Friday, November 10, 2017

Selamat datang kembali Indonesia 6. Jangan cuma reuni sekali dong....






Kalau membahas Indonesia 6, tak bisa tidak harus mengikut sertakan 2 orang. Yang pertama, Elfa Secioria. Yang kedua, Yani Danuwijaya. Lalu, kalau keduanya tidak ada, jadi Indonesia berapa?
Adalah Elfa Secioria, sebagai penggagas dan yang punya ide dalam terbentuknya Indonesia 6 sebagai sebuah grup band. Sayangnya, sang pencetus ide, telah pergi meninggalkan kita semua pada 8 Januari 2011 di usianya yang masih 51 tahun.
Tentu saja kita tak lupa dengan bang E’el, begitu panggilannya, yang adalah juga konseptor musik, penulis lagu, aranjer. Selain itu juga dikenal dengan sekolah musiknya Elfa’s Music Studio, EMS, yang di awali di Bandung. Bang E’el ini kian dikenal lewat Elfa’s Singers serta Elfa’s Big Band-nya.
Yani Danuwijaya sendiri adalah perempuan cantik yang di era pertengahan 1980-an dijuluki si anak ajaib. Masih berusia belum 15 tahun, ia menjadi best keyboard player pada ajang Light Music Contest 1985. Ia antara lain “mengalahkan” Dwiki Dharmawan, yang waktu itu grupnya, Krakatau (formasi terawal) menjadi kampiun nomer wahid di ajang kompetisi band besutan Yamaha tersebut.
Nah Yani di 1985, masih main bersama Aryono Huboyo Djati, yang juga penulis lagu ‘Burung Camar’ tersebut. Grupnya adalah Warimoo, dengan ada Tito Soemarsono, bassis. Lalu Ferdy Maulvi, drums. Serta satu kibordis cewek lain, Esterlita. Warimoo waktu itu sebagai band, tak berhasil meraih gelar juara pada Light Music Contest 1985. Tapi 2 tahun kemudian, Yani masuk formasi Indonesia 6, yang terpilih menjadi pemenang pertama Light Music Contest.
Kehadiran seorang gadis mungil yang lincah bermain kibor itu, Yani Danuwijaya, memang menjadi pesona tersendiri pada penampilan Indonesia 6. Dan Indonesia 6 itu memang dibentuk oleh Elfa Secioria, untuk Light Music Contest 1987, dengan mengincar peluang tampil di final round dunia kontes band tersebut, di Tokyo, Jepang.
Sedikit tentang Elfa Secioria dan Light Music Contest. Sejak 1983, tahun dimana ajang kontes band nasional tersebut pertama kali digelar, Elfa sudah rajin mengirimkan wakil band bentukannya untuk mengikuri kontes band itu. Dari terawal itu ada EMS dan Combo’83. EMS sendiri bahkan menjadi salah satu juara, bersama Black Fantasy.
Lalu ada kelompok Envolver di 1984. Selain itu kemudian ada Coop’s Rhythm Section, Night Revellers sampai Kahitna. Semua grup masuk babak final nasional, sebagian juga sukses menjadi juara, atau salah satu personilnya terpilih menjadi pemain ataupun penyanyi terbaik.
Indonesia 6 dianggap grup yang menyatukan kelompok-kelompok musik dari “kubu” Elfa Music Studio di tahun sebelumnya. Dan secara khusus lagi, Indonesia 6 adalah “formasi lanjutan” ataupun pengembangan dari Kahitna, yang menjadi runner-up di Light Music Contest 1986. Waktu itu juara pertamanya adalah Emerald Band, formasi pertama.


Indonesia 6, juga memainkan warna latin jazz yang kental, seperti juga banyak kelompok dari EMS lainnya. Yang menarik, konsepnya itu memasang 3 kibordis, jadi terasa ada suasana “sangat modern”nya, ya di waktu itu. Mereka memang seperti mengandalkan dominasi kibor.
3 orang kibordis Indonesia 6 waktu itu adalah Bubi Iriadi Sutomo, Yovie Widianto dan Yani Danuwijaya. Didukung juga, “elemen” penting grup ini yaitu Iwan Wiradz, perkusionis. Selain itu di sisi rhythm ada Desi Arnas Lahat, bassis. Serta drummer, Hentriessa Yulmeda. Dengan formasi itu mereka menjadi juara pertama di tingkat nasional.
Kemudian terpilih untuk tampil sebagai finalis LMC International di Tokyo, Jepang secara resmi. Jadi Indonesia 6 menjadi grup Indonesia pertama yang terpilih resmi sebagai kontestan babak final di Tokyo. Tahun sebelumnya ada Krakatau memang yang tampil di Tokyo juga, tetapi statusnya sebetulnya sebagai undangan khusus.
Dari kesempatan tampil di ajang tingkat dunia tersebut, Yani Danuwijaya terpilih sebagai peraih outstanding keyboard player. Dimana gelar kibordis terbaik tersebut, di tahun sebelumnya juga direnggut oleh Dwiki Dharmawan..Gelar terbaik tersebut makin mengukuhkan bakat besar seorang Yani “kecil nan imut” itu.
Jadi formasi memajang 3 kibordis barengan memang adalah “kelanjutan” dari Warimoo. Bedanya, Warimoo terkesan fusion yang betul-betul mengandalkan keriuhan sound keyboard dan synthesizer sampai sequencer. Sementara Indonesia 6, dasar musiknya sebenarnya adalah Latin-Jazz, karena instrumen perkusi tetap menjadi andalan.
Indonesia 6 mempesona penonton dan dewan juri, dengan permainannya membawakan lagu, ‘All the Things You Are’, sebuah nomer standard jazz. Dimana aransemennya, yang dibuat Elfa bersama Indonesia 6, berdurasi lumayan panjang. 14 menit-an. Mungkin itu lagu terpanjang di LMC, sepanjang sejarahnya.
Dengan lagu sama, dan dengan aransemen mirip, Indonesia 6 sukses juga mempesona dewan juri di Tokyo waktu itu. Dan seingat saya, kebetulan saya nonton penampilan mereka waktu di Jakarta ya, memang ada porsi lumayan berlebih pada aksi soloing ketiga kibordis mereka. Tapi terlebih pada Yani.
Yang saya ingat, saya memang terpesona dengan Yani lagi. Kan terpesona pertamanya sudah waktu tampil dengan Warimoo di 1985. Oh emang nonton juga? Alhamdulillah, saya punya kesempatan menyaksikan final LMC sejak 1984. Tapi saya juga lantas lebih mengamati Yovie Widianto sebenarnya waktu itu, yang saya juga jadi lebih terkagum-kagum lagi.


