Monday, May 28, 2018

Senangnya dan Nyamannya Nonton Chaseiro, Dunia di Batas Senja

Candra Darusman


Aswin Sastrowardoyo

Edi Hudioro

Karena atas dasar menghormati para “kakak-kakak” nan baik hati, peramah dan tidaklah sombong. Maka sayapun bergegas untuk dapat sampai di acara, dengan tidak terlambat. Padahal perjalanan di hari itu nayamul bray. Alias, lumayan. Lumayan jauhlah. Bondowoso ke Jember. Jember ke Surabaya. Surabaya ke Jakarta. Dengan pesawat terbang tentu saja.
Dan dari yang namanya bandara Soekarno Hatta, lalu mampir di rumah untuk menaruh koper kecil. Lantas langsung menuju auditorium TVRI di Senayan. Syukurlah, sampai di sana, syuting live belumlah dimulai. Masih suasana ramah tamah di lobi auditorium.
Keenam kakak-kakakku yang punya pesta, masih bersiap-siap untuk syuting. Syuting hari itu memang rada spesial. Tema utama, Dunia di Batas Senja. Masuk dalam program saban Minggu malam miliknya TVRI, Memori Melodi. Program istimewa itu, dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun yang ke 40 dari Chaseiro.
Betul sekali bapak dan ibu, Chaseiro lah yang punya gawe. Candra Darusman, Aswin Sastrowardoyo, Edi Hudioro, Irwan Indrakesuma, Rizali Indrakesuma dan Omen Norman Sonisontani. Merekalah yang tengah bersukacita, sang pemilik acara.
Irwan Indrakesuma, di belakangnya ada Candra Darusman

Izali Indrakesuma

Omen Norman Sonisontani
Minus Helmie Indrakesuma tentunya. Yang telah pergi meninggalkan semua ke keabadiannya, pada 10 Februari 2013. So, Chaseiro tersisa 6 orang saja, pada saat ini. Tetapi mereka sejatinya tetap eksis dan hadir.
Kembali ke TVRI. Jam 19.30-an saya bergerak masuk ke dalam auditorium, supaya memperoleh tempat duduk yang memadai, enak menonton, mendengar sekalian memotret. Acara syutingnya sendiri dijadwalkan mulai 20.00 wib. Karena ini memang tayangan langsung, live program. 10 menit sebelum pukul 20.00, semua tamu undangan berduyun-duyun masuk dan memenuhi seluruh tempat duduk yang tersedia.
Sekeliling saya, dan istri saya di sisi kanan, adalah sebaya. Maksudnya sebayanya Chaseiro lho. Jangan salah mangarti lei... Di antaranya ada para “dharma wanita” Chaseiro selengkapnya. Sahabat-sahabat lain, ada musisi juga. Termasuk eh ada Rezky Ichwan, film-scorer dan jingle-maker yang sebenarnya pernah mengisi album pertama Chaseiro, dengan memainkan klarinet.


Dan pas jam 20.00 memang langsunglah Chaseiro tampil. Suasana campur aduk. Sukacita, gembira ria, ikutan menyanyi juga. Sing along-lah pastinya. Kata hostnya, Hilbram Dunar dan Bunga Harum Dhani, rasa-rasanya semua penonton tidak ada yang tak ikut menyanyi.
Ya gimana juga sih ya. Lagu-lagu Chaseiro kan memang mewarnai banget kehidupan kawula muda di era akhir 1970 hingga 1980-an. Entah masa sekolah, ataupun kuliah. Menemani jalan-jalan, plesiran, hang-out. Pacaran, pastinya. Pedekate ke cewek idaman. Dan ya sebangsanya.
Chaseiro untuk acara live itu didukung grup pengiring. Semuanya musisi muda. mereka menamakan diri, Rishanda and the Rising. Dipimpin Rishanda Singgih, bassis yang juga produser atau music director muda.
Ga ada “perubahan” yang menyolok pada musik Chaseiro di acara tersebut. Konsep dasar bisa dibilang tak berubah banyak. Sehingga alunan nada, bebunyian yang ditangkap telinga penonton, baik di dalam auditorium maupun yang menyaksikan di rumah, relatif tetap akrablah.
Maksudnya akrab bagi, terkhusus, penggemar Chaseiro dari masa-masa “perjuangan” mereka sebagai kelompok vokal. Nah acara kemarin diadakan pas 6 Mei, karena hari itu menjadi hari titik awal mereka. Dimana pada 6 Mei itu, mereka meraih predikat juara pertama, kompetisi Vocal Group yang diadakan oleh Radio Amigos di tahun 1978.
Karena itulah, merekapun mengundang anggota dewan juri pada kontes 40 tahun silam. Ada Marusya Nainggolan dan juga wakil dari almarhum Adji Bandi. Keduanya saat acara kompetisi menjadi juri bersama Jopie Item, alm. Yohannes Purba dan wartawan Billy Aktuil.
Ku lama menanti dalam sebuah laguku, Rasanya memberi bahagia kita semua.
Itulah lagu pembuka mereka, ‘Kulama Menanti’, dari album Bila yang dirilis 38 tahun yang silam! Oho, masya Allah itu kan album Chaseiro yang saya belinya di toko Aquarius, Aldiron Plaza lho. Dan sekarang mah udah raib. Pergi juga album pertama mereka, Pemuda dari koleksi saya. Entah kemana sih.....
Setelah lagu, ‘Bagaimanakh’, yang diambil dari album yang dirilis 2001, Persembahan. Disusul, ‘Sapa Pra Bencana’ yang memiliki lirik unik itu. kemudian dipanggil naik Donny Hardono. Nama senior ini adalah salah satu tokoh penata suara kawakan.


Yang mana, nyaris bisa dibilang sepanjang umur Chaseiro, Donny Hardono selalu mendukungnya langsung sebagai sound engineer. Bahkan serunya, Donny Hardono terlibat taksemata hanya di pementasan, juga termasuk di pengerjaan album rekaman.
Menurut  Donny, ia terlibat dengan Chaseiro saat mereka merekam di Celebrity studio, di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Saat itu Chaseiro menjalani rekaman untuk penampilan di TVRI secara tapping, karena masa itu belum dikenal penampilan secara live atau langsung.
Saya bahagia dan tak menyangka bisa terlibat dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke 40 Chaseiro, ucap Otti Djamalus. Dan sejatinya, tante Otti, sayapun tak menyangka dan juga bahagia, tante Otti membawakan dengan manisnya, ‘Untukmu’. Secara itu, salah satu lagu yang nancep juga di hati dan benak saya.
Otti, the singing pianist nan cantik itu, ditemani sang suami Yance Manusama sebagai bassis. Lalu drummer muda, Dezca Anugrah Samudra. Dan dipermanis, dalam bunyian yang sebenarnya memang deh, dengan harmonika oleh musisi belia, Rega Dauna.
Otti Djamalus Trio, didukung pula oleh perkusionis senior yang juga dokter ahli jantung, Iwang Gumiwang. Dan setelah Untukmu, Otti membawakan lagu ceria, ‘Tempat Berpijak’. Enak deh lagunya. Iya kan ya, mbak Otti? Mbak atau tante sih, enaknya manggilnya....
Semua anugerah yang maha kuasa adanya, tutur Candra Darusman. Saat Hilbram Dunar menanyakan kenapa aransemen Chaseiro bisa begitu jazzynya? Betul juga sih, mungkin karena pengaruh referensi mereka pastinya. Apa yang terjadi di dunia musik pada 40-an tahun lalu itu. Chaseiro memang terkesan cukup jazz(y).
Well, ada Manhattan Transfer misalnya. Rare Silk juga , bisa juga termasuk Sergio Mendes. Tentu saja, mereka mendengar dan meresapi. Yang sadar atau tidak, menjadi semacam inspirasi bermusik mereka. Teristimewa soal penampilan sebagai kelompok vokal.
Setelah master of ceremony kawakan, Koes Hendratmo dipanggil naik pentas untuk memberi komentarnya, giliran berikut adalah Elfa’s Singers. Kelompok vokal 80-an, yang dibentuk oleh almarhum Elfa Secioria dan lahir setelah Chaseiro, membawakan, ‘Pagi Hari’ dan ‘Ceria’.
Elfa’s Singer tampil dengan formasi hanya Uci Nurul dan Lita Zein. Mereka tampil bersama Gabriel Heryanto. Elfa’s Singers turun panggung, naik lagi Chaseiro dengan salah satu lagu mereka yang paling ngegoyang. Maksudnya emang ngajak goyang be’englah. ‘Rio de Janeiro’, yang adalah karya Guruh Soekarno Putra.
Glenn Fredly

Elfa's Singers with Gabriel Heryanto

Otti Djamalus
Ada nama Glenn Fredly, sebagai bintang tamu spesial. Tugasnya lumayan berat, membawakan ‘Shy’. Ini lagu yang sudah menyatu banget dengan Helmie Indrakesuma, yang menjadi vokal utama lagu tersebut. Lagu itu, terus terang saja, “lagu Helmie banget”.
Candra mengatakan, mereka merasa lagu itu hanya Helmie seorang yang bisa menyanyikan dengan sebaik itu. Susah nyari penyanyi yang bisa menyanyikan sebaik almarhum Helmie. Akhirnya, mereka ketemu dan mendapatkan penyanyi lainnya. Ya Glenn Fredly itulah.
Dan Glenn, “lulus”lah. Lagu melo-dramatic itu bisa dimasukki vokal falsetto Glenn, en sukses bikin mata berkaca-kaca para penonton. Terutama sahabat-sahabat dan kerabat Chaseiro, yang mengenal betul seorang Helmie. Apalagi sepanjang lagu, di giant screen, ditayangkan foto-foto diri mendiang Helmie Indrakesuma.
Stay save and peaceful there, bro Helmie! Kemudian lagu instrumental, ‘Gemilang’. Karya Candra itu dibawakan dengan menampilkan bintang tamu tak kalah spesial, Ananda SutrisnoMates” serta gitaris, Tohpati Ario.




Mates memang yang memainkan bass pada lagu itu, yang ada di album perdana mereka, Pemuda. Setelah sekitar 40 tahun, merekapun bisa bermain kembali, ucap Candra.
Tohpati kemudian masih bermain dalam lagu, ‘Dunia di Batas Senja’, yang kali ini diaransemen dengan nuansa latin jazz kental. Chaseiro tampil lagi, lalu lagu ini selain mengetengahkan akustik gitar dari Tohpati, juga flute oleh Edi Hudioro. Eh juga, permainan piano Candra Darusman deh!
Setelah itu ada guru besar design grafis Institut Tehnologi Bandung, Iman Sujudi. Kaitannya, Iman Sujudi adalah sahabat dekat Chaseiro sejak dulu, dan dialah yang membuat design logo Chaseiro. Yang terus dipakai sampai sekarang.
Mereka sama-sama masih mahasiswa, kebetulan Iman Sujudi memang senang menggambar. Dialah yang dimintai tolong, dan logo itu dibuatnya untuk dipakai seterusnya. Logo tersebut, ceritanya, dibuatnya selama 5 hari. Dan begitu disodori, hanya satu logo, langsung disetujui!
Berikutnya ada si cantik. Andien Aisyah. Dengan manisnya, Andien membawakan, ‘Pengungkapan’. Ga sempat latihan sebenarnya, kata Andien setelah tampil. Karena ia juga punya banyak jadwal lainnya. Etapi, selamat kok. Aan terkendalilah, dan sing penting, penonton puas!
Andien Aisyah


Dr. Iwang Gumiwang

Kira-kira seperti itulah jalannya pementasan Dunia di Batas Senja tempo hari itu. Saya yakin, bahwasanya sebagian besar penonton terpuaskan dahaganya. Penampilan keseluruhan dari kakak-kakak “Nchas”, panggilan ikrib dari Chaseiro, juga para bintang tamu. Plus, jangan dilupain, grup band pengiringnya, rasanya mendekati kesempurnaan yang hakiki.
Maksudnya sih, semua seolah terbang ke masa lalu. Masa-masa dimana lagu-lagu yang disajikan sedang mengalami masa-masa jayanya. Dan Chaseiro akan menggelar lagi, “sekuel” ke 2 dari konser tersebut, pas Sumpah Pemuda, di 28 Oktober mendatang.
Konser mendatang makanya diberi sub-title nan gagah dan ciamik, 40 Tahun Chaseiro dan 90 Tahun Sumpah Pemuda. Cocok dan pas. Lantaran kan lagu “pualing juara” milik mereka adalah, ‘Pemuda’. Lagu tersebut, menjadi lagu penutup kemarin itu.
Di sisi lain, sebagian besar lagu-lagu karya Chaseiro banyak mnyodorkan tema-tema kritik sosial selain cinta tanah air dan persatuan. Tema yang masih relevan tentunya saat ini, dimana sikon yang ada, kesannya makin lama kok cinta anah air, persatuan dan kesatuan malah menjadi “barang mahal”.
Chaseiro menghadirkan lagi lagu-lagu bagusnya, yang tentunya kita harapkan, mengingatkan akan keindahan dan keunikannya persatuan dan kesatuan. Seperti juga, indah dan uniknya toleransi dan saling menghargai satu sama lain.
Rizali Indrakesuma yang kemarin dapat kesempatan memberi sedikit speech, layaklah sebagai orang paling senior dan mantan pejabat tinggi departemen luar negeri mengatakan, semoga mereka punya waktu untuk latihan. Dan, punya nafas. Amin, amin, kakak-Brother. Semoga segala sesutunya dilancarkanNya.



Karena sejatinya, Chaseiro tetaplah spesial di khasanah musik Indonesia. Konsep pementasan kemarin, semoga juga nanti di konser 28 Oktober, kayaknya menyenangkan dan sudah terbilang sempurna untuk penampilan kembali mereka.
Karena menyajikan sesuatu berbau nostalgia, sejatinya sih susah-susah gampang. Apalagi kalau diberi sisipan misilain, bagaimana penonton muda atawa milenial bisa tergerak untuk ikut menonton.
Teringat konser dari Candra Darusman, mengedepankan hits dari Candra di era 1980-an beberapa waktu lalu. Upayanya bagus. Cuma realisasinya memang, apa ya, gimana deh... Saya menyebutnya, harusnya bisa lebih baik lagi. Lebih baik dalam penyajian selengkapnya sebagai sebuah tontonan. Termasuk dalam pilihan bintang-bintang tamu penyanyinya.
Eh iya, pada Juli mendatang akan ada konser Candra Darusman lagi, yang kali ini diadakan oleh XI Creative. Semoga saja hasil akhirnya lebih baik dari konser lagu-lagu hits-nya kakak Candra di sebelumnya itu. Harus bisa lebih baik dong, kan promotornya lebih profesional dengan jam terbang lumayan, dalam menghasilkan tontonan-tontonan musik terbaik?
Rasanya, hanya waktu jualah yang memisahkan kita. Terima kasih Chaseiro sudah menyamankan hati dan menentramkan jiwa. Panjanglah umurnya. Mana bisa saya, dan istri saya lupakan kakak-kakak Chaseiro lah. Ada sejarah manis tersendiri kami berdua dengan Chaseiro kan... Sejarah apaan? Aduh masak sih harus diceritain lagi?/*


 










No comments: