Dewa Budjana yang gw kenal, sampai Mahandini



Karena tur konser untuk musik instrumental begini kan udah lama ga ada, begitu katamu setelah jumpa pers kemarin itu. Bener juga ya, timpalku. Terakhir, yang gw tahu sih, waktu Trisum kan, tambahmu lagi.
Oh iya, itu udah tahun berapa ya, sambungku. Makanya, jadi ya jalan aja deh, beruntung Lemmon ID mau support nih, ungkapmu lagi. Kalau ga ada Lemmy, susah juga ketemuin pihak yang mau jalanin konsep tur konser kayak gini nih, Budj.
Adalah LemmonID yang memang menjadi promotor tur konser tersebut. Nama tersebut awalnya dikenal sebagai salah satu nama baru di bidang persewaan tata cahaya, yang ternyata lantas berkembang menjadi promotor. Termasuk juga mendukung rekaman Mahandini, album terbaru Dewa Budjana, sebagai produser eksekutif.
Dan Lemmy Ibrahim adalah “big-boss” dari LemmonID. Yang secara pysically, asli big-boss, karena tubuh “kecil”nya. Lemmy sudah bergaul akrab dan dekat dengan Dewa Budjana sejak era 1980-an. Waktu itu mereka berdua bertemu, dan ngelmu di Forum Musik Jack & Indra Lesmana Farabi.


Foto  Nini Sunny
Tentang Dewa Budjana ini, sudah berapa kali saya tulis dan muat dimana-mana, sepanjang karir jurnalistik (musik) saya. Sejak pertengahan 1980-an lho! Masya Allah.
Silahkan lihat link ini saja, salah satu tulisan “mendekati cukup lengkap” tentang Dewa Budjana yang saya muat di media terakhir saya. Kemudian saya lengkapi lagi, untuk dimuat di website saya ini.

Dewa Budjana dan Benny Soebardja....l



Kemarin memang ada jumpa pers yang ternyata menyebarluaskan rencana tur konser gitarisnya GIGI, yang aktif menghasilkan solo album ini, I Dewa Gede Budjana. Sekaligus terkait dengan akan rilisnya album solo ke 10-nya, Mahandini itu. Lantas juga rencana sebuah konser bertajuk Samuccaya Dewa Budjana, di bulan Desember 2018 di Jakarta.
Saya sendiri “beruntung” mengetahui rencana jumpa pers itu dari satu postingan Lemmy Ibrahim, di sebuah whats app group. Lalu saya tanyakan detilnya dan bilang, minat untuk datang. Jadi saya mungkin satu-satunya penulis atau wartawan, yang menghadiri jumpa pers itu tapi sebenarnya tidak memperoleh undangan. Aduh, kayaknya ga dianggep wartawan musik...
Maksudnya, tidak diundang “resmi” oleh pihak yang membantu LemmonID untuk mengundang teman-teman pers. Ada 2 pihak yang menyebarluaskan undangan tersebut. Saya nyelonong aja datang, dengan sebelumnya ya mengontak Lemmy Ibrahim kemudian Dewa Budjana. Saya datang bersama teman baik saya, Restu Fortuna.
Eh Budj, sepuluh album sudah ya? Produktif juga dirimu ya, Budj? Dan catatanku, sejak merilis debut album solo, Nusa Damai di 1997 berlanjut dengan Gitarku di tahun 2000, elo itu masuk pada semacam episode idealis ya. Boleh ya, gw sebut episode idealis begitu, Budj?
Eh iya sorry, kali ini secara khusus dipilih langsung dengan “gw dan elo”.Karena memang mewakili obrolan kami berdua selama ini. Maklumi saja, kami bertemu lalu berkawan dekat baru sejak pertengahan 1980-an sih. Walau ketemuan pertama, sejatinya ya Budj,gw lupa dimana ya? Elo inget kayaknya? Stars Show Band di Ataka Studio? Ah sebelumnya juga udah ketemuan kan kite?
Dan sampailah di berita yang gw baca soal Mahandini, diposting elo dan Lemmy. Astaga! Musisinya itu lho. Komen pertama gw, gile dah Budjana bisa aja dapetin musisinya yang kayak gitu?
Jordan Rudess, Budj! Sumpeee lo... Hahaha. Kibordis legend itu mah. Banyak sekali orang yang tahu dan mengagumi nama satu itu kan? Secara kibordisnya Dream Theatre gettoooo, ikon progmetal nomer wahid dunia!
Jordan Charles Rudes, nama lengkapnya. Gw suka juga dengan grupnya selain DT itu, Liquid Tension Eperiment. Gw juga dengerin beberapa solo albumnya, kayak misal Listen atau Secret of The Muse. Kalau ga salah sih, itu solo album sebelum doski masuk Dream Theatre gantiin Derek Sherinian. Mudah-mudahan ga salah deh....
Lalu nah ini yang ngejutin gw, Mohini Dey! Muda be’eng lho. Bassis cewek, lahirnya tahun 1996. Tapi karir musiknya itu udah banyak banget, makanya sampai disebut-sebut sebagai prodigy juga. Lha soalnya udah berkarir sejak umurnya baru 10 tahun kan.
Gw pas baca elo bisa ngajakin Mohini Dey, bassis India itu, lantas inget-inget pernah gw baca atau dengerin permainannya dimana ya? Eh ternyata dia pernah main dengan maestro, Zakir Hussain. Juga Nitin Sawhney, musisi electronica ternama berdarah India, kelahiran Inggris. Selain juga membantu Steve Vai.
Kemudian Marco Minneman, drummer. Yang main dengan Steven Wilson-nya Porcupine Tree. Drummer yang banyak main di wilayah progressive rock nih. Dia juga sempat mendukung bandnya Joe Satriani. Sekarang gabung dengan The Mute Gods dan The Sea Within, yang berbau prog-rock.
So, albummu “bergeser” ke progrock nih, kalau melihat dari musisi pendukungnya ya. Instrumental iya, begitu jawab elo tapi soal jazz atau progrock, sebenarnya elo ga secara eksplisit atawa terang-terangan jawab ada pergeseran.

Persoalannya kan, gw sendiri belum mendengarkan materi Mahandini itu? Yang waktu jumpa pers, elo dan Lemmy bilang, akan dirilis versi digitalnya di sekitar November atau Desember tahun 2018 ini. Bakal disusul juga format CD nya, beberapa bulan kemudian.
Dalam Mahandini itu, ternyata juga ada keterlibatan gitaris lain. Mike Stern, salah satu gitaris jazz rock yang lumayan kondang buat para musisi di sini. Juga nama tenar lain, John Frusciante, yoih mantan gitarisnya Red Hot Chilli Peppers itu.
Naga-naganya, bedalah ya dengan Zentuary misalnya? Kan lihat aja, yang di album kesembilan, Zentuary itu musisi pendukungnya juga lain lagi. 3 musisi legendaris, Gary Husband, Tony Levin dan Jack de Johnette. Nah yang lantas kalau mereka-reka corak musikmu sebenarnya apa, rada sulit sulit mudah sih.
Progressive Fusion kali? Entahlah. Kan yang lebih penting sih Budj, gw suka apa ga. Hehehe, itu pentinglah. Kalau ga suka, gimana gw mau nulis tentang elo? Jazz atau bukan, tetapi ngomongin elo kan, ya ga bisa lepas dari masa lalumu?
 

Elo banyak bergaul, berkecimpung di wilayah jazz, dengan banyak “orang-orang” jazz. Mungkin itu bisa jadi “tanda-tanda jaman”. Walau elo kan juga berkembang Toh elo malah ngetop justru dengan GIGI?
Gw penasaran dengan Mahandini. Dan gw juga penasaran tentu saja dengan konser di Desember nanti. Elo menyebut ada Jay Soebiyakto sebagai penata artistik konser tersebut kan? Wah, wah, wah. Dahsyat nih gelagatnya...
Sewajarnya sih, elo “ditampilkan” lebih istimewa. Musikmu istimewa, perjalanan musikmu juga spesial. 10 album solo, cuuuy! Belum lagi, sudah berapa album yang GIGI hasilkan?
Sebagai musisi, elo termasuk musisi atau gitaris dengan produksi solo album terbanyak. Yang menyamai elo, rasanya hanyalah sohib-sohib terdekatmu. Tohpati misalnya. Juga, Bintang Indrianto!
Solo album memang membuatmu sadar atau tidak, menegaskan jalan yang elo pilih. Memainkan karya-karya sendiri, orisinalitas yang dikedepankan. Era memainkan lagu orang, meng-cover, elo pernah jalanin. Sekitar 1985 sampai kapan Budj? Seinget gw, mungkin sampai GIGI keluarin album pertama?
Ya dengan Hydro misalnya. Apalagi Budj? Main di Hotel Hilton dan beberapa kafe lain, di bawah bendera Ireng Maulana Associates. Termasuk Stars Show Band, yang bawain lagu-lagu disko barat itu.
Balik ke rasa penasaran gw. Apakah gw penasaran juga dengan penampilan tur konser elo ini? Main didukung Shadu Sjah Rasjidi (bass), Demas Narawangsa (drums), Irsa Destiwi (piano/kibor), Marthin Siahaan (kibor) dan the one n only, Saat “Borneo” Syah (flute and voice).
Budjana dan gw diapit teman-teman wartawan-wartawan musik terkemuka nasional. Difotoin secara wefie oleh Nini Sunny



Senengnya, berfoto dengan para senior saya, para wartawan yang dedikasinya tinggi sekali, Nini Sunny, Bens Leo, Dimas Suprityanto dan Buddy Ace.
Pasti menarik, lain lagi dong, spesial jugalah. Elo dan Lemmy bilang ini pemanasan sebelum konsermu. Sekaligus menyiapkan publik untuk “menerima” Mahandini nantinya.
Ada sejumput penasaran gw juga. Ga begitu besar. Karena kalau terlalu besar penasaran ini Budj, gw takut bikin ga bisa tidur. Runyamlah. Ya apalagi kalau gw ternyata ga bisa dapat kesempatan nonton, paling tidak di salah satu kota yang disinggahi.
Oh ya, ketika tulisan ini gw buat berarti, kemarin 12 September, elo dan band itu main di Purwokerto. 13 September ini, ke Cirebon. Lalu masuk Yogyakarta untuk main pada 18 September. Lanjut ke Semarang, main di 20 September. Kota terakhir, Solo, di Selasa malam, 25 September.
Dan sukseslah Budj. Juga salam hormat dan sukses pula untuk Lemmy Ibrahim and his Lemmon ID. Soal gw mau nonton apa ganya, gw pikir mending gw pasrahkan ke semesta raya.
Elo pernah bilang kemarin, untuk nonton ikutan tur tanya Lemmy aja. Well, ok lah. Tetapi selama ini, Lemmy rada bermasalah sama gw. Dia suka janji, tapi keseringan lupa sama janjinya ke gw tuh... Hehehehe.
Peace ah Lem...Tempat pipis dimana, Lem....! /*





Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...