Menonton dan Menikmati Joey Alexander, 12 November kemarin



Diundang menonton. Datang sukacita, senang karena bisa menjumpai lagi “the wonder kid”, eh ok he’s no longer kid anymore...  Menontonnya, menikmatinya. Lalu selesai konser, pulang dan kurang bisa tidur dengan nyenyak. Ah, masih kangen untuk lebih lama mengagumi kedewasaan si pianis remaja itu.
Pada tatanan bahasa gaul Kids jaman Now, disebut “kentang”. Kena sih tapi tanggung euy. Puas-puas ga gitu. Ada yang masih terasa, aduh harusnya sih bisa lebih terpuaskanlah. Tapi jangan diartikan, kecewa.
Kecewa kan ada juga levelnya, seperti restoran atau warung-warung sekarang, soal tingkat kepedesan cabe itu ada levelnya. Kira-kira kecewa, tapi bukan yang level tinggi. Ada sedikit kecewanya.
But overall, yang penting buat saya adalah alhamdulillah memperoleh kesempatan menyaksikan kembali dia. Dulu kenal dan terkagum-kagum, lihat beberapa kali, kenal cukup dekat juga dengan kedua orang tuanya. Waktu itu ia belum lagi 10 tahun usianya. Ini anak makannya apa, tidurnya berapa lama, nontonnya apa kalau di rumahnya, di sekolahnya suka pelajaran apaan sih, seneng olahraga ga sih?
Ya pertanyaan-pertanyaan usil yang berkembang kemana-mana, lantaran melihat kemampuannya dalam bermain piano. Dari dulu saja, terasa betul ia menapak jauh lebih cepat menjadi dewasa dari usianya sesungguhnya saat itu. Tentunya ini soal permainan pianonya ya.
Nah, apalagi sekarang! Apa sih yang “berubah”, tentu saja harapan saya pada konteks positif. Maklum, setelah ia dan orang tuanya memutuskan “hijrah” ke USA, setelah itu hanya bisa menyaksikan, mendengarkan dan mengagumi permainannya semata-mata lewat internet!
Dan 12 November, Minggu malam itulah akhirnya kesempatan bersua dengannya terjadilah. Ttitle konsernya kali ini menarik, A Night with a Million Imaginations. Yang mendatangkannya, pihak yang sama yang mendatangkannya ke Jakarta di tahun 2016 silam, pihak iCanStudioLive.


Konsernya tahun ini digelar di kawasan Tangerang Selatan, di ICE, dalam areal perumahan Bumi Serpong Damai. Sebelum konser utama, yang menampilkannya bersama trionya, penonton disuguhi penampilan tiga kelompok jazz muda, yang bermain di sebuah stage kecil di ruang dalam, sebelum main-hall.
Sebelum ia tampil, saya sudah mencoba mencari tahu dulu. Ya informasi singkat saja. Paling tidak, siapa yang akan menemaninya saat nanti itu. Adalah Dan Chmilienski, sebagai bassis. Lalu drummernya, Ulyess Owens Jr. Itu adalah trionya. Sebuah trio yang menjanjikan. Semua musisi muda!
Lihat saja, Dan Chmilienski.. Kelahiran 28 Desember 1993, mendukungnya sejak album keduanya, Countdown. Ia juga mendukung saxophonist cantik Adison Evans, dalam albumnya, Hero, dirilis 2016. Adison, adalah sesama lulusan Julliard School of Music dengan Dan, Saxophonis itu kerapkali mendukung penampilan Jay z, Demi Lovato dan Beyonce.
Sementara drummer, Ulysess Owens Jr, kelahiran 6 Desember 1982. Ia tampil mendukung bassis Christian Mc Bride dengan format bigband, dalam albumnya yang meraih Grammy Awards tahun 2011, The Good Feeling. Ia juga mendukung album dari penyanyi Kurt Eling, Dedicated to You, yang juga merah Grammy Awards di 2009.
Tahun kemarin Joey tampil di JIExpo Kemayoran, 22 Mei 2016. Ia waktu itu didukung juga oleh bassis Dan Chmilienski dan drummernya, JeffTainWatts. So, ada sedikit perubahan pada susunan formasi trionya.
Josiah Alexander Sila, dan kini lebih populer dengan nama Joey Alexander. Ketemu kemarin memang ia terlihat lebih “langsing”, tetapi tubuhnya menjadi lebih tinggi. Ia sudah remaja saat ini. Remaja muda, jenius tetapi memilih lebih suka disebut saja sebagai musisi, bukan prodigy (= anak ajaib).




Memang keinginan menyaksikan lagi dari dekat, secara langsung, Joey remaja beraksi, itu sudah bergejolak luar biasa. Kepengen tahu aslinya, bagaimana perkembangan musikalitas Joey. Bukan karena “meragukan”nya!
Bukan itu lho. Tetapi lebih pada, saya pengen memiliki juga pengalaman secara live dapat terpesona, mengagumi dan mungkin hingga terkagum-kagum dengan permainan pianonya. Juga atas karya lagunya yang dibawakannya sendiri.
Sebagai orang Indonesia, masak saya tak berbangga hati karena bisa muncul seorang anak-anak, pada awalnya, kini sudah remaja yang lantas ternyata mampu berbicara di pentas musik dunia. Apalagi memainkan jazz! Eits, walaupun soal jazz, ini ada plusnya dan ada minusnya.
Ok soal plusnya, Joey adalah pianis jazz yang sukses mengguncang publik atau dunia “industri” jazz, terutama di tanah kelahiran musik jazz sendiri,di Amerika Serikat itu. Orang Indonesia lho, membuat terkagum-kagum publik Amrik! Minusnya, ini ga enaknya sih, karena jazz adalah segmented. Apalagi untuk di Indonesia, tanah kelahirannya Joey.
Sedari tahun lalu, saat Joey akan melakukan pentasnya di Kemayoran itu, bersama pihak penyelenggara pernah saya utarakan agak ragunya saya.Shownya Joey, karena itu jazz, tetap harus hati-hati mengemasnya. Mengemas itu kan ujung-ujungnya adalah...penjualan tiket!
Padahal apa coba kurangnya, sebelum konser Joey tampil di ajang paling bergengsi industri musik dunia, Grammy Awards. Iapun menjadi nominator. Menjadi nominator Grammy lho, siapa artis atau grup band yang tak bermimpi sampai segitu. Hanya bisa mimpi!
Biarpun ada yang sudah mencoba berjuang untuk susah payah menembus keramaian musik USA. Baru sampai, bisa rekaman dan merilisnya. Dan belum berhasil masuk kategori nominator Grammy. Joey bisa. Bahkan sampai tampil juga.
Musisi Indonesia, ya sebut saja yang jazz juga, ada yang sudah nyaris tampil di setengah dunia ini. Rajin keliling ke mancanegara, tampil di puluhan negara. Tapi tetap, untuk tampil di Grammy, belum bisa. Bahkan untuk bisa membuat karya lagu atau albumnya, masuk menjadi nominator sekalipun.
Joey datang bisa dibilang sendiri, berjuang habis-habisan. Awalnya, tak ada sokongan apapun dari pemerintah, misal lewat instansi kementrian terkait. Orang tuanya berjuang, fight dengan berdoa saja. Yakin dan percayalah. Well, itulah kenyataannya.


