Cerita Mengenai sebuah Konser. Super Konser. 5UPERGROUPinConcert


5 Group Band pilihan, dijadikan satu dalam sebuah acara. Pastinya, menjanjikan sebuah konser besar yang spesial kan? Tambah spesial dan memang lantas terasa bakalan istimewa karena konser inipun diberi judul Supergroup in Concert.
Tema gede acarapun dibuat menjadi 5UPERGROUP. Dari segi nama, ini memang langsung memperlihatkan bahwa ini bukanlah “konser biasa-biasa saja”. Karena band yang akan tampil adalah supergroup, maka ini kelak pastinya menjadi sebuah superconcert.
Pertanyaan pertama kenapa kelima grup band tersebut yang terpilih? Semuanya di awali lewat menyebarluaskan informasi, dengan sebuah angket. Pilihlah grup-grup band terfavoritmu. Penyebaran itu dilakukan gencar via media sosial, seperti Facebook dan  Instagram
Dikumpulkan jawaban dari para friends, likers atau followers. Dari hasil itu, sebetulnya ada sekitar 8 sampai 10 grup band yang paling banyak dipilih. Maka kemudian disusul dengan membahas, berapa grup band yang akan ditampilkan? Lalu tentunya, siapa saja yang akan ditampilkan?
Akhirnya, setelah proses itu berjalan ketemulah dengan hasil akhir yang disepakati. Bahwa ada 5 kelompok musik yang terpilih. God Bless, GIGI, Krakatau Reunion, Kahitna dan Sheila on 7.
Pilihan dengan berbagai-bagai pertimbangan. Hasil akhir itu disepakati, walau mungkin memang belum pas dengan “sempurna”. Kenapa begitu? Ini gegara taglineSuper Group” yang dipakai. Definisi supergroup tersebut, ini pasti akan mengundang perdebatan.
Kalau buat saya sih, lebih mengartikan begini. Supergroup, lebih dilihat dari penampilan di atas panggung. Konser-konsernya wah, besar, megah. Penonton atau fansnya yang datang menonton banyak. Grup band tersebut biasanya tampil solid, all out dan makanya membuat penontonnya puas.
Tidak bisa dikesampingkan pula soal kwlitas permainan, atau dalam hal ini bicara juga soal skill dalam musikalitas. Pertimbangan berikut, baru soal lagu-lagu hits. Walau, sekali lagi ini menurut saya, lagu-lagu hits itu bukan jadi pertimbangan utama. Bisa saja tidak masuk dalam pertimbangan....


Nah, definisi supergroup yang saya tulis di atas, yang adalah pemahaman saya pribadi, pasti juga akan mengundang pro dan kontra kan? Karena juga ada perbedaan dari definisi supergroup versi wikipedia misalnya.
Dalam wikipedia, definisi supergroup adalah supergroup is a music group whose members are previously successful as solo artists or as part of other groups or well known in other musical professions. Usually used in the context of rock and pop music, the term has been applied to other musical genres such as opera (The Three Tenors).
Supergroups are sometimes formed as side projects and thus not intended to be permanent, while other times can become the primary project of the members' careers. It became popular in late 1960s rock music for members of already successful groups to record albums together, after which they normally split up.
Sementara kalau melihat dari kamus lain, bisa mengambil versi dari Merriam Websters Dictionary yang mengatakan a rock group made up of prominent former members of other rock groups; also an extremely successful rock group.
Tapi mungkin ini juga harus dilihat dari point of view orang Indonesia. Melihat dari situasi dan kondisi yang terjadi selama ini di dunia musik Indonesia. Artinya, hasil akhir pemilihan kelima grup band tersebut, harus bisa dimaklumi dan dipahami sebaik-baiknya. Karena toh, memang ternyata kelima grup terpilih di atas itulah, layak masuk kategori yang “ter-super”
Super? Grup yang ini ga lah, grup yang itu masak disebut super sih? Ok, perdebatan akan jadi panjang nih. Dan menjadi perdebatan tak berujung, apalagi kalau sudah masuk soal selera. Menyoal selera mah, sangat sulit diperdebatkan.
Tapi begini saja, pihak promotor acara super ini yaitu, XI Creative, sejatinya telah berupaya semaksimal mungkin menyajikan sesuatu yang “sangat spesial”. Yang berbeda dan fresh, ya sebut saja begitu. Suatu ide konsep yang diniati serius, menyegarkan dunia musik pertunjukkan Indonesia. Dengan tak meninggalkan begitu saja, situasi dan kondisi terkini dunia musik Indonesia juga adanya.
Dewan Pimpinan Pusat dari XI-Creative

Produser Pelaksana, Dadang Nugraha. Executive Producer, Irman Alvian. Penanggung Jawab Penualan, Pemasran, Ticketing, Rezky Ichwan. Produser Eksekutif, Kadri Mohamad dan Bagus Santosa

Pra Petinggi dan Pelaksana #5UPERGROUPinConcert dari XI Creative.
Well, saya sebut di atas sebetulnya ada sekitar ya sebut saja 8 grup band yang masuk kategori itu. Pihak XI Creative memang harus menyeleksi” lagi, paling tidak hanya sebatas maksimal 5 grup band yang bisa ditampilkan. Kan menyangkut yang namanya durasi pementasan?
Dan jadi begitulah ya. Bagaimana pergerakan awal dari ide konsep “super” eh atau pentas musik yang berbeda itu. Tentunya harus langsung diikuti berikutnya, bagaimana mewujudkannya? Bagaimana merealisasikannya di atas panggung, menjadi sebuah tontonan yang benar-benar, segar, relatif baru dan...jangan lupa, menyenangkan dan menyamankan penonton.
Penting dong, mengemas sebuah tontonan musik yang bisa...ini bahasa gaulnya, ngenakkin penonton. Bahasa saya, bikin puas nonton dan bisa bikin kemudian pulang ke rumah hati senang dan tidurpun pulas.
Pihak XI Creative sendiri, sebenarnya nama baru dalam dunia kepromotoran showbiz. Mereka sukses mengawalinya dengan pementasan Lomba Cipta Lagu Remaja Plus, LCLR+. Gawe pertama mereka itu sold out, digelar di Balai Kartini pada 1 dan 2 Oktober 2015. Waktu itu menampilkan sosok Yockie Suryoprayogo, sebagai konseptor musik dan juga menjadi direktur musik pada pergelaran tersebut.
Tiket habis, untuk 2 hari pertunjukkan, di dalam gedung berkapasitas sekitar 1200-an tepat duduk. Mereka rupanya, lalu berkeinginan melanjutkan lagi kiprahnya. Kali ini dipilih venue lebih besar, Plenary Hall di Jakarta Convention Centre. Dan gedung konperensi yang sudah sejak 1970-an jadi venue bergengsi untuk event musik itu, lalu “disulap” sehingga akan dapat menampung sekitar 3500-an penonton.
Mereka awalnya adalah semacam komunitas alumnus SMAN 11 Bulungan, Jakarta Selatan, dengan periode kelulusan sekitar 1980 sampai 1982. Para pengurus intinya, tak ada yang berpengalaman di dunia kepromotoran musik. Mereka profesional di bidangnya masing-masing, semua di luar dunia showbiz musik.
Selalu ada muatan misi sosial dalam acara mereka. Sama seperti pergelaran di tahun 2015 silam itu, saat 5UPERGROUP juga, mereka menyisihkan keuntungan mereka untuk para guru-guru mereka di masa SMA dulu. Misi  sosial tersebut, malah menjadi maksud dan tujuan utama dalam setiap pergelaran yang mereka adakan.
So, jadi cerita dari konser tersebut begitulah adanya. Maka dikarenakan pihak XI Creative berdiri lebih sebagai promotor, dalam hal ini menggulirkan konsep dan mencari cara untuk membiayai kegiatan tersebut, jadi mereka mencari pihak lain sebagai eksekutor dari ide dasar mereka.
Lantas didapatlah Oleg Sanchabakhtiar, yang didapuk menjadi creative/art director acara ini. Oleg, sebelumnya dikenal luas sebagai sutradara klip musik handal, peraih banyak penghargaan dan belakangan mulai “menyebrang” ke dunia showbiz. Ya sebagai tenaga crative director itulah.
Oleg lah yang bertugas menjadi eksekutor, membesut pergelaran ini. Mewujudkan semua ide dan gagasan promotor, lalu menghidangkannya ke penonton. Oleg beserta timnya didukung tenaga lain seperti untuk stage dan lighting yang dihandle oleh Indopro, yang dipimpin Jimmy Turangan.
Kemudian ada tenaga mercenaries lain, yaitu Olen Pelupessy, yang bertanggung jawab atas production acara tersebut. Olen bertugas antara lain menyiapkan gedung, melakukan loading dan stage building. Sampai juga Olen yang membantu Oleg, dalam menggambar desain panggung. Ide stage plotting atau blocking semua personil dari kelima band, datangnya dari Oleg tentu saja.
Ada satu pihak pendukung acara ini, yang teramat penting juga yaitu DSS Sound System. Pihak DSS menyediakan kebutuhan seluruh sound system, PA system, mixers, monitors serta termasuk backlines. Backlines ini maksudnya all band equipment, yang diperlukan seluruh band yang akan tampil.
Artinya, komandan eksekutor sudah ada, didukung tim yang memiliki pengalaman dalam menyelenggarakan konser seperti itu. Dan tim keseluruhan mulailah bekerja, sementara promotor bekerja menyediakan seluruh pendanaan, antara lain menjaringnya via sponsor. Dan juga, ini hal penting lain, menjual acara ini ke publik!



Ok saya mencoba memberi gambaran sisi lain dari acara ini. Sisi-sisi menariknya. Tadi di atas sebelumnya saya sudah ceritakan mengenai promotornya, tim eksekutornya, termasuk band-band terpilihnya. Ada sisi menarik lain nih. Mungkin ini acara terbilang besar, yang pertama kali “memilih” hari Selasa sebagai hari penyelenggaraannya!
Biasanya kan, pergelaran konser idealnya digelar pada akhir pekan, atau mendekati akhir pekan. Ini di weekday dan apalagi hari Selasa! Berani betul ya. Ya harus “terpaksa” memberanikan diri, dikarenakan pihak promotor kepengen banget harus di JCC. Tapi hari kosong yang tersisa, yang bisa dipakai, tinggal hari Selasa, pada 21 November 2017 itu. Well, apa boleh buat?
Mereka, pihak promotor, memahami bahwa effort mereka untuk menjual acara mereka ini ke publik jadi berlipat. Bisa dibilang, publik kayaknya tak terbiasa, hang-out nonton pergelaran konser di hari biasa, apalagi lebih “istimewa” lagi, ini di hari Selasa. Hari yang  tak lazim sih sebenarnya, buat penyelenggaraan konser! Wah, tantangan seru nih!
Tetapi itulah, bagaimana kudu menyiasati hari penyelenggaran yang tak biasa begitu, sebagai D-Day pelaksanaan ide konser besar yang berbeda. Dituntut kreaifitas dalam bagaimana mempromosikan acara ini, kudu gencar tapi efektif “hore-hore” acara ini, ke publik, agar banyak orang datang berduyun-duyun untuk menyaksikan. Syukur-syukur kalau lantas tiket yang tersedia ludes alias, sold out. Bakalan jadi cerita manis tentu saja.
Oh iya, XI Creative gelagatnya kan akan serius menjadi promotor musik? Mengedepankan ide-ide konsep pergelaran yang besar, dahsyat dan baru? Tetap dengan ada muatan misi sosialnya kan? Nah artinya, pergelaran mereka memang harus sukses, baik dalam hal mengundang banyak penonton tapi juga, menghidangkannya dan membuat penonton puas.
Karena pertaruhan promotor memang begitulah. Kreatif mengolah ide, lantas bagaimana mengemasnya, dan bagaimana kemampuan mendatangkan sponsor dan penonton. Gini ya, kalau sukses apalagi dalam hal ini sukses secara finansial, bukankah akan terjamin kontinuitas pergerakan mereka sebagai promotor?
Menjamin bahwa, nantinya mereka akan kembali menghidangkan konsep hiburan lanjutan yang memuaskan publik? Penonton banyak dan puas, konser berikutnya tinggal tunggu waktu saja. Publik pasti menanti-nantikannya. Klop dong?
Penting juga untuk mencermati sisi ini. Bagaimana showbiz begitu penuh dinamika, dan...misterius! Jadi kita bisa lihat, dalam beberapa tahun terakhir,menurut catatan saya sejak sekitar 10-15 tahun terakhir, bermunculan promotor-promotor baru. Sebagian dari mereka berani banget menyelenggarakan acara konser-konser besar, dan mendatangkan artis ternama luar.
Tapi dalam 3-4 tahun terakhir, ternyata satu demi satu promotor-promotor relatif besar itu bertumbangan. Berhenti kegiatannya, entah untuk sementara atau untuk waktu yang tak bisa ditentukan. Yang masih bertahanpun, ekstra hati-hati dalam menggelar konser, tak lagi jor-joran.
Kabarnya, salah satu alasannya adalah mereka merugi! Sponsor makin sulit, animo publk untuk menonton masih tinggi, tetapi daya beli untuk mampu membeli tiket harga tiket yang terbilang tinggi, terkesan menurun. So, incomes menurun, biaya produksi tinggi terus. Apalagi harga-harga artis atau grup band, terutama yang luar negeri, malah terasa bertambah mahal. Resikopun membesar.!