Jadi kalau liat Yovie, dengan permainan kibornya lebih menonjol ya sejak 1986 waktu Yovie memimpin Kahitna. Oh ya, intermezzo saja, Kahitna rupanya nama yang diambil dari sebuah lagu pop Filipina, ‘Kahit Na’..  Artinya, meskipun. Nama itu “ditemukan” Elfa. Eh menyoal dikiiiit soal lagu Filipina. Ada satu lagu lain, yang seringkali diputar radio Eshinta Jakarta juga sih, ‘Nasumka’atau judul lain, ‘Nasaan Ka’ (dimanakah kamu)  Ingat kan, awal 1980-an ada trend lagu-lagu Tagalog Disco masuk kesini? Nah Nasaan Ka itu, adalah lagu love song nya tagalog music. Kayaknya, juga dengan ‘Kahit Na’.
Radio Elshinta itu, di era 1980-an, menjadi salah satu radio “penting”nya anak-anak muda Jakarta. Nah mereka itu doyan menyuguhkan lagu-lagu “unik”, terutama berwarna rada jazz atau jazzy. Mereka yang memperkenalkannya, lalu disukai anak-anak muda. Nah merekalah yang tetiba memperkenalkan lagu ballad Filipina, rada kayak Bee Gees itu.
Selain itu, mereka jugalah yang memperkenalkan dan bisa mempopulerkan lagu-lagu jazzy Jepang misal dari Tatsuro Yamashita. Antara lain dengan lagu, ‘Rainy Walk’, ‘Mermaid’, ‘Sparkle’ sampai sebuah ballad yang sangat populer, ‘Your Eyes’. Udah ah ya, belok sebentaran aja....
Oh ya pada konser Indonesia 6 Reunion kemarin, ada  penyanyi yang mantan personil Elfa’s Singers, Toni Sianipar yang berbagi cerita dari atas panggung kemarin itu. Tony nyelip di antara penonton. Selain juga ada cerita dari Bubi Sutomo, selain Yovie, yang berdialog dengan dua MC malam itu, Hedi Yunus dan Netta KD.



Lha, penyanyi-penyanyi juga dong? Iya MC nya memang ternyata juga “masih famili”nya EMS, hehehe. Hedy, ya sudah tau dong ya, penyanyinya Kahitna? Sementara Netta, dulu juga pernah sesaat mendukung Kahitna, di era awal banget. Sekarang Netta banyak bersolo karir, selain bermain teater sampai film.
Keduanya juga sempat menyanyi, atau ikutan menyanyi di beberapa lagu hits Indonesia 6, yang kemarin dibawakan. Tau ga, ini cukup mengagumkan buat saya, mereka menyuguhkan sampai 18 lagu! Eduuuun! Semua lagu diambil dari satu-satunya album yang pernah dihasilkan Indonesia 6 lewat Team Record, sebuah selftitled album, yang disebarluaskan pada 1989.
Mereka juga tentu saja memainkan lagi, dan menghidangkannya dengan pede-nya, single mereka, ‘Fatamorgana’. Single ini masuk di sebuah album kompilasi, 10 Bintang Nusantara produksi Team Records. Perlu diketahui, dalam album itu ada KLa Project dengan, ‘Tentang Kita’. Lalu ada Splash Band dengan,’Dulu’. Selain itu ada Sirkus Barock lho, dengan lagu, ‘Balada Penganggur’.
Selain itu ada lagu, ‘Pasti’ karya Donny & Prass, yang dibawakan Dimensi Band-nya Donny Suhendra dan Yuke Sumeru. Jadi ingat, proses rekamannya sempat saya ikuti waktu itu, sekitar akhir 1988 di studio rekaman di jalan Wijaya. Di Dimensi itu juga ada Rudy Subekti, Amir Roez dan Iwang Noorsaid.
Nah di 1989, Dimensi Band ini pernah ikut juga ajang LMC, yang sudah berganti nama menjadi Band Explosion. Mereka sayangnya kalah dari Topeng & Mask, yang mana grup ini juga grup yang berdiri atas gagasan Elfa Secioria. Satu dari sedikit sekali grup bentukan Elfa, yang ada gitarnya! Waktu itu gitarisnya, Mus Mujiono.




Iya Tony Sianipar juga yang kemarin mengungkapkan, entah kenapa memang almarhum Elfa terlihat kurang menyukai adanya gitaris, makanya di band-band yang dibentuknya, terutama untuk ajang LMC. Band-band tersebut lebih mengandalkan kibordis, 2 atau 3 orang, dan tidak memakai gitaris!
Eh iya, dalam 10 Bintang Nusantara itu, ada juga Wachdach dengan ‘Jalan Jalan Sore’. Selain ada Punk Modern Band dengan, ‘Perang Bintang’. Dan lagu ‘Sulap Bencana’ dari ITB Jazz Choir. Album itu sebenarnya lumayan laris juga pada masa itu.
Maka karena album itu cukup lumayanlah, akhirnya Indonesia 6 pun mendapat kesempatan membuat album rekaman sendiri. Dalam album perdana dan satu-satunya itu, Indonesia 6 melepaskan dua single yang lumayan dikenal, ‘Monica’ dan ‘Bawalah Daku’.
Kedua lagu itu, juga tentunya ‘Fatamorgana’ ikut ditampilkan di Hard Rock Cafe kemarin. Juga ada lagu-lagu lain, yang diambil dari album pertama mereka seperti, ‘Matahari’ misalnya. Ada juga lagu yang dibawakan perkusionis, Iwan Wiradz, ‘Asa’. Lalu, ‘Janji’. Juga lagu, ‘Winners Cup’, ‘Speed Driver’. dan ‘Crazy Love’.
Mereka membuka konser dengan lagu yang sangat brazillian, ‘Mira-Mira’. Diikuti lagu, ‘Beiral’, yang dinyanyikan Iwan Wiradz. Ada lagu lain, ‘The Journey’, lantas ada, ‘Emergency Unit’. Kemudian juga lagu riang, ‘Pinocchio’ karya Yovie yang dimainkan setelah sebuah lagu standard, ‘Caravan’ yang diaransemen secara samba yang kental banget.





Pada konser kemarin, mereka juga didukung oleh Yana Julio, yang personil Elfa’s Singers itu. Yana Julio,membawakan lagi, ‘Crazy Love’ yang memang dia nyanyikan di album pertama Indonesia 6 itu dulunya. Ia juga membawakan lagu karya Yovie Widianto, yang ada di solo albumnya, Selamanya Cinta, dirilis 1995. Lagu ballad itu berjudul, ‘Aku Masih Cinta’.
18 lagu dalam sekitar 2,5 jam, sungguh bukti kesungguhan mereka untuk melakukan reunian alias kumpul kembali untuk tampil bersama di panggung. Reuni yang lumayan mengejutkan, karena bisa kejadian juga di antara kepadatan jadwal para personilnya.
Tetapi memang akhirnya, kudu ada siasat kitu. Berstrategi khusus, Indonesia 6 tetap jadi tampil lagi walau para musisi aslinya sibuk sebetulnya. Jadi ada Lucky Kanx dan Cindy Salter, sebagai kibordis tamu. Mereka berdua bermain penuh, di semua lagu.
Sehingga penampilan khas Indonesia 6 dengan trio kibordisnya tetap dipertahankan. Dengan tetap hadirnya Bubi Sutomo, dimana Bubi juga yang bertugas menuliskan part semua lagu yang dimainkan.
Memang “kehilangan” Yani Danuwijaya yang sebenarnya adalah maskot penting, karena tengah mengalami sakit yang memang tak memungkinkannya untuk ikut tampil. Padahal kabarnya, ia juga antusias untuk dapat tampil.
Yovie sendiri ikut tampil tetapi hanya di beberapa lagu saja, sekitar 4 lagu. Kemudian pada bass ada Subekti Sudiro, sebagai pemain tamu pengganti Desi Arnas Lahat. Desi sendiri, tetap dapat “menyelip” tampil walau hanya di 2 lagu saja.
Well pada akhirnya kan tetap saja nama Indonesia 6 yang ber-reuni dengan sukses. Walau tinggal 3 original-membersnya yang tampil sepenuhnya yaitu Iwan Wiradz, Hentriessa Yulmeda dan Bubi Sutomo. Tapi itu sudah lumayan cukup mengobati kerinduan para penggemarnya.







Suasana di Hard Rock Cafe pada Senin malam itu cukup padat. Diramaikan juga oleh para penonton yang sebagian besar adalah para alumni ITB, yang berasal dari beberapa angkatan. Tentu saja, para alumni yang pada masa kuliahnya dulu, seringkali mendengar lagu-lagu Indonesia 6, sering menonton dan lantas nge-fans. Para alumnus ITB tersebut, “dikerahkan” oleh Bubi, sebagai sesama alumnus ITB juga.
Bukti bahwa mereka penonton memang kenal banget Indonesia 6 adalah, ada 2 penonton yang cewek, manis lagi, bisa menyanyi dengan baik dan lantas menyanyikan hitsnya Indonesia 6. Tentu saja bersama Hedy dan Netta. Ada juga, ini yang “dahsyat”, penonton yang pede naik ke panggung untuk bergoyang. Asli goyang, jack! Sepanjang lagu.... Edun-lah!
Well soal bagaimana sebenarnya penampilan Indonesia 6 di malam reunian kemarin itu, tentulah ada plus minusnya. Tetapi saya menyebutnya, ah lebih banyak plusnya lah, dibandingkan minusnya. Meleset-meleset sedikit, tentu saja bisa dimaafkeun dengan penuh keikhlasan. Toh yang penting, Indonesia 6 bisa tampil lagi.
Meleset dalam menghidangkan tutty mah, lumrahlah ya. Lagu-lagu mereka, yang dimainkan kemarin, memang tetap sarat dengan "pertunjukkan" tutty yang seru tapi...."mendebarkan" itu. Ya ga sih? Eh iya,tutty itu memainkan nada-nada atau not sama berbarengan secara cepat, biasanya ya semua personil, tentu dengan instrumennya masing-masing.
Asli deh, mengingatkan penampilan band-band muda di era 1980-an, terutama di pentas-pentas kontes band. Ya dimana LMC atau kemudian Band Explosion itu, menjadi kontes paling bergengsi. Kalau tak berani mempertontonkan tutty-tuttyan gitu, ah ga jago! Hahahaha.
Grup ini sejatinya grup bagus dan unik, pada jamannya tersebut. Warna latin jazz yang dimainkan membuat mereka berbeda dibanding grup-grup fusion atau jazz(y) yang lumayan merajai panggung di antara 1985-1990an awal itu. Ya seperti saya sebut di atas tadi itu, 3 kibordis dengan gaya latin. Fusion-nya ramai, dengan suasana yang lain dari yang ada.
Beda dong dengan Krakatau, Karimata atau Emerald saat itu. Beda juga dengan siapa ya, bisa disebut Modulus, Halmahera. Semua itu jebolan LMC juga adanya lho, kecuali Karimata. Indonesia 6 agak sedikit “mirip” Black Fantasy, tapi ya yang membedakan ada trio kibordis itu. Black Fantasy tak memakai kibordis sampai 3 orang, hanya ada Lully Widharmadi. Black Fantasy lebih memilih memakai 2 orang pemain tiup, trumpet dan trombone.
Sayangnya, Indonesia 6 dengan segala keunikannya itu terbilang berumur singkat. Mungkin mereka terakhir tampil dulu diawal 1990 saja ya? Sekitaran itu. Lalu mereka berhenti, bukan bubar tapi ya vakum saja. Dan “tidur”nya mereka aih...lumayan euy. Di 2017 ternyata mereka baru “bangun” lalu tampil lagi.
Lalu bagaimana, serius untuk kembali tampil lagi? Kan rata-rata personil aslinya, punya kesibukan yang terhitung maksimal? Bubi dan Iwan mengatakan, mencoba untuk serius bisa meneruskan jalan bareng lagi. Paling tidak, untuk tampil lagi. Misalnya, tampil dalam sebuah konser yang relatif lebih besar.


Harusnya sih, biar lebih afdol dan sah, ini menurut saya ya, upayakan dapat membuat album baru. Ya paling tidak teh ya, 1 atau 2 single baru deh. Maka, akan jadi terasa sempurnalah kehadiran kembali Indonesia  6 ini. Kembali akan meramaikan panggung musik tanah air.
Kan hari ini, bahasa gaulnya teh... Kids jaman Now, eta teh maksudna ya zaman sekarang ini, ga ada atuh gup band dengan trio kibordis dan maininnya latin jazz nan riang gembira. Betul kan? Itu namanya, peluang bagus. Perlu dipertimbangkan, layak dipikirkan masak-masak. Harus masak lah, biar benar-benar bisa mengenyangkan! Hehehehe.
Saya kemarin pulang senang hati, kebawa tuh lagu Monca, yang jadi lagu penutup yang pas. Masih aja terngiang-ngiang di telinga, bermain-main di dalam hati. Emang ada nostalgia tertentu, secara pribadi, dengan lagu itu? Ah sudahlah, ga perlu buka-buka album lama....
Ole olalalala oo o Monica / Kamu sungguh mempesona / O o Monica / Ole olalala semua ceria / Terasa pagi menyapa / Semua ceria....
(Auuuw, nostalgia party sampai pagi di jaman dahulu kala deh jadinya ya, teman-teman Indonesia 6.) /*
5 dari , Indonesia 6 bersama Jan Djuhana. Dulu pak Jan yang memasukkan mereka dalam album 10Bintang Nusantara, lalu membuatkan solo album, yang menjadi satu-satunya album rekaman mereka.

Desi Arnas Lahat, Iwan Wiradz, Hentriessa, Yovie Widianto dan Bubi Sutomo








Wednesday, November 8, 2017

MONTECRISTO, Selamat dan Sukses untuk Album DVD Live nya!


Setahu saya, ga begitu banyak, grup musik yang merilis album live berupa video. Salah satu dari jumlah yang tak banyak itu adalah, MONTECRISTO. Tapi memang biasanya, grup-grup outside-mainstream, lebih berani dan lebih semangat berkreasi.
Jelaslah, itu point positif, bahwa ada ketersediaan rekaman live format dvd yang bisa dinikmati masyarakat. Walau diproduksi dalam jumlah terbatas. Kan jadi ada alternatif lain dalam menikmati musik.
Tapi memang membuat rekaman video itu, memerlukan persiapan konsep yang teencana dan dipersiapkan dengan matang dan sebaik-baiknya. Soal konsep dan persiapan matang itu, tentu saja penting, demi menghasilkan karya hasil rekaman gambar, tentu diikusi audio, yang baik. Artinya, nyaman dan enak dintonton dan dinikmati.
Nah terus terang, dalam hal ini MONTECRISTO mempunyai kekurangan. So, konsep menyodorkan rekaman video dalam dvd sudah bagus banget, namun implementasinya dalam menghasilkan rekaman yang baik, itu titik persoalan.
Dikarenakan ternyata, konser Once Upon a Time with MONTECRISTO yang pernah digelar di sebuah clubs di kawasan Kuningan, beberapa waktu lalu, mempunyai kelemahan. Masalahnya, persoalan yang timbul itu ternyata terkesan agak diluar dugaan, di luar keinginan dari teman-teman MONTECRISTO.
Jadi rupanya, konser itu digelar sekaligus direkam secara proper, untuk nantinya dapat diedarkan sebagai rekaman video live mereka. Saat konser tersebut, dimana saya menonton juga, saya sudah langsung berkomentar bahwa sayangnya lighting tak memadai dan sound kurang maksimal. So, ketika lantas ternyata konser itu direkam untuk album live dvd, jelaslah saya kaget!
Beraninya mereka, menurut saya lho. Visualisasi dan audio untuk penonton saat itu kan terbilang, ya sebut saja ekstrimhya sih gagal. Lalu, direkam dan dishooting. Bagaimana hasil akhirnya?
Well, jadi saya tak terlalu kaget melihat hasil akhirya. Terasa ada upaya untuk melakukan editing maksimal, demi menolong gambar yang ditampilkan dalam video. Tapi asli, itu susah payah pastinya.
Karena memang saat konser kan seperti saya bilang di atas, dan sudah saya tulis juga di artikel liputan konser tersebut, lighting terutama ya, “harusnya bisa digarap dengan lebih baik”. Sound juga sebaiknya lebih matang dipersiapkan.
MONTECRISTO membuat acara khusus, semacam presentasi atas video live mereka, yang berjudul sama dengan konsernya tersebut. Acara diadakan pada Jumat malam, 3 November silam, di Queenshead, Kemang Raya.
Beberapa rekan jurnalis musik diundang, termasuk saya. Selain itu hadir pula, teman-teman dekat dari MONTECRISTO lainnya. Di malam itulah, diputarkan perdana, video tersebut. Selain berkesempatan menyaksikan sebagian video live mereka itu, juga diadakan sesi diskusi musik, terutama menyoal progressive rock di Indonesia di masa milenial sekarang.
Yang menarik buat saya, memang bukan hasil akhir videonya itu. Tetapi justru lebih seru soal diskusi musiknya. Bagaimana MONTECRISTO mencoba dapat eksis di pasar musik, dengan musik mereka yang kental betul aroma prog-rocknya tersebut. Mereka menceritakan perjuangan mereka, siasat mereka dalam berpromosi.
Sampai bagaimana hasil rekaman mereka, dalam hal ini adalah album berformat compact discnya, ternyata banyak dipesan penggemar musik dari Eropa, Amerika Utara sampai Amerika Selatan.

Bagaimana mungkin mereka dapat dikenal publik musik luar negeri, padahal mereka toh berjuang sendiri dalam melakukan penjualan albumnya.Dengan melalui jalur distribusi label lokal saja. Itu yang mengejutkan seorang Iwan Hasan, tokoh utama progrock Indonesia, melalui grupnya yang memang sudah berkelas internasional, Discus.
Nah mengenai bagaimana mereka meningkatkan eksistensinya di tanah airnya sendiri. Semisal mendorong naiknya secara signifikan, penjualan albumnya. Selain juga memperoleh kesempatan manggung, agar dapat terus aktif bergerak. Itu juga menjadi diskusi yang tak kalah menarik.
MONTECRISTO menyetujui dan menyambut hangat akan usul Kadri Mohamad, yang sukses memproduksi album format boxset, Indonesia Maharddhika, selain juga album kelompoknya sendiri,The KadriJimmo. Dalam hal merebut kesempatan manggung, agar lebih dikenal luas, tentunya.
Kuncinya, merapatkan komunitas. Membentuknya lalu memeliharanya dengan baik. Di titik ini, saya bisa setuju da tidak. Karena saya sejak dulu senantiasa berpikir, adalah baik ada ‘sekelompok” orang yang bisa dikumpulkan dan menjadi fans setia.
Tapi kalau hanya sejumlah orang itu saja yang membuat kita puas, rasanya perjalanan musik kita akan menjadi sangat terbatas. Dan hanya di situ-situ saja. Sementara itu, dalam jumlah yang relatif “sangat” terbatas itupun, harus dipertanyakan juga dong, sejauh mana loyalitas mereka?
Yang sederhana saja deh ya. Gini, pastikah mereka beli semua CD ataupun produk rekaman yang kita hasilkan? Akankah mereka selalu, kan soal loyalitas nih, menonton setiap konser kita. Baik show berbayar ataupun gretongan?
Karena kebiasaannya, fans fanatik itu ada yang bisa militan untuk selalu rajin membeli semua rekaman dan menonton show. Tapi ada juga sebagian yang ga terlalu rajin nonton, dengan segala alasannya, juga ga selalu beli CD ataupun album kita, tetapi sangat kritis dan sangat tajam kalau melemparkan kritik.
Salah dikit, atau bermusik “beda” aja sedikit, maksudnya terlihat atau terdengar beda, akan jadi masalah tuh. Nah itu bisa dikritik keras. Bahkan dikecam. Dibikin goyahlah kita, tak tenang tidur kita. Padahal jumlah mereka tak “seberapa”. Dan, kalaupun terjadi pergeseran “sedikit”, itupun demi bisa meluaskan cakupan penggemar, bukan?
Mana mungkin capek-capek rekaman bikin album, lalu kita puas dibeli hanya oleh 300-400 orang misalnya? Itu jumlah dari kalangan komunitas yang kita anggap fans fanatik. Padahal kita saja mencetak CD misalnya, sebanyak ya sebut deh berapa, 1000 keping misalnya? Lantas yang tersisa, 600-an CD gimana? Disimpan dalam kamar? Jadi pajangan rak di ruang tamu masing masing personil?
Itu yang selalu saja saya tak bosen-bosennya ingatkan pada banyak musisi ataupun penyanyi ataupun juga grup band dari kalangan indie, jangan berhenti hanya karena “sukses” dipuja-puji kalangan tertentu. Harus lebar dan luas penggemarnya, yang harus dipahami sebagai pendengar dan penikmat musik kalian!
Iya dong, artinya kreasi musik kalian kan punya prospek untuk terus berlanjut. Suksesnya real gitu. Bukan sukses semu. Terjamin, bahwa kalian mampu menjual produk musik kalian dengan “baik dan benar”. Yang menjamin keberlangsungan kreatifitas bermusiknya di kemudian hari.
Basic penggemar, atawa komunitas tertentu, boleh dong. Ada bagusnya, itu pasti. Tetapi jangan jadi patokan utama. Biar bagaimanapun, haruslah mampu meluaskan penggemarnya. Jangan lantas diam karena kepentok stigma, ya musik beginian kan segmented, pendengar dan penggemarnya memang terbatas sih di sini.
Gini bro and sis, music today di sini ini, ga ada trend! Artinya, sangat terbuka segala jenis musik lainnya, ikut sukses. Ada yang akan mendengar, menyimak dan menyukainya. Terbukti kok, musik yang mungkin sebelumnya dianggap, “aneh” bahkan dituding “terbatas pasar”nya, ternyata lumayan sukses.

