Chester Bennington..., In The End


Chester Bennington, menjadi headline berbagai situs berita di seluruh dunia. Dan menjadi tokoh yang fotonya memenuhi seluruh media sosial yang ada, termasuk Facebook, Path, Instagram, Twitter. Dan adalah kepergiannya yang diratapi banyak penggemar musik seluruh dunia.
Berita bahwa ia meninggal dunia dengan cara menggantung diri, membuat shocked massal. Hanya sekitar sejam setelah grup band yang mengangkat begitu tinggi namanya ke seluruh dunia, Linkin Park, merilis video dari single teranyarnya. Dan itu hanya sekitar 2 minggu setelah penampilan terakhirnya di Birmingham, dalam masa perjalanan tour dunia Linkin Park.
Tragis memang, nama besar, popularitas begitu tinggi ternyata justru menjadi beban teramat berat. Hal itu yang menjadi kesan, bahwa secara mental seorang Chester Charles Bennington sungguh tak siap menghadapinya. Populer, nama terhormat diikuti kaya raya, bukan jadi jaminan akan happy-happy terus...
Saya khusus jadi pengen menulis tentang rocker muda, kelahiran Phoenix, Arizona, pada 20 Maret 1976 ini. Karena berita kematian tragisnya memang mengejutkan saya. Apalagi dengan kenyataan miris, ia meninggal di saat hari ulang tahun sahabat baiknya, Chris Cornell. Dan Chris Cornell tersebut, vokalis Soundgarden dan Audioslave, meninggal juga karena bunuh diri.
Cornell meninggal dunia, hanya sekitar dua bulan sebelum Chester, tepatnya 20 Mei 2017. Sementara ada Scott Weiland, juga bersahabat dengan Chester, sama-sama rockstar. Weiland meninggal, juga gantung diri, pada 3 Desember 2015.


Nama Bennington, especially his band, Linkin Park, saya “kenal baik” lantaran anak saya. Denzel, putra sulung saya, menggilai betul Linkin Park  Di saat ia masih SMP, tiap hari di rumah, Denzel tak pernah tidak memutar lagu-lagu Linkin Park.
Yang seru, kami berdua jadi seringkali rebutan di mobil saat berpergian. Denzel berkeras untuk memutar Linkin Park so pasti. Saya tidak. Satu saat, sampai saya terpaksa berbohong pada anak saya itu, ini dengerin deh band favorit utamanya Linkin Park! Demi saya bisa mendengarkan...Genesis.
Apakah Linkin Park memang mengidolakan Genesis? Kayaknya sih ga. Hihihihi. Atau di lain waktu, saya bilang ini band yang sering didengerin Chester Bonnington dan Mike Shinoda waktu mereka masih SMA dulu. Yang saya putar adalah...Van Halen!
Tapi karena Denzel, saya lama kelamaan jadi mengenal lebih dekat Linkin Park itu. Denzel juga aktif memburu albumnya. Saya ditodong terus untuk beli album-album terbaru LP tersebut. Mulai dari Hybrid Theory, rilis tahun 2000. Lalu Meteora (2003), Minutes to Midnight (2007) sampai A Thousand Suns (2010).
LP sendiri terus lumayan aktif memproduksi album. Karena berikutnya mereka melepas album, Living Things (2012), The Hunting Party (2014). Serta album terakhir adalah, One More Light, dirilis pada 19 Mei 2017.
Single dari their latest album tersebut, ‘Heavy’ mulai ditayangkan pada Februari 2017. Dalam lagu itu, untuk pertama kalinya LP mengundang seorang penyanyi cewek untuk ikut mengisi suara, mendampingi duo Bennington dan Shinoda, namanya Kiiara.

Dan begitulah, LP sedang melakukan tour berkaitan dengan One More Light tersebut. Nama turnya sama dengan nama album tersebut. Rencananya diawali dengan menyusuri belahan selatan Amerika serta Eropa. Penampilan tur terakhir adalah pada  Juli di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris.
Kembali ke soal Denzel dan Linkin Park idolanya, memang ya mau ga mau, tiap hari dengerin jadi kenal musiknya. Dan makin jadi tertarik, saat video-video mereka menayang, seperti menjadi top request, di MTV. Juga tampil di beberapa stasiun televisi lain. Sampai radio-radio yang kebanyakan alergi memutar lagu kelewat keras, ternyata juga memutarkan lagu-lagu Linkin Park tersebut.
Oh ya LP atau Linkin Park itu adalah duo vokalis Chester Bennington dan Mike Shinoda. Chester pada voicing dan song, Shinoda lebih kepada rappin’. DJ Joe Hahn, ya sebagai disc-jockey. Rob Bourdon, drums. Bass oleh Dave Ferrel, yang sempat mundur sesaat di 1998 tapi di 2000 balik lagi. Lalu gitaris, Brad Delson.
Saya akhirnya harus setuju kalau disebutkan bahwa LP adalah grup rock tersukses di era 2000-an. Lihat saja catatan prestasi mereka, yang paling sensasional adalah grup rock pertama yang berhasil mencatat viewers video mereka, melewati angka... 1 Milyar, di situs youtube!
Torehan catatan LP lainnya nyang ah bukan maeeeen adalah penjualan lebih dari 70 juta keping, sampai sejauh ini. Khusus Hybrid Theory, tercatat telah terjual lebih dari 11 juta copies di seluruh Amerika Serikat. Serta 27 juta untuk penjualan ke seluruh dunia.


Dan debut album mereka tersebut, masuk menjadi salah satu album penting, dalam buku berjudul 1001 Albums You Must Hear Before You Died. Isi buku itu adalah catatan Best Album dari era 1950-an sampai 2000-an. Editor buku tersebut adalah Robert Dimery, writer and editor, yang dikenal lewat majalah Time Out dan Vogue. Dijual mulai tahun 2005.
Nempel dah lagu-lagu kayak ‘In The End’, ‘One Step Closer’ atau ‘Crawling’. Tiap hari coy, terpaksa ga terpaksa deh denger..... Lalu, wah apalagi yang ini, ‘Numb; atau ‘Somewhere I Belong’ sampai ‘From the Inside’ dan ‘Breaking the Habit’, yang dari album Meteora.
Apaan sih yang membuat musik mereka sampai disukai banyak anak muda, di seluruh dunia? Catetan pentingnya adalah, anak mudanya itu muda banget! Remaja bahkan sampai yang jelang remaja. Kisaran SD sampai SMA lah kira-kira, itu pangsa terbesarnya.
Musik mereka, dengan ada peran DJ di dalamnya, padahal bukan sesuatu yang baru banget juga. Korn, Limp Bizkit sampai Incubus, juga begitu. Tentu dengan gaya musik mereka masing-masing. That’s the point, gaya masing-masing. LP pun punya gaya “khas”.
Buat saya, ini sok menganalisa aja sih, karakter musik mereka dasarnya...poppish. Rock, apa ya waktu itu disebut sebagai hip-metal atau rap-metal, relatif keras. Tapi tetap mengedepankan unsur melodi yang “kuat”. Cepet deh nempelnya.
Karena terkesan lebih melodius itu, yang sempat membuat LP kurang disukai oleh fans rock, rock yang lebih keras atau metal gitu. Dianggap musik LP terlalu manis, untuk disebut sebagai rock.


Mereka memang tumbuh dengan figur lebih...”anak manis”, good boys. Dibanding Limp Bizkit atau Korn misalnya. Apalagi lirik-lirik lagu mereka, yang sebagian besar ditulis oleh Bennington dan Shinoda, terbilang aman untuk remaja sampai anak-anak. Tak heran mereka bisa dielu-elukan oleh anak-anak, yang lantas menjadi fans setianya. Termasuk anak-anak penonton...Nicklodeon TV misalnya!
Good boys with tattoo, yeah...why not? Tapi yang penting sopan hidupnya kan. Hidup sehat juga. Nah imej itu yang sempat menyembul keluar. Mereka memang rockers yang hidupnya sehat. Harus begitu mungkin, soalnya mereka kadung jadi idola anak-anak juga.
Mungkin itulah “beban mental” yang lantas menjadi bibit-bibit depresi seorang Chester Bennington. Karena toh ia ternyata juga tak lepas dari narkoba. Hidupnya tak sebersih apa yang dikenal luas selama ini? Yah, di satu sisi gimana ya, menyikapi soal itu, dia rocker. Toh juga bergaulnya, dalam kesehariannya, tidak sama anak-anak atau remaja kan?
Apa karena tekanan mental yang makin kuat, menyebabkan ia pendek pikir? Ada yang secara ekstrim menyebutnya, pengecut! Tak bisa lari dari tekanan batin, akhirnya mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. Kenapa harus gantung diri?
Kesendirian? Tak bisa berbagi dengan sekelilingnya? Chester Bennington punya istri, Talinda Ann Bentley. Dari istri keduanya, yang dinikahi tahun 2006 ini, ia mempunyai 3 anak. Tyler Lee Bennington (kini 11 tahun usianya) serta si kembar, Lilly dan Lila (kini  6 tahun).
Adapun istri pertama adalah, Samantha Marie Olit, yang dinikahinya Oktober 1996. Dimana ia mempunyai anak, Draven Sebastian (15 tahun). Dikabarkan ia juga mempunyai anak lain, Jaime (21 tahun), hasil hubungan dengan kekasihnya, Elke Brand. Ia juga mengadopsi putra dari Elke Brand bernama Isaiah, pada tahun 2006.


