Sunday, November 19, 2017

Catatan Saya secara Jazz untuk AMI Awards 2017


T u l u s
Mungkin ini bisa disebut sebagai salah satu edisi jazz dari ajang tahunan bergengsi, Anugerah Musik Indonesia, AMI. Apakah disengaja atau tidak, tapi kesan “bau” jazz yang lebih menyengat, memang cukup tercium.
Terutama misal lihat dari nama Muhamad Tulus, atau yang populer dengan nama simplenya, Tulus. Ia dengan album ketiganya, Monokrom, meraih  6 penghargaan, termasuk penghargaan paling bergengsi yaitu Album Terbaik dan Karya Produksi Terbaik. Termasuk juga Tim Produksi Suara lewat duo kakak-beradik, Ari Renaldi dan Rudy Zulkarnaen.
Seperti diketahui, Tulus memang mengedepankan musik yang rada jazz(y). Paling tidak ada suasana ala musik-musik adult contemporary 1980-an, yang oleh sebagian orang disebut sebagai jazz-pop. Atau light jazz. Atau ada juga “julukan” lain, jazzy tunes.
Apalagi ditambah, dalam beberapa tahun terakhir ini, Tulus dan musiknya tersebut telah menjadi langganan sebagai performer utama, headliner, pada berbagai acara berbentuk festival jazz di tanah air. Hal mana membuatnya seolah, bintang muda ngejazz terdepan kan jadinya?
Saya secara khusus, jadi tergerak sedikit menulis tentang perhelatan AMI Awards 2017, memang sebatas pada “fenomena” edisi jazznya. Ga tau deh, apa memang publik setuju atau tidak, tapi itulah yang saya rasakan. Melihat dari list para penerima penghargaan misalnya. Juga termasuk para performers yang memeriahkan malam puncaknya.
Adapun malam puncak penganugerahan Anugerah Musik Indonesia, untuk tahun 2017, telah berlangsung pada 16 November 2017, mengambil tempat di Teater Garuda, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Dan disiarkan langsung oleh RCTI.
Saya sih nontonnya dari layar kaca saja. Dan itupun juga hanya sepotong kecil. Ya jujur mengakulah. Makanya, tak ada foto-foto langsung dari malam penuh kemilau dan pesona itu. Agak lupa sih tepatnya, tanggal kapannya AMI itu! Hahahaha.
Krakatau Reunion, dengan Chapter One

Tapi memang jadi menarik, sekali lagi buat saya ya terutama, saat mengetahui dan menonton Krakatau akhirnya menyempurnakan kesuksesan tahapan edisi reuniannya, lewat meraih 2 penghargaan dari AMI Awards.
Krakatau, yang berdiri sejak1985 dan kini sejak 2015 tampil kembali dengan nama Krakatau-Reunion, seperti diketahui muncul dan langsung beredar kencang namanya. Mereka tampil di begitu banyak festival jazz di seluruh penjuru Nusantara. Pergerakan sangat aktif itu terus terang rada mengejutkan juga.
Dan aktifitas kencang penampilan panggung mereka di paling tidak 2 tahun terakhir ini, menjadi lebih lengkap dengan kesuksesan album mereka, Chapter One, yang diganjar penghargaan AMI Awards.
2 penghargaan untuk Krakatau Reunion lewat album yang dirilis di awal 2017 tersebut adalah, Album Jazz Terbaik, Chapter One. Dan Artis Jazz Vokal Terbaik, ‘Cermin Hati’ dari album Chapter One.
Tentu saja, saya ucapkan selamat kepada Krakatau Reunion. Tak lupa selamat juga kepada executive producer dari album Krakatau Reunion tersebut, Donny Hardono, dengan DSS Music. Dimana DSS pulalah yang langsung menangani perjalanan kembali Krakatau, terkhusus “edisi” Krakatau Reunion sejak mereka berenam sepakat untuk berkumpul kembali, dan bermain bareng lagi.
Dewa Budjana

Gerald Hiras Situmorang
Ucapan selamat juga untuk sahabat baik saya sejak lama, Dewa Budjana. Lewat salah satu track dalam album terbarunya, Zentuary, yaitu, ‘Solas PM’, Budjana mendapat penghargaan Album Jazz Instrumental Terbaik.
Album yang produksi rekamannya dilakukan di USA dan diedarkan resmi pada akhir Oktober 2016 tersebut, telah mendapat pujian dari publik musik pencinta jazz internasional. Mendapatkan juga penilaian sangat positif dari berbagai media musik di USA, Eropa dan dari seluruh penjuru dunia.
Budjana, didukung bassis legendaris, Tony Levin. Lalu drummer jazz kawakan, yang juga pianis, Jack de Johnette. Serta melibatkan pula saxophonis Danny Markovitc serta musisi multi instrumentalis yang tak kalah besar namanya, Gary Husband, kali ini dengan kibor.
Pada kategori musik jazz, di ajang AMI Awards 2017 ini muncul nama-nama yang telah dikenal luas sebagai jazzer-jazzer terbaik. Jadi, Krakatau Reunion dan Dewa Budjana itu bersaing dengan para musisi atau grup band, dengan karya album dan lagunya masing-masing, yang telah meraih perhatian publik di setahun-an terahir ini.
Tak kurang dari Indra Lesmana, dengan. ‘Jack Swing’ dalam solo albumnya, About Jack bersama grup Indra Lesmana Keytar Trio. Atau Indro Hardjodikoro lewat, ‘Always Dare’ dari album Always There. Termasuk lainnya, ada Tohpati dengan, ‘Faces’ dari album grupnya, Tohpati-Bertiga.
Bahkan juga kibordis Krakatau Reunion lainnya, Dwiki Dharmawan, yang notabene juga adalah Ketua Umum AMI pada saat ini. Dwiki secara cukup mengejutkan, terpilih dengan lagu, ‘Frog Dance’ dari solo albumnya, Pasar Klewer..
Nama nominator lainnya adalah almarhum Mike Mohede, dengan lagu, ‘Kaulah Segalanya. Serta ada nama Aimee Saras, Bonita Adi, Aprilia Sari dengan lagu, ‘Tiga Dara’.
Dari khasanah jazz tanah air, menyeliplah bintang muda, dia gitaris tapi juga bassis. Gerald Hiras Situmorang namanya. Gitaris ini sukses memperoleh penghargaan Karya Produksi Instrumental Terbaik, dengan lagu, ‘Familiar Song’.
Kemenangan Gerald cukup mencuri perhatian, karena ia berhasil “melewati” para seniornya, yang adalah para musisi jazz kenamaan. Antara lain ada Dewa Budjana, Indra Lesmana, Indro Hardjodikoro. Serta, sekali lagi juga ada sang Ketua Umum AMI, Dwiki Dharmawan.
Dwiki Dharmawan dan Indra Lesmana

MONTECRISTO
Gerald muncul ke depan, semoga bisa menjadi inspirasi bagi para musisi muda lainnya, untuk tetap teruslah aktif berkarya. Sejatinya, musisi-musisi mudapun memperoleh perhatian yang sama. Perhatian itu bisa pula diartikan sebagai kesempatan. Kan dalam musik, tak mengenal usia.... Selamat ya Gerald!
Kemudian saya juga memilih untuk mengucapkan selamat secara khusus kepada teman-teman baik saya Eric Martoyo, RustamKeithEffendi dengan grupnya, MONTECRISTO. Mereka meraih penghargaan Karya Produksi Rock Progresif Terbaik. Momentum dimana musik prograsif rock mendapatkan perhatian dari publik. Sungguh diharapkan begitu.
Seperti diketahui MONTECRISTO merilis album terbaru mereka, A Deep Sleep,pada beberapa bulan silam di 2017. Dimana mereka kemudian, belum lama ini , juga menyusulkan dengan merilis sebuah album live-nya dalam format DVD.
Juga ada nama Adrian Adioetomo. Gitaris yang populer dengan gitar dobro khasnya itu, memperoleh penghargaan Artis Solo Pria atau Wanita Instrumentalia Terbaik, lewat lagu Tanah Ilusi’. Lagu itu diambil dari mini albumnya diedarkan sekitar penghujung 201, Apaan?
Adrian, yang sekian lama dianggap “tokoh” muda blues Indonesia, lalu memperkenalkan apa yang disebut delta blues itu, sukses menyelip masuk di kategori rock. Tentu patut diberi pujian khusus juga. Buah dari intensitasnya berkarya tanpa henti, senantiasa penuh semangat! Hidup blues!
GIGI juga kebagian penghargaan. Artinya, Budjana bisa bawa tambahan penghargaan nih jadinya. GIGI menang lewat, Adu Domba’ untuk kategori  Duo/Grup Pop Terbaik. Hebat juga euy, sebagai grup 90-an ya, mereka sukses memenangkan pertarungan dengan grup-grup pop, yang sebenarnya secara era muncul belakangan.
Saya awalnya berpikir, seolah mereka yang lebih muda itu “menguasai” pasar musik, terutama pop, masa kini. Misalnya kayak D Masiv, Nidji, Geisha. Sampai Armada. Eh ternyata GIGI yang mendapatkan peghargaan. Selamat!
G I G I

God Bless

Oh ya, balik deui ke wilayah rock. Selamat dan sukses untuk supergroup yang jelang umur 45 tahun karir mereka. The trully living legend band, God Bless.  Grup yang tetap dimotori 2 pendirinya, Achmad Albar dan Donny Fattah serta juga didukung ikon gitaris rock, Ian Antono ini, kebagian penghargaan juga.
God Bless meraih penghargaan untuk kategori Duo atau Group Kolaborasi Rock Terbaik dengan, ‘Damai’. Satu penghargaan lain didapat lewat album ketujuh mereka, yang dirilis tahun silam, Cermin 7, dalam kategori Album Rock Terbaik.
Kemudian selamat untuk penganugerahan Lifetime Achievement Awards untuk penyanyi, penulis lagu, aranjer, musisi multi instrumentalis, Fariz Rustam Munaf. Penghargaan yang sangat layak, sebagai ganjaran setimpal atas segala sepak terjangnya didunia musik sejak jelang akhir 1970-an.
Yang tentu saja, seperti kita ketahui bersama, membuatnya menjadi salah satu musisi, penyanyi dan penulis lagu paling produktif di era 1980-1990an. Dan hebatnya, ini pujian dari lubuk hati terdalam, ia tetap eksis dengan lumayan lancar bahkan hingga saat ini. Ga ada matinye....
Dedikasi totalnya atas musik Indonesia, telah dibuktikannya lewat puluhan solo album, itu belum lagi ditambah berbagai album kompilasi. Tak kurang juga, pelbagai proyek kolaborasi musiknya, dengan berbagai musisi dan penyanyi, dari berbagai usia. So, terus berkarya bro bule, begitu panggilan akrabnya. Dan jangan pernah bosan hidup positif, biar sehat selalu!
Fariz Rustam Munaf

Yala Roesli dan Rumah Musik Harry Roesli
AMI juga memberi bentuk kepedulian terhadap para legenda musik Indonesia yang telah tiada, dengan catatan perjalanan panjang karir musiknya, yang mewarnai musik Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan untuk 3 nama, pada tahun ini.
Pertama pada almarhum Harry Roesli, tokoh musik Bandung yang memberi keramaian berbeda pada khasanah musik rock Indonesia, lewat banyak karya-karya musiknya yang khas dan unik. Juga untuk 2 nama besar yang sukses di dunia musik pop Indonesia, almarhum Benny Panjaitan dan almarhum Baartje Van Houten.


