Fotos dan Tulisan Saya, tentang TP Bandung Jazz Festival 2016






Jazz dihidangkan di sebuah cafe or clubs. Ya, atmosfirnya berasa jazzy-na. Masuk sampai aliran darah dan urat syaraf. Kalau orangnya suka jazz, itu bakalan menyegarkan. Bak diguyur air dingin, di tengah perjalanan menembus padang pasir. Kira-kira begitulah....
Dan ketika kesegaran sudah didapat, pikirannya jadi jernih, bray. Ga perlu mencak-mencak ga keruan, tak perlu buang-buang enerji marah-marah ke kanan kiri. No need to loose your temper for...nothing. Lebih kalemlah. Santai gitu.
Bertemanlah sebanyak-banyak, itu kan jauh lebih bermanfaat. Dari pada memperbanyak musuh? Hehehehe. Ini ke arah mana sih perbincangannya? Ga kemana-mana kok. Seputaran jazz, teteup. Well, jazz itu juga bisa berarti kebersamaan, saling menghormati. Antara para musisi, dan penonton berinteraksi dengan para musisi. Nikmatnya!




Ya kenikmatan model begitulah, yang ditawarkan oleh sebuah hotel di kota Bandung, bernama The Papandayan. Hotel inilah yang lantas berinisiatif menyelenggarakan event festival jazz, sebagai program rutin setahun sekali. Mereka memanfaatkan ruang-ruang yang ada di dalam hotel, sebagai venue. Sekaligus ya so pasti, menjadi sarana akomodasi para performers. Klop dah!
Yang unik dan menarik, bukan lantaran festival digelar di dalam hotel saja. Tapi hebatnya, mereka berani menyelenggarakannya selama seminggu, 6 hari! Dari Senin, 24 Oktober sampai Sabtu, 29 Oktober,kemarin ini. Dari sore hari hingga tengah malam. Berbagai jazz dihidangkan, menjadi sebuah acara hiburan yang menyehatkan.
Memang konsepnya unik, menjadikan TP Bandung Jazz Festival, menjadi acara festival jazz terpanjang di Indonesia. Oh iya, itu nama festival tersebut. Menjadi acara lanjutan dari program rutin mereka seminggu sekali di weekend, yang kini berkembang menjadi 2 kali setiap minggunya.
Adapun program jazz reguler itu sendiri, sudah diadakan mulai tahun 2012. Dan mampu menarik respon positif para penggemar musik (jazz), tak hanya dari Bandung saja! Sementara event festivalnya sendiri, tahun 2016 ini adalah tahun kedua penyelenggaraannya.




Di tahun silam, saat penyelenggaraan perdana festival ini, sudah pernah saya tulis di website saya ini juga kok. Kalau ada waktu, sebagai tambahan referensi, untuk mengisi waktulah, silahkan dibuka-buka saja halaman lain dalam website saya ini.
Nah di tahun ini, The Papandayan (TP) juga secara resmi membuka venue mereka yang baru. Sebuah clubs jazz yang mungil, memungkinkan musisi dan penonton mendapatkan suasana lebih akrab, intim dan bersahabat. Nama venue itu, TP Stage. Dan TP Bandung Jazz Festival 2016, diadakan di venue baru itu.
Selain juga tetap memakai cafe mereka yang lain di lobby, Mirten Lounge.. Sebenarnya ada stage ketiga, di areal taman, di tengah hotel di areal dalam. Namun kemarin itu, venue ini terganggu dengan hujan. Setiap hari, hujan deras turun mengguyur Bandung, jadi venue open air itu terpaksa dibatalkan.
Festival ini digelar atas dasar semangat kebebasan untuk pembebasan, sekaligus semangat kebersamaan. Itu yang diutarakan budayawan senior Bandung, Aat Suratin. Sementara menurut musisi blues dan jazz senior Bandung, bisa disebut sesepuh musik kota kembanglah, Hari Pochang, festival ini sebenarnya terbuka luas untuk umum. Untuk semua kalangan.
Tambah kang Pochang, begitu panggilan akrabnya, festival ini kiranya dapat menghilangkan pembatas, di kalangan jazz. Ada pembauran, ada saling menghargai lebih intens dan menjadi arena yang sehat, untuk bergaul lebih dekat dan akrab. Kata Pochang lagi, ya arena-gaul antara para musisi, juga penontonnya.
Semoga saja, kami dengan festival ini dapat meminimalkan pembatas dan kesan terlalu eksklusifnya musik jazz kepada masyarakat, ditambahkan oleh Venche Manuhutu, gitaris dan tokoh pendidik jazz senior Bandung. Hari Pochang dan Venche Manuhutu, menjadi dua kurator festival dan sebagai partner pihak menejemen The Papandayan, untuk program jazz ini.



TP Bandung Jazz Festival ini sendiri tak hanya sebatas menggelar jazz-show, menampilkan para jazzer papan atas dan jazzer berbakat. Tapi juga ada acara pendukung lain seperti Diskusi Jazz, Klinik Jazz, Pameran Jazz. Tahun lalu, ada acara lain yang tak kalah menarik, pameran foto jazz.
Oh ya saya sendiri, diundang pihak penyelenggara, sebagai salah satu pembicara, pada acara Diskusi Jazz. Acara diskusi tersebut, menjadi mata acara terawal, acara pembuka festival. Diadakan Senin 23 Oktober siang, dimana ada juga pembicara lain seperti Nazar Noe’man (KLCBS Radio), Eq Puradiredja (ex Program Director Java Jazz Festival), Agus Setiawan Basuni (wartajazz), Riandi Kurniawan (jazzuality), Dwiki Dharmawan (musisi) dan Dwi Chaya Yuniman (komunitas jazz Bandung).
Bayangin, ada 8 pembicaranya! Padat betul. Waktu tersedia, memang terbatas. Nanti ya, saya akan tuliskan tentang diskusi itu, di artikel lainnya. Soalnya cukup menarik pembahasannya, walaupun saya sudah seringkali menuliskan persoalannya selama ini. Tentu saja mengenai jazz di Indonesia. Sebagai moderator adalah pianis cantik Bandung, Imelda Rosalin.



Sebagai acara pertama, setelah "Jazz-Talks" di atas itu, adalah Tribute to Ireng Maulana, dimana menampilkan JOC (Jeffrey Tahalele, Oele Pattiselanno, Cendi Luntungan). Didukung penampilan khusus dari putri almarhum Ireng Maulana, Andrea Maulana. Dilanjutkan dengan penyanyi kawakan, sekian tahun setia menjadi penyanyi andalan Ireng Maulana All Stars, Ermy Kullit
Pada kesempatan itu, diberikan pula plakat penghargaan bagi almarhum Ireng Maulana, apresiasi terhadap dedikasinya terhadap musik jazz di Indonesia selama ini. Plakat diserahkan oleh Bobby Renaldi, General Manager The Papandayan. Ditemani Hari Pochang dan Venche Manuhutu, dua tokoh jazz senior Bandung. Diterima oleh Tommy Maulana, yang adalah putra almarhum, mewakili keluarga.





Adapun selengkapnya pengisi acara TP Bandung Jazz Festival 2016 ini adalah, selain JOC (Jeffrey Tahalele, Oele Pattiselanno, Cendi Luntungan) dengan Ermy Kullit. Lalu juga Dwiki Dharmawan & His Quintet (Dwiki bersama Agam Hamzah, Adi Darmawan, Jeane AlsaPhialsa dan Eugen Bounty). Selain VMS Jazz Quartet, dan kelompok KSP.
Kemudan ada Yuyun George, Rio Moreno Latin Jazz Combo. Ada pula Tiwi Shakuhachi, Bluessteel feat. Erland “Wachdach” Effendi, Dennis Junio Gani Quartet (Dennis Junio, Adra Karim, Elza Zulham dan Doni Joesran). Lalu Boby Limijaya Quartet (bersama Echa Soemantri, Wesley Gerardo, Nathania Justin) serta Idang Rasjidi and the Red Code Management.
Pada hari berikutnya, tampil AFA Trio, 5 Petani, ini dua band berbakat dari Bandung. Lalu juga bibit muda berbakat lan dari Bandung juga, VMS Equinox. Selain itu tampil Yuri Mahatma dari Bali dengan quartetnya. Imelda Rosalin & Friends. Lalu tampil Indra Lesmana Keytar Trio serta Indro Hardjodikoro with Friends.
Tampil kemudian, pada hari berikutnya, Tjut Nyak Deviana Daudsjah Quartet. Lalu ada Indra Aryadi Ruang Akustik, SimakDialog, Like Father Like SonBenny Likumahuwa dan Barry Likumahuwa, Sri Hanuraga feat. Dira Sugandi, dan Ginda Bestari Quartet (bermain bersama Yance Manusama, Rayendra Sunito dan Harry Anggoman).
Nah,pada hari berikut, kbarnya tampil 57Kustik, Pineapple Corner, Blues Libre, Bonita and the Hus-Band, Jilly Likumahuwa Quartet.  Ada juga The Dauna’s, Trio Dion Janapria – Robert MR – Johanes Radianto, Otti Jamalus & Yance Manusama. Dan ditutup oleh kelompok session “new-generation of jazz” David Manuhutu, Dennis Junio, Demas Narawangsa, Jordi Walaerauw dan Zoltan Renaldi.
Pada hari penutup, Sabtu, pada daftar acara tertulis akan tampil Arie Juliant Folk, Straight Ahead feat. Arief Setiadi, Tanya Ditaputri, Syaharani ES;QIEF, Alex Sipiagin & Rhythm Section. Sebagai penutup adalah Monita Tahalea.




Saya berkesempatan menyaksikan langsung 3 hari pertama. Smentara pada hari keempat, sempat menonton sejenak, sebelum saya pulang ke Jakarta. Memang hanya mendapat kesempatan 3 hari saja. Maka di atas, saya tuliskan “kabarnya tampil”, karena saya tidak menyaksikan langsung.
Well, overall festival unik ini memang mengasyikkan sebenarnya. Walau mungkin, venue idealnya bisa sedikit lebih besar, agar lebih leluasa dan nyaman untuk penonton. Pilihan para performers, terbilang beragam, lumayan variatif. Dengan memberi tempat cukup lapang, bagi penampilan para musisi muda berbakat.
TP Bandung Jazz Festival ini, seperti mengembalikan sejarah musik jazz di kota kembang. Di era 1970-an sampai 1980-an, jazz di Bandung bergiat memang di lingkungan clubs yang ada di hotel. Sebut saja hotel Savoy Homan kemudian Panghegar dan Preanger. Yang kemudian berlanjut dengan Bumi Sangkuriang, yang menggulirkan program Jazz Break-nya.






Pada era itu, jazz cukup bernafas dan hidup dengan “cukup baik dan benar”. Antara lain ditokohi  Hasbullah, yang kemudian ditemani putranya, Elfa Secioria. Ayah dan anak itu, seperti kita ketahui bersama, sudah almarhum saat ini. Ada juga nama seperti Venche Manuhutu, sebelumnya ada Eddy Karamoy.
Eddy Karamoy, menurut catatan yang saya baca, berkeliaran di era 1950-1960an hingga 1970-an. Kemudian gitaris tersebut, lebih aktif di musik gospel. Almarhum Eddy Karamoy, antara lain bermain dengan Joop Talahalu, Leo Messanggani dan termasuk Sadikin Zuchra.
Kehidupan jazz di Bandung, pada masa itu, ikut digairahkan pula oleh stasiun radio. Salah satu stasiun radio yang ikut menggairahkan jazz adalah Radio Mara. Pada era 1980-an, diteruskan dengan stasiun radio KLCBS, sebagai “jazz-station”. Bahkan KLCBS, yang hingga kini masih bertahan itu, merupakan satu-satunya radio jazz di Indonesia saat ini.
Menarik kan? KLCBS itu satu-satunya radio yang memutarkan jazz sepanjang hari, didominasi musik jazz sajian playlist mereka. Di saat mana, saat ini Indonesia tetiba “diramaikan” lebh dari 50 festival jazz, di seluruh penjuru Nusantara kita.







Oh ya, yang seru juga dari penyelenggaraan festival jazz di dalam hotel bintang lima di Bandung ini, seluruh tim kerja pelaksana, diambil dari semua employee dalam hotel tersebut. Mereka langsung bekerja, sambil belajar menghandle sebuah festival musik, jazz dalam hal ini. Ini patut dipuji, berani soalnya! Dan mereka rata-rata terlihat bersukacita mengerjakannya...
Begitulah cerita dari ajang festival yang bersuasana adem, tenang, nyaman, homy, relax. Ga perlu takut pegal-pegal kelamaan, begitu biasanya kalau datang dan menonton festival jazz kan? Dalam ruangan soalnya nih, dengan berpendingin udara. Sound lumayan bagus pula. Kenikmatan jazz apalagi yang dicari?
Kabarnya, ada rencana ke depannya, festival ini bisa saja digelar di tempat-tempat heritage penting, di kota Bandung. Boleh juga rencana itu. Asal saja, jangan lantas hotel ini ditinggalkan. Maksudnya, biarlah venue dalam The Papandayan, tetap dipertahankan. Karena unik, tidak ada duanya selama ini di sini kan, dan memang lebih nyaman.
Ok then. See you next year. Semoga tetap terus bertahan. Memberi warna segar berbeda dari trend jazz-jazzan format festival di Indonesia saat ini. Trend yang sampai saat ini, tetap bikin saya kaget dan terpana.... Kok sampai terpana sih? Nanti saya tulis ya, pada lain artikel, di lain waktu. /
Jazz as Always.
/*











Thank you very much for d invitation and the facilities for me during my 3-days in TP Bandung Jazz Festival. Really appreciate!






Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...