Catatan tentang sebuah Konser Impian dari Candra Darusman




Akhirnya kejadian juga! Tak ada konser yang punya catatan sejarah teramat manis begini rasanya. Tentunya saja dalam dunia musik di Indonesia. Dimana ada seorang musisi yang juga menjadi penyanyi, ditambah berkemampuan menulis lagu dengan baik sekali, ternyata baru mendapatkan kesempatan tampil dalam konsernya sendiri.
Yes, dalam sebuah konser solo. Menghidangkan lagu-lagu karyanya sendiri dengan leluasa! Saya pribadi menunggu-nunggu kesempatan bersejarah itu sejak lama. Bahkan pernah, beberapa tahun silam berencana, kalau saja ada kesempatan, ada satu konser yang kepengen banget bisa saya wujudkan.

Yoih, begitulah cuuuy. Ini juga konser yang seperti menjadi impian saya sebetulnya. Jadi impiannya sang penyanyi yang pianis itu juga dong? Rasanya sih demikian jugalah adanya.
Begini nih ya. Modalnya itu sudah lebih dari cukup untuk ditampilkan secara solo. Punya lagu-lagu hits, beserta lagu-lagu yang ikut mewarnai jaman. Dengan musiknya yang asyik punya. Soal wajah, aduh gantenglah! Dan belum pernah bersolo konser,padahal karir musiknya sudah dijalaninya sekitar 40-an tahun ini! Cateeeet...


Adalah Candra Darusman. Di Teater Jakarta, Taman IsmaiLMarzuki, 18 Juli 2018. Perwujudan mimpi puluhan tahun. Ah, so sweet! Melihat panggung, eh ada sebuah grand piano, yang kabarnya kelas premium punya, harga mencapai  3 milyar, mek!
Komplit nih konser. Ia bakalan menyanyi dan pasti piano itu untuk dia mainkan. Stage didominasi screen ada 6 yang vertikal. Dan satu yang besar, bentuknya horizontal. Agak takjub juga melihat design panggungnya. Ini kelihatannya bakal keren. Layarnya sebanyak itu kan?
Pas dan cocoklah buat seorang Candra Darusman! Eh sebentar, cerita mengenai Candra kan, terutama fokus pada kedua solo albumnya, sudah pernah kok saya tulis beberapa waktu lalu..Candra Darusman, Indahnya Sepi dan Kekagumankul
..


Dan malam itu, penonton penuh. Disebarluaskan kabar, bahwa tiket sold-out, sejak beberapa hari sebelum konser. Hebat betul! Tapi memang layaklah buat seorang Candra, yang belakangan ini lebih dikenal sebagai salah satu tokoh terdepan, dalam memperjuangkan kesejahteraan para seniman musik. Terutama dalam  soal hak cipta dan kekayaan intelektual.
Pantas dong, soalnya belum pernah konser solo lho! I cant believe it’s true... Itu kayak judul lagu kok? Lagunya Candra? Bukan, bukan! Hehehehe. Itu lagunya Phil Collins kok, solonya..
 Walaupun ternyata, saat Candra memberitahukan kepada penonton malam itu, bahwa ini konser solonya yang pertama, banyak penonton terkejut. Oh  ternyata banyak yang sejatinya ga tahu soal itu. Atau mungkin ga ngeh kali ya?

Konser bertajuk Candra Darusman – The Piano Man, menunjukkan tanda-anda bakal jadi konser yang menyenangkan, mengasyikkan, menghibur hati. Yup, lagu-lagu dikenal, musiknya pasti keren karena didukung para musisi muda berbakat.
Apalagi konser ini disupport sepenuhnya oleh tata cahaya dan tata suara yang keren punya. Ada DSS Sound, salah satu nama terdepan soal tata suara di Indonesia. Apalagi langsung Donny Hardono pemilik DSS sendiri, yang menjadi sound engineer.
Dan ada pula LemmonID, salah satu nama terbaik urusan tata cahaya panggung. Warna warni mempesona hati nih bakalan. Juga sedap pasti buat lensa kamera... Jaminan mutu!


‘Highway to Mexico City’, lagu instrumental karya Candra so pasti jadi pembuka. Dengan ada very special guest, Bens Leo, sebagai pembaca puisi di pembuka konser. Panggung kemudian diisi grup muda yang lagi bersinar cemerlang, HIVI! Mereka membawakan dua karya lagu Candra, ‘Geneve’ dan ‘Balada Seorang Dara’. Apik euy! Sebagai opening, ngangkat!
Lalu bintang tamu berikutnya, penyanyi cantik,Monita Tahalea. Ia kebagian membawakan dua lagu juga. ‘Perkenaan Perdana’dan ‘Indahnya Sepi’. Suasana terasa langsung akrab dan dekat.....
Tensi pertunjukkan langsung meninggi. Monita seleai bernyanyi, kemudian Candra membawakan sendiri karyanya, ‘Galau’. Yang pasti, ah masak Candra galau dalam konser solo pertamanya? Ya ga lah .....


Candra lantas memanggil Andien Aisyah. Aiiih, Andien mengharu biru dengan lagu bertema relijius, ‘Senantiasa’. Dan dilanjutkan dengan lagu gembira, ‘Pesta’. Makin ramai dong. Penonton makin terpancing untuk bersemangat dan bergairah.
Apalagi lantas muncul Chaseiro dengan ‘Rio de Janeiro’. Dilengkapi para penari berkostum manyala bop do e! Wuidiiih, penarinya pake kostum berbulu-bulu gitu, kata seorang teman.
Mengingatkan kita akan....Swara Mahardhika! Chaseiro yang adalah kelompok vokal yang menjadi “rumah”nya Candra juga, lalu menyambung dengan lagu, ‘Dunia di Batas Senja’.Chit-chat semua personil dengan Candra juga, mangkinan membuat suasana meriah dan akrab.





Tensi “diturunkan” dengan penampilan kelompok The KadriJimmo. Walau yang kelihatan ditonjolkan sebetulnya hanya kedua penyanyinya, ya Kadri Mohamad dan Jimmo. Personil lain kelompok itu, di plot terlalu ke belakang, padahal penting sih... Ada Windy Setiadi pada akordion dan Noldy Benyamin, pada gitar akustik.
The KadriJimmo membawakan lagu sendu merayu teramat manis, ‘Lagu Cinta Untuk Marlina’. Dan juga lagu, ‘Dara’. Selepas The KadriJimmo, naiklah kemudian Tito Soemarsono. Ini nama musisi yang rada mirip Candra sebenarnya.
Gimane kagak mirip coy, Tito itu musisi, ia bassist. Tapi juga bisa menulis lagu, dan ternyata sebagian lagunya sempat menjadi hits. Salah satunya, ‘Kaulah Segalanya’, yang populer lewat Ruth Sahanaya.




Ia juga kemudian menyanyi, sampai membuat beberapa album solo, Ada yang sukses juga di pasaran lho! Tito itu juga mendukung rekaman Candra, serta juga Chaseiro. Lagu duet mereka, yang ditulis bareng berdua adalah, ‘Jasa Seorang Teman’.
Serunya, Tito di balik panggung mengakui bahwa ia memang belum pernah tampil dengan Candra membawakan agu tersebut. Mereka hanya bernyanyi di rekaman saja, dalam album Kekagumanku yang dirilis 1983. Setelah dirilis, ga pernah dibawain di atas panggung.
Dan eh ternyata baru dibawain setelah sekitar 35 tahun kemudian ya, tanya saya sambil tertawa. Dan Tito pun ikut tertawa lebar sambil mengiyakan. Bisa begitu ya bro? Tito dan Candra kemudian menyanyikan hits terpopuler, ‘Kau’.
Buat saya, pemunculan Tito Soemarsono ini original dan unik. Kejutan yang manis. Kalau saja, nama Ikang Fawzy juga ditampilkan. Wah, kejutan makin klop. Pas. Cocok untuk memberikan hiburan nan sempurna.




Penontonpun bersemangat ikut menyanyi, mulai pada berdiri juga. Sebenarnya, nyaris di sepanjang konser, penonton banyak yang sing-a-long meningkahi para penyanyi di atas panggung. Pokoke emang sih, atmosfirnya itu hangat!
Ok suasananya itu, selain hangat, juga akrab dan cair.  Sesekali Candra ngobrol dengan penonton, bercerita ini itu. Menggelitik juga, antara lain dengan...”Mo saja. Itu sedikit di atas kakak, tetapi masih di bawah oom”. Penonton tentu tersenyum mendengar penjelasan “mo” Candra kepada Andien...
Dan kemudian selepas Tito, naiklah Glenn Fredly! Ia langsung membawakan lagu ‘Kau’ juga, tetapi dalam versi yang baru, yang lebih upbeat. Lebih groovy lah, menggoyang. Glenn juga mempunyai kesempatan menyanyi dua lagu. Ia menutup penampilannya dengan membawakan, ‘Tempat Berpijak’.
Candra lalu membawakan karyanya yang juga populer di tahun 1980-an, ‘Kekagumanku’. Tambah meriah dong! Lebih banyak penonton berdiri dan ikut menyanyi. Plus, goyang! Sedap dan seru melihatnya!



Lagu ini lalu disambung lagu penutup, ‘Ceria’ dimana Chaseiro dipanggil naik lagi ke atas panggung. Di tengah lagu, semua penyanyi pengisi acara diajak untuk kembali naik ke atas panggung, ikutan bernyanyi.
Konserpun selesai sudah. Eala, belum. Belum! Yaelaaaaah, nanggung euy! Penonton merasa belum klimakslah gitu Klimaks paan? Ternyata penonton meminta lagu tambahan. Dan Candra pun bersama Chaseiro dan semua penyanyi, menyuguhkan encore, ‘Pemuda’.
Pemuda gitu lho! Sebuah anthem sepanjang zaman, yang adalah hits pertama Chaseiro, beredar sejak akhir 1970an. Lama kelamaan, lagu populer itu malah menjadi seperti lagu perjuangan kaum muda! Ciamik!

Dan itulah beneran lagu penutup. Penonton rata-rata puas. Sumringah, cerah ceria, tersenyum manis, tertawa-tawa. Sebagian mungkin capek karena ikut menyanyi, tapi raut wajahnya terlihat puas betul. Tercapailah... .
Tercapai apanya? Klimaksnya Itu? Pendeknya sih, yang datang berpasangan, lalu berpelukan, melangkah berpegangan tangan. Bae-bae jo, ga lupa anak-anaknya kan? Hehehehe. Kalau yang bersama teman-teman baiknya, sebagian buru-buru menuju panggung, menyerbu para artis penyanyi. Selfie-time!
Saya juga lumayan puas. Senang hati. Ini konser yang membuktikan Candra itu tak pernah bisa hilang dari musik Indonesia. Nama Candra itu penitng, sampai kapanpun. Lagu-lagunya betulan kan mewarnai jaman, dari 1980-an memang waktu pertama kali dirilis.



Tetapi rasa-rasanya lagunya tetap bisa ikut memeriahkan suasana kapanpun. Setuju dong ya? Secara keseluruhan konser berlangsung relatif lancar, dan cukup memuaskan saya.
Dan selipan beberapa repertoar Candra, dengan piano menggambarkan suasana Eropa, itu juga menarik. Membuat konser ini sesuai bener dengan temanya kan? He's real...The Piano Man,exactly!
Kalaupun ada catatan, sebagai ... ah harusnya bisa lebih baik gitu ya. Mungkin soal design panggung, dimana layar besar memanjang yang utama kok terkesan rada mengganggu sebetulnya.
Lalu, ini tumben betul nih, biasanya saya terpuaskan untuk memotret dengan tata cahya dari LemmonID. Kemarin itu kok rada kurang ya? Ga begitu meng-greget, rada “kena tanggung” tak seperti konser-konser yang didukung oleh LemmonID lainnya sebelumnya lho.

Penasaran lah! Setelah selidik sedikit, tanya sana-sini, ternyata saya mengambil kesimpulan nih. Adodo dapa sayang, ,konser yang relatif besar dan bagus ini, kayaknya tidak memakai tenaga creative atau art director yang mumpuni. Ada atau ga ya, sebetulnya?
Semua modal utama sebuah konser sudah lebih dari “cukup” untuk konser kemarin itu. Tetapi konser yang bagus, tetap memerlukan adanya seseorang yang sepenuhnya fokus soal artistiknya panggung.

Seseorang yang mengerti betul atau piawai dalam mem”bungkus” sebuah konser. Membungkusnya dengan baik dan benar dan keren. Boleh tambahin, dan mentereng? Anak Menteng, dulu jualan genteng? Hush, ngaco!
Banyak konser di sini, seringkai melupakan posisi yang sejatinya  penting dan terbilang vital itu. Bisa mendesain panggung dengan apik dan asyik. Dan memahami betul, bagaimana membuat panggung lebih hidup dan lebih bergairah dengan desain penataan cahaya. Lewat plotting dan spotting lampu yang maksimal.



Semoga masukan saya berfaedah and bermanfaat untuk ke depannya. Untuk promotornya, XI Creative, next time much be more better yoooo. Ditunggu konser-konser berikutnya, yang so pasti bisa lebh  “sempurna”. 
Perlu diakui dong, point bagus, almost perfect actually. Yang asyik itu ide gokilnya sih, berani dan pinter manggungin Candra Darusman, sambil bermain piano juga bernyanyi!
Kehebatannya jualan tiket dengan semangat ekstra, itu juga gokil punya! Nah tapi liat cuuuy, tiket ludes, penonton penuh, kalau tontonan konsernya kerennya itu maksimal kan pasti akan memuaskan semua pihak! Setuju bro en sis?

Well, terkhususnya untuk “kakak” atawa mo Candra Darusman, saya terhibur betul dengan lagu dan musiknya, yang ditangani music director muda, bassist, Rishanda Singgih. Pakai "horn-section" segala! Enerji atau suasana 80-an sekaleee, original-atmospherenya dapeeeet! It’s so cool, mo-brother!.
Bikin lega tenggorokan, pulang senang dan bisa langsung tertidur pulas! Pakai mimpi ikut-ikutan menyanyi Kekagumanku segala, di atas panggung lho. Eh pakai difotoin istriku pula.  Masya Allah! /*






Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...