Tohpati-Bertiga, Memang Penambah Darah, Tenaga dan Semangat Hidup



Begitu dengerin track pertama, ‘Conviction’, alamak! Kenapa saya jadi tersengat, hingga lubuk hati yang terdalam. Ahay, lebaynyooo! Kalau aja saja, saya ga tahu ini cd albumnya siapa, saya mungkin pikir ini album trio bule nih.
Yes, saya tersengar. Seperti langsung memancing naik adrenalinlah. Ngerock. Steve Vai, Jeff Beck, Steve Morse? Or who else, Eric Johnson? Oh no! No, no, no. Rubben Fordlah atau Mike Stern? Mungkin almarhum Allan Holdsworth? Ini lebih ngerock sih. Lebih, hot. Eddie Van Halen dong? Astaga!
Well gini, deskripsi saya pasti lebih ke “orang awam. Please guys, maklumilah awak ni bukan pemain gitar. Jadi lebih pada rasa aja. Taste atawa selera ya? Saya pastinya tak mungkin membahas album baru ini ke sisi tehnikal, apalagi gitarnya. Sok teu amat elo, bro! Bisa gitu orang-orang nanti bilangnya....

Tapi lagu kedua, mungkin intensitas rada menurun. Tapi tetap punya daya sengat. Funky gitu deh. Lagu kedua adalah, ‘Faces’. Lagu itu yang judulnya lantas diambil jadi judul album ini. Ini album gitar memang sih. Di depan gitar, ber-effects macam-macam kayaknya. Bass dan drums terus dengan rapat mendampingi.
Dengan sound yang relatif beda, ya pada gitarnya, masuk ke lagu ketiga, ‘Extraordinary’. Lagu ini datangnya dari inspirasi atas kepergian sahabat baiknya, musisi jazz, Riza Arshad. Ini semacam cara dia memberi semacam respek dan apresiasi terhadap sang sahabat itu.
Nah lagu keempat, Bright Side’, sound gitarnya oho. Tebal, gurih, lezat, enak dilidah, masuk tenggorokan lancar euy. Bikin peruttak terlalu lama, berasa kenyang. Nikmatnya! Saya kasih tahu ya, ini sound gitarnya emang...bisa bikin “rada menipu”. Ke bule-bule anlah ya.

Pada lagu ini, terasa lebih tebal nuansa fusion. Agak 80’s sedikit. Paling tidak, itu yang saya tangkap ya. Bisa saja saya salah, lha wong namanya juga bukan pemain gitar. Hehehe. Tapi saya suka juga lagu ini. Lagi-lagi sound-nya merampas perhatian saya.
Berikutnya,’Absolute’. Sebuah piece jazz rock yang bener-bener mengandalkan kekuatan trio. Gitar di depan, didukung, dijagain, didampingi bass dan drums. Ketat penjagaannya. Nempel lah gitu.
Ada soloing bass mendapat porsi, termasuk dengan slappin’. Bass memang mendapat kesempatan maju ke depan sesaat, seperti yang terjadi juga di lagu pertama. Lagu ini terasa colorful, ada naik turunnya. Dinamis.
‘Bluesphoria’memang bluesy. Tapi dalam tempo lebih cepat. Sound gitar agak beda lagi. Lagu yang suasananya, macam menemani kita berkendara menyusuri padang rumput luas, di kanan kiri ilalang. Pemandangan hijau, dengan sapi-sapi tengah merumput....


Jadi kayak apa sih ya. Masak kayak Gugun Bluesshelter? Beda suasana musiknya sih. Overall. Kalau lantas teringat ke Gugun itu, mungkin karena bluesnya? Tapi ini, buat saya lho ya, lebih tight. Musiknya blues rock, tapi soloingnya tetap bernuansa jazz rock bangets.
Sebagai lagu ketujuh, ada ‘Sweet Talk’. Manis sih, cuma berasa ada juga sedikit asem-asemnya gitu. Asin juga kali ya. Tapi memang relatif lebih kalem. Tapi gini ya, jangan lantas membayangkan kalem sebagai .... ballad! Ya ampun, jangan berpikir sampai ke situlah ya.
Sebagai lagu penutup, ditempatkanlah lagu berjudul, ‘Intense’. Intensitas lantas seperti langsung menanjak naiklah. Kontak meninggi lagi. Ngerock juga ya? Kira-kira sih begitu dah. Kok ya kira-kira, kalau review album jangan mengira-ngira dong. Kan sudah saya bilang, saya bukan gitaris.



Udah ah. Segitu aja. Lha iya, lagunya juga udah habis. Emang hanya ada 8 tracks saja dibikinnya. Ini adalah second album dari kelompok yang bernama TOHPATI Bertiga. Hanya bertigaan. Tohpati Ario Hutomo, gitaris. Indro Hardjodikoro sebagai bassis. Dan drummernya adalah Adityo Bowie Wibowo.
Memang ini saya menyebutnya “sisi liar” lanjutan dari Tohpati. Dimulai dari Riot, sebagai album perdananya. Ini kelompok tetap. Sebuah eksplorasi berbeda dari seorang Tohpati, yang dikenal dengan panggilan sayangnya, Bontot.
Suasana ataupun nuansa musik, lebih rock, sound gitar tebal, tight. Bikin semangat menyala-nyala. Baik Riot maupun Faces terasa “senada”. Intensitas tinggi, bro! Buat yang senang album-album gitar bersuasana rock instrumental, nah ni album kudu dibeli.
Yes, jangan cuma didengerin. Haruslah dibeli. Nikmati saja, kala lagi butuh tambahan semangat. Misal, lagi mau kerja gitu ya. Lagu-lagunya bisa menimbulkan inspirasi.
Ga percaya? Makanya beli deh. Itu saran saya ya.  Sebuah sajian album bergenre apa sih ini ya, progressive jazzrock? Bisa saja begitu disebutnya. Tapi memang ya, Tohpati asli melakukan eksplorasi yang terkesan “liar” dengan kelompok trionya ini.
Ia sadari betul, lagu-lagu dalam albumnya ini tak pop. Penggemar terbatas. Tapi ini juga soalnya ada bagian dari ide dan kreasi bermusiknya. So,begitu ada kesempatan dan dia bisa yadoski bikin. Dan, jadi deh!


Saya tak hendak berbicara, musik beginian apa memang segmented pasarnya. Relatif sih. Kalau saya pribadi, itu tak lagi penting. Toh saya suka. Maksudnya begini, kalau saya suka, kan ga harus banyak orang yang suka?
Kalau banyak orang yang tahu, apalagi suka, ya bagus-bagus saja. Buat saya mah, it’s ok, bro. Mungkin kan soal laku atau tidaknya, ya itu hal yang dipikirin musisinya tentu. Tapi saya yakin, kalau Tohpati kelewat mikir, ada yang beli atau ga musiknya yang outside mainstream begini, ia pasti ga akan bikin album ini. Apalagi lantas menjualnya ke publik.
Saya baru kemarin ini, pas Kamis malam sehari setelah pilkada DKI Jaya selesai. Yoih, 20 April malam. Malam itu saya menonton live kelompok trio Tohpati Bertiga ini. Tempatnya di Lefty Suites, di gedung Foodism, Taman Kemang.
Kalau tak salah, ini penampilan kedua mereka, dalam menyajikan sebagian besar lagu-lagu yang ada di album Faces. Yang pertama, saat kesempatan mereka tampil di Java Jazz Festival 2017, di bulan Maret silam, dimana mereka memperkenalkan repertoar-repertoar baru mereka untuk kali pertama.
Dalam konser kecilnya mereka kemarin itu, penonton lumayan juga jumlahnya. Konsernya kecil, soalnya memang venuenya juga kan bukan sebuah hall besar. Tapi lantas menimbulkan kesan lebih intim dan akrab sih. Seolah, penonton tak berjarak deh, dengan ketiga musisi yang tampil di atas panggung.
Tohpati, Indro dan Bowie membawakan lagu-lagu dari album keduanya. Selain menyelipkan beberapa repertoar dari album pertamanya. Selain itu, eh “usil”nya, Tohpati Bertiga menyelipkan lagu Michael Jackson lho. Beberapa hits Jacko dibawakan mereka, dirangkai menjadi satu. Yang nyanyi siapa? Ya ga ada, masak Bontot nyanyi juga?
Mereka bermain rapat bertenaga, penuh vitalitas. Penambah darah dan tenaga. Udah kayak multi vitamin dan suplemen penambah keperkasaan aja sih? Hahahaha, ga gitu. Tapi memang swear, bertenaga ya. Kayak ga membiarkan pendengarnya untuk menarik nafas saja! Wuiiiih!


Saya memang suka dengan jenis-jenis musik yang jazz rock bertenaga, solid, ramai, relatif  kencang. Seperti ga akan membiarkan saya....tertidur!
Jadi kita tuh dibuatnya, pasang telinga terus dan menatap terus tak berkedip ke atas pnggung. Ok, mereka tak terlalu liar dalam aksi panggung sih. Malah, memang terlalu kalem untuk musik keras mereka.
Ga ada tuh, kaki Bontot misalnya, satu kakinya dinaikkan ke speaker monitor. Atau Indro, berlari-larian ke sana kemari di atas paggung. Palingan hanya ekspresi dan teriakan-teriakan kecil Bowie, yang sedikit memberi aksen kerasnya musik mereka.
Saya pikir, seru juga kalau mereka melengkapi penampilan mereka dengan “sedikit” stage-act. Bikinlah kejutan gitu lho. Penonton pasti terkesima! Asli! Aha, pasti Bontot kalau disodorin ide itu bakalan tertawa terbahak-bahak. Gilani!
Kalau misal Indro yang dikasih ide itu? Indro mungkin juga tertawa lebar juga. Tapi abis tertawa, dia akan bilang, nih gw ada cerita.... Cerita apa? Kemarin itu, Tohpati atau Bontot mempersilahkan Indro cuap-cuap juga, khusus untuk bercerita. Stand up comedy?
Segini saja dulu catatan saya tentang Tohpati Bertiga. Kalau mereka manggung lagi, nanti saya fotolagi dan mudah-mudahan bisa saya tuliskan lagi. Nanti di acara lain, semoga tustel saya ga “ngadat” lagi. Hahahaha, saya ketawa membaca komen Tohpati atau Bontot di akun fanpage di Facebook saya.
Tohpati dengan usilnya tanya, tustel elo lagi rusak kok fotonya ga ada warnanya? Ada-ada saja, Bontot ini.... Ah, udah ya./*









Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...