JAZZ Indonesia 2016 ke 2017


Ada sebuah acara berbentuk semacam workshop jazz. Eh, apa diskusi jazz? Ya kira-kira seperti itulah. Yang menjadi pembicara, tak tanggung-tanggung. Lumayan banyak. Dan, alhamdulillah saya diajak menjadi salah satu pembicaranya. Diskusi tersebut dipimpin moderator, pianis yang juga penyanyi jazz, Imelda Rosalin.
Diskusi tersebut diadakan di Minggu ketiga Oktober 2016 silam. Diadakan sebagai program acara pembuka dari sebuah festival jazz, yang unik dan berbeda, TP Bandung Jazz Festival. Festivalnya sendiri adalah program kalender tahunan, dan sudah berlangsung untuk kali kedua di tahun 2016 tersebut. Penyelenggaranya adalah pihak hotel bintang lima, The Papandayan , Bandung.
Tema sentral dari diskusi tersebut adalah, apa itu jazz Indonesia dan Melihat akan fenomena maraknya festival jazz di tanah air. Dan dalam jatah waktu untuk masing-masing pembicara yang lumayan singkat, keluarlah beberapa statement menarik. Quotes berdasarkan atas topik utama, dan memang dari apa yang terjadi di dunia musik Indonesia, terutama jazz.
Saya mencoba merangkum quotes dari para pembicara. Terus terang, saya tak sempat mencatat dengan benar-benar saat itu. Maka ijinkan saya, permisiiii, untuk mengutip saja dari tulisan status setiap foto yang di upload oleh akun @jazzgirli di instagram.
Jazz itu borderless, dimana setiap musisi bisa bermain jazz di luar daerah asalnya. Setiap orang bisa membuat event, di luar daerah asalnya, kata Dwi Cahya Yuniman, salah satu tokoh penggerak jazz di Bandung, biasa dipanggil sebagai, Kang Niman. Dan kang Niman memang, memperoleh giliran pertama sebagai pembicara.
Menurut pembicara berikutnya, Frans Xar Sartono, yang adalah wartawan senior dari harian umum Kompas, Jazz is beyond nationality. It has no (country’s) flag. The flag is the jazz itself. Berikutnya ada wartawan muda, owner dari jazzualitycom, Riandy Kurniawan yang mengatakan, salah satu kelebihan jazz adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan budaya lokal.

Sementara itu menurut wartawan muda lainnya dari wartajazzcom, Agus Basuni, Kehadiran Indonesia di forum jazz internasional mnjadi penting untuk memahami seperti apa definisi jazz Indonesia. Dan Na’zar Noeman, yang mendirikan dan mengelola radio jazz satu-satunya saat ini di Indonesia, KLCBS di Bandung, Jazz harus menjadi good travel agent untuk menunjukkan identitas, namun harus jujur dan penuh kreatifitas.
Sebagai pembicara berikut, musisi dengan jam terbang sangat tinggi, mungkin tertinggi di wilayah musik (jazz) internasional, Dwiki Dharmawan. Dwiki sendiri berpendapat, “Jazz Festival haruslah menjadi ajang pergaulan sesama pelaku di dalam musik jazz,”
Kemudian ada juga Ekki Puradiredja, yang kini mengerjakan beberapa proyek musik. Sebelumnya, Ekki dikenal sebagai Program Director di Java Jazz Festival. Jazz Indonesia ditentukan dari sudut pandang yang menikmatinya, begitu kata Ekki.
Sebagai pembicara terakhir, eh ya saya. Saya mengatakan bahwa, jazz Indonesia itu simple banget. Adalah musik jazz yang dimainkan oleh orang Indonesia. Sementara saya tetap berpendapat, apakah Indonesia memang memerlukan begitu banyaknya festival jazz? Menurut Agus Basuni, tercatat terhitung ada 60 festival jazz di tanah air selama ini! 60 lho, saudara-saudara!
60-an itu, bila dibandingkan bahkan dengan negeri asal jazz sendiri, Amerika Serikat, hebatnya Indonesia lebih banyak festival jazz nya saat ini! Di USA, satu persatu jazz festival bertumbangan, collapse dan habis nafas. Di Indonesia sini, setiap tahun ada saja festival jazz baru diadakan....


Saya katakan, banyaknya festival jazz di Indonesia harusnya memberikan banyak kesempatan bagi para pelaku jazz. Dalam hal ini penyanyi dan pemusik-pemusiknya. Harus bisa ikut memberi kesejahteraan bagi mereka. Perhatian utama justru pada pada para pelaku jazz yang aktif, dan terus bersemangat. Bukan pada penyanyi dan pemusik dari “musik lain” yang seolah jadinya “mencuri” lahan para jazzer....
Ah sebenarnya pembahasan,atau apa yang saya katakan di acara tersebut sudah sering saya utarakan di website saya. Juga di Facebook kek, sampai di acara-acara diskusi musik (terutama jazz) lainnya. So, saya tetap pada pendirian, atas sudut pandang saya saja sih.
Jazz Indonesia, harusnya memang bagi para jazzer Indonesia. Yang diberikan kesempatan, untuk secara bersama-sama menarik perhatian publik untuk menyukai jazz. Jazz apapun bentuknya, jazz masa kini keq, jazz masa lalu keq, jazz jaman modern atawa jazz jaman dulu sekalipun.
Pokoknya, jazz Indonesia deh. Biarlah para pelaku jazz Indonesia, memang menjadi tuan rumah di tanah airnya sendiri. Jangan lantas keburu berpikir jauh, misal bagaimana berkeliling di luar negeri. Sudah touring kemana-mana, tetapi publik tanah airnya belum pernah nonton juga ya, kurang sreglah.
Ga salah sih. Ukurannya bukanlah salah atau benar, tapi kan ada baiknya para jazzer kita juga dikenal publik tanah air. Mereka harus memperoleh kesempatan itu. Ke negeri orang mah sama sekali ga salah. Itu urusan rezeki masing-masing.

Tapi gini, kalau publik luar lebih mengapresiasi sementara festival jazz di tanah airnya sendiri, tidak memberi apresiasi yang baik dan setimpal. Kayak ada yang kurang, ya ga sih?
Tempo hari, dalam kesempatan mengisi TP Jazz Festival di Bandung, Indra Lesmana juga memberi catatan penting yang unik. Apa lagi yang lebih unik dari, festival jazz terus bertumbuhan tetapi di sini justru jazz clubs malah ga ada yang bertahan?
Padahal bagsnya, club jazz menjadi arena perkenalan, menambah jam terbang yang pas bagi para jazzer. Nah, selanjutnya sebagai tahapan berikutnya, barulah naik jenjang, tampil di festival-festival. Tapi jazz clubs juga menjadi arena ntuk memelihara komunitas, ya ajang bergaulnya para jazzer, dan kesempatan berinteraksi dan berteman juga dengan para penikmatnya.
Di USA, jazz clubs dipertahankan. Dan memperoleh ruang gerak lumayan memadai. Tetapdipelihara dengan baik. Artinya, tetap dipertahankan. Sementara di sini, satu persatu orang maah memilih membuat festival jazz, sementara jazz clubs malah pada tutup karena kekurangan audience!
So, ironis ga, festival bisa sampai 60-an, tetapi jazz clubs sangat minim. Kalau tidak mau bilang, ga ada. Radio jazz, yang sanggup bertahan panjang hanyalah KLCBS 100,4 FM di Bandung saja! KLCBS dipertahankan sang pemilik, Nazar Noeman, selama hampir 35 tahun. Radio-radio yang memilih sebagai jazz station, ataupun “setengah” radio jazz, pada berttumbangan. KLCBS lantas menjadi, the one and only!
Sisi itu yang harusnya juga diperhitungkan dan dicermati seksama. Bagaimana jazz terpelihara dan hidup dengan baik dan benar di sini. Saya tak pernah bisa membanggakan bahwa negeri saya ini punya 60-an festival jazz, karena kenyataannya toh musik jazz tak pernah menjadi “musik populer”. Penggemarnya ya segitu-segitu saja. Kalaupun bertambah, relatif kecil sekali...
Lantas konteksnya dengan waktu, memasuki 2017 ini. Tahun yang baru, kalender sudah berganti. Tetap dipertahankan jumlah festival sebanyak itu? Ga juga sih, jumlah yang bertahan kayaknya ga sampai setengah jumlah itu. Bertahan dengan baik dan benar ya. Tumbuh cukup sehatlah.


Berapa banyak festival jazz di Indonesia, yang dapat bertahan lewat dari 5 tahun saja deh? Ngayogjazz yang unik di Yogyakarta, perlu disebut sebagai yang paling mampu bertahan hidup, lumayan panjang. Selain Java Jazz Festival, yang kemegahan dan kebesarannya kerapkali menjadi “ukuran” dan target penyelenggara festival jazz di luar Jakarta.
Jazz Gunung di Bromo, juga punya keunikan tersendiri dan sanggup bertahan lama, lewat dari 5 tahunlah. Nah ada 2 festival jazz lain, yang kebetulan saya ikut membidani dan menjalankannya, Solo City Jazz dan North Sumatra Jazz Festival, alhamdulillah sudah masuk tahun ke 8 dan ke 7, di 2017 ini.
Terseok-seok sih, teteup berdarah-darah. Sudah berdarah-darah begitu, toh juga ada masih yang kurang memberi apresiasi. Eh tepatnya sih tak mengira gitu, ga ngeh lah, eh udah bisa selama itu?
So di tahun 2017 ini, ada baiknya festival jazz yang sudah ada, demikian pula halnya dengan yang tengah direncanakan, dapat benar-benar diperhtiungkan masak-masak. Apalagi buat yang sedang mempersiapkan, bahwa bikin festival jazz memang gampang? Duitnya dari mana?
Kalau modalnya berharap dari pemerintah, lewat apa ya kementrian atau instasi resmi terkait, ah sudahlah. Sebagian besar festival jazz yang lantas hilang ditelan angin laut itu, modal utamanya semata-mata berdasarkan aliran dana dari instansi-instasi resmi. Begitu aliran dana dihentikan, kelar sudah hidup festival itu!



Kan ada sponsor dong harusnya? Sponsor apaan? Sponsor yang memahami jazz, sebenarnya juga minim. Sponsor yang memang mengerti dan mau “memberi apresiasi” dengan mendukung sebuah acara jazz, saya pikir jumlahnya teramat minim.
Kan ada badan-badan resmi lain, yang bisa diharapkan memberikan support? Misalnya Bekraf ya? Tetapi wajar sajalah, kalau merekapun juga memberi “persyaratan-persyaratan” tertentu, kalau mau didukung oleh mereka. Ya itu tepat dan benar!
Karena masih banyak juga pihak membuat festival jazz, dengan visi dan misi yang sebanrnya tak terlalu jelas. Mereka tak mengetahui atau menyadari sepenhnya, mereka akan membuat apa sebenarnya? Runyamlah, kalau start awalnya begitu.
Tapi bagaimana dengan konsep memperkenalkan titik-titik eksotis tanah air, sebagai destinasi potensial untuk meraih atensi wisatawan? Dengan menggelar jazz di spot-spot tersebut? Tetap harus didukung total oleh pemerintah. Kalau berdiri sendiri, sampai promosi “sambil lalu”, akan terasa event spontanitas yang tak direncanakan dengan baik. Sayang sih.
Tapi dukungannya itu, jangan hanya 1 atau 2 tahun. Harus panjang. Mungkin saja efektif, sebagai ajang promosi pariwisata akan destinasi-destinasi eksotis yang relatif baru. Bisa jadi begitu. Tapi kalau hanya “hit and run”, 1 atau 2 tahun lalu dilepas, ya tak akan efektif.
Jazz diperlakukanlah dengan memang pandangan dan feel yang jazz. Bukan hanya sekadar alat. Sehingga malah jadinya, sekedar latah dan ikut-ikutan. Di tahun 2017 ini, dan kemudian, seharusnya sudah disingkirkanlah kelatahan begitu. Ga ada dampaknya apapun, untuk dunia musik jazz Indonesia kok.



Akhirul kata, sudah lupakan kuantitas festival jazz di Indonesia. Perhatikan dan kedepankan soal kwalitas dan...jaga betul kontinuitas. Karena untuk hal itu, bukan perkara mudah. Selalu membesarkan jumlah begitu banyaknya festival jazz di Indonesia toh tak akan membuat “kiblat” jazz berpindah ke Indonesia juga kan?
Kalau festivalnya lebih berkwalitas, memberi tempat dan apresiasi pada potensi-potensi jazzer negeri kita sendiri ini, membuat jazz Indonesia bertumbuh dengan relatif sehat dan segar. Insha Allah, hal demikian lebih berarti.
Ya kan, ada festival jazz tapi toh para jazzer juga sulit untuk bisa mendapatkan kesempatan main. Lantas, festival jazz itu buat siapa lagi sih? Sehat ga kalau begitu? Kan membuat festival jazz yang sanggup bertahan itu susah lho? Kalau begitu, kenapa juga harus latah-latahan? So, kenapa harus jazz?
Well, segitu sajalah, pesan dan kesan saya untuk jazz di Indonesia di 2017 ini. JAZZ as Always, dude! /*




.




Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...