Friday, October 27, 2017

North Sumatra Jazz Festival 2017. Thank GOD, We did it...

Kami berempat, WaspadaeMusic dan Indiejazz-INDONESIA. Saya, Erucakra Mahameru, Arsyadona Mahameru dan Indrawan Ibong


Memang dasarnya, tak menyangka atau tak mengira, bahwasanya project ini bisa bertahan sepanjang ini. Dimulai dengan edisi paling awal di 2011, bertempat di ballroom Hotel Danau Toba Internasional, Medan. 2 malam terjazzy, membuat Medan jadi sangat jazzy, mungkin itulah akhir pekan paling jazzy di kota Medan.
Itulah hal “sangat jazz” yang dapat saya lakukan bersama-sama dengan pasangan suami-istri yang mesra selalu, Erucakra Mahameru dan Arsyadona, serta abang Indrawan Ibonk. Dan sejauh ini, tell the truth, even us can’t make again such a jazziest time. Too bad, isn’t it?
Boro-boro menggelar tontonan skala festival, dengan format lebih besar. Bahkan untuk sekedar bertahan, untuk tetap menjadi agenda tetap saban setahun sekalipun, harus diupayakan berdarah-darah. Perjuangan ekstra keras! Sejauh ini, walau sekilas dilihat sudah “cukup usia”nya sebetulnya, tapi saya merasa memang tahapan establish, buat festival ini masih lumayan jauh.
Proses untuk bisa pas mengemas sebuah sajian jazz, berbentuk festival, terus berlangsung. Bahkan hingga sudah memasuki tahun ke-7. Keinginan mencoba tetap ngejazz dan spesifik, tentunya yang bercorak jazz sebagai sajian utama, selalu berhadapan dengan kenyataan bahwa kita ga bisa lepas jauh dari unsur komersial. Dalam hal ini terkait dengan talent-nya yang mana. yang disukai sponsor.
Yes, ketergantungan pada sponsor, posisi tawar yang tetap saja belum stabil itulah, salah satu kendala terbesar bagi festival ini. Dan besar kemungkinan, juga dialami festival-festival jazz lain di Indonesia saat ini. Dasarnya memang begitu adanya, kami bisa-bisa bergerak limbung dan goyah, kalau tak ada sponsor mendukung.
Maka dari itu, ketika festival jazz justru menjamur, sementara festival yang sudah ada rata-rata masih penuh perjuangan dengan mengucurkan “keringat darah”. Sayapun jadi terpana dan terkagum-kagum. Sekilas gampang saja menggelar sebuah festival jazz. Itu kalau memang target, sekedar ada, cukup 1 atau 2, yah paling banyak 3 kali lah ya.
2 "kamerad" yang berada dibalik keberlangsungan NSJF, sejak 2011. Saya dan Erucakra Mahameru


Kami berdua, saya dan Erucakra Mahameru. Tak menyangka sebenarnya, festival ini dapat mencapai tahun ke-7 penyelenggaraannya.
Tapi kemampuan mempertahankan keberlangsungan hidup sebuah proyek pergelaran musik seperti festival jazz, memang harus dibuktikan sungguh-sungguh. Pada akhirnya, ini lantaran idealisme, memperjuangkan seksama mulai dari berpikir konsep, merancang segala sesuatunya, menjalankannya. Dan terus berjuang mempertahankannya.
Ataupun memang sekedar sebuah event, yang dapat berlangsung tanpa masa depan yang kelihatan cerah. Repotnya kan, sebagian festival jazz di Indonesia itu, bisa terjadi lebih karena kelatahan. Ya kelihatannya seperti begitu. Kenapa latah, itu juga sulit dicari jawabannya. Lha kok latah jazz?
Sebagian besar festival jazz terjadi bukan dibangun dari bawah, dirancang dengan baik, dipersiapkan matang. Jelas visi dan misi. Bukan sekedar, kita bisa bikin ataupun mewujudkan keinginan daerah-daerah tertentu untuk “ga mau kalah” dengan daerah lain, ya maksudnya membuat sebuah festival jazz.  
Pada akhirnya, nanti biasanya akan terlihat. Mana yang lebih condong sebagai “proyek jazz” atau memang festival jazz. Stamina atau umur dari festival tersebutlah yang bakal jadi bukti. Sebuah festival jazz yang dibangun beneran, mungkin juga lantaran idealisme yang bersinergi pas. Atau, sekadar dapat terjadi karena ada pihak yang datang sebagai semacam event organizer? Kalau dana, biasanya dari pemerintah daerah setempat berhenti, maka bisa dipastikan kelar sudah festival tersebut.
Ok then, so what about North Sumatra Jazz Festival? Tell the truth, so far still bleeding. Need to work harder and harder, even just to keep this festival goin’ on as an yearly event.
Bagaimana menentukan langkah-langkah selanjutnya sih sebetulnya. Dimana idealisme bisa terus dipertahankan, tetapi harus open mind untuk kompromi agar supaya festival ini dapat bertahan terus. Tiap tahun terselenggara dengan baik. Sekaligus bagaimana berjuang agar memang publik Medan dan sekitarnya bener-bener menginginkan festival jazz ini dapat berlangsung terus.
So, kan memang begitulah adanya. Ada dana, ada konsep, ada band dan artis penyanyi yang bisa ditampilkan. Tapi kalau tak ada penontonnya? Support penonton itu vitamin dan suplemen enerji tiada terkira. Apalagi penonton yang mau datang menonton untuk membeli tiket masuk!

Dan NSJF 2017 kemarin akhirnya dapat berlangsung dengan relatif lancar. Dibuka oleh Edward Van Ness, yang didukung para muridnya yang tampil dalam format sebuah chamber. String quintet, didukung kibordis. Edward Van Ness adalah tokoh musik klasik kontemporer barat, asal New Jersey, USA. Sudah bermukim di Indonesia, terutama Medan, sekian puluh tahun lamanya.
Edward Van Ness dengan violin lalu berduet dengan Erucakra Mahameru, dengan electric guitarnya. Merekapun menyajikan karya monumental, sebut saja begitu yang menjadi salah satu masterpiece karya klasik kontemporer Ed Van Ness, ‘In C’.
Nah karya tersebut adalah karya reinterpretasi Ed Van Ness atas komposisi yang dibuat Terrence Mitchell “Terry” Riley, yang adalah tokoh musik klasik Indian. Van Ness menghasilkan part pertama ‘In C’ beberapa tahun lalu, dan di NSJF kemarin, ia bersama Erucakra kemudian menghasilkan karya lanjutannya,’In C, part two’.



Setelah penampilan Ed Van Ness yang bernuansa kolaborasi jazz dan classical music, yang seperti memaku penonton. Sementara itu, saat sama arus penonton terus masuk ke dalam grand ball room JW Marriot di kota Medan, waktu itu. Giliran berikutnya adalah, Erucakra sendiri, yang tampil bersama kelompok musiknya, C-Man.Mereka bisa disebut sebagai “resident-band” dari NSJF. Setiap tahun pasti akan menjadi performers.
Dan tantangan paling menarik tentunya, bagaimana Erucakra bersama C-Man, selalu melakukan ekspreimentasi atas musik mereka, agar terus berbeda dengan keunikannya tersendiri masing-masing,pada setiap tahunnya. Tantangan berat, mengingat Erucakra sendiri, notabene juga adalah chairman dari NSJF.
Adalah Erucakra Mahameru didukung istri terkasihnya, Arsyadona Mahameru, yang aktif menjadi penggerak dan motor utama dari NSJF ini. Dengan didukung sepenuhnya oleh saya dan Indrawan Ibong, dari Indiejazz-INDONESIA, Jakarta. Sejak 2011, kali pertama NSJF digelar, kami berempat telah berjuang, bahu membahu, berkolaborasi dengan penuh keringat mengucur deras tuh, demi mempertahankan keberlangsungan festival ini.

Erucakra dan C-Man, antara lain menyuguhkan juga karya terbaru milik Erucakra, yaitu terdiri dari dua komposisi. Yang satu, ‘Question of the Moment’ dan ‘Hold On’. Selain itu, C-Man juga mengiringi dua bintang muda asal Medan. Ada Chelsea Hadi, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Lalu berikutnya adalah Tito Arif Munandar.
Chelsea Hadi, yang adalah mantan finalis Indonesian Idol tahun 2014, tampil menghibur dengan, ‘I Wish’ dan ‘Isn’t She Lovely’ yang dipopulerkan Stevie Wonder. Dilanjutkan Tito, dengan menampilkan bentuk musik jazz a la Broadway. Dimana pada kompisisi, ‘Wak Uteh’, Erucakra dan C-Man menghadirkan lagu bernuansa etnik Melayu yang kental dengan lirik juga berbahasa Melayu.
Selanjutnya, tampillah bintang utama NSJF di tahun ini. Muhammad Tulus, atau yang biasa dikenal sebagai Tulus. Siapa pula saat ini tak kenal namanya? Ia memang menjadi magnet utama, dimana memasang nama Tulus, memang terbukti lumayan ampuh menarik minat publik untuk menyerbu NSJF.
Ada 10 lagu dibawakannya, dan rata-rata sukses untuk mengajak penonton untuk menciptakan koor massal. Sebagian besar penonton muda yang hadir, kelihatannya memang datang sebagai penggemar Tulus. Dan Tulus tampil, seperti biasalah, elegan dengan musik popnya yang berwarna jazz. Paling tidak ada suasana jazz(y)nya.
Seperti mengingatkan kita dengan suasana lagu-lagu adult contemporary di era 1980-an. Dimana warna tersebut, kerapkali juga disebut jazzy tunes. Hal itu juga yang dikemukakan oleh promotor musik internasional, Tommy Pratama, yang kebetulan hadir sebagai penonton malam itu.

Tulus, tampil sangat minimalis. Paket hemat betul, dengan didukung hanya oleh sebuah trio berisikan para musisi muda Bandung. Namun kesederhanaan penampilan Tulus, tak begitu mengganggu antusias penonton dalam menyambut penampilan penyanyi bertinggi 185 centimeter tersebut.
Dan begitulah, memang sebagian besar penonton datang untuk menikmati Tulus. Begitu Tulus selesai bertugas, maka para penontonpun lantas meninggalkan arena acara. Padahal, seperti juga yang diingatkan oleh MC, Sherly, masih ada satu lagi performer malam itu.
Sebagai penutup acara, tampil di ujung adalah trio Mahasora. Mereka menyajikan warna electronic dance music, yang dikolaborasikan dengan elemen musik India dan Sumatera Utara. Tokoh sentral adalah DJ, Stevan Aldo, yang berdarah India.
Didukung pula oleh dua personillain, Wisnu Bangun dan Devin Geovani. Mereka menyajikan 4 karya lagunya dengan setting DJ equipment dipertemukan dengan sebuah tambur India dan hasapi yaitu kecapi khas Karo, Sumatera Utara. Ikut pula meramaikan penampilan Mahasora, kembali lagi Erucakra Mahameru, tentu dengan electric guitarnya.


North Sumatra Jazz Festival yang disingkat NSJF di tahun 2017 inipun berakhir sudah jelang jam 24.00 wib. Sempat pula hadir Gubernur Sumatera Utara, Teuku Erry Nuradi memberikan pidato singkatnya, di tengah-tengah acara. Memberikan restu dan dukungan atas keberlangsungan NSJF ini, sebagai salah satu event tahunan kebanggaan kota Medan.
Akhirnya dapat juga terselenggara dengan lumayan baik. Terpenting adalah terus dapat menjaga konsistensi festival ini sebagai event setahun sekali. Walau tetap kami mempunyai kesulitan, untuk dapat mematok tanggal pelaksanaan acara pada satu waktu yang tepat, pada setiap tahunnya.
Berbagai aspek memang lantas memberi pengaruh, atawa menjadi sebab, cem-mana NSJF ini menjadi satu-satunya event festival jazz yang tak tetap waktunya. Belum juga berhasil untuk ditetapkan di satu waktu yang tetap.
Karena kan hal lebih krusialnya tentulah, NSJF tetap dapat terselenggara di setiap tahunnya. Dan terus dicoba dipertahankan sebagai event yang membanggakan, dalam arti memberikan hiburan yang baik bagi publik kota Medan khususnya, ataupun masyarakat di daerah Sumatera bagian utara pada umumnya.
Sekaligus juga, tetap mempunyai ciri tersendiri, sebagai sebuah festival jazz, dengan warna jazz yang memang mendominasi. Bukan perkara mudah. Dan hal itu, adalah persoalan paling mendasar, karena sudah terbukti kalau sekedar bergagah-gagahan dengan tagline jazz festival semata, pihak sponsor tak mudah untuk terpikat.
Di titik itulah, kudu adanya kompromay, bahasa gaulnya “kompromi”! Suka atau tidak. Semoga saja kebersamaan kami berempat dapat terus juga terjaga solid dan saling mendukung hingga di kesempatan tahun-tahun mendatang.
Ah ya yang penting, well dude..after all, .the show must go on! Ok, see you next year on, we full hopely, more better and better North Sumatra Jazz Festival  For your information, it will be the 8th! May the Force be with us... /*
Arsyadona Mahameru, Edward Van Ness dan saya

Bersama Welly, dari Happy Sound yang terus menerus mendukung NSJF dengan sound dan backlines nya. Mengapit Tommy Pratama dari Original Production.

Kami berempat bersama Welly dari Happy Sound.

Kami berempat berfoto bersama para pendukung lain NSJF 2017. Ada Rio, paling kiri dari Waspada eMusic serta 2 orang dari Soulmate, sebagai event organizer pelaksana yang dimintai tolong oleh Arsyadona dan Erucakra untuk membantu sepenuhnya pelaksanaan NSJF 2017 ini.

(foto-foto oleh INDRAWAN)









Friday, October 13, 2017

Dari Konser Rock, Menjilat Matahari. Rock yang ngangenin juga


Tibalah saatnya untuk.... Konser!
Karena sejatiya, sosoknya sendiri memang bermain di berbagai wilayah. Tetapi yang harus diingat, dalam sejarahnya justru ia memulai langkahnya dengan memainkan musik cadas.
Bahwasanya sejarah perkembangan musik Rock tanah air, tak bisa tidak, ada namanya juga sebagai salah satu ikon pentingnya. Ia tercatat, menjadi salah satu bintang rocker terdepan, di era 190-an. Dan membuat keyboard itu, menjadi salah satu peralatan musik penting bagi musik rock di Indonesia, seperti juga di dunia internasional.
Di tangannya, kreatifitas meracik suara dan memainkan peralatan papan kunci tersebut, membuat musik rock menjadi lebih warna-warni. Itu terlihat betul terutama misalnya, saat ia bergabung dalam God Bless. Pun saat grup rock terbesar dalam sejarah musik rock di sini itu, baru sebatas memainkan karya-karya musik cadas luar, pada awal permulaan berdirinya.
Dan tetap memiliki peran berarti, saat God Bless menghasilkan album rekaman, dengan karya-karya sendiri. Apalagi ia juga terbilang aktif, untuk ikut berperan dalam membuat lagu-lagu bagi God Bless. Selesai “episode” pertama dengan God Bless, setelah juga sukses mengutak-atik musik pop, iapun menonjol sebagai keyboardist dalam kelompok rock lain yang diikuti. Ataupun, yang juga dibentuknya kemudian.
Rabu malam 11 Oktober kemarin, menjadi panggung dalam ia menyajikan karya-karya musik rocknya. Baik yang adalah karya lagu yang ditulisnya sendiri, atau ikut digubahnya bersama-sama teman-teman musisi lainnya. Selain juga, lagu rock yang mana ia mengemas musiknya.
Rock keyboardist, yang berkesan symphonic. Terkadang, selintas seperti memperindah lagu yang dibawakan. Seolah-olah dunia rock Indonesia pun memiliki yang namanya macam Rick Wakeman, John Lord, Tony Banks sampai...Keith Emerson!
Iya, dalam hal ini memang penampilannya dengan kibornya mengingatkan kita kepada grup-grup legendaris luar seperti Yes, Deep Purple, Genesis, ataupun Emerson, Lake and Palmer. Dimana grup-grup itu memang menjadi santapan telinga dan “rohani”nya saat mudanya dulu, di awal karir musiknya.

Hingga terus menjadi referensi penting bagi permainan kibornya, pada perjalanan bermusiknya selanjutnya. Dan adalah figur-figur tersebut juga, yang ikut menjadi santapan rohani yang seolah membasuh jiwa, para rock-fans dimana-mana, tak terkecuali di Indonesia sini.
Ketokohannya, tentunya lantaran kemampuan musikalitasnya sebagai kibordis tersebut, terus senantiasa menempatkannya menjadi salah satu kibordis rock terdepan. Yang lantas menjadi bak maha guru saja adanya, bagi para kibordis di generasi kemudian. Tak pelak, untuk Indonesia, ia lantas menjadi referensi penting bagi pemain-pemain kibor yang muncul pada masa berikutnya.
Dan iapun tampil dengan mengumbar musik rock yang terbilang khas, pada 11 Oktober tersebut bertempat di The Pallas, sebuah restoran dan clubs megah di tengah ibukota. Konsernya bertajuk Menjilat Matahari. Dan menyuguhkan tak kurang dari 15 karya musik rock-nya yang bagian terbesar di ambil dari pergerakan musiknya di era 1970-1980an.
Dan konser tersebut adalah konsernya yang ketujuh, paling tidak dalam 2 tahun terakhir ini. Terhitung mulai pergelaran konser LCLR + (Lomba Cipta Lagu Remaja plus) di awal Oktober 2015. Yang kemudian diteruskan dengan edisi berikut yang mengambil part pop dalam karir bermusiknya, yaitu baik meneruskan LCLR _ atau juga mengambil nama Badai Pasti Berlalu.
LCLR dan Badai Pasti Berlalu, adalah dua karya album fenomenal, dimana ia berperan aktif. Dan menjadi fenomena tersendiri, dalam sejarah perkembangan musik pop Indonesia. Kedua album pop gagah dan berkelas tersendiri itu, dirilis pada periode tahun yang sama yaitu 1977.


Kalau pada konser sebelumnya, ia menyuguhkan karya-karya cenderung lebih ngepop. Walau mohon diartikan, dalam hal ini bahan dasarnya saja, karena realisasinya tetap saja punya nafas rock kental. Maka kali ini, ia memang bermaksud lebih ngerock.
Tak heran title acara ini selengkapnya adalah Yockie Suryoprayogo in Rock – Menjilat Matahari. Menegaskan adanya perbedaan mendasar pada penyajian musiknya. Yockie Suryoprayogo memang serius betul, untuk menegaskan konsep konsernya kali ini.
Sehingga, kibordis yang lahir di Demak, Jawa Tengah pada 16 September 1954, sampai sengaja membentuk grup yang memang berisikan “pasukan musisi rock”. Yockie, mengajak serta dua gitaris rock, Tri Witarto Edi Purnomo, yang lebih dikenal dengan Eddi Kemput. Serta satunya lagi, Emmanuel Herry Hertoto, yang lebih dikenal sebagai Totok Tewel.
Tak hanya itu, Yockie juga merangkul Anto Daeng Octav, bassis. Pada drums ada Mochamad Reza yang lebih dikenal sebagai Rere. Ada juga kibordis lain, yang mendampingi rapat Yockie sebagai kibordis utama, Krisna Prameswara. Beserta gitarislain, Nara Putra Prayindra, yang adalah putra sulung dari Yockie Suryoprayogo.
Masih ditambah dua musisi muda, Sigit “Didiet” Adityo pada violin. Serta musisi perempuan dengan akordeonnya, Windy Setiadi. Nyata kan, pasukan rock yang lumayan lengkap. Sebagian besar adalah musisi yang pernah bekerja bareng dengannya, dari sejak 1990-an. Selain yang juga musisi yang sudah pernah dilibatkannya dalam konser-konsernya dalam serial LCLR+ dan BPB + itu.


Untuk diketahui saja, Eddi Kemput dan Rere, dikenal sebagai pendiri dan motor utama kelompok rock Grassrock asal Surabaya. Belakangan dikenal sebagai session player yang bermain untuk berbagai pentas musik, hingga rekaman. Daeng Oktav adalah bassis dari kelompok hard rock, Edane, selain juga session player rock.
Totok Tewel, dikenal sebagai salah satu pendiri dan motor utama grup rock, El Pamas. Ia juga belakangan aktif dengan Sawung Jabo dan kelompoknya, Sirkus Barock. Krisna Prameswara, ini kibordis yang muncul awalnya dengan kelompok Cockpit Jr. Lalu tampil dengan berbagai grup rock seperti Discus hingga Cockpit (senior). Selain juga adalah session player yang tak kalah larisnya, antara lain menjadi kibordis pendukung tetap kelompok pop, Naif.
Untuk “episode” rock ini, Yockie juga mengajak serta sahabat baiknya, seorang gitaris cum vokalis, yang pernah disebut sebagai maesenas musik Indonesia. Dia adalah, pengusaha Setiawan Djodi. Djodi antara lain adalah partner lengket bermusiknya dalam serial Kantata Takwa.




Semetara itu, pada jejeran penyanyi. Yockie juga menetapkan pilihannya pada dua vokalis rock, yang telah lumayan dekat dan dikenal “kebadungan”-nya, Ariyo Wahab dan Triandy Karyono, yang lebih dikenal sebagai Andy /rif.
Keduanya pernah bberkerjasama dengan Yockie dalam pentas musikal kolosal Diana, di tahun 2010. Dan ini menjadi pertemuan kembali ketiganya, setelah beberapa edisi dalam LCLR+. Ariyo sendiri aktif dengan beberapa kelompok musik seperti The Dance Company dan Free on Saturday (FOS). Selain satu grup rock akhir 1990-an, yang lagi coba serius diperjuangkan untuk dihidupkan lagi, State of Groove (SOG).
Andy, tetap muncul dengan kelompok rock terdepan era 1990-an yang tetap eksis dengan penuh semangat hingga saat ini, /rif. Selain itu, seperti juga Ariyo, keduanya acapkali tampil mendukung pelbagai konser rock.
Eh ada yang tak kalah uniknya dari dua “barudak baongieu teh, dimana keduanya juga belakangan juga berkecimpung di dunia film. Terutama film layar lebar. Film terbaru Ariyo adalah Merah Putih Memanggil, yang sudah diputar luas mulai Hari ABRI 5 Oktober lalu. Sementara film yang didukung Andy, Wiro Sableng, tengah menjalani masa syuting saat ini.
Yockie juga mengajak serta lady rocker terdepan sejak era 1980-an, Nastiti Karya Dewi Wirahadimaja. Siapa dia? Itu nama aslinya dari, Nicky Astria. Teteh yang bersuara rock, dan tetap saja rocker sih walau sudah berkeluarga juga, katanya pernah sebelum ini bekerjasama dengan Yockie. di era 1980-an, seingatnya tur bareng God Bless. Ia juga pernah bermain lagi dengan Yockie sekitar tahun 2003 di acara televisi, SCTV.
Masih ada satu nama penyanyi lain. Budi Mulyono namanya. Lebih populer dengan nama panggung, Budi Cilok. Budi ini memang bersuara sangat khas yang tak bisa tidak, pasti orang akan susah membedakan, ini Budi atau....Iwan Fals!
Budi, yang konon adalah dulunya penyanyi jalanan ini, memang mempunyai anugerah luar biasa. Ia memiliki timbre atau warna suara yang sangat dekat dengan Iwan Fals. Hal mana pernah juga langsung diakui Iwan Fals sendiri, yang lantas memberi support pada karir menyanyi Budi ini.




Begitulah selengkapnya materi utama dari konser Yockie Suryoprayogo in Rock ini. Dan sampailah pada konsernya. Dimana mereka memulai persiapan tahap akhir, berupa sound check dan run-thru, mulai sekitar 13.00 wib. Pada 16.00 wib, persiapan tahap penyempurnaan akhir itu berakhir.
Seluruh musisi mempersiapkan diri, termasuk juga berganti kostum. Sementara para puluhan pasukan kru dari pihak penyelenggara konser, Trans-Event dan Mahana Live, juga sudah bersiap dan berkumpul sejak siang hari. Dua pihak itulah yang bersedia menjadi organizer dari konser ini.
Mendekati jam 21.00 wib, konser langsung dibuka dengan suara dari master of cermony secara voice over. Dan Yockie bersama selengkapnya rock-squad nya langsung memainkan musik mereka. Adalah lagu pembuka, ‘Ladangku yang Subur’, dinyanyikan oleh Yockie Suryoprayogo sendiri. Dan diawali pembacaan sajak oleh Andy rif karya Nano Riantiarno. Dimana Andy,membacakannya dari areal depan stage.
Andy, berdeklamasi eh bersajak dengan berdiri diatas meja bar, yang membuatnya berhadap-hadapan dengan panggung. Iya, ini keunikan hall dari cafe megah itu, ada meja bar besar di tengah areal. Keunikan, yang nyatanya kalau untuk sebuah sajian konser musik, rada mengganggu sebetulnya.




Lagu kedua, ‘Misteri Cinta’. Disuarakan Nicky Astria. Yang seperti mengharu biru suasana. Ratuan penonton memberi applause meriah, atas penampilan teteh yang memang frekwensi manggungnya belakangan relatif terbatas itu.
Selepas lagu dari album kedua Nicky Astria, bertajuk Jarum Neraka rilisan 1985 itu yang adalah karya Ully Sigar Rusadi, tensi konser langsung menjulang naik. Ada dua “koboi” langsung menghentakkan pentas dengan, ‘Kehidupan’. Ini karya Yockie yang dibawakannya bersama God Bless, dalam album Semut Hitam, dirilis tahun 1988. Nara Putra ikut meraung-raungkan gitarnya di lagu ini.
Lagu ini lumayan populer, membuat penonton seperti tersengat, sebagian juga ikutan menyanyi. Karena kan, album Semut Hitam disebut-sebut sebagai album rock Indonesia terbaik dan memang menjadi album rekaman God Bless terlaris.
Kedua koboi tanpa kuda, Andy dan Ariyo kemudian lepas tugas pertamanya. Setelah itu, kembali Nicky Astria tampil lagi dengan lagu karya Yockie, yang ada di album Gersang dari Nicky Astria, yang dirilis tahun 1987. Lagu itu, ‘Bebas Lepas’ adalah karya Yockie bersama Areng Widodo.
Nicky masih melanjutkan tugasnya kemudian, dengan lagu berikutnya, ‘Biar Semua Hilang’. Ini juga karya bareng Yockie dan Areng Widodo dan diambil dari album, Tangan Tangan Setan dari Nicky Astria, yang dirilis tahun 1985.




Kembali ada sing-along dengan sebagian penonton. Ga yang perempuan, ga yang cowok. Pada hafal euy! Dan berikutnya, Andy dan Ariyo kembali menunaikan tugasnya. Kali ini untuk menjilati penonton eh maksudnya, membawakan, ‘Menjilat Matahari’. Lagu dari God Bless, yang ditulis Yockie sendiri, dan ada di album Raksasa, dirilis tahun 1989. Judul lagu itu, yang lalu diambil menjadi judul konser ini.
Setelah itu gilirannya  Budi Cilok. Dan ia didampingi juga oleh Setiawan Djodi. Masuklah pada era Kantata Takwa. Budi Cilok membawakan, ‘Orang Orang Kalah’. Kali ini, sebagian penonton pria yang ikutmenimpali dengan membuat koor bareng.
Budi kemudian masih melanjutkan tugasnya, dengan membawakan, ‘Rajawali’. Suhu konser ini memang terus relatif tinggi, dan atmosfir musik cadas, berbalut suasana kritik sosial mendominasi saat itu. Penuh gairahlah.
Apalagi berikutnya dilanjutkan dengan dua lagu yang berkesan anthemic, ‘Bongkar dan Bento’. Kembali ada koor penonton meramaikan suasana. Di panggung sendiri, dengan naiknya lagi Nara Putra, membuat ada deretan gitaris saling mengisi. Hiruk pikuk, tapi tetap membuat semangat menyala-nyala. Penonton mana bisa diam kalau begitu?



Budi Cilok turun, naik lagi Andy kali ini dengan, ‘Jurang Pemisah’. Ini lagu masih terus membuat suasana hangat, malah memang menjadi tambah hangat saja. Salah satu lagu, yang dipersiapkan agak ekstra serius, terutama oleh para musisi pendukungnya.
Nah kemudian, naik Ariyo Wahab. Suasana adem-adem semriwing, tapi menggoyang, bikin cukup rileks. Lagu yang dibawakan, ‘Serasa’. Ini diambil dari album Badai Pasti Berlalu nan monumental itu. Ini disebut-sebut lagu dance pertama berlirik Indonesia, pada masa itu.
Penonton lebih santai, sebagian juga ikut menggoyangkan badan sedikit, mengikuti irama. Aha! Silahkan bayangkan suasana, denger saja lagu aslinya. Susah dong, untuk tidak sedikit menggerakkan tubuh?
Lalu Andy naik lagi, kembali berduet bandel-bandel seru deh dengan Ariyo. Mereka membawakan, ‘Maret 1989’ karya bareng Yockie dan Donny Fattah. Ada di album Raksasa, bersama lagu Menjilat Matahari.
Budi Cilok masih punya tugas, ini tugas pamungkasnya. Lagu yang dibawakan adalah, ‘Kesaksian’, yang adalah lagu yang dibesarkan dan membesarkan Kantata Takwa. Ini karya bareng Iwan Fals, Sawung Jabo dan Yockie. Dan liriknya yang gagah itu, ditulis oleh almarhum WS. Rendra.






Ada suasana sakral juga. Rock yang lalu jadi terkesan gagah, dengan kehadiran lagu ini. Lalu sampailah di penghujung acara, ini adalah lagu penutup, ‘Juwita’. Lagi Ariyo Wahab yang bertugas menyanyikannya. Dan kembali dalam suasana dance rock. Dengan Ariyo memulainya sambil bernyanyi mengelilingi meja bar!
Yockie setelah lagu terakhir itu, sempat mengundang naik Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf untuk mengucapkan sesuatu, dari atas pentas. Seru juga, karena Triawan yang mantan kibordis Giant Step, berbicara dengan dikelilingi set kibor Yockie. Coba ya, ada atraksi kejutan, Triawan bermain kibor lagi dengan Yockie. Itu pasti jadi surprise yang asyik. Sayang euy, ga kejadian sih.....
Konser ini berakhir, lewat dari jam 23.00. Dan sebagian penonton sih masih meminta lagu tambahan. Tentu saja ini masalah. Ya gimana ga jadi masalah, kan yang dipersiapkan memang pas segitu saja lagunya. Ada 15 lagu selengkapnya. Susah kalau ditambah lagi. Kan ga sempat dilatih dan pastinya ga mungkin dibawakan.






Mungkin saja, sebagian penonton memang kangen akan sebuah konser rock “selengkapnya”, yang rock tulen begini. Sehingga sudah segitu banyaknya lagu, tetap seperti tak terasa atau berlalu begitu cepatnya.
Eh iya ternyata rock itu punya warna yang sangat khas, oh ya so pasti dong! Maksudnya, rock itu bisa ngangenin juga. Memang ada suasana nostalgia yang sangat kental. Tetapi  rasa-rasanya tontonan rock yang "mendekati sempurna" begitu, rada jarang tersaji, bukan? Tak mudah dijumpailah. Dimana-mana lebih mudah menemui tontonan "musik masa kini". Padahal sejatinya, rock tetap saja bisa menyeruak, mencuri perhatian, memikat hati penggemar musik. Ya ga sih?
Tontonan konser rock kemarin itu, didukung sepenuhnya oleh Sumber Ria, yang menyediakan peralatan tata suara dan backlines untuk semua musisi dan penyanyi yang tampil. Kudu ekstra berjuang dalam "menaklukkan" clubs berbentuk hall, yang relatif "kurang mesra" untuk penataan audio. Ada sound engineer senior, Rudra, yang menanganinya langsung. Sementara visualisasi panggung, diperindah oleh tata cahaya yang sangat lumayan maksimal dari LemmonID.
Bytheway-busway, nonton ga ya kemarin itu? Komentarnya dong. Kasih pendapat atau masukanlah. Tak perlu sungkan dan ragu.... Kalau tak sempat nonton, ah sayang, kalau jadi penasaran, manusiawi kok!
Sudahlah, sabar saja menunggu. Siapa tahu, ada kesempatan berikutnya, ada waktu untuk mementaskan lagi konsep rock ini. Mungkin saja, berlanjut ke kota lain? Seribu satu kemungkinan, dan tentunya sangat terbuka. Namanya aja kemungkinan kan? Tolong saja didoakan.... Tabik! /*