State of Groove, It's All About Noise and Groove

Sebelum saya bercerita tentang teman-teman baik saya yang ini. Mau tanya dulu dong. Ada yang lupa ga dengan SoG? Eh kenapa, yang duduk deket jendela tuh, kerasan dikit dong.... Apa, boro-boro lupa, malah belum pernah denger? Oooh. Nah mas kok lain sendiri, tuh yang lain ada yang tahu, ada juga yang pernah denger kok.

Pegimane, cing? Dulu tinggal jauh? Eh tau ga, yang tinggal di Los Angeles aja, ada lho yang tahu banget dengan SoG ini. Jiaaaah, ga percaya? Ini beneran, bray....

Ini cerita awal dulu. Kilas balik ke sekitar 1997-1998an. Ariyo Wahab memulai cerita, ini grup saya pertama, yang bisa dibilang membuat saya mencintai musik. Jadi kepikirlah untuk jadi profesional di musik. Dan membuat saya makin suka nge-band. Ya kayak gitulah, “jadi grup ini berarti banget memang buat gw.”
So, Ariyo itu bertemu Candra, orang yang lantas menjadi menejer pertama grup ini. Candra itu teman dari EMIL juga. Maka merekapun dipertemukanlah. EMIL dan Ariyo. Pertemuan di sebuah studio di kawasan Hidup Baru, Cipete. Dari pertemuan itu, kayaknya langsung “nge-klik”.
Berikutnya, bertemulah lagi. Langsung di VIM Studio, yang pada waktu berikutnya, menjadi markas mereka. Ariyo memperkenalkan drummer Arastio Gutomo atau Tomo. Juga bassis, Djoko Sirat. Mereka kebetulan sebelumnya bermain bareng, dengan band kampus. Sekampus dulunya, mereka bertiga.
Grup ini ya tempat ngegembel barengan. Gw tuh tidur di studio, kumpul terus. Main PS bareng-bareng. Seru aja. Waktu itu, gw bau mau kuliah. Ini memang juga menjadi ayak memotivasi gw buat menjadi gitaris profesional yang serius. Begit tutur gitaris, Yudha Wijaya atau yang dikenal dengan Chiko. Nah Chiko itu sebetulnya masuk menggantikan Taraz Bistara, yang sempat barengan tapi hanya sebentar saja.
Iya memang gw dan Tomo itu diajak Ariyo. Waktu itu, gw dan Tomo juga mulai main band dengan grup lain. Kita ketemu EMIL dan ngobrol serius. Prosesnya cepat aja kok. Coba bentar aja, langsung merasa ada kecocokkan. Oh ya awalnya drummer adalah Anton Canga, sempat berjalan beberapa waktu. Rekaman awal malah dengan Canga, begitu jelas Djoko.
Canga mundur, ketika rekaman mulai intens. Gw masuk diajak juga Ariyo dan juga Djoko. Gw merasa cocok. Maka gw langsung rekaman tuh. Prosesnya memang terasa cepat banget, instan deh, jelas Tomo.

Kalau gw sendiri memang kepengen bikin band. Serius. Musiknya rock, dasarnya. Tapi tentu saja, rock seperti apa kita obrolin bareng. Gw belajar ngeband serius ya dengan grup ini. Gw jadi belajar juga, ngeband bareng itu, bukan perkara mudah lho. Lebih susah sebetulnya, dibanding bikin keluarga. Ungkap EMIL, dengan senyum lebar.
Nama grup, State of Groove. Lantas jadi biasa disebut dengan “nickname”-nya, SoG. Ini datang dari EMIL. Menurut EMIL, artinya adalah “dalam keadaan nge-groove”. Ariyo, Djoko, Tomo dan kemudian Chiko setuju dengan nama itu.
Nah nge-groove itulah yang kemudian memang menjadi pembeda, musik SoG dengan musik grup rock lain. At least, pada kurun waktu sekitar itu. Ya sekitar 1997-an. Sementara album mereka yang bertitel Bebas, sebagai debut album, dirilis 1999. Titip  edar dengan Musica. Dimana gitaris, sahabat baik mereka, Denny Chasmala, menjadi music director mereka.
Yang jelas kita juga ga lupa, kita sempat mengalami suasana kelamnya kerusuhan Mei 1998. Kita sampai ga bisa kemana-mana, ya di studio aja sambil rekaman dan kumpul-kumpul, cerita Ariyo. Kerusuhan yang disusul suasana krisis moneter itu, sedikit banyak ada imbasnya ke SoG, lanjut EMIL. Agak sedikit tersendat, proses penyelesaian albumnya, Ariyo menambahkan dan disetujui EMIL.
Ya musik mereka itu menjadi pijakan dasar dari musik SoG pada album perdananya itu. Rock yang nge-groove. Mungkin jadi terkesan rada ngegoyang, ga terlalu metal atau ga keras banget. Rock seperti itu, ya beda dengan beberapa grup yang muncul di era sama.
Tak hanya itu lho. Tomo dan Djoko menyebut juga, SoG dulu membuat mereka punya pengalaman pertama, mewarnai rambut mereka warna-warni! Iya, SoG memperhatikan soal kostum, termasuk tetek bengek assesoris. Rambutnya kita aja sampai sepakat untuk warna-warni tuh, ucap Djoko dan Tomo lagi yang diiyakan Ariyo.

SoG jadi unik dan beda kan. Misal bila dibanding dengan /rif yang waktu itu lebih alternatif, Java Jive yang lebih light, pop-rock.  Atau apalagi misal dengan Edane yang lebih hard rock. Jadi pada waktu sekitar itu, muncul beberapa grup lain, yang lantas belakangan menjadi besar. Sebut saja The Groove misalnya. Termasuk PADI sampai Sheila on 7.
SoG memperoleh sambutan lumayan positif, dengan album perdananya itu. Mereka dibuatkan klip untuk lagu,’Maafkan’, oleh Musica. Itu menjadi single yang “jualan”. Masuk ke radio-radio. Membuat mereka mulai dikenal luas. Mereka kemudian juga membuat video klip lain, untuk lagu, ‘Inilah Aku’ dan ‘Disko’.
Memang pada saat itu, ketiga lagu tersebut, sukses lumayan. Setiap mereka main dimanapun, banyak penonton merikues ketiga lagu itu. Musica, sempat membawa mereka tur beberapa kota, bersama Inka Christy, Louder, Batere, Bening. Tour musik Jawa – Bali itu, dilalui dengan bis, dengan semua artis menggunakan bis yang sama. Tur yang seru, ingat EMIL.




Mereka juga adalah grup pembuka dari konser Sheila on 7 di Lampung, yang lantas terjadi insiden dengan memakan korban nyawa beberapa penonton. Rusuh memang, walau mereka sebetulnya juga tak terlalu paham, kenapa sampai ada kerusuhan. Malah sampai ada yang meninggal.
Saat itu, secara komersil, SoG mulai populer. Terutama di pasar musik. Sementara di kalangan musisi sendiri, mereka mulai mendapat perhatian juga. Dianggap grup rock yang “ajaib”, keren dan bagus. Maka sampai satu saat, Andy /rif ga bisa menyimpan kekagumannya terhadap SoG. Ia, secara becanda tentunya bilang, ah grup ini bagus banget gw sumpahin cepat bubar.

Apesnya, beberapa waktu kemudian, SoG beneran “selesai”. Terhenti. Dan ga bisa terus. Mereka padahal mulai dikenal luas, fans fanatik mulai terkumpul. Image mereka bagus waktu itu, apalagi launching album juga lewat konser launching di Fashion Cafe. Suasana meriah dan ramai, bray...
Dan begitulah, sayang memang terhenti di awal 2000-an. SoG tak bisa berlanjut. Salah satu alasan, mereka mulai sibuk dengan job masing-masing, makin susah untuk ngumpul bareng. Album keduapun, yang sempat mulai dirintis, akhirnya tak berlanjut.
Bebas, menjadi satu-satunya album rekaman yang mereka hasilkan. Ada 11 tracks di dalam album perdana tersebut. Racikan musiknya baru dan unik, pada masanya itu. Malah juga ada yang menganggap, konsep musik SoG itu kayak “mendahului jaman”...
Tak sedikit pula yang menyayangkan, SoG kenapa harus stop saat itu.
Ya kayak gini deh, panggung baru dinyalain, sound baru hidup. SoG baru mainin beberapa lagu, penonton baru mulai panas, mulai hanyut, mulai berasyik-masyuk dengan musik panasnya SoG. Eeeh, berhenti. Terasa “kentang” kali ya, alias “kena tanggung”. Ga heran, banyak yang sedih dan kuciwa....
Ealaaaa, groovy-nya dalam musik rock adonan mereka itu, buseeetttt ternyata ngangenin! Etapi, coba tunjuk tangan, siapa aja coba dweeech yang masih inget SoG dan lantas kangen sama musik mereka?

Sampailah di awal 2016. Tetiba saja, SoG bisa dikumpulin lagi. Ngobrol-ngobrol dululah. Silaturahmi, setelah nyaris tuh 17-18 tahun ga ketemuan lagi. Reunian, cerita-cerita masa lalu. Segitu aja? Ternyata, mereka sepakat mencoba untuk ngobrol-ngobrolnya diterusin....Diterusin dengan alat-alat musik masing-masing! Eng ing eng....
Yoi jack, selengkapnya formasi album, bisa dan mau kumpul lagi. Arastio “Tomo” Gutomo (drums), Yudha “Chiko” Wijaya (guitar/backing-voc), EMIL (guitar/backing-voc), Djoko Sirat (bass) dan Ariyo Wahab (lead vocal).
Kejadian deh, mereka lantas latihan bareng. Dan bisa kesampaian, untuk kembali kumpul dan main bareng. Jadi, mau serius lagi? Ariyo dan EMIL mengatakan, bukan tak mungkin kalau kita lantas jalan bareng dengan serius. Selanjutnya gimana dong?
Main dulu, kata mereka. Sambil memikirkan, kemungkinan bisa rekaman lagi, jelas Ariyo. EMIL menambahkan, saya dan teman-teman ya pengen serius lagi. Mereka juga menyadari, grup-grup rock itu banyak saat ini. Jadi mereka pasti perlu strategi khusus, untuk bisa muncul lagi dan meneruskan eksistensi mereka.
Ga hanya sekedar nongol dan meramaikan panggung musik kan? Ya mereka setujui itu. Tak berhenti sekedar meramaikan. Harusnya bisa lebih berarti lagi. Walau mereka juga masing-masing punya proyek musik lainnya.
EMIL dengan Daddy’s Day Out nya, Chiko yang membantu banyak show dan rekaman. Tomo dan Djoko demikian pula, dengan antara lain bermain dengan pelbagai entertainer-band, di kafe-kafe misalnya. Apalagi Ariyo, dengan Free on Saturday atau FoS nya dan The Dance Company.

Nah gitu deh, sekilas cerita tentang State of Groove nan groovy ini. Modal mereka itu bagus banget. Malah emang sih, waktu mereka mainin musik mereka waktu itu, mungkin bener ya rada “mendahului jaman” coy. So, saya pikir, musik mereka tuh kalau aja dibunyiin lagi sekarang, masih apa ya, matched lah dengan musik sekarang.

Yoih, ga out-of-date kok. Yang misal belum kenal, ya langsung kenal dan rasa-rasanya bisa langsung suka. Yang lupa-lupa ingat, bisa jadi bakal cepat keinget. Artinya kan ya, mereka ini tetap punya potensi buat back for really sure. Gitu deh bahasa kerennya. Kembali untuk apa ya enaknya dibilangnya, memanaskan lagi panggung-panggung musik? Yes, bisa banget. Bisa begitu kok....
Well, ya marilah memanjatkan harapan. Kita bakalan ga kelamaan kentang lagi nih. Uhuy! SoG dengan rocknya yang menggoyang, eh mulai on lagi. Yiuks ah! Be ready peeps!***














Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...