Perbedaan Genesis dan Cockpit. Cerita Tentang Cover-Band yang terus eksis, dari 1982...


Yang pertama dulu, GENESIS. Mereka, seperti yang fans fanatiknya telah ketahui, adalah grup yang didirikan di Charterhouse School, Godalming, Surrey.  Letak persisnya di  kawasan tenggara London.
Para pendirinya, yaitu Mike Rutherford (gitar), Tony Banks (kibor), Peter Gabriel (vokal), Chris Stewart (drums) dan bassis, Anthony Phillips. Umur mereka waktu itu, masih remaja tingting, 15-an sampai 17-an tahun.
Eh eh  salah apa ilmu, sampai mereka tuntut? Eeeaaaaa..  Usianya masih kategori, kinyis-kinyislah. Tahun berdirinya adalah 1967. Edun kan, sudah 50 tahun usia mereka.
7 Maret 1969, mereka merilis album perdana. Dan mentahbiskan nama grupnya menjadi Genesis. Album itu bertitle From Genesis to Revelation. Melalui label, Decca Records. Stewart lalu digeser John Silver. Yang mana Silver pun digantikan oleh John Mayhew. Mayhew masuk, setelah debut album itu selesai diproduksi. Saat itu mereka mulai memastikan karir musik mereka secara serius dan become professional musicians.
Formasi Rutherford, Banks, Gabriel bersama Phillips dan Mayhew hanya bertahan untuk album kedua mereka, Trespass yang dirilis 1970. Album tersebut dirilis oleh Charisma. Dan pada sisi musik, dianggap sudah bergeser ke arah bentuk-bentuk bersuasana art rock. Berbeda dari debut album mereka, yang dirilis setahun sebelumnya itu, yang lebih cenderung agak ngepop.
Masuklah kemudian nama Phil Collins dan Steve Hackett, saat mereka menyiapkan album ketiga, Nursery Crime. Album itu dirilis pada 1971. Musik mereka secara keseluruhan juga makin tegas ke arah art rock, meninggalkan suasana folk-flavoured yang masih terasa di album keduanya.

Dari album ketiga, yang bisa dianggap album “originally” Genesis with their art rock spesific sound tersebut, muncul lagu seperti ‘The Musical Box’, bak sebuah ballad-folk symphonic berdurasi lebih dari 10 menit, dan ‘Seven Stone’. Lewat album ini, Gabriel lantas mulai dikenal lewat penampilan on stage nya yang teatrikal.
Penampilan mereka sebagai sebuah grup art rock, yang pada masa kini dikenal sebagai progressive rock tersebut, kemudian muncul sebagai salah satu grup dengan performance yang menarik. Memperhatikan sisi kostum, make-up bahkan hingga tata cahaya dan multimedia.
Masuk ke album berikut, Foxtrot. Inilah album mereka yang paling sukses, dibanding ketiga album sebelumnya. Walau masih sebatas UK dan Eropa. Dalam album ini mereka merilis sebuah epic berdurasi 23 menit, ‘Supper’s Ready’ nan fenomenal itu. Situs musik, allmusic menyebutnya sebagai, “Undisputed Materpiece”.
Kemudian pada 1973, muncullah lagu-lagu hits mereka berikutnya. Macam antara lain,’Fifth of Firth’, ‘Dancing with the Moonlit Knight’ atau ‘I Know What I Like (In Your Wardrobe)’. Lagu-lagu itu ada dalam album kelima mereka bertitel, Selling England by the Pound. Album yang akhirnya bisa sukses secara komersial juga di Amerika Serikat. Dan sekaligus, berbunyi dimana-mana.

Album yang diberi sertiikat gold oleh British Phonographic Industry (BPI) dan Recording Industry Association of America (RIAA), kabarnya disebut oleh gitaris Steve Hackett sebagai album Genesis yang faling dipaporitkannya. Eh maksudnya, album paling favoritnya.
Etapi sejauh ini, teman-temanku yang baik, mungkin menunggu-nunggu ya? Cerita tentang COCKPIT nya mana? Iya, iya sabar dulu. Saya kasih intro cukup panjang dulu soal Genesis. Karena gini bro en sis, harus juga kenal Genesis kan, kalau mengaku fansnya Cockpit. Setuju, saudara-saudara sekalian? Kalau setuju, seruputlah kopinya.....
Kalau menyoal pada Cockpit, berarti titik awalnya adalah Batara Band. Eits, jangan salah sangka dengan, Bharata. Batara memilih memang meng-cover lagu-lagu Genesis. Bharata kan ke Beatles. Itu awal 80-an, dimana personilnya adalah Oding Nasution, Yaya Moektio, Freddy Tamaela, Harry “Kuda” Minggoes dan Debby Nasution.
Batara kemudian menjadi Cockpit. Cockpit yang 80-an. Karena di era 1970-an ada juga Cockpit. Tapi beda banget, dan sama sekali tak ada hubungannya. Cockpit itu adalah Batara tetapi dengan Debby Nasution digantikan Roni Harahap.
Katanya sempat juga ada Harry Anggoman. Kalau menurut Oding, pertama kali Cockpit main dengan kibordisnya, Harry Anggoman. Ok pokoknya, Cockpit sendiri didirikan tahun 1982, main pertama kali di sebuah acara musik di TIM. Acaranya Sys NS kah? Dan kabarnya, mereka langsung dapat fans waktu itu.
Saya sempat googling juga, ada yang menulis bahwa Cockpit didirikan oleh Oding, Yaya, Dadan Izal dan Joseph Martam, sebagai Batara Band di awal 1980. Dimana mereka mengajak serta Freddy Tamaela sebagai vokalis.
Di belahan dunia lain, Genesis sendiri memasuki 1980 itu tersisa 3 original membersnya saja. Yaitu Banks, Rutherford dan Collins. Gabriel hengkang selepas rilis album The Lamb Lies Down on Broadway, yang seolah menggariskan berhentinya era Gabriel di musik Genesis.
2 tahun kemudian dirilis A Trick of the Tail, yang mengedepankan Phil Collins sebagai lead vocalist. Dimana untuk performance di panggungnya, mereka kemudian didukung pula oleh Bill Bruford, ex Yes. Masih di tahun sama, tapi di penghujung tahunnya, Genesis melepas Wind & Wuthering, ini album terakhir yang didukung Steve Hackett. Lalu pada tour mereka, diperkenalkanlah additional drummer, Chester Thompson.
Nah setelah itu, dirilislah ...And Then There Were Three... Dimana memang tersisa 3 personilnya saja. Ini adalah album yang dianggap lebih poppish. Lebih bisa “dinikmatin” oleh fans musik umum. Secara komersial, album ini memang terbilang sukses, menjadi album pertama mereka yang diberi sertifikat platinum oleh RIAA.


So jadinya, Genesis sudah berusia 15 tahun-an, barulah Cockpit muncul. Dan Cockpit memang penggemar berat Genesis. Kabarnya justru memang di Gabriel’ Era. Tapi menariknya kan, justru saat Cockpit muncul Gabriel sudah hengkang, musik Genesis pun bergeser.
Seperti juga dengan grup art rock atau progressive rock lain, Yes, maka Genesis jelang 80-an dan setelahnya dianggap lebih berorientasi komersil. Mereka menghasilkan lagu dengan musik lebih bertendensi, lebih light. Misal meninggalkan lagu-lagu berdurasi panjang, yang tidak “radioable”.
Sebagian fans fanatik Genesis, apalagi yang sangat mengidolakan Peter Gabriel rada kurang bisa terima dengan perubahan musik grup idolanya. Tapi kenyataannya, Genesis setelah album kesembilannya yang dirilis 1978, justru makin populer. Hits mereka menembus charts terkemuka.
Artinya juga, mereka sukses dalam hal meluaskan penggemar. Genesis pun makin banyak fansnya. Seingat saya, bahkan untuk di Indonesiapun, Genesis baru bisa dibilang populer di era 1980-an.






Uniknya, yang memperkenalkan Genesis di sini sejatinya adalah Cockpit! At least gini, Cockpit seolah membawa penggemar mereka lantas makin menyukai Genesis dan jadi loyal, dalam hal membeli album-album mereka.
Pengalaman saya di era 1980-an itu, tidak sedikit anak-anak muda sebaya, mengenal Genesis karena Cockpit! Atau, mereka baru membeli 1-2 album Genesis, akhirnya lantas rutin menunggu rilis album-album baru selanjutnya.
Kayak, Duke, rilis 1980. Dalam album ini kan muncullah, ‘Turn It On Again’, ‘’Misunderstanding’, ‘Duchess’ atau ‘Behind The Lines’. Album ini dihasilkan setelah ketiga personil tersisa, masing-masing sempat menghasilkan solo album. Yang mana, yang paling sukses tentunya Phil Collins.
Sekedar mengenang aja sih ini, Philip David Charles Collins menghasilkan Face Value di tahun 1980. Disusul 2 album solo lain yang lebih sukses lagi, Hello I Must be Going (1982) dan No Jacket Required (1985).
Sementara Michael John Cloete Crawford Rutherford, menghasilkan Smallcreep’s Day (1980_ dan Acting Very Strange (1982). Ia lebih sukses lagi setelah muncul dengan solo band project-nya, Mike + The Mechanics, dimana debutnya dirilis 1985. Sejauh ini tercatat sudah menghasilkan 8 studio albums.
Berikutnya, Anthony George Banks, juga tak ketinggalan mengerjakan solo album. Di 1979 ia menghasilkan A Curious Feeling dan 3 tahun kemudian menghasilkan The Fugitive. Selanjutnya ia menghasilkan 3 lagi solo album. Selain menggarap film scoring.
Kembali ke tanah air, tentu saja dengan Cockpit. Jadi Roni Harahap masuk di akhir 1982 menggeser Harry Anggoman. Pada 1984, bassis Harry “Kuda” digantikan oleh Raidy Noor. Nah di era 1980-an pertengahan itu nama Cockpit menjulang sangat tinggi.
Mereka bersaing serius dengan cover-bands lain, seperti Solid 80, Acid Speed Band. Yang mana menariknya, mereka masing-masing punya fans fanatik masing-masing. Eh soal Acid Speed dan Solid 80, sudah pernah saya tulis profilenya. Silahkan buka-buka saja website saya nan sederhana ini.
Yang “membedakan” Cockpit dengan cover-bands  “saingan” mereka adalah, Cockpit itu grup dengan stamina main di atas panggung, terhitung extraordinary! Mereka pernah main sampai 3 jam, dan itu ga hanya sekali dilakukannya. Main aja, capek ga capek ya terus aja. Kalau belum berhenti ya kita terusin, apalagi kalau penontonnya yang minta, begitu kenang Yaya Moektio.
Oding menambahkan, biasanya kita jadi main terus dan bablas ya karena penontonnya juga. Penonton minta nambah terus, ya kita kasih. Cuma karena kita sudah kayak kerasukan gimana gitu, maksudnya lupalah sama capek, minta tambah 1-2 lagu bisa-bisa kita kasihnya malah 5- lagu....! Sambung Oding lagi, diiyakan baik oleh Yaya dan Raidy Noor.
Pengalaman saya sendiri mengenai Cockpit, menonton mereka pertama kali di Balai Sidang. Dan itu langsung membuat saya terkesima. Edan, penonton sing-a-long. Antusias dan enerjik betul merespon semua lagu yang dibawain Cockpit. Yang namanya broer Freddy Tamaela, bener-bener udah jadi....macam, Freddy Collins! Wuah, Freddy bisa membuat penonton histeris waktu itu.
Seinget saya, saya memang sudah menyukai Genesis. Makanya lalu pengen banget lihat Cockpit. Untuk nonton dan dengerin dan...seneng-senenglah. Tapi asli referensi mah terbatas, hanya palingan 1-2 album di era Gabriel serta album mereka yang sudah bertigaan saja.
Saya rasa, saya kayak penonton-penonton Cockpit lain waktu itu. Langsung kesengsem dan suka dengan mereka, dan jadi kadung menganggap mereka ya gini deh, nonton Cockpit udahlah kayak nonton Genesis. Di saat itu kan, mungkin juga terpikirlah, mana mungkin ya bisa menyaksikan langsung konsernya Genesis?
Cockpit ya Genesis. Genesis itu Cockpit. Dan mereka memang aslilah mengandalkan lagu-lagu tahun 1980-an. Ya sebut deh, lagu-lagu hits dari album 1978, 1980 yang sudah saya tulis di atas. Apalagi dari Abacab, yang disebut album tersukses pertama Genesis karena menembus puncak tangga di UK dan Top-10 di USA.
Lagu-lagu dari album yang dirilis 1981 oleh Charisma Records itu dikenal luas dimana-mana, ya so pasti di sini. ‘Abacab’, ‘No Reply at All’, ‘Me and Sarah Jane’, ‘Dodo/Lurker’, ‘’Man on the Corner’, ‘Like It or Not’ misalnya.
Sambung kemudian dengan selftitled album Genesis. Dirilisnya 2 tahun berselang. Dari album ini muncul, ‘Mama’ yang terkesan anthemic itu. Lalu, ‘Home By the Sea’, ‘That’s All’. Ada juga, ‘Illegal Alien’, ‘Just a Job to Do’, ‘Silver Rainbow’ sampai ‘It’s Gonna Get Better’.
Kalau Abacab terjual lebih dari 2 juta copies, maka Genesis malah terjual 4 juta copies. Juga masuk urutan puncak di UK dan kembali menembus Top-10 USA, bertengger di posisi 9.
Mereka memang menghidangkannya relatif persis dengan apa yang dihasilkan Genesis sih. Terutama memperhatikan betul pada sound, terutama sekali pada kibor dan gitar. Tak lupa pola gebukan drums dari Phil Collins atau Chester Thompson, yang sudah signature sound itu.
Ditambah lagi, meneer Freddy Tamaela, tak lupa sampai membawa juga peralatan sound-effect, yang membuatnya bisa menghasilkan voice lengkap dengan echo. Itu jadi sangat bernuansa lagu, ‘Mama’ nya Genesis itu. Dandanannyapun kerapkali rada teatrikal, mengingatkan kita pada Peter Gabriel dong.
Cockpit masuk jelang era 1990-an mulai terasa sedikit slowdown. Mungkin bisa diartikan, istirahat sejenak, menghela nafaslah. Tetapi pada 1990 itu, Cockpit malah ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh vokalis karismatisnya, bung Freddy Tamaela. Freddy wafat karena penyakit paru-paru basah.
Foto :  Istimewa (google)

