Begini Cara Mereka Melakukan Reinterpretasi terhadap Al Jarreau



Wish I Knew
Why I’m so in Love with you
No one else in this world will do
Darling,please your love for me
Run waya
If I were wise I’d run away
But like a fool in love I stay
And pray,
Save your love for me....

Dan mendiang Alwin Lopez Jarreau pun menyuarakan lagi lagu emasnya itu.  Dan suaranyapun memenuhi ruangan. Menjadi sajian conditioning bagi para penonton yang ada, sebelum nanti dihidangkan beragam lagu-lagu yang telah dipopulerkannya sepanjang hidupnya. Lagu-lagu yang mewarnai jaman, dimanapun, di seluruh penjuru dunia.
‘Save Your Love for Me’ (Buddy Johnson,1955) itu menyusul lagu lain, ‘Wait for a Magic’ dan ‘Pleasure over Pain’. Tiga nomer standard ballad, yang secara “kebetulan” datang dan dikenal luas lewat satu album yang sama. Tenderness, dirilis 1994, dan menjadi album live paling populer dari mendiang, di seluruh dunia.


Adalah “komunitas” tak resmi. Karena belumlah resmi, maka saya pilih pakai tanda kutip. Begitu lho. So, komunitas ini memang kumpul-kumpul aja dan semua suka Al Jarreau. Penggemar beratlah, kira-kira begitulah.
Mengajak rekan-rekan musisi dan penyanyi. Yang diyakini, juga suka Al Jarreau. Paling tidak sih, pasti tahu lagu-lagunya almarhum AlJarreau. Kalau sampai ga tahu, ya ora ditowel toh. Ditowel doang, ga juga diajak?
Bro and sis, kita tinggalkanlah saja perkara towal-towel. Kembali ke panggung, eh ke acaranya. Maka acarapun lantas dibuka dengan....ah manis, syahdu, adem. Jadi ngantuk, pengen sandaran di bahumu...? Aha, so sweet!
Hans Marcus Bartels dengan suara berkarakter kuat, dan juga ekspresif, membuka acara dengan, ‘Morning’. Sapa pula tak pernah dengar, ‘Morning’-nya Al Jarreau? Lagu hits, yang dimunculkan di album Jarreau, yang dirilis tahun 1983. Lagu pas buat jadi backsound buka jendela kamar dan ruang tamu di pagi hari itu, adalah karya bareng Jay Graydon, David Foster dan Al Jarreau.
Hans Marcus sebagai penyanyinya yang impresif itu, didukung Devian Zikri sebagai saxophonis. Lalu Canga Anton, drummer. Ada Rizky Tenri, perkusionis. Kemudian duo kibordis, jadi bak “kakak-beradik” lain bapak lain pula ibunya, Dandy Lasahido dan Andy “Coklat” Gomez.


Janganlah lupakan, ada gitaris 607 band se Jakarta, Noldy Benyamin Pamungkas. Serta bassis groovier than not-groovy, Djoko Sirat. Komplit dah. Dan langsung suasana menjadi Al Jarreau bingits. Saatnya...bernostalgia!
Eh sebelum siap-siap brebesss miliiii bernostalgia, perlu diketahui ada bassis lain yang ikut mendukung acara ini. Zulkarnain Joel namanya. Kalau Noldy gitaris bandnya ada 607, maka Joel ini kira-kira ada 598 band-nya. Yes, jam terbang musisinya mah tinggi-tinggi,
Soalnya, semua musisi yang terlibat, kebetulan alumnus STTS. Apaan sih itu? Sekolah Tinggi Tinggi Sekali.... Eits, intermezzo dikit. Becandalah. Biar jangan terlalu serius membacanya.
Mengenang masa-masa indah di kala SMP mungkin Kalau SD kan, masih terlalu muda. Atau mungkin masa-masa SMA?  Pedekate ke sana, pedekate ke sini. Eh yang naksirnya sebelah belakang? Ya gitu deh. Aroma nostalgia, remembering your good old days pun langsung terasa.
Berikutnya, ‘Love is Waiting’ yang disuarakan penyanyi yang berdomisili di kota Bogor, Dika Aleandra. Makin mendamaikan suasana. Lalu menjadi damai dan adem saat, cewek satu-satunya di acara itu naik panggung, Netta KD. Netta membuai dengan, ‘After All’.


Restu Fortuna, penyanyi yang merupakan pentolan dari komunitas ini, iya karena dia salah satu penggagas dan motor utamanya. Ok Restu ditemani Diddi Agephe. Restu menyanyi, dan Diddi bermain kibor. Lebih tepat sih memberi suasana lain, soundscaping lah yang berbeda gitu. Lagunya, ‘Tell Me’.
Kehadiran seorang pakar eh tokoh musik electronic atau Electronica di sini, Diddi Agephe, makin menjelaskan arti Reinterpretasi sebagai salah satu judul acara ini. Oh ya kan judul acaranya 100 Hari Al Jarreau, Reinterpretasi.
So memang maksud dan tujuan utamanya itu, membawakan lagu-lagu hits Al Jarreau tapi ga harus mirip aslinya. Kenapa ga mirip? Al Jarreau itu adooooh....tiada tanding, tiada banding. He’s the greatest! One and only! Setuju dong?
Etapi emang kemarin persis 100 Hari meninggalnya Al Jarreau ya? Ga sih, ga persis-sis banget. Kan Al Jarreau berpulang pada 12 Februari 2017, maka 100 Hari setelah kepergiannya ya hanya beda beberapa harilah dengan tanggal pelaksanaan acara itu.
Ok lanjut. Kadri Mohamad giliran berikut. Lagunya, ‘Our Love’. Ahay, membuai lagilah pasti. Jadi inget masa-masa indah SMA, ke Blok M kali ya, Aldiron Plaza? Atau mana lagi, Ratu Plaza? Sebelum ke disko, mana ya, Le Mirage atau...Oriental? Hehehe.



Kan makanya reinterpretasi, jadi jangan kaget seorang rocker kayak vokalis Makara di 1980-an itu, Kadri Mohamad juga ikut tampil. Bagaimanakah seorang rocker “ditest” nih, bisa ga rada mellow yang ga terlalu menyeh-menyeh tapi....membuat hati terkulai.
Ada rocker lain, Doddy Katamsi. Menyusul naik panggung. Hah, rocker lagi? Yoa. Doddy bawain, ‘My Old Friend’. Lagu yang jadi bisa ingetin penonton sama guru yang baik hati, bijaksana dan sering memberi nilai-nilai bagus untuk murid-murid kesayangannya...
Bukan cerita tentang sahabat lama ya? Kok jadi guru? Itu sih terserah saja. Boleh kok, mana aja yang suka. Inget sama sopirnya bokap, yang senang hati mengantar kita pergipun boleh-boleh saja. Kok pake sopir? Biasanya sih, sopir nemenin tapi kunci mobil dikasih ke kita kan, lalu dia pindah tempat duduknya deh....
Dika naik lagi pada giliran berikut dengan lagu, ‘Closer to Your Love’. Abis Dika, lalu naiklah lagi, Restu Fortuna dengan, ‘Tell Me What I Gotta Do’. Sambung dengan, ‘Your Song’ yang dibawain juga oleh Kadri “Makara” Mohamad.



Eh Kadri kan grupnya sekarang, The KadriJimmo lho. Makara mah terlalu lawas! Ooops iya ya. ‘We’re in this Love Together’ menjadi sajian berikutnya, ditarik suarakan oleh Hans Marcus Bartels. Suasana nyaman, adem, pengen rebahan, pengen minum yang rada “hangat” deh jadinya.... Jaman dulu, kalau minuman rada hangat begitu apaan ya? Masak Mansion House atau Drum?
Teh panas manis dong, gulanya bisa tiga sendok! Gelooook! Netta yang termanis malam itu, yaeyaalaaaaah doski doang yang cewek pan kemudian bawain lagu, ‘Trouble in Paradise’. Disusul kemudian oleh, ‘I Will be Here for You’ dengan suaranya rocker 7 Years Later, Doddy Katamsi. Berikutnya, ada Restu dengan, ‘So Good’.
Tensi acara lantas meninggi banget dengan Restu ditemenin sama Netta, bawain ‘Raging Waters’. Karena lagu ini jadi sangat nge-dance gegara sukseslah dioprak-oprek Diddi Agephe musiknya.



Sampailah di ujung acara itu, dibawakanlah lagu, ‘Spain’ yang tenar be’eng itu. Spain yang karya Chick Corea itu, dibawain seluruh penyanyi dan penonton yang ada. Diajak nyanyi bareng deh, Tiwi Shakuhachi dan Ronni Waluya, yang sudah sudi datang menonton acara itu. Hatur nuhun ya, Tiwi dan Ronni!
Begitu deh isi dari acara yang diadakan di Lefty’s Suite, Foodism di Taman Kemang pada 18 Mei silam itu. Al is for Lover adalah sebagai penyelenggaranya, ya komunitas yang belum resmi itu.
Adalah Hendra Sinadia sebagai yang terdepan di Al is for Lover, memang fans fanatiknya Al Jarreau. Lalu Restu Fortuna si penyanyi yang mirip Al Jarreau itu....paling ga, warna kulitnya. Dan saya, ya saya mah supporter sajalah. Supporter paling depan sih. Saya juga senang Al Jarreau kok. Suwerrr.
Dan satu nama lain lagi, sebagai supporter utama acara ini. Yang bikin suasana venue jadi indah dan menyenangkan, warna-warni yaitu Lemmy Ibrahim. Lemmy juga menjadi bagian penting banget dari acara ini, karena dengan pasukan dan segala peralatan dari LemmonID-nya, jelaslah acara jadi keren euy! 





Berikutnya ada rencana untuk melanjutkan program model “Tribute to”, dalam hal ini Al Jarreau itu. Meneruskannya, ke venue yang lain. Mungkin dengan teman-teman penyanyi dan musisi yang lainnya.
Salah satu rencana lain, melanjutkan dengan show intimate juga yang lain, yang menghidangkan lagu-lagu hits jazzy tunes. Eits, kapan tuh? Aduh, buru-buru amat. Sabar, sabarlah. Nanti juga dikabari.
Karena enaknya kan, bikin acara buat teman-teman, yang musiknya itu kita sukai banget. Dan kita tahu, kita punya masa-masa indah "ditemenin" lagu-lagu yang akan dibawain itu. Jaman kita-kita usil, bandel dikit, iseng, tapi kreatiflah dan rajin ke sekolah...untuk bertemu tambatan hati! Hahahaha.... Bukannya belajar dong?
Ok ya. Segini saja dulu. Terima kasih buat yang sudah menonton./*








                                                                                                                         

Comments

Hans Bartels said…
Manteb..kita tggu Acara yg lain nya ya..sukses selaku..

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...