Suksesnya ok deh, bukan booming. Tapi paling tidak kan, bikin dulu 1000 CD eh habis. Naik ke 2000, juga habis ternyata lho. Tambah produksi ulang lagi, jual 3000-4000 CD lho habis juga.
Kemudian jualan digital contentnya via etalase situs-situs streaming, ternyata bisa meraih pendengar yang sebut misal melampaui angka 3000-4000an misal. Bagus dong? Ya bagus. Beberapa grup-grup muda masa kini, dengan musiknya yang relatif “ga mudah” sebenarnya, ternyata lumayan jalan jualannya. CD-nya banyak yang beli diikuti, permintaan panggung yang relatif terus bertambah saban bulannya.
Iya situasi dan kondisi saat ini, musik jaman Now itu begitu saat ini. Kuncinya buat saya, bergaullah. Sering bergaul kesana kemari. Muncul di pelbagai kesempatan acara, di macam-macam komunitas. Pede aja dong. Kalau kulonuwun-nya bersahabat, “relasi” jadi terbuka kemana-mana. Bisa tampil dimana-mana, dan itu kan artinya mendapat tambahan penggemar?
Memang begitulah adanya, penggemar musik jaman Now itu, terkesan tak lagi menganggap musik segmented atau tidak. Ga ada lagi sebenarnya jenis musik tertentu yang dianggap, “pasarnya sempit”. Pasar itu bisa dibentuk, dengan kreatifitas, dengan semangat dan kejelian. Eh kejelian apaan? Kejelian menerobos pasar yang ada, menggoyang pasar yang ada, untuk mau menerima musik yang kita mainkan.
Well, MONTECRISTO nan gagah itu, dengan teman-teman baik saya para musisinya yang ganteng-ganteng dan ciamik bermusiknya itu, asli dong juga mempunyai potensi sama. Peluang untuk merebut perhatian dari pasar. Meluaskan wilayah penggemarnya kan?
Apalagi, mereka sudah dengan beraninya menghasilkan karya rekaman video. Setapak lebih maju lho. Memberi tawaran bagi penggemarnya, juga penggemar musik lebih luas, untuk bisa mendapat alternatif bentuk lain untuk menikmati musik mereka.
Ya tinggal, teman-teman MONTECRISTO yang melanjutkan apa yang telah mereka hasilkan, untuk lantas menjadi “peluru-peluru” yang efektif dalam “menembakkan” pasar musik. Mungkin ini bisa diartikan, konsep-konsep promosi yang tepat dan efektif yang diperlukan,untuk bisa memakai bahan-bahan yang telah dihasilkan tersebut, sehingga berdaya guna tinggi.

Dalam album DVD konsernya tersebut, MONTECRISTO menyuguhkan 9 lagu. Materi lagu semuanya dari 2 album yang telah mereka rilis, Celebration of Birth (2010) dan A Deep Sleep (2016).
Antara lain ada lagu pembuka, ‘Celebration of Birth’. Disusul kemudian,’Rendezvouz’, ‘Crash’, ini lagu yang saya sukai juga dan sukses membuat saya menyimak tayangan videonya kemarin itu.
Ada juga lagu, ‘A Blessing or A Curse?’, ‘A Romance of Serendipity’, berlanjut dengan ‘Ballerina’. Lantas ‘Mother Land’ dan, nah ini juga lagu yang tayangan videonya lumayan memukau saya, eh juga mungkin karena sinopsis dari isi liriknya, ‘Ancestral Land’.
Album DVD tersebut kemudian ditutup oleh lagu, A Deep Sleep’, sebuah lagu yang musik mendukung akan liriknya yang “dalam”, seperti menggiring pendengarnya untuk berkontemplasi. Saya sudah pernah menulisnya kok soal lagu dan albumnya ini sebelumnya. Ini lagu yang punya “nyawa” tersediri, enerjinya tuh beda.
Jadi dalam acara kemarin di Kemang itu, mereka menampilkan beberapa materi isi dalam video mereka tersebut, dimana lantas DVD nya dibagi-bagikan kepada yang hadir. Ditambah ada 2 materi lagu, yang diambil dari album DVD mereka sebelumnya, Live at Bentara Budaya Jakarta, yang dirilis  tahun 2012.
Dalam tayangan video album DVD sebelumnya itu, ada 2 lagu dimana MONTECRISTO berkolaborasi dengan Yockie Suryoprayogo. Di salah satunya, juga ada peran Sa Unine string ensemble, yang dipimpin langsung oleh Oni Krisnerwinto, sang “concert-master cum dirigen” kawakan tersebut.
Secara khusus pada acara itu juga dikirimkan oleh doa untuk kesembuhan maestro musik Indonesia itu, Yockie Suryoprayogo, yang pada waktu itu tengah bergumul dengan penyakitnya dan dalam kondisi kritis dirawat di sebuah rumah sakit di kawasan Bintaro.
Secara khusus juga saya pay more attention pada penampilan Yockie pada kedua video itu, dan memang seperti menokohkan sosok Yockie sebagai salah satu tokoh musik yang banyak memberi inspirasi, bagi para musisi Indonesia saat ini. Sambil menonton, saya akui dalam hati saya, well mas Yockie memang one of the greatest, dan susah juga untuk dicari sosok lain yang sama dengannya di waktu-waktu sekarang.
Akhirul kata, tiada lain tiada bukan, saya wajib mengucapkan selamat kepada kesemua MONTECRISTO yaitu RustamKeithEffendy (gitar), Haposan Pangaribuan (bass), Keda Panjaitan (drums), Fadhil Indra (kibor dan vokal latar), Alvin Anggakusuma (gitar dan vokal latar) dan tentu saja, Eric Martoyo (vokalis dan penulis lirik).
Selamat meneruskan perjuangannya, brothers! Musik kalian memang beda, mau dibilang berat yaaaa berat, tidak berat ya sebenarnya tidaklah terlalu berat. Berat atau “ringan” kan lantas jadi relatif, kalau di musik? Progressive rock banget, ya so pastinyalah.
Well seperti catatan saya di atas, sebagai sebentuk “nasehat”. Semuanya pada akhirnya tergantung, konsep, kreatifitas en jangan lupa semangat. Pasar di masa sekarang, terbuka kok untuk MONTECRISTO berbicara lebih banyak, untuk bersuara lebih nyaring. Harusnya sih begitu, sobat. Tabik! /*






Monday, November 6, 2017

Denger Bareng MusikBagusDay, Bersama Dian PP tentang Aku ini Punya Siapa



Dengan pasangan Arya dan Intan Anggita, serta Glenn Fredly.
Well, trims untuk pihak #MusikBagusDay yang sudah “memanggungkan” kami kembali, pada sesi Denger Bareng, sebagai salah satu mata acara pengisi program sebulan sekali, Musik Bagus DayHatur nuhun juga, karena mengundang saya lagi menjadi "si-pewawancara", dalam mata acara Denger Bareng tersebut. Ini kali kedua, saya diundang lho. 
Jadinya, sayapun bertemu lagi dengan kakak saya, coverboy majalah remaja gaul era akhir 70-an, Tebet Bagus! Kakak Dian Pramana Poetra yang memang mengakui, begitulah sejarah hidupnya, bahwasanya ari-arinya sudah ditanamkan di tanah Tebet, selatan Jakarta.
Kemarin itu, sesungguhnya acara pertemuan kembali 2-Di, Dian PP dan Dion M, diadakan rada mendadak. Persis semalam sebelumnya saya dikontak sang pelaksana acara, ibu hamil yang kemarin itu asli tinggal menanti hari melahirkan bayinya, Intan Badut Romantis” Anggita. Boleh ga mas saya minta tolong? Besok bantuin lagi MusikBagusDay.
Oh ok, dengan siapa nanti artisnya atau penyanyinya? Dian PP mas. Setelah pikir-pikir, karena oom Dian PP kayaknya ya mas Dion deh yang cocok menjadi teman bicaranya. Itupun sebetulnya, oom Dian PP diundang sama mendadaknya, karena band yang semula dijadwalkan mendadak ga bisa. Gimana oom eh mas?
Masak harus saya ceritain detil lagi, gimana jawaban saya sih? Kan kalau batal, yang pasti ga ada tulisan ini, dan ga ada foto-foto dalam tulisan ini dong? Yoih, kejadianlah. Ga saling kontak sama sekali antara kami berdua. Ada upaya saya menghubungi, tapi ga sukses! Hehehehe.
Intan dan Arya, sang suami, dua motor penggerak utama atawa bisa disebut korlap Musik Bagus Day melempar usul, bagaimana kalau membedah album Intermezzo Dian PP? Itu adalah album keduanya, dirilis 1984 oleh Jackson Records. Kebetulan ada vinyl tersedia di sana, dan siap diputarkan.
Lalu bergulirlah obrolan kami berdua. Intan juga menonton di depan, beberapa teman juga hadir menjadi penonton lainnya. Termasuk komandan jenderal dari perhelatan yang sudah memasuki kali ke-12 penyelenggaraannya itu, “sirGlenn Fredly. Glenn, sebelumnya memang berjanji akan mengikuti acara kami itu. Malah meminjamkan gitarnya juga.

Obrolanpun diselangi dengan pemutaran beberapa lagu dari ke-10 lagu yang menjadi isi dari album Intermezzo tersebut. Dan lantas saya mencoba memfokuskan saja perbincangan pada, sosok-sosok dibalik kesuksesan seorang Dian PP, sebagai penyanyi, musisi dan penulis lagu.
Jackson Records, dalam hal ini Jackson Arief lah yang menjadi orang penting terdepan. Ia yang meminta Dian PP menyanyikan sendiri lagu-lagunya, saat ia sedang menyodorkan lagu karyanya untuk dinyanyikan penyanyi yang albumnya akan diproduksi Jackson.
Cerita Dian, Jackson Arief itu asyik kerjasamanya. Itulah pola produksi album, yang terbilang ideal di tahun segitu. Dimana ia diberikan kebebasan untuk memilih lagu-lagu yang akan dinyanyikannya. Ia juga diberikan kebebasan memilih siapa aranjer ataupun music director albumnya.
Dian mengungkapkan pulapola promosi yang dilakukan oleh Jackson di waktu itu. Bagaimana pihak Jackson memperkenalkan namanya, atau produk-produk rekaman barunya, ke para fans dari artis-artis lain yang telah lebih dulu diproduksi dan dirilis albumnya. Lebih surat atau pos! Kan belum ada internet, belum ditemukan social media waktu itu.
Ia memilih sahabat baiknya, Bagoes AA. Sama-sama anak Tebet, yang berkiprah di Boures Vocal Group, yang dulu sering sekali mengisi acara musik di TVRI. Eh iya, karena ternyata salah satu personil Boures itu adalah memang bagian program di TVRI. Oala, pantes!
Bagoes memang sebagus selera musiknya, at least nyambung bingitslah dengan selera Dian PP. Nah memang dua album terawal Dian PP, termasuk debut album Indonesian Jazz Vocal itu, musiknya dengan pas digarap Bagoes. Tentu bersama-sama Dian.
Mereka berdua banyak mendengarkan David Foster dan Jay Graydon, dengan grupnya, Airplay. Suasana musik kedua album tersebut, yang memang bertema dasar jazzy itu, sangat berbau Airplay. Dian mengakui, Airplay lah yang menjadi acuan musik kedua albumnya itu.

Lalu berikutnya omongin arranger dan music director album ketiga Dian PP. Yaitu Yockie Suryoprayogo, with all rescpect and love from two of us, kita juga mengajak yang datang mengirimkan doa untuk kesembuhan Yockie. Ya, saat itu Yockie masih terbaring sakit di ruang ICU, di sebuah rumah sakit di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.
Dian langsung mengakui bahwa ia memang semakin sukses, di tangan Yockie, lewat album Kau Seputih Melati. Album tersebut semua musik dan lagu dari Yockie sendiri. Dian tinggal menyanyi saja. Adapun lagu, yang menjadi judul album, ‘Kau Seputih Melati’ kabarnya ditulis Yockie untuk kekasih tercintanya, yang kini menjadi istrinya, Tiwie.
Lalu Dian menceritakan talenta seorang Yockie sebagai seorang music director. Ia dan Jackson, memberikan kebebasan Yockie untuk membuatkan lagu dan musik. Ia memang ditantang untuk bisa menyanyikan dengan sebaik-baiknya, terutama lagu andalan tersebut. Bukan lagu yang gampang sebetulnya, aku Dian.
Tapi Yockie ternyata memahami betul karakter suaranya, sehingga ia diberikan lagu dan musik yang sesuai karakter khas vokalnya. Ia tak lagi berjazzy, tapi lebih ke pop. Waktu itu pop-nya Yockie, catatan saja ya Yockie salah satu sumber inspirasi utamanya lho, dari apa yang lantas disebut Pop Kreatif.
Dian melanjutkan ceitanya, waktu itu sempat disebutnya sebagai pop progresif, tapi oleh media lantas diberi nama pop kreatif. Dan ia senang dan bangga betul bisa bekerjasama dengan seorang Yockie. Satu dari sedikit aranjer, penulis lagu dan musisi Indonesia yang begitu penuh bakat dan kemampuannya, puji Dian.
Ketemu Yockie itu, wawasan dan pengetahuan musiknya bertambah luas jadinya. Dan hasil akhirnya, album tersebut bisa dibilang album rekaman tersuksesnya selama ini. Yockie itu konsep popnya luas dan lebar. Pop yang dibuat Yockie, apalagi dengan kibornya jadi megah dan gagah ya, bro? Itu tanya saya kepada Dian.
Dian setuju. Iya popnya beda. Dan saya sendiri memberi catatan tersendiri itu, menempatkan kreasi dan karya musik seorang Yockie pada peta permusikan Indonesia. Bahwa ia memang rocker, kibordis rock banget. Lewat God Bless nya terutama, jangan lupa Kantata Takwa misalnya.
Tetapi Yockie lewat mengemas musik album LCLR – Dasa Tembang Tercantik Prambors, paling tidak di 2 – 3 album pertama, berlanjut dengan albumnya Chrisye waktu itu. Sungguh menorehkan warna lain bagi musik pop Indonesia. Karya musiknya sangat diperkaya oleh instrumentasi kibornya. Begitu juga yang terjadi di album Dian PP tersebut.

Setelah omongin Yockie, sekaligus mengagumi karya-karyanya, kami juga memperbincangkan seorang sahabat baik Dian lainnya, Deddy Dhukun. Tersebutlah lagu, ‘Aku ini Punya Siapa’ dan ‘Melayang’ yang dibuat untuk almarhumah January Christy.
Cerita di “sesi” ini penuh gelak dan tawa. Dari motor dan mobilnya, lalu nonton bioskop dengan seorang bintang film cantik. Kemampuan Deddy juga dalam menulis lirik, dengan bahasa yang spesial. Saking spesialnya, hanya Deddy dan Tuhan saja yang memahami artinya. Dian mengambil contoh, ‘Satu Birasa’ yang ada di album perdananya.
Deddy menulisnya asli memang Satu Birasa. Dian agak kesulitan untuk bisa menginterpretasikan lagu tersebut, seperti juga sebagian karya Deddy lainnya. Karena kan sulit memahami artinya itu, walau Deddy telah menerangkannya. Masalahnya, ia tetap bingung kenapa Deddy memilih kata kayak “Birasa”?
Tapi Deddy, seperti juga Bagoes AA adalah sahabat baiknya yang memang sekian waktu sejalan dengannya. Sehingga terbentuklah K3S misalnya. Hingga dengan munculnya, 2 D. Terutama dengan lagu ‘Keraguan’ yang menjadi hitsnya itu.


Pada sesi Tanya Jawab, dimana yang hadir menonton dipersilahkan bertanya. Kesempatan pertama langsung direbut oleh Glenn Fredly. Yang menanyakan bagaimana dengan seorang Billy J. Budiarjo. Dengan yakin dan pasti, Dian PP juga mengatakan peran Billy sangat besar juga dalam perjalanan karirnya.
Dalam dunia musik pop Indonesia, terang Dian, nama almarhum Billy Budiairjo ini penting. Ia juga sangat berbakat, terbukti ia pernah menulis score untuk orkestrasi yang dimainkan oleh orkestra dari Philipina, hanya dengan menyenandungkan dan mencorat-coret saja. Ia sukses menulis aransemen dengan cara uniknya itu.
Ia juga pernah membuat sebuah kelompok orkestra di Inggris, harus terkagum-kagum atas aransemennya. Waktu itu, Billy menjadi aranjer untuk album dari kakak Dian PP yaitu Henri Restu Poetra. Selain nama Yockie, adalah Billy yang juga memberikannya wawasan yang lebih luas atas musik, begitu pengakuan Dian.
Ngobrol kami itu seharusnya mulaijam 15.00 dan berakhir jam 16.00-an. Tetapi lantas baru dimulai  mendekati jam 15.30. Dan tak sadar, ngoceh begituan eala....baru selesai jam 17.30! Kami berdua terkejut-kejut, minta maaf pada penyelenggara. Malah dijawab, terima kasih lho sambil senyum lebar. Aduh, syukurlah....
Sampai jumpa di acara berikut. Masih di program MusikBagusDay? Hmmm, terserah penyelenggara dong. Saya standby, tunggu panggilan saja..... /*
Foto bareng dengan Windy Setiadi, Vanessa Surya, Tyas Amalia Yahya, Glenn Fredly dan Prassidha

Prassidha menyodorkan cover album Dian PP, untuk ditandatangani. Prassidha adalah kolektor yang juga penggemar musik jazz-jazzan Indonesia dan luar juga sih, apalagi yang tahun 1980-an.

Glenn Fredly meminta Dian PP menandatangani gitar akustiknya, yang dibawanya sendiri. Kepengennya bisa dimainkan juga oleh Dian PP sebenarnya, sayang Dian PP bilang ...ah sayang, coba senarnya diganti dulu....