Tuesday, April 4, 2017

Ramondo Gascaro dengan RAJAKELANA


RAJAKELANA, adalah sebuah perjalanan selebrasi Mondo Gascaro. Tentang segala eksplorasi, kekebasan, penjelajahan musik, tentang hijrah. Bagaikan perjalanan angin, yang menempuh jutaan kilometer, yang meniupkan kabar baik ini sampai jauh....akhirnya, ke laut. Musim kemarau....
Itu di atas saya adalah semacam reinterpretasi saya saja, terhadap tulisan dalam press-release yang saya terima. Iya, iya bukan begitu sih tepatnya. Yang di atas itu sudah masuk pemahaman saya sendiri, yang membungkus apresiasi, dengan secuil keisengan. Biar enak dibaca oleh teman-teman yang suka membuka, memperhatikan, membaca website saya.... Jahil! Ga kok, iseng tepatnya.
Ok Mondo Gascaro adalah Sore. Bukan pagi, apalagi siang. Juga tak sampai malam. Sore adalah sebuah grup band muda yang pemunculannya, lumayan mendapat tempat di hati para penggemar musik muda usia. Band indie, salah satu yang terdepan, dengan keunikan semua personilnya bermain kidal.
Saya sendiri, eh tepatnya pernah berduaan, bertiga juga, sudah menyaksikan performa Mondo Gascaro di atas panggung. Anak muda ini, dengan raut muka rada oriental,oh dia berdarah Jepang ternyata. Sama dong! Sama dengan orang-orang lain, yang juga punya darah Jepang mengalir dalam sebagian darahnya maksudku.

Saya membuka cover album RAJAKELANA nya. First impression, apa lagi “raja kelana”? Eh ternyata, diambil dari syair lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa’ lho. Ah, cerdiknya. Rajakelana, jangan dipisah sih, berarti angin tho? Wind inspiration?
Angin keras, diiringin hujan atau sepoi-sepoi membelai kulit tubuh, menerbangkan ringan rambut? Selonjoran di tepi pantai? Matahari pagi banget, berjemur, sunbathing. Dengarin walkman gitu? Walkman? Sangat 80-an...!
Tetapi begini, di kala mendengar track pembuka, ‘Naked’, suasana sound pembuka saja memang riak ombak tepi pantai gitu. Nyaman. Dan tak hanya sampai di situ sih. Saya tuh terlena sebetulnya lebih pada pilihan sound keyboardnya. Dan itu “memperkuat”, eh tepatnya mempermanis mungkin ya? Ya, itu menurut kuping dan hati saya ya.
Irama dalam album, bak “Irama Lautan Teduh”. Ahay, semacam program Hawaiian Senior di TVRI Tahun 1970-an? Saya pilih, ini menurut hati, pengalaman, pola pikir dan tentunya kuping saya, soundnya membawa saya ke suana 70-80’s. Early 80’s. Sound khas musik jazzy yang American gitu.


Teristimewa pada pilihan sound keyboardnya. Mondo, di satu kesempatan di atas panggung, pernah bilang ia memag juga terinspirasi pada Steely Dan. Tahu Steely Dan ga? Itu lho grupnya Walter Becker dan Donald Fagan. Band yang sudah berdiri sejak 1970-an, lalu secara tak diduga eh ketiban Grammy Awards di tahun 2000, dengan album Two Against Nature.
Apa lantas berarti Steely Dan mirip Mondo, aduh kebolak, Mondo “mengambil” warnanya Steely Dan? Secara kreatif, dan itu wajar-wajar saja, saya bisa saja setuju. Saya sih menangkapnya, ada suasana Steely Dan. Tapi tak mendominasi.
Abis itu balik dengerin albumnya ya. ‘Dan Bila...’, lebih sedikit naik temponya. Menarik juga dan bikin saya, tak bisa tidak, harus mendengarkan track berikutnya nih. Oh ya, eh ada lagu sebelumnya, ‘A Deacon’s Summer’. Lirik Inggris. Santai. Di sebuah bungalow tepi pantai, buka botol bir yang dinginnya maksimal, kayaknya....klop nih. Ah, seventees bingits, jack!
Sambung dengan suasana lebih mellow, ada suara timpani juga lamat-lamat. Eh itu timpani apa floor tom diameter besar? Suara flute dan trumpet, bikin pas buat leyeh-leyeh, menikmati pemandangan jalan. Lho, udah ga di tepi pantai lagi? Kapan jalannya? Maksudku, boleh aja, mau di tepi pantai kek, di tengah perjalanan juga kek, asyik....
‘Strum und Drang’, bahasa Jerman dari Strom and Drive, adalah track berikutnya. ‘Into the Clouds, Out of the The Ocean’ yang ada suara Alexandria Deni, mantan member dari The Monophones, grup pop asal Yogyakarta,menjadi lagu berikut.
Tracks selanjutnya ada, ‘Oblivion, Oblivion’, ‘Butiran Angin’. Sentuhan mendayu nan lembut, menyejukkan dengan ‘Lamun Ombak’ bersama vokal dari Aprilia Apsari, dari White Shoes and the Couples Company. Dan lagu pengunci, ‘Nyender’...beneran pas buat nyender di late afternoon, tepi pantai, ditemani beberapa botol bir kosong sambil memandang deburan ombak...
Ah musik yang santai. Ada nuansa apa sih, soft rock ya? Sedikit touch electronic-rock 70’s gitu. Berbalutkan “selimut” ballad, jazzy, tropical-music. Buat saya, ada kesan eksotisnya, cantiknya, sedikit menggoda, agak-agak manja. Tapi memang cukup memberi suana tertentu, dalam situasi tertentu.
Misal gini deh, seperti yang telah saya kemukakan dengan gambaran di pinggir laut itu di atas. Bisa bikin bir menjadi lebih dingin, artinya lebih nyessss membasahi tenggorokan. Pegal linu di betis, tempurung dan pergelangan kaki, setelah lelah menyusuri pantai seharian, bisa terobati. So, bikin rileks lebih maksimal.


Oh ya ada beberapa nama memang yang membantu terwujudnya album ini. Dari Bonita Adi, “nyonya besar” nan baik hati dari Bonita and the Husband yang bersuara emas itu. Jay Afrisando, saksofonis dari kota Jogjakarta. Kemudian Petrus Bayu Prabowo (bass), Belanegara Abimanyu (perkusi), Lafa Pratomo (gitar) dan Dimas Pradipta (drums).
Menurut rilis yang saya terima langsung dari Ramondo Gascaro, begitu nama lengkapnya, albumini dimulai dengan single, ‘a Deacon’ Summer’. Single dirilis 20 Mei 2016. Single itu langsung merampas perhatian publik, pun juga para pemerhati musik Indonesia serta media massa. Berlanjut dengan rilis versi digital album pada 25 November 2016.
Dan pada 21 Januari 2017, versi fisik atawa compact-disc album RAJAKELANA pun dirilis resmi. Kabarnya, album ini juga akan dirilis sebuah label, Production Dessinee, untuk wilayah Jepang.
Mondo, kelahiran Jakarta 22 Agustus 1975 ini, menjalani proses yang lumayan seru dalam menggarap solo albumnya ini. Kabarnya, tak kurang dari 10 studio rekaman, menjadi tempatnya untuk tracking, atau pengisian rekaman ini.
Sebelumnya, Mondo dengan Ivy League Music-nya, telah membuka serial rilis solo album ini dengan merilis ‘Saturday Light’. Sebuah single yang dirilis secara digital pada Agustus 2014. Itu berarti, 2 tahun-an setelah Mondo pamit mundur dari grup bandnya, Sore. Lalu diikuti single b-side, ‘Komorebi’, di awal 2015.
Lumayan berliku proses yang dijalani putra dari pasangan Tripartito Haroyo dan Yoko Oshika ini. Dan memang menarik untuk mengamati sepakterjangnya, dimana publik nampaknya cukup sabar menunggu rilis album suami dari Sarah Ayu Utami ini.
Mondo yang ayah dari Joao Komorebi Gascaro, Jaime Petrichora Gascaro serta Janeiro Oshika Gascaro ini, mungkin memang menyerap dengan “baik dan benar”, apa yang pernah dialaminya dalam hidupnya. Baik darah Jepang-nya,dimana ia menyelipkan instrumen khas Okinawa, Sanshin, di lagu ‘Butiran Angin’ misalnya.
Pun juga suasana apa yang di atas saya sebut soft rock, macam retro-sound 70’s to early 80-an, apa yang banyak dibunyikan musisi di Amerika. Kabarnya, pernah bermukim di negeri paman sam tersebut.
Eh bikin saya tuh jadi teringat film-film seri yang diputar di TVRI di masa kecil dulu, misalnya apa ya, Baretta. Apa lagi ya, inget-inget dulu nih.... Baa Baa Blacksheep, Barnaby Jones, Mannix, The Jefferson’s, Mork and Mindy atau Odd Couple. Ya film-film Amerika, movies series 1970-an gitulah.

Satu ketika saya juga pernah tanya ke Mondo, musik apa yang kira-kira cukup nyangkut lama di hati dan pikirannya.Menjadi semacam ide-ide dasar dari konsep bermusiknya, yang tertuang di dalam albumnya itu.
Mondo menyebut antara lain, The Beatles yang pasti. Lagu dengan sound khas tahun 1970-1980an seperti, ‘Antonio’s Song’ nya Michael Franks atau ‘Your Song’ nya Elton John, juga cukup nempel. Mungkin karena lagu-lagu seperti itu, didengerinnya sejak masa kecilnya, terus menerus. Tentu dari keluarganya.
Mau tanya beberap hal lainnya. Tapi ah nanti saja deh. Saya simpen saja dulu, nunggu waktu Mondo tak terlalu sibuk.....
Pemunculan Mondo memang tak pelak, memperkaya khasanah musik Indonesia.Memberi alternatif bunyian yang lain lagi. Ga terlalu baru, tapi saya berani menyebutnya punya potensi untuk memperoleh semacam kekhasan yang unik.
Saya suka, karena Mondo Gascaro, seperti banyak musisi muda lain yang berani tampil lewat jalur indie,menyodorkan tawaran alternatif musik segar. Secara ide, perlu dipuji. Dan harus dipuji atas keberaniannya menyebarluaskannya ke publik.
Publik terkesan, jadi suka. Cukup sukses untuk mulai nyantel di hati. Musiknya sekilas terasa sederhana. Sederhana di sini, maksudnya ringan untuk masuk dalam telinga. Kemudian membuai. Kan seperti yang saya bilang di atas tuh, bikin tambah rileks.
Jadi pengen nonton lagi...BJ and The Bear atau.... Grease? Atau apa lagi ya, Fame? Eh, joged-joged di atas meja dong, atau dance groups era masa sekolah taon 70-an..... /*



Monday, April 3, 2017

Lagu dan Musik Asyiknya Nakedsouls Project....


“Awalnya proyek band ini berangkat dari ide saya dan sahabat baik saya ini untuk membuat album rekaman yang berisikan lagu-lagu orisinal. Kami sadar banyak teman-teman musisi kami yang sudah memiliki band tetap, jadi kami memutuskan untuk membuat ini menjadi sebagai project yang di supportmereka, tanpa harus mengikat mereka menjadi anggota band permanen. Maka terjadilah Nakedsouls Project,” jelas satu dari duo ini.
Kelompok baru ini memang bertumpu pada keberadaan duo, yang telah menjalani persahabatan puluhan tahun lamanya. Adalah The Rolling Stones, beserta rock and roll yang mengikat erat mereka satu sama lain. Untung, mereka sejenis!
Kalau saja, beda jenis, sangat boleh jadi ujungnya bukan cuma sebuah album rekaman. Tapi jangan-jangan altar pernikahan? Aha. Yes, kedua pria yang kesannya rumahnya jauh banget dari barber shop, atawa salon ini, telah main bareng sejak dekade 90-an. Adalah kelompok bernama Ulique, yang memainkan lagu-lagu alternative rock, yang mempertemukan mereka saat itu.
Sedari saat itu, mereka nampak nyambung. Hatipun terpaut, dengan selera musik satu sama lain, juga dengan permainan gitarnya. Mereka makin matched ketika merekapun sama-sama menyukai The Rolling Stones..

Ok, yang satu Glenn Sinsoe. Ia lebih banyak yang menulis lagu, selain bergitar dan bernyanyi. Saya malah lebih mengenalnya sebagai “orang panggung” nih, terutama di Jakjazz International Jazz Festival. Oh ga usah heran, ia adalah keponakan dari tokoh jazz legendaris, almarhum Ireng Maulana, notabene memang penggagas dan motor utama Jakjazz.
Memang waktu mengenalnya dulu, saya sudah mendengar kabar selentingan, Glenn juga musisi. Seperti juga saudara sepupunya, Tommy Maulana, putra dari almarhum Ireng Maulana. Tommy juga saya mengenalnya leway Jakjazz. Keduanya gitaris, bukan jazz, tapi rock! Begitu deh gosipnya.
Nah sahabat karib sehati, sepenanggungan, seia-sekata itu adalah, Coki Sitompul. Pemuda ini saya mengenalnya memang gitaris. Rokenrol gaya tampilan, juga permainan gitarnya. Kalau Glenn juga menyebut beberapa grup lain, yang memberinya inspirasi dalam bermusik, macam Yes dan Genesis. Nah kalau Coki Sitompul, dari dulu hanya menyebut satu nama, ya Jagger en Richards dengan The Rolling Stones nya itu.

Saya mengenal Coki sejak pertengahan era 1990-an lah kira-kira. Saat ia mendukung grup Yuke Sumeru Band. Dari saat itu, saya mulai suka dengan permainan gitarnya. Saat itu, ia ternyata punya band lain, Alien Scream, yang memainkan warna metal. Selain ada juga cover band Stones juga, bersama adik dari Glenn Sinsoe.
Pada waktu berikutnya, saya kerapkali bertemu Glenn. Dimanapun, terutama di mall-mall. Ia tetap sibuk, lebih sebagai ya tetap mengurus show. Jakjazz tetap yang terutama. Sementara Coki Sitompul, kemudian membentuk Lemon Tea, yang buat saya adalah salah satu grup entertainer rock terbaik di masa itu.
Persahabatan dua gitaris berkelamin sama ini, berlanjut dengan kelompok cover Stones tulen, Get Stoned, di tahun 2014. Kayaknya inilah yang lantas menimbulkan ide untuk kerja bareng lebih serius. Melepaskan diri dari warna Stoned, menyodorkan karya-karya sendiri.
Ya begitulah, Nakedsouls Project pun lantas dikerjakan. Dimana mereka dibantu sepenuhnya oleh Okky Maleh, drummer yang mendukung dengan studio rekaman dimana seluruh lagu dalam album ini digarap sampai kelar.



Proyek duo ini sudah digagas dan direncanakan serius sejak 2015 sebenarnya. Lalu mulai masuk masa penggarapan musiknya di 2016. Mereka didukung banyak teman-teman musisi lainnya, seperti vokalis Njet Barmansyah, yang ngetop dengan Flowers-nya itu. Dan juga dianggap Pimpinan Kantor Pusat The Rolling Stones di Indonesia.
Ada juga kibordis, yang saya juga mengenalnya pertama lewat Yuke Sumeru Band, yoih bro dia memang teman lama banget Coki, Benny “Bey Blue”. Ada juga pemain cello, Arini Kumara,putri dari almarhum Alex Kumara. Drummer dibantu oleh Rama Moektio. Untuk bass, ada keterlibatan Bato (ex Taboo) dan Didiek (mantan bassis Roxx).
Pada vokal, ada bintang tamu vokalis perempuan. Yang satu adalah Putri Lana, kata Glenn dikenal lewat ‘Keong Racun’. Well, keongnya eh racunnya manis lhoooo. Ada juga Ade Ayu, ah ini mah mantannya Coki Sitompul. Mantan pacar, dimana sudah sukses diikat Coki untuk sehidup semati alias ya bokin-nya Coki secara resmi... Ade Ayu juga temen lama saya, pernah juga di Yuke Sumeru Band, sebelumnya anggota Cantora Paramitha nya Geronimo.
Selain itu ada Ice Nugraha dan tentunya juga, didukung oleh Tommy Maulana, yang adalah tak hanya sepupuan dengan Glenn.Tapi juga partner dekatnya dalam bermusik, sama-sama gitaris pula.



Nakedsouls Project ini merilis sebuah EP bentuknya, berisikan 6 lagu. Coba tengok sebentar keenam tracks dalam debut album mereka ini deh. Saya suka karena ada variasi warna musik yang mereka mainkan.
Agak-agak ballad, nyaman, asyik nemenin berkendara jarak jauhlah, ada di lagu, ‘Something on My Mind’. Ballad yang manis, akustikan, dengan suara Putri Lanna yang berduet dengan Glenn. Apalagi yang lebih down, sebuah ballad tentang respek Glenn terhadap sang paman, Ireng Maulana, ‘My Hero’.
Nomer balada yang relatif empuk juga bisa ditemui atau dirasakan lewat,’’Listen’ selain ‘Where do We Go’. Balada yang rada medium-tempo. Kalau didengerin, boleh juga nemenin sambil berkendara, siul-siul kecil. Kayak membelai telingalah... Menentramkan dan bisa bikin kita males ngebut....
Nah mau yang relatif keras, ada juga dong. Dengerin galaknya Coki Sitompul meraung-raungkan gitarnya di lagu,’You Think You Know’. Bergaya ala alternative banget, post-grunge kira-kira. Boleh sih kalau teringat Mike Tremonti misalnya. Ballad rock 90-an suasananya. Suara Ade Ayu memberi aksentuasi lebih ngerock lagu ini.


Dan lagu penutup, ‘Lemesin Aja’, dimana kita bisa bersantai sambil mengapal-ngepul, angkat gelas kalau kosong ya isi lagi. Dengan vokal khasnya Njet Barmansyah, lagunya adalah, ‘Lemesin Aja’. Lemesin, lemesin...jangan dikakuin, udah....jangan dilawan. Lemesin dah, biar rileks. Suasana yang saya dapat sih model begitu deh. Eh iya itu suasananya ya, bukan isi lirik lagunya!
Oh ya mereka menggelar sebuah pesta kecil, menandai peluncuran debut album mereka, pada beberapa waktu lalu di Lefty's Suite, Foodism, Kemang. Dihadiri beberapa teman musisi lain, semisal Ariyo Wahab. Ariyo ini adalah sohib seband Coki Sitompul, bareng juga Bey Blue, di grup keren lainnya, FOS. Alias, Free on Saturday, yang sementara ini memilih ngaso sejenak, karena kesibukan para personilnya.
Pada releasd-party kemarin itu, di sektor drums mereka dibantu Eddy Syakroni. Pada bass ada Bato.Untuk kibor ada, Faisal Andri. Ade Ayu juga tampil sebagai backing vocal dengan Owe. Arini Kumara juga sempat tampil dengan cello-nya. Selain itu, merekapun mengajak serta putri Tommy Maulana, Nadine Maulana.
Jadi begitulah sobat-sobit sebangsa setanah air sekalian. Maka sambutlah grup gitaran yang asyik ini, kita sambut bersama deh...Glenn Sinsoe dan Coki Sitompul dengan kawan-kawannya. Inilah mereka dengan, Nakedsould Project! Tepuk tangannya lebih keras lagi doooong....../*







Sunday, April 2, 2017

The Living Legend, Benny Mustapha. Karir Musiknya sudah 60-an tahun

Here are the real living-legend, the real master. Would you welcome, Mister Benny Mustapha van Diest.
Mas Benny Mustapha, atau oom Benny, begitu ia biasa dipanggil. Adalah sosok drummer legendaris Indonesia. Bisa disebut sebagai salah satu “aset bangsa” yang tersisa. Dengan rentang karirnya sedemikian panjangnya....
Betapa tidak panjang, kalau ia telah mulai naik panggung sebagai drummer sejak pertengahan 1960-an? Jadi, kalau dihitung sampai sekarang, sudah lebih dari 50 tahun! Dan saat ini usianya sudah...08, tapi dibalik, begitu candanya suatu ketika di atas panggung saat ditanya berapa usianya.
Benny Mustapha van Diest kelahiran Jakarta pada 22 September 1939. So artinya, dua tahun lagi ia sampai di usia 80 tahun. Tak lagi muda, tentu dong. Tapi enerjinya, semangatnya, jelas banget haruslah ditiru. Sangat layak menjadi inspirasi dan motivasi, buat yang lebih muda....
Satu yang sangat khas pada penampilan seorang Benny Mustapha adalah keramahannya. Ia selalu terlihat santai, tapi begitu semangat kalau jelang naik panggung. Ramah, karena ia tak pernah malas membalas sapaan orang...
Namanya memang lekat betul dengan sejarah jazz di Indonesia. Ia adalah sosok ikon jazz Indonesia yang masih tersisa, sejak 1960-1970-an. Dan ketokohannya sebagai ikon jazz, dimulai sejak keterlibatannya dalam Indonesian All Stars.


Ini saya ambil sebagai cuplikan, tulisan tentang Indonesian All Stars dengan Benny Mustapha di dalamnya. Saya ambil dari wikipedia...

Pada tahun 1967 bersama Jack Lesmana, Bubi Chen, Maryono dan Jopie Chen tergabung dalam grup musik Indonesian All Stars. Dalam perjalanannya bersama Indonesian All Stars, mereka berkenalan dengan Tony Scott, pemain klarinet asal New York, Amerika Serikat, yang kebetulan pada saat itu sering wara wiri ke Indonesia. Selama 6 bulan mereka sering bertemu hingga akhirnya tercetus ide untuk menggabungkan musik Barat dan Timur. Tony Scott memang sangat tertarik dengan musik tradisional Indonesia seperti gamelan, suling, tetabuhan tradisional dan siter. Setelah itu Tony Scott mengajak Indonesian All Stars untuk menggarap sebuah album kolaborasi yang bertema Timur bertemu Barat. Pada saat yang bersamaan juga, berdekatan diselenggarakannya Berlin Jazz Festival, dan kemudian berangkatlah Indonesian All Stars tampil di Berlin Jazz Festival dan sekalian membuat album di sana. Rekaman dilakukan di Villingen-Schwenningen, Black Forrest pada tanggal 27 dan 28 Oktober tahun 1967. akhirnya terciptalah album tersebut dengan judul Djanger Bali.


So, Benny Mustapha, Indonesian All Stars dan Djanger Bali. Bisa disebut, itu salah satu momen penting bagi pergerakan jazz Indonesia. Dimana memang hanya tinggal tersisa seorang Benny Mustapha saja, dari formasi legendaris tersebut, di saat ini.
Syukurlah, bahwa rekaman vinyl atau piringan hitam legendaris itu sudah berhasil dilakukan remixing lantas dapat dirilis kembali. Sehingga generasi muda, ya juga semua yang masih berkesempatan bernafas teratur di hari ini, punya kesempatan mendengar. Menyimak. Lalu menikmati album fenomenal tersebut.
Sekaligus berarti kita memiliki referensi bagus dari permainan para musisi legendaris tersebut, yang sebagian besar telah tiada itu. Terutama tentunya, memberikan gambaran seperti apa penampilan permainan Benny Mustapha. Rekaman album yang mahal tuh.
Mahal, karena momennya. Masuk dalam catatan sejarah penting. Langka juga, karena ada berapa kali sebenarnya seorang Benny Mustapha punya kesempatan rekaman? Namanya sedemikian besar, ketokohannya jelas, tapi apakah Benny Mustapha pernah berkesempatan menghasilkan album rekamannya sendiri?
Benny Mustapha pernah berkelana di negeri paman sam, serta juga ke beberapa negara Eropa dan Afrika. Di tahun 1963, ia sempat bergabung dengan sebuah kelompok pop, yang isinya itu rata-rata lantas lebih dikenal sebagai jazzer, grup Eka Sapta.
Dalam Eka Sapta, Benny Mustpha bergabung dengan Bing Slamet, Ireng Maulana, Idris Sardi, Dharmono, Khamid dan Ietje Kumaunang. Eka Sapta memang hanya didukungnya sesaat, ia lantas digantikan Eddy Tulis. Tapi grup musik itulah, yang memperkenalkan namanya di pentas musik.
Walau karir musik profesionalnya sejatinya dimulainya sejak sekitar 6 tahun sebelumnya, dimana ia mendukung kelompok musik Quinta Nada. Itu grupnya pertama, setelah ia belajar bermain drums dengan Bart Risakotta, drummer yang dikenal lewat Nick Mamahit Trio.
Saya pribadi sudah mengetahui dan menikmati permainannya sejak, awal 1980-anlah. Eh mungkin juga sebelumnya, melihat permainannya di televisi, TVRI waktu itu. Dan sejak melihat itu, lalu tahun ke tahun, terus “menemui”nya di acara-acara jazz, saya berpendapat aduh bung Benny ini jazz banget! Ia itu tipikal drummer jazz “tulen” di pentas musik Indonesia.
Dan apa karena sifat low profile-nya ya, ya paling tidak itu yang saya rasakan selama ini, sehingga seorang Benny Mustapha itu sekian lama tak begitu “dikenal” kalangan pers. Iapun memang memperlihatkan, ketidak-dekatannya dengan kaum pers. Misal, sulit menyebut nama wartawan tertentu, bahkan wartawan yang sangat senior sekalipun.
Well, karena jazzer ya? Orang tua? Sehingga luput dari jeprat-jepret kamera ataupun, todongan tape-recorder dan mikrofon berita televisi? Kok ya rada diskriminatif kesannya? Yah begitulah.... Ah, sorry to say.
Padahal ia pun terlibat pula dalam rombongan jazzer Indonesia, yang mengguncang arena Expo 70 di Tokyo. Ia mendukung Indonesia Lima, dengan Mus Mualim, Tjok Sinsoe, Maryono dan Sadikin Zuchra. Dengan bintang tamu khusus, Idris Sardi.
Saat itu Mus Mualim, Idris Sardi dan kawan-kawannya juga menyodorkan apa yang disebut jazz-timur. Antara lain dengan menyuguhkan lagu, ‘Es Lilin’ dalam balutan jazz, tanpa menghilangkan nuansa Sundanya. Persis seperti yang disuguhkan juga oleh Indonesian All Stars di Belin, tiga tahun sebelumnya.

Jadi begitulah, drummer legend ini memang ada di antara grup-grup penting dalam sejarah jazz negeri kita. Yang penampilan grup-grupnya itu, dicatat oleh kaum kritikus musik barat. Well dan notabene, lagi-lagi dari grup yang ke Jepang itu, tinggallah Benny Mustapha yang masih ada. Dan, masih eksis sebagai drummer!
Lalu melewati pertengahan 1970-an, Benny Mustapha juga mendukung pasangan Jack dan Nien Lesmana, dalam menyelenggarakan acara jazz rutin di Taman Ismail Marzuki. Acara jazz itu, awalnya, kabarnya, hanya ditonton oleh segelintir penonton. Mereka memang agak “nekad” ya, mempertontonkan jazz di saat itu. Bener-bener pejuang...
Title acara saat itu ada Musik Jazz, Nada dan Improvisasi, Musik Jazz Dulu dan Sekarang, Jazz Jazz Jazz sampai Jazz Saja. Dan nama lain. Nama-nama acara itu menurut saya bagus dan “jazz banget”. Sampai-sampai saya pernah “mengambil”nya, sebagai apresiasi, untuk menjadi program jazz reguler saya satu saat dulu, di sekitar 2000-an awal di kawasan Bintaro.
Benny Mustapha kemudian juga bergabung dalam Ireng Maulana All Stars, yang lantas banyak membawakan lagu-lagu jazz berirama dixieland dan ragtime. Grup itu berisi antara lain alm. Rony Isani, alm.Hendra Wijaya, alm. Karim Tess, alm. Soetrisno, alm. Maryono dan Benny Likumahuwa.. Dan tentu saja, juga alm. Ireng Maulana.
Ireng Maulana All Stars itulah, yang pada waktu kemudian menjadi “gerbong utama” dari pergerakan Ireng Maulana Associates, yang sekaligus bertindak sebagai semacam artist and band agency. Mereka memasok grup-grup, penyanyi jazz untuk mengisi program entertainment di banyak cafe, bar dan pub di ibukota.
Ia sebelumnya sempat juga bermain dengan grup dixie lainnya, bersama Jack Lesmana, Didi Tjia, Benny Likumahuwa, Soetrisno, Oele Pattiselanno. Mereka dibentuk untuk bermain di Hotel Borobudur. Ada Pendopo Bar di hotel itu, yang pada masa itu dikenal juga sebagai sebuah kafe yang menampilkan hiburan jazz bermutu.
Demikianlah sekilas mengenai perjalanan seorang Benny Mustapha. Kemarin saya sempat menemuinya, saat ia tampil memeriahkan acara Indonesia Drums and Percussion Festival 2017, di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki.



Kemarin, ia berkolaborasi dengan bassis Bintang Indrianto. Sebuah kolaborasi pertama kali yang mempertemukan mereka. Walau mereka lama sudah saling mengenal. Karena ayah dari Bintang,Dicky Prawoto kerapkali bermain bareng Benny Mustapha, di era 1970-1980an.
Spirit saya itu bermain tadi ada di dia, ia lantas menyentuh dada Bintang. Bintang tersenyum lebar dan mengatakan, Benny Mustapha itu oom saya. Ya kan mainnya dulu dengan ayah saya. Benny Mustapha menimpali, ya iya keponakan saya yang saya salut dengan ide dan permainannya.
Menurut Bintang, jammin’ keduanya sih bebas dan lepas. Sempat latihan sekali. Lebih tepatnya hanya mencoba menjajaki saja, bagaimana mereka kalau bermain bareng. Maklumlah, memang baru pertama kali. Bintang sangat menghormati Benny Mustapha. Respek sepenuhnya. Dan Benny Mustapha juga memang juga mengagumi Bintang. Klop lah!
Bintang dan saya lantas mendiskusikan mengenai kesempatan rekaman. Bagaimana seorang Benny Mustapha itu, sudah selayaknyalah mendapat kesempatan rekaman solo. Maksudnya, rekaman album yang menonjolkan nama dan permainannya.
Itu perlu banget, sebagai sebuah dokumentasi dan bukti konkrit atas eksistensinya, sebagai drummer dengan karir bermusik yang begitu panjangnya. Benny Mustapha mungkin saja, drummer tertua yang tetap steady dan fit, bermain di panggung jazz di sini.
Rahasianya apa sih, bung? Sebenarnya, kenapa bermain drums dan bisa terus bertahan bermain jazz hingga saat ini? Iya, saya pengen bisa menulis lebih lengkap tentang Benny Mustapha van Diest. Belum kesampaian nih.....
Mungkin itu akan menjawab sebagian “kecil” pengharapannya, yaitu adanya penulisan lebih lengkap dan detil, sebagai bukti nyata apresiasi dan respek terhadap sejarah musik Indonesia. Dan tentu saja, terutama untuk musik jazz di Indonesia.
Bung Benny Mustapha, sehat selalu. Sampai berjumpa lagi. /*