Nah segala cerita-cerita “dramatis” di atas, kalau sudah menyenggol jazz ya, bisa “kurang berarti”. Maka dari itu, saya juga sudah menulis dan berbicara selama ini, festival jazz puluhan sampai sejauh ini tak lantas berarti orang Indonesia jadi seperti sudah “melek” jazz.
Tak berarti orang Indonesia sudah menyukai jazz banget. Bahkan kalaupun festival jazz sampai seratusan jumlahnya di seluruh Nusantara, tak akan berarti apa-apa. Malah jadi membingungkan. Lha, kok bisa? Walau toh kenyataan sudah membuktikan, sejauh ini saja nyaris setengah dari festival yang ada itu, sebetulnya sudah vakum. Cuma kuat bertahan dalam kurun waktu sangat terbatas, palingan juga 2 atau 3 kali penyelenggaraannya saja. That’s it!
Apa artinya, festival jazz di Indonesia akan mencapai 100 dalam 2 atau 3 tahun mendatang, kalau di Jakarta saja orang tak begitu antusias menonton seorang remaja nan fenomenal, Joey Alexander?
Eh tapi, saya berandai-andai sih. Terpikir juga. Kalau saja, pada kesempatan mendatang nanti, siapa tahu bisa tahun depan kan ya? Joey Alexander dibawalah keliling, masuk menjadi headliner terpenting beberapa festival jazz yang ada di Indonesia sini, di beberapa kota. Bagaimana?
Mungkin saja, akan mampu menarik antusiasme publik untuk datang menonton. Mungkin bisa dipilih 3 atau 4 saja festival jazz, yang ketahuan sudah terbilang mapan, terselenggara secara kontinyu dengan baik, sudah mampu mempunyai penggemar atau penontonnya yang terhitung setia.
Bisa saja kendala utama pada budget. Wajarlah kalau rate untuk performance-fee Joey Alexander terhitung tinggi. Bahkan, tinggi banget. Joey itu asli bintang jazz internasional saat ini. Ia itu menjadi headliner penting yang ditunggu-tunggu, di banyak festival jazz terkemuka di Eropa dan Amerika lho.
Kendala budget penyelenggara itu, ya dibantu dong sama pemerintah. Tentu melalui instansi seperti kementrian yang berwenang untuk itu. Pasti ada dana kan untuk itu? Kan ada dana untuk memberangkatkan atau membawa keliling kemana-mana seorang musisi jazz Indonesia, selama beberapa tahun ini? Bisa jadi akan terkesan aneh, kalau lantas tak bisa membawa keliling Joey dan grupnya, berkeliling tanah airnya.





Joey biar bagaimana adalah the phonomenon. Ia sangat berpotensi untuk menjadi satu “contoh” konkrit yang real, untuk memberi inspirasi pada anak-anak muda di tanah air. Bisa juga menginspirasi para orang tua, untuk memberi support pada hal positif, misalnya atas bakat ekstra sang anak? Artinya, dalam hal ini, bermusik itu positif adanya. Bisa jadi kebanggaan keluarga, bahkan hingga bangsa dan negara.
So, biar orang Indonesia, bukan mustahil kok bisa berbicara di pergaulan musik dunia. Dan memang sanggup meraih kesuksesan yang sejati. Joey kan sudah membuktikannya? Saya suka mendengar, beberapa teman belakangan ini bilang, ada juga anak-anak seusia Joey yang sama berbakatnya.
Dianggap, bakatnya itu tak kalah dari Joey. Bahkan ada juga yang menyebut, kalau dilihat-lihat malah anak ini lebih dahsyat dari Joey, pada saat Joey di usia semuda itu. Well, boleh saja. Ya mungkin saja benar. Tapi kan kesempatannya ya yang belum terbuka?
Mungkin kelak, Joey lah yang menjadi seperti pembuka jalan? Hari ini Joey dan kedua orangtuanyalah, yang memperoleh anugerah indah dariNYA. Tentu saja terbuka, di kemudian hari ada “Joey-Joey lain”. Kan bagusnya memang jangan hanya ada satu orang Joey Alexander saja, di antara lebih dari 200-an juta penduduk Indonesia.
Kembali kita ke konsernya Joey yang kemarin itu. Sebelum menyinggahi Jakarta, Joey tampil  di Jepang, 4 November. Lalu ke Hongkong, 9 dan 10 November. Sebelumnya, ia menyinggahi Singapura di 7 November 2017.
Dan kemudian tampil di Jakarta pada 11 dan 12 November 2017, di dua tempat dan dengan audience yang berbeda. Malam pertama Joey dan trionya tampil di kementrian pariwisata, dengan penontonnya adalah para undangan yang terdiri dari para menteri dan dubes-dubes negara tetangga dan negara sahabat. Malam kedua, barulah untuk publik.



Ia dan trionya bermain di sebuah stage lumayan besar yang berbentuk bulat dan diletakkan di tengah. Jadi tempat duduk penonton melingkari areal panggung tersebut. Tata cahaya terbilang minimalis, tapi cukup untuk menerangi penampilan di atas panggung.
Joey membuka penampilannya dengan membawakan lagu, ‘My Favorite Things’, yang diambil dari debut albumnya. Album yang lantas terpilih menjadi nominator Grammy Awards kategori Best Instrumental Jazz Album, My Favorite Things. Dan, Best Jazz Solo Improvisation atas lagu standard, ‘Giant Step’, karya John Coltrane yang ada di dalam debut album yang dirilis pada Mei 2015 tersebut.
Yang perlu diingat baik-baik, Joey saat itu menjadi nominator termuda dalam sepanjang sejarah penyelenggaraan Grammy Awards! Usianya kan baru 12 tahun waktu itu. Dan ia baru setahun bermukim di sana, di New York,
Lewat album keduanya Countdown, Joey juga masuk lagi nominasi Grammy Awards, untuk kategori Best Solo Jazz Improvisation. Dalam album itu, ia sudah didukung Ulysees Owens Jr, Dan Chmilienski. Selain itu juga Larry Grenadier, bassis yang juga bermain dengan Brad Mehldau dan Pat Metheny serta saxophonis Chris Potter, yang dikenal bermain dengan Dave Holland dan Dave Douglas.
Pianis belia yang oleh New York Times disebut sebagai, “child prodigy … the most talked-about one that jazz has seen in a while.” melanjutkannya dengan lagu bersuasana Bali yang berkesan riang. Nah baru 2 lagu nih, tapi kekaguman saya terasa sudah melambung begitu tinggi. Terkesima.
Kemampuan musikalitasnya betul-betul terasah dengan baik, salah satunya lantaran pergaulannya dengan para musisi jazz di sana tentunya. Keputusan orang tuanya, Denny Sila dan Farrah Leonora Urbach untuk memboyong sang putra tercinta ke “pusatnya jazz”, adalah hal tepat! Joey berkembang sangat pesat.
Saya merasa ia jauh lebih dewasa, sekaligus lebih cool dan deep. Agak sulit saya lukiskan dengan kata-kata. Kalau terlalu berindah-indah kata, malah jadi common sense lagi nanti. Tapi kenyataannya begitu.








Ia dewasa, dalam hal permainan. Makin matang. Tapi dalam pergaulan, ia tetap Joey yang saya kenal sejak sekitar 5-6 tahun lalu, saat ia masih berusia sekitar 8-9 tahun. Akrab dan hangat, menyambut setiap sapaan. Juga termasuk sapaan saya. Walau saya agak ragu juga, apakah Joey masih mengenali saya, karena sekarang rambut saya pendek banget! Hehehehe. Dulu kan Joey tahunya saya gondrong, jack.
Ia masih melanjutkan permainannya dengan lagu-lagu lain. Peran Chimmy, bassis. Serta juga Ulyess, drummer, nampak mendukung dan kuat melatari permainan piano Joey. Tari-tarian jarinya remaja yang kini berusia 14 tahun di atas tuts-tuts grand piano kelas premium berharga lebih dari 2 M itu, memang melenakan.
Ia menyuguhkan permainan yang ballad, lebih berasa dalam gitu deh. Ia mampu menyuguhkan permainan lembut, halus. Tapi di lagu lain ia bisa bergalak-galak, atau bermain agak liar. Sedikit mengingatkan kita akan pola khas permainan Thelonoius Monk, pianis legendaris itu.
Dan Monk, pianis legendaris kelahiran 10 Oktober 1917 dan meninggal dunia pada 17 Februari 1982, adalah salah satu inspirasi terpenting Joey. Ia mendengarkan karya dan permainan Monk, sejak masa awal ia mulai mengenal piano, dan yang bisa dibilang membuatnya menyukai jazz.
Sedikit belok lagi deh ya, kita senggol soal seorang Thelonious Spehre Monk. Pianis unik ini mempunyai identitas permainan piano yang berbeda, ditambah lagi ia termasuk produktif sebagai penulis lagu. Sekitar 70-an karya lagunya, pada masa kini menjadi lagu-lagu yang tergolong standard-jazz, yang dikenal oleh para pemusik jazz di seluruh dunia.
Beberapa karya apiknya yang unik antara lain adalah, ‘Blue Monk’, ‘Straight, No Chaser’, ‘In Walked Bud, ‘Ruby My Dear’. Dan satu lagu yang terhitung “fenomenal”, ‘Round Midnight’ (pernah ditulis juga sebagai ‘Round About Midnight’, setelah Miles Davis membawakannya dan merekamnya dalam album bertitel sama).
Lagu yang pertama kali direkam pada 1944 itu, lantas tercatat sebagai lagu standard jazz yang paling banyak direkam dan dimainkan oleh para musisi dimana-mana. Bahkan hingga sekarang. Menjadi salah satu lagu standard yang sangat disukai para musisi jazz.
Menurut Joey, Monk, he’s full of joy. sense of humour, shows in his music that he’s funny. Bagaimana dia memberikannya, ya memberikan begitu saja, itu yang memberi pengaruh pada musiknya, pada permainannya. Begitu komentar Joey soal sang idola, pada sebuah video.
Video tersebut adalah teaser dalam rangka memperkenalkan album terbarunya, yang adalah album ketiganya, Joey. Monk. Live. Album tersebut baru saja dirilis, pada September 2017 silam.
Dan setelah memainkan 5 lagu, diambil dari ketiga album yang telah dirilisnya. Eh 5 apa 6  lagu ya? Lalu Chimmy dan Ulyess turun panggung. Naiklah bassis dan drummer pengganti. Barry Likumahuwa serta Taufan Goenarso.
Selain itu  Joey juga memanggil dua penyanyi sebagai special guest star, Glenn Fredly dan Isyana Sarasvati. Mengalunlah ‘Zamrud Khatulistiwa’, yang kabarnya dipilih sendiri oleh Joey. Menarik saja, bagaimana menikmati Joey memberi apresiasi dan melakukan interpretasi terhadap lagu yang dipopulerkan oleh almarhum Chrisye itu.
Glenn menimpalinya dengan baik, begitupun halnya dengan Isyana. Sayangnya eh ada iPad di latar depan panggung. Ternyata iPad itu memuat lirik lagu yang “dicontek” oleh Isyana. Agak mengurangi keelokan penampilan lagu tersebut sih.
Iya, buat saya kan hanya 1 lagu itu saja. Apakah betul Isyana, tak bisa menghafalakn liriknya, dan sangat memerlukan bantuan iPad? Kalau menyanyi sambil melihat teks, bukannya mengganggu konsentrasi? Apakah Isyana grogi menyanyi dengan bintang remaja dengan “kaliber” Grammy Awards?
Menariknya, kabarnya jam session pada lagu tersebut betul-betul spontan dan seketika. Karena harusnya Joey bermain dengan trionya bersama Glenn dan Isyana. Tapi entah mengapa, Chimmy dan Ulyess ternyata tak jadi tampil memainkan itu. Aduh, bayangin saja kalau Isyana ternyata diiringi asli oleh trionya Joey ya, bertambahkah groginya?
Iya mencolek sedikit saja sih, toh demi kecantikan suara dan penampilannya juga adanya. Mohon maaf, kalau saja tak harus ada iPad, Isyana pasti tambah cantik, baik suara juga penampilannya secara keseluruhan...







Kemudian jam session dilanjutkan lagi. Kali ini dipilih lagu ‘Freedom Jazz Dance’, satu nomer standard  Kali ini tetap dengan bassis, Barry Likumahuwa. Namun drummer berganti dengan drummer muda, Dimas Pradipta. Sesi jammin’ masih berlanjut, kali ini hanya bertiga saja, tanpa drummer. Lagu yang dipilih Joey untuk dimainkan adalah, Black Bird’nya The Beatles.
Lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi muda nan jelita, Adinda Shalahita. Barry Likumahuwa tetap ikut bermain. Kali ini Adinda juga mungkin nervous, maka ia nyaris lebih banyak lebih memandang menyamping, ke arah Joey bukan ke arah penonton. Terutama penonton di arah depan panggung, dimana berkumpul penonton yang lebih banyak.
Setelah itu, saya berharap sesi jammin’ selesai. Dan konser segera memasuki final-session dimana akan ditutup oleh penampilan kembali Joey bersama Chimmy dan Ulyess. Kalau perlu nanti akan ada encore segala. Ternyata, boro-boro encore. Konser berakhir sampai di situ saja. Kelar sudah.
Buat saya, amazing tak ada sama sekali “protes” penonton. Tak ada teriakan...”more..more.”. Penonton langsung dengan tertib keluar meninggalkan gedung. Saya juga tak kuasa juga kalau lantas berinisiatif berteriak sendirian.
Well ya sudahlah. Segitu saja dulu untuk saat ini, “perjumpaan” saya kembali dengan Joey muda, yang tambah mature as a jazz-pianist itu. Akhir kata, Joey plis deh bisa balik lagi. Konser lagi. Tentu dengan menyajikan lebih banyak lagi lagu.... /*





Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...