Monday, March 20, 2017

Philosophy Gang, Lamunaj, Layala, Lahami dan la Vinyl


Tapi yang jelas, saya dari dulu tertarik dengan keberadaan DKSB alias Depot Seni Kreasi Bandung. Kayaknya ini komunitas seni yang seru banget. Rada mbeling, sedikit ngaco tapi asoy. Terkesan ngawur gimana gitu tapi pasti dan jelas.
Itu mah persis sang leader sendiri. Terkesan bandel banget, sering ngaco, ngawur.  Hampura, saya pernah omong ini langsung juga ke almarhum. Doski hanya ketawa lebar. Bukan marah, tapi malah ajak hayoooo kita makan dulu. Padahal baru 2,5-3,5 jam sebelumnya kita makan bersama lho.... Hehehehe.
(Silahkan buka deh website saya ini, pada Desember 2016, saya pernah tulis dan so pasti sudah di-upload di sini mengenai DKSB. Dari acara reuni besarnya di Bandung, waktu itu...)

Ya begitulah, kesan saya terhadap almarhum Djauhar Zaharsjah Fachruddin Roesli. Yang lahir 10 September 1951 dan berpulang ke rumahNYA pada 11 Desember 2004. Better known as, Harry Roesli. Yang sepeninggalnya, ternyata harta karun seabrek karya-karyanya, lantas memperoleh apresiasi dari khalayak.
Rupa-rupa bentuk apresiasi terhadap segala sepakterjangnya selama hidupnya. Tentu saja, salah satunya adalah mendengar atau memutarkan kembali, mendengarkan bersama karya-karya. Bisa juga semacam, berbagi dengar. Membahas lagi. Antar lingkungan tertentu, ataupun komunitas tertentu.
Ya belum jauh sampai masuk radio-radio sih. Televisi pun, mungkin bisa dibilang, masih terbatas-tas. Maklum, Harry Roesli memang, non-mainstream, sudah “dari lahir” kaliiii. Stigma, bahwa dia ada di luar pagar jalur utama musik hiburan, keburu di”pahami” sekian waktu.
Kalau sudah begitu, harap maklumi kalau stasiun-stasiun televisi rada enggan memutarkan lagu-lagunya, misal model apa ya, video kliplah. Demikian pula halnya dengan stasiun-stasiun radio “mainstream”, yang puyeng menyiasati memutarkan lagu-lagu yang digubah almarhum. Selain banyak yang berdurasi panjang, juga ga pop sih. Dikawatirkan mengganggu aktifitas para pendengar radio tersebut. Astaga!
Hahahaha, tidak begitu juga sih. Itu hanya candaan usil saya aja. Sama usilnyalah dengan almarhum. Kalau boleh saya ulangi cerita di tahun 2004, beberapa bulan sebelum ia kembali ke alam baka. Dengan usil, ia menunjuk saya menjadi liasion officer-nya, di acara Pentas Perayaan HUT Jakarta ke 475, dengan pentas 475 orang perkusionis di bunderah Hotel Indonesia.
Betapa tak usil, ia tahu saya sebetulnya ada di panitya inti. Saya ditunjuk menjadi talent coordinator di acara itu, dengan nantinya juga jadi bagian dari stage management, saat acara berlangsung. Harry Roesli sudah tahu itu. Tapi ia kepengen aja, saya yang mendampingi dia langsung!
Usilnya itu bikin saya geleng-geleng kepala. Juga keusilan,kebadungan, kengacoannya yang diceritakan keluarga, teman-teman dekatnya, kerabat yang mengenalnya. Dan asli bro, sayapun makin apa ya tepatnya. Terkekeh-kekeh sambil geleng-geleng kepala, elus dada dikit, menyisir rambut juga.... Apa sih?
Iya, gimana ga terkekeh-kekeh mendengarkan cerita mengenai rilis vinyl dari Gang of Harry Roesli, album Philosophy Gang di tahun 1973. Cerita tentang Lions Record, Robert Wong Jr. Piringan hitam yang ditumpuk di bawah tempat tidur besi. Juga menyenggol soal pentas-pentas awalnya Gang of Harry Roesli....
Jadi album perdana Harry Roesli, dengan Gang of Harry Roesli-nya itu memang berupa sebuah piringan hitam. Title-nya ya Philosophy Gang. Kemudian setelah hampir 45 tahun kemudian, dirilis ulang oleh kaum muda! Hebat euy, mas Harry!
Anaknya, Layala Roesli pun menyebutnya, selamat datang kembali Harry Roesli. Welcome back, father. Hehehehe. Betewe, aduh itu Yala Roesli, dari badan, potongan rambut, muka juga eh sampai cara celotehan mangkin aja mirip aslik dengan sang bapak!
Nah menyoal dari re-release vinyl album Gang of Harry Roesli itu, sudah menarik dari cerita awal. Jadi diceritain 2 original member tersisa dari grup itu, Indra Rivai (kibordis) dan Hari Pochank (harmonika). Setelah para pendukungnya yang lain tiada seperti Dadang Latief dan Janto Soedjono. Selain ya tentunya, Harry Roesli.
Menurut kang Indra, sejatinya album ini setau dia tidak dijual. Dibikinkan versi piringan hitam, tapi tidak dijual. Hanya disimpan, terutama dia yang kebagian jadi gudang. Jadilah, tumpukan piringan hitam album itu masuk di kolong tempat tidur besi di kamarnya.
Setiap ada temannya datang,masuk kamarnya, lihat tumpukan vinyl itu. Pasti tanya, itu apa. Ia kemudian akan bertanya, mau ga? Kalau mau, ya ambil saja. Jadi kayak begitulah. Dikasih-kasihkan saja ke yang mau. Selan dibagi-bagikan ke penonton, waktu mereka manggung.
Begitu ceritanya. Sampai ya habis saja. Mungkin juga, tambah kang Indra, ada yang ambil diam-diam ya bisa jadi sih. Habis deh. Cerita berkembang jadi lebih unik lagi, Indra pun ga punya vinyl itu. Beberapa tahun lalu, ia berminat untuk memilikinya. Cari-cari info deh, anaknya yang diberi tugas.
Dapat dong! Sudah tanpa sampul pula. Dan harganya, ia terbelalak. Terkagum-kagumlah. Gimana ga, lha ia harus membelinya seharga...750.000! Lucu dong, album itu jadi “harta karun” ternyata puluhan tahun kemudian! Dengan bandrol harga,oho mengejutkan!! Padahal dulunya, tidak dijual, hanya dibagi-bagiin....


Rezeki buat para pedagang vinyl sekarang deh jadinya. Kabarnya, di pasaran, harga vinyl itu sekarang sudah mendekati angka 900.000. Alamak! Ade nyang beli? Kalau ga ada yang minat sih, harganya pasti dong ga setinggi itu....
Lebih seru lagi denger cerita satu ini. Rekaman di Musica Studio, Jakarta. Yang edarin Lion Records, Singapura. Adalah Rendy dari Lamunaj, pihak yang “berjibaku” untuk menerbitkan ulang vinyl ini. Anak muda bray. Gigih dan kreatif. Cinta tanah airlah, so pasti!
Rendy, atas saran pihak keluarga Harry Roesli , menelusuri keberadaan Lion Records itu. Sampai Singapura! Karena harus bisa memperoleh izin resmi, daripada ada problem di kemudian hari kan? Apa yang didapat? Perkiraan alamat kantor Lion Records di Singapura itu ternyata toko. Dan ditelusuri lagi, dari dulu memang toko. Ga ada kantor record label...
Menurut Yala dan Hami, ada info, pemilik dari Lion Records itu adalah teman baik dari kakek mereka. Tapi ya itu teman lama banget. Dan ajaibnya, selepas merilis Philosophy Gang, eh Lion Records-nya pun tutup.
Jadiiiii, siapakah Lion Records dan Robert Wong Jr, yang kabarnya adalah pemiliknya? Ada ga sih, dan siapa mereka? Hari Pochang sambil tersenyum lebar bilang,mungkin itulah hoax pertamakali di sini. Hahaha.
Daripada bingung untuk memahami misteri di atas itu, lebih lucu kalau menelusuri dan memahami apa candaan Yala Roesli. Memang Lamunaj yang dapat akhirnya merilis, karena kan sama dengan kami, anak-anaknya Harry Roesli. Layala dan Lahami! What a coincedence....



Cerita misteri Lion Records itu ada korelasi dengan cerita lain dari Indra Rivai  Sebelum album dibuat, mereka main beberapa kali. Selalu mereka dapat bayaran. Sebenarnya, cerita Indra, ga terlalu jelas memang mereka dibayar? Undangan, main di acara yang gimana ya, yang bikin biasanya teman mereka juga.
Tapi selalu, abis main, Harry Roesli membagi-bagikan honor. Indra lanjutkan, nah ga jelas. Ini kita itu dibayar atau Harry aja yang rogoh koceknya sendiri dan kasih uang ke kita?
Lalu hubungan dengan Lion Records? Kenapa rekaman malah di Musica Studios Perdatam, atas ijin koh Amin, pemiliknya. Tapi diedarkan label Singapura? Dengan tambahan, catatan perjalanan record label dari Singapura itu juga ga jelas sebenarnya....
Misteri memang. Misteri itu kenyataannya membawa nikmat. Nikmat bagi para pelaku alias pe-de-ge di pasar vinyl atau tepatnya,vinyl-vinyl 2nd hand. Sebuah cara unik berbagi dari seorang Harry Roesli, bahkan saat ia sudah tiadapun....
Urang mah angkat topi deui, mas Harry. Ya mas Harry teh selalu punya cara unik, nyeleneh, ngaco tapi asyik. Bahkan ketika itu catatan masa lalu,dan kini jadi cerita menarik di antara teman-teman yang masih ada sekarang. Dan bikin yang mendengar, terutama generasi sekarang ya, tersenyum.
Sementara tersenyum-senyum sendiri, mungkin kalau ada temannya ya berpandangan, saling lempar senyum. Padahal juga, teu ngerti. Siapa sih Harry Roesli itu? Padahal juga, baru tahu isi debut albumnya Harry Roesli. Hehehehe.

Yang mana isi album itu sendiri, sebagian besar spontan di dapat di studio saat rekaman berlangsung. Hanya ada 2-3 lagu, yang sempat diketahui para musisinya sebelum direkam.Selebihnya mah, spontanitas.
Ada cerita selipan dari Hari Pochang, Harry itu juga dia amati, sering dapat ilham dari kamar mandi alias WC. Tetiba ia bisa diam-diam masuk kamar mandi. Keluar dari kamar mandi eh dapat ide.  Sebagian lagu di album itu, datang dari Harry dengan cara begitu itu.
Lalu menyoal isi musiknya. Album tersebut, bisa dibilang memuat lagu-lagu yang tak biasa. Maksudnya ya, bisa dibilang ga dikenal di sini. Cerita Indra dan Hari Pochang, ketika orang-orang muda jaman itu dengerinnya Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin gitu. Harry mah memilih mendengarkan Gentle Giant, Frank Zappa dan sejenisnya.
Tapi, tambah Hari Pochang, bukan berarti musik lain ga didengerin atau ga disukai. Harry juga tahu dan menyimak The Beatles. Tapi dia lebih banyak mendengarkan yang lain-lainnya.
Dari video teaser, yang sempat ditayangkan sebagai pembuka acara, ada quote dari Glenn Fredly. Harry Roesli itu ya kayak ga ada di rock, jazz, blues dan lain-lain. Ga jelas betul ia dimana, Harry seperti ya tersendiri. Ia satu-satunya kayaknya yang begitu,di sejarah musik kita.
Sebagian kalangan, terutama kaum kritikus musik mengatakan musik Philosophy Gang sangat kontemporer. Atau avant garde. Sangat “di luar yang biasa terdengar”. Pada mencoba mencari istilah pas, dari isilah “standard betul”, musiknya ribet, aneh, ajaib, susah dimengerti, ga gampang dicerna en sebangsanya....
Kalau buat saya mah, ah saya kan bukan kritikus musik. Ya lucu aja, ikut menilai gimana musiknya. Karena buat saya, secara kebetulan pernah juga mengenal cukup dekat almarhum Harry Roesli, ah sudah aja.Mas Harry itu usil, nyeleneh, mbeling, badung, nakal.
Semua itu tercermin dari musik-musiknya, pergelaran-pergelaran atau konser-konsernya. Juga termasuk dari celotehan dia, di radio sampai di televisi. Bahkan juga dari becandaannya langsung, ketika ngobrol dengan dia. Bahkan ngobrol berduapun, mas Harry tetap saja usil dan badung. Badung dalam melawan pemerintahan waktu itu, era orde baru.
Ya juga sama badungnya dengan...kegilaannya untuk makan! Kadar gula tinggi, bahkan tinggi banget, ia tetap saja cuek. Tak terlalu ambil pusing dengan hal itu. Pola makan tetap terus saja... ya badung itu!



Sekedar merunut ke belakang, sebagai tambahan gambaran dari album ini. Saya ingat, di saat itu, yang mainin rock dengan lagu bikinan sendiri, nyaris ga ada. Harry pede aja. Lawannya waktu itu kan, grup-grup pop macam Koes Bersaudara atau Koes Plus deh, The Mercy’s juga kali ya dan Panbers? Mereka grup pop semua.
Pop yang sebenarnya, kalau di atas panggung, bisa ngerock juga. Sementara grup-grup rock domestik masa itu, lebih memilih membawakan lagu-lagu cadas milik band-band luar negeri ternama. Cover version band lah, kira-kira begitu deh isitilahnya.
Dan grup-grup rock lokal, waktu itu, terutama kayak di Jakarta, dibesarkan dari party-party rumahan. Acara-acara pesta di rumah, dengan alat band, jadi hiburannya ya live-band. Mereka pastinya,bawain lagu-lagu luar yang nge-hits dong.  
Lha tetiba musisi Bandung yang mahasiswa tehnik ITB ini muncul dengan album yang berisi lagu-lagu sendiri. Dengan musik yang ajaib, seperti tiada batas gitu. Apalagi lantas disusul dengan berikutnya,pergelaran Rock Opera segala!  Itu lho, Rock Opera Ken Arok. Disusul ada Titik Api dan yang lain-lain.
Sebelum kemudian muncul Guruh Gypsy di Jakarta, di Bandung sebenarnya juga muncul hampir bersamaan dengan Philosophy Gang, yaitu kelompok Shark Move. Iya, dulu ada God Bless juga, tapi ingat aja God Bless era awal itu, sampai tahun 1990-an ya, banyak membawakan lagu-lagu karya luar.
Bandung melahirkanlah sosok seniman besar, baik karya maupun fisiknya, Harry Roesli. Dan lantas Jakarta memunculkan Guruh Sukarno Putra disusul dengan Yockie Suryoprayogo. Itu secuil ilustrasi “bebas”, pandangan saya deh.

Oh iya, acara rerelased-party dari Gang of Harry Roesli, Philosophy Gang diadakan Jumat kemarin. Tepatnya tanggal 17 Maret di auditorium SAE Institute, Pejaten Barat, Jakarta. Berisi talkshow dengan moderator Wendi Putranto, redaktur dari majalah Rolling Stone.
Para pembicara adalah David Tarigan, Khemod “Cerah Hati dan Seringai” yang menamani kang Indra Rivai, kang Hari Pochang. Serta si kembar, Layala dan Lahami Roesli. Vinyl versi rerelease itu diproduksi oleh Lamanay. Diramaikan dengan performance spesial dari kelompok Rumah Musik Harry Roesli serta duet Gang of Harry Roesli yang tersisa itu, Indra Rivai dan Hari Pochang.
Vinyl dari rilis ulang Philosophy Gang kemarin itu dijual, dan dilepas perdana dengan bandrol 350.000. Peminatnya lumayan, karena sebagian penonton yang hadir, langsung menyerbu counter penjualan vinyl tersebut.
Nah beberapa tahun terakhir,mungkin sekitar 10-11 tahun-an ini,kira-kira deh ya, memang menarik banget. Dikarenakan adanya semacam gerakan untuk peduli dengan musik Indonesia di masa lalu. Masa lalu yang “tak terhingga”. Sehingga lantas menjadi bentuk pelestarian juga adanya.
Dasar dari pelestarian itu tentunya adalah, kecintaan. Yang dimulainya dari menyolek dulu, kepedulian. Bersama-sama mencari-cari, mengumpulkan, mendengarkan bersama-sama.
Gerakan itu, yang langsung maupun tak langsung, membangkitkan minat publik untuk memperhatikan lagi bentuk rilisan piringan hitam. Di masa sekarang lebih suka disebut vinyl. Mungkin dikarenakan, album-album rekaman masa lalu, sebagian besar direkam dalam format piringan hitam itu, atau kaset.
Compact disc atawa cakram rekam mah belum ditemukan. Blue-ray? Yeeee, apalagi itu. Mp3 juga belum dikenal kan ya? Hehehe. Dan memburu vinyl dari album langka itupun, menjadi sebuah aktifitas baru yang seru, bagi sebagian orang. Belakangan muncul satu demi satu, orang yang menjadi kolektor.
Kolektor itu cem-macem. Kalau yang terkait musik, baik yang hanya membatasi pada musik Indonesia saja atau juga mengkoleksi rekaman musik luar negeri. Format kaset, atau vinyl. Dulu, tahun 1960-1970an ada juga dikenal format cartridge, sebagai wadah untuk “mengumpulkan” rekaman musik.
Pada akhirnya, waktu bergerak terus, lalu format vinyl juga menjadi tujuan untuk musisi atau penyanyi yang baru merekam album di masa sekarang. Mulai deh, satu demi satu rekaman vinyl album barupun, mewarnai pasar musik kita. Menemani format cd dan juga kaset, dimana kaset juga mulai diperhatikan lagi.
Bersamaan dengan rilisan vinyl grup band atau penyanyi masa kini, juga diikuti rilis ulang vinyl-vinyl bersejarah. Yang bikin tambah menarik scene rilisan vinyl ini, harganya bisa mengejutkan banget.
Bukan sekedar terkejut, juga terksima dan terkagum-kagum. Kenapa, harganya bisa saja dianggap, aduh di “luar nalar”! Harga itu betul-betul “pasar” yang menentukan. Pasar itu siapa? Semacam “perkongsian”lah, antara supply dan demand, atawa penjual dan pembeli.
Rilis awal bisa saja 250.000-an atau 300.000-an. Begitu “ludes”, alias animo pasar ternyata hangat betul. Polanya bisa begini,”barang” lenyap sesaat dari pasar. Ya kan, ludes disikat pembeli? Tetapi kemudian muncul lagi, tentu dengan bandrol harga “baru”. Bisa saja langsung dua kali lipat harganya, yang pelan tapi pasti merangkak naik terus seperti...”tak tertahankan”.
Jangan kaget ada vinyl yang dibilang “sangat langka”, saat ini kalau “beruntung” bisa mendapatkan, bandrolnya bisa sampai 1,5 juta-an! Catet ya, itu hanya terjadi untuk rekaman lokal alias Musik Indonesia lho. Ada yang beli memangnya?
Ga terlalu jelas bener, adakah yang mau merogoh kocek lebih dalam sampai segitunya? Oh ya, pemasaran yang membuat geleng-geleng kepala karena bandrolnya itu, diramaikan pula dengan kenyataan lain.

Kenyataan bahwa produk rekaman musik kita itu, diminati pula oleh fans fanatik musik tertentu di luar negeri! Seperti cerita David Tarigan, ia pernah ke Inggris, membawa vinyl Philosophy Gang. Di sana, ia sukses menjual 2 vinyl album itu yang dibawanya, yang hasil penjualannya itu bisa “menjamin” hidup beberapa hari tambahan di sana.
Selain juga, ia masih bisa memburu rekaman vinyl lain. Unbelievable ya? Silahkan geleng-gelengkan kepala, goyang-goyangkan telapak tangan, lompat-lompat kecillah...ikuti irama. Dan, terkejutlah! Aih!
Ya ada keseruan selalu, dengan sebuah pergerakan baru. Tetapi, pergerakan untuk membuka-buka lagi khasanah musik Indonesia di waktu lalu, menjadi seperti napak tilas perjalanan sejarah musik Indonesia. Yes, sejarah bro! Artinya, tentu baik dan perlu diberi apresiasi.
Ada komunitas macam Irama Nusantara ataupun Suara Disko, perlu dihargai dan dicermati. Karena sebagian penggeraknya justru anak-anak muda masa sekarang. Atau, pda akhirnya “pasar” yang tertarik malah anak-anak muda di masa kini. Bagus dong!
Kenali dan, kalau bisa, cintai musik-musikmu sendiri. Baru menyukai dan aware dengan musik-musik mancanegara? Ya kira-kira begitulah mungkin. Ga papa kok untuk suka musik-musik luar, lha namanya juga itu soal selera.
Tapi dengan mengetahui dan bisa ikut menghargai, at least mengetahui sejarah musik negeri sendiri, rasanya sih positif dan perlu. Itu dulu yang penting. Soal “jual beli” vinyl, itu perkara berikutnya. “Turunan”nyalah gitu.
Karena kan, selain tetiba “membangkitkan” lagi piringan hitam, juga ikut membangkitkan lagi kaset. Masalah utama sih pada player atau alat pemutarnya. Toh, player-nya ternyata yang buatan baru juga mulai bermunculan di pasar.
Vinyl bisa disebut “mainan baru tapi lama”. Tapi dengan vinyl akhirnya kan, Harry Roesli bisa dihadirkan lagi. Kabarnya, Lamunaj berniat untuk berikutnya merilis beberapa album karya almarhum Harry Roesli lainnya. Titik Api dan Ken Arok misalnya.

So, generasi muda mudah-mudahan akan lebih tergerak untuk lebih menghargai dan mencintai apa yang pernah dihasilkan para musisi Indonesia kita ini, di masa-masa lalu.
Ketika mendengarkan Noah, D Masiv, SOG, The KadriJimmo, OMNI, sampai apa lagi ya? Ya termasuk kala menyimak GIGI, /rif, bahkan juga Slank, bip. Nah dulu tuh ada Gang of Harry Roesli, Abbhama, Iwan Madjid, Yockie Suryoprayogo, Chrisye.
Nanti-nantinya mungkin akan ada juga Rara Ragadi, Makara, D’Marszyo, Cynomadeus. Ya untuk menyebut sebagian kecil saja di antaranya. Nama-nama yang pernah memeriahkan musik Indonesia kita ini. Yang tentunya, memiliki juga kontribusi ide dan inspirasi, bagi musik-musik masa kini. Setuju ga?
Kalau setuju, silahkan nikmati kopimu. Sruput pelan-pelan kopi hitam, tanpa gula lebih baiklah. Dan pasang turntable atau cassete player nya. Bayangkanlah masa-masa lalu. Masa kecil kek, atau jaman kakek-nenek kita muda dulu.... Dan sembari menebalkan rasa kecintaan terhadap musik bagus negeri sendiri.
Salam Musik Indonesia!/*










Sunday, March 12, 2017

Catatan Iseng dari JJF 2017 dan Chick Corea



Ini sekedar catatan kecil lah. Mungkin bisa juga dibilang, catatan panggir. Pinggir sebelah mana? Pojokkanlah, dekat tembok, depannya ada jalan ke toilet. Dekat banget sama penyejuk ruangan, yang segede lemari pakaian itu lho.... Hehehehe.
Iya setelah tahun silam, saya tak mampu hadir menyaksikan Java Jazz Festival. Macam-macamlah alasannya.  Tapi yang terutama adalah, ah apalagi sih kalau bukan....isi dompet kelewat tipis! Jauhnya lho, Bintaro ke Kemayoran. Membayangkannya saja sudah pegal linu, bro!
Lalu alasan lain, entah ya saya merasa Java Jazz Festival itu sudah kelihatan daya magnetnya. Paling tidak sih untuk saya pribadi. Kehilangan magnet karena tadi itu, isi dompet terbatas? Tapi kalau magnetnya kuat sih, perkara isi dompet kan bisalah diakal-akalin. Ya kan?
Kalau ingat ya, waktu awal-awal Java Jazz Festival (JJF) itu, waktu masih di Jakarta Convention Centre, Senayan. Atau tahun-tahun awal di areal Jakarta Fair Kemayoran, waduh semangatnya itu! Semangat pejuang kemerdekaan 1945-an, mungkin kalah. Siap sedia deh untuk tempur 3 hari 3 malam. Berangkat aja emoh kalau terlalu sore.
Waktu itu rasanya, hati ini tak hendak kehilangan momen-momen “sangat nge-jazz” selama 3 hari itu. Saya sampai menyebutnya dengan senang hati, The Most Jazziest Weekend! Akhir pekan paling nge-jazz lah dalam hidup ini. Taelaaaa!
Ada sahabat saya menyebutnya, Hari Raya Jazz Indonesia. Ya saya setuju saja. Tapi ini 3 hari coy, hidangan jazznya aneka rupa. Segala ada, bisa dibilang, ah nyaris ada deh. Mana mungkin bisa terlewatkan?

Kalau bisa ya, semuanya ditonton, kudu dipotret. Jangan sampai terlewatlah. Kelewat,menyesal seumur jagung. Eh, seumur hidup. Antusiasku itu luar biasa deh. Well, soalnya kapan lagi nonton jazz terlengkap, kalau bukan di Java Jazz Festival?
Bagaimana mau mengaku, penggemar jazz, kalau nonton JJF aja ogah? Masak sih penggemar jazz, lha JJF aja ga mengerti...  Pamali, bro en sis. Segala dewa-dewi jazz, penyanyi dan pemusiknya, bisa tersenyum lebar kalau kita tidak meluangkan waktu nonton festival terbesar di Indonesia itu lho. Ngakunya penggemar jazz gettoooo, JJF dilewatin aje! Hehehe.
Sampai segitunya ya? Iya gitu deh sebagai ilustrasi ya. JJF itu arena dapat hiburan jazz maksimal, referensi yang luas juga. Dapat objek-objek foto bagus, asal rajin bergerak saja. Kemudian juga, ya arena bersilaturahmi, sekaligus reunian. Biasanya bisa ketemu teman-teman lama, yang mungkin lama tak jumpa.
Itu deh romantikanya JJF. Lebih “romantika”nya ya, daripada Jakjazz, yang suasana format festivalnya itu berakhir di akhir 1990-an. Tapi eh biar gimana juga, Jakjazz kan memperkenalkan saya dengan sebuah suasana festival jazz beneran, yang pertama kali bisa dirasakan di tanah air sendiri.  Edan aja, Indonesia bisa bikin festival jazz!!!

Waktu ada JJF lantas terkagum-kagum juga, ini kagak kalah gokilnya nih. Lebih gede lagi dari Jakjazz. Bisa nonton Gino Vanelli, James Brown, Jamie Cullum dan bayak nama-nama gede jazz dunia, yang lebih lebih ngejazz, lainnya.
Tahun ini datang deh ke Kemayoran. Itu juga lantaran diajak sahabat baik saya sih. Asli, udah dikasih tiket gretongan, bisa numpang boilnya pula, pergi dan pulang. Nikmatnyaaaa. Ah,masak harus berpikir panjang lagi?


So, datang di Hari Ketiga. Lalu nontonlah Monita Tahalea. Penyanyi cewek jelita, teman baik juga. Pengen lihat lagi performancenya. Oh ya itu juga karena ada Windy Setiadi, yang pemain akordeon. Ceritanya, saya dan teman saya itu, diundang khusus Windy juga.
Iya Windy, via sebuah whats app group bilang, nonton gw dong sama Monita Tahalea. Monita tuh, tetangga gw sejak lama, tapi gw ga pernah tahu lho! Baru tahunya, ya pas rencana mau main bareng di JJF ini. Astaga, Windy!
Monita tetap cantiklah. Motretnya enak. Ada Joseph Sitompul pada piano, Indra Perkasa pada akustik bass. Lalu Jessilardus Mates, drummer. Dan gitaris, lagi kembali jadi gitaris nih, Gerald Situmorang. Monita tampil menyenangkan.
Ah sudahlah, tak hendak rasanya mengomentari, dan sok melakukan review mendalam kali ini. Saya tuh cuma pengen menonton dengan manis. Santai. Kalau bisa juga memotret. Udah ah, itu saja. Beres!
Dari Monita, kemana lagi ya? Ini nih, kami itu bingung sebenarnya, karena jadwal acara kan ga pegang. Saya jadinya berempat. Dengan teman-teman baik, Kadri Mohamad dan Hayunaji. Satunya lagi, satu-satunya perempuan, ini sih teman terdekaaaaaaattt be’eng, Tyas Amalia Yahya.

Eh saya bilang,ini kalau sampai ga lihat Chick Corea, aduh...bisa hilang sebagian kenikmatan hidup ini! Bayangin, nama itu sudah ditunggu-tunggu sejak JJF pertama di 2005! Kagak bisa datang juga. Ditunggu-tunggu. Eh baru lah bisa nongol di 2017 ini. Oho!
Nonton pertama kali dulu banget. 1985. Ballroom Mandarin  Hotel. Itu tahun-tahun terawal saya jadi wartawan musik. Pas banget saya mulai suka dengan Chick Corea, gegara Return to Forever-nya. Eh itu jaman sebelum Chick Corea Elektric Band lho.

Ngantri sih, lumayan juga. Ah sebodolah. Yang penting nonton Chick Corea lagi, setelah 32 tahun! Apalagi ini dengan Elektric Band-nya, yang mulai reunian lagi. Sempat baca sebelumnya, memang Chick Corea sengaja mengumpulkan lagi teman-teman mainnya di Elektric Band, untuk main bareng lagi. Jalan bareng tour dan rencananya, katanya, akan ada album baru.
Gimana kalau saya akan ceritain tersendiri soal ChickCorea Elektric Band Iya nanti, jadi akhir tulisan ini aja ya. Soalnya, memang spesial sih. Aduh, nonton lagi Chick Corea tuh....sesuatu banget lah!
Ok then. Dari Chick Corea kamipun beranjak cari-cari kemana nih enaknya. Tau-taunya kami bersepakat,lihat Eva Celia deh. Belum main. Kami duduk santai saja, sambil tunggu mereka tampil. Dan, Eva yang kian cantik itu, tampillah.

Anak-anak muda semua, band pengiringnya. Begitu mudanya, sampai satupun musisi pengiringnya, ga ada yang saya kenal! Asyik banget. Dan Eva, ah makin cantik! Secantik ibunya! Iya, karena perempuan ya cantik. Masak mau dibilang, Eva seganteng bapaknya??
Eva wah trully talented. Jadi inget dengan ibunya dong. Ibunya sempat bertemu dengan saya sebelum Eva tampil, kami saling menyapa dan bersalaman. Jadi inget, bahwa saya kan yang memotret cover album sang ibu dari Eva Celia Lesmana itu, Sophia Latjuba, di akhir 1980-an Pemotretan di  lakukan di kawasan marina, Taman Impian Jaya Ancol.
Iya jadi mengikuti jejak sang ibunda. Cantik, model lalu main film. Begitulah Eva. Eh iya, main film, lalu menyanyi! Sang ibu kan sempat menghasilkan beberapa album rekaman.Nah 2 album terawalnya, foto di covernya saya yang motretin tuh. Baguslah pastinya....Hahahaha. Muji diri sendiri deh.

Abis itu, eh tepatnya sih Eva belum kelar shownya. Tapi kami berempat sepakat, untuk melanjutkan ke panggung yang lain. Berhenti sesaat menikmati ice cream. Kemudian menengok penampilan teman baik saya yang saya suka gayanya! Hehehe. Simon Marantika dengan Laid This Night-nya. Yang didukung oleh barisan tiup! Keren, keren. Soul bercampur bluesy gitu.
Di panggung yang sama itu, sebelumnya saya sempat menyaksikan sesaat penampilan dari drummer muda, Muhamad Rafi. Nama bekennya dulu, Rafi theBeat. Ia didukung para musisi muda handal. antara lain, yang saya kenal ya, ada Donny Jusran, Adra Karim dan Robert Mulya Rahardja.

Lalu saya begitu mengetahui akan ada Dewa Budjana dan Zentuary nya di salah satu pangung, langsung mengajak ketiga teman seperjalanan saya untuk nonton. Bukan apa-apa deh, Budjana itu memang temen baik sejak lama banget.
Saking baiknya, doski itu suka complain berat, kalau saya ga menonton penampilan dia dengan bandnya. Eh beneran. Suka nyinyirin saya lah di sosial media gitu. Kayak saya ga pernah mau menonton dia. Hahahaha.
Padahal aduh, ini aja langsung jadi prioritas lho. Harus nonton Budjana! Begitu masuk, eh udah main. Budjana tampil dengan format bandnya persis saat launching party album Zentuary nya di Tebing Breksi, Yogyakarta, pada akhir November 2016.
Irsa Destiwi, Rega Dauna, Saat Syah, Martin Siahaan, Shadu Rasjidi dan Demas Narawangsa. Itulah para musisi, sebagian besar musisi muda berbakat, yang diajaknya mendukung pementasan albumnya itu.
Budjana, aduh ga usahlah diceritain lebih detil ya. Bagaimana mainnya, lagu-lagunya apa. Kesan saya bagaimana. Pokoke, apik rek. Lanjuuuut dah. Kemana lagi dong? Bingung juga sih. Yang jelas, ya saat itu terlewat deh, untuk nonton Tohpati Bertiga. Juga Dwiki Dharmawan Pasar Klewer.






Aduh kok ya kelupaan.Iya, saya dan teman-teman yang baik hatinya, dan dulu rajin ke sekolah itu, sempat nonton juga Sergio Mendez lho. Iya mengenang masa muda dengan, apa lah ya. Samba yang menggoyang, khas Sergio Mendez itu. Sergio Mendez dengan grupnyapun sempat membawakan, ‘Never Gonna Let You Go’, yang populer bangetlah di tahun 1980-an....
Terakhir, itu sudah mendekati jam 11.30an gitu deh. Kamipun memutuskan menonton penampilan spesial dari Iwan Fals! Penting nih, soalnya sudah lama juga tak pernah lagi melihat penampilan Iwan Fals di panggung. Apalagi ini di acara festival jazz!
Seperti yang bang Iwan juga katakan dari atas panggung, ini pertama kali dirinya dan bandnya main di JJF. Main di sebuah festival jazz. Terima kash sudah mengundangnya. Lalu, nah serunya, sampai-sampai Iwan Fals dan bandnya, ya mencoba nge-jazz juga.
Seru sih, tapi kayaknya sebenar-benarnyalah ya ga perlu-perlu amat untuk susah-susah ngejazz.
Saya dan teman-teman mah siap-siap aja nonton Iwan Fals dan band, ya dengan musik mereka. Yang rada ngerock, sedikit bluesy juga. Lagu-lagu balada, yang terkesan rada nasionalis, atawa heroik. Penuh semangat menyala-nyala. Kritik sosial. Ya kayak gitulah.

Iwan tetap didukung 2 musisi rock, yang dikenal sebagai personil El Pamas. Itu lho, grup rock 1980-an asal Pandaan, Jawa Timur. Yaitu gitaris Otot Lewet alias Totok Tewel. Dan kibordis, Eddy Darome. Eh nyelip juga deh, drummer cewek mungil nan manis, Jeane Phialsa. Apa mungkin, Alsa khusus diajak, biar bisa ada “warna jazz”nya sedikit deh? Hanya bang Iwan dong yang tahusoal itu.
Tapi penampilan Iwan sebagai penutup JJF hari terakhir, cukup sukses. Pas juga sebagai penutup. Karena juga JJF memang saban tahun kok, tetap mengundang nama-nama yang notabene bukan jazz, atau datang dari genre musik lainnya.  Penampilan Iwan Fals makin istimewa, karena yang buka saja, adalah Ketua Umum Pappri, Tantowi Yahya lho!
Kemarin itu, Tantowi Yahya masih di Jakarta, dan masih jadi Ketua Umum Pappri. Barulah empat hari kemudian, kemarin ini, ia menyerahkan jabatannya kepada Ketua Umum Pappri yang baru, Hendropriyono. Tantowi sendiri segera siap-siap berkemas, untuk cabut ke Auckland, karena akan menjadi duta besar Republik Indonesia, di negeri Kiwi, Selandia Baru itu.




Begitulah JJF 2017 selayang pandang. Kami sejatinya memang rada hemat tenaga. Tak terlalu memforsir, untuk bisa menonton lebih banyak panggung. Secukupnyalah ya. Maklum deh, stamina nih. Hihihihi. Umur kan makin banyak lhoooo.

Dan seperti yang saya utarakan di atas, saya pengen secara khusus menuliskan mengenai Chick Corea Elektric Band nih. Chick Corea, kibordis yang menjadi salah satu ikon penting pergerakan fusion jazz di era 1970-1980an. Itu era awal, munculnya apa yang disebut sebagai musik fusion. Salah satu “sub-sub genre” dari jazz.
Sekedar menengok ke belakang, inget-inget deh. Chick Corea untuk para jazz lovers di sini, dikenal setelah Al Jarreau membawakan lagu karyanya, ’Spain’.Iiih emang begitu. Orang kenal dulu lagu itu lewat tarikan suara Al Jarreau, baru kemudian publik luas tahu, bahwa itu sbelumnya dibawain oleh Chick Corea.

Chick Corea memang kemudian lebih populer lagi, karena kelompok yang didirikannya itu, Elektric Band. Kebetulan munculnya juga di era pertengahan 1980-an, tahun-tahun dimana musik jazz atau fusion atau ya jazzylah, lagi lumayan populer di sini.
Kalau sebelumnya,publik yang senang jazz-jazzan, kenal duluan dengan Uzeb dari Canada itu. Ya juga, tentunya, Casiopea dari Jepang, yang lebih fenomenal lagi. Popularitas Casiopea itu, di sini ya, disamai oleh Level 42.Juga kemudian ada Mezzoforte.
Itulah grup-grup fusion yang paling populer di era itu. Ya ada lainnya, siapa misalnya ya. Shakatak? Ya bisa, tapi masih di bawah nama-nama yang saya sebut di atas itu. Kalau  Earth, Wind and Fire atau Real Thing? Eh itu sih bukan jazzlah, mereka lebih ke soul, funk dan ngepop, juga nge-dance gitu.
Selain nama-nama penyanyi macam Al Jarreau, Gino Vanelli dan Michael Franks, publik jazz lovers memang cukup mengenal grup-grup tersebut.Nah, bisa deh dibilang, Chick Corea itu nama yang apa ya, lebih “serius”, lebih jazz. Lebih kompleks musiknya?
Kalau dibandingkan Casiopea, tentu saja Chick Corea dengan Elektric Band-nya bisa dibilang, lebih serius. Coba aja denger grupnya sebelumnya, Circle. Tapi jaman Circle, Chick Corea belum populer di sini.
Sementara dengan grup legendarisnya, Return to Forever pun,nama Chick Corea belum terlalu dikenal. Uniknya, banyak orang yang kenal duluan Elektric Band baru lantas, tahu dan jadisukadengan Return to Forever. Padahal dalam sejarahnya, jelaslah Return to Forever duluan ada.

Armando Anthony Corea, begitu nama lengkapnya. Ia lahir pada 12 Juni 1941, di Chelsea, Massachusetts, USA. Namanya di sejarah musik dunia, dikenal lewat keterlibatannya dengan Miles Davis, di akhir dekade 1970-an. Karena kan album-album Miles Davis yang fenomenal kayak Filles de Kilimanjaroo,  In a Silent Way, Bitches Brew, pemain kibornya adalah Chick Corea. Corea menggantikan Herbie Hancock saat itu.
Nah Return to Forever, yang dibentuknya tahun 1970-an awal, adalah grup kedua yang dibentuknya setelah Circle. Circle lebih ke jazz, apa yang berkonotasi “real-jazz”. Sementara RTF,lebih cenderung pada bentuk fusion yang berlandaskan pada latin jazz. Itu sebetulnya menjadi ciri dari Chick Corea.
Ok bukan saatnya saya menulis panjang lebar tentang sepak terjang seorang Chick Corea. Langsung deh ya ke era 1980-an. Saat mana lantas Chick Corea membentuk Elektric Band itu. Album perdananya dirilis 1986, yang bertajuk nama bandnya.
Oh ya ketokohan seorang Chick Corea itu dipertegas dengan tak kurang dari 22 penghargaan dari Grammy Awards yang telah diberikan kepadanya. Selain ada 63 nominasi! Dari yang pertama kali, di 1976, ia mendapatkan  Best Jazz Instrumental Perfomance, Group dengan No Mystery, bersama Return to Forever.

No Mystery tercatat sebagai album kelima dari grup yang berisikan para master jazz. Selain Cick Corea, sebagai founder dan leader, ada Al Di Meola (gitar), Lenny White (drums) dan Stanley Clarke (bass). Sebelumnya, dalam RTF itu ada juga suami istri Flora Purim dan Airto Moreira.
Udah dah udah, beneran nih loncat ke 1980-an. Chick Corea Elektric Band, 1986. Dengan, ‘Rumble’ dan ‘Elektric City’ atau, ‘King Cockroach’. Itu tiga lagu yang lumayan dikenal di sini, bisa disebut yang “memperkenalkan” nama Chick Corea, kepada para penggemar jazz “baru” di sini.
Album kedua adalah Light Years dirilis setahun kemudian, dengan antara lain, ‘Light Years’, lagu yang dikenal dari album tersebut di sini. Lantas, apa yang dibawakan oleh Chick Cirea Elektric Band kemarin di JJF 2017?

Sebelumnya ya, grup ini dikabarkan akan melakukan reuni memang. Selengkapnya ya. Dengan Dave Weckle sebagai drummer, Frank Gambale, gitaris. Bassisnya, John Pattituci. Dan juga Eric Marienthal, sebagai peniup saksofon. Tapi pada saat jelang ke Jakarta, ternyata dikabarkan bassisnya adalah Nathan East.
Kemana John Pattituci sih? Tak ada keterangan resmi apapun, yang menjelaskan kemana Pattituci, apa kesibukannya sehingga ia tak bisa ikut ke Jakarta. Hingga akhirnya muncul Nathan East sebagai penggantinya. Mendengar nama Nathan East, sungguh membuat publik yang tahu Elektric Band penasaran deh.
Gini nih, sesungguhnya Nathan East pernah bermain bareng Chick Corea, dalam album Family, dari flutist, Hubert Laws di sekitar tahun 1982. Terakhir, Corea diajak mendukung album Nathan East, Reverence yang dirilis pada tahun ini juga. Corea mengisi kibor untuk lagu, ‘Shadow’.


So sebenarnya bukan hal “baru” deh ya kalau tetiba Nathan East, bassis Fourplay yang diajak Corea kali ini. Mungkin semacam “program berbalas-balas ajakan”? Tapi emang kenapa dengan Pattituci? Mungkin saja mood-nya belum dapat lagi dengan Elektric Band? Maklum kalau dilihat dari official-websitenya, ia tengah sibuk dengan John Pattituci Electric Guitar Quartet dan berlanjut dengan, trionya yang baru, Children of the Light.
Mari kita kembalike atas panggung JJF. Tepatnya di hari Minggu, 5 Maret 2017. Chick Corea Elektric Band membawakan beberapa lagu, di antaranya ‘Beneath the Mask’ dari album berjudul sama, yang dirilis sebagai album kelima, tahun 1991.. 
Mereka juga menyuguhkan ‘Silver Temple’.(Chick Corea Elektric Band, 1986)  Sementara sebagai tembang pembuka adalah lagu dari album Eye of the Beholder,  ‘Trance Dance’.
Album Eye of the Beholder dirilis tahun 1988. Album tersebut, dirilis setahun sebelum Chick Corea membuat Chick Corea Akoustic Band, bersama John Pattituci dan Dave Weckl.  Mereka juga memainkan,  ‘Jocelyn The Commander’ dari album To The Stars, yang adalah album terakhir Elektric Band, dirilis 2004.
Penampilan Chick Corea and Elektric Band ditutup dengan,’Got a Match’, salah satu lagu yang lumayan populer di sini di era pertengahan 1980-an. Lagu karya Chick Corea sendiri itu, diambil dari album perdana dengan title nama bandnya, Chick Corea Elektric Band, dirilis resmi 1986.
Penonton relatif puas dengan penampilan Chick Corea malam itu. Lumayanlah ya, akhirnya kan muncul juga, salah satu ikon terpenting fusion jazz dunia. Memang tak ada lagu ‘Spain’ tentunya. Juga tak ada apa lagi ya, ‘Rumble’ dari album perdananya itu.



Saya pribadi sih merasa puas kok, bisa menonton lagi Chick Corea dari dekat. Menikmati sound keyboardnya yang khas itu, selain itu lho permainan drumsnya Dave Weckl yang tetap keren dong. Tight, penuh syncop yang “mengejutkan”, fill-fill yang “menggairahkan.
Maka saya bisa pulang dengan suka hati. Akhirnya bisa menonton lagi JJF deh. Pulangnya, kami pun isi perut di kawasan Pecenongan deh. Masak mau ceritain lagi, soal acara makan tengah malam kita berempat itu? Sudahlah.
Cukup sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

Wasalam/*