Sunday, July 22, 2018

Apa sih yang diingat dari 1970an sampai 1980an....


Remembering Those Old Days, 70’s to 80’s, folks....!


Di 1970-an, sudah sekolahkah? Kelas berapa? Kalau belum, bagaimana di 1980-an? Mari kita mengenang masa-masa 70-an sampai 80-an yiuuuuks.  Saya ada sedikit catatan, catatan penting zaman masih belia, masih kinyis-kinyis doeloe....
Zaman “rekiplik”? Zaman manis-manisnya, atau saat lagi badung-badungnya? Saya iseng melengkapi catatan status saya di Facebook. Jadi deeeeh tulisan ini. Selamat membaca, teman-teman semua....
Kita mulai dengan....Tipi yang bisa ditonton cuma TVRI.  Dan, hitam putih pun warnanya. Televisinya berbentuk kabinet, yang “canggih” di zaman itu. Pesawat televisi yang “modern” itu, ada penutup layarnya, mirip-mirip gordijn lah.
Nungguin film seri Mannix, Rin Tin Tin, Bonanza, Hawaii Five-O, The Avengers. Baretta, Six Million Dollar Man.... Ingat? Kalo yang cewek ikut nangis nonton Little House on The Prairie.
Minggu siang, sesudah Si Unyil lalu Ria Jenaka. Kalau ini inget ga, Album Minggu? Kamera Ria apalagi Aneka Ria Safari yaaaa. Dulu itu, ini 70-an ada Nada & Improvisasi, acara jazz. Di 1980-an ada Musik Malam Minggu yang live lho. Orkes Telerama, disusul berikutnya Chandra Kirana.

Acara Desa ke Desa, Dunia Dalam Berita sampai Kelompencapir!Tau nama-nama Harmoko, Sudomo, Sumitro Djojohadikusumo, M.Yusuf, Ir. Sutami sampai juga Ali Sadikin atau Tjokropranolo kan ya sebagian besar dari TVRI.
Mengenal Wakil Presiden Adam Malik lalu Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Umar Wirahadikusuma dan Try Sutrisno misalnya. Selain TVRI juga Koran KOMPAS. Dulu itu, bacaan keluarga koran apaan? Majalah Tempo, Intisari?
Pasti ingetlah Pemilu, Soeharto, Bapak Pembangunan. Hanya 3 partai peserta Pemilu. Partai Persatuan Pembangunan, Golongan Karya dan Partai Demokrasi Indonesia. Dan Golongan Karya terus menerus menang!
Lantas pernah ada kerusuhan anti Jepang di Jakarta, menyambut kedatangan perdana menteri Jepang waktu itu. Ingatkah, tahun berapa itu? Itu 1975. Kalau soal kerusuhan, ada kerusuhan di 1977, di Lapangan Banteng, saat kampanye Pemilu tuh.


Bergeser lagi ya... Mungkin ingat dengan Porkas, SDSB? Eh yang tinggal di Jakarta, suka nonton balap anjing, greyhound di Senayan atau Hailai di Ancol. Dan balap kuda di Pacuan Kuda Pulomas? Itu jaman dimana judi masih diperbolehkan.
Hapal siaran iklan TVRI Mana Suka Siaran Niaga ga? Misalnya apa ya, obat batuk Formula 44 yang bintang iklannya orang gendut mukul pager. Ember Pioneer yang dilepas, eh apa dibanting ya, dari helikopter 
Suka nonton drama keluarga Marlia Hardi yang ada Kak Didunya.
Indonesia punya film detektif sendiri judulnya Metro 77 lho waktu itu. Superhero, Rama Superman Indonesia?
Tahu pasangan TjunTjun - Johan Wahyudi atau Christian - Ade Chandra, tahu Svend Pri dan Flemming Delfs musuhnya Rudy Hartono. Eh lalu Liem Swie King. Icuk Soegiarto......aaah, ragu ragu Icuk .... Kata Sambas atau Sazli Rais, siaran langsung di TVRI.



Jangan lupain juga, Iie Sumirat! Hastomo Arby, Ardy BW, Lius Pongoh. Minarni, Verawaty Fajrin. Siapa dulu yang paling membangkitkan semangatmu nonton bulutangkis? Nonton turnamen All England atau Thomas dan Uber Cup?
Sempet maen gambaran sama adu biji asem kranji. Waktu itu pernah sekolah setengah hari, gara-gara nonton tinju Muhammad Ali. Yang lawannya Joe Frazier lah, George Foreman lah, dan lainnya. Eh iya, kayaknya pasti lupa namapetinju, Wongsosuseno? Ingetnya pastilah, Ellyas Pical!
Sempet kenal Mariam Blok M. Koleksi kertas surat yang kosong atau tukeran stiker label nama. Juga Isi buku harian lengkap pake kata-kata mutiara!

Naik bis kota pakai karcis pelajar yang belinya sebuku. Karcis langganan bulanan tuh.
Top-topnya lagu anak-anak yang dilantunkan Adi Bing Slamet, Chicha Koeswoyo dan sempet ngefans sama Dina Mariana. Ada siapa lagi hayo, adiknya Chicha, Helen Koeswoyo atau, Diana Papilaya?
Sempet punya sepatu Bigboss warna hitam tipis, Scorpion atau sepatu hak tinggi, celana cutbray sampai yang lebih lebar lagi, braybray. Dan rambut gondrong (cowoknya). Baju gombrong, ukuran 2x size sbnrnya. Kalau perlu sampai 3 kali deh...Nah kalau cewek, setelah jongenskop, kemudian rambutnya pake talangnya di poni depan. Kayak siapa sih ya dulu itu? Iis Sugianto ya?
Ikut-ikutan baca majalah musik Aktuil yang selalu kasih bonus poster penyanyi, poster bolak-baliknya atau gambar tempel setrika. Dan puisi mbeling-nya Remy Silado. Ada majalah musik lainnya, Top. Atau .... Varianada dgn cover cewek-cewek Bintang pilem pake bikini.



Kalau suka pakai jam tangan, entah Timex, Omega misalnya. Atau merknya apaan ya, ingat ga? Seiko ya? Lalu jam itu, diganti rantainya dengan rantai kulit dan ada penutupnya. Pernah pakai yang begituan ga?
Majalah cewek yang top majalah Gadis, berikutnya Mode sering ngadain pemilihan gadis sampul. Pemenangnya jadi kayak “gadis pujaan deh. Banyak yang lantas main film, atau jadi top-model. Kalau cewek lebih dewasa, bacanya Femina. Bisa juga Kartini.
Sempet lihat-lihat para fotomodel, yang sekaligus peragawati di waktu itu. Siapa ya, Titi Qadarsih, Enny Soekamto, Sumi Hakim, Ratna Dhumilah, Nani Sakrie. Siapa lagi ya, Rahadian Yamin? Berikutnya ada Ratih Sanggarwati, Ratih Soe, Chitra, Ati Sinuko, dan lain-lainnya.
Kalau yang dari luar siapa sih ya? Seinget saya, di tahun 80-an deh, ada Yasmin Le Bon, Elle Macpherson. Bahkan bintang film tenar Brooke Shield, juga disebut model top, karena mukanya itu dipakai oleh produk-produk beauty and fashion ternama dunia.
Kalau majalahnya cowok? Dulu pernah ada Lelaki. Selain Varianada, ada Flamboyan dan Variasi. Suka ada foto-foto cewek-cewek berbikini atau kostum “minimalis” soalnya. Tabloid Monitor dengan, Lheeerrr-nya? Majalah remaja Hai ya, untuk era 1980-an? Sementara Aktuil sempat diterusin majalah Vista, untuk beberapa tahun di sekitar pertengahan 1980-an.

Dulu pernah ga, sampai Ikut-ikutan masang poster David Cassidy dari Aktuil atau Suzy Quatro dari Gadis? Atau posternya Jimmy Page dan Robert Plant mungkin? Gimana dengan posternya Kim Wilde atau siapa lagi ya.... Sekamar dinding dipenuhi poster. Sampai pintu juga, pakai super-poster, yang asli bisa nutup sepintu kamar.
Lagu ‘Nona Anna’ dari Ade Manuhutu ikut masuk kuping. Seperti juga, ‘Widuri’ nya Bob Tutupoli, ‘Gubahanku’ nya Broery Marantika? Di rumah punya dong, kaset Koes Plus album Nusantara I – X. Eh iya, sampai jadi “kenal” dangdut gegara Pop Melayu-nya Koes Plus? Sampai ada, Pop Keroncong-nya kan? Atau, ada juga sih yg suka Favourite's Group atau Panbers atau The Mercy's.
Ingat lagu, ‘Mama’-nya Heince? Hehehe.

 
Atau setelah itu, pernah ikut-ikutan suka dengan ‘Suzanna’ nya The Art Company? Gimana dengan ‘Disco Fever’-nya VST & Co, Tagalog Disco? Lagu apa lagi, hmmmm, ‘Fred Astaire’ dan ‘Cheese’nya The Mo?
Eh iya, kalau lokal, pasti ga lupa dengan ... madu di tangan kananmu, racun di tangan kirimu? Lagu itu karya Arie Wibowo, dipopulerkan oleh grupnya Arie sendiri, Bill & Brod. Judul lagunya, ‘Madu dan Racun’.
1970-an, pasti dong ngalamin perpanjangan tahun ajaran nasional. Sempet ngalamin Disko rumahan, perpisahan kelas dan pesta ulang tahun dirayain di rumah aja.  Setelah makan, bangku-bangku disingkirin, biar lantainya bisa dipakai jojing. Lampu diskonya ada, rotating-light, yang biasa dipakai untuk lampu mobil Ambulance atau mobil Polisi.
Yang paling diperhatiin...awas dateng rombongan “dayak”. Cowok-cowok segerombolan, masuk ke pesta padahal ga diundang. Kenal juga ga, sama yang bikin pesta. Cuma pengen “numpang” pesta aja. Slonong boy lah ya... Sering jadi berantem deh, sama undangan resmi yang ada.
Dekade sebelumnya, “kakak-kakak” kita pesta rumahannya malah pakai band. Yoih band lengkap. Ngerock! Terutama di Jakarta, lalu beberapa kota besar. Band-band yang kemudian jadi besar di tahun 70-an, para musisinya awalnya biasa main di pesta-pesta rumahan. Ngerock bawain lagu-lagu barat yang lagi top.



Tina Charles
Disko rumahan paling top saat itu Madlod, Merindink Disco. Juga ada nama Baden Powell Disco. Album Saturday Night Fever, ngetop gara-gara John Travolta... Grease juga! Lupa ga dengan, Donna Summer, Tina Charles dan Chic? Eh iya, ‘Dance the Body Music-nya, Osibisa....
Baru disusul discotheque macemnya Tanamur, Oriental, Stardust, LeMirage, Musro yg nyusul di era 1970-an itu ada  Guwa Rama, di Hotel Indonesia....
Yg kurang suka jojing, mungkin pilih Jaya Pub, Green Pub atau Captain's Bar ya? Nontonin Christ Kayhatu, Yance Manusama, Embong Rahardjo, Jackie Bahasoean...


Kalau di zaman 80-an, buat anak-anak muda yang rada susah dapat permit untuk klayapan sampai lewat tengah malam, ada “jalan keluar”nya. Yaitu diskotik yang buka siang hari di weekend! Itu ada di Jakarta, kayak My Place, Superstar. Gimana di kota-kota lain?
Tahu film Private Teacher. Atau...Akibat Pergaulan Bebas! Sebelumnya yang heboh itu ada...Beranak Dalam Kubur! Eva Arnas, Yati Octavia, Yenni Rachman, Robby Sugara, Roy Marten! Atau si Inem Pelayan Sexy, Doris Calleboaut.
Pastinya juga, Warung Kopi Prambors. Yang terdiri dari Dono, Kasino, Indro dan Nanu.yang nongolnya mulai dari Terminal Musik Anak Muda, acara perayaan Tahun Baru TVRI dulu tuh. Penghujung 1977 ke 1978. Ada Warkop, ada juga Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks kan?
Film barat itu dengan Charles Bronson, Alain Delon atau yang sexy banget, Raquel Welch! Jacqueline Bisset nan ayu. Kalau Gina Lolobrigida? Aduh itu udah era sebelumnya lagi kayaknya. Sejaman ya dengan Elizabeth Taylor? Kalau disebut...Edwige Fenech? Nah! Bo Derek, apa kabarnya ya? Hihihihi....

Indro, Dono, Kasino dan Nanu


Edwige Fenech

Bo Derek

Jacqueline Bisset
Kalau mau omongin film, mungkin ga lupa dengan Si Doel Anak Betawi, yang diterusin dengan si Doel Anak Modern. Ratapan Ibu Tiri eh maksudnya Ratapan Anak Tiri! Pernah ada film musikal bagus, Ambisi, yang peran utamanya Bing Slamet.... Undur-Undur Broadcasting Service....
Film komedi jaman 1970-1980an laris manis juga. Mulai dari era Bing Slamet dengan Bing Slamet Koboi Cengeng. Lanjut ke Ateng dan Iskak, filmnya misalnya Ateng Minta Kawin.
Baru dilanjut dengan Warung Kopi (Prambors), yang awalnya mereka adalah para pemeran program komedi di radio Prambors, lantas main film. Yang khasnya dulu, Warung Kopi itu, mereka berempat mengisi suara bermacam-macam “peran”. Jadi satu orang, bisa berperan jadi 2 atau 3 orang. Mereka ditambah Rudy Badil, di acara radionya. Badil ga ikut ke atas panggung, lebih sibuk jadi pencinta alam kayaknya.
Suka main Ice Skating di Pintu IX Senayan ga? Itu kabarnya, tempat lahirnya Merindink Disco lhoooo. Oh ya ada berita ditusuknya Ari Suzana sama kasus daging bayi GM menghebohkan Jakarta. Oh ya sempet heboh juga “gerakan ACD”, Anti Celana Dalam, anak-anak cewek juga cowok, pelajar SMA. Di Bandung duluan... Astaga!
Tahu Mario Kempes, hero juara dunia bola tahun '78, Argentina. Carlos Valderrama, Rene Higuita, Emerson Leao, Zico en Rivelino.... Siapa lagi ya, oh iya, Johan Neeskens, Johan Cruyff!


Kan kalau PSSI di sini itu dengan Iswadi Idris, Ronny Paslah, Suaeb Rizal, Junaidi Abdillah. Sampai Nobon, Timo Kapissa, Yohanes Auri dan kawan-kawannya... Persija Jakarta, PSMS Medan, PSM Makasar, Persipura Jayapura, Persebaya Surabaya.
Sampai grup band The Black Brothers bikinin lagu tuh untuk tim Mutiara Hitam dari Persipura Jayapura. Abis lagu itu ngetop, eh lalu The Black Brothers “kabur” ke negeri Belanda.... Gosipnya kan, mereka minta suaka politik di sana. Setelah era perserikatan, mulailah dikenal sepakbola semi-profesional. Dimulai dengan Galatama. dengan Jayakarta, Warna Agung, Niac Mitra, Arseto.....
Sekilas tau NBA, Kareem Abdul Jabaar, Earvin “Magic” Johnson dan Larry Bird misalnya. Atau... Harlem Globe Trotters! Formula-1 juga mulai dikenal luas, inget dong? Paling ga dengan Niki Lauda, James Hunt
Masih seputar olahraga, pasti ga lupa Indonesia ikutan SEA Games. Pertama kali di Kuala Lumpur, 1977 langsung jadi Juara Umum. Dan beberapa kali SEA Games, terus jadi juara umum kan? Yang paling sensasional ya yang Sea Games 1979 di Jakarta tuh, Medali emas yang didapat sampai 92 keping!



Tahu Ali Topan, Anak Jalanan jadi idola dan novel Eddy D. ISkandar. Ngapalin bahasa prokem kaya Bokap, Gara Dae, Spokat, Bo'il dan bokin! Gara dae dokat, ogut suping.....Eh iya, ngegele atau mokin ga dulu, apa sampai ngebo’at? Ya ampuuuun!
Lantas tahu siapa Galih dan Ratna, Rano Karno dan Yessy Gusman. Puspa Indah Taman Hati ....Balik deh ke film ya. Itu film-film remaja kan. Ada juga Roman Picisan, Gejolak Kawula Muda. Ya apa lagi deeeeh yang sejenis itu.
Judul film-film itu romantis deh, misal Seputih Hatinya Semerah Bibirnya. Ada juga, Di sini Cinta Pertama Kali Bersemi. Kembang Padang Kelabu. Atau, Beningnya Hati Seorang Gadis. Kalau Titian Serambut di Belah Tujuh? Itu film seriuslah....
Ok, lanjuuuuut! Hmmm, inget atau pernah kena digeledah guru gara-gara razia komik stensilan dan buku porno?.. Idrus, Valentino....novel semi porno Nick Carter. Aduh, ngeri ya? Hehehehe. Yang lelaki, suka nanya atau bahkan beli stensilan, juga buku porno, di Senen atau Blok M ya? Ssssstt....
Ngerasa top banget kalau pake sepatu Kickers yang dibawah sol nya ada bulatan warna hijau dan merah, Puma juga. Atawa Adidas 3-stripnya! Converse All Stars, sepatu kets beneran, kayaknya belum terlalu ngehits ya waktu itu...?



Kagum sama Walkman Sony keluaran pertama, warnyanya biru, Tergila-gila nonton video betamax... Berikutnya,kenal dengan radio compo, tape double-deck,maksudnya ada 2 pemutar kasetnya. Masak dilupain sih...Laserdisc!
Sebenarnya ada alat pemutar paling canggih di 70-an. Merk Akai, bisa reel, cassette dan cartridge. Pemutar pita reel dan cartridge ga begitu dikenal luas, ya karena harus punya player Akai itu.
Ikutan olahraga Skateboard yang mulai ngetop dan mewabah kemana-mana, ngalahin sepatu roda lho. Dan kemudian, Breakdance! ‘Rock It’ nya Herbie Hancock or ‘Tour De France’ nya Kraftwerk...
Dulu tuh, sempet ga Ikutan ngebreak pakai CB, sebelas meteran,, atau dua meteran, roger2 cherio, 73, 51, 88...? Ikut Slalom Test atau.... Metropolitan Rally, keliling Jakarta. Pake Datsun SSS atau Corolla (73, 77, 78 atau DX?), Jimny Jankrik, Honda Civic setrikaan, Toyota Kijang openkap. Eh sampai Suzuki Carry ya?




Kalau pake motor, mungkin motornya V60, itu bebek pada jamannya kan? Ya tapi jaman itu, motor bebek kan asli dibilang motor buat perempuan? Atau pakenya Suzuki A 100, Honda CB 100 atau yang CG? Atau yang lelaki ya, BSA, BMW deh sekalian....
Sambil ngokar atau ngerokok ya? Kokar eh rokoknya apa Ardath, atau Kansas? Mungkin Bentoel biru? Apa Djarum Filtra? Marlboro juga udah ada sih. Tapi juga ada Commodore kan? Kayak nama band disko ya?
Balik soal musik deh... Lagu ‘Camelia’-nya Ebiet G Ade, sempet juga masuk kuping. Sempet ngalamin gitulah. Eh iya, Farid Hardja & Bani Adam doooong! God Bless lah pastinya, selain AKA. The Rollies, Giant Step sampai SAS. 
Apalagi, Fariz RM ya? Chaseiro dengan Candra Darusman mungkin? Iwan Fals laaaaah, hehehe! ‘Umar Bakrie’...!



Mungkin juga ada yang suka ‘Begadang’ dan ‘Penasaran’nya Rhoma Irama? Soneta Group! Elvie Sukaesih? ‘Boneka dari India’ dengan Ellya Khadam, lupa ga? Di 1980-an ada JK Records, dengan Dian Piesesha, Ria Angelina, Hedi Diana eh sampai Meriem Bellina.
Inget album Dasa Tembang Tercantik Prambors dari Lomba Cipta Lagu Remaja? Dan tentu saja, Badai Pasti Berlalu! Baik filmnya, garapan Teguh Karya. Ataupun albumnya dengan Eros Djarot dan Yockie Suryoprayogo, yang mengetengahkan penyanyinya, Chrisye dan Berlian Hutauruk.




Ok, berarti kudu disebut juga dong Guruh Soekarnoputra dengan Swara Mahardhika-nya. Gencar Semarak Perkasa? Serta pergelaran mereka yang selalu sold-out di Balai Sidang Senayan, macam Untukmu Indonesiaku, Gilang Indonesia Gemilang.
Kalau “kawula muda” Jakarta tuh harusnya pastinya tune-in di Prambors atau Elshinta...Elshinta 13 atau Prambors Indolapan atau Catatan Si Boy. Termasuk yang sudah ditulis di atas tadi, acara Warung Kopi.  Jangan lupa juga dengan Sys NS, dengan Bursa Orang Muda-nya. Salah satu tokoh penting 70-80an, mantan DJ, lantas jadi penyiar radio. Sys jebolan Prambors yang ngetop di era itu kan?
Misal di Bandung, ada radio Oz ya? Menyusul radio KLCBS. Gimana dengan kota-kota lainnya? Atau mungkin dengerin RRI, Siaran Berita dengan Sazly Rais, Hasan Asahi Oramahi dan lainnya, dengan harga sayur mayur di pasar-pasar?
Kalau grup-grup dunia ada Led Zeppelin, Deep Purple, Yes, Genesis, Queen ke Van Halen, The Police, Metallica? Sex Pistols oh ya Duran Duran. Joan Jett, Kim Wilde dan Nena? The Beatles and The Rolling Stones....! Pilih mana? Ada ya yang pilih Joe Tex, James Brown atau Sly and The Family Stone dan Rare Earth?





Gino Vanelli, 1980-an
Jimi Hendrix atau Rod Stewart, sama David Bowie harus disebut juga ya? Inget ga dengan penyanyi keren dari Kanada, Gino Vanelli? Kalau nyenggol sampai Gino Vanelli, berarti ada juga Al Jarreau, Michael Franks dong.
Nambahin deh, biar afdol. 80-an banget itu, ya mau ga mau harus menyebut Michael “Jacko” Jackson kan? Termasuk juga siapa lagi sih, Whitney Houston lah. Cindy Lauper juga dong. Dan, satu yang penting, Madonna!

Eh iya mundur dikit ke 70-an lagi. Sempet nonton Osibisa, El Chicano sampai Suzy Quatro di Balai Sidang Senayan Jakarta ga ya? Atau nonton konser Deep Purple di Stadion Utama Senayan, sebelumnya juga konser Heince lho. Lupa ga ya dengan Rock Opera Ken Arok-nya Harry Roesli, juga di Balai Sidang Senayan? 
Denger lagu-lagu bagus di radio, catet judulnya dan rekam album lagu-lagu paporit di Wimar Audio atau Aquarius di Aldiron Plaza. Hasil rekamannya lantas dikasih ke doi, atau cewek yang lagi diincer ya? Ga koq, didengerin sendiri aja.....



Abis dari Aldiron ke Lintas Melawai dong. Itu gaya 80-an be’eng, terutama buat yang tinggal di Jakarta.  Sambil makan permen sugus atau miami? Permen susu yang capnya kuda ya? Minumnya apa? Green Sands Shandy, Green Spot, atau RC Cola  ? Apa Sarsaparila?
Kalau diinget-inget kan,  dulu itu di ibukota belum banyak mall. Palingan juga Sarinah, Ratu Plaza. Sebelumnya itu ada Departement Store gede, Ataka, di kawasan Harmoni. Pasar Blok M, Pasar Mayestik, lho itu kan pasar aja,bukan mall laaaah. Pasar Ular? Oh iya, itu pasar khusus juga walau jauh di sebelah utara.
Malem minggu, malam yang panjang....ke Rindu Alam Puncakpass? Ini emang tongkrongan kawula muda Jakartalah ya, Taman Kodok Menteng atau....lebih "old-school", kuburan Belanda di Ancol, pinggir Sirkuit. Dulunya dikenalnya, pantai Binaria! Selain nonton film di Drive-In Theatre, Ancol, dari dalam mobil euy.
Nongkrong dan jajan, cuci mata juga di Roti Bakar Edi, Pasar Kaget Blok M, Ayam Berkah, Nasi goreng Taman Menteng, Sate jalan Sabang? Mana lagi siiiih....
Balapan di Sirkuit Ancol

Balai Sidang Senaynn


Restoran Rindu Alam, Puncak
Untuk anak-anak muda Jakarta, kalau sekarang dikenalnya kan, cabe-cabean. Dulu ada kan? Apa namanya, hayooooo. Dimana mereka banyak mangkalnya? Taman Kodok Menteng, Jalan Sabang, Wahid Hasyim, atau dimana? Perek a.k.a Reksipe?
Kalau aja punya duit sedikit lebih ya, makan-makannya di Gandhy steakhouse? Ragusa, di jalan Veteran.... Ayo, dulu lebih suka nongkrong dimana? Bukan makan? Apa dong? Bowling di Monas atau Ancol? Atau, eh iya Billiard!
Ahaaaa..... What a good old days. Never forget, never ending storieslah.... Ah indahnya berbagi kenangan. Itu sih yang kebetulan masih saya ingat. Pastinyalah, banyak yang tercecer, terlupa atau memang mungkin ga tau juga. Maksudnya, dulu ga ngalamin.
Pasti teman-teman punya memori-memori atawa kenangan tersendiri kan? Eh iya, kalau mau nambahin tulisan ini, berdasarkan atas pengalaman sendiri, monggo lhoooo, sobatsku semua. Monggo Dansa Reggae, seperti nyanyiannya Nola Tilaar? /*







Saturday, July 7, 2018

Indahnya Sepi, Kekagumanku dan Candra Darusman



Seorang musisi, dan dengan aktivitas utama di saat ini, penggiat persoalan hak cipta. Tak banyak, bisa dibilang malah mungkin belum ada, yang seperti itu. So, itulah salah satu keunikan yang spesial dari diri pianis cum penulis lagu cum penyanyi ini. Mana lagi, ramahnya mak!
Eh, kalau saya pilih memanggilnya “kakak” sajalah. Boleh dong ya? Kalau memanggilnya paman atau oom, terasa perbedaan usia terpaut sangat jauh. Walau sesungguhnya, hal itu adalah benar juga sih... Eits!
Candra Nazarudin Darusman,begitu nama lengkapnya. Kelahiran Bogor pada 21 Agustus 1957. Dikenal luas sebagai pianis sekaligus penulis lagu, bisa juga disebut motor utama, kelompok vokal Chaseiro. Dan vocal group asal kampus Universitas Indonesia tersebut, beredar mulai 1978. Terus bertahan hingga kini.

Chaseiro melansir sekitar 7 album rekaman, sejak pemunculan mereka di 1978. Album perdana Pemuda dirilis 1979. Album kedua, Bila dirilis setahun kemudian. Lalu Vol.3 yang dilepas ke pasar pada 1981. Album berikutnya, Ceria yang dirilis 1982.
Kemudian di 1985 ia muncul dengan sebuah kelompok jazz-fusion, Karimata. Merilis 5 album rekaman. Pasti dirilis pada 1985, Lima dirilis tahun 1987, dilanjutkan dengan album Biting. Album ketiga tersebut, yang dirilis 1989, menjadi album terakhir mereka yang diproduksi label Pro Sound.

Kemudian dengan label Aquarius Indonesia, Karimata merilis album keempat, Karimata – Dave Valentine di 1990. Dan album terakhir mereka adalah Jezz, dirilis 1991. Kemudian grup inipun vakum. Tidak pernah menyatakan bubar. Tapi memang tertidur, mungkin terlalu sangat lelap, karena hingga sekarang belum juga terjaga....

Tetapi sebelum melangkah dengan ikut mendirikan Karimata, Candra Darusman merilis dua solo album. Yup, memang hanya 2 saja.Indahnya Sepi, yang dirilis label Irama Tara dan Opus IX pada tahun 1981. Dan 2 tahun kemudian menghasilkan album rekaman kedua, Kekagumanku, yang diproduksi label Musica Studios.
di sela-sela mulai sibuknya kakak Candra dengan Karimata, bersama dua kompanionnya di Karimata, Aminoto Kosin dan Erwin Gutawa, iapun menjadi produser rekaman soloalbum. Antara lain album perdananya Ruth Sahanaya, Seputih Kasih. Selain Januari Christy.
Pada tulisan ini, saya memilih untuk fokus pada kiprah seorang Candra Darusman sebagai solo artis. Karena tulisan panjang soal Chaseiro sudah pernah saya buat, sudah saya upload juga deh di website saya ini, CHASEIRO Semangat Jiwa yang terus mudal  Lalu kalau soal Karimata, nantilah menyusul ya, kawan-kawan sekalian, sidang pembaca yang budiman.


Chaseiro sedang lumayan”lucu”, “populer”, “laris manis” sebetulnya, tetapi tetiba Candra merilis solo album. Masih ingat ga dengan lirik yang romantis begini....

Kau...sulutkan hatiku
menerawang jauh
menembus ke dalam
Kau...bangkitkan gairahku
hasratku menggapai
harapan bersama

Oh...penyesalan kini
tiada arti lagi
kusadari semua yang terjadi
Maafkan diriku
yang tak mungkin akan
menghalaukan hati
insan yang ada
telah lama bersama

Ku...tetapkan impianku
bersama kasihku
tertuju bersatu
Derap langkah bersama
alunan irama
seia sekata

Oh...mengapa terjadi
pertemuan dengan
seorang yang mempesonaku
di kalan diri ini
t'lah terpadu janji
tak mungkin kan kuingkari
apa dayaku
menghadapi kenyataan
(Ku harus menghadapi)

Yesss betullll, kalau menjawab, ‘Kau’. Lagu yang ditulis Candra bersama Tito Soemarsono, Pancasilawan. Lagu itu menjadi single hits yang menyapa manja,lembut, manis, para penggemar musik Indonesia di waktu itu.
Lagu yang pop, easy listeninglah. Iya bisa dibilang lagu nyaman dan nyenengin hati. Tak berbau Chaseiro sih. Memang materi lagu-lagunya, materi solo.

Kalau masih ingat, ada juga lagu ini.... Ketika mentari tinggi, Sendiri ini terjadi seperti biasa. Seperti yang lalu kala perdana, Sendiri untuk melangkah, di antara rayu berpadu...Tak perduli rupa wajah sayu, Tebal sudah rasa, Biarlah terjadi kini... Ku kan terus sendiri, Walau berat nian terasa, Ku tetap mandiri...Sepiku, indahnya sepi, Bilakah tiba masanya, Diri ini pasti bersanding....
Lagu ini ‘Indahnya Sepi’ diambil juga menjadi judul album. Digubah oleh Candra bersama ceuceu Ingrid Wijanarko. Dan lagu ini kemudian ikut populer pula,menyusul suksesnya lagu, ‘Kau’.

Ada juga lagu yang saya ambil panggalan liriknya,di bagian reffrain-nya saja ya, Rentangkan tanganmu sedini mungkin, Menyibak segenap perbedaan, yang tercermin dalam kehidupan....Panggilan jiwa meronta, menerawang di alam maharddhika, tuk meraih hasrat, citra bangsaku, damai sentosa.
Lagu berjudul, ‘Panggilan Jiwa’ itu ditulis oleh Ikang Fawzy. Dan Ikang pun ikut tampil. Menjadikan lagu ini berformat duet. Menurut kakak Candra, Ikang memang teman baiknya sejak di kampus Universitas Indonesia. Sering bertemu di kampus, ngobrol musik, walau mereka tidak berada di fakultas yang sama.
Oh ya, ada satu lagu yang kalau tak salah, rada belakangan dikenal. Disukai. Dan mengharu biru para penggemar musik Indonesia. Lagu ini romantis banget. Lagu yang “pianis” gitu deh.
Musiknya mellow, mengalun lembut, piano saja didukung juga dengan akordeon. Liriknya yang membuat lagu ini jadi makin romantis-tis ini, ditulis oleh Eddy D. Iskandar. Ingat dong dengan nama ini? Masak lupa dengan Gita Cinta dari SMA atau Puspa Indah Taman Hati?

Baca baik-baik, resapi saja lagu “manja dan teramat manis untuk dilupakan ini”..... Mega putih murni setulus cinta kasih, Mengembara dalam masa remajamu, Bagai biru laut selembut cinta saya, menjelajah dalam jiwa remajamu..... Sendiri kau jangkau angan dan harapan, Nan jauh terlihat bayanganmu, Marlina seorang, M’laju bayu bagai perjalanan hidupmu, Lepas bebas menyingkap tirai asmara..... Pelabuhan mimpi tinggal selangkah lagi, Cinta dan kasih sayang milikmu seorang.....
Kalau buat saya, lagu ini memang akan menjadi lagu “terlalu indah dan sangat Candra Darusman”. Sekilas mungkin seperti, “lagu cinta biasa”. Tapi cermati cara menyanyi, dengan bungkusan musiknya. Cara menyanyi Candra yang seperti “lirih”, mengalir lancar tanpa tekanan emosi. Juga tak ada kesan “ngotot”nya, itu yang justru membuat lagu ini sangat spesial. Dan, menyentuh hati....
Lagunya jadi terasa “daleeeem” cuy! Seru juga, kalau lagu ini dicoba dinyanyikan penyanyi lain, pastilah menjadi tantangan yang sangat serius. Soalnya gini, dasarnya Candra juga bukanlah penyanyi tulen, dengan kwalitas vokal mumpuni gimana ya.