Begitu deh, there’s no business like show business! Kalau tak lagi berani berspekulasi,lebih baik memilih... “tiarap”. Tiarap lalu, tertidur pulas? Ya sutralah, berhenti “bermain”. Pilih bidang lain, yang tak terlalu beresiko besar kayak showbiz. Masuk akal sih.
Lantas bagaimana hasil dari pergelaran konser 5UPERGROUP kemarin itu? What’s the result? Penonton puaskah? Saya pilih, cerita sedikit dulu, bagaimana suasana mewujudkan konsep konser di waktu-waktu jelang acara. Maksudnya, eksekusi tahap akhirnya bagaimana?
Saya pikir, lebih baiklah saya ceritakan hal tersebut. Karena kan kalau membaca saja mengenai acara konsernya, puluhan media sudah memberitakannya. Pihak promotor itu sukacita dengan pemberitaan yang ada, baik sebelum maupun sesudahnya.
Lantas, apakah dampak dari pemberitaan itu akan bermanfaat dan berguna,bagi pergerakan mereka selanjutnya? Soal efektifitas? Sudahlah,itu urusan lain. Nanti saja saya obrolin eh tuliskannya. Ok?
Jadi kembali ke atas panggung besarnya 5UPERGROUP, pada pagi hari di Selasa, 21 November. Jadwal persiapan akhir, untuk soundcheck harusnya sudah bisa dimulai jam 09.00 pagi. Tapi terpaksa molor, karena listrik baru menyala mendekati jam 10.00 wib. Padahal dari sebelum jam 09.00 seluruh tim pendukung sudah standby.
Grup band yang mendapat jadwal soundcheck pertama, GIGI, sudah ready di backstage. Oleg pun belakangan sudah hadir, lalu memberi briefing pada tim stage management, yang baru terlihat di venue di hari itu. Pada areal Front-House, pas depan stage, sudah tersedia lengkap jejeran 5 mixer yang disediakan DSS. Komando untuk sound langsung ditangani oleh Donny Hardono sendiri, pemilik DSS.

Dengan 5 mixer tersedia, berarti setiap band memiliki mixernya masing-masing, memungkinkan bila dapat terjadi kolaborasi beberapa band. Bahkan bila saja kelima band mau tampil bareng, sudah bisa dilakukan. Semua mixer dari merk dan tipe yang sama.
Setiap grup band yang tampil, juga memiliki sound engineernya masing-masing. Seperti God Bless, memakai Dede. Lalu GIGI dengan Nabil Husein. Lalu Krakatau Reunion, langsung dihandle oleh Donny Hardono ditemani anaknya, Agi. Sementara itu Kahitna, memakai Goutama Adji bersama Danny Lisapaly. Dan Sheila on 7 menggunakan sound-engineer tetap mereka, Den Bari.
Terjadi sedikit hambatan, saat soundcheck. Stage plotnya yang telah final, dimintakan beberapa grup band untuk bisa direvisi. Terutama soal plot stage untuk drums, termasuk stage untuk perkusinya Kahitna. Hanya Kahitna yang ada pemain perkusinya. Maka dilakukan revisi, termasuk penambahan riser untuk drums.
Tujuan utamanya agar supaya, semua drummer dapat terlihat “lebih jelas” untuk penonton. Tetapi memang menimbulkan “persoalan” lain, revisi di saat akhir itu akan ‘mengorbankan” pemandangan penonton terhadap panggung. Panggung jadi crowded. Mau gimana lagi?
Konsep awal, akan ada kolaborasi beberapa grup band. Dalam mengisi jeda pergantian satu band ke band lainnya. Misalnya, antara GIGI ke Krakatau Reunion. Pada kesempatan soundcheck sempat dicoba, dengan diawali dulu diskusi di atas panggung. Masalahnya, diskusi terjadi di saat acara makin mendekat, waktu terlalu terbatas.
Jadinya, diambillah jalan keluar, ini ide datang dari Indra Lesmana. Battle saja antara drummer dan bassis GIGI,yaitu Gusti Hendy dan Thomas Ramdhan dengan Prasadja Budidharma dan Gilang Ramadhan, sebagai bassis dan drummer Krakatau Reunion. Hanya itu yang bisa dilakukan, dalam waktu mepet begitu.
Ada juga ide untuk ‘menyatukan” seluruh band, main bareng, di lagu penutup. Dalam hal ini, dipilihlah lagu ‘Rumah Kita’nya God Bless. God Bless menjadi band utamanya, dan wakil-wakil dari ke-4 band lain ikut tampil. Atau, pilihan lain adalah lagu, ‘Semut Hitam’nya God Bless.
Sempat didiskusikan dengan pihak God Bless, juga melibatkan grup lain. Tapi hasil akhir, ternyata diakui sulit dilakukan bila tidak dicoba dulu secara lebih serius sebelumnya. Maksudnya, harus latihan dulu sebenarnya, sehingga akan menjadi jam-session yang rapi dan enak ditonton dan didengar.

Kunci utama untuk bisa terjadinya kolaborasi yang ideal adalah pada komunikasi. Bagaimana setiap band mendapatkan approach, diajak berdiskusi, diobrolin langsung. Rasanya semua band tak akan menolak, bila saja dilakukan pendekatan “akrab” langsung ke satu persatu band.
Sayangnya, komunikasi intens yang akrab tak terjadi. Maka rencana kolaborasi menjadi mentah. Sulit untuk direalisasikan. Memang beresiko, kalau saja kolaborasi bentuknya hanya sekedar jam-session spontan. Alhasil, memang terasa sangat minim adanya jalinan yang nikmat ditonton dan didengar, antar kelima grup band yang tampil.
Padahal kalau kejadian tuh, potensinya besar sekali untuk menjadi sebuah surprise yang menyenangkan banget penonton. Akan menjadi hidangan sangat unik dan menarik walau zonder batik sekalipun, yang tak mudah ditemui di konser-konser lain. Kolaborasi GIGI dan Krakatau-Renuion yang lebih “dalam” misalnya? Atau mempertemukan Krakatau Reunion dengan Kahitna, mereka main bareng? Kolaborasi apa lagi, Kahitna dan Sheila on 7??
Bukan hal yang mustahil. Tapi ya seperti saya bilang di atas, harus diawali dengan personal approach ke setiap band. Dilakukan tidak dalam waktu yang relatif mepet. Kalau saja ada komunikasi, obrolan-obrolan dari “jauh-jauh hari”, pastinya.... there’s nothing impossible!
Pada akhirnya, sampai Donny Hardono sempat melontarkan gagasan, kita coba lagi yiuk bikin di tahun depan konser 5UPERGROUP ini. Tapi dengan ada kejutan buat penonton yang sangat spesial, semua band main bareng! Boleh juga, sekali lagi bukan mustahil sih, asal didahului ajak ngobrollah setiap grup band....
Dari apa yang terjadi dalam konser 5UPERGROUP, pelajaran paling berharga yang bisa disimak dan menjadi masukan, tentu bagi promotor-promotor lain, bagaimana mengemas sebuah ide “orisinal” yang dahsyat, direalisasikan menjadi sebuah tontonan yang memang betul-betul dahsyat.
Konsep disempurnakan, didiskusikan lalu digodok secara matang. Tapi itu kan baru tertulis di atas kertas, paling jauh sampai pada perbincangan. Realisasi akhir, pastilah bagaimana tontonan tersebut sepenuhnya, yang ditangkap mata, telinga dan hati penonton.
Mohon maaf saja, kalau melihat besarnya ide, konsep dan nama konser ini, ternyata hasil akhirnya punya kekurangan justru dalam mewujudkan secara nyata konsep dahsyat tersebut.
Beberapa penonton memberi penilaian, blocking panggung terlalu penuh, ga nikmat jadinya ditonton. Panggung kenapa tidak dibuat sedikit lebih tinggi, karena memang dari sisi angle pandangan penonton VIP, penampilan para musisi jadi terpotong.
Sisi lighting juga kurang bekerja maksimal, termasuk jejeran screen multi-media, yang awalnya terkesan wah dan megah betul. Tapi terkesan kurang digarap maksimal. Harusnya, bisa lebih baik. Sehingga memang penonton akan memperoleh “kenikmatan” yang sempurna.
Sisi lighting itu, kalau saja dikonsep, bahwa setiap grup band yang tampil memperoleh konsep tampilan pencahayaan berbeda-beda. Sehingga akan terasa karakteristik tersendiri masing-masing, disesuaikan dengan musik kelima grup tersebut, pasti akan lebih menarik lagi.



Namun pendapat orang kan memang banyak, masing-masing penonton punya penilaian sendiri-sendiri. Toh juga ada yang menyebut, sebenarnya bisa menonton kelima grup band itu saja, sudah bagus banget. Oh konsernya dahsyat kok, bisa mengumpulkan kelima grup tersebut, itu sudah mengesankan!
Idenya itu gila banget sih, kata penonton lain. Kudu sering-sering tontonan konser begitu, apalagi mengedepankan musisi-musisi Indonesia yang keren-keren. Nah itu dia, pas. XI Creative memang juga ada misi lainnya sebenarnya, mengedepankan musisi, grup band dan artis penyanyi negeri sendiri ini yang berkwalitas. Bisa jadi moto mereka juga, Cintailah ploduk-ploduk Indonesia....
Terutama di ibukota Jakarta, agak jarang bisa ditemui tontonan konser yang asli mengandalkan performance dari grup band dan penyanyi-penyanyi bagus Indonesia. Apalagi waktu lalu, dimana ada arus “intervensi” artis top dan grup band ternama luar, yang berbondong-bondong datang ke sini. Artis dan grup band lokal, sempat lho terpinggirkan....
Dari tontonan konsernya sendiri. God Bless membuka acara, di saat jam 20.00 lewat sekitar 25an menit. Penonton terkesima. Ini serunya, God Bless beruntung jadi band pembuka. Dengan musik hard rocknya.Penonton datang, siapmenonton, enerji mereka masih “full”, enerji untuk nonton.
Disentak langsung musik kerasnya God Bless. Bagaimana figur seorang rocker tulen, Achmad Albar yang usianya sudah lewat 70 tahun tapi tetap enerjik dan...rockin’! Saya pikir, sebagian penonton, malah mungkin saja sebagian besarnya, awalnya tak begitu “suka” dengan God Bless.



Mereka datang menonton, beli tiket,bukan karena pengen menonton Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah, Abadi Soesman dan Fajar Satritama. Berani taruhanlah! Tapi begitu musik menderu-derunya menggebrak panggung, penonton kaget! Asyik juga ternyata.
Jadi, mereka kayaknya sih  ga suka karena memang belum pernah mendengar musik God Bless. Apalagi menonton live mereka. Well, tak kenal maka tak sayang, dude... Ya kan? Rock kerasnya God Bless ternyata enak juga didengar dan ditonton ya? Pasti deh ada yang merasakan hal itu. First time, first experience menyaksikan God Bless!
Suka tak suka, mau tak mau haruslah diakui God Bless yang paling lawas, tetapi sejatinya paling tepat disebut the real-one, sebagai sebuah supergrup. Mereka telah menjadi sosok grup band rock nomer wahid Indonesia, bahkan sejak awal berdirinya, di 1973.
God Bless, sambung GIGI. Armand Maulana, Thomas Ramdhan, Gusti Hendy serta Dewa Budjana, sedari awal mengabarkan lebih fokus menyajikan lagu-lagu hits mereka dari era 90-an. Dan strategi merekajitu euy! Penonton suka, senang dan nyanyi barenglah.....