Foto  :  Istimewa (google)
Kehilangan Freddy memang membuat Cockpit rada “klimpungan”. Maklumlah, karakter Freddy itu khas betul, dan sudah kadung dianggap “paling mendekati” vokalnya Phil Collins.
Jadi soal Cockpit ini, emang kudu tanya the rest of their 2 original members. Odink Nasution dan Yaya Moektio. Oding, sebelum dengan Cockpit seperti diketahui pernah masuk formasi God Bless. Itu era dimana pada satu masa, God Bless didukung Nasution bersaudara, ya Oding, Keenan dan Debby.
Oding sendiri lalu juga terlibat dengan Guruh Gypsi, diterusin dengan Badai Band. Tentunya juga Gank Pegangsaan. Salah satu gitaris rock era 1970-an yang paling menonjol saat itu, dan tetap eksis sampai sekarang.


Cerita Oding, ia mulai suka dengan Genesis sejak sekitar 1973. Itu era dimana ada album Selling England by the Pound, yang lantas menjadi album terfavoritnya. Album itulah, yang membuatnya jadi suka dan doyan banget Genesis. Sampai mulai mengulik sound-sound gitar Genesis.
Genesis itu musiknya kompleks, rada susah tapi mengasyikkan untuk dimainin, begitu terang Oding. Ia karena suka, memang lantas kepikiran kumpul dengan teman-teman musisi yang suka Genesis juga.
Ya gitu, ketemulah dengan beberapa teman. Jadilah Batara. Tetapi lanjut kemudian dengan Cockpit, karena kepengen lebih serius lagi. Dan dia sungguh tak menyangka, bisa terus bertahan bahkan hingga sekarang.
Ya main sih main aja. Chemistry-nya pas, karena paling ga dia dan Yaya memang doyan Genesis. Ketemu Raidy yang kuat di progressive rock juga. Dari Harry ke Roni, lalu ke Krisna dan Dave, ya untung dapat kibordis yang memang suka ngulik sound.
Karena kan salah satu bentuk utamanya Genesis ya pada sound kibor itu. Susah-susah gampang nyari pengganti Roni, karena sempat kita merasa pas dan klop kan. Untunglah dapat Krisna Prameswara itu. Krisna kita udah kenal lama sih, jaman studio Cockpit dulu di daerah Blok A.

Cuma Krisna bandnya banyak banget, jadi jadwal lantas jadi suka ga pas. Cerita Oding lagi, kemudian ya ketemu Dave Lumenta. Dua-duanya ganti-gantianlah bantuin kita. Kalau soal vokal, ya ketemunya dengan Arry, yang penting Arry suka dan tau lagu-lagu Genesis.
Yaya Moektio juga memang menjadikan Phil Collins sebagai salah satu drummer yang paling menginspirasinya. Selain itu juga kemudian Bill Bruford. Karena drumsnya itu, nyanyi banget, bukan karena Collins main sambil nyanyi.
Buat Yaya, Chester Thompson, sebagai addtionalnya Genesis juga melebur ke dalam musiknya Genesis. Maka dia juga suka Chester, terutama pada pola-pola rhythmnya itu. Genesis itu khas pada drumsnya sebenarnya, terang Yaya.
Yaya sendiri mengatakan suka Genesis udah lama banget. Bisa jadi sama dengan Oding. Walau kalau ditanya album favoritnya, rada susah. Ia menyebut, semua album Genesis dia dengerin dan dia sukai kok. Walau, kalau boleh memilih, dia lebih suka dengan album-album yang era Gabriel, yaitu album-album hingga sekitar pertengahan 1970-an itu.
Pola rhythm Genesis yang khas, lewat drums memang lantas mendarah daging pada Yaya. Itu diakui banyak musisi. Satu ketika Indra Lesmana juga pernah mengajak main bareng, karena gaya permainannya unik. Konon kabarnya, ketika Yaya masuk formasi God Bless, mainnya membuat God Bless memang jadi beda.
Tapi perbedaan itu, justru bikin “tidak nyaman”. Pola permainannya sudah terlalu Genesis”, banyak memainkan pola notasi tempo yang dianggap tak masuk dengan God Bless. Yaya bagus, tapi kurang pas untuk rock-nya God Bless, begitu pernah terdengar. Artinya ya, memang Yaya sadar atau tidak, sudah kadung punya style tersendiri.


Yaya itu salah satu roh terpentingnya Genesis eh Cockpit maksudnya. Tanpa Yaya, Cockpit akan jadi sangat berbeda. Pernah terbukti, saat Yaya menghilang, “masuk sekolahan”. Bahkan sampai Cockpit perlu “mengakali” dengan format duo-drummer, salah satunya adalah putra Yaya sendiri, Rama Moektio.
Kemudian adalah Raidy Noor. Sebelum dengan Cockpit, ia terlibat dengan Rara Ragadi, bersama kaka-beradik alm. Iwan dan Riza Arshad. Dimana ia sebenarnya mengawalinya dengan bermain gitar, bukan bass. Raidy masuk, menggantikan bassis, Harry Minggoes, di tahun 1984.
Menurut penggemar musik, sound dari bass headless-nya Raidy itu unik. Itu juga yang memberi warna tersendiri pada musiknya Cockpit. Pola permainan rhythm-nya Raidy juga dianggap “ga biasa”. Memang terasa progressive sih. Itu juga yang membuatnya pas dengan Cockpit.
Selain dengan Rara Ragadi, sebelum Cockpit ia main dengan Staff Band, sebuah fusion rock band dengan Addie MS, Ikang Fawzy, Cendi Luntungan. AIR, Addie, Iakng dan Raidy yang mengawali Staff itu sebenarnya, band jaman SMA-nya. Ia juga masuk formasi Kasran Frontal, yang sebetulnya juga mengcover Genesis, waktu itu dengan Musya Joenoes,  Uce Haryono, Budi Moetio dan lainnya.
Buat Raidy, Cockpit itu awalnya buatnya untuk kepuasan tanpa batas, refreshinglah. Kan waktu itu, ia juga banyak menjadi music director atau producer banyak album, terutama album berkonotasi “pop kreatif”. Kan di wilayah rekaman begitu, suasana musiknya banyak berhadapan atau ketemu rambu-rambu komersial.
Nah buat Raidy, kalau sekarang itu, Cockpit menjadi arena gaul, nambah pertemanan. Itu susah didapat dalam suasana lain. Soal satu itu, juga diakui Yaya maupun Oding. Mereka mendapat teman-teman baik banget, menjadi sahabat dekat malah, ya dari yang pertama kali itu awalnya fans mereka.
Ketemu terus dengan orang-orang yang rajin menonton mereka, bahkan dari jaman tahun 1980-an, itu kenikmatan tiada terkira, buat Raidy. Seneng kan, bahwa ada yang suka dengan musik grup kita?


Pindah ke Krisna Prameswara. Mengawali perjumpaannya dengan Cockpit, saat ia masuk formasi Cockpit Junior. Cockpit Junior itu diasuh Cockpit yang senior. Latihan mereka bareng tempatnya, di studionya Cockpit di kawasan Blok A, Jakarta Selatan.
Cerita Krisna, waktu itu band waktu SMP-nya juara kompetisi band antar SMP-SMA yang memang dibikin Cockpit Enterprise, pada tahun 1985. Jadi mereka ditarik dan lantas dimasukin jadi Cockpit Junior itu. Dari waktu itu, dia mulai diminta bantuin Cockpit, terutama bila Roni Harahap berhalangan.
Awal banget, kalau ga salah, ia main dengan Cockpit di Parkir Timur Senayan, acara malam tahun baru. Itu acara berlangsung tahun 1988. Tapi resminya masuk di tahun 2007, untuk menggantikan Roni Harahap yang mundur.
Sebelumnya sebenarnya, ia rutin membantu Cockpit, terutama sebagai programmer membackup Roni Harahap. Bantu Roni menyiapkan sound-sound dan keyboards-nya, sekitar tahun 1999. Waktu itu, pas Cockpit mulai kembali main lagi dengan serius.
Krisna sendiri mengaku, ia awalnya lebih cenderung suka dengan Yes. Karena Yes itu kan pakai jubah, kostum-kostum yang lebih ngeband. Dibanding Genesis, lewat video Three Sides Live-nya yang, buat Krisna, penampilannya ga ngeband. Kayak oom-oom dan mas-mas, dengan hanya t-shirt biasa gitu, katanya lagi sambil ketawa.
Dia jadi suka Genesis, setelah tahu dan dengarkan album-album era Peter Gabriel. Ia mengakui jadi ngefans sampai sekarang. Album favoritnya, ia pilih The Lamb Lies Down on Broadway. Ada beberapa lagu yang ia sukai antara lain, ‘Mad Man Moon’ dan ‘Supper’s Ready’.

 

Tahan dulu, tahan. Dari Cockpit ke Genesis lagi ya. Nah dirilislah Invisible Touch, yang untuk kritikus musik barat, lebih dianggap sebagai album pop rock atau synthpop yang beraroma prog-rock. Dan ini album paling sukses mereka. No. 1 di UK dan mencapai nomer 3 di USA.
Album yang terjual sampai sekitar  7,2 juta copies di seluruh dunia itu menghasilkan hits kayak, ‘Invisible Touch’, ‘In too Deep’, ‘Tonight Tonight Tonight, ‘Land of Confusion’, ‘Throwing it All Away’. Juga ada lagu ‘Domino’ yang dibagi dalam 2 part itu.
Album tersukses ini dirilis setelah masing-masing members tersisa Genesis menyelesaikan solo albumnya. Seperti misal, Phil Collins yang setahun sebelumnya merilis No Jacket Required, yang menjadi solo album ketiganya dan juga yang tersukses, dengan hitsnya seperti, ‘Sussudio’, ‘Don’t Lose My Number’ dan ballad, ‘One More Night’
Setelah Invisible Touch dirilis, diikuti serangkaian world tour panjang, kabarnya mencapai 112 show, Genesis bisa dibilang tidur lagi. Lumayan juga, karena baru di 1991 mereka merilis album, We Can’t Dance. Album ini juga lumayan sukses, terjual sampai 4 juta copies.
Setelah album ini dirilis, diikuti 55-dates tour di Eropa dan USA, Genesis lantas ditinggal oleh Phil Collins. Collins memilih berkonsentrasi saja di solo project-nya, dimana memang ia sukses juga, dan lantas disibukkan serangkaian tour show. Kata Collins,ini saatnya ia berkecimpung di musik untuk film, beberapa jazz projects dan tentu saja, aktifitas solo albumnya.
Dan 1997, Rutherford dan Banks ternyata tetap mencoba mempertahankan Genesis. Lewat audisi, akhirnya mereka mendapatkan Ray Wilson. Vokalis kelompok rock, post-grunge, Stiltskin asal Inggris juga, diumumkan resmi sebagai pengganti Phil Collins pada Juni 1997. Dan 3 bulan kemudian, dirilislah, Calling All Stations.
Tak hanya masuknya Ray Wilson, pada musisi pendukung juga ada pergantian. Daryl Stuermer dan Chester Thompson pun digantikan oleh drummer Nir Zidkyahu dan gitaris, Anthony Drennan. Kedua musisi itu muncul pada kesempatan konser dan terutama tour show album tersebut.
Album tersebut, dianggap kurang sukses. Padahal dari sisi musik, dirasakan bahwa Genesis seperti kembali ke bentuk musik yang mengingatkan publik pada warna musik mereka di tahun 1970-an. Suasananya paling tidak memang berbau ke musik Genesis 1970-an. Mungkin kekurang suksesan penjualannya, karena album ini tak meneruskan warna lebih ngepop?
Ray Wilson berhenti sebagai vokalis Genesis di 1999. Lalu di November 2006, Rutherford, Collins dan Banks menggelar jumpa pers untuk merilis rencana reunion tour-nya, Turn it On Again Tour di 2007. Mereka kembali lagi dengan juga menyertakan  Darryl Stuermer, sebagai gitaris dan bassis pendukung. Dan di drums, kembali lagi, Chester Thompson.
Sayang tur sukses itu, tak diikuti untuk kembali mereka memang bermain bareng. Apalagi di 2011, Collins juga menyatakan istirahat sejenak dari dunia musik. Dan yang pasti, ia tak bisa lagi bermain drums, karena alasan kesehatan. Setelah itu, Genesis menghilang.
Sebenarnya sempat ada rencana touring formasi The Lamb Lies Down on Broadway, dimana Steve Hackett dan Peter Gabriel digadang-gadang akan melakukan reuni dengan Collins, Banks dan Rutherford. Tapi rencana yang sempat terdengar di sekitar 2004 itu tak terjadi.
Lalu kembali ke Cockpit nya kita nih. Arry Syaff, vokalis, masuk resmi Cockpit di Juni 199. Yang ia ingat, show pertamanya dengan Cockpit adalah di Poster Cafe, itu acara Collector’s Item dari Radio rock, M97 FM. Menurut Arry, itu juga show pertama dari Cockpit setelah vakum cukup panjang, paska perginya Freddy Tamaela.



Dia suka banget Cockpit, bahkan sejak masa SMP. Kalaupun harus mengantri untuk beli tiket, ia bela-belain. Lantas “Papi Raidy” lah yang menawarkannya menjadi vokalis Cockpit, walau harus diaudisi dulu. Ia langsung menjawab iya dan seneng banget!
Karena sedari dulu, sudah suka Cockpit, jadi penontonnya. Dan juga memang kepengen bisa satu waktu, menjadi vokalis dari band idolanya itu. Akhirnya, alhamdulillah kesampaian.
Menurut Arry, bawain lagu-lagu Genesis itu sama nilainya dengan kayak bawain karya-karya komposer musik klasik dunia, buatnya. Ya karya-karya besarnya Mozart, Bach, Beethoven lah. Lumayan memerlukan perhatian dan konsentrasi, untuk bisa membawakannya dengan baik.
Lagu-lagu Genesis yang dibawakannya dengan Cockpit menuntut skill tertentu, perlu sense dan bener-bener mempunyai citarasa tersendiri. Attitude musiknya Genesis itu khas banget. Ga gampang, tapi ia memang sangat menikmatinya.
Arry mengaku susah kalau ditanya album favorit dan juga lagu yang paling dia sukai dari Genesis. Karena, bagi dirinya, ia menyukai dan sampai mengidolakan Genesis secara keseluruhan. Baik era Gabriel maupun ketika mereka tersisa tiga orang saja.
Kita terusin yiuuuks dengan Dave Lumenta. Ia mulai mendukung Cockpit setelah memasuki dekade 2010-an. Sebelum dengan Cockpit, iapernah ngeband dengan banyak musisi lain juga sebenarnya. Semasa kuliah misalnya, di Universitas Indonesia, ia ngeband dengan Once Mekel, Fajar Satritama dan Kiki Caloh, di sekitar 1991 sampai 1995-an. Itu band rock tapi ya band kampuslah.


Ia juga pernah barengan dengan Krisna Prameswara dan drummer Ossa Sungkar bikin Art Rocker, dari 1991 sampai sekitar 1997. Sebelum itu bantuin juga Brawijaya Band, atau band di SMA Pangudi Luhur, yang lanjut ke Universitas Indonesia.
Ia juga sering menggarap kerjaan film scoring, yang dianggapnya sebagai semacam sambilan yang bermanfaat. Ia memang menyebut, pekerjaan utamanya kan sebenarnyalah adalah dosen di Anthropologi Universitas Indonesia. Musik jadinya memang tidak bisa prioritas utama.
Dibagilah waktunya, sebaik-baiknya. Karena itulah kalau ada pekerjaan terkait posisinya sebagai dosen itu, misalnya penelitian-penelitian ke daerah, posisinya kalau Genesis pas harus main diisi oleh Krisna Prameswara. Sesekali memang ia jadi bergantian menjadi kibordisnya Cockpit, dengan Krisna.
Krisna memang terpaksa digantikan di Cockpit, karena ia sibuk. Bandnya banyak, ia juga rajin kemana-mana sebagai session player untuk show juga rekaman. Karena itulah, Cockpit dengan sangat terpaksa harus mencari pengganti.
Menariknya, kedua kibordis itu memang tipikal kibordis yang doyan mengulik sound-sound tertentu. Dave mengaku, dalam Cockpit itu adalah penyaluran utamanya, karena kesukaannya dengan sound design. Mainin lagu-lagu Genesis itu seru, asyik dan memang menantang banget dalam membuat sound-sound khasnya lewat kibor.
Ia juga kebetulan suka dengan Genesis. Ia juga telah menyaksikan Cockpit sebelumnya. Jadi ketika ia ditawari masuk Cockpit, ia langsung bersedia. Menurut Dave, memainkan musik progrock, seperti musiknya Genesis itu, memang tidak pernah bisa santai. Mengulik itu perlu waktu dan perhatian. Buat dia, itu baik lho untuk menunda proses penuaan....
Jadi begitulah, Cockpit terus berjalan. Walau kemarin itu, pada Juli silam, Oding Nasution sempat terkena penyakit gula. Yang menyebabkan ia harus memperoleh perawatan serius dari rumah sakit. Alhamdulillah, proses penyembuhannya terlihat relatif cepat dan lancar. 




Maka Oding pun lantas bisa kembali tampil dengan Cockpit, pada awal September lalu di Titan Centre, Bintaro. Cockpit tampil dalam acara Cockpit Plays The Greatest Hits of Genesis and Members (Phil Collins, Mike Rutherford / Mike  The Mechanic dan Peter Gabriel).
Dan seperti biasa, penonton penuh. Mereka menyajikan sekitar 15 lagu sepanjang hampir 2 jam. Dengan sebelumnya didahului penampilan grup band pembuka, Raidy Noor Experience, yang mengiringi beberapa penyanyi, termasuk Harmoni 8, dan duo Kadri-Jimmo.
Saat itu, karena Oding yang baru sembuh sakit. Sebenarnya tepatnya, sedang menjalani proses penyembuhan jadi belum bugar seperti sebelum sakitnya. Maka ada gitaris lain, yaitu Nada Noor dan Alif, yang sempat memainkan beberapa lagu, termasuk ‘Abacab’. Tapi Oding tetap memainkan lebih banyak lagu.
Cockpit juga pada kesempatan itu, mengajak serta penyanyi rock perempuan, yang ngehits di era 1980-an, Atiek CB. Atiek yang kini berdomisili di USA itu, tampil berduet dengan Arry dalam salah satu hits dari Peter Gabriel, ‘Don’t Give Up’. Seperti diketahui, lagu aslinya, Gabriel berduet dengan penyanyi bersuara khas dan eksotis, Kate Bush.
Well, Cockpit tetap eksis. One of a kind. Mereka menjalani perjalanan bermusiknya dengan sukacita. Walau hanya merekalah, cover band yang sampai hari ini belum menghasilkan album solo.





Mereka di 2015 sempat melepas single, ‘Haruskah Aku Berlari’. Lagu hits itu sebetulnya ditulis Maria Fioole dan dibawakan Freddy Tamaela dalam solo albumnya. Tapi semasa hidupnya, lagu itu lantas sempat dibawakan di panggung juga oleh Freddy bersama Cockpit.
Single lagu tersebut masuk di sebuah album kompilasi fenomenal, yang didominasi genre musik progressive-rock, yaitu album Indonesia Maharddhika. Album tersebut diproduseri oleh Yenninotz Journey.
Mungkin ada baiknya sebagai sebuah dokumentasi, sebut sebagai warisan kelak, perlu juga Cockpit menghasilkan album rekaman. Biar bagaimanapun juga mereka cover band, imitator atau epigon yang pernah mencatat prestasi lumayan fenomenal. Seperti yang ditulis di atas itu, bermain bahkan hingga 3 jam full non stop, disaksikan ribuan penonton yang terus bernyanyi dari awal hingga akhir bersama mereka.
Kita berharap bisa terjadi, ada kesempatan mereka akhirnya bisa membuat sebuah album rekaman. Sehingga sampai kapanpun Cockpit tak akan pernah hilang, paling tidak musik mereka akan everlasting, dapat didengar dan dinikmati generasi kemudian. Biar senantiasa diketahui adanya Genesis-nya Indonesia ini, yang eksis begitu panjangnya.





Cockpit memang Genesis. Mereka pas, pleksek sebagai Genesis cover-band. Walau belakangan ada juga yang menyebut, kalau didengerin baik-baik, lagu-lagu Genesis yang dimainkan Cockpit itu malah ada yang jadi lebih ribet dari aslinya!
Musik dan soundnya malah jadi lebih kompleks. Tapi bukan berarti menjadi tidak nyaman didengar lagi. Hasilnya itu ya akhirnya membuat lagu-lagu Genesis menjadi beda lagi aja. Toh terkesan, penonton atawa penggemar fanatik mereka tak terlalu mempersoalkan hal tersebut.
Dan akhirul kata, Long Live Cockpit! Biar Genesis sudah tiarap atau terkapar, atau ya sebut saja mungkin sudah berakhir. Toh musiknya tetap akan terus berbunyi dimana-mana, terus sampai .... akhir jaman! /*














Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...