Tulus. Foto : Indrawan
AMI Awards sendiri pertama kali diadakan oleh Yayasan Anugerah Musik Indonesia pada tahun 1997. Dan penghargaan AMI Awards ini, bisa dibilang adalah penyatuan dari 2 ajang awarding sejenis, yang telah diadakan sebelumnya.
Kedua penghargaan tersebut adalah BASF Awards, mulai 1985. Lalu HDX Awards, mulai 1992. Kedua ajang penghargaan itu, disokong sepenuhnya oleh dua produsen pita kaset rekaman yang terbilang terbesar di Indonesia, pada saat itu.
Menurut sejarahnya, AMI Awards ini juga diadakan atas gagasan dari 3 organisasi musik resmi yaitu, ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia), PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Rekaman Indonesia) serta KCI (Karya Cipta Indonesia).
Adapun konsep dasar dari AMI Awards ini mengadaptasi apa yang telah dijalankan oleh NARAS (National Academy of Recording and Science), yang merupakan penyelenggara dari ajang awarding bergengsi tingkat dunia, Grammy Awards.
Pada AMI Awards pertama di 1997, dengan acara malam penganugerahannya dilakukan di Jakarta Convention Centre, diserahkan 34 kategori penghargaan. Sementara pada 2017 kemarin, diberikan penghargaan dalam 52 kategori. Termasuk penghargaan yang baru diberikan di tahun ini, lagu dan album musik rohani.
Nah soal bebauan jazz yang saya rasakan itu, juga menyembul dari beberapa performers yang dipilih untuk meramaikan malam penganugerahan AMI tersebut. Paling tidak ada, Tohpati-Bertiga. Yang sebelumnya juga Krakatau-Reunion.
Ketika AMI, yang bergengsi tinggi itu, juga memberi perhatian pada pergerakan musik-musik non-mainstream, tentunya perlu diberi apresiasi tinggi. Apalagi langkah konkrit dan nyatanya, menampilkan mereka yang seringkali danggap “tidak pop” itu, utuk bisa tampil secara live.
Karena tontonan malam penganugerahannya itu ditayangkan langsung oleh stasiun televisi. Jarang-jarang grup musik atau artis penyanyi yang bisa disebut, outside mainstream music,  beroleh kesempatan tampil kan? Terganjal rating tentunya, yang membuat penampilan “kaum di luar mainstream”, jadi sangat terbatas.
Adrian Adioetomo

Tohpati - Bertiga
Semoga AMI Awards tetap dapat berlangsung dan menjadi salah satu referensi terpenting, bagi perjalanan dunia musik Indonesia. Sehingga gengsi tingginya juga lantas menjadi magnet untuk keikutsertaan dari kalangan yang dianggap, indie atau independent.
Memang perjuangan paling serius adalah, membuktikan bahwasanya AMI Awards tak cenderung hanya memberi perhatian dan kepedulian, serta apresiasi, bagi kalangan industri musik saja. Upaya untuk memberi ruang bagi musik-musik indie, semoga makin lancar di kemudian hari.
Itu juga soalnya secara kenyataan yang ada, beberapa nama sudah membuktikan, lewat jalur indie pun mereka bisa berbicara. Ada fenomena, artis penyanyi, duo atau grup-grup tertentu, sukses justru bukan melalui jalur “formal”. Baik dari pola distribusi, juga menerapkan strategi promosi yang berbeda.
Tidak menembus jalur distribusi toko-toko musik besar misalnya, dan tidak memakai promosi melalui televisi atau radio. Tetapi toh mereka juga sukses, dikenal luas. Mempunyai penggemar fanatik setia yang loyal dan terus menggelembung saja jumlahnya. Apalagi dengan jadwal manggung mencengangkan!
Itulah situasi dan kondisi yang terjadi di Musik Indonesia Jaman NOW! Kalau AMI tetap peduli dan memberi perhatian pada pergerakan-pergerakan kaum indie, dengan segala kreatifitas uniknya itu, bisa saja diharapkan AMI Awards akan makin menjadi “tujuan utama” dari para pelaku musik di tanah air.
Terus bergaul sehingga tetap dapat memahami dan mengerti situasi dan kondisi terkini yang terjadi pasar musik, membuka pintu pada hal-hal terkini, melakukan semacam updating atas pergerakan di dunia musik Indonesia. Tentu saja hal demikian berfaedah dan bermanfaat.
AMI membuktikan dengan misalnya, mengadakan kategori-kategori penghargaan yang relatif baru, demi menampung aspirasi pasar musik. Makanya memang jumlah kategori itu berkembang, bisa saja bertambah. Walau bisa juga berkurang, misal ada kategori tertentu yang terpaksa tak disediakan di waktu tertentu. Karena tak ada “peserta”nya misalnya. Di titik itu sih, cukup fair dan bisa dimaklumi.
Walau bukan lantas berarti juga, dapat penghargaan AMI itu otomatis lagu atau albumnya menjadi laris-manis tanjung kimpul, duitnya kumpul setelah albumnya ludes. Ga langsung begitu juga, tapi kan tentu saja memberi dorongan positif dan signifikan untuk dunia musik secara keseluruhan?
Saya hanya ingin menulis angle tertentu saja atas AMI Awards ini. Biarlah untuk nama-nama penerima penghargaan lain beserta kategori-kategorinya, teman-teman yang membaca tulisan ini, bisa googling sendiri dan memperolehnya dari situs-situs lainnya.
Salam Musik Indonesia! /*




No comments: