ada generasi penerus potensial untuk musisi tiup. Ia menunjuk pada Ricad Hutapea dan Eugen Bounty misalnya. Didiek SSS dan Agus, dua adik kandung dari almarhum Embong Rajardjo, juga masih aktif main saat ini. Yang penting kan, belajar dengan baik dan berani untuk tampil saja.
Ia juga menunjuk, banyak musisi tiup muda, yang belajar di sekolah-sekolah musk formal. Mereka juga sekarang aktif main di orkestra-orkestra. “Banyak kok anak-anak muda sekarang, yang belajar serius alat tiup, baik flute, saxophone. Atau ya trumpet, trombone, dan alat tiup lainnya. Generasi penerus itu banyak, semua mereka rata-rata semangatnya bagus.”
Mengenai jenis musik, Arief melihat, kalau baru mulai tak perlu buru-buru langsung pilih musik tertentu. Belajar aja dulu, mengenal alat musik tiupmu dengan benar. Lalu bunyikan dengan benar dulu deh. Abisitu, coba mainkan nada-nada. Kalau soal jenis musik, nanti saja. Nanti akan kebentuk dengan benar, insya Allah. Jangan buru-buru langsung pengen jadi pemain tiup jazz misalnya.”
Tapi kan kalau mereka pengen main jazz dengan baik, boleh dong Arief Setiadi ajarin? Arief hanya senyum, ya boleh. Mau mainin musik apapun, hayiuks aja. Saya mah bukan peniup saxophone jazz. “Gw itu, memainkan musik dengan alat tiup gw, musik yang pengen gw mainin. Dan ketika saya tuh ikut main, ya harus bisa bikin musik di lagu itu jadi makin enak didengerin, enak dinikmatin...”
Kalau pengen bisa mainin bariton saxophone, kayak yang Arief mainin lebih banyak sekarang? Arief senyum lebar, ah sudah nanti deh. Bertahaplah. Tapi memang, saat ini saya jadi lebih suka bariton ini, soalnya kan jarang yang mainin. Biar keren aja, begitu ia becanda sambil tertawa lebar.
Udah ah, kang. Hatur nuhun untuk obrolannya. Punya duit ga? Ia langsung menjawab, kayak elo punya duit aja, via whats app messenger. Memang,obrolan iseng-iseng seru saya dan Arief itu, lewat whats app kok...../*



1 comment:

Cara said...

Thoughtful blog thanks for sharing.