Seperti juga sebagai pianis, ada rasa jazznya memang, tapi ia muncul bukan sebagai virtuoso. Atau tidaklah tampil bak seorang maestro pianis, skillful. Namun permainan pianonya menyenangkan untuk didengar, disimak. Punya “rasa” tersendirilah.
Dalam debut solo albumnya, Candra menyuguhkan total 11 lagu. Lagu lainnya adalah, ‘Balada Seorang Dara’, ‘Ini atau Itu’, ‘Galau’, ‘Di Batas Waktu’, ‘Rindu Manis’, ‘Rahasia Diri’ dan ‘Minnie’. Menyelip satu lagu instrumental yang kental nuansa jazznya,’Kwartet Sunyi (Kepergian)’.

Lalu kita lanjut yiuk nyanyi-nyanyinya dengan lirik yang begini...

Tiba saat yang kunanti
sejak lama kumelawani di hati
Baru kini kumengerti
hanya kaulah satu-satunya
di hati

Meskipun tabir
terlambat hadir
namun engkau mengisi
kembali kehidupan ini kasih...

Kusangka
masih banyak bunga berwana
Ternyata
hanya harummu yang terbawa

Kulepas segala arus mimpi
yang mengganggu pendirian lagi
Tak salah ku
kau yang kukagumi
di hatiku ini
Senantiasa lahir
senang kau kembali

Yang ga ingat dengan lagu ini, coba unjuk tangan tinggi-tinggi! Dulu kemana aja sih, mas atau mbak? Hehehehe. Lagu ini adalah hits yang paling populer dari album kedua, yang judul albumnya diambil dari judul lagu yang ditulis Candra bersama Harry Sabar ini, ‘Kekagumanku’.

Oh ya, jangan lupakan pula lagu satu ini.Ini nih liriknya, eh boleh lho, boleh banget kalau tak hanya membaca saja, tapi sambil ikut dinyanyiin saja, ya kalau ingat lagunya. Oh Geneva kuteringat pertengahan ‘delapan dua. Di sanalah kutemui keindahan semesta. Kuberjalan berkeliling kunikmati choco latte, sambil lalu kuamati gadis manis mon cheri...Kota Geneva, Terkenal sudah tempat perdamaian dunia... Tak terlupa kenanganku, Bersamanya bergembira, Senyumannya dan gayanya, Membuaiku sesaat.... Menjulangnya pegunungan , Memberikan suasana, Saat itu musim panas , Tiada tara kesanku....Bukit hijau terbentang sepanjang arah mata, Saat itu kureguk nikmat caffĂ© espresso, kupastikan diriku untuk kembali lagi ke Geneva.

Lagu di atas itu mengambil judul, ‘Geneve’ (Genewa), lagu yang dibuat bareng Candra dan Pancasilawan. Lagu tersebut medium-tempo, agak-agak mellow juga, dan terasa keindahannya. Keindahan Geneve, kota yang lantas di kemudian hari malah menjadi kota yang sempat Candra tinggal.

Ada satu lagu lain, yang kemudian lumayan populer pula. Lagu yang bermuatan lirik relijius, kemanusiaan dan berke-Tuhan-an. Segenap peristiwa yang pernah ada dalam kehidupan. Merupakan kehendak Tuhan yang maha kuasa. Betapa kuasa Dia, dalam menentukan, jalan nasib kita, yang senatiasa di tanganNYA..... Manusia berusaha untuk menggapai cita dan cintanya, seakan tak berdaya bila yang diinginakan, melawan kodrat dunia, hasil ajaranNYA.  Jangan diabaikan segala perintahNYA, yang senantiasa akan abadi.....  Sadarkan diri, hidup insani tak pasti. Berdoalah. Suatu hari tiba saat untuk menghadap Maha Pencipta .......
Dalam album keduanya, Candra menyajikan 10 lagu. Lagu lainnya seperti, ‘Gadis Pujaan’, ‘Isabel D’, ‘Makna Nostalgia’, ‘Our Moment of Paradise’ ‘Perkenalan Perdana’. Juga ada lagu duet, ‘Jasa Seorang Teman’, dimana Candra bernyanyi bersama bassis yang juga penulis tagu, Tito Soemarsono.

Menyoal Tito, sebelumnya dikenal sebagai bassis kelompok Spirit. Kemudian sempat beredar sebagai seorang session player, terutama untuk rekaman. Karena mereka sudah kerapkali bekerjasama.Titojuga ikut mendukung album perdana Candra. Akhirnya, mereka sepakat mencoba membuat lagu. Yang menyanyikan, Candra langsung memutuskan ya mereka berdua saja.
Sebagai informasi, Tito memang sempat menghasilkan beberapa solo album. Satu yang lumayan sukses adalah album Untukmu, dirilis tahun 1990. Ia tampil sebagai penulis lagu dan penyanyi. Malah publik jadi “lupa” bahwa ia sebenarnya juga bassis.
Seperti juga pada album perdana, Candra kembali menyelipkan sebuah lagu instrumental, bersuasana latin jazz. Kali ini adalah lagu berjudul, ‘Highway to Mexico City’. Latin jazz merupakan salah satu warna musik yang digemari Candra.

Makanya iapun pernah tampil beberapa kali dengan grup bentukannya sendiri, Candra Darusman Latin Jazz Band  Dimana Candra didukung sebagian besar personil dari kelompok muda, Black Fantasy.
Latin jazz bandnya, yang bisa disebut sebuah session-band tersebut, dibuatnya sebelum ia kemudian imendirikan Karimata. Begitu Karimata muncul maka session bandnya tersebutpun kemudian berakhirlah.
Ia memang menyukai jazz, ia menyebut Waltz for Debby' sebagai salah satu lagu yang paling dia sukai. Lagu tersebut karya Bill Evans dan Gene Lees. Dan ada dalam album yang berjudul sama, milik Bill Evans, dirilis pertama kali pada tahun 1962.
Candra juga pernah menimba ilmu jazz dengan tokoh jazz, Jack Lesmana. Yang malah membuatnya lantas dekat dengan Jack Lesmana dan keluarganya. Tentunya termasuk anak-anaknya Jack Lesmana, Mira dan Indra Lesmana. 
Tak heran Indra dan Mira sempat menyodorkan karya mereka, masuk dalam solo albumnya Candra. Lagu dari kakak-beradik itu adalah, 'Our Moment of Paradise'. Lagu tersebut terdapat dalam album Kekagumanku.


Adalah sisi menarik dari dua solo albumnya. Saya sempat tergelitik untuk menanyakan, mengapa membuat solo album? Padahal saat itu juga, Chaseiro bisa disebut sedang lumayan sukses.
Jawaban Candra, suami dari “Dini” Budi Ariani adalah, “Jawabannya simple. Karena memang materi lagu-lagu saya tersebut hanya cocok untuk dibawakan sendiri, bukan dengan format vocal group seperti Chaseiro.” Kalau begitu ada lagi dong pasti, lagu-lagu lain untuk materi solo begitu?
Ayah dari Kara, Rio dan Rino ini menjawab, “Iya sebenarnya saya masih punya 15 buah lagu, untuk dinyanyikan sendiri. Dan sekarang tersimpan rapi.” Kenapa juga hanya 2 album, harusnya kan lebih ya, kak?

Candra yang mengaku permainan piano maupun musiknya itu banyak dipengaruhi Eumir Deodato, juga Bill Evans, Oscar Peterson dan Dave Grusin, hanya terkekeh ketika disodori pertanyaan di atas. Kalau tak salah, kala itu memang ia makin sibuk, terutama dengan Karimata.
Maklum di masa itu, Karimata lantas menjadi salah satu grup fusion jazz ternama. Merekapun bersainglah dengan beberapa kelompok sejenis, yang muncul di sekitar tahun itu. Sebut saja ada Bhaskara. Selain Krakatau dan Emerald (sekarang menjadi Emerald BEX). Dan tersisa 2 grup yang disebut terakhir, yang masih eksis hingga saat ini.
Selain itu, ia juga sibuk dengan kantornya, sebuah perusahaan rekaman dan produsen jingle atau lagu untuk iklan. Dan iapun mulai mempedulikan soal hak cipta. Kemudian antara lain dengan Yayasan Karya Cipta Indonesia. Selain masuk ke dalam PAPPRI, menjadi direkturnya.
Yang pada waktu kemudian, ia malah masuk World Intellectual Property Organization. Sebuah badan dunia yang bertugas utama dalam soal hak cipta dan kekayaan intelektual. Ia kini bermukim di Singapura, setelah sebelumnya beberapa waktu bermukim di Jenewa. Dan di WIPO tersebut jabatannya adalah Deputy Director.

Candra di masa sekarang, aktif dalam penyebarluasan masalah hak kekayaan intelektual. Ia peduli dan secara serius memperhatikan masalah kesejahteraan seniman musik Indonesia.
Ia belum lama ini juga telah merilis sebuah buku bertajuk Perjalanan Sebuah Lagu. Materi utama buku yang ditulisnya tersebut adalah pengenalan akan berbagai hal mengenai karya cipta dan segala hak yang menyertai. Ditulisnya tentu berdasarkan atas pengalaman dan pandangannya sendiri.
Buku yang disertai album rekaman baru bertajuk, It’s Amazing – Perjalanan Karya Candra Darusman diproduksi oleh Signature Music. Dimana dalam album rekaman tersebut, direkam kembali berbagai hits milik Candra, yang dibawakan oleh berbagai penyanyi masa sekarang. Demikian pula halnya dengan musiknya, digarap sahabat-sahabat musik Candra seperti antara lain ada Erwin Gutawa dan Addie MS.

So, memang harusnya seorang Candra memperoleh kesempatan untuk bisa merilis lagi album rekaman kan? Masak sih 2 album solo saja cukup? Sungguhpun kedua album itu, tak bisa dibilang sebagai album yang meledak di pasar musik, di tahun 1980-an itu. Namun kedua album itu, melahirkan musik dan lagu yang nyangkut di hati banyak penggemar musik.
Berbagai lagu dari kedua album itu, masih kerapkali diputar atau diperdengarkan dimana-mana. Baik lewat radio-radio, juga oleh band-band kafe di seluruh penjuru Nusantara.

Ada hal tak kalah unik, seingat saya sih, selama masa peredaran kedua albumnya dulu itu, Candra belum pernah sempat untuk konser solo. Artinya, konser sendiri membawakan karya-karya lagunya yang dari kedua solo albumnya tersebut. Aneh tapi nyata!
Padahal apa kurangnya materi album-albumnya tersebut? Lagu-lagu keren yang beneran mewarnai jaman. Musiknya pas dan klop dengan suasana 80-an waktu itu. Tetapi tetap terasa masih in, bahkan hingga saat ini. Baik dari sisi lagunya ataupun musiknya. Ya apalagi tema-tema liriknya, tetap kontekstual. Kan banyak urusan cinta....

Apa sih istilahnya ya, everlasting song ya? Atawa evergreen song? Pokoknya, tetap nikmat disimak masa ke masa, sampai saat ini. Beberapa lagunya kan juga pernah populer kembali saat dibawakan penyanyi lain. Misalnya, ‘Kau’ oleh grup Bunglon. Lalu ‘Kekagumanku’ oleh Ren Tobing dan Shelomita.
Eh dengar-dengar Candra Darusman akan konser lhooow dalam waktu dekat ini? Oh ya? Mosok iya sih? Nanti-nantilah ya, kalau ada waktu saya akan tuliskan soal konsernya tersebut. Kalau mood ya, hehehe. Ok? /*