BOYJazz2017, Namanya itu lho... ! Sampai tahun depan yaaa....




Meminjam istilah “guru sekaligus senior” saya, Bens Leo, ini memang tugas negara! So berangkat dengan very first flight dari kota Medan. Begitu kelar festival saya di North Sumatra Jazz Festival yang digelar di hotel JW. Marriot Medan, langsung cabsss menuju bandara Kuala Namu, dengan kereta api nyamannya itu.
Ngantuk dong, eh apa udah seger? Ngantuk pastinyalah. Sendirian bro. Masuk Jakarta pagi hari sekitar jam 08.00, lalu berpindah terminal di bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Untuk menumpang pesawat, ganti airlines, yang akan menerbangkan saya ke kota Solo. Tujuannya adalah Boyolali! Ini kali pertama saya bakal menyinggahi kota Boyolali lho.
Eh di bandara, bertemu sebagian rombongan grup musik Bintang Indrianto Festival, yang akan menuju kota Ponorogo, untuk tampil di sebuah festival jazz juga. Serunya kan, ada 2 festival jazz yang diadakan pada waktu bersamaan, ya Sabtu dan Minggu juga, 21 dan 22 Oktober!
Mereka adalah Sofyan sulingist, Denny Chasmala, Ronald perkusi dan Muhamad Madun sebagai pemain gendang. Kami malah lantas satu pesawat, menuju Solo. Dan setelah melalui penerbangan “kurang menyenangkan”, karena cuaca sih, kami sampailah di bandara Adi Soemarmo. Kami berpisah, mereka menuju Ponorogo, dengan ada jemputan.
Saya sorangan wae, menuju kota Boyolali. Tanpa jemputan, jadi mengambil saja taksi resmi bandara, untuk menghantar saya ke Boyolali. Bayangan saya, kota Boyolali itu sudah teramat dekat dengan bandara. Lho, bandara Adi Soemarmo sebenarnya berada di daerah Boyolali kan? Dekat dong?
Salah besar! Lumejen bung. Lihat aja “argometer” yang dikenakan perusahaan taxi tersebut. Di atas angka cepek-ceng. Ealaaaa, jauh juga! Dan kurang lebih hampir 45 menit memang saya tiba di penginapan, yang menjadi markas dari penyelenggara Boyjazz 2017. Itu pakai acara, agak kesasar sedikit....
Yup, saya memenuhi jadwal “tugas kenegaraan” dengan terbang langsung dari kota Medan, via Jakarta ke Boyolali. Demi menyaksikan pentas Boyjazz, Boyolali International Jazz Festival. Ini perhelatan festival jazz pertama di situ.  Rencananya Boyjazz digelar dua hari, ya di 21 dan 22 Oktober tersebut.


Boyjazz mengambil tempat di alun alun kidul kota Boyolali, yang berdampingan dengan kantor pemerintahan kabupaten Boyolali. Areal alun alun kidul tersebut lumayan luas, dan kabarnya buru-buru diselesaikan pembangunannya untuk menjadi arena penyelenggaraan festival.
Well, pertama kali mengetahui ada festival jazz di Boyolali, saya kaget dan terkagum-kagum juga. Oho, ada lagi festival jazz baru. Indonesia makin jazzy saja. Walau langsung juga teringat, ada berapa ya festival jazz yang ternyata hanya berusia singkat, sekali atau dua kali, paling banyak juga tiga kali, terselenggara. Lantas hilanglah kabar beritanya.
Kasusnya sama, yang menimpa festival jazz yang terhenti itu. Dana dari pemerintah setempat dihentikan, dengan berbagai alasan tentunya. Maka pihak yang bekerjasama untuk menyelenggarakan festival tersebut, semacam event organizer begitulah, tak bisa berbuat apa-apa. Selain gigit jari, dan tak lagi datang ke kota-kota tersebut.
Nah Boyolali, ini kali pertama. Kabar yang saya dapatkan dari pihak pengundang, bapak Bupati Boyolali, drs. Seno Samodro, serius betul untuk menyelenggarakan sebuah festival jazz. Beliau bahkan sudah menjanjikan, ini bakal menjadi agenda tetap tahunan, dan akan terus terjaga keberlangsungannya paling tidak selama beliau masih menjabat sebagai bupati.
Kayaknya pernyataan mantan jurnalis yang lantas jadi pengusaha dan kemudian menjadi kepala daerah tersebut, bisa dipegang. Beliau memang penggemar musik. Ada beberapa event musik berskala relatif besar, pernah digelarnya di kotanya, demi menghibur masyarakatnya. Baik itu rock maupun pop. Tetapi jazz, ini kali pertama.
Melihat line-up talent yang dihadirkan di Boyjazz, cukup mengagumkan. Boyjazz sanggup mendatangkan superfusionband, Krakatau versi Reunionnya. Kelompok 1985-an yang sedang aktif-aktifnya ber-reuni ini, saat ini termasuk grup fusion-jazz terlaris. Ditanggap main di pelbagai festival. Lancar betul jalannya. Ngebut malah!
Padahal, ini terpenting, bandrol mereka masuk pada kategori premium-class. Bisa dipahami, maklum ke-6 personilnya adalah para master di posisinya masing-masing saat ini, tentu saja dengan jam terbang ekstra tinggi.



Nah itu bisa diartikan, bisa jadi bukti konkrit bahwa bupati Seno Samodro jelas serius dalam menghadirkan sebuah festival jazz di daerahnya. Apalagi ada juga 2 rombongan musisi internasional yang didatangkan, khusus untuk Boyjazz kali ini. Dari USA pula, selain dari Eropa. Belum lagi ada nama terdepan di skena blues Indonesia, Gugun Blues Shelter yang diundang untuk main.
So, begitu sampai di kota Boyolali, saya sempat meluruskan body sesaat. Pamit sebentar, setelah bertemu sahabat-sahabat saya. Adalah Tompel Witono, yang saat itu lantas bertugas menjadi supervisor production dan stage management, bersama Kerto. Tompel-lah yang sudah sejak lebih dari sebulan sebelumnya melemparkan undangan kepada saya. Elo datang ya bro, tiket dan hotel disediain, nanti gw kabari lagi detilnya!
Ia dan Kerto memang sudah saya kenal dekat sejak lama. Dan niat Tompel direstui oleh “korlap” Boyjazz, pakde Toro Cocomeo. Yang memang kali ini sengaja juga mengundang datang beberapa wartawan senior, eh yang ternyata satu almamater saat kuliahnya dulu. Karena itulah, saya pun bisa terbang ke Boyolali. Walau sampai di kota penghasil susu sapi itu, badan ini letih dan lesu. Belum tidur, jack!
Langsung di Sabtu 21 Oktober itu, selepas Maghrib menuju venue. Barengan ke lokasi, sekitar 15 menit dari penginapan. Arealnya luas betul. Tapi alasnya bukan rumput, kerikil-kerikil kecil, wah tak mungkin orang gelar tikar dong ya? Ah, nonton jazz mah berdiripun harusnya tak masalah....







Saya kelewatan penampilan grup-grup jazz muda setempat, termasuk grup dari kota terdekat macam Solo, Yogyakarta hingga Semarang. Mereka di plot mengisi acara pada siang hingga sore hari, selesai sebelum adzan Maghrib berkumandang.
Di hari pertama itu tampil berturutan Tricotado lalu juga ada Lost and Found, Jazz Ngisoringin (datang dari Smarang) dan grup lokal setempat, Allegro Sanapare. Ga tahu juga, ada berapa banyak penonton dari siang sampai sore hari itu. Tapi mengingat itu pertunjukkan musik gratis, rasa-rasanya penonton sudah berbondong-bondong datan sejak siang kan.
Nah lewat jam 19.30 tampillah trio yang memainkan blues, belakangan sih malah terasa makin ngerock sebenarnya. Gugun pada gitar, Fajar Adi Nugroho pada bass dan Adityo Wibowo a.k.a Bowie pada drums. Siapa lagi kalau bukan, Gugun Blues Shelter.
Di malam panjang, nonton blues di sebuah event festial jazz, serasa asyik juga. Mana lagi angin bertiup lumayan kencang dan brrrrr....dingin! Agak tak mengira, suhu udara ternyata sedingin itu.
Penontonnya berserakan menempati areal luas yang ada. Sebagian besar malah memlilih menonton dari kejauhan, karena bisa duduk. Hanya ratusan yang menonton sambil berdiri di depan panggung. Jadi terkesan penonton tak banyak jumlahnya...
Selesai dengan Gugun Blues Shelter, lantas giliran kelompok musik Tropical Transit yang datang dari Bali. Dipimpin oleh Ketut RiwinDacuba”, gitaris yang ex personil kelompok vokal Pahama. Ia membawa antara lain Al Ismono (perkusi dan vokal), Jimmy Silla (bass), Tri Agus Mantoro (drums) dan Yuhono Bakti Jaya (kibor).
Dan ada penari nan enerjik, yang mendukung penampilan Tropical Transit kemarin. Namanya Erwin Ardian. Lebih dikenal dengan nama panggungnya, Tebo Umbara. Ia menarikan spinning dance, menimplai musik meriah dari Riwin dan kawan-kawan.





Selain itu ada juga vokalis lain, Anthony Rosadi, yang juga memainkan djembe. Serta vokalis perempuan, Tellywati. Serta didukung pemain flute, Carolena Cohen.
Musik mereka memang jazzy tapi juga ada nuansa musik macam-macam lainnya, reggae misalnya,  atau latin. Suasana musiknya riang, groovy, sehingga bikin penonton kayaknya lebih pas merespon musiknya, sambil bergoyang-goyang. Goyang kecil tak apa, yang penting kan....lemesin aja.
Selepas suasana santai kek dipantai, dengan nyiur melambai dan kalau mau, rambut bisa digimbalkan, kembali ke suasana blues. Dari Riwin dan Tropical Transit, berganti dengan Jan Korinek and Groove, trio dari Czech. Trio blues muda dengan formasi Jan Korinek pada hammond organ. Ditemani oleh Jiri Marsicek (electric guitar) and drummer, Tomas Vokurka.
Ada suasana blues berbeda lagi, dibandung apa yang disajikan GBS, sebelumnya. Suasana tambah hangat saat naiklah penyanyi tamu, very special guest, Lorenzo Thompson. Kemudian juga ada Sharon Lewis, direct from USA. Blues era 1960-1970an mewarnai betul musik yang disajikan oleh dua vokalis berkulit hitam tersebut.







Selesai jelang jam 24.00, dan kamipun kembali beramai-ramai balik ke hotel. Beristirahatlah. Masih ada esok, sebagai hari kedua. Dan hari kedua, jadwalnya sama, ke venue selepas Maghrib, dan beramai-ramai.
Saya kembali melewatkan penampilan grup-grup muda seperti Sojazz dari komunitas jazz Solo, lalu ada Jazz Mben Senen dari Yogyakarta, serta kelompok Absurdnation yang datang dari kota Semarang.
Selepas Maghrib, panggung diisi oleh Reagina Maria bersama grupnya, Everyday. Mereka terbilang grup muda potensial dari kota Yogyakarta, salah satu yang muncul dari komunitas Jazz Mben Senen, yang selalu tiap Senen ada panggung terbuka untuk kumpul-kumpul.
Suasana santai dan rileks, musiknya Everyday terasa renyah, ringan dan empuk gitu untuk ditangkap masuk telinga penonton. Setelah Everyday, lalu giliran gerombolan lain yang datang dari Eropa. Grup musik ini terdiri dari beberapa musisi yang datang dari lain negara.
Dipimpin kibordis dan vokalis, Juan Ostos dari Venezuela. Dengan para musisinya, Norberto Fuentes, berasal dari Cuba dan memainkan conga dan flute serta menyanyi.  Lalu ada Nicolo Loro Ravenni asal Italia, pemain sax. Kemudian Carlo Grandi, juga dari Italia, memainkan trombone. Ada pula, Hamlet Foirilli, painis dan vokalis, berasal dari Kolumbia dan Italia.





Pemain bassnya adalah musisi asal Itala, Alberto Lovison. Untuk perkusi dan timbales, ada musisi dari Italia lainnya, Matteo Alvatori. Nama kelompok ini Sol Caribe dan mereka datang dari Austria! Jadi rupanya, mereka para musisi yang dari berbagai bangsa dan negara itu, bertemu kemudian berkumpul justru di kota Wina, Austria.
Musiknya ramai, ada suasana keriuhan musik Karibia dan Brazil yang semarak.Lumayan dalam mengangkat gairah penonton dan tentu sekaligus, menghangatkan badan dari terpaan angin dingin yang berhembus lumayan dingin itu. Saat itu, Boyolali di waktu malam, wuih...jangan lupa sweater lah!
Dan sebagai penutup acara, sekaligus acara terpuncak dari Boyolali International Jazz Festival 2017 itu, tampillah Donny Suhendra (gitar), Prasadja Budi Dharma (bass), Dwiki Dharmawan (kibor), Trie Utami (vokalis), Indra Lesmana (kibor) dan Gilang Ramadhan (drums). Yes, merekalah kelompok yang bisa jadi, paling ditunggu-tunggu penonton Boyjazz 2017, Krakatau Reunion.







Merekapun segera melepaskan pelbagai hits mereka yang sudah populer sejak akhir 1980-an itu. Menyelipkan juga beberapa buah lagu baru sih, yang juga disambut antusias penonton. Tentu saja penonton sangat menanti-nanti Tri “Iie” Utami dan grupnya, membawakan hits terpopulernya seperti, ‘Gemilang’, ‘La Samba Primadona’, ‘Kau Datang’, ‘Sekitar Kita’ dan lainnya.
Seperti membawa penonton dan semua hadirin, bernostalgia. Lalu juga bergembira ria. Apalagi yang mau diceritakan tentang Krakatau Reunion? Saya sendiri sudah akrab dan dekat dengan mereka, sejak masa terawalnya dulu. Dan senantiasa, well suka banget dengan penampilan musik mereka. Ini namanya temen jadi fans atawa, fans jadi temen baik?
Dan setelah Krakatau menyelesaikan tugas dan kewajibannya, acara inipun berakhir sudah. Dan akhirnya memang, Boyolali pun bisa memiliki sebuah festival jazz. Semoga event tersebut, dapat ikut menaikkan kota Boyolali, terutama dari sisi pariwisata. Selain sisi ekonomi, sosial dan budaya lainnya.
Kabarnya, di tahun mendatang, Boyjazz akan dipindahkan sebuah venue yang juga baru, berupa hutan dengan pepohonan rindang, seperti tropical forest gitu. Hutan tersebut tengah dipersiapkan sejak tahun silam sebenarnya.







Kita bersama-sama tunggu dan lihat saja nanti, apakah Boyjazz akan dapat terselenggara dengan baik untuk seterusnya? Harusnya memang dijaga konsistensinya. Pasti baiklah, dalam meramaikan musik panggung Indonesia. Selain itu juga lebih mempopulerkan musik jazz, dalam format sebuah festival.
Sebagai langkah terawal, plus dan minus adalah hal sangat lumrah. Bagus diambil hikmahnya, dan menjadi bahan pembelajaran yang tepat. Sehingga di tahun mendatang, pihak bupati dan kabupaten Boyolali dapat kembali menyelenggarakan festival ini. Namanya sebenarnya sih kuat dan “sangat menjual” deh, Boyjazz!
Eh penting dong soal nama. Brand itu pegang peranan vital lho! Boyjazz itu kan mudah diucapkan, pastinya mudah diingat. Modern juga kesannya. Ngejazz kan ya? Modal nama itu, aduh mahal betul!
Ketika nama yang sangat familiar atau catchy ditempelkan dengan konsep yang matang, bisa dahsyat hasilnya! Apalagi dengan pola penyajian yang lengkap dan detil. Misal bagaimana sound, bagaimana panggung megahnya serta juga tata cahaya. Karena soal itu, di kali pertama kemarin, Boyjazz terbilang mendekati sempurna!
Trie Utami dari atas panggung juga sempat berceloteh riang dan tegas, festival jazz yang bagus dan rapi akan percuma kalau tidak ada penontonnya. Artinya, ia memohon supaya publik kota Boyolali dan sekitarnya, terutama, akan memberi atensi dan dukungan aktif. Sehingga festival jazz ini, dapat terus menjadi event kebanggaan setahun sekali kota Boyolali.
Ok sampai bertemu lagi dan jangan lupa mengundang lagi lhoooo..../*

Once again, thank you very much for the invitation and services and hospitality in Boyolali during the Boyjazz2017, epspecially Mr. Tompel Witono, and Mr. Toro Cocomeo..
















Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...