Ia sebenarnya tak sendiri-sendiri amat, kalau lihat perjalanan hidupnya. Sejauh ini, pernikahannya dengan istri keduanya disebut harmonis dan aman-aman saja. Ia terlihat fine and okay dengan istri dan anak-anaknya itu.
So memang menjadi misteri pada akhirnya, mengapa seorang rock star seperti Chester Bennington, sampai mengakhiri hidupnya dengan tragis. Mengikuti apa yang dilakukan 2 sahabat baiknya, Chris Cornell dan Scott Weiland. Weiland lah juga yang pernah sempat digantikannya sebagai vokalis Stone Temple Pilot di 2013. Sempat menghasilkan EP, High Rise, yang didahului rilisnya single, ‘Out of Time’.
Cornell sendiri sempat menjadi bintang tamu vokalis pada  penampilan Linkin Park di tour konser mereka yang berjudul, Projekt Revolution, di tahun 2008. Tur konser dimana ide datang dari LP, yang lantas menjadi host utama tersebut, berlangsung sejak 2002. Acara tersebut berbentuk music festival, dengan mengundang tampilberbagai penyanyi dan grup band, dari berbagai macam genre.
Tapi di 2015, ia memilih mundur. Untuk kembali fokus hanya pada LP saja, sesuai komitmennya dengan teman-teman bandnya tersebut. Padahal Stone Temple Pilot itu adalah salah satu band terfavoritnya dulu, semasa ia bersekolah, yang tentunya bisa menjadi frontman dari grup idolanya adalah...really dream comes true.
Saya ingat, formasi Stone Temple Pilot dengan Chester Bennington sebenarnya dijadwalkan datang ke Jakarta. Konser mereka lantas mendadak dibatalkan, sayang deh. Nyaris saja Chester Bennington tampil untuk ketiga kalinya di Jakarta.
Oh ya, LP sudah pernah menggelar konser besar di Jakarta. Yaitu di Pantai Karnival, Taman Impian Jaya Ancol, pada 13 Juni 2004. Serta di Stadion Utama Senayan, 21 September 2011. Keduanya adalah konser yang sangat sukses. Masuk kategori sold-out lho di kedua konser itu.
Nah kembali ke Denzel, saat konser di 2004, ia gagal menonton. Karena kejauhan sih sebetulnya, selain...harga tiketnya lumejen bro! Hehehehe. Tapi saat konser kedua, ia menonton dan....sendirian saja! Ia sangat menikmati konser itu, yang dia ingat, “waktu itu aku kayak didadahin dan dikasih senyum langsung oleh Chester deh pa”.


Ia pun sempat membuat band lain, Dead by Sunrise dengan members of Orgy dan Jullien K, Amir Derakh dan Ryan Schuk, pada tahun 2005. Grup ini sempat merilis debut, Out of Ashes, pada Oktober 2009.
Denzel sudah mendengarkan lebih banyak lagi musik, tetap rock terutama, pada saat ini. Tetapi toh ia juga merasa terkejut dan “kehilangan”. Iapun membuat playlist khusus lagu-lagu Linkin Park di sebuah aplikasi streaming favoritnya. Saya juga sama terkejutnya sih. Usia 41 tahun, tentu relatif muda kan?
Sampai tulisan saya ini dibuat, banyak sekali fansnya seolah tak percaya, rocker idolanya itu sampai nekad gantung diri. Bunuh diri? Dengan gantung diri pula? OMG. Sebagian masih bertanya-tanya, penasaran banget, benerkah ia mati bunuh diri Ini sama dengan kasus kematian Scott Weiland dan sebelumnya, Chris Cornell, ada yang meragukan betulkah dia bunuh diri?
Yang miris, sekaigus membuat penasaran, kenapa ketiga rocker tersebut memutuskan mengakhiri hidupnya dengan jalan sama. Yaitu gantung diri! Kebetulan ketiganya dikenal suka atau memang pentolan musik grunge. Chester pernah punya band lain,yang agak grunge pada awal karirnya dan kan memang ia fans grunge juga, notabene mengidolakan Cornell maupun Weiland juga. 
Chester, you’re gone too soon. Rest in Peace and Power there....

I kept everything inside and even though I tried, it all fell apart
What it meant to me will eventually be a memory of a time, when I tried so hard

I tried so hard
and got so far
In the End
it doesn’t even matter

(one of LP’ signature song. Selalu dibawain setiap mereka performance dimanapun. Masuk menjadi salah satu lagu pada, The 500 Greatest Songs Since You were Born, versi majalah Blender, di peringkat 121. Dan dalam versi Billboard, menjadi Most Played Rock Song of the Decade. Tambahan lagi, menjadi salah satu lagu Linkin Park, yang paling banyak dibawain band-band entertainer di kafe-kafe di Indonesia, bahkan seluruh dunia. 'In the End'.).  /* 












Comments

Popular posts from this blog

Ngeheknya Elda dan Adi! Nonton mereka pertama kali

DENNY CHASMALA, Semua musik...Sikaaaatt!

DIDIT SAAD: Plastik Adalah Sisi Gelap Saya...