Catatan Iseng dari JJF 2017 dan Chick Corea



Ini sekedar catatan kecil lah. Mungkin bisa juga dibilang, catatan panggir. Pinggir sebelah mana? Pojokkanlah, dekat tembok, depannya ada jalan ke toilet. Dekat banget sama penyejuk ruangan, yang segede lemari pakaian itu lho.... Hehehehe.
Iya setelah tahun silam, saya tak mampu hadir menyaksikan Java Jazz Festival. Macam-macamlah alasannya.  Tapi yang terutama adalah, ah apalagi sih kalau bukan....isi dompet kelewat tipis! Jauhnya lho, Bintaro ke Kemayoran. Membayangkannya saja sudah pegal linu, bro!
Lalu alasan lain, entah ya saya merasa Java Jazz Festival itu sudah kelihatan daya magnetnya. Paling tidak sih untuk saya pribadi. Kehilangan magnet karena tadi itu, isi dompet terbatas? Tapi kalau magnetnya kuat sih, perkara isi dompet kan bisalah diakal-akalin. Ya kan?
Kalau ingat ya, waktu awal-awal Java Jazz Festival (JJF) itu, waktu masih di Jakarta Convention Centre, Senayan. Atau tahun-tahun awal di areal Jakarta Fair Kemayoran, waduh semangatnya itu! Semangat pejuang kemerdekaan 1945-an, mungkin kalah. Siap sedia deh untuk tempur 3 hari 3 malam. Berangkat aja emoh kalau terlalu sore.
Waktu itu rasanya, hati ini tak hendak kehilangan momen-momen “sangat nge-jazz” selama 3 hari itu. Saya sampai menyebutnya dengan senang hati, The Most Jazziest Weekend! Akhir pekan paling nge-jazz lah dalam hidup ini. Taelaaaa!
Ada sahabat saya menyebutnya, Hari Raya Jazz Indonesia. Ya saya setuju saja. Tapi ini 3 hari coy, hidangan jazznya aneka rupa. Segala ada, bisa dibilang, ah nyaris ada deh. Mana mungkin bisa terlewatkan?

Kalau bisa ya, semuanya ditonton, kudu dipotret. Jangan sampai terlewatlah. Kelewat,menyesal seumur jagung. Eh, seumur hidup. Antusiasku itu luar biasa deh. Well, soalnya kapan lagi nonton jazz terlengkap, kalau bukan di Java Jazz Festival?
Bagaimana mau mengaku, penggemar jazz, kalau nonton JJF aja ogah? Masak sih penggemar jazz, lha JJF aja ga mengerti...  Pamali, bro en sis. Segala dewa-dewi jazz, penyanyi dan pemusiknya, bisa tersenyum lebar kalau kita tidak meluangkan waktu nonton festival terbesar di Indonesia itu lho. Ngakunya penggemar jazz gettoooo, JJF dilewatin aje! Hehehe.
Sampai segitunya ya? Iya gitu deh sebagai ilustrasi ya. JJF itu arena dapat hiburan jazz maksimal, referensi yang luas juga. Dapat objek-objek foto bagus, asal rajin bergerak saja. Kemudian juga, ya arena bersilaturahmi, sekaligus reunian. Biasanya bisa ketemu teman-teman lama, yang mungkin lama tak jumpa.
Itu deh romantikanya JJF. Lebih “romantika”nya ya, daripada Jakjazz, yang suasana format festivalnya itu berakhir di akhir 1990-an. Tapi eh biar gimana juga, Jakjazz kan memperkenalkan saya dengan sebuah suasana festival jazz beneran, yang pertama kali bisa dirasakan di tanah air sendiri.  Edan aja, Indonesia bisa bikin festival jazz!!!

Waktu ada JJF lantas terkagum-kagum juga, ini kagak kalah gokilnya nih. Lebih gede lagi dari Jakjazz. Bisa nonton Gino Vanelli, James Brown, Jamie Cullum dan bayak nama-nama gede jazz dunia, yang lebih lebih ngejazz, lainnya.
Tahun ini datang deh ke Kemayoran. Itu juga lantaran diajak sahabat baik saya sih. Asli, udah dikasih tiket gretongan, bisa numpang boilnya pula, pergi dan pulang. Nikmatnyaaaa. Ah,masak harus berpikir panjang lagi?


So, datang di Hari Ketiga. Lalu nontonlah Monita Tahalea. Penyanyi cewek jelita, teman baik juga. Pengen lihat lagi performancenya. Oh ya itu juga karena ada Windy Setiadi, yang pemain akordeon. Ceritanya, saya dan teman saya itu, diundang khusus Windy juga.
Iya Windy, via sebuah whats app group bilang, nonton gw dong sama Monita Tahalea. Monita tuh, tetangga gw sejak lama, tapi gw ga pernah tahu lho! Baru tahunya, ya pas rencana mau main bareng di JJF ini. Astaga, Windy!
Monita tetap cantiklah. Motretnya enak. Ada Joseph Sitompul pada piano, Indra Perkasa pada akustik bass. Lalu Jessilardus Mates, drummer. Dan gitaris, lagi kembali jadi gitaris nih, Gerald Situmorang. Monita tampil menyenangkan.
Ah sudahlah, tak hendak rasanya mengomentari, dan sok melakukan review mendalam kali ini. Saya tuh cuma pengen menonton dengan manis. Santai. Kalau bisa juga memotret. Udah ah, itu saja. Beres!
Dari Monita, kemana lagi ya? Ini nih, kami itu bingung sebenarnya, karena jadwal acara kan ga pegang. Saya jadinya berempat. Dengan teman-teman baik, Kadri Mohamad dan Hayunaji. Satunya lagi, satu-satunya perempuan, ini sih teman terdekaaaaaaattt be’eng, Tyas Amalia Yahya.

Eh saya bilang,ini kalau sampai ga lihat Chick Corea, aduh...bisa hilang sebagian kenikmatan hidup ini! Bayangin, nama itu sudah ditunggu-tunggu sejak JJF pertama di 2005! Kagak bisa datang juga. Ditunggu-tunggu. Eh baru lah bisa nongol di 2017 ini. Oho!
Nonton pertama kali dulu banget. 1985. Ballroom Mandarin  Hotel. Itu tahun-tahun terawal saya jadi wartawan musik. Pas banget saya mulai suka dengan Chick Corea, gegara Return to Forever-nya. Eh itu jaman sebelum Chick Corea Elektric Band lho.

Ngantri sih, lumayan juga. Ah sebodolah. Yang penting nonton Chick Corea lagi, setelah 32 tahun! Apalagi ini dengan Elektric Band-nya, yang mulai reunian lagi. Sempat baca sebelumnya, memang Chick Corea sengaja mengumpulkan lagi teman-teman mainnya di Elektric Band, untuk main bareng lagi. Jalan bareng tour dan rencananya, katanya, akan ada album baru.
Gimana kalau saya akan ceritain tersendiri soal ChickCorea Elektric Band Iya nanti, jadi akhir tulisan ini aja ya. Soalnya, memang spesial sih. Aduh, nonton lagi Chick Corea tuh....sesuatu banget lah!
Ok then. Dari Chick Corea kamipun beranjak cari-cari kemana nih enaknya. Tau-taunya kami bersepakat,lihat Eva Celia deh. Belum main. Kami duduk santai saja, sambil tunggu mereka tampil. Dan, Eva yang kian cantik itu, tampillah.

Anak-anak muda semua, band pengiringnya. Begitu mudanya, sampai satupun musisi pengiringnya, ga ada yang saya kenal! Asyik banget. Dan Eva, ah makin cantik! Secantik ibunya! Iya, karena perempuan ya cantik. Masak mau dibilang, Eva seganteng bapaknya??
Eva wah trully talented. Jadi inget dengan ibunya dong. Ibunya sempat bertemu dengan saya sebelum Eva tampil, kami saling menyapa dan bersalaman. Jadi inget, bahwa saya kan yang memotret cover album sang ibu dari Eva Celia Lesmana itu, Sophia Latjuba, di akhir 1980-an Pemotretan di  lakukan di kawasan marina, Taman Impian Jaya Ancol.
Iya jadi mengikuti jejak sang ibunda. Cantik, model lalu main film. Begitulah Eva. Eh iya, main film, lalu menyanyi! Sang ibu kan sempat menghasilkan beberapa album rekaman.Nah 2 album terawalnya, foto di covernya saya yang motretin tuh. Baguslah pastinya....Hahahaha. Muji diri sendiri deh.

Abis itu, eh tepatnya sih Eva belum kelar shownya. Tapi kami berempat sepakat, untuk melanjutkan ke panggung yang lain. Berhenti sesaat menikmati ice cream. Kemudian menengok penampilan teman baik saya yang saya suka gayanya! Hehehe. Simon Marantika dengan Laid This Night-nya. Yang didukung oleh barisan tiup! Keren, keren. Soul bercampur bluesy gitu.
Di panggung yang sama itu, sebelumnya saya sempat menyaksikan sesaat penampilan dari drummer muda, Muhamad Rafi. Nama bekennya dulu, Rafi theBeat. Ia didukung para musisi muda handal. antara lain, yang saya kenal ya, ada Donny Jusran, Adra Karim dan Robert Mulya Rahardja.

Lalu saya begitu mengetahui akan ada Dewa Budjana dan Zentuary nya di salah satu pangung, langsung mengajak ketiga teman seperjalanan saya untuk nonton. Bukan apa-apa deh, Budjana itu memang temen baik sejak lama banget.
Saking baiknya, doski itu suka complain berat, kalau saya ga menonton penampilan dia dengan bandnya. Eh beneran. Suka nyinyirin saya lah di sosial media gitu. Kayak saya ga pernah mau menonton dia. Hahahaha.
Padahal aduh, ini aja langsung jadi prioritas lho. Harus nonton Budjana! Begitu masuk, eh udah main. Budjana tampil dengan format bandnya persis saat launching party album Zentuary nya di Tebing Breksi, Yogyakarta, pada akhir November 2016.
Irsa Destiwi, Rega Dauna, Saat Syah, Martin Siahaan, Shadu Rasjidi dan Demas Narawangsa. Itulah para musisi, sebagian besar musisi muda berbakat, yang diajaknya mendukung pementasan albumnya itu.
Budjana, aduh ga usahlah diceritain lebih detil ya. Bagaimana mainnya, lagu-lagunya apa. Kesan saya bagaimana. Pokoke, apik rek. Lanjuuuut dah. Kemana lagi dong? Bingung juga sih. Yang jelas, ya saat itu terlewat deh, untuk nonton Tohpati Bertiga. Juga Dwiki Dharmawan Pasar Klewer.






Aduh kok ya kelupaan.Iya, saya dan teman-teman yang baik hatinya, dan dulu rajin ke sekolah itu, sempat nonton juga Sergio Mendez lho. Iya mengenang masa muda dengan, apa lah ya. Samba yang menggoyang, khas Sergio Mendez itu. Sergio Mendez dengan grupnyapun sempat membawakan, ‘Never Gonna Let You Go’, yang populer bangetlah di tahun 1980-an....
Terakhir, itu sudah mendekati jam 11.30an gitu deh. Kamipun memutuskan menonton penampilan spesial dari Iwan Fals! Penting nih, soalnya sudah lama juga tak pernah lagi melihat penampilan Iwan Fals di panggung. Apalagi ini di acara festival jazz!
Seperti yang bang Iwan juga katakan dari atas panggung, ini pertama kali dirinya dan bandnya main di JJF. Main di sebuah festival jazz. Terima kash sudah mengundangnya. Lalu, nah serunya, sampai-sampai Iwan Fals dan bandnya, ya mencoba nge-jazz juga.
Seru sih, tapi kayaknya sebenar-benarnyalah ya ga perlu-perlu amat untuk susah-susah ngejazz.
Saya dan teman-teman mah siap-siap aja nonton Iwan Fals dan band, ya dengan musik mereka. Yang rada ngerock, sedikit bluesy juga. Lagu-lagu balada, yang terkesan rada nasionalis, atawa heroik. Penuh semangat menyala-nyala. Kritik sosial. Ya kayak gitulah.

Iwan tetap didukung 2 musisi rock, yang dikenal sebagai personil El Pamas. Itu lho, grup rock 1980-an asal Pandaan, Jawa Timur. Yaitu gitaris Otot Lewet alias Totok Tewel. Dan kibordis, Eddy Darome. Eh nyelip juga deh, drummer cewek mungil nan manis, Jeane Phialsa. Apa mungkin, Alsa khusus diajak, biar bisa ada “warna jazz”nya sedikit deh? Hanya bang Iwan dong yang tahusoal itu.
Tapi penampilan Iwan sebagai penutup JJF hari terakhir, cukup sukses. Pas juga sebagai penutup. Karena juga JJF memang saban tahun kok, tetap mengundang nama-nama yang notabene bukan jazz, atau datang dari genre musik lainnya.  Penampilan Iwan Fals makin istimewa, karena yang buka saja, adalah Ketua Umum Pappri, Tantowi Yahya lho!
Kemarin itu, Tantowi Yahya masih di Jakarta, dan masih jadi Ketua Umum Pappri. Barulah empat hari kemudian, kemarin ini, ia menyerahkan jabatannya kepada Ketua Umum Pappri yang baru, Hendropriyono. Tantowi sendiri segera siap-siap berkemas, untuk cabut ke Auckland, karena akan menjadi duta besar Republik Indonesia, di negeri Kiwi, Selandia Baru itu.




Begitulah JJF 2017 selayang pandang. Kami sejatinya memang rada hemat tenaga. Tak terlalu memforsir, untuk bisa menonton lebih banyak panggung. Secukupnyalah ya. Maklum deh, stamina nih. Hihihihi. Umur kan makin banyak lhoooo.

Dan seperti yang saya utarakan di atas, saya pengen secara khusus menuliskan mengenai Chick Corea Elektric Band nih. Chick Corea, kibordis yang menjadi salah satu ikon penting pergerakan fusion jazz di era 1970-1980an. Itu era awal, munculnya apa yang disebut sebagai musik fusion. Salah satu “sub-sub genre” dari jazz.
Sekedar menengok ke belakang, inget-inget deh. Chick Corea untuk para jazz lovers di sini, dikenal setelah Al Jarreau membawakan lagu karyanya, ’Spain’.Iiih emang begitu. Orang kenal dulu lagu itu lewat tarikan suara Al Jarreau, baru kemudian publik luas tahu, bahwa itu sbelumnya dibawain oleh Chick Corea.

Chick Corea memang kemudian lebih populer lagi, karena kelompok yang didirikannya itu, Elektric Band. Kebetulan munculnya juga di era pertengahan 1980-an, tahun-tahun dimana musik jazz atau fusion atau ya jazzylah, lagi lumayan populer di sini.
Kalau sebelumnya,publik yang senang jazz-jazzan, kenal duluan dengan Uzeb dari Canada itu. Ya juga, tentunya, Casiopea dari Jepang, yang lebih fenomenal lagi. Popularitas Casiopea itu, di sini ya, disamai oleh Level 42.Juga kemudian ada Mezzoforte.
Itulah grup-grup fusion yang paling populer di era itu. Ya ada lainnya, siapa misalnya ya. Shakatak? Ya bisa, tapi masih di bawah nama-nama yang saya sebut di atas itu. Kalau  Earth, Wind and Fire atau Real Thing? Eh itu sih bukan jazzlah, mereka lebih ke soul, funk dan ngepop, juga nge-dance gitu.
Selain nama-nama penyanyi macam Al Jarreau, Gino Vanelli dan Michael Franks, publik jazz lovers memang cukup mengenal grup-grup tersebut.Nah, bisa deh dibilang, Chick Corea itu nama yang apa ya, lebih “serius”, lebih jazz. Lebih kompleks musiknya?
Kalau dibandingkan Casiopea, tentu saja Chick Corea dengan Elektric Band-nya bisa dibilang, lebih serius. Coba aja denger grupnya sebelumnya, Circle. Tapi jaman Circle, Chick Corea belum populer di sini.
Sementara dengan grup legendarisnya, Return to Forever pun,nama Chick Corea belum terlalu dikenal. Uniknya, banyak orang yang kenal duluan Elektric Band baru lantas, tahu dan jadisukadengan Return to Forever. Padahal dalam sejarahnya, jelaslah Return to Forever duluan ada.

Armando Anthony Corea, begitu nama lengkapnya. Ia lahir pada 12 Juni 1941, di Chelsea, Massachusetts, USA. Namanya di sejarah musik dunia, dikenal lewat keterlibatannya dengan Miles Davis, di akhir dekade 1970-an. Karena kan album-album Miles Davis yang fenomenal kayak Filles de Kilimanjaroo,  In a Silent Way, Bitches Brew, pemain kibornya adalah Chick Corea. Corea menggantikan Herbie Hancock saat itu.
Nah Return to Forever, yang dibentuknya tahun 1970-an awal, adalah grup kedua yang dibentuknya setelah Circle. Circle lebih ke jazz, apa yang berkonotasi “real-jazz”. Sementara RTF,lebih cenderung pada bentuk fusion yang berlandaskan pada latin jazz. Itu sebetulnya menjadi ciri dari Chick Corea.
Ok bukan saatnya saya menulis panjang lebar tentang sepak terjang seorang Chick Corea. Langsung deh ya ke era 1980-an. Saat mana lantas Chick Corea membentuk Elektric Band itu. Album perdananya dirilis 1986, yang bertajuk nama bandnya.
Oh ya ketokohan seorang Chick Corea itu dipertegas dengan tak kurang dari 22 penghargaan dari Grammy Awards yang telah diberikan kepadanya. Selain ada 63 nominasi! Dari yang pertama kali, di 1976, ia mendapatkan  Best Jazz Instrumental Perfomance, Group dengan No Mystery, bersama Return to Forever.

No Mystery tercatat sebagai album kelima dari grup yang berisikan para master jazz. Selain Cick Corea, sebagai founder dan leader, ada Al Di Meola (gitar), Lenny White (drums) dan Stanley Clarke (bass). Sebelumnya, dalam RTF itu ada juga suami istri Flora Purim dan Airto Moreira.
Udah dah udah, beneran nih loncat ke 1980-an. Chick Corea Elektric Band, 1986. Dengan, ‘Rumble’ dan ‘Elektric City’ atau, ‘King Cockroach’. Itu tiga lagu yang lumayan dikenal di sini, bisa disebut yang “memperkenalkan” nama Chick Corea, kepada para penggemar jazz “baru” di sini.
Album kedua adalah Light Years dirilis setahun kemudian, dengan antara lain, ‘Light Years’, lagu yang dikenal dari album tersebut di sini. Lantas, apa yang dibawakan oleh Chick Cirea Elektric Band kemarin di JJF 2017?

Sebelumnya ya, grup ini dikabarkan akan melakukan reuni memang. Selengkapnya ya. Dengan Dave Weckle sebagai drummer, Frank Gambale, gitaris. Bassisnya, John Pattituci. Dan juga Eric Marienthal, sebagai peniup saksofon. Tapi pada saat jelang ke Jakarta, ternyata dikabarkan bassisnya adalah Nathan East.
Kemana John Pattituci sih? Tak ada keterangan resmi apapun, yang menjelaskan kemana Pattituci, apa kesibukannya sehingga ia tak bisa ikut ke Jakarta. Hingga akhirnya muncul Nathan East sebagai penggantinya. Mendengar nama Nathan East, sungguh membuat publik yang tahu Elektric Band penasaran deh.
Gini nih, sesungguhnya Nathan East pernah bermain bareng Chick Corea, dalam album Family, dari flutist, Hubert Laws di sekitar tahun 1982. Terakhir, Corea diajak mendukung album Nathan East, Reverence yang dirilis pada tahun ini juga. Corea mengisi kibor untuk lagu, ‘Shadow’.


So sebenarnya bukan hal “baru” deh ya kalau tetiba Nathan East, bassis Fourplay yang diajak Corea kali ini. Mungkin semacam “program berbalas-balas ajakan”? Tapi emang kenapa dengan Pattituci? Mungkin saja mood-nya belum dapat lagi dengan Elektric Band? Maklum kalau dilihat dari official-websitenya, ia tengah sibuk dengan John Pattituci Electric Guitar Quartet dan berlanjut dengan, trionya yang baru, Children of the Light.
Mari kita kembalike atas panggung JJF. Tepatnya di hari Minggu, 5 Maret 2017. Chick Corea Elektric Band membawakan beberapa lagu, di antaranya ‘Beneath the Mask’ dari album berjudul sama, yang dirilis sebagai album kelima, tahun 1991.. 
Mereka juga menyuguhkan ‘Silver Temple’.(Chick Corea Elektric Band, 1986)  Sementara sebagai tembang pembuka adalah lagu dari album Eye of the Beholder,  ‘Trance Dance’.
Album Eye of the Beholder dirilis tahun 1988. Album tersebut, dirilis setahun sebelum Chick Corea membuat Chick Corea Akoustic Band, bersama John Pattituci dan Dave Weckl.  Mereka juga memainkan,  ‘Jocelyn The Commander’ dari album To The Stars, yang adalah album terakhir Elektric Band, dirilis 2004.
Penampilan Chick Corea and Elektric Band ditutup dengan,’Got a Match’, salah satu lagu yang lumayan populer di sini di era pertengahan 1980-an. Lagu karya Chick Corea sendiri itu, diambil dari album perdana dengan title nama bandnya, Chick Corea Elektric Band, dirilis resmi 1986.
Penonton relatif puas dengan penampilan Chick Corea malam itu. Lumayanlah ya, akhirnya kan muncul juga, salah satu ikon terpenting fusion jazz dunia. Memang tak ada lagu ‘Spain’ tentunya. Juga tak ada apa lagi ya, ‘Rumble’ dari album perdananya itu.



Saya pribadi sih merasa puas kok, bisa menonton lagi Chick Corea dari dekat. Menikmati sound keyboardnya yang khas itu, selain itu lho permainan drumsnya Dave Weckl yang tetap keren dong. Tight, penuh syncop yang “mengejutkan”, fill-fill yang “menggairahkan.
Maka saya bisa pulang dengan suka hati. Akhirnya bisa menonton lagi JJF deh. Pulangnya, kami pun isi perut di kawasan Pecenongan deh. Masak mau ceritain lagi, soal acara makan tengah malam kita berempat itu? Sudahlah.
Cukup sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

Wasalam/*







Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...