Tuesday, April 11, 2017

Kesan Saya tentang Film Night Bus

Lama juga tak menonton film Indonesia. Agak skeptis mungkin terhadap film-film negeri sendiri. Ah, harusnya sih tak begitu. Padahal kan, sejatinya toh saya doyan nonton film. Film itu sarana hiburan, termasuk yang...”primer”.
Mau nonton dengan bayar sendiri kek. Dan pastinya,bersyukur kalau sampai ada yang mengajak menonton. Hati terhibur, duit tak keluar, nikmat mana lagi yang melampaui itu?
Kejadian sama pada minggu silam. Diajak sehari sebelumnya oleh kawan baik betul, Kadri Mohamad. Kita nonton film yiuks di Plaza Senayan. Via wa-groups, lantas ada list nama-nama yang akan menonton. Ternyata bersama kakak-kakak saya yang baik hati, peramah dan dulu gemar bersekolah, yaitu kakak-kakak anggota XI Creative.
Filmnya adalah Night Bus. Sebuah action thriller. Mencekam. Dan, ingat ini film Indonesia! Pengen tahu dan penasaran, karena sekian waktu saya sudah sering melihat trailer film ini. Juga berbagai bentuk promosinya di sosial media. Sang produser sendiri, yang sangat bersemangat mempromosikannya yaitu Darius Sinathrya.
Kabarnya, ini pertama kali Darius Sinathrya menjadi produser. Ia bertindak sebagai produser bersama salah satu pemeran utama film ini, Teuku Rifnu Rikana. Dan oh ya kenapa tetiba bisa ada undangan menonton film ini? Karena sahabat baik, tentu saja anggota XI Creative juga, ternyata menjadi salah satu produser eksekutif film ini.
So, saya mendengar pergerakan film ini sejak tahun lalu. Sempat juga jadi penasaran. Kayak apa sih filmnya? Promosi film ini lumayan gencar di tahun silam, dikarenakan Darius dan teman-temannya menjaring pendanaan lewat crowd-funding.
Kelihatannya crowd funding atau penjaringan dana dari masyarakat yang cukup sukses. Terbukti kan,film akhirnya bisa kelar produksinya. Diedit.. Dan siap dihidangkan ke publik. And then, siap saya tonton kan?
Maaf, saya tak hendak menulis sebuah review. Saya tahu diri, dan harus jujur menyebut bahwa saya bukan kritikus film. Saya hanyalah penonton film. Itu aja sih. Saya tergerak untuk menulis ini, sekadar berbagi cerita saja. Tak kurang, tak lebih.
Kalau kurang, mohon ditambahkan dulu nanti dihitunglah. Kalau lebih, segera kembalikan. Kebiasaan kurang baik, kalau lebih disimpan diam-diam.... Hehehehe. Ada-ada aja. Intermezzolah sedikit ya.
Nah film ini di depannya lamban alurnya, begitu ungkap sahabat saya, yang menjadi salah satu produser eksekutif itu. Nanti berikutnya baru masuk suasana thrillernya, actionnya banyak. Nanti nonton deh.... Oh, baiklah.
Menonton sedari awal kan. Alur cerita bergerak memang relatif lamban. Menggambarkan satu demi satu pemeran film, sebagai apa, dia itu siapa, kenapa dia ada. Dan sebagainya. Yak, digambarkan suasana sebuah terminal, para pemeran yang di close up satu demi satu, dengan dialognya, dengan mulai memperlihatkan karakter masing-masing.
Yup, ini tentang sebuah bis. Bis malam, Babad namanya. Bis malam yang akan menuju kota Sampar, memakan waktu 12 jam perjalanan. Penumpang tak penuh kok. Tapi karakternya macam-macam. Ibu tua dan cucu. Pasangan yang pacaran tapi agak berkonflik, untuk pergi ke Sampar atau tidak. Seorang tunanetra yang pandai bicara. Seorang yang terkesan, mendewa-dewakan “kalau ada uang habislah perkara”.
Ada pula seorang muda, yang anggota sebuah LSM yang hendak mencari teman-temannya yang hilang. Kemudian seorang wartawan muda yang bersemangat. Dengan seorang perempuan muda, yang memiliki traumaikmasa silam yang sangat kelam, ia korban perkosaan beramai-ramai! Masya Allah.

Saya melihat, “host” film ini adalah tokoh Bagudung atau nama lengkapnya, Hartop Sinaga,yang diperankan apik oleh si produser. Yup, Teuku Rifnu Rikana. Serta tokoh Zakaria Zulfikar yang dipanggil Amang oleh Bagudung, diperankan juga sama baiknya oleh Yayu Unru.
Host maksudnya, mereka yang membawa adegan peradegan film ini. Membentuk cerita. Karena semua cerita sesungguhnya memang bermula dari keduanya, maksudnya mereka berdua yang membingkainya. Antara lain dengan sikap, dan obrolan. Oh ya keduanya adalah kernet, yaitu si Bagudung itu. Dan supir bis, yaitu Amang. Yaeyalaaaah, keduanya tuh dapat dialog paling panjang....
Dan kemudian ketika film berlangsung, muncullah tokoh-tokoh lain, ya tentu saja para penumpang bis tersebut. Bis tersebut akan berjalan jauh dalam keremangan malam, menembus areal hutan, pinggir pantai juga, jalan berkelak-kelok. Sepi betul. Hanya bis itu saja yang membelah jalan dengan gagahnya!
Iya,karena ada terjadi konflik. Kaum separatis atawa gerilyawan setempat, yang menuntut kemerdekaan dengan aparat resmi pemerintah. Sampar itu dimana? Sudahlah, kota itu hanya di film ini adanya. Nah Sampar adalah sentral dari konflik bersenjata itu terjadi.
Lantas konflik dibangun saat perjalanan bis. Saya tertarik mengikutiya, karena ini pasti didominasi areal sempit, ya di dalam bis itu saja. Temaram, karena sebagian besar terjadi di malam hari. Karena ketemaraman itu, unsur suspence nya terbangun dengan cukup baik.
Ok, bukan review kan tadi di atas saya bilang. Jangan “sok tahu” ah, sok-sokan melakukan penilaian rinci atas film ini. Sudahlah ah. Saya tak pandai untuk yang begituan.
Tapi kalau Amang dan Bagudung atawa si Hartop seperti dirigen, atau bisa juga music director, kira-kira memang begitulah adanya. Mereka memimpin di depan. Merangkai film ini.
Ya gitu deh. Secara keseluruhan, sorry dorry bro en sis, saya lompat langsung ke “bab terakhir”. Film yang disutradari Emil Heradi ini menarik. Saya suka betul dengan cerita atau skenarionya. Thriller dengan unsur suspences-nya itu banyak yang surprised. Tak dapat diduga sebelumnya,oleh penonton. Paling ga, oleh saya.
Film yang menarik. Ini beneran. Yang pasti banget, saya tak jadi tertidur karenanya. Aduh, itu “kelemahan” saya, suka tertidur 5-10 menit di tengah film, terutama ketika film berjalan lambat. Film ini sukses memancing keingin tahuan saya dan membuat saya rapi terjaga, terus menataplayar bioskop, menikmati cerita demi cerita. Sampai kelar filmnya. Angkat topi untuk hal itu!
Saya sulit berkomentar, ada ga film begini lainnya dibuat sineas Indonesia. Ya saya kan bilang, jarang menonton film Indonesia? Tapi dari pengalaman saya sendiri, saya merasa ini film bagus! Tuh, saking bagus dan respeknya, saya tambahin tanda seru.
Bagaimana tidak bagus, dan menarik, film ini juga dipenuhi bintang-bintang tenar yang mempunyai akting sangat baik. Ada Tio Pakusadewo, Arswendy Nasution sampai Lukman Sardi! Belum lagi ada juga muncul, Alex Abad dan Tino Saroengalo. Jaminan mutu dong? Iya dan tidak. Karena mereka bukan pemeran utama lho!
Yang menjadi pemeran utama, selain Teuku Rifnu Rikana dan Yayu Unru, ada juga Torro Margens, Edward Akbar, Hana Prihantina, Laksmi Notokusumo, PM. Toh, Rahael Ketsia, Arya Saloka serta pemeran cilik, Keinaya Messi Gusti. Ah ya mereka pemeran pendukung utamalah gitu deh.
Saya suka dengan PM.Toh, kalau di musik itu,peran “instrumentasi”nya membuat bungkusan musiknya lebih berarti. Juga pemeran perempuan tua, Laksmi Notokusumo.Eh, the New Christine Hakim is born! Iya lho, mengingatkan kita akan Christine Hakim di...Tjut Nyak Dhien.Bahkan hingga aksentuasi suaranya!
Saya terhibur dengan permainan lighting di dalam bis,ataupun juga adegan di luar bis saat malam. Dramatis. Cuma mungkin pemakaian CGI sebagai tehnologi mutakhir perfilman itu, mungkin baiknya lebih disempurnakan lagi. Adegan helikopter melintas itu, langsung mencekam harusnya di awal film. Helikopter militer dan ada 2 pula. Tapi kurang mulus gitu visualisasinya. Bagus juga kalau ditampilkan 3 helikopter kali ya?
Kamera atau sisi sinematografis film ini, termasuk komposisi gambar yang terkait angle, secara keseluruhan “baik dan menyenangkan”. Maksudnya, pas untuk membentuk film ini sebagai sebuah film yang menegangkan, walau tak terlalu mengumbar aksi-aksi berlebihan.
Akhir film, tak terduga. Itu yang membuat film ini menjadi menarik. Akhirnya bagaimana, ah nontonlah sendiri. Kan itu yang membuat film ini menarik untuk terus diikuti dari awal sampai the end nya.
Sekali lagi, saya suka film ini. Cuma sayangnya, saya bilang ini ke teman baik yang eksekutif produser itu, ini jenisnya bukan film komersial. Model film untuk festival gitu. Apalagi para pemeran juga terbilang “kurang komersial”. Titik ini, kalau buat saya sih tak terlalu masalah.
Resehnya, film kan begitu tuh. Biarpun film bagus kayak apaanpun. Kalau di hari-hari awal diputar, tak mampu meraih banyak penonton, akan langsung lenyap dari layar. Atau langsung “turun kelas” bioskopnya.  Kejamnya dunia perfilman di sini, begitu itu. Ga langsung banyak penonton, langsung “ditenggelamkan”!
Padahal ini film bagus. Harusnya ditonton lebih banyak orang. Atau paling tidak, memberi kesempatan untuk publik lebih banyak yang menontonnya. Ketika tulisan ini saya buat, saya tak terlalu mengikuti lagi, ini film bisa bertahan bagus atau tidak, terutama di layar layar utama?
Demikianlah cerita sedikit saya soal film Night Bus. Alhamdulillah, saya berkesempatan menontonnya. Trims berat untuk udaBro Kadri Mohamad beserta teman-teman XI Creative-nya antara lain ada Radhian, Rezky Ichwan, Rina Novita, Santy dan lainnya, yang sudi mengajak saya dan Tyas Yahya ikut menonton.

Juga tak lupa, terima kasoy untuk sahabat baik saya yang juga kakak saya, Ario Wibisono yang menjadi salah satu produser eksekutif film ini.  Trims pak Ario, juga Ranggani. Perlu nih dilanjutin kayaknya...... /*

*Foto-foto Filmnya diambil dari website Night Bus

Monday, April 10, 2017

Catatan tentang MusikBagusDay


Sore masuk malam, saya sampai di Cilandak Town Square. Langsung pandangan mata disambut oleh deretan booths yang menjajakan CD, kaset dan vinyl album dalam dan luar negeri. Termasuk dijual pula aneka pernak-pernik musik, seperti pemutar cd dan vinyl, sampai merchandise band atau kaos-kaos bertema band dan artis penyanyi. Ada juga booth yang menawarkan aneka topi, dari cap, trucker, snapback sampai laken ala koboi!
Rame memang. Dan di areal atrium lobby Citos itu, terdapat main-stage, yang akan diisi beberapa performers, sebagai acara puncaknya.Ya, ini adalah gelaran ke-5, iya kan kelima ya ya mudah-mudahan ga salah menghitung deh. Dari program bulanan bertajuk, Musik Bagus Day.
Ini kali kedua saya datang dan menonton,sekalian juga nongkrong, di acara ini. Bulan silam, saya diundang menjadi moderator untuk ngocol bareng eh tepatnya, Denger Bareng album Zentuary. Tentunya langsung dengan yang empunya album itu, Dewa Budjana.
Kali ini saya datang, asli hanya untuk...ah ya sebut saja, gaul deh! Gaul, silaturahmi, kongkow bareng teman-teman. Pikiran saya, pastinya saya akan berjumpa dengan teman-teman di sana. Ya pemusik, ya penyanyi, ya teman-teman event organizer sampai wartawan-wartawan musik. Sebelumnya memang sempat janjian dengan kang Hari Pochang.
Kang Hari Pochang, memang datang untuk memberikan klinik tentang harmonika. Lalu ia juga dijadwalkan perform berkolaborasi dengan Ginda Bestari. Saya datang, pas acara klinik sudah selesai.Jadi memang ada beberapa mata acara klinik, workshop, denger bareng dan sejenisnya dari siang sampai sore. Menyebar di resto-resto ataupun cafe yang ada di dalam Citos.
Terus terang saja, saya ga terlalu paham siapa penyelenggara acara ini. Yang saya tahu hanya ada Intan “badutromantis” Anggita sebagai salah satu seksi sibuk acara, bersama sang suami. Karena Intan lah yang menghubungi saya di bulan silam untuk menjadi moderator. Lalu ada bro Aldo Sianturi, saat ini lebih dikenal sebagai orang “digital content”, tentunya musik.
Dan satu yang menjadi motor utama acara ini, bung Glenn Fredly Latuihamalo. Saya sempat bersay hi, hoi, huy dengan mereka. Dengan Aldo, hai bro baru datang? Aldo dengan ramah menghampiri dan menjabat erat tangan saya. Lalu Intan, berbincang sedikit perihal berat badan, dimana menurut saya, di dalam badan yang sehat terdapat jiwa musik bagus yang sehat juga adanya, and the point is, weight doesn’t matter.


Apaan sih? Tapi suasana Musik Bagus Day itu menyehatkan. Baik dengan aneka booths yang terus terang, cukup “menggoda iman”. Eh saya mungkin agak terlalu “kurang gaul”, kalau sampai hari ini ga punya vinyl. Maksudnya ya memang bukan pemburu vinyl, kurang kekinian nih. Karena vinyl mulai lebih naik daun sejak 3-4 tahun terakhir. Saya belum punya tuh.
Secara gini, soal vinyl atawa piringan hitam itu. Di masa kecil dulu, ayah saya adalah pembelanja vinyl. Saya tak pilih kata kolektor, walau rasa-rasanya piringan hitam di rumah itu bertumpuk-tumpuk jumlahnya, ratusan dan cukup memusingkan untuk penempatannya. Paling tidak, itu menurut ibu saya.
Jadi waktu kecil sih, terbiasa dengar rekaman audio dari iringan hitam. Selain kaset dan cartridge sampai reel. Tahun 1960-1970an, Compact-Disc belum ditemukan. Rasanya sang penemu cd dulu itu masih bersekolah deh. Di rumah kami, ayah punya beberapa pemutar piringan hitam, selain satu set audio system yang canggihlah, di jaman itu. Kelasnya sudah kelas perabotannya mobile-discotheque, yang lagi marak di saat itu.
Nah saat piringan hitam sekarang diburu orang lagi, belum lantas booming hebat sih, tapi ya mulai jadi trend. Apesnya, piringan hitam mendiang ayah, sudah asli ludes habis, saat kami pindah rumah! Saya tempo hari itu, ya tak mengira piringan hitam itu akan jadi trend lagi sih,jadi rada membiarkan bertumpuk-tumpuk piringan hitam aneka musik, diangkut...tukang loak!
Intermezzo masa kecil dulu. Nah di MusikBagusDay, saya merasakan memang minat atas vinyl meningkat dan potensial. Karena itulah, booths yang menjajakan vinyl, jelas penuh semangat. Rata-rata ada pembelinya, sepanjang seharian MusikBagusDay. Hukum dagangnya nyata, ada demand ya pasti ada supply....
Menarik ada semacam movement yang dipelopori acara MusikBagusDay begini. Salah satu landasan misi utama, bagaimana kita bisa mengenal lebih jauh musik Indonesia. Musik-musik bagusnya. Dari jaman ke jaman. Ada “wadah” untuk bisa mengenal, mengetahui, mendekatkan diri, berakrab-akrab lantas ya mencintai.
Wadahnya kumplit-plit rasanya. Ya sisi edukasinya ada, sejarahnya juga dibeberkan lumayan lengkap, pengetahuan juga bisa didapat. Publik, pemerhati musik sampai para pelaku bertemu, berkumpul, bersatu. Demi kejayaan Musik Indonesia tercinta. Merdeka!!! Ah, heroik betul!
Iya saya melihatnya positif, dimana ada upaya mengangkat musik Indonesia kita. Menjadi sebuah “alat” positif dalam menggalang pemberdayaan kaum muda, generasi penerus, dalam wilayah industri kreatif yang berdaya guna. Positif dong, merangsang kreatifitas, sekaligus mencolek rasa kepedulian, apresiasi sampai....eh urusan juga mencintai tanah air nih.
Glenn Fredly, di saat jam mendekati  22.00an WIB, di sebuah tempat ngopi di dalam Citos, bercengkrama dengan Titik Hamzah, si “Dara Puspita” itu. Ada juga penyanyi cantik 1980-an, Cici Sumiati. Bergabung juga Kadri Mohamad, lawyer cum singer penuh vitalitas dan enerji itu. Termasuk ada saya dan orang terdekat saya, Tyas Yahya, yang pemerhati musik 1980-an juga.


Glenn menjelaskan visi dan misi atas MusikBagusDay nya ini. Jadi tak sekadar bercengkrama, bersenda gurau, tertawa-awa. Lalu bertanya banyak hal, prospek negara, masyarakat lalu bangsa ini kepada Titik Hamzah saja. Sampai tanyain, kapan bagusnya kami menikah... Hahahaha. Kok Titik Hamzah? Nanti, lain waktu saya ceritain tentang seorang Titik Hamzah deh.
Intinya adalah, dalam kebaikan ada kebenaran. Di dalam kebenaran itu ada...Ahok! Begitu ucap Titik Hamzah. Dan tante atau mbak Titik, yang bilang umurnya sudah berkepala 8 itu memuji maksud dan tujuan Glenn atas MusikBagusDay movement-nya ini. Langkah proaktif yang konkrit tentunya.
Aaaaah nyang neberrr, kepala 8??? Kudu dipanggil eyang atawa oma dong? Tapi yang jelas, mbak Titik sepanjang cakap-cakap kemarin, senantiasa memberikan penilaian terhadappara penyanyi kita. Penyanyi yang bener, kurang penjiwaan, ia tidaklah menyanyi, oh dia hanya sekedar menyanyi lewat mulut tanpa hatinya ikut menyanyi. Seperti itulah penilaiannya. Nama-nama yang disebut tante eh mbak Titik, saya pilih untuk saya simpan sajalah ya....
Kembali ke soal pergerakan musik. Sempat ada riak-riak pendahulu, misal apa yang dilakukan Irama Nusantara. Saya juga sempat mengenal, belakangan jadi lebih dekat dengan komunitas Diskoria. Mereka bergerak nyata, mengangkat musik-musk Indonesia dari era 1950 kemudian. Bahkan dari era-era yang sebelumnya.
Kalau Irama Nusantara lebih umum, merangkum katalog semua musikIndonesia jaman-jaman dulu, bahkan hingga sebelum jaman sebelum kemerdekaan. Diskoria lebih mengkhususkan diri pada musik-musik Indonesia era 1970-1980an yang mereka angkat, “memberikan aksentuasi dansa”, di bawa ke atas lantai dansa para followers mereka! 
Gerakan-gerakan untuk peduli dengan musik Indonesia, tentu saja bagus. Bagus bukan semata pada konteks, ada musik bagus dan tidak bagus. Glenn juga menyatakan, bagus itu relatif. Tapi buat saya, bagus ini dalam arti ada sebuah pergerakan musik sejak masa lalu, yang menjadi dasar atas musik sekarang.


Musik-musik sekarang, yang memanjakan telinga dan hati para penikmat musik muda, sebagai pasar terbesar musik, ada tuh “awal mula”nya. Dulu itu, ada ini dan itu, ada si anu, dengan musiknya yang begini nih. Bahwa kakek-nenek atawa ayah ibumu, menyukai yang begini dan begini serta yang begitu dulu, saat mereka masih seusia sekitar kalian.... Kira-kira begitu deh.
Dan ah memang menjadi pilu tiada terkira, ketika mengetahui musik-musik lama Indonesia kini dicari-cari lagi. Tapi itu memang telah menjadi semacam artefak kebudayaan yang penting. Kalau inget kan ya, bertumpuk-tumpuk vinyl di rumah saya yang dulu, yang saya tahu banyak rekaman musik Indonesia era 1950-1960an hingga 1970an dulu. Saya menyia-nyiakannya....
Rekaman-rekaman audio itu adalah sebagai koleksi penting, bukti konkrit. Seperti apa musik kita di era-era sebelumnya. Jelas dan nyata dong. Yang harus disyukuri, sekian lama bangsa kita rada lalai dan terkesan kurang begitu peduli, pada pendokumentasian sejarah. Sejarah apapun, termasuk musik.
Kalau lantas dimulai pada beberapa tahun belakangan, well...better late than never.  Music...never goes out of style, meminjam jargon sebuah produk denim yang eksis dari era 1970-an sampai sekarang. Upaya yang harus didukung tentunya.
Dampak terusan, lantas vinyl menjadi trend, itu hanya salah satu buah dari pergerakan itu. Sisi positifnya jelas, publik bahkan bisa menikmatinya sambil leyeh-leyeh di rumah, boleh ngopi, minum wine atau have some beers. Minum bandrek atau secang juga ga dilarang.
Artinya, “sejarah” itu bisa dinikmati leluasa. Di bawa pulang. Yang artinya, tak bakal dilupakan. Ada sejumput penghargaan di situ. Memberi atensi dan apresiasi. Ikutan berikut mungkin baiknya disusul pada literasi. Ketersediaan rangkuman sejarah, dalam hal ini musik. Sisi itu, juga belum tersentuh dengan maksimal.
Kalau buat saya, saya tertarik dan respek dengan sebuah buku sejarah musik (jazz) Indonesia karya mendiang, sahabat saya, Deded Er Moerad. Yang pernah saya ingin betul melengkapinya. Atau, meneruskannya. Karena saya pikir, begitu banyak teman-teman yang berperan serta dalam menjalankan, atau membunyikan, jazz di Indonesia selama ini.
Misal dari era 1960-1970an, sebagai era dimana jazz mulai berbunyi di tanah air. Ada gerakan lain, yang terasa semangatnya lebih menggelora di era-era berikutnya. 1980-1990an lah kira-kira. Dimana saya kebetulan sempat mengkutinya lebih dalam, masuk dalam dunia itu, memotretnya dan mengingatnya. Ya saya bertolak dari itu, membangkitkan minat dan niat.
Yang sayang, kagak kelar-kelar juga sampai....ya sampai tulisan ini saya buat! Hahahaha. Tapi itu baru sebatas jazz. Musik lain juga kiranya perlu memperoleh atensi dan apresiasi yang sama. Music speaks luoder than words kan.... Tapi perkara hari ini, words itu adalah lebih menjelaskan dan punya ruang memberi kelipatan berlebih pada atensi dan apresiasi. Dari generasi masa kini, terhadap generasi pendahulunya.


Setelah mengetahui ada nama penyanyi si A di jaman 70-an, mendengarkan suara dalam rekamannya. Kemudian membaca, untuk lebih mengetahui detil perjalanan hidupnya dalam tulisan. Syukur-syukur ada rekaman gambar atau videonya, melengkapi foto-foto. Tentu akan lebih lengkap lagi, lebih sempurna dalam memberi apresiasi dan respek.
Ternyata dulu ada grup D lho. Oh mereka itu musiknya begitu, sejarahnya cukup panjang juga. Penampilan mereka unik juga ya.  Lantas, merekapun mencintai, menyukai gegara adanya “kelengkapan” data yang telah diterima.
Dalam hal penulisan, sayangnya tak begitu banyak yang berminat untuk menuliskan sejarah. Mengumpulkan informasi, cerita-cerita sampai foto-foto. Kemudian dibagi ke khalayak. Pun seorang wartawan musik.
Walau bisa saja, sadar atau tidak, seorang wartawan lewat tulisan-tulisannya yang dimuat di medianya, ikut menghadirkan sejarah. Menjadi bahan dokumentasi. Apalagi bila di-filing dengan baik. Dapat diakses, dan menjadi artefak pula, saat 10 atau 20 tahun lagi.....
MusikBagusDay menjadi sebuah wadah persemaian bibi-bibit cinta kesejarahan, dalam hal ini musik. Sekaligus merangsang untuk bertumbuh-kembangnya dengan baik,para generasi penerus. Jaman sekarang, dengan kemajuan tehnolgi informasi, bertebarannya arena media sosial, apa lagi yang menjadi kendala?
Selalu saja menarik, untuk ikut melihat dan memahami pergerakan-pergerakan positif. Terutama terkait dengan sejarah, tapi sekaligus bagaimana memberi fondasi yang baik dan benar, untuk waktu kemudian.
Glenn melangkah dengan wadah yang sepertinya berpihak pada kaum indie. Atawa independent, yang ada di luar jalur mainstream musik industri. Itu baik banget, karena jalur industri toh telah menguasai pasar selama ini.
Pergerakan indie pada perjalanannya, sejak sekitar jelang selesainya dekade pertama 2000-an, seperti menemukan celah untuk dapat berkembang dengan “lebih sehat”. Beberapa produk rekaman, diikuti show-shownya kemudian, mampu mencapai angka penjualan yang bahkan melampaui pencapaian produk rekaman major-label.
Hal begitu membuat, kalau hari ini  sih tak ada lagi kayaknya batasan indie-label dan major label. Semua jalur, punya kesempatan sama. Punya “hak hidup” yang sama. Tinggal semangatnya, tinggal kreatifitasnya untuk bagaimana lebih eksis dengan benar.
Yoih eksis bukan sekedar bisa bikin album saja,lantas dijual ke publik. Karena ada ongkos yang tak sedikit kan? Kalau sekedar menyelesaikan album lantas menjualnya. Iya kalau laku. Kalau ternyata ga laku, gimana coy? Masihkah bersemangat terus, untuk melanjutkan karir musiknya?
Nah wadah model MusicBagusDay, sebelumnya juga ada acara seperti RecordStoreDay, menjadi etalase-etalase yang bisa dimanfaatkan maksimal. Baik buat jualan produk rekaman, bahkan sampai merchandise. Ataupun arena unjuk kemampuan, menampilkan karya-karyanya.
MusikBagusDay itu ada panggung. Yang memang menampilkan para musisi muda, dengan segala kreatifitas bermusiknya. Menurut Glenn,penampilan di panggung tentu lewat kurasi terlebih dahulu. Tapi tetap tujuannya, memberi ruang gerak lebih leluasa lagi untuk semua musik menunjukkan diri.

Pada perjalanan kemudian, kita mungkin boleh banyak berharap. Dunia musik lebih mendapatkan perhatian dari pemerintah, bukan semata-mata pada hal pendanaan. Tapi lebih pada memberi penghargaan dan apresiasi yang lebih baik. Salah satunya, bagaimana meminimalisir gangguan pembajakan misalnya.
Selain itu,bagaimana musik sebagai bagian dari industri kreatif, akan menjadi jalan untuk kaum muda berkarya maksimal secara positif. Musik itu juga sangat berpotensi mempersatukan masyarakat.
Well, pada akhirnya kita tunggu dan lihat perkembangan musik Indonesia di tahun-tahun mendatang. Sembari kita menantikan, ada apa lagi di MusikBagusDay di edisi-edisi berikutnya? Lanjut dan teruskan segala hal baik dan positif, yang memberi tambahan semangat dan ikut mencerdaskan.
Salam Musik Bagus!/*




///Dalam tulisan ini, sebagai pelengkap adalah karya-karya jepretan saya yang “terbatas”,  di acara MusikBagusDay edisi April, yang digelar pada Kamis  April lalu






I am Proud to be Part of Solid 80! Kata Tony Wenas


Ga berasa, umurnya sudah 37 tahun saja. Kelompok yang konon kabarnya sempat bernama Solidarnosc, lantas jadi Solidaritas 80 FH-UI. Tapi perjalanan lumayan panjang mereka itu, memang up and down.
Alhasil hingga sejauh ini, grup yang sekarang bernama Solid 80 ini, terasa memang tidak menjulang tinggi nama atawa popularitasnya. Tapi juga tidak jatuh juga sih. Yang sedang-sedang saja, mengambil dari sebuah judul lagu. Itu lagunya Solid 80? Hush!
Akhir 1984, mereka sempat merilis album bertajuk Equivalent. Ini album rock, tepatnya pop rock lah, dan hanya ada sedikit suasana Queen-nya Freddy Mercury nan beken itu. Queen memang dijadikan “landasan dasar dan haluan musik” Solid 80, yang menjadi kesepatan bersama saat grup tersebut dilahirkan.
Mereka mencoba menonjolkan perpaduan harmonisasi koor pada musik mereka. Sehingga grup ini lantas jadi berbeda aja, rombongannya banyak cuy. Iya, soalnya ada sederet vokalis, yang berupaya mengedepankan harmonisasi “persis” Queen. Karena lagu-lagu yang mereka bawain, memang lagu-lagu Queen.
Seperti kita tahu bersama, Queen populer dengan lagu-lagu dengan koor apiknya macam,’Bohemian Rhapsody’ yang amat sangat populer itu. ‘We Are The Champion’ juga, lainnya apa ya, ‘Killer Queen’ deh.. Ataupun ballad, kayak ‘Love of My Life’. Lagu anthem mereka, ‘Bicycle Race’ atau sampai ‘We Will Rock You’.

Nah sedikit merunut ke belakang. Di era 1980-an memang kan marak betul dunia musik panggung rock Indonesia, dengan jenis band-band cover version atau impersonator. Ya seperti itulah, yang membuat Solid 80 itu kudu “bersaing” seru dengan Acid Speed Band yang mengambil dengan sadar jalan jadi “epigon”nya The Rolling Stones. Bharata Band dengan The Beatles.  Atau Cockpit dengan Genesis-nya.
Nah sedikit mengenai Queen, yang populer di sini terutama sejak album ketiganya, Sheer Heart Attack, dirilis Agustus 1974. Dari album itu, dikenal publik di sini lagu seperti, ‘Brighton Rock’, ‘Killer Queen’. Hingga lagu, ‘Stone Cold Crazy’ dan ‘Bring Back that Leroy Brown’.
Queen kian populer ketika album A Night at the Opera dirilis pada November 1975. Popularitas Queen, dengan harmonisasi koor lewat album tersebut, seingat saya agak “delayed”. Mungkin baru 2-3 tahun setelah dirilis, album ini merampas perhatian publik pencinta musik di sini.
Dari album yang meraih penghargaan platinum pertama kalinya di USA itu, muncullah ‘Bohemian Rhapsody’ dan ‘Love of My Life’ itu. Selain ada juga, ‘39’ dan ‘You’re My Best Friend’.
Udah ah,soal Queen disenggolnya sedikit aja ya. Kan tulisan ini dibuat bukan untuk saya buka soal perjalanan grup asal London, yang berdiri tahun 1970 itu. Mereka sih tetap menghasilkan produk album rekaman hingga tahun 1995, saat Made in Heaven dirilis. Itu tercatat sebagai album ke 15 dari kelompok yang kehilangan Freddy Mercury, yang meninggal dunia pada 24 November 1991.


Kalau Queen berisikan hanya 4 personil, yaitu Mercury ditemani Roger Taylor (drums), Brian May (gitar) dan John Deacon (bass). Lain halnya dengan Solid 80, formasinya memang “rombongan”. Rombongan anak bandlah, bukannya rombongan sirkus dong! Emang mereka ada yang pinter trapeze atau jalan di atas tali? Kan ga....
Lengkapnya formasi Solid 80 itu adalah, ini sebagai formasi ketika mereka menjadi “lebih serius” ngeband, yaitu Tony Wenas (kibor dan vokal), Hendrasly “Aa” Ahmad Sulaiman (bass), Setiawan Adi (gitar), Glen Tumbelaka (drums). Dan dengan sederet vokalis itu yaitu Kurnia “Emiel” Wamilda Putra, Boyke Sidharta, Edi “Achink” Nugroho.
Iya emang mereka saat itu masih menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Jadi kuliah sambil ngeband, atau ngeband dengan “kesibukan sampingan” kuliah  Ahahaha.... Saat awal mereka memang suka bawa nama FH-UI juga, pun ketika main di luar kampus mereka.
Menurut Tony, mereka kan awalnya kumpul iseng. Karena melihat dan mengetahui mereka suka musik, bisa main alat musik dan menyanyi, jadilah mereka membentuk band. Kata Tony, kita kan ya bukan musisi yang skilful atau ga jago-jago amat.
Adalah masa perploncoan, yang mempertemukan mereka, dan kemudian memang disarankan para seniorennya saat itu. Lantaran sebelumnya, Fakultas Hukum memang dikenal selalu ada band fakultas.
Saat itu pas ada acara Festival band antar fakultas di Universitas Indonesia. Maka mereka dari fakultas hukum pun mempersiapkan diri untuk ikut festival yang bersifat kompetisi itu. Tony lah yang mengumpulkan para musisinya, lantas mengkoordinir untuk bisa latihan.
Ternyata grup fakultas hukum akhirnya terpilih sebagai juara kedua,selain menjadi band terfavorit. Festival band itu sendiri, saat itu diselenggarakan oleh senat mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Dan kemenangan itu memang menjadi pemicu untuk mereka kemudian band yang “lebih serius”.
Tapi gegara satu kali Tony, sebagai motor utama grup, dipanggil oleh Wakil Dekan FH UI, meminta untuk grupnya itu Solidaritas 80 tak lagi membawa nama FH UI. Maka Tony dan konco-konconya itu memutuskan memakai nama Solid 80 saja, lebih singkat dan padat. Sejak saat itu, mereka independen sebagai grup musik, lepas sama sekali dengan keterkaitan atas kampus mereka.


Tony Wenas di saat pemunculan awal Solid 80, lantas juga sibuk ngeband di grup-grup lain. Antara lain masuk formasi Symphony dengan Fariz RM, Herman Gelly, Ekki Soekarno dan Jimmy Paais. Ia mendukung album kedua, Metal. Selain itu juga memperkuat Nuclear Band.
Belum lagi, ia juga diajak manggung, sebagai bintang tamu, untuk beberapa acara musik. Tak sebatas hanya di Jakarta lho. So, begitu deh ga heranlah kalau lantas Solid 80 juga jalannya jadi ga laju-laju amatlah.
Album mereka di atas itu, lantas hanya menjadi satu-satunya album yang berhasil mereka hasilkan. Padahal menariknya, dalam album itu mereka asli mengedepankan lagu-lagu karya sendiri. Ga menyusupkan lagunya Queen misalnya.
Di saat berdekatan itu, kelompok musik lain yang bersaing dengan Solid 80, juga memasuki studio rekaman dan menghasilkan album. Seperti Acid Speed dan Bharata Band. Yang tidak masuk studiorekaman itu hanya Cockpit, dimana yang membuat album rekaman hanyalah vokalis mereka, Freddy Tamaela..
Kayaknya, para personil dari Solid 80 juga satu demi satu makin sibuk dengan pekerjaan dan bisnisnya masing-masing. Pada satu waktu, memang Solid 80 terkesan “tidur cukup panjang”. Itu bisa dirasakan, pada jelang masuk era 2000-an.
Mungkin didahului sebelumnya dengan, badan terasa lelah, pegal pegal, bikin ngantuk. Ada kesempatan nyender dikitlah, dikarenakan ada tiupan angin sepoi-sepoi basah melenakan, maka merekapun...tertidur. Kecapekan bermusik? Sebenarnya sih ya kayaknya, sibuk dengan pekerjaan dan bisnis masing-masing itu....



Tapi di awal 2000-an, tetiba Solid 80 muncul lagi. Sayang Achink harus bertugas di London, so he stay for good there. Achink hilang, begitupun dengan Setiawan Adi, sibuk dengan lawfirm-nya. Kabarnya juga memiliki tambang emas.
Achink sudah bermukim di London sejak sekitar lebih dari 20 tahun lalu. Ia bekerja di kedutaan besar Republik Indonesia di sana. Sementara Setiawan Adi, memang sudah tak lagi punya banyak waktu untuk melanjutkan karirnya sebagai gitarisnya Solid 80.
Tony Wenas, yang waktu itu juga makin sibuk berkantor, tetap kepengen Solid 80 bisa main lagi. Maka Tony di awal 2000 itu mengajak adik kelasnya di FH UI, Kadri Mohamad supaya membantu sisi vokal.
Kadri dan Tony memang bersahabat baik, sebagai sesama lawyer. Kan Kadri memang juga penyanyi, ia juga suka banget Queen. So ga salahlah, kalau Tony mengajak Kadri kan? Klop dong. Kadri kemudian masuk, dengan belakangan ia juga mengajak gitaris Noldy Benyamin Pamungkas
Pada acara di Marbella Hotel, di pantai Anyer, Noldy mulai memperkuat rhythm section Solid 80. Di acara tersebut juga, selain Noldy yang main pertama kali dengan Solid 80, juga masuk Jodie Wenas. Jodie diajak langsung oleh sang kakak, Tony.
Jodie memang juga penyanyi, ia punya band sendiri. Nama bandnya B4U, dengan 2 personilnya berkebangsaan Austria. Sempat rilis album juga, tapi lantas harus berhenti karena kedua personil bule itu harus balik ke negerinya, karena urusan visa.


Tony mengajak Jodie, antara lain memang untuk mengisi kekosongan setelah cabutnya Achink ke negerinya Ratu Elizabeth itu. Menurut Jodie, Tony sebelumnya berdiskusi dan meminta persetujuan dulu ke Achink, untuk mengajak Jodie.
Sesekali, pada beberapa kesempatan, Tony juga mengajak kibordis sebagai additional player. Untuk mendukung sektor kibor, karena biar bagaimanapun Tony juga penyanyi. Uniknya tuh ya, Tony punya warna vokal khas dan memang sangat berarti perannya di sektor choir Solid 80.
Dan ini nih catatan penting lain, dalam Solid 80 Tony tak lantas “berperan” sebagai Freddy Mercury! Ambituous vokal Tony beda dengan almarhum Freddy. Freddy itu terkesan lebih bulat dan penuh, sementara Tony relatif lebih tipis dan melengking tinggi. So, peran suara Freddy di Solid 80 lantas ya “ditutup”lah rame-rame gitu.
Hingga hari ini, Solid 80 tetap eksis. Tak terlalu aktif, tetapi tetap ada dan siap tampil sebetulnya. Walaupun sibuk gimanapun si motor utama or kumendan Solid 80 ini, yaitu meneer Tony Wenas. Ya gimana ga sibuk, kalau Tony lantas berkarir di beberapa perusahaan besar kayak PT. Inko yang menangani pertambangan Nikel.
Kemudian pindah ke Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP). Sebelum menangani RAPP, ia sempat mampir di Freeport. Dan belum lama ini, ia pun digaet lagi untuk kembali ke Freeport, menjadi salah satu petinggi dan bisa dibilang, sangat penting, di sana.

Solid 80 ini menarik. Tetap menarik, bukan karena soal Queen nya saja sih. Tapi justru karena sosok Tony Wenas.  Posisi tinggi dan pentingnya di perusahaan-perusahaan besar itu, tak menyurutkan semangatnya untuk terus bermusik. Bermusiknya, profesional lho.
Kata Tony, bermusik itu adalah profesinya, sedangkan menjadi CEO adalah hobinya. Ia tetap bermain musik, dengan Solid 80 terutama. Juga menyanyi untuk gereja. Kalau untuk gereja, ia memilih tidak mengharapkan bayaran, karena menyanyi untuk kemuliaan nama Tuhan itu, bayarannya nanti di surga.
Tetapi bila bermain band berdasarkan order manggung, Tony beranggapan dia tetap harus dibayar secara profesional. Sesuatu yang wajar dan lumrah tentu saja. Itu dikarenakan ia menginginkan profesi musisi haruslah dihargai.
Bisa jadi, ia adalah satu-satunya petinggi perusahaan besar, kelas CEO, yang tetap berkarir profesional di musik. Saya salut untuk itu, terutama juga salut untuk bakat istimewanya.
Tony memang unik betul. Ada beberapa kali kesempatan yang saya ada, saya melihat dan menikmati ia bisa dengan gitar atau piano, menyanyikan dengan lancar lagu-lagu. Lagu dari musik apapun, 1960, 1970, 1980-an. Bukan hanya Queen! Repertoar musik yang lumayan dikuasainya itu lebar dan luas.
Ok then, kembali ke laptop! Eh ke soal Solid 80-nya itu, menurut Tony, this is true friendship. Setelah 37 tahun kami tetap kompak dan eksis. Pertemanan kita bukan hanya dalam bermusik saja, namun juga di kegiatan sehari-hari, sampai kegiatan keluarga. Kita satu sama lain saling mengenal watak dan karakter masing-masing dengan sangat baik.
Ya kita itu kan beda suku, dengan agama juga berbeda, kata Tony lagi. Tetapi kita tetap ada saling menghormati dan saling memahami satu sama lain. Hal itu, kita sepakati untuk dijaga terus.
Sebagai band, lanjut Tony, Solid 80 juga tentu saja pernah mengalami pertikaian-pertikaian kecil antar anggota. Ada kok berantem kecilnya. Tapi akhirnya bisa berdamai lagi, karena memang sudah menjadi kayak keluarga saja.
Pada awalnya, Tony dan teman-teman di Solid 80 tak pernah membayangkan grup musiknya ini akan terus bertahan. Eksis terus sampai melewati umur yang lumayan panjang itu. Tapi toh memang kenyataannya, Solid 80 tetap ada sampai hari ini. Tony lantas mengatakan, I am very proud to be part of Solid 80!
Kemarin, pada malam minggu pertama di April 2017, Tony mengadakan pesta perayaan Hari Ulang Tahunnya yang ke 55 tahun. Tempatnya di Airman di areal Hotel Sultan, Jakarta. Acara itu tak hanya perayaan hari jadi, tapi juga sekaligus launching buku tentangnya.
Buku itu berjudul, Tony Wenas Chief Entertainment Officer – Work and Fun are Soulmates. Ditulis oleh seorang wartawan senior, yang adalah redaktur harian umum Kompas, Robert Adhi Kusumaputra. Dan buku itu dicetak oleh PT. Gramedia, dan diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama. 

Secara lengkap buku itu memang menjelaskan akan siapa dan bagaimana seorang Tony Wenas, yang kini menjadi salah satu tokoh CEO penting di Indonesia, tetap saja juga menyediakan waktunya untuk bermusik.
Tentu saja terselip sejarah berdirinya Solid 80 di kawasan kampus Universitas Indonesia, di awal 1980-an itu. Beberapa info mengenai awal perjalanan Solid 80 di dalam tulisan ini, saya ambil dari isi buku itu
Dari buku itu juga, saya baru mengetahui bahwasanya Tony yang bernama lengkap Clayton Allen Wenas, yang dilahirkan di Rumah Sakit Cikini, pada 8 April 1962 itu ternyata sudah dianggap anak ajaib saat masih balita. Ia pernah dengan berani menyanyikan sebuah lagu populer di tahun 1960-an,’Ten Guitars’ dengan baik. Waktu itu ia baru berumur 4 tahun!
Jelas yang menonton terkagum-kagum, karena lagu itu lumayan populer di jaman itu. Lagu tersebut ditulis Gordon Mills dan dipopulerkan oleh penyanyi flamboyan, Engelbert Humperdinck. Lagu itu diketahui Tony kecil karena seringkali diputarkan orang tuanya di rumah.
Di masa kecilnya, saat sekolah, Tony juga adalah murid dengan hasil test IQ di atas rata-rata. Putra keempat dari 5 bersaudara, dari pasangan Alexander Werwer Wenas dan Agnes Marthine Sumual  itu, IQ nya mencapai angka 160!


Ya itulah sedikit cerita mengenai Tony Wenas, suami dari Shita Manik dan ayah dari Diego Clasio Fernando Wenas. Tony-lah pendiri, sekaligus vokalis utama dan juga motor dari Solid 80 tersebut. Maka dalam kesempatan pesta pada malam itu, Tony pun tampil tentu dengan Solid 80. Selain itu juga tampil kelompok Colors Band. Ada Lilo “KLa” Romulo yang didaulat sebagai host acara tersebut, yang ikut juga bernyanyi bersama Solid 80 dan dengan Colors Band.
Well, sebagai penutup tulisan ini, saya ucapkan lagi selamat hari jadi pa broer Tony. En sukses terus untuk semua bidang yang ditekuninya, juga sukses dan bahagia dengan keluarga. Sehat selalu, bermusiklah terus dan God Bless You, bro!
Sitou Timou Tumou Tou... Pakatuan wo Pakalawiren... /*