Mereka beranggapan, penonton kelihatannya bakalan banyak yang dari umur-umur lebih matang, 40-an ke atas. Penonton dengan kategori usia itu, pastilah lebih akrab dengan hits mereka di tahun 1990-an. GIGI pengen hadir “sebentar”, jatah main per-grup hanyalah 30 menitan, tapi menghibur total. Berhasil, berhasil!
GIGI adalah sosok grup band pop rock terbaik Indonesia, yang datang dari era 1990-an. Mereka tetap eksis, memiliki basis komunitas fans loyal yang setia. Masih disibukkan jadwal manggung di seluruh penjuru Nusantara, walau seringkali “terganggu” juga dengan jadwal Dewa Budjana dalam karir solonya yang melanglang buana, ke berbagai negara.
Dari GIGI ke Krakatau Reunion. Ya diawali atraksi “perang-perangan” drummer dan basis itu. Begitu lagu ‘La Samba Primadona’ dibawakan dengan lantang oleh Trie Utami, penonton goyang. Juga ikutan menyanyi, so pasti.
GIGI pop rock ke Krakatau Reunion, yang menghidangkan jazz pop. Atau ya sebut saja, jazz tapi dengan memperoleh suasana pop kental. Entah apa jadinya sebutan musik mereka. Namun mereka tetap solid dengan formasi sejak 1987 dengan para pendirinya yang memulai Krakatau sejak 1985, Donny Suhendra, Dwiki Dharmawan dan Prasadja Budiharma.
Sementara di 1987 itulah masuk Gilang Ramadhan dan juga Indra Lesmana, selain “anggota termuda”, Trie Utami. Mereka di era 1987-1990an sempat mengalami masa kejayaan, sebagai salah satu grup jazz pop terlaris. Walau kenyataan serunya adalah, jadwal manggung mereka sejak mereka kumpul ber-reuni lagi di  2015, jauh lebih banyak dari saat jaman keemasan mereka di era 1980-an silam itu.



Krakatau, yang memakai nama tambahan “Reunion” silam setelah menghangatkan panggung. Digantikan “adik” mereka, Kahitna. Krakatau Reunion, sendiri sejak era 1980-an saya sih menyebutnya sebagai superfusionband. Dan Kahitna, pada masa awalnya musiknya nyaris “11-12” dengan Krakatau. Saya sempat memperkirakan, well another next superfusionband born....
Mereka “abang-adik” di ajang bergengsi Light Music Contest. Krakatau dikenal luas setelah menjuarai ajang LMC tersebut di tahun 1985. Sementara Kahitna muncul setahun kemudian menjadi runner-up di bawah Emerald Band.
Saat tampil di LMC sih, musik Kahitna dan Krakatau tidaklah sama persis. Ada perbedaan. Tapi “keribetan” musiknya sama. Jazz-jazzan dengan pameran skill... Tetapi ketika Kahitna lalu masuk dapur rekaman. dengan merilis debut albumnya di 1994, mereka merubah total musiknya, menjadi “sangat” pop.
Kahitna ini hebatnya bertahan terus juga dengan formasi tetapnya, hanya ada pergantian vokalis, Ronny Waluya digantikan Mario Ginanjar. Lainnya tetap, Carlo Saba dan Hedy Yunus vokalis) dengan Andrie Bayuaji, Dody Is, Budiana, Harry Suhardiman dan Bambang Purwono. Tentu saja dengan motor utamanya, Yovie Widianto.
Mereka supergroup dalam konteks yang rada beda. Fansnya banyak banget, itu jelas. Bahkan bisa dibilang bisa jadi sebagian besar penonton di 5UPERGROUP kemarin, sebenarnya adalah fans mereka, atau paling tidak memang menanti-nantikan penampilan mereka. Hits mereka itu banyak banget.
Maka tak pelak lagi, mereka sebenarnyalah yang paling sukses penampilannya di malam kumpulan supergroup se-Indonesia saat itu. Lihat saja, penonton sing-along dan diawali dengan seluruh gedung mengikuti ajakan ketiga vokalis Kahitna untuk menyalakan cahaya dari piranti handphone masing-masing penonton!



Kahitna mengisi slot waktu bisa dibilang paling efisien, pas 30 menit-an saja. Walau penonton meminta tambahan lagu, mereka langsung menghilang dari atas panggung. Digantikan oleh Sheila on 7. Nah grup pop asal Yogyakarta ini, bolehlah disebut grup termuda. Berasal dari era 2000-an.
Sekedar mengingatkan, di awal 2000an ada trend hits yang mana membuat beberapa grup band sukses besar, menembus angka lebih dari 1 juta-an copies album mereka. Ada Padi, Slank, Dewa, Jamrud nah juga termasuk Sheila on 7 saat itu.
Sheila on 7 tampil tetap dengan Erros Chandra, Akhdiyat Duta Modjo, Adam Subarkah serta Brian Kresno Putra. Dan dari jejeran supergroup malam itu, Sheila on 7 bersaing ketat dengan Kahitna untuk spesial urusan....banyak-banyakkan hits yang merajai tangga lagu-lagu di Indonesia, serta negara-negara tetangga!
Sheila on 7 menjadi grup terakhir yang tampil. Tapi acara belumlah selesai, karena kemudian God Bless tampil kembali. Tugas menutup acara memang diserahkan pada Achmad Albar, yang lalu melantunkan lagu ‘Rumah Kita’. Lagu itulah yang harusnya dimainkan bareng-bareng, maksudnya melibatkan juga personil empat grup lainnya.


Tapi akhirnya, karena ketiadaan waktu persiapan yang memadai itulah, yang terjadi hanyalah para vokalis ke empat grup lain yang menyanyi bersama dengan Achmad Albar. Para personil grup lain, hanya naik saja ke atas panggung.
Dan selesai sudah pergelaran itu. Semoga saja menjadi sebuah catatan manis, dalam sejarah musik Indonesia. Bagaimana sempat terjadi sebuah konser besar, menampilkan grup-grup berkategori “super”, tentu saja super dengan catatan-catatan tersendiri. Dan bisa berjalan lancar, dari awal hingga akhir.
Soal ada hal-hal yang....sebaiknya begini, sebaiknya sih begitu, kenapa tidak begini, atau begitu, anggap saja sebagai sesuatu yang lumrah. Nobody’s perfect kan? Yang penting, publik datang berduyun-duyun untuk menonton, ikut menyanyi bersama, terlihat sebagian besar sukacita. Pulangpun tersenyum.
Saya pribadi bersyukur, memperoleh kesempatan terlibat dalam konser besar ini. Menjadi anggota dewan produser pelaksana, dengan spesifikasi job khusus. Mercenaries lagi, seperti biasa. Nah, karena main job memang ada, maka jeprat-jepret menjadi sampingan iseng saja, di sela-sela acara itu.
Pengalaman saya kemarin itu, seru deh. Tapi juga menyesakkan. Karena memang memotret hanyalah sambilan, maka tak terlalu memperhatikan keberadaan batere kamera saya, yang sebenarnya “terbatas”. Asyik motret-motret dari siang harinya. Lalai memperhatikan power tersisa di batere kamera. Alhasil, pas Sheila on 7 baru memulai giliran tampil;, batere kamera habis-bis! Langsung berhenti memotret. Apes dah!
Ya menyesakkan sih, lama tak pernah menonton penampilan Duta dan kawan-kawan itu. Lama juga tak memotret aksi panggung mereka. Begitu ketemu lagi, batere kamera tipis-pis, cuma bisa memotret mereka di “setengah lagu” pertama, dan tentu dengan jumlah jepretan sangat minim.
Akhirul kata, sampai jumpa di konser-konser berikutnya. Kita berharap XI Creative juga tetap akan meneruskan kiprah ke promotorannya, dan menghasilkan lagi ide-ide konser dahsyat lainnya. Dan semoga, akan memberi suguhan tontonan konser dahsyat yang lebih baik lagi dari konser kemarin itu.
Proficiat! /*

It is a good medicine to go to concert hall and forget the harshness of what’s going on. I can be a very positive thing. – Itzhak Periman




*Terima kasih untuk Dadang Nugraha, Kadri Mohamad dan kakak-kakak yang baik dari XI Creative, yang telah melibatkan saya di #5UPERGROUPinConcert.









Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...