God Bless, New Year's Eve, 2017 to 2018



Happy New Year
幸せな新
Gelukkig Nieuwjaar
Maligayang Bagong Taon
Bonne Année
Frohes neues Jahr
Feliç any nou
新年快

SELAMAT TAHUN BARU



Kemana Anda kemarin ini, menghabiskan jam-jam terakhir tahun yang lama 2017, dan menyongsong datangnya tahun yang baru, 2018? Pasti party-party... Atau kumpul-kumpul...mungkin ada yang juga memilih di rumah saja. Kalau saya, kebetulan berkesempatan merayakan datangnya tahun yang baru, bersama teman-teman baik. Tepatnya, saya dan istri.

Ada beberapa acara New Year’s Eve yang menarik sebetulnya, tinggal pilih. Ada yang rada jauhan, relatif dekat, daerahnya mungkin macet, ada yang di kawasan kayaknya rada lengang. Setelah pikir-pikir, pada beberapa hari sebelumnya, saya dan istri sepakat memilih ke Albero Live Music Island, di Tebet Raya.

Pilihan itu karena, ah kayaknya seru juga ber-tahun baru-an kalau nge-rock. Karena ada God Bless! Selain itu ada El Pamas. Dibuka dengan 9 Lives. Well, it will be the most rockin’ party for new year celebration in Jakarta.... Sekali-sekalilah, ngerock di malam pergantian tahun kan?

Kapan lagi? Iya, sejatinya, inget-inget sih, belum pernah ngerasain tahun baruan dengan God Bless! Rock Band Indonesia yang akan memasuki usia 45 tahun di 2018 ini, dan selalu menjadi grup musik cadas Indonesia nomer wahid.

Dan pada rada sore di hari terakhir tahun 2017 itu, pas 31 Desember, kami berdua lalu menuju kawasan Tebet Raya, dimana venue untuk menikmati God Bless itu berada.  Kami memilih kendaraan paling praktis, kereta api commuter-line! Saya sih yang memilihnya, kayaknya bakal menyenangkan, santai, cukup adem, tenang, tentram nanti perjalanan kesananya, walau harus ada acara ganti kereta segala.

Ok then, ga perlulah ya saya rinci betapa asoy-nya perjalanan kami dengan commuter-line waktu itu. Apalagi yang lebih seru dari, saya telat turun, lantaran saking penuhnya penumpang, sehingga harus terpisah dari istri! Terpaksalah turun di stasiun berikut, dan balik ke stasiun Tebet, sorangan! Ah sudahlah... Pokoknya ya gitu deh.

Sampai di tekape, yaitu Albero di lantai 2 tempat loungenya itu, langsung berjumpa dengan teman-teman baik. Belum terlalu padat, masih relatif lengang. Kami berdua menjumpai pasangan Bangkit Sanjaya dan Effie, yang lantas mengajak kami bergabung di meja mereka. Sampai terakhir, kami akhirnya memang duduk manis di situ.

Itung-itung ini juga momen menghabiskan tahun yang lama, yang pertama kali bersama pasangan itu. Termasuk juga yang pertama, bercengkrama dengan teman yang lain-lain, yang bergabung di meja yang sama. Ada juga Denny Ireng, kibordis Grassrock, juga teman lumayan lama. Belakangan datang ada Rere, drummer Grassrock dan istrinya.

Eh betewe, gimana sih perjalanan teman-teman menuju tempat Tahun Baru-an pilihannya? Seru juga ga? Macet ga? Pasti kelaperan kan, lalu makan bakso juga ga seperti saya dan istri saya? Hahahaha....



Saya menemui dulu yang “punya hajat”, paling tidak karena informasi merekalah maka saya akhirnya tergoda untuk datang. Yaitu para wartawan senior, senior banget macam Yon Moeis, Ferry Kodrat, termasuk fotografer yang terlincah dan paling uelt se Nusantara, Dolok Joko. Saya mencari juga “komandan lapangan”,Toro Cocomeo, lho katanya pulang dulu nanti akan balik lagi...

Lanjut ah ke acaranya ya. Dipilih sebagai pembawa acara adalah, wartawan senior lainnya, Amazon Dalimunthe. Berpakaian oho, dress-up well. Walau sepintas mengingatkan saya dengan RUN DMC. Tapi ya, Amazon tentu saja bukan rapper!

Jelang jam 21.00 acara dimulai. Amazon memanggil grup band pembuka, 9 Lives. Dipimpin vokalis enerjiknya, Rendy Saputra. Grup muda ini menyodorkan lagu-lagu dari Aerosmith. Kata Doddy Katamsi itu Rendy vokalis, suara sama bibirnya astaga udah kayak Steven Tyler!

Every time when I look in the mirror, All these lines on my face getting clearer, The past is gone. It went by, like dusk to dawn, Isn't that the way, Everybody's got the dues in life to pay...begitulah Rendy Tyler menyenandungkan,Dream On’ nya Aerosmith. Penonton santai saja, tapi suasana memang mulai menghangat.




Rendy dan 9 Lives memang lumayan bagus sebagai pembuka, kayak mengajak penonton pemanasan yang pas, sebelum masuk hidangan utama nantinya. Apalagi waktu Rendy mendendangkan...,Don’t wanna close my eyes, I don’t wanna fall asleep, Cause I miss you baby..And I don’t wanna miss a thing... Ada koor bareng-barenglah terjadi, so pasti.

Setelah 9 Lives turun panggung, eh iya mereka nanti akan naik panggung lagi jadi penutup katanya. Naiklah El Pamas. “Elek-elek Pandaan mas”, dulu becandaannya begitu soal singkatan nama mereka. Grup rock Jawa Timur-an ini, juga sahabat lama banget.

