Catatan dan Foto-foto Saya, Tentang Acara 62 Tahun Yockie Suryoprayogo


Ok, saya mulai dari mana ya? Sebelum acara saja. Nyaris seluruh pengisi acara sudah datang. Band juga nyaris lengkap. Benny Soebardja dan istri. Louise Hutauruk dan putranya. Sudah menempati “ruang tunggu artis”. Kami tempatkan di areal terrace. Semua talents, di pool di situ aja. Kawasan smoking area.
Datang kemudian juga Ariyo Wahab, seorang diri, istri akan menyusul katanya. Jam bergerak menuju 19.30. Itu waktu yang jadi target kami, untuk memulai acara. Tapi dengan catatan, asal arena dalam Hard Rock Cafe, sebagai venue, sudah relatif penuh. Dan, emang sudah penuh? Lumayan padat siiih.
Ada perbincangan begini, ok kita mulai jam 19.30 sebentar lagi nih, ya. Ok aja, tapi band belum lengkap, bro. Iya mulai deh 19.30, gw mau aja mulai tapi band belum lengkap nih bro. Teman berlalu, sibuk hilir mudik. Datang lagi ke dalam, ok kita mulai deh udah 19.30, udah cukup. Ya, ya, ya boleh tapi gw ga bisa mulai kan band belum lengkap nih.
Sayapun segera mengecek terus teman yang bertugas menjadi Talent Coordinator. Sudah dimana mereka, ini harus mulai nih. Nah teman yang meminta segera mulai, berlalu lagi di hadapan. Ok ayo kita mulai. Belum lengkap bro, bentar lagi deh. Iya mulai aja deh, cepetan. Menurutnya, ini orang-orang mulai pada rebutan kursi soalnya, nanti malah kacau suasananya. Rebutan kursi? Walah.
Saya menarik nafas saja. Siapin saja semuanya. Terutama microphones. Berkoordinasi dengan teman-teman dari DSS Sound. Mas Donny Hardono, sebagai “juragan” DSS serta akan menjadi sound-engineer, sudah standby. Sebelumnya, sudah hubungi juga pihak lighting engineer setempat. Operator menjelaskan, lampu-lampunya yang ada apa aja. Saya cuma koordinasi dan sedikit kasih arahan.
Sedikit aja, karena keberadaan lighting yang tersedia di situ, buat saya ya sudah seperti begitu saja. Ga mungkin di-“macem-macem”-in” lagi. Ya, “apa adanya”. Karena kami juga ga bawa additional lighting. Saya juga, ga mungkin mendampingi operator lighting, karena keterbatasan tim nih. Saya harus ada di seputaran stage. Soalnya, selain tenaga terbatas banget, juga tanpa handy-talkie! Welcome to the....”Wonderland”... Hehehe.

Lebih kerennya, saya juga tidak dalam kondisi fit 100%. Aha, seru dong. Cuma untungnya, makin dekat waktu untuk mulai, saya berasa makin segeran. Dan waktupun tiba, semua band akhirnya lengkap. Saya langsung menghampiri band dan, terutama,mas Yockie Suryoprayogo untuk naik panggung. Tepat 19.50 kira-kiralah, duo MC pun langsung buka acara itu. Akhirnya...... Bismillah.
And, the Celebrating Journey Called Life, a Night with Yockie Suryoprayogo pun dibuka chit-chat 2 MC cantik. Shanty dari XI Creative dan Sapti Wahyudi dari Ikatan Alumni ITB. Yup, kedua komunitas itulah yang menjadi motor utama dan ikut menjadi penggagas dari acara ini. Eng ing eeeng....acarapun dimulai!
Ga berdoa dulu? Eh, sekitar 15 menitan sebelum, acara sepakat siap untuk dimulai, sempat kok berdoa. Yang ikut berdoa terbatas saja. Hanya saya yang meminta waktu untuk kumpul, teman-teman band yang sudah ada, Naya, Indrawan Ibonk dan mas Donny Hardono. Lalu doa dipimpin oleh mas Donny.
Penonton memang sudah lumayan padat. Pas banget, kalau show langsung digeber saja. Lagu pertama, Kadri Mohamad dan Che Cupumanik menyanyikan, ‘Jurang Pemisah’.  Bubi Sutomo, kibordis mantan Coop’s Rhythm Section, Elfa’s Music, Indonesia 6 dan Kahitna, ikut mendukung. Bubu memilih memainkan keytar. Tensi acara, langsung mencuat tinggi. Maklum, lagunya kontan memancng adrenalin naik, jack!


Turun langsung, dengan, ‘Dalam Cinta dan Cita’, yang dibawakan oleh Dhenok Wahyudi. Tensi langsung “meredup”. Apalagi Dhenok nyaris hanya ditemani sendiri oleh Yockie Suryoprayogo. Dari Dhenok, gantian Bonita. Ia membawakan, ‘Semusim’. Sementara di depan Bonita, Berlian Hutauruk, yang membawakan lagu itu pertama kali di 1977, menonton dan menikmatinya.


Diteruskan berikutnya oleh Fryda Lucyana, dengan hitsnya, ‘Rindu’ karya Erros Djarot itu. Setelah Fryda, kembali Kadri Mohamad naik panggung, kali ini berduet dengan Benny Soebardja. Lagu yang mereka bawakan, ‘Apatis’. Well, ini memang bukan “konser” dalam arti “konser sesungguhnya”. Kan di kafe, dalam suasana senang-senang. Sukacita. Rame en hepi.

So, Yockie sendirilah yang “bertugas tambahan”, memanggil para penyanyi yang mendapat giliran. Saya memang kepengennya, konser ini lebih cair, dari konser yang di gedung atau hall. Karena kan juga konteksnya, ini sekaligus perayaan dan pengucapan syukur dari Yockie Suryoprayogo sendiri, yang tepat berumur 62 tahun pada 14 September itu.
Agak “banyak” juga kerjaan yang berulang tahun nih jadinya. Maaf ya mas Yockie... Kami sepakat untuk tidak banyak ruang, untuk naik turunnya MC atau host. Maklum, waktu pementasan ini, kami upayakan untuk tak terlalu berpanjang-panjang yang “kurang begitu perlu”. Yang paling perlu banget kan, yaaaa yang ulang tahun. Hehehe.

Maksudnya, biarlah memang Yockie Suryoprayogo sendiri yang lebih di “depan” Ini pesta buatnya. Dan kan bisa terasa, memang pestanya sendiri, ia pula yang “sibuk” memanggil naik teman-temannya.... Eh sejauh ini, relatif aman. Ada sedikit “kecolongan” di awal, tapi masih bisa ditolerir. Aman kok....
Berikutnya, mas Yockie sendiri yang menjadi penyanyi. Lagunya, ‘Citra Hitam’. Selepas itu, nah ini muncul very special guest. Addie MS! Yang didaulat untuk main keyboard lagi. Tepatnya main piano. Lagunya, ‘Nuansa Bening’. Yang memang, Addie sendiri yang memainkan pianonya, di rekaman lagu aslinya. Penyanyinya tetap, Keenan Nasution.


Addie sempat bercerita kepada para penonton, karena Yockie dan Keenan lah, ia akhirnya menjadi musisi. Waktu rekaman lagu tersebut, Keenan dan Yockie yang ajak dia rekaman dan....bolos sekolah! Hahaha. What a Moment! Sudah lupa deh, kapan ya terakhir kali, seorang Addie Mulyadi Sumaatmadja main piano atau kibor di sebuah acara musik?
Yang sama artinya dengan, kapan terakhir kali, Addie yang jangkung itu, “berani” melihat kepada para penonton konser? Kan sudah sekian waktu, dengan Twilite Orchestra nya, ia membelakangi penonton? Kayaknya, praktis sejak Twilite Orchestra berdiri, di 1991, mungkin praktis bisa dibilang Addie tak pernah lagi tampil bermain piano ya?



Dan, ok then. Selesai sudah. Addie, welldone, bro! He he he. Abis Addie dan Keenan, gilirannya  Louise Hutauruk, yang menyanyikan lagu, ‘Khayal’. Selepas Louise yang menaburkan suasana ceria, disambung oleh Komunitas Musik ITB, yang antara lain ada Tony P. Sianipar, mantan Elfa’s Singers itu. Bubi Sutomo, juga ikutan mengiringi teman-temannya. Mereka membawakan, ‘Kharisma Indonesia’.
Dari suasana ceria, sukacita, kembali tensi acara diturunkan. Fadly, vokalis Padi dan Musikimia itu, mengharu biru penonton yang berjumlah 300-an malam itu, dengan lagu, ‘Selamat Jalan Kekasih’. Sendu langsung.... Adeeeeeem.


Apalagi disambung dengan Tika Bisono, yang memabawakan, ‘Melati Suci’. Makin mellow, hanyut gimanalah gitu. Walau banyak penonton, karena suasana “adem en sepi” gitu, malah ngobrol-ngebrel dengan asyiknya.... Tika selesai, giliran putri cantik dari Yockie sendiri, Saran Adjani. Ia membawakan hits dari Fariz RM, ‘Hasrat dan Cita’.
Sebelum Sarah menyanyi, yang berulang tahun diberi “kejutan” pertama. Tiup lilin kue ulang tahunnya, yang dibawa oleh sang istri sendiri, Tiwi. Ditemani Naya Indro. Nah begitu Saran Adjani selesai menyanyi, Yockie dikasih kejutan kedua. Kali ini, bener-beneranlah kejutan yang membuat Yockie terpana.



Ia diberi hadiah istimewa, sebuah peralatan electric piano atau keyboard Kurzweil. Yang disebut berasal dari seluruh yang terlibat dalam acara tersebut. Termasuk para artis pendukung, juga penonton! Tentu saja, termasuk pihak-pihak yang mendukung acara ini sehingga bisa terlaksana dengan baik.
Harapannya agar Yockie Suryoprayogo, tetap dapat berkreasi dalam menghasilkan musik-musik berkwalitas. Yang maksudnya, dalam hal ini, musik-musik yang memberi semangat ekstra pada musik Indonesia secara keseluruhan. Terutama ya musik yang berkembang di saat ini.
Musik kan macam-macam. Ada pelbagai genre, sub genre dan sampai ke sub-sub genrenya. Pada dasarnya, pada jaman sekarang, semua mempunyai ruang geraknya masing-masing. Mempunyai hak hidup yang sama, begitulah bahasa kerennya. Musik apapun, ada saja penggemarnya.


Nah kalau menyoal dari apa ya, sebut deh sebagai rekam jejak, dari seorang Yockie Suryoprayogo. Waduh, panjang nian. Mulai dari jaman band-band pesta, di akhir dekade 1960-an. Dan lantas terlihat jelas, ketika muncul dengan Lomba Cipta Lagu Remaja versi radio Prambors. Juga album fenomenal, Badai Pasti Berlalu. Diikuti album-album bersama Chrisye.
Selain itu sampai juga dengan Dian Pramana Poetra, Andy Meriem Matalata, untuk menyebut sebagian saja diantaranya. Sebelumnya, iapun juga meramaikan khasanah musik (rock, terutama) lewat keterlibatannya yang, “in n out”, pada grup legendaris, God Bless.
Catat juga album rilis 1979, Musik Saya adalah Saya. Sebuah bentuk realisasi dari gagasan membungkus musik rock dengan tata orkestrasi nan megah. Yang kemudian juga menjadi sebuah konser rock orchestra, dengan melibatkan pula berbagai penyanyi, sampai nama Idris Sardi!

Catatan-catatan tersebut, tak pelak menempatkan sosok Yockie Suryoprayogo, menjadi salah satu ikon penting musik Indonesia, tentunya. Dengan antara lain, seperti menjadi salah satu “pelopor” dari apa yang kemudian disebut sebagai pop kreatif. Musik yang tidak mendayu-dayu, tidak “terlalu lurus dan gampang”.
Musik yang mempunyai tingkat kompleksitas nada rada berlebih? Mungkin saja bisa disebut begitu. Memang kenyataannya, rata-rata karya Yockie, sarat dengan muatan lirik puitis dengan musik yang padat, bertenaga, lebar. Imajinatif juga. Dan pada akhirnya, kalau kita lihat dan dengarkan saat ini, ternyata musiknya juga...macam “tak lekang dilibas oleh waktu”.
Yang harus juga disebut, bahwa pada perjalanan kemudian, musik karya Yockie memberi inspirasi, bagi lahirnya musik-musik yang “baik dan benar” di khasanah musik Indonesia. Bahwa ada musik seperti itu, yang punya arti. Pernah dan, rasa-rasanya, tak pernah kehilangan artinya itu.


Tidak berhenti hanya pada menawarkan suasana dan nuansa nostalgia. Lebih dari itu. Apalagi, seperti yang dipertunjukkan lewat serangkaian konsernya di beberapa kota sepanjang lebih dari setahun terakhir ini. Kolaborasi Yockie dengan Indro Hardjodikoro, bersama bandnya yang terdiri dari para musisi muda berbakat, seolah terus menghidupkan karya-karya musik tersebut. Pun untuk generasi muda masa kini.
Band yang dipimpin bassis muda, tapi eh kalau sekarang mah sudah bisa dibilang “jelang senior”-lah, Indro Hardjodikoro ini selengkapnya terdiri dari Muhamad “Yoiqball” Iqball (drums). Pada kibor ada Eggy “Eghay”. Ada pula Yankjay Nugraha, sebagai gitaris. Selain Didiet Violin. Ditambah, backing vocals, Mery dan Dewi.
Mereka, para musisi muda itu, telah menjalin persekutuan dengan Yockie Suryoprayogo sejak lebih dari setahun silam. Tampil di sekitar 8 konser, yang sejauh ini sudah menyinggahi 5 kota. Sehingga terasa solid, jelas bukan sekedar kumpulan jammin’. Bukan berbentuk band kolaborasi biasa. Terhitung serius jadinya.
Kalau hanya berhenti pada romantisme nostalgia, kemungkinan besar musik-musik yang dibunyikan kembali itu, akan cepat tersapu waktu. Sesaat hadir, dan dalam waktu tak akan begitu lama,hilang ditelan waktu.
Konteksnya, kalau sekedar nostalgia, ketika hilang kesenangan kangen-kangenan, ya hilanglah disapu waktu. Dilupakan. Seperti juga, kasus sejenis misal, senang-senang kumpul-kumpul belaka. Euphoria, senang kumpul memang membangkitkan mood. Tetapi ketika jenuh menyergap, urusan lantas kelar sudah.

Tak punya arti lebih dari kegembiraan sesaat. Sayang kan?. Kenyataan membuktikan, musik tersebut, termasuk lagu-lagunya, tetap segar dan kontekstual. Lewat rangkaian konser yang telah dilakukan selama ini.


Karena itulah, acara kemarin di Hard Rock Cafe itu, berkeinginan memberi support kepada Yockie Suryoprayogo. Untuk terus berkarya, jangan lelah dan janganlah berhenti. Support itu berangkat dari respek dan penghargaan, serta apresiasi terhadap apa yang telah dihasilkannya, tentu saja.
Nah kembali ke acara itu sendiri, selanjutnya ada Once Mekel, dengan, ‘Angin Malam’. Dalam lagu ini, ada dukungan permainan keyboard dari Debby Nasution juga. Peran seorang Debby jelaslah, ia original player, pada rekaman lagu tersebut di era 1970-an. 

Selanjutnya, penyanyi muda nan enerjik, Gilang Samsoe, dengan lagu, ‘Resesi’. Gilang, bisa jadi, penyanyi termuda yang dilibatkan dalam acara tersebut. Ia juga yang senantiasa diajak serta dalam rangkaian konser selama ini. Diteruskan lagi oleh Dira Sugandi, dengan, ‘Merpati Putih’.


Ada beragam nama penyanyi yang diundang, untuk menyanyikan lagu-lagu karya Yockie tersebut. Pada kesempatan ini, terasa makin beragam. Apalagi, seperti muncul pula, Sandhy Sondoro, membawakan lagu, ‘Anak Jalanan’. Dilanjutkan dengan, mas Yockie secara khusus juga memanggil naik, Rian Ekky Pradipta, vokalis D Masiv itu, untuk membawakan, ‘Kala Sang Surya Tenggelam’.
Belum selesai lho. Berikutnya masih ada Ariyo Wahab, yang diberi tanggung jawab, membuat audience yang ada nyanyi bareng dan bergoyang ramai-ramai. Lagu yang dibawakannya, ‘Juwita’ yang terasa danceable itu. Kemudian muncul Berlian Hutauruk, dengan lagu monumental itu, ‘Badai Pasti Berlalu’.




Sebagai lagu pengunci acara, dihadirkan, ‘Pelangi’. Dimana, Yockie membawakannya di awal, lalu mendatangi Erros Djarot untuk ikut menyanyi bareng. Selanjutnya, para penyanyi lain, ikut bernyanyi bersama-sama. Di tengah lagu, Erros Djarot, mengajak para penonton semua untuk ikut mendoakan kesehatan dan terus dapat berkaryanya Yockie.

Kayaknya sih, tak ada momen "paling menyentuh kalbu", dari doa seorang sahabat baik kepada sahabatnya. Mana lagi, mengajak publik ikut berdoa. Sekedar informasi, beberapa waktu sebelumnya, sang sahabat memang sempat harus mendekam beberapa hari di rumah sakit, karena gangguan lambung. Eh itu diagnose awal. Kabarnya, perlu didalami lagi. Semoga, takada gangguan yang serius.


Menjadi sebuah pementasan bak konser, yang bisa disebut, “nyaris sempurna”. Bukan konser beneran tapi kwalitas penyajiannya sudah kelas konser sungguhan saja. Walau dalam suasana lebih “sederhana”. Dengan beberapa keterbatasan, termasuk tenaga yang mewujudkan acara tersebut. Cuma akhirnya, bisa berlangsung dengan relatif lancar.
Orang-orang bilang, mini konser tapi band-nya beneran maennya. Soundnya sangat mendukung (Siapa dulu yang mendukung sound-nya, sampai turun tangan langsung jadi sound engineer? DSS dong....!) Walau lighting kayak..."pesta kawinan". Aha ha ha! Maaf, maaf kalau ada kekurangan di sana, di sini. Maklumlah....
Well, semoga penonton puas. Pulang dengan hati riang. Bisa bobo dengan nyenyak, mudah-mudahan mendapat mimpi yang indah. Eh, eh hehehe. Bagusnya sih, nyaris sebagian besar penonton tetap setia menonton, menikmati acara hingga selesai dan kelar di lagu paling ujung itu.

Terima kasih untuk semua penonton yang sudah mau hadir dan membeli tiket. Terima kasih untuk para undangan. Lintas usia, lintas profesi, lintas jabatan. Dan tentu tak lupa, terima kasih untuk teman-teman wartawan yang sudah meluangkan waktu untuk menyaksikan acara itu, dan ikut memberi support pada yang berulang tahun ke 62 tahun itu.
Selanjutnya, kapan lagi ada acara beginian? Ini kabar bagus buat publik Yogyakarta. Tunggu Yockie Suryoprayogo dan Konser Badai Pasti Berlalu plus, pada hari Minggu 6 November 2016 nanti. Oho, mampir Yogya nih? Iya begitulah rencananya. Di Grand Pasific Hotel tepatnya. Nanti ya, tunggu kabar detilnya mengenai acara tersebut.
Mas Yockie Suryoprayogo, sehat selalu mas. Berkaryalah terus. Jangan pernah capek mewarnai musik Indonesia tercinta ini...../*

Foto-foto  : Gideon Momongan













Comments

matthewJkt said…
Sayangnya karya2 spt ini kurang disukai mayoritas rakyat. Bisa diliat dr jumlah views lagu2nya di youtube masih kalah sm lagu2 rock melayu 90an yg bisa tembus jutaan views di youtube. Itulah kenyataan selera musik kita.
matthewJkt said…
This comment has been removed by the author.

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...