El Pamas masih tetap dimotori para “jagoan”nya, TotokEmmanuelTewel pada gitar. Edi Daromi, kibordis. Drummer juga tetap, Rush Tato. Cuma bassis Didik Sucahyo saja yang tak ada, karena sudah sekian lama bermukim di Belanda. Mereka didukung vokalis, Baruna.BabonPriyotomo Selain itu ada juga Doddy Katamsi. Serta Rizky. Nama terakhir, adalah vokalis “terbaru  mereka.

Ini reunian Kesehatan Bintaro sebenarnya, antara saya dan mereka. Terutama yang rada lama juga tak pernah jumpa, dengan Edi Daromi, apalagi dengan Rush Tato. Jadi, sekadar menguak cerita lama, markas mereka itu sempat di kediaman Baruna, di daerah Kesehatan Bintaro. Rumah saya dengan rumah Baruna,hanyalah “sepelemparn batu”.

Zaman itu memang kebetulan Baruna belum lama ditarik masuk menjadi vokalis El Pamas. El Pamas ini memang terbilang rajin betul untuk gonta-ganti vokalis! Musisi pendukungnya sih bertahan, tetapi vokalisnya keluar masuk.






Jadi Baruna memang temen lama, tetanggaan jack. Ia dikenal di daerah Kesehatanitu sebagai, si rocker yang doyan jogging sore hari. Kok sore, kalau pagi suka telat bangun? Hahaha, bisa iya bisa pula tidak. Tapi ia rajin olahraga memang, jogging dan renang. Kalau saya? Pilih basket waktu itu, ya dengan teman-teman di kawasan Kesehatan itu.

Sudahlah, secuil saja intermezzonya ya. Kalau kepanjangan, nanti melelahkan membacanya. Saya lagi berusaha keras nih, membuat tulisan “seringkas” mungkin, seperti nasehat atawa petuah beberapa sahabat baik saya....

El Pamas menghadirkan lagu-lagu karya mereka. Perlu diketahui, mereka sempat menghasilkan setidaknya  6 album rekaman, mulai dari Dinding Dinding Kota, dirilis 1989. Hingga terakhir ada, 60 km/jam, yang dirilis sekitar 15 tahun silam.

Dan seusai El Pamas, muncullah Achmad Albar, Donny Fattah bersama Ian Antono lalu Abadi Soesman dan Fajar Satritama. Bintang utama itupun tampillah, dan penonton langsung merangsek maju ke bibir stage.




Yes, God Bless was in da house, peeps! Everybody scream! Penonton langsung antusias menyambut. Kan memang sudah sukses tuh melakukan “warming up” dengan 9 Lives, apalagi ditambah dengan El Pamas. Begitu God Bless naik panggung, tentu saja langsung....panas. Panas yang asyik! Asyik yang seru! Seru yang nyenenginlah...

God Bless malam itu datang ke Tebet Raya, setelah mengisi acara spesial Tutup Tahun dan Sambut Tahun Yang Baru di stasiun TVRI. Syuting live dilakukan di studio TVRI, di kawasan Senayan. Mereka mendapa slot mengisi pas jam 00.00 untukkawasan Indonsia bagian Timur.

Beruntunglah, perjalanan dari kawasan Senayan menuju Tebet, relatif lancar. Tak ada halangan berarti. Sehingga kelima God Bless, terlihat segar bugar, dan siap betul untuk lebih memanaskan acara. Membuat sebuah momen penuh kenangan sangat berarti, tahun baruan sama para legenda.... Oho!






Adapun penampilan sangat spesial God Bless kemarin itu, dalam rangka juga semacam pemanasan, menjelang konser besar mereka nanti di Jakarta. Direncanakan God Bless akan tampil dalam konser 45 tahun mereka, pada 12 Mei nanti di Balai Sarbini. So, hayooo siap-siap ya!

Dan di sela-sela showtime God Bless, dirayakanlah detik-detik pergantian tahun. Dari 2017 ke 2018.  Siap-siaplah, delapan, tujuh, enam, lima.... Selepas prosesi kecil Tahun Baru itu, setelah semua bersalam-salaman dan berpelukan hangat, cipika-cipiki, God Bless kemudian masih meneruskan pentasnya.

Kemudian God Bless klaar, naiklah lagi El Pamas. Mereka tampil dengan mengundang penonton, yang kebetulan memang penyanyi macam Bangkit Sanjaya dan Robby Matulandi, yang eks EdanE itu.

Acara pun usai, pas sesuai anjuran pemerintah daerah Jakarta Raya, yaitu sekitar jam 01.00 dinihari. 9 Lives masih dapat kesempatan lagi. Lalu acarapun tuntas-tas. Penonton pulang dengan hati riang. Semoga semangat untuk menjalani 365 hari nanti di tahun 2018! Tahun yang baru, harapan-harapan baru, rencana-rencana baru. Semoga selalu sehat!





Sampai kami meninggalkan venue, nebeng fotografer senior yang menyusul belakangan, Tagor “Lassak” Siagian, ternyata sang komandan lapangan, meneer Toro Cocomeo tak datang-datang juga. Lewat pesan di hape, Toro mengabarkan ia harus membawa anaknya ke rumah sakit.

So, terima kasih God Bless juga El Pamas dan 9 Lives untuk kesukacitaan malam itu. Terima kasih juga teman-teman yang ketemu malam itu. Terima kasih tentunya untuk gank “kandang ayam”... Untuk pakde Toro, semoga anak terkasih lekas sembuh